Selasa, 15 Maret 2011

Syekh Abdul Ghani Batu Basurek-Kampar (1811-1961): Pemuka Ulama Naqsyabandiyah dan Auliya’ yang terbilang di belahan Riau, ranah Minangkabau

Oleh: Apria Putra

Di belahan aliran Sungai Kampar, di sebelah negeri seribu rumah Suluk, semasa dulu kala terkemuka dengan ulama-ulamanya yang masyhur terbilang. Di antara ulama-ulama yang terkemuka keberadaannya itu, tersebutlah orang tokoh yang paling masyhur terutama ketika membicarakan persebaran Tarikat Ahli Sufiyah, terutama Tarikat Naqsyabandiyah. Dua ulama besar itu ialah Maulana Syekh Abdul Wahab Rokan al-Khalidi dan Syekh Abdul Ghani Batu Basurek Kampar. Syekh Abdul Wahab terkenal murid-muridnya yang berasal dari orang awam hingga pejabat-pejabat pemerintahan, sedang Syekh Abdul Ghani Batu Basurek terkenal dengan murid-muridnya yang berasal dari ulama-ulama belaka. Dua ulama besar Naqsyabandiyah inilah yang terkemuka di pantai Timur Sumatera.
Syekh Abdul Ghani itulah nama Beliau yang masyhur, sedangkan Batu Basurek ialah nisbah negeri beliua bermukim yang Batu Bersurat di Kampar, yang sekarang termasuk wilayah Riau, semasa dulu Kampar merupakan bagian rantau dari Luak Limapuluh Kota, ranah Minangkabau sejati. Jika disebut-sebut ulama penyebar Naqsyabandiyah di Kampar ini, ada satu tokoh lagi yang tak mungkin tidak disebut, yaitu Syekh Ja’far Pulau Gadang, alim pula, guru dari seorang Ulama Besar Minangkabau Syekh Zakaria Labai Sati Malalo. Namun soal kemasyhuran, dan ketersebutan dalam sejarah, tetap Syekh Abdul Ghani yang terbilang.
Mengenai tahun lahir belum ditemui cacatan pasti, namun dari usia Syekh Abdul Ghani yang mencapai umur 150 tahun dan tahun wafatnya 1961, niscaya kita jumpai tahun lahirnya 1811. Bagi orang-orang dulu, apatah lagi dia merupakan Syekh-syekh terkemuka memang dikenal berumur panjang. Begitupula pendidikan awalnya, dimasa kecil-kecil tentunya, masih pula kabur dalam kabut sejarah. Namun dapat dipastikan bahwa Beliau merupakan ulama hasil didikan surau-surau yang menjamur seantero Minangkabau kala itu. Setelah menahun mengaji ala surau itu, Beliau melanjutkan pertualangan intelektualnya ke Haramain (Mekah dan Madinah), pusat Ibadah sekaligus ilmu pengetahuan kala itu. Dan menurut sumber Belanda, van Bruinessen, di Mekkahlah tepatnya di Jabal Abi Qubais-lah Syekh Abdul Ghani menerima ijazah atas jalan Tarikat Naqsyabandiyah, sebagai petanda bahwa beliau telah diangkat menjadi khalifah Naqsyabandi dan berhak mengajarkan ilmu Tarikat kepada orang banyak secara mandiri. Adapun syekh Naqsyabandi yang memberinya ijazah itu ialah Syekh Sulaiman Zuhdi, yang pada abad 19 banyak mengangkat khalifah-khalifah dari tanah “Jawi” (baca: Melayu) ini, beliau juga dikenal dengan nama Syekh Sulaiman Afandi.
Setelah mengaji ilmu agama beberapa tahun lamanya dan telah pula di-khatam kaji itu dengan amalan Rohani Suluk Tarikat Naqsyabandiyah, kemudian menerima ijazah dalam Tarikat Sufi itulah Syekh Abdul Ghani memapankan karir ke-ulama-annya di Kampar, tepatnya di Batu Basurek. Di sanalah beliau mendirikan surau sekaligus rumah Suluk untuk mengajar agama dan melatih rohani dengan melaksanakan Suluk Naqsyabandi. Tak perlu menunggu waktu lama, surau beliau itu kemudian ramai sekali dikunjungi oleh orang-orang siak dari berbagai penjuru daerah. Nama Beliau selaku ulama terkemuka dalam kedalaman ilmu dan kedalaman faham masyhur kemana-mana. Melalui lembaga pendidikan itulah beliau mendidik murid-murid yang banyak, sehingga tak sedikit murid-murid beliau itu nantinya yang menjadi alim pula, kemudian pulang ke kampung halaman masing-masing selaku ulama dan mengajarkan ilmu pula di tanah kelahirannya. Tak jarang pula ada murid-muridnya yang telah ulama mengambil ilmu lagi kehadarat Syekh Abdul Ghani ini.
Diantara murid-murid Beliau yang terkemuka dan dapat dicatat pada kesempatan kali ini ialah:
1. Maulana Syekh Muda Wali al-Khalidi Naqsyabandi Aceh (w. 1964). Ulama besar kharismatik di Aceh abad ke-XX, tercatat sebagai pengibar bendera Tarikat Naqsyabandiyah di Aceh, juga termasuk sesepuh Perti yang sangat disegani. Syekh Wali ini pada mula belajar ilmu agama di berbagai Dayah di Aceh. Kemudian disarankan seorang tokoh di Aceh untuk menyambung pelajar ke Padang yaitu ke Normal Islam, yang saat itu dipimpin Mahmud Yunus (Prof.). Namun Syekh Wali hanya 3 bulan di Normal Islam Padang, sebab tak sesuai dengan cita-cita beliau untuk memperdalam agama, sedang di Normal Islam hanya pelajaran umum yang banyak diberikan. setelah berhenti dari Normal Islam, beliau berkenalan dengan salah seorang tokoh besar Syekh Khatib Muhammad Ali al-Fadani Parak Gadang (w. 1939). Dari hubungan dengan ulama-ulama itu beliau menjadi masyhur pula di Minangkabau, hingga Beliau digelari dengan “Angku Aceh”. Syekh Wali juga berkenalan dengan Syekh Jamil Jaho. Karena ketertarikannya dengan pemuda yang alim itu, Syekh Jamil Jaho mengambilnya menjadi menantu. Banyak usaha keagamaan yang dilakukan oleh Syekh Wali di Minangkabau sampai-sampai beliau mendirikan madrasah di Lubuk Alung bersama-sama dengan rekannya Syekh Zakaria Labai Sati Malalo (madrasah itu tidak ada lagi sekarang). Setelah itu Syekh Wali berangkat ke Mekkah untuk berhaji dan menambah ilmu pengetahuan, di Mekkah beliau seangkatan dengan ulama masyhur dari Padang Syekh Muhammad Yasin al-Fadani al-Makki (w. 1990) dan Syekh Alwi al-Husaini Mekkah. Sekembali dari Mekkah beliau pulang ke Minangkabau. Di saat itulah beliau merasakan haus dahaga ilmu. Obat satu-satunya kali itu ialah mengisi batin dengan air Ma’rifat. Maka Beliau carilah seorang mursyid yang kamal, sehingga bersuluklah Beliau kepada Syekh Abdul Ghani ini, hingga memperoleh maqam khalifah dan mendapat ijazah.
2. Syekh Muhammad Yunus Tuanku Sasak di Sasak, Pasaman. Juga merupakan ulama besar, termasuk sederet tokoh-tokoh sepuh Perti. Beliau mengajar banyak murid di suraunya di Kapar Pasaman Barat.
3. Syekh Muhammad Djamil Sa’adi (w. 1971), anak dari yang mulia Syekh Muhammad Sa’ad bin Tinta’ al-Khalidi Mungka Tuo Payakumbuh. Informasi beliau merupakan murid Batu Basurek ialah dari beberapa murid kepercayaan beliau di Mungka.
4. Syekh Adimin ar-Radji Taram (w. 1970), terbilang murid tertua Syekh Sulaiman ar-Rasuli. Ulama terkemuka atas Jalur Tasawwuf Tarikat Naqsyabandiyah yang diterimanya dari Syekh Batu Basurek.
5. Tuanku Alaydrus Ghani (w. ?), anak kandung dari Syekh Abdul Ghani Batu Basurek. Beliau yang melanjutkan surau ayahnya dan mendirikan pula Madrasah Tarbiyah Islamiyah di Kampar. Menerima Tharikat dari Syekh Muda Wali Aceh.
6. Prof. DR. Syekh Muhibbin Wali, Ph. D., salah seorang Ahli hukum Islam dan Tasawwuf Indonesia, S3 Kairo Mesir. Anak kandung Syekh Muda Wali, menerima Tharikat dari Syekh Abdul Ghani Batu Basurek
7. dan Banyak lagi lainnya.
Selain itu Syekh Abdul Ghani termasuk tokh sepuh Perti yang sangat dihormati. Pada tahun 1954 terjadi kofrensi Tarikat Naqsyabandiyah di Bukittinggi atas prakarsa Perti, dan salah seorang tokoh utama yang hadir ialah Syekh Abdul Ghani (waktu itu usia nya telah sepuh). Hasil-hasil konfrensi itu dibukukan dengan judul Risalah Tablighul Amanah fi Izalati Khurafat wa syubhah (KAHAMY, 1954).
Syekh Abdul Ghani wafat tahun 1961 dalam usia yang sangat tua, 150 tahun, setelah berkhitmat lama menegakkan agama di Minangkabau umumnya. Usaha beliau dilanjutkan oleh anaknya yang juga alim yaitu Tengku ‘Aidrus Ghani.

12 komentar:

  1. assalamu'alaikum,,, luar biasa tulisannya,,, boleh saya tau darimana sumbernya???
    foto2 para syehk pun ada semua...
    kalo da waktu silahkan mampir juga di blog saya,, sesama orang mainang...
    http://afrizaldaonk.blogspot.com/

    BalasHapus
  2. ass...
    uda ada silsilah syehk abdul ghani ngga mas..??

    BalasHapus
  3. Kenapa nama Anak Syekh Abdul ghani adalah Tengku Aidrus ghani, apakah beliau berdarah Tengku?

    BalasHapus
  4. Untuk Anonim:
    Karena anak Syekh Abdul Ghani, Aidrus Ghani menamatkan pelajarannya ke Aceh, tepatnya Dayah Darussalam Labuhan Haji (Pimpinan Syekh Muda Wali). sesuai tradisi Aceh, setiap santri yang telah menamatkan "Kaji" digelari dengan "Tengku" (seperti itu juga di Pariaman, yaitu "Tuanku")

    BalasHapus
  5. salamu'alaikum wr wb,,artikel yang sangat bagus sekali.......sebelumnya saya sendiri blum tau seluk beluk ,,adanya orang2 khawwas ini ,,dan saya berharap saudara tidak keberatan untuk berbagi dengan saya,,,dan semoga menjadi amal shaleh bagi saudara..dan menjadi sesuatu yg bermanfaat bagi yang membaca.......dengan kerendahan hati izinkan saya untuk,men tag nya ke blog saya......<''salam ukhuwah,,namun jika belum ada jawaban dari saudara saya tidak akan melakukanya.,,silahkan balas di = jalutsugra@yahoo.co.id

    BalasHapus
  6. assamu"alaikum wr, wb..
    kami seorang hamba dhaef dari ACEH
    ingin bersilaturrahmi dengan bang apria..
    kami murid dari buya H Anas malik balubus payakumbuh..silsilah syeik mudo H abdul Qadim..
    bolehkah kami mengoleksi kitab2 karangan guru2 kami..dan ulama2 padang yg ada pada abang sebagai bahan referensi kami di Aceh.. dan inginnya kami bersilaturrahmi langsung dengan abang... sebagai saudara yang telah dipertemukan oleh Allah melalui blog ini. kami sangat berharap balasan dari abang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wassalamu 'alaikum wr. wb., 'afwan, saya baru sempat menananggapi. Boleh, nanti Akhi fillah bisa tulis e-mail ke alfaqir_poetra@yahoo.co.id., oy, akhi di Aceh dimana? Apakah jauh dari Dayah Darussalam Labuhan Haji?

      Hapus
    2. Assalamu alaikum
      kepada saudara apria putra ( semoga Allah selalu menjaga anda ) saya dari medan ,saya adalah penganut tarekat naqsyabandiyah babussalam langkat murid dari saidi syekh Tajuddin bin Saidi Syekh Muhammad Daud Al-Khalidi An-Naqsyabandi Bin Maulana Saidi Syekh Abdul Wahab rokan Al khalidi An-Naqsyabandiyah
      bolehkah kiranya saya mendapat kan kitab2 para syekh naqsyabndiyah,, agar menjadi referensi bagi kami di Halqah Marendal Pimpinan Khalifah Haji Haris Muliyono Ar Ridho.

      Hapus
    3. Telah berpulang kerahmatullah guru kami yang mulia abuya H Anas bin syekh Abdul Malik bin shekh H mudo Abdul Qadim Balubus pemuka tarikat samaniyah wa naksyabandiyah pada malam jumat 18/04/2013..di kampung balubus.mohon dukungan doa dari para ahli tarikat semua utk almarhum guru kami tercinta.. Dr kami ahli silsilah Samaniyah langsa aceh

      Hapus
  7. Assalammua'alaikum wr.wb

    salam kenal dari saya yg hina lg fakir ini ,, semoga doa' kita kepada para Masyaikhil-Abrar disampaikan oleh Allah sehingga bermanfa'atlah kehidupan kita di dlm Agama Islam .

    Naqsyabandi Waly ( Cucoe Abuya Prof.Dr. Muhibbuddin Waly )..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wassalamu 'Alaikum Wr. Wb.
      Amin ya Rabb al-'Alamin. Fatihah untuk al-Marhum Syekh Prof. Muhibuddin Waly al-Khalidi

      Hapus
  8. assalamu'alaikum,
    perkenalkan saya dr Dumai - Riau,
    kalau saya lihat propic saudara itu sedang membaca kitab sir salikin karangan Imam Al-ghazali,
    kalau boleh saya tau, kitab apa yg biasa dibaca imam di sana saat membaca khutbah jumat ?
    kebetulan kami di sini sedang mencari sebuah kitab, cuman belum ada terbitan yg baru,
    trima kasih
    wassalam

    BalasHapus