Sabtu, 28 Juni 2014

Para Pewaris Ulama Minangkabau abad 21 (bagian I): Buya Sya’rani Khalil Dt. Majo Reno (lahir 1926), Penyambung Estafet Ulama-ulama Besar Batuhampar, Payakumbuh

Oleh: al-faqir Apria Putra

Satu ketika saya tertegun, salah seorang teman berujar, “Mengapa tuan hanya menulis tentang ulama-ulama silam, bukankah baik menulis ulama-ulama kita sekarang, supaya kami dapat berkunjung dan menyauk ilmu dari beliau-beliau itu. Dekat akan disilau, jauh akan dijalang.” Saya berpikir, baik juga hal itu. Namun, perjalanan saya belumlah jauh, jalan yang telah ditempuh tak seberapa, akankah saya adil menulis hanya sebagian orang yang saya ketahui di depan mata saya keharibaan tuan-tuan. Bukankah ulama-ulama kita di Ranah Minang saat kini banyak yang mastur (tersembunyi), beberapa di antara mereka tak dikenal layaknya muballigh yang prestisius, di antaranya ada yang menjauh dari publisitas seperti kebanyakan orang sekarang. Tapi, saya timbang-timbang adalah positif bila memperkatakan ulama-ulama yang ada saat ini, meskipun pengetahuan saya tentang beliau-beliau itu tidak seberapa. Kita ketengahkan saja kaedah yang masyhur di kalangan Ushuliyyin, “Sesuatu yang tidak dapat dikerjakan semua, sebahagiannya jangan ditinggalkan.” Semoga ikhtiar saya bermanfaat kiranya bagi sidang pembaca, pun pribadi saya sendiri; sehingga dapat menghela do’a orang-orang shaleh, para ulama yang mempunyai dua sayap; lahir dan batin, di Ranah Minang bertuah ini. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Batuhampar Payakumbuh, Negeri Hijau, Negeri Seribu Urangsiak

Sesawahan terhampar luas ibarat permadani kaki langit. Sejauh mata memandang, sejauh itu pula hijau cerah dari dedaunan apakah padi-padi, kebun dan ladang-ladang petani terlihat. Demikianlah keadaan alam Batuhampar sebagai anugerah ilahi. Di balik semuanya, terdapat hal yang lebih dikenal dari sekedar pesona alam itu, itulah “Kampung Dagang”, komplek urangsiak (baca: santri) yang telah ada sejak dua abad yang lalu. Komplek inilah yang lebih dari seabad itu menjadi bebauan harum semerbak yang masyhur ke mana-mana negeri di dataran Melayu, sebagai tempat belajar agama, pusat ilmu al-Qur’an, dan sentra Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah terkemuka dan tertua di Minangkabau ini.

Komplek Dagang (dagang=perantau) yang dulunya terdiri dari puluhan surau itu dirintis oleh Maulana Syekh Abdurrahman al-Khalidi Naqsyabandi bin Abdullah Batuhampari (1777-1899), ulama besar Minangkabau awal abad 19. Dari generasi ke generasi Kampung Dagang tersebut dipimpin oleh keturunannnya yang juga masyhur selaku ulama besar di zamannya. Selain sebagai ulama pemimpin Kampung Dagang, keturunan-keturunannya ini dikenal dengan Datuak Oyah. Gelar tersebut merupakan jabatan adat yang bertanggung jawab dalam urusan keagamaan. Sejatinya gelar Datuak Oyah dinobatkan kepada ulama Batuhampar berdasarkan kebulatan mufakat kalangan adat, agama, dan tokoh masyarakat di Batuhampar. Dengan takdir Allah, sejak posisi ini diadakan, baru keturunan Syekh Abdurrahman inilah yang disepakati untuk gelar Datuak Oyah, karena memang mereka yang ‘alim ‘allamah, lautan ilmu, yang melangkapi ilmu zahir dan ilmu batin, sehingga merekalah yang disepakati untuk memimpin urusan keagamaan di Batuhampar. Bukankah keramat Syekh Batuhampar itu: “Syekh-nya turun temurun; ilmu-nya turun temurun”?

Sudah enam generasi berlalu sejak Kampung Dagang dipancang untuk pertama kali. Enam generasi itu pula lah yang memimpin urusan keagamaan di Nagari Batuhampar. Secara berurutan mereka ialah, (1) Maulana Syekh Abdurrahman al-Khalidi Naqsyabandi Batuhampari, (2) anaknya, Syekh Muhammad Arsyad, (3) cucunya, Syekh Muhammad Arifin, (4) Syekh Ahmad (anak Syekh Abdurrahman), (5) Syekh Darwisy Arsyadi (cucu Syekh Abdurrahman), dan (6) Syekh Dhamrah Arsyadi (cucu Syekh Abdurrahman), yang wafat pada 1992. Mereka-lah suluh benderang Negeri Batuhampar, yang membuat negeri tersebut terkenal ke berbagai penjuru Sumatera sebagai pusat agama; mereka pula yang teguh mewariskan keilmuan Islam atas dasar Ahlussunnah wal Jama’ah, dalam furu’ syari’at atas Mazhab Imam Syafi’i, dan tasawuf dengan mengamalkan Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah. Meski masa berlalu, dengan beberapa peristiwa dan kejadian masa, perubahan, weternisasi, hingga era modern saat ini, mereka lah yang teguh mewariskan intelektualisme Islam kepada generasi-generasi selanjutnya.

Setelah generasi ke enam wafat, maka posisi keagamaan yang dipegang oleh keturunan Syekh Abdurrahman lainnya, yaitu Buya Sya’rani Khalil Dt. Majo Reno. Selain memimpin sekolah agama, Madrasah al-Manar, yang merupakan metamorfosis dari Kampung Dagang, beliau juga merupakan Datuak Oyah Batuhmpar. Selain itu, beliau merupakan pewaris intelektual dan spritual Syekh Batuhampar tersebut. Bagaimana perjalanan intelektual beliau? Berikut akan kita simak.

Buya Sya’rani Khalil: Pewaris Intelektual dan Spritual Ulama Batuhampar


Matahari baru sepenggalahan. Sinar matahari pagi yang sejuk sesejuk Luak Lima Puluh Kota menembus embun-embun di langit Madrasah al-Manar, komplek Kampung Dagang di masa silam itu. Ketika itu seorang tua yang sepuh, berwajah jernih yang menyiratkan keshalehan, tertatih-tatih keluar dari gedung asrama, dengan senyuman yang khas ia menyambut girang. Meski berusia sepuh, rautan wajahnya masih menunjukkan masa muda yang gemilang. Mungkin cahaya iman yang memancar di wajahnya, saya pun tidak tahu pasti, namun raut wajah jernih seperti itu umum di kalangan ulama-ulama surau di Minangkabau ini, apatah lagi mereka yang menjadi Syekh Tarekat Sufi.

Ketika itu Sya’ban 1434 H (2013 M) belum sempurna, namun urang-urang suluk (baca: salik) telah memenuhi asrama madrasah itu. Bagi mereka yang hendak menjalani i’tikaf khas Naqsyabandiyah, yang dalam istilah tasawuf disebut suluk, selama empat puluh hari, mereka mesti memulainya 10 hari sebelum Ramadhan, sehingga ketika ‘Ied datang, mereka telah keluar dan kembali pulang ke kampung halaman masing-masing dengan riang gembira. Saat itu urang suluk berjumlah sekitar 80 orang, sebuah jumlah yang cukup fantastis untuk zaman di mana tarekat telah dianggap bid’ah oleh malin-malin baru. Sedangkan dahulu, di masa hidup keagamaan masih kuat berakar, peserta suluk mencapai ratusan orang. Konon pernah mencapai 400 orang.


Foto: Buya Sya'rani Khalil Dt. Majo Reno (kiri) membaca kitab "Mafahim Yajib an Tushahhaha" karangan Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki (Oktober, 2013)

Orang-orang boleh saja mengira kalau Madrasah al-Manar itu sebagai pesantren berbau modern. Namun bagi siapa yang menyelami agak mendalam tentu akan menyadari kalau Madrasah ini merupakan kelanjutan Kampung Dagang atau Surau Batuhampar semasa silam. Kitab-kitab kuning masih dipertahankan, meskipun tidak seeksis dulu. Memang beberapa kitab tidak diajarkan, entah dengan sebab apa. Namun dapat di duga, kekurangan tenaga pengajar yang mumpuni dalam mempahamkan kitab dan memperoleh ijazah dalam kitab itu menjadi alasan utama. Itu juga yang menjadi kendala umum di kalangan madrasah-madrasah tradisional di Minangkabau saat ini.

Orang tua yang bermuka jernih itu bersalaman erat, sambil senyum berujar dengan logat Payakumbuh yang kental: “Bilo pulang?”. Saya menjawab takzim, “Olun bora lamo lai Buya!”. Beliau lalu mempersilahkan tamu masuk ke kediamannya di samping Madrasah itu. Perbicaraan berlanjut, diselingi dengan humor khas. Begitulah Buya Sya’rani Khalil menyambut tetamu di komplek Madrasah al-Manar itu. Saat itu beliau bercerita tentang perjalan hidupnya di masa saisuak.

Usia beliau saat ini telah menghampiri se-abad lamanya, yaitu 88 tahun. Buya Sya’rani Khalil Dt. Majo Reno lahir pada tahun 1926 di Batuhampar. Ayahnya, Khalilurrahman bin Syekh Muhammad Arsyad bin Maulana Syekh Abdurrahman al-Khalidi Batuhampar. Latar belakang keluarganya dari golongan kaum agama yang masyhur bukan hanya di Minangkabau, namun hingga tanah Malaya. Lingkungan keluarga inilah yang membentuk karakter Sya’rani kecil sehingga ia tumbuh sebagai seseorang yang cinta ilmu agama, sebagaimana ayah dan datuk-datuknya.

Di masa belia, Buya Sya’rani belajar membaca al-Qur’an dan dasar-dasar agama kepada beberapa ulama lokal di Batuhampar, antara lain Haji Ainul ‘Abidin dan Angku Sanusi. Angku Sanusi ialah murid dari Angku Kapalo Koto yang mengajar di Surau Bawah (saat ini bernama Mushalla Taqwa). Setelah belajar beberapa lama kepada dua ulama tersebut, Buya Sya’rani kemudian melanjutkan pelajaran tilawah al-Qur’an kepada Syekh Abdul Malik di Surau Darek. Syekh Abdul Malik ialah ulama ahli Qira’at Sab’ah di Batuhampar, murid dari datuknya sendiri, yaitu Syekh Muhammad Arsyad Batuhampar. Ketika itu Batuhampar sangat harum namanya sebagai pusat ilmu Qira’at Sab’ah. Selain belajar di Kampung Dagang, urangsiak yang datang dari berbagai penjuru Sumatera tersebut juga belajar Qira’at Sab’ah kepada Syekh Abdul Malik ini. Namun Buya Sya’rani tidak sampai khatam belajar Qira’at Sab’ah tersebut dari Syekh Abdul Malik. Beliau hanya mengkhatam Qira’at Imam ‘Ashim. Menurut penuturan Buya Sya’rani sendiri, generasi terakhir yang ‘alim dari Qira’at Sab’ah ialah almarhum Syekh Dhamrah Arsyadi.

Ketika itu pemimpin keagamaan di Batuhampar ialah Syekh Arifin Arsyadi. Selain melanjutkan kepemimpinan di Kampung Dagang, beliau juga mendirikan sekolah agama semacam pesantren di Jawa, yang dikenal dengan Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Batuhampar. MTI ini ialah salah satu madrasah Persatuan Tarbiyah Islamiyah tertua setelah MTI Candung, MTI Tobek Godang, dan MTI Koto nan Ampek Payakumbuh. Pada madrasah itu telah diterapkan sistem pendidikan klasikal dengan memakai kurikulum Mesjidil Haram, Makkah, baik dari segi metode pengajaran dan kitab-kitab keagamaan yang dipakai. Dengan sistem ini, seorang lulusan MTI ketika itu dapat disetarakan dengan lulusan Makkah dari segi keilmuan.

Setelah mengkhatam al-Qur’an Qira’at Imam ‘Ashim dari Syekh Abdul Malik, Buya Sya’rani menaruh hati kepada MTI yang didirikan Syekh Batuhampar Ketiga itu. Ia lalu minta izin untuk belajar di MTI Batuhampar untuk mendalami ilmu agama sedalam-dalamnya. Di madrasah ini Sya’rani belajar kepada beberapa ulama Batuhampar, antara lain Angku Ahmad Hasan yang tak lain adik dari Syekh Abdul Malik. Tak lama belajar di MTI Batuhampar, dengan nasihat Syekh Abdul Malik ia kemudian merantau untuk belajar agama ke Tobek Godang. Syekh Abdul Malik menasehati Sya’rani: “Bilo ang masih di siko (Batuhampar), ndak ado ilemu nan ka dapek dek ang.” Nasehat Syekh Abdul Malik ini sebenarnya ialah motivasi untuk belajar agama di daerah lain, bukan berarti bahwa ilmu agama memang tidak ada di Batuhampar. Ketika itu telah menjadi adat bahasanya seorang siak mesti merantau ke tempat jauh-jauh untuk belajar agama. Selain belajar, tentunya dengan tujuan memperkaya pengalaman dan melatih hidup mandiri dengan kesederhanaan.

Menuruti nasehat itu, Buya Sya’rani kemudian berangkat ke Tobek Godang. Di sana telah didirikan MTI Tobek Godang yang kala itu masyhur sebagai pusat ilmu agama, khususnya ilmu alat (mencakup Qawa’id Arabiyah, Ushul Fiqih, dan Ilmu Mantiq) dan tasawuf. Di Tobek Godang, Buya Sya’rani belajar di kelas tiga, salah seorang gurunya di sana ialah Buya Anwar Dt. Siguno. Selain belajar, Buya Sya’rani dapat pula bergaul dengan Maulana Syekh Abdul Wahid Assalihi yang masyhur dengan gelar “Baliau Tobek Godang” itu, meski tidak sempat menuntut ilmu agama darinya karena beliau mengajar kelas-kelas tinggi.

Seperti halnya di MTI Batuhampar, Buya Sya’rani juga tidak berapa tahun di Tobek Godang. Beliau kemudian berangkat ke Candung, tepatnya MTI Candung, untuk melanjutkan pelajarannya. Di Candung beliau belajar intensif kepada beberapa ulama besar, antara lain Maulana Syekh Sulaiman Arrasuli dan Buya Muhammad Zen. Bidang keilmuan yang digandrunginya ialah Fiqih dan Ushul Fiqih, karena memang MTI Candung dikenal dengan spesialisasi dalam dua vak keilmuan itu. Kitab-kitab yang dipelajarinya di Candung ialah kitab-kitab “berat” dalam dua keilmuan ini, antara Hasyiyah Qaliyubi wa ‘Amirah, Syarah Mahalli, Hasyiyah Jam’ul Jawami’, dan Asybah wan Nazhair fil Furu’. Dua tahun lamanya Buya Sya’rani di Candung. Pada tahun 1947 beliau telah melesaikan kelas tujuh, dan diberi ijazah sebagai petanda keilmuannya telah mumpuni. Namun kehausannya akan ilmu ternyata belum terpuaskan. Beberapa saat kemudian Buya Sya’rani melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Guru dan Hakim (SGH) di Bukittinggi. Sekolah ini merupakan sekolah agama setingkat universitas yang diisi oleh dosen-dosen yang merupakan ulama lulusan Mesir. Di SGH, Buya Sya’rani kembali mendalami Hukum Islam, yaitu Fiqih dan Ushul Fiqih, yang sejatinya telah dituntaskannya ketika di Candung dulu. Di sana beliau sempat belajar kepada Buya H. Abdurrahman (murid Syekh Ibrahim Musa Parabek) dan Prof. Bustami Abdul Ghani (ahli Bahasa Arab yang kemudian menjadi guru besar Bahasa Arab di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta).



Setelah menyelesaikan studi di SGH, Buya Sya’rani Khalil kembali ke Batuhampar untuk mengembangkan ilmu yang telah dituntutnya sekian lama. Namun lagi-lagi beliau merasa kepuasannya belum sempurna. Beliau kemudian mengambil pusaka Syekh-syekh Batuhampar yang telah menjadi mutiara ilmu semenjak abad 19, yaitu Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah. Pada mulanya beliau bersuluk kepada Syekh Dhamrah Arsyadi di Batuhampar, dengan khalifah pembantu saat itu yaitu Angku Gobah. Setelah itu beliau melanjutkan suluk kepada beberapa syekh lain, di antaranya Syekh Muhammad Surin Dt. Radjo Bosa di Koto Tinggi, Suliki, tepatnya di Surau Lakuang. Dari Syekh inilah Buya Sya’rani memperoleh Ijazah Irsyad Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah.

Mengajar adalah pilihan hidup Buya Sya’rani Khalil. Setelah pulang dari Candung beliau telah mengajar di Kampung Dagang Batuhampar. Karena sulitnya perekonomian beliau juga bekerja membuat alat-alat pertanian, pun pekerjaan tani menjadi rutinitasnya di waktu-waktu lapang setelah mengajar. Dengan itulah beliau menutupi kebutuhan hidupnya. Beliau acap berujar, “Iduik di wakatu itu yo bona paik.”

Setelah Syekh Darwisy Arsyadi wafat pada tahun 1964, dengan kesepakatan pemuka adat dan agama di Batuhampar, dinobatkanlah adik beliau yaitu Syekh Dhamrah Arsyadi sebagai “Datuak Oyah” sekaligus yang memimpin Kampung Dagang. Syekh Dhamrah kemudian mendirikan Madrasah al-Manar di komplek Kampung Dagang. Konon waktu itu Kampung Dagang tidak seeksis sebelumnya. Madrasah al-Manar mampu menggantikan eksistensi Kampung Dagang, meskipun tidak dapat mewarisi kemasyhurannya. Di Madrasah ini Buya Sya’rani kemudian bersitekun untuk mengajar hingga saat ini. Ketika Syekh Dhamrah wafat pada tahun 1992, dengan kesepakatan pemuka adat dan agama, beliau kemudian dinobatkan sebagai Datuak Oyah Batuhampar ke-7, hingga saat ini.

Ketika ditanya tentang kebesaran Kampung Dagang (Surau Batuhampar) di masa silam, muru’ah dan keilmuan para Syekh Batuhampar di waktu saisuak, Buya Sya’rani Khalil selalu menutup pembicaraan dengan ungkapan sedih meski diucapkan dengan senyuman: “Batuhampa kini alah ibaraik ula nan tingga karobangnya” (Batuhampar saat ini seolah-olah seperti ular yang tinggal kulitnya saja). Entah ucapan ini terlahir dari sikapnya yang tawaduk, atau kebenaran, namun pastinya “air-air” Syekh Batuhampar itu tetap mengalir. Bukankah keramat Syekh Batuhampar itu ialah sundut bersundut???!!!

Pelanjut Syekh Batuhampar


Semasa Kolonial, tepatnya abad 19, Batuhampar dikenal sebagai salah satu pusat Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah tertua di Minangkabau. Laporan Belanda menyebutkan bahwasanya Syekh Batuhampar ialah salah seorang Syekh Tarekat yang dihormati dan berpengaruh luas. Laporan Belanda itu dibenarkan oleh catatan-catatan pribumi, apakah dari murid-murid Syekh Batuhampar sendiri atau pandangan mata peneliti-peneliti individual yang menaruh perhatian terhadap perkembangan Islam di Minangkabau. Dari generasi pertama yaitu Syekh Abdurrahman al-Khalidi hingga generasi ke-7 yaitu Buya Sya’rani Khalil, mereka merupakan Syekh Tarekat Naqsyabandiyah ternama dan masyhur di kalangan ulama lainnya. Meskipun eksistensi Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah mengalami pasang surut sesuai kehendak zaman, terutama ketika masuknya faham Wahabi (yang kemudian populer dengan salafi wahabi) ke Luak Lima Puluh Kota, namun Batuhampar sampai saat ini tetap menjadi salah satu lokus Suluk Tarekat ini. Di sanalah salah satu benteng pertahanan, walau di kanan kiri mengatakan cela. Benteng itu ialah lelaki tua yang berwajah jernih itu, siapa lagi kalau bukan Buya Sya’rani Khalil Dt. Majo Reno, cucu Syekh Batuhampar nan Keramat itu. Setelah itu siapa, Allah punya rencana.

Ahli Fiqih dan Ushul Fiqih


Kitab-kitab Fiqih dan Ushul Fiqih menjadi makanan hariannya. Dengan itu Buya Sya’rani Khalil menghabiskan hari-hari. Boleh dikata, tiada hari tanpa kitab di sisi. Dalam kutubkhanah kepustakaannya tersimpan kitab-kitab kelas berat dalam dua bidang itu, dan itu semua telah dimutala’ahnya jauh-jauh hari. Kitab-kitab itu antaranya lain Al-Umm karya Imam Syafi’i, Mahalli, Jam’ul Jawami’, Asybah wan Nazhair, dan beberapa kitab tasawuf seperti Iqazul Himam Syarah Hikam. Selain itu, tak lupa beliua membaca kitab-kitab hadis seperti Jami’us Shaghir Imam Suyuthi. Dan beliau juga menyempatkan diri membaca literatur kaum modernis, yaitu Tafsir al-Manar yang populer itu.

Dalam ilmu Fiqih Syafi’iyah beliau telah menyusun kitab, yaitu Mukhtasar Kifayatul Akhyar. Kitab mukhtashar ini masih dalam bentuk stensilan. Sepertinya digunakan untuk mengajar santri di al-Manar.

Penutup: Ditutup keruh zaman


Lelaki tua berwajah jernih itu tetap bersemangat di hari sepuhnya. Bila diundang dalam pertemuan ulama, apakah muzakarah atau wirid pengajian, beliau selalu mengusahakan hadir. Meskipun hidup tak menaruh rusuh, selalu menunjukkan wajah tenang dan tenuh, saat-saat tertentu beliau tetap juga termenung. Apa yang dipikirkannya, tak lain penyambung estafet kemudian hari. Ketika kaji, keilmuan Syekh Batuhampar, telah dihalau kaji-kaji baru, siapa yang akan mempertahankan. Itulah yang selalu dalam “kira-kira”nya, terkenang-kenang jua ketika duduk seusai mutala’ah kitab. Sedangkan kepada saya, ketika saya menziarahinya, beliau sering berujar: “Hanyo ang kawan den di siko.” Allah punya rencana. Semoga Allah memanjangkan usianya.

Sebagai penutup riwayat ringkas ini, eloklah saya ungkap keharibaan tuan tentang ulama-ulama Minangkabau saat ini. Di awal tulisan ini saya terangkan bahasanya ulama Minang saat ini banyak yang mastur (tersembunyi dari orang banyak). Mubaligh banyak, penceramah banyak, yang tamat luar negeri banyak, namun yang sebenar-benar ulama tidak seberapa tampak di tengah-tengah masyarakat. Oleh karena itu banyak sekali orang-orang luar memandang Minang sebagai gudang ulama yang telah kosong melompong; artinya tidak ber-ulama. Ucapan itu tentu keliru. Mereka, ulama yang sebenar ulama itu, bersembunyi. Bila tuan bertemu dengan salah seorang mereka, tuan tentu akan memandang mereka seperti orang awam saja, sebab mereka bila ditemui hanya sebagai orang biasa saja, berbaju bisa, bertutur kata biasa, bekerja petani, meladang di rimba, dan tidak menunjuk-nunjukkan diri, namun mereka ulama zahir batin, melengkapi dua sayap ilmu. Kalaulah kita ibaratkan, saat ini Minangkabau itu seperti telaga yang keruh. Dari atas terlihat telaga itu seperti dangkal. Namun, bila diselami akan jelas betapa “dalam” telaga itu. Maka selamilah!!!

dalam khalwat yang hening
Batang Batang, Mungka, Ramadhan 1435 H
al-faqir Apria Putra

Minggu, 04 Mei 2014

Khazanah Surau II: Tulisan Tangan Syekh Amrullah Tuanku Kisa’i Maninjau

Oleh: al-Faqir Apria Putra
Ditulis berdasarkan kunjungan ke Sungai Batang Maninjau; menelusuri karya-karya tulis, surau dan makam Syekh Amrullah Maninjau, Februari 2013.

Ulama-ulama Maninjau


Jika mendengar kata Maninjau, seseorang tentu akan teringat dengan keindahan Danau Maninjau yang mempesona itu. Pesona Maninjau telah menggaet pelancong-pelancong alam dari berbagai belahan daerah, bahkan dari mancanegara. Barangkali orang-orang akan melihat dan mengenang sisi eksotik danau ini saja, tanpa melihat sisi lain yang membuat nama daerah Maninjau menjadi terkenal seantero negeri. Sisi yang terlupakan; dan hanya dikenang segelintir akademisi, ialah keadaan sosial keagamaan di Maninjau. Jauh sebelum menjadi pusat wisata sebagaimana yang disaksikan saat ini, Maninjau adalah salah satu pusat keilmuan Islam di Minangkabau.

Ketenaran Maninjau sebagai pusat keagamaan dapat kita lihat dari jejak rekam aktifitas intelektual di abad-abad yang lalu. Sejak abad XIX telah tercatat nama ulama Maninjau yang mempunyai pengaruh besar di Pedalaman Minangkabau. Begitu juga paruh pertama abad XX. Keadaan itu dirasa sangat kontras ketika memasuki milenium baru. Beberapa pusat keilmuan masa lalu yang tertulis dengan tinta emas dalam sejarah itu banyak menjadi puing. Hal ini tentu tidak disesalkan, sebab pergeseran nilai dengan masuknya pengaruh weternisasi dan modernisasi yang membadai; yang tak ayal menjadi salah satu ancaman bagi agama dan kearifan lokal setempat.

Di abad XIX dikenal tokoh ulama yang berpengaruh luas, antara lain Syekh Abdussamad Maninjau, Syekh Abdullah Koto Baru Maninjau, dan Syekh Amrullah Maninjau. Sedangkan di abad XX terdapat nama-nama antara lain Syekh Muhammad Salim Bayur Maninjau, Syekh Abu Bakar Maninjau, Syekh Hasan Bashri Maninjau dan Syekh Abdul Karim Amrullah Maninjau. Aktifitas yang menjadi prestasi dalam bidang keagamaan ulama-ulama Maninjau tersebut bukan hanya mengajar, namun mereka juga berperan dalam mendirikan lembaga pendidikan, seperti surau dan madrasah. Lebih dari itu beberapa di antara mereka juga menerbitkan jurnal (majalah), seperti Syekh Hasan Basri yang tercatat sebagai redaktur Majalah al-Mizan yang terbit di Maninjau (sebelum terbit di Bukittinggi). Selain itu di Maninjau juga didirikan penerbit dan pencetak kitab-kitab keagamaan, antara lain Syarikat al-Ihsan Maninjau. Sayang, sebagian besar dari hasil tangan ulama-ulama itu hanya tinggal cerita.


Foto: Mesjid Syekh Amrullah Maninjau yang telah dipugar (2013)

Dalam artikel pendek ini, kita akan melihat sekilas tentang Syekh Amrullah, ulama besar Maninjau abad XIX. Selain meninjau tentang kehidupannya, kita sigi juga beberapa tulisan yang sempat terselamatkan dari ulama yang satu ini.

Syekh Amrullah: Ikon Jaringan Ulama Minangkabau abad XIX

Syekh Amrullah lahir pada permulaan bulan Rajab 1256. Hamka, berdasarkan penjelasan ayahnya, bercerita tentang riwayat datuknya itu (Dalam buku “Ayahku”, hal. 40-51). Menurut riwayat yang diuraikannya itu, Syekh Amrullah, lengkapnya Syekh Muhammad Amrullah, ialah keturunan dari ulama-ulama terkemuka. Ayahnya ialah Syekh Muhammad Shaleh yang digelari dengan “Tuanku Syekh Guguk Katur”, seorang ulama sufi yang terkemuka. Konon, beliau hafal kitab Hikam karangan Syekh Atha’illah al-Sukadari yang masyhur itu. Sedangkan neneknya ialah Tuanku nan Tuo Ampek Koto, atau yang dikenal dengan “Tuanku Pariaman”. Beliau ialah salah seorang ulama Syattariyah. Muridnya ialah Tuanku Sutan, guru dari Tuanku Aluma Koto Tuo. Tuanku Aluma (w. 1963) ialah ulama besar Syattariyah abad XX.

Dari jalur keturunan, jelas bahasa Syekh Amrullah lahir dari lingkungan ulama. Lingkungan keluarga ini membawa dampak dalam perkembangan Syekh Amrullah di masa kecilnya. Di usia yang masih terbilang belia, Syekh Amrullah telah belajar al-Qur’an dengan ayahnya. Di tahun 1853, ia dibawa ayahnya itu menemui neneknya di Ampek Koto, untuk melanjutkan pelajaran agama. Di Ampek Koto, Syekh Amrullah sama-sama belajar dengan Syekh Tuanku Sutan.

Pada tahun 1864, Syekh Amrullah kembali ke kampung halamannya. Beliau telah menerima ijazah dari neneknya, Tuanku nan Tuo, sebagai tanda bahwa keilmuannya telah diakui. Di Maninjau, berdasarkan kesepakatan tokoh-tokoh adat dan agama, Syekh Amrullah diberi gelar dengan “Tuanku Kisa’i” dengan sebuah perhelatan cukup besar. Konon, gelar “Tuanku Kisa’i” itu dilekatkan karena Syekh Amrullah hafal al-Qur’an. Al-Kisa’i adalah nama seorang ahli Qira’at al-Qur’an yang muktabar.

Tak berapa lama setelah itu, Syekh Amrullah berangkat ke Makkah. Di sana beliau, di samping ber-haji, juga belajar kepada ulama-ulama terkemuka, seperti Sayyid Ahmad Zaini Dahlan dan Syekh Muhammad Hasbullah. Cukup lama beliau bermukim di Makkah, kabarnya bertahun-tahun.

Setelah itu, Syekh Amrullah kembali ke kampung halamannya dan berkhitmat mengajar agama. Setelah kepulangannya itu, namanya semakin harum dikalangan penuntut-penuntut ilmu. Seiring kemasyhurannya, ia diundang ke berbagai daerah untuk mengajar agama, antara lain ke Sungai Landai, Koto Tuo, Banuhampu, Kapas Panji dan daerah-daerah lainnya. Kabarnya, dalam mengunjungi daerah-daerah itu beliau tidak berjalan, malah ditandu oleh murid-muridnya; sebagai alamat bahasa beliau ialah seorang ulama yang sangat dihormati.


Foto: Makam Syekh Amrullah Tuanku Kisa'i Maninjau

Selain terkemuka sebagai ulama yang mahir dalam ilmu al-Qur’an, Syekh Amrullah juga masyhur selaku ulama besar Tarekat Naqsyabandiyah. Namun, sampai saat ini belum ditemui informasi gurunya dalam tarekat ini, padahal Syekh nan Tuo ialah tokoh Syattariyah, dan berdebatan Syattariyah versus Naqsyabandiyah masih hangat saat itu.

Berdasarkan runut jaringan intelektual ulama Minangkabau, Syekh Amrullah termasuk jaringan inti di abad XIX. Ia telah mendidik beberapa ulama yang kemudian berperan dalam jaringan ulama setelahnya. Salah satu ulama besar hasil didikannya ialah Syekh Abbas Qadhi Ladang Laweh, salah seorang ulama besar, pimpinan Ittihad Ulama Sumatera dan sesepuh Persatuan Tarbiyah Islamiyah.

Tulisan Tangan Syekh Amrullah Maninjau

Tak banyak karya dan tulisan Syekh Amrullah yang dapat kita temui saat ini. Meskipun dua generasi setelahnya, yaitu Syekh Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul) dan Hamka, adalah ulama yang sangat menghargai buku dan kitab, namun hanya satu dua saja yang terselamatkan. Itupun wakaf orang kepadanya. Berikut adalah hasil fotografi kitab-kitab tulisan tangan Syekh Amrullah tersebut:


Foto: Tulisan tangan Syekh Amrullah-1.


Foto: Tulisan tangan Syekh Amrullah-2

al-Faqir al-Haqir Apria Putra
Dalam khalwat yang hening, Jakarta.

Senin, 07 April 2014

Syekh Jamaluddin Pasai di Minangkabau

Oleh: al-Faqir Apria Putra

Dalam menelusuri sejarah persebaran ilmu tasawuf di Minangkabau, kita akan dihadapkan dengan nama-nama tokoh sufi pengembara yang datang, adakalanya bermukim atau sekedar tinggal beberapa saat di Minangkabau. Kita catat nama-nama seperti Syekh Burhanuddin Kuntu di Minangkabau Timur, yang riwayatnya tidak begitu dapat dipastikan (riwayat mengenainya hanya diberikan oleh Mahmud Yunus, 1982). Adalagi tokoh yang dikenal dengan Syekh Keramat Taram. Tokoh ini dikenal sebagai sosok misterius, yang konon datang dari Negeri Madinah al-Munawwarah bersama Syekh Abdurra’uf Singkel. Ia, setelah tinggal beberapa saat di Aceh, kemudian mengembara sepanjang pantai timur sumatera, hingga sampai di pedalaman Minangkabau. Di Pedalaman, tepatnya di Taram, Lima Puluh Kota, ia tinggal dan memapankan karir ulama dengan mengajar ilmu agama. Layaknya sufi-sufi lain, riwayat hidupnya penuh dengan peristiwa yang tergolong “khariq lil ‘adah” (di luar manusia) yang di dalam literatur Sunni disebut “karomah”.

Selain dua tokoh tersebut, terdapat tokoh lain yang ternyata mempunyai andil dalam persebaran Tarekat Sufi Naqsyabandiyah. Tokoh ini ialah Syekh Jamaluddin Pasai. Azyumardi Azra (2007) dalam karya fenomenalnya “Jaringan Ulama” menyebutkan tokoh ini sebagai penyebar pertama Tarekat Naqsyabandiyah di abad 18. Selain itu, informasi ini juga dikuatkan oleh Cristine Dobbin dalam “Islamic Revivalism”. Namun ketokohan Jamaluddin Pasai yang dimaksud oleh dua peneliti kenamaan ini tidak lengkap. Penulisnya tidak membeberkan siapa sebenar Jamaluddin, bagaimana pengaruh, dan jaringan intelektualnya. Oleh karenanya, ketokohan Jamaluddin sebagai sufi pembawa Tarekat Naqsyabandiyah pertama dibantah oleh peneliti-peneliti setelahnya. Penelitian setelahnya menekankan peran Syekh Isma’il al-Khalidi al-Minangkabawi, tokoh penting jaringan ulama Nusantara abad 19 yang bermukim di Makkah asal Simabur Batusangkar. Tokoh terakhir disebut sebagai pembawa pertama Tarekat Naqsyabandiyah; mengaminkan Schrieke (1919).

Mengenai Jamaluddin yang kita sebut, Van Ronkel mempunyai informasi lain yang bersumber dari sebuah naskah fiqih berorientasi Naqsyabandiyah yang tersimpan di perpustakaan Universitas Leiden. Naskah itu berjudul “Lubab al-Kifayah”. Pengarang naskah tersebut tak lain ialah Syekh Jamaluddin Pasai. Naskah ini, menurut Chambert-Loir, diperkirakan ditulis pada perempat pertama abad 18 (buku “Naik Haji di Masa Silam I: 1482-1890”, 2013: 210). Benar kiranya, pengarang, dalam hal ini jamaluddin, merujuk karya ulama Naqsyabandiyah terkemuka di Makkah di abad sebelumnya, yaitu Ibnu ‘Alan al-Naqsyabandi. Ibnu ‘Alan pernah menulis syarah terhadap “Qashidah Bintil Milaq” yang menjadi acuan oleh tokoh-tokoh Naqsyabandi dan Syattariyah di Minangkabau pada abad 19.

Chambert-Loir telah membuat edisi teks salah satu bagian naskah ini, berdasarkan hasil transkripsi Van Ronkel (1919), kemudian memasukkan dalam buku “Naik Haji di Masa Silam” jilid I (terbitan KPG bekerjasama dengan Ecole francaise d’Extreme-Orient, November 2013). Naskah ini berkisah tentang perjalanan hidup Jamaluddin, mulai dari Timur Tengah seperti Makkah, Zabid (Yaman), dan Mesir lalu pulang ke Sumatera, ke Batak dan akhirnya ke Minangkabau, yaitu ke Pariaman dan pedalaman. Dalam teks ini pengarang menyebut namanya dengan Jamaluddin ibnu Jawi.

Bagian naskah ini berupa bait-bait sya’ir dalam bahasa Melayu, yang ditranskrip oleh Van Ronkel dalam bentuk prosa. Hal ini membuat Chambert-Loir yang mengedit kemudian merasa “pusing” memahami teks ini. Meski begitu, dari hasil editan Chambert-Loir kita dapat mengikuti beberapa fragmen dari kisah perjalanan tokoh ulama Pasai ini.

Terkait dengan Minangkabau, menarik kita simak bagian akhir bait Jamaluddin. Ia mengemukakan:

(35) Dari sana pula lalu berlayar,
Ke negeri Pariaman nama bandar,
Sampai di sana nyatalah khabar,
Pada pendeta alam (?=alim) yang besar-besar.

.....
(37) Mencari bicara meninggalkan zaman,
Lalu ke Agam bertanam-tanaman,
Ke Lima Puluh Kota sampai Palangan,
Menghasilkan tanaman dan perbuatan.

(Chambert-Loir, 2013: 218)

Dari dua fragmen bait ini berisi kisahnya di Minangkabau. Pertama di Pariaman, di mana di daerah ini Jamaluddin bertemu dengan ulama-ulama besar yang menyampaikan berita gembira padanya. Kedua, di pedalaman Minangkabau, yaitu Agam dan Lima Puluh Kota. Di sana ia menghasilkan “pekerjaan” yaitu berdakwah dan mengajar agama. Kita ketahui bahwa sejak abad 18 dua daerah terakhir, yaitu Agam dan Lima Puluh Kota menjadi basis pendidikan Islam ala sufi yang padat di Minangkabau. Ordo sufi yang berkembang di daerah ini, sejak dahulu, ialah Naqsyabandiyah dan Syttariyah. Apakah memang Jamaluddin pernah menancapkan pengaruh di daerah ini, hingga kedua daerah ini menjadi sentra tasawuf? Sampai saat ini belum ada analisis tuntas mengenai pengaruh ulama luar terhadap transmisi keilmuan Islam di alam Minangkabau. Paling tidak, apa yang dikemukakan Chambert-Loir dan Van Ronkel membuktikan bahwa pada abad 18 telah ada ulama sufi Pasai ber-Tarekat Naqsyabandiyah singgah dan “menghasilkan pekerjaan” di pedalaman Minangkabau, Agam dan Lima Puluh Kota. Oleh karenanya, apa yang dikemukakan Azra dan Dobbin mengenai sosok Jamaluddin dan pengaruhnya di Minangkabau menjadi lebih agak jelas dari sebelumnya.

Perpustakaan Riset Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta
Ciputat, 7 April 2014.

Rabu, 02 April 2014

Jejak Intelektualisme Persatuan Tarbiyah Islamiyah di Pesisir Selatan

Oleh: al-Faqir Apria Putra

Tulisan ini sengaja ditulis memenuhi permintaan Ust. Heri Surikno, Mudarris di MTI Timbulun, Pesisir Selatan.

Rekam Jejak Masa


Sejarah Islam di Pesisir telah melewati waktu cukup panjang. Kita mendengar, misalnya cerita Kho Pin Ho, seorang jenderal Muslim dari benua Cina yang merapatkan kapalnya di sebuah pulau kecil di Pesisir, sehingga kemudian pulau itu bernama Pulau Cingkuak. Cingkuak ialah perubahan bahasa dari nama sang jenderal, Kho Pin Ho. Itu sudah lama, sudah berabad-abad yang lalu. Riwayat kedatangannya itu oleh sementara kalangan menjadi petanda bahwa di masa Kho Pin Ho telah terjalin kontak antara benua Ruhum (Cina) dengan Pulau Perca, tepatnya Pesisir. Hubungan yang terjalin itu tepatnya ialah tali keagamaan, yaitu agama Islam. Maka di disitulah perjalanan agama dimulai di ranah Banda nan Sapuluah ini. Itu yang diungkap Yulizal Yunus dalam “Islam di Gerbang Selatan Sumatera”.

Perjalanan agama Islam, yakninya I’tikad Ahlussunnah wal Jama’ah (al-Asy’ariyyah) dan Mazhab Syafi’i itu sebenarnya baru muncul kepermukaan sejarah ketika Syekh Buyuang Mudo Puluik belajar agama ke Aceh, tepatnya kepada Syekh Abdurra’uf Singkel, pada abad ke-XVII. Syekh Buyuang Mudo tidak sempat mengkhatam kajinya di Aceh, sesuai dengan saran gurunya itu, beliau kemudian melanjutkan pelajaran agamanya kepada Syekh Burhanuddin Ulakan, Pariaman. Di sana beliau memutus kaji dan memperoleh ijazah keilmuan, serta diakui sebagai salah satu khalifah Syekh Burhanuddin tersebut. Syekh Buyuang Mudo kemudian mengembangkan dakwah Islam ke kampung halamannya, Bayang. Di sana beliau mendirikan surau dan mengabdi untuk tegaknya agama hingga wafat.

Selain Syekh Buyuang Mudo, ada tokoh ulama lain yang mempunyai pengaruh besar dalam perjalanan agama di Pesisir, yaitu yang dikenal dengan Syekh Keramat Langgai. Tokoh ini disebut sebagai nenek moyang orang Pesisir. Dalam historiografi lokal disebutkan bahwa nenek moyang orang Pesisir turun dari Sungai Pagu, menembus hutan di belantara bukit barisan, dan sampai di tepian pesisir. Di sana mereka membuka pemukiman dan menaruko. Syekh ini, atau yang lebih dimasyhurkan dengan Aek Keramat Langgai lebih sebagai sufi yang mempunyai khariq lil ‘adah (kisah keramat – diluar nalar logis). Sampai saat ini sosoknya sebagai tokoh bertuah masih menjadi buah bibir. Makamnya berada di Langgai, sebuah daerah yang terletak di antara Pesisir dan Sungai Pagu, masih di ziarahi hingga saat ini. Konon, bagi siapa saja orang luar yang datang ke Langgai, niscaya akan dibasuh hujan. Salah satu peninggalan Aek Langgai ini ialah sebuah kitab tulisan tangan berusia lebih dari tiga abad. Kitab itu ialah Minhaj al-Thalibin karya agung Imam Nawawi. Jelas, Aek Keramat Langgai ialah ulama Syafi’iyyah.


Foto: Salah satu halaman Naskah Minhaj al-Thalibin peninggalan Aek Keramat Langgai (difoto di Surantih, Pesisisr Selatan, 2010)

Kita belum mempunyai rekaman tokoh-tokoh lain. Tentunya banyak ulama lain yang telah memancangkan perjuangan agama Islam sesuai dengan I’tikad Ahlussunnah wal Jama’ah di masa awal sejarah Islam di Pesisir. Kita mengenal Kesultanan Indropuro, kerajaan Bahari yang merupakan sapih belahan Kerajaan Pagaruyuang di abad-abad silam di Pesisir. Di masa kesultanan ini juga banyak ulama-ulama. Begitu juga kawasan Istana Mande Rubiah, daerah Bundo Kanduang yang bertuah itu. Juga banyak bukti-bukti keislaman yang kuat kita temui. Namun sayang, kita belum mempunyai catatan yang memuaskan untuk hal itu.

Di Lunang, kita kenal Syekh Ibrahim Lunang, murid Syekh Burhanuddin Ulakan angkatan pertama. Beliau berkhitmat mengajar agama di Lunang, khususnya Tarekat Syattariyah. Sejarah tetangnya belum kita dapati.

Di Koto Baru, Kambang, dikenal pula Mufti Kambang, seorang syekh ‘alim yang menjadi tumpuan masyarakat dalam soal-soal agama. Namun riwayat tentang itu belum juga ditelusuri secara mendalam. Dalam satu kesempatan saya sempat berkunjung ke Mesjid Raya Koto Baru Kambang. Di mihrab mesjid itu ditemui satu lemari kitab kuning. Kitab-kitab itu tak lain kitab-kitab Syafi’iyyah yang besar-besar dan berjilid-jilid, juga kitab-kitab mu’tamad dalam ilmu tasawuf. Dapat diterka, Mufti Kambang itu tak lain juga ulama Syafi’iyyah.

Pesisir Selatan dan Persatuan Tarbiyah Islamiyah

Pesisir Selatan mempunyai peran penting dalam sejarah Persatuan Tarbiyah Islamiyah. Selain, sebagaimana yang saya ungkap di atas, Pesisir Selatan di masa silam dihuni oleh ulama Syafi’iyyah yang berpengaruh luas, juga dikarenakan ulama-ulama Pesisir menjadi simpul jaringan intelektual ulama Persatuan Tarbiyah Islamiyah. Paling tidak, terdapat dua ulama besar Persatuan Tarbiyah Islamiyah yang mempunyai koneksi intelektual (isnad) dengan ulama Pesisir Selatan. Pertama Syekh Muhammad Dalil, atau yang dimasyhurkan dengan Syekh Bayang. Kedua, Syekh Khatib ‘Ali Padang. Syekh Bayang belajar agama pertama kali di kampung halamannya dengan ulama-ulama terkemuka ketika itu. Sedangkan Syekh Khatib ‘Ali Padang juga pernah menimba ilmu dengan ulama Pesisir, salah satunya Syekh Haji Saya di Air Haji.

Selain posisi jaringan intelektual itu, bukti posisi penting Pesisir dapat kita lihat pada keaktifan ulama-ulama Pesisir dalam kegiatan Persatuan Tarbiyah Islamiyah di masa lalu. Salah satunya, pada tahun 1954 diadakan konferensi Tarekat Naqsyabandiyah di Bukittinggi. Waktu itu hadir 180 masya’ikh Tarekat Naqsyabandiyah. Namun dari 180 itu, hanya terdapat 34 tokoh yang menonjol. Dua dari 34 tokoh terkemuka dalam konferensi itu berasal dari Pesisir Selatan, yaitu Syekh Abdul Wahab al-Khalidi Pelangai dan Syekh Qulan al-Khalidi Painan. Di samping itu di Pesisir terdapat pula sekolah-sekolah agama (baca: pesantren) Persatuan Tarbiyah Islamiyah yang dimotori oleh ulama-ulama yang tergolong dalam Persatuan Tarbiyah Islamiyah.

Berdasarkan penelusuran saya, terdapat empat tokoh besar dalam perjalanan Persatuan Tarbiyah Islamiyah dan MTI di Pesisir Selatan. Empat tokoh itu ialah (1) Tuanku Syekh Bayang, (2) Syekh Kolang Koto Kandih, (3) Syekh Junaid al-Mashri, dan (4) Syekh Munaf Bakrin Tuanku Lubuak.

A. Tuanku Syekh Bayang


Tuanku Syekh Bayang ialah salah seorang ulama tua yang hidup pada pertengahan abad ke 19 hingga paruh pertama abad 20. Beliau lahir di daerah Bayang, Pesisir Selatan. Sebelum belajar agama di Mekkah al-Mukarramah, beliau belajar dasar-dasar agama di kampung halamannya. Setelah itu beliau melanjutkan pelajarannya di Mekkah. Di sana beliau belajar dengan ulama-ulama terkemuka. Beliau pulang ke Minangkabau pada awal abad 20, dan bermukin di Padang. Di sana beliau memapankan karier keulamaannya hingga wafat. Di Padang beliau mengajar bermacam ilmu-ilmu agama di Mesjid Ganting, mesjid tertua di Kota Padang. Ketika beliau wafat, beliau juga di makamkan di Mesjid ini.

Syekh Bayang termasuk salah seorang ulama tua yang bersinggungan langsung dengan benih-benih Persatuan Tarbiyah Islamniyah di masa awal, namun beliau tidak sempat melihat perkembangan Persatuan Tarbiyah Islamiyah selanjutnya karena beliau wafat pada 1923. Sebelumnya ia termasuk salah seorang ulama yang aktif pada Ittihad Ulama Sumatera yang ketika itu dipimpin oleh ulama-ulama kenamaan seperti Syekh Sa’ad Mungka dan Syekh Abdullah Halaban.

Syekh Bayang termasuk ulama yang gigih mempertahankan I’tikad Ahlussunnah wal Jama’ah dan Mazhab Syafi’i di Minangkabau, terbukti dengan keikut sertaannya dalam muzakarah-muzakarah bersama Ulama-ulama dari Kaum Muda. Beliau ‘alim dalam ushul syari’at, terutama dalam Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah. Beliau menulis sebuah risalah monumental di zamannya, berjudul Targhub ila Rahmatillah.

B. Syekh Kolang Koto Kandih


Riwayat perjalanan hidupnya belum terungkap lengkap, namun dipastikan beliau ialah ulama besar terkemuka di Pesisir di awal abad 20. Beliau belajar agama di Kelang, Malaysia, oleh sebab itu beliau digelari dengan Syekh Kelang atau Syekh Kolang. Setelah lama belajar agama, beliau kemudian pulang ke kampung halamannya, Koto Kandih. Di sana beliau mendirikan sebuah Madrasah yang dikenal dengan Madrasah Tarbiyah Islamiyah Koto Kandih, Kambang. Madrasah ini terkemuka di Pesisir zaman itu, dan termasuk yang tertua. Bagaimana hubungannya pribadi Syekh Kolang dengan Persatuan Tarbiyah Islamiyah, belum terungkap jelas. Namun, Madrasah ini mempunyai andil yang besar dalam membentengi faham Ahlussunnah wal Jama’ah dari rongrongan faham modernis.

C. Syekh Junaid al-Mashri: Dari Situjuah ke Pasisia


Syekh Junaid al-Mashri ialah murid dari Syekh Muhammad Ruslan Limbukan, Payakumbuh. Beliau berasal dari Situjuah Banda Dalam, Payakumbuh. Ketika MTI Koto Kandih kekurangan guru dalam mengajar agama lewat kitab-kitab kuning, maka beliau dijemput untuk menetap di Koto Kandih dan mengajar. Beliau sosok yang ‘alim, lagi keramat. Beliau mempunyai andil dalam melanjutkan eksistensi MTI Koto Kandih, dengan berhasil mengkader murid-murid yang ‘alim. Murid-muridnya inilah yang kemudian menyambung estafet keulamaan Ahlussunnah wal Jama’ah di Pesisir Selatan. Syekh Junaid wafat pada paruh terakhir abad 20.

D. Syekh Munaf Bakrin Tuanku Lubuak

Surau Lubuak, Baruangbaruangbalantai, ialah salah satu saksi bisu kejayaan ulama Persatuan Tarbiyah Islamiyah di Pesisir Minangkabau. Surau ini pernah menjadi basis intelektual ulama Perti hingga akhir abad 20; mempunyai jariangan luas hingga daerah Mukomuko, Bengkulu. Tokoh utamanya ialah Syekh Munaf Bakrin, atau yang dikenal dengan “Tuanku Lubuak”.
Syekh Munaf Bakrin belajar agama kepada ulama-ulama generasi pertama Persatuan Tarbiyah Islamiyah, seperti Syekh Ibrahim Harun “Beliau Bomban” Tiakar, Payakumbuh. Dalam ilmu Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah beliau belajar intens kepada Syekh Muhammad Thaib di Pauah, Padang.

E. Pemandangan saat ini

Masa-masa cemerlang telah berlalu terlalu lama, namun sebagaimana hukum alam tentu ada “arus balik”-nya, ertinya masa-masa kejayaan Persatuan Tarbiyah Islamiyah tak mustahil akan terulang lagi. Melihat keadaan masa kini, dapatlah saya simpulkan bahwa terjadi satu ghirah besar dalam generasi muda Persatuan Tarbiyah Islamiyah; apatah lagi bisa menyaksikan perkembangan MTI Timbulun, dan semangat generasi mudanya. Insya Allah wibawa Persatuan Tarbiyah Islamiyah sebagai “NU”-nya Sumatera Barat dapat menggema se-antero negeri. Syaratnya satu, yaitu dengan menjalin kembali tali-temali yang sebelumnya rapuh oleh putaran zaman keegoan. Semoga.


Dalam Khalwat yang hening, Jakarta.

Januari 2014.

Senin, 10 Maret 2014

Warisan Intan Permata Minangkabau: Intelektualisme Islam, Transmisi Keilmuan dan Karya Tulis

Oleh: al-Haqir Apria Putra

Minangkabau, terkenal bukan hanya karena keelokan alamnya, kekayaan budayanya, pengaruhnya yang melebihi zaman, tapi lebih dikenal karena tokoh-tokoh intelektual yang lahir dari rahimnya. Intelektualisme di Minangkabau telah berlangsung lama, sejak Islam masuk, dan hadirnya ulama-ulama kenamaan di ranah ini.

Ulama, ialah salah satu dari tungku tigo sajarangan, satu unsur inti dari kehidupan adat Minangkabau. Dia mempunyai posisi penting, bukan hanya dalam tugasnya mengayomi umat, namun juga berperan kehidupan sosial masyarakat. Ketika Islam mulai tersebar luas, yang ditandai dengan pengaruh ulama-ulama Aceh di abad XVII, ulama-ulama Minangkabau juga mempunyai andil besar dalam islamisasi dunia Melayu tersebut. Lewat lembaga surau yang terus tumbuh menjamur pada abad-abad itu, yang tumbuh dibarengi meningkatnya aktifitas transmisi keilmuan Islam, ulama-ulama di ranah Andalas ini memainkan peran krusialnya. Malah menembus batas-batas wilayah Minangkabau sendiri, Malaya, Mindanao (Filipina), Brunei, Sulawesi dan pulau-pulau lainnya. Kemasyhuran Minangkabau sebagai pusat agama Islam dan gudangnya para ulama telah menjadi daya tarik yang luar biasa, sehingga berdatanganlah pelajar-pelajar dari berbagai belahan negeri, berbagai bangsa buat berkhitmat menuntut agama. Hingga pelajar-pelajar itu dinamai dengan Orang Siak, orang dari tempat jauh (Siak). Sampai-sampai orang tua-tua dulu ketika mengingat-ingat euforia di masa di surau, menggambarkan dengan sangat indah. Lampu-lampu damar terpasang di surau-surau, ibaratkan bintang-bintang di tengah gelap malam gulita. Bunyi mendaras kaji bagaikan bunyi lebah terbang. Sungguh meriah. Bukan hanya itu, terjadi islamisasi di segala bidang. Silat misalnya, diajarkan lewat adagium lahia silek mancari kawan, batin silek mancari Tuhan; langkahnyo ampek, Alif, Lam, Lam, Ha, ALLAH. Konon gerakan-gerakan silat itu diciptakan dari huruf-huruf arab dari kitab-kitab kuning yang dibahas setiap malam di surau bersama Tuanku Syaikh.

Mengingat masa-masa silam kebesaran ulama di Ranah Minangkabau, kita teringat dengan satu artikel berjudul De Priester en Zijn Invloed op de Samenleving in de Padangsche Bovenlanden tulisan AWP. Verkerk Pistorius. Dalam artikel ini digambarkan dengan bahasa sastra akan kebesaran seorang ulama di pedalaman Minangkabau abad XIX, Syekh Muhammad Shaleh Silungkang, kemasyhuran, tuah, berikut keadaan surau dan murid-muridnya. Kita juga akan terkaget, dalam kamus-kamus biografi Arab, ulama-ulama Minangkabau telah dicantumkan. Misalnya bila merujuk Umar Abdul Jabbar dalam Siyar wa tarajim ba’d ulama’ina fi Qarn rabi’ asyara, jelas memasukkan al-Minangkabawi sebagai ulama terkemuka di shaf ulama-ulama Mekah kala itu. Juga bila kita membalik-balik kamus yang cukup tebal, Natsar al-Jauhar wa Durar fi Ulama Qarn Rabi’ Asyara, kita akan temui Syekh Muhammad Janan Thaib asal Bukittinggi, pendiri Madrasah al-Indonesi (sekolah Indonesia) jauh sebelum Indonesia bernama Indonesia.

“Menengok ke belakang buat melangkah jauh ke depan”, begitu Hamka dalam Adat Minangkabau Menghadapi Revolusi-nya. Tiada guna kita membaca masa silam, kebesaran Islam tempo dulu, kenangan Minangkabau di masa dulu, bila kita tiada dapat mengambil pelajaran untuk menyongsong hari depan. Niscaya itu akan menjadi nostalgia dalam memori kolektif semata. Apa yang hendak kita lihat, bagaimana kita membangkitkan ghirah (semangat) agama seperti yang telah dicapai ulama-ulama silam itu? Salah satu jawabannya bercermin dengan pribadi mereka, lebih konkrit lagi kepada karya-karya besar yang mereka tinggalkan.

Orang boleh saja berkata, ulama-ulama dulu kuno, sistem pendidikannya kolot, tidak tahu teknologi dan lainnya. Tapi jangan salah, yang berkata tentunya akan terdiam. Beberapa penelitian mutakhir secara eksplisit membuktikan betapa canggihnya ulama-ulama silam. Betapa banyak sarjana-sarjana setingkat doktor berbondong-bondong mengkaji pendidikan tradisional di surau-surau atau pondok pesantren. Mereka yang dulu dianggap kuno, kini telah ibarat emas yang di cari. Dalam lapangan agama, misalnya, betapa banyak kita lihat saat ini lulusan-lulusan luar negeri yang dianggap menempuh pendidikan agama ala modern itu terperangah ketika mendengar seorang guru tamatan pesantren tradisional ketika menjelaskan Nahwu. Kita mendapat riwayat bagaimana Syekh Thaher Jalaluddin al-Falaki, Ulama Minangkabau di Pulau Penang itu membuat takjub ilmuan-ilmuan di Inggris karena hitungan astronomi yang begitu akurat. Dan kita mungkin melupakan Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, yang pernah menulis Riyadhul Hisab (taman hitungan) dalam ilmu matematika. Atau Syekh Muhammad Sa’ad Mungka Payakumbuh yang lancar menulis sya’ir-sya’ir Arab seperti halnya pujangga-pujangga Timur Tengah. Dalam adagium orang tua-tua disebutkan, dikumpa sagadang kuku, dikambang saleba alam, begitulah keilmuan di surau.

Keilmuan surau memiliki beberapa karakteristik. Ulama-ulama surau menjaga keotentikan keilmuan dengan adanya sanad (mata rantai) yang mengharuskan orang-orang siak (murid) untuk ber-talaqqi (face to face). “Adab” lebih diutamakan dalam sistem pendidikan surau. Sopan santun kepada guru sangat ditekankan, selain itu juga kepada teman-teman belajar. Di surau juga dikenal istilah ijazah. Dalam pengertian sederhana ialah izin guru untuk mengajarkan kepada orang lain. Seorang murid mendapat ijazah setelah melengkapi beberapa syarat, terutama kemampuannya dalam menyerap pelajaran di surau. Ijazah biasanya dituliskan pada selembar kertas lengkap dengan mahor guru. Klasifikasi keilmuan di Surau lebih cendrung kepada apa yang dijelaskan al-Ghazali dalam Ihya’, yaitu terdiri dari 3 garis besar, Tauhid, Fiqih dan Tasawuf. Tauhid dengan mempelajari aqidah Ahl Sunnah wal Jama’ah atau i’tiqat Asy’ariyah; Fiqih mengikut Mazhab Syafi’iyah; dan Tasawuf dengan mengamalkan tarekat-tarekat mu’tabar, seperti Syattariyah, Naqsyabandiyah dan Sammaniyah. Ulama-ulama yang menguasai ilmu-ilmu ini, meminjam istilah dalam Tubsirah al-Fashilin ‘an Ushul al-Washilin, disebut ulama yang mempunyai dua sayap, lahia dan bathin. Begitu sekilas transmisi keilmuan Islam di Minangkabau.


Foto: Salah satu surat Ijazah seorang ulama di Pasaman Barat.

Siapa-siapa saja ulama Minangkabau yang mempunyai karya besar? Jawabnya sangat banyak sekali. Di antaranya ialah Syekh Burhanuddin Ulakan, Syekh Jalaluddin Faqih Shaghir Cangkiang, Syekh Isma’il al-Khalidi Simabur al-Minangkabawi, Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Syekh Muhammad Sa’ad Mungka Payakumbuh, Syekh Muhammad Dalil Fatawi Bayang, Syekh Khatib ‘Ali al-Fadani, Syekh Thaher Jalaluddin, Syekh Sulaiman ar-Rasuli, Syekh Abdul Karim Amrullah Danau Maninjau, Syekh Muhammad Jamil Jaho, Syekh Mudo Abdul Qadim Belubus, Syekh Muhammad Zein Simabur, Syekh Ibrahim Musa Parabek, Syekh Janan Thaib Bukittinggi, Tuanku Mudo Abdul Hamid Hakim dan Syekh Abdul Jalil Tuanku Mudo Bonjol Khatulistiwa.

Jakarta, 26 September 2012

Senin, 03 Februari 2014

Bila Maulid didendangkan: Satu waktu di Surau Lubuak Ipuah, Pariaman

Oleh: al-Faqir al-Haqir Apria Putra

Tulisan ini ditulis berdasarkan perjalanan ke Surau Lubuak Ipuah, pada Desember 2011. Dilengkapi dengan informasi literatur lain seputar Lubuak Ipuah, seperti “Sejarah Syi’ar Islam di Lubuak Ipuah”, tulisan Buya Mansuruddin Tuanku Bagindo berdasarkan riwayat yang diuraikan oleh Tuanku Abdurrahman (Tuanku Kali ke-III di Lubuak Ipuah)

Sayup-sayup terdengar suara seseorang berdendang dari kejauhan. Bunyi serak dan penuh khitmat, terasa sangat khusuk di tengah malam itu. Dari jauh, dengan jelas didengar dendang Maulid Nabi, riwayat kisah perjalanan (sirah) Nabi Muhammad saw. yang dibaca dengan bahasa Arab nan penuh intrik sastra. Pendengarnya tentu akan haru, sebab bait-bait kisah perjalanan Rasulullah itu menyelinap hati sampai ke sanubari paling dalam. Itu Maulid Syaraful Anam. Si-pendendang sendiri tak lain ialah Tuanku Kadi Lubuak Ipuah.


Foto 1: Surau Lubuak Ipuah, masa kini. (Dokumentasi penulis, 2012)

Malam itu, saya baru saja pulang dari Lubuak Landua, Pasaman Barat. Sebelum sampai di Kota Padang, kami sempatkan mampir di Surau Lubuak Ipuah, Pariaman. Setelah sampai di depan surau itulah saya mendengar takjub dendang Maulid Nabi Syaraful Anam itu.

Surau Lubuak Ipuah: Sekilas sejarah dan posisinya


Surau Lubuak Ipuah sendiri ialah salah satu pusat agama Islam tertua di Pesisir setelah Surau Syekh Burhanuddin Ulakan. Sekitar abad 17-18, di Lubuak Ipuah terdapat salah seorang murid Syekh Burhanuddin Ulakan, yaitu Syekh Jangguik Itam. Syekh Jangguik Itam mempunyai seorang cucu yang ‘alim, beliau bernama Syekh Abdurrahman Lubuak Ipuah. Pada saat itu ramai-lah murid-murid berdatangan dari berbagai daerah, sehingga Syekh Abdurrahman menghabiskan masa untuk melayani murid-murid yang menuntut ilmu tersebut. Untuk hal keagamaan masyarakat Lubuak Ipuah, untuk memudahkan dalam mengamalkan ajaran agama, beliau kemudian menulis tuntunan praktis seputar ibadah, tauhid dan tasawuf dalam sebuah kitab. Kitab itu kemudian dikenal dengan nama “Risalat Lubuak Ipuah”, ditulis dalam bahasa Melayu aksara Arab (Arab Melayu). Sampai saat ini risalah ini tetap menjadi pedoman ringkas bagi masyarakat untuk soal amal ibadah.


Foto 2: salinan Risalat Lubuak Ipuah (Dokumentasi penulis, 2010)

Di masa Syekh Abdurrahman inilah jabatan Tuanku Kali (Tuanku Kadi) mulai diadakan. Sampai saat ini posisi Tuanku Kali telah dipegang oleh enam generasi. Secara berurutan, Tuanku Kali Lubuak Ipuah ialah:
1. Tuanku Kali Capuak.
2. Tuanku Kali Thaib
3. Tuanku Kali Abdurrahman
4. Tuanku Kali Musa
5. Tuanku Kali Abdurrazaq
6. Tuanku Kali Abdurrasyid (saat ini)

Surau Lubuak Ipuah, yang secara bergantian dari generasi ke generasi dibina oleh Tuanku Kali menepati posisi penting dalam jaringan intelektual Pesisir Minangkabau, khususnya dikalangan Tarekat Syattariyah. Surau ini pernah menjadi basis pendidikan Islam terkemuka di abad-abad lalu. Salah seorang ulama besar yang pernah belajar agama di Surau Lubuak Ipuah, antara lain ialah Syekh Uwaih Limo Puluah Malalo (w. 1930, dalam usia 200 tahun).


Foto 3: Tuanku Kali Abdurrasyid, Tuanku Kali Lubuak Ipuah saat ini (Dokumentasi penulis, 2012)

Saat ini, dimasa Tuanku Kali Abdurrasyid, Surau Lubuak Ipuah tetap menjadi salah satu sentra, meskipun beberapa tradisi seperti aktifitas belajar kitab telah pupus melewati zaman. Namun, eksistensinya tetap hidup di tengah-tengah masyarakat Pariaman. Beberapa tahun yang lalu, surau ini telah dipugar dari semula berupa surau kayu, sekarang dalam bentuk surau batu. Meski telah dipugar, namun simbol-simbol persenyawaan adat dan agama Islam telah dipelihara dan dipertahankan, seperti gonjong dan labu-labu.


Foto 4: Kitab Nahwu, salah satu peninggalan Syekh Lubuak Ipuah masa silam yang telah berusia lebih dua abad (Dokumentasi penulis, 2012)

Syaraful Anam: Tradisi Maulid Pesisir di Surau Lubuak Ipuah

Dalam tradisi kaum ulama Minangkabau, di bulan Maulid di adakan perayaan Maulid diberbagai surau sebagai bentuk kecintaan kepada Nabi sekaligus untuk menyegarkan ingatan akan perjuangan Rasulullah. Tradisi ini merupakan tradisi yang masyhur di kalangan Ahlussunnah wal Jama’ah. Pada perayaan Maulid tersebut dibacakan kisah perjalanan hidup Rasulullah. Di surau-surau Minangkabau, paling tidak ada dua kitab yang menjadi acuan riwayat hidup Rasulullah yang dibaca dalam perayaan Maulid. Yaitu (1) kitab Barzanji, karangan Syekh Ja’far al-Barzanji, ulama besar Syafi’iyyah di Madinah Munawwarah, dan (2) Maulid Syaraful Anam.

Barzanji biasa dibaca dikalangan ulama yang bertarekat Naqsyabandiyah. Sedangkan Syaraful Anam biasanya dikalangan Syattariyah. Oleh karenanya, Surau Lubuak Ipuah membaca Syaraful Anam dalam tradisi Maulidnya.

Menarik untuk diungkap, irama dendang Syaraful Anam, sebagaimana yang saya dengar ketika ke Lubuak Ipuah, ternyata diciptakan oleh seorang ulama Syattariyah lainnya, yaitu Syekh Muhammad Hatta Kapalo Koto. Menurut riwayatnya, Syekh Muhammad Hatta satu kali duduk dipinggir pantai dan mendengar alunan ombak yang menggebu. Dari suara alunan ombak itu-lah beliau menciptakan nada irama Syaraful Anam tersebut. Sehingga pendengar Maulid Syaraful Anam akan merasa perasaan yang dalam, menimbulkan rasa khitmat mengenang Rasulullah.

Ketika Maulid didendangkan


Maulid Nabi telah berlangsung lama. Maulid merupakan suatu inovasi beragama yang dimulai oleh orang-orang sholeh dimasa silam untuk membangkitkan semangat dalam menjalankan syari’at Rasulullah. Jumhur ulama menganjur Maulid Nabi, karena Maulid mempunyai hikmah yang banyak, selain juga disokong nash-nash Naql secara ‘amm.
Satu artikel yang cukup menarik mengenai perjalanan tradisi Maulid ditulis oleh Nico Kaptein, salah seorang akademisi Leiden University yang konsen pada sejarah Islam Indonesia. Ia menulis The Berdiri Mawlid Issue Among Indonesian Muslims in the Period from Circa 1875 to 1930 (Bijdragen tot de taal-, Land, -en Volkenkunde, 1993, 124-153). Dalam artikel ini ia menguraikan bagaimana Maulid menjadi isu penting keagamaan di dunia Muslim, termasuk Indonesia. Serangan modernis (Muhammadiyah dan Salafi-Wahabi) menjadi pengikis utama dari tradisi ulama yang telah berlangsung lama ini.

Barangkali, tradisi ini di sebagian daerah tinggal kenangan. Namun, bagaimanapun orang-orang yang mencela Maulid di zaman ini, namun kecintaan akan Rasulullah akan tetap menggebu di hati urang-urang Surau Minangkabau. Itulah makna penting Maulid didendangkan. []

Selasa, 21 Januari 2014

Mengenang Drukkerij al-Islamiyah Fort de Kock: Penerbit Turats Ulama Minangkabau di Masa Pemerintahan Belanda

Oleh: al-Faqir Apria Putra

Data dalam artikel ini bersumber dari beberapa literatur, antara lain buku “Riwayat Hidup Ulama Syafi’iyyah” (Syekh Yunus Yahya Magek, 1976), “Ayah Kita” (Abuya Baharuddin ar-Rasuli, 1978) dan “Sejarah dan Keagungan Mazhab Syafi’i (Abuya Sirajuddin Abbas, 1973).

Minangkabau, di masa penjajahan Belanda dikenal sebagai salah satu pusat percetakaan Arab di Indonesia. Hal ini dibarengi dengan tingginya minat baca seiring lahirnya karya-karya tulis ulama di kawasan ini. Dengan demikian tak heran bila Minangkabau waktu itu menjadi pusat intelektual Islam yang ditandai dengan berdirinya ratusan Madrasah hasil formulasi dari surau-surau yang ada di abad sebelumnya.

Terdapat puluhan penerbit dan percetakaan Arab saat itu, antara lain yang terkenal Tsamaratul Ikhwan (Bukittinggi), KAHAMY (Bukittinggi), Limbago (Payakumbuh), Percetakan Alam Minangkabau (Payakumbuh), Tandikat (Padang Panjang), Sa’adiyah (Padang Panjang), al-Moenir (Padang), de Voltherding (Padang), Percetakan Orang Alam Minangkabau/ Datuk Sutan Maharaja (Padang), Pulobomer (Padang), dan Mathba’ah al-Islamiyah (Bukittinggi). Dari sederetan nama penerbit dan percetakan yang ada dan tertulis dalam catatan kolonial awal abad 20 tersebut, Mathba’ah Islamiyah merupakan penerbit dan percetakan yang menarik untuk ditinjau lebih jauh. Ketertarikan kita terhadap penerbit ini cukup beralasan, karena (1) Mathba’ah Islamiyah didirikan oleh seorang tokoh yang mempunyai reputasi di kalangan ulama Minangkabau (2) Mathba’ah Islamiyah konsen dengan penerbitan Ulama Minangkabau, serta kitab-kitab untuk madrasah dan surau, (3) Percetakan ini tercatat sebagai percetak al-Qur’an pertama di Sumatera, (4) Penerbit ini berjasa menerbitkan karya-karya langka secara cuma-cuma dan dibagi-bagikan demi kemaslahan Kaum Muslimin ketika itu, (4) penerbit ini mempunyai pengaruh luas dalam mengadangkan faham Ahlussunnah wal Jama’ah dan Mazhab Syafi’i di Minangkabau.

Keberhasilan Mathba’ah Islamiyah di sokong oleh pendiri sekaligus pimpinannya, yaitu al-Marhum HMS. Sulaiman, seorang wara’ dari golongan ‘urang siak’ (santri) yang dikenal dermawan. Ketokohan HMS. Sulaiman sangat menonjol dikalangan ulama, terutama ulama dari Persatuan Tarbiyah Islamiyah, wadah persatuan ‘Ulama Tuo’ Minangkabau.


HMS. Sulaiman Bukittinggi

Dalam buah bibir kalangan ‘urang siak’, terdapat dua Sulaiman yang populer sebagai tokoh keagamaan. Sulaiman pertama, yaitu Syekh Sulaiman ar-Rasuli (1871-1970), ulama besar Minangkabau yang terkenal sebagai salah seorang pendiri Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) sekaligus pendiri dan pemimpin Madrasah Tarbiyah Islamiyah Candung. Sulaiman kedua, HMS. Sulaiman, seorang ‘alim pendiri Mathba’ah Islamiyah Bukittinggi. Kedua Sulaiman ini tidak hanya sedekar dikait-kaitkan karena kesamaan nama, tapi memang kedua tokoh yang terpandang ini mempunyai hubungan yang erat.

HMS. Sulaiman lahir pada paruh terakhir abad 19. Ia besar dan tumbuh dalam keluarga yang agamis dan cinta ilmu. Ketika usianya menanjak remaja, ia diserahkan ayahnya untuk belajar agama ke beberapa surau, sampai ia dikenal sebagai seorang malin (alim kecil). Ia kemudian bukan hanya tumbuh sebagai seorang malin, namun juga mempunyai ciri kecintaan dan kedekatan dengan ulama-ulama Minang di zaman itu. Selain itu ia juga dikenal dermawan. Ketika penerbit (waktu itu dikenal dengan Drukkerij atau Firma) Islamiyah Bukittinggi dibuka, ia secara berkala menerbitkan beberapa karya ulama dengan dananya sendiri. Hal ini dapat kita buktikan dari beberapa kitab cetakan Islamiyah, yang pada sampulnya tertulis: “atas nafkah HMS. Sulaiman Fort de Kock.” Di samping kitab-kitab, al-Islamiyah juga menerbitkan al-Qur’an, di mana sebelumnya al-Qur’an disalin dengan tangan atau dicetak batu. Konon al-Qur’an hasil cetakan al-Islamiyah ialah mushaf cetakan pertama di Indonesia.

Selain itu HMS Sulaiman juga sangat senang kepada ulama, sehingga ia secara cuma-cuma mewakafkan banya kitab kepada ulama dimaksud. Salah seorang ulama yang banyak mendapat wakaf kitab dari HMS. Sulaiman ialah Syekh Muda Wali al-Khalidi, ulama besar Aceh yang saat itu berada di Minangkabau.

Pada tahun 1928, diadakan pertemuan ulama-ulama Minangkabau di Bukittinggi dan membuahkan keputusan mendirikan Madrasah Tarbiyah Islamiyah dan Persatuan Tarbiyah Islamiyah sebagai benteng ulama-ulama Ahlussunnah wal Jama’ah di Minangkabau. Ketika itu hadir ulama-ulama dari berbagi penjuru Minangkabau, antara lain Syekh Sulaiman ar-Rasuli, Syekh Muhammad Arifin Batuhampar, Syekh Abdul Wahid Tabek Gadang dan lain-lainnya, juga hadir HMS. Sulaiman. Dengan demikian, HMS. Sulaiman juga termasuk salah satu dari sederetan tokoh yang membidani berdirinya Persatuan Tarbiyah Islamiyah.

Di antara ulama-ulama yang mempunyai kedekatannya dengannya ialah tiga serangkai ulama Perti, yaitu Syekh Sulaiman ar-Rasuli, Syekh Muhammad Jamil Jaho dan Syekh Abbas Qadhi Ladang Laweh. Ketiga ulama inilah yang menyarankan kepada HMS. Sulaiman untuk mendirikan toko kitab sekaligus drukkerij (penerbit dan percetakan), yang kemudian ia namai Drukkerij/ Mathba’ah al-Islamiyah Bukittinggi.

Penerbit dan Percetakan Arab terkemuka di Sumatera Tengah


Drukkerij al-Islamiyah sonter menjadi salah satu dari sederetan toko dan penerbit kitab di Sumatera Tengah ketika itu. Untuk melengkapi keperluan kitab-kitab agama yang dipelajari di Madrasah (pesantren) Tarbiyah Islamiyah yang jumlahnya ketika itu lebih dari 300 buah, HMS. Sulaiman mendatangkan kitab-kitab terbitan Mesir, kemudian menjadikan tokonya untuk mendistribusikan kepada sekolah-sekolah agama yang membutuhkan. Selain itu, usahanya yang paling besar ialah mencetak kitab-kitab karya ulama Minangkabau sendiri. Untuk itu HMS. Sulaiman melengkapi Drukkerij al-Islamiyah dengan sebuah mesin cetak aksara Arab. Dengan itulah kitab-kitab ulama dicetak dan disebarkan. Kitab hasil cetakan al-Islamiyah terbilang rapi dan hampir menyamai kitab cetakan Mesir ketika itu.

Al-Islamiyah menjadi satu dari sekian penerbit yang terkenal dan yang mampu melewati tiga zaman hingga periode kemerdekaan RI. Dari zaman Belanda, Jepang dan zaman mendeka, al-Islamiyah telah berjasa dalam menyebarkan kitab-kitab ulama serta turats ulama Minangkabau seiring dengan tingginya minat baca dikalangan urang siak (santri) saat ini.

HMS. Sulaiman wafat di Padang pada 1972 setelah lama menderita sakit. Setelah wafatnya, kabar mengenai Drukkerij al-Islamiyah yang terkenal itu tidak kita dengar lagi. Mungkin percetakan ini diteruskan oleh anak-anaknya dan kemudian bergelut dengan percetakan modern, hingga hilang ditelan zaman. Atau masih ada namun tak setenar dulu, seperti halnya Maktabah Isa al-Babi al-Halabi di Kairo itu.

Salah satu kitab Melayu yang tampak baru karena dicetak ulang ialah “Nazham Nabi Bercukur” karangan Labai Sidi Rajo Sungai Pua. Saya mendapatinya pada deretan kitab-kitab berdebu di sebuah toko Aua Kuniang, Bukittinggi. Pada sampul kitab itu tertulis: dicetak oleh Mathba’ah al-Islamiyah Bukittinggi. Sempat saya tanyakan kepada pegawai toko dimanakan percetakan Islamiyah ini berada, ia menggeleng mengisyaratkan ketidaktahuannya. Saya rasa tinggal kenangan sudah.

Beberapa contoh: al-Qur'an dan Turats Ulama cetakan al-Islamiyah Fort de Kock


Foto 1: al-Qur’an al-Karim dan Terjemahnya dalam Bahasa Indonesia (Arab-melayu). Terbitan Mathba’ah al-Islamiyah – HMS. Sulaiman, Bukittinggi.


Foto 2: “Kitab al-Jawahir al-Kalamiyah fi Bayan aqa’id al-Imaniyyah” karangan Syekh Sulaiman ar-Rasuli Candung (Drukkerij al-Islamiyah – HMS. Sulaiman, 1927)


Foto 3: “Kitab Tarbiyah al-Islamiyah fi Durus al-Fiqhiyyah” karangan Syekh Abdul Latif Syakur Ampek Angkek Bukittinggi (Drukkerij al-Islamiyah – HMS. Sulaiman)


Foto 4: “Kitab at-Tarbiyah wat Ta’lim Qismut Tauhid” karangan Syekh Abdul Latif Syakur Ampek Angkek Bukittinggi (Drukkerij al-Islamiyah – HMS. Sulaiman, 1927)


Foto 5: “Dawa’ul Qulub fi Qishah Yusuf wa Ya’qub” karangan Syekh Sulaiman ar-Rasuli Candung (Drukkerij al-Islamiyah – HMS. Sulaiman, 1927)


Semua Hanya Kenangan

Sayang, kita tidak mempunyai rekaman yang lengkap tentang penerbit ini. beberapa informasi singkat pernah diberikan oleh orientalis Belanda. Namun itu hanya sepintas, tidak sampai memberikan gambaran utuh tentang berbagai hal, seperti buku-buku yang pernah diterbitkan, riwayat akhir penerbit hingga lokasi dan lainnya.

Seperti halnya penerbit-penerbit Arab lainnya di Minangkabau, Mathba’ah Islamiyah hanya kita kenal dari catatan-catatan sepenggal dan hanya menjadi kenangan masa lalu; salah satu tonggak sejarah; di mana kaum agamawan haus ilmu dan mempunyai minat baca yang tinggi. Kontras dengan zaman sekarang tentunya.

Secercah Harapan

Dalam sebuah percakapan dengan seorang alumni Madrasah Tarbiyah Islamiyah, melompat keinginan untuk menerbitkan kembali turats ulama Minangkabau. Hal ini muncul karena telah teriventarisnya beberapa karya ulama Minangkabau yang dulunya menjadi master peace di zamannya. Keinginan itu disambut baik oleh teman-teman. Langkah awal ialah mendirikan penerbit sesuai prosedur yang berlaku, membentuk badah tahqiq dan pengelola penerbit tersebut. Kesadaran ini muncul karena motivasi keadaan kaum santri di Jawa yang begitu giat menjaga, merawat dan menerbitkan turats ulama.

Sempat terucap, “Sudah saatnya kita berinisiatif mengkhitmati ulama kita. Tak perlu lagi kita berharap banyak dengan persatuan-persatuan kaum agama di Sumatera Barat sendiri untuk menjaga kekayaan intelektual ulama silam. Bila tidak kita, siapa lagi!”.

Semoga terwujud dengan segera.


Dalam khalwat yang Hening,
Jakarta, medio Januari 2014


Apria Putra

Jumat, 20 Desember 2013

Yang Berjasa, Yang Terlupakan (Bagian 3): Syekh Jalaluddin al-Kisa’i Sungai Landai, Agam.

Oleh: al-Faqir Apria Putra

Ulama-ulama yang kita tulis ini, meskipun tercatat dalam lembaran sejarah, namun sayang hanya segelintir kecil diantara kita yang mengenal, dan masih mengenang jasa beliau-beliau tersebut. Padahal, bila ditinjau dimasa-masa silam, ulama-ulama ini menjadi tumpuan ilmu pengetahuan Islam, selalu menjadi teladan. Meski mereka telah lama tiada, mereka tetap dipanuti, makamnya tetap diziarahi sebagai bentuk ta’zhim kepada ulama-ulama yang berjasa terhadap Islam di Minangkabau. Tulisan bersambung ini dilansir sebagai pengingat bagi kita, generasi penerus, untuk mengenal serta meneladani, hingga mempererat tali rohani dengan ulama-ulama Minangkabau di masa yang lampau itu.

Syekh Jalaluddin Sungai Landai ialah salah seorang ulama besar Luak Agam. Ia hidup pada paruh kedua abad 19 hingga awal abad 20. Mengenai riwayat intelektualnya belum diketahui dengan pasti, namun ia mempunyai peran signifikan dalam jaringan ulama Minangkabau pada periode tersebut. Laqab (gelar) al-Kisa’i dibelakang namanya memberikan indikasi bahwa beliau ialah salah seorang yang ‘alim dalam ilmu al-Qur’an dan juga seorang hafizh. Al-Kisa’i adalah laqab seorang ulama ahli Qira’at yang masyhur. Gelar yang sama juga dimiliki oleh datuk Buya Hamka sendiri, yaitu Syekh Amarullah Tuanku Kisa’i, yang hafal al-Qur’an.

Di antara peran Syekh Sungai Landai ini ialah menjadi “adviseur” dari perkumpulan “Ittihad Ulama Sumatera”, sebuah wadah persatuan ulama-ulama Minangkabau di awal abad 20. Di dalam Majalah al-Mizan, Th. 1916 No. 25 (terbitan Syarikat al-Ihsan, Maninjau) disebutkan susunan kepengurusan Ittihad Ulama Sumatera 1916, bahwa Syekh Sungai Landai bersama dengan ulama-ulama lain seumpama Syekh Bayang Padang, Syekh Khatib ‘Ali Padang, Syekh Abdul Manaf Lantai Batu, Syekh Abdullah Halaban, Syekh Muhammad Jamil Pariaman, Syekh Sutan Ibrahim Parabek dan Syekh Sutan Banten Bukittinggi bersama-sama memajukan perkumpulan Ittihad Ulama Sumatera tersebut. Dalam daftar pengurus itu disebutkan nama Syekh Sutan Kisa’i Sungai Landai.

Salah seorang murid Syekh Jalaluddin yang dapat diketahui ialah Syekh Ibrahim Musa Parabek (1882-1963), ulama besar pendiri Perguruan Thawalib Parabek.

Kitab Karangan Syekh Sungai Landai


Satu diantara karya Syekh Sungai Landai ialah sebuah risalah mengenai Rukun Islam dan Rukun Iman, berjudul “Risalah Rukun Syarat Sembahayang dan Rukun Iman serta dengan Akidah Iman.” Karya ini, sebagai yang tertera pada judul, berisi tentang hal ihwal Rukun Islam yang mencakup kewajiban syari’at, yaitu perkara bersuci, shalat, zakat dan haji. Pembahasan syari’at ini kemudian dilanjutkan dengan pembahasan tentang Akidah Iman, yaitu mengenai sifat-sifat yang wajib bagi Allah yaitu sifat 20. pembahasan dalam term akidah ini cukup runtun yang agak terperinci.

Satu kutipan dari karya ini, yang menjabarkan tentang mustahilnya istilah Duur dan Tasasul dalam ilmu Tauhid sebagai berikut:
Bermula makna berlingkar-lingkar [duur. Pen] yaitu berganti-ganti seperti bertiga atau berempat atau lebih, dan berganti-ganti semuanya mengadakan dirinya dengan berlingkar-lingkar maka yaitu mustahil karena jadi daripada demikian itu orang yang kemudian menjadikan akan orang yang dahulu daripadanya.


Foto: Risalah Rukun Syarat Sembahyang karya Syekh Jalaluddin Sungai Landai

Cetakan ketiga karya ini dicetak atas nafkah HMS. Sulaiman. Dicetak pada Mathba’ah Islamiyah Fort de Kock, tanpa menyertakan tahun.

Mesjid dan Makam Syekh Sungai Landai

Mesjid Syekh Jalaluddin Sungai Landai terletak diketinggian, di kaki Gunung Singgalang yang cukup asri. Mesjid itu telah dipugar dengan gaya modern. Sedangkan makam Syekh Sungai Landai tak jauh dari Mesjid ini. Pada makam itu terdapat inskripsi yang sudah memudar oleh masa.


Foto: Mesjid Syekh Jalaluddin Sungai Landai, Agam.


Foto: Makam Syekh Jalaluddin Sungai Landai

Al-Fatihah...

Al-Faqir al-Haqir Apria Putra.

Minggu, 10 November 2013

Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi dan Matematika

Oleh: al-faqir al-Haqir Apria Putra

Senin, 4 November 2013, Pemda Sumatera Barat mengadakan sebuah seminar bertajuk “Seabad Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi”. Seminar tersebut berlangsung di Pangeran Beach Hotel, Padang, dihadiri oleh berbagai pakar Islam Minangkabau, cendikiawan, akademisi dan tak ketinggalan alim ulama. Seketika mendapat kabar tentang seminar ini, saya cukup bergembira. Ternyata ulama besar Minangkabau yang telah didendangkan berpuluh-puluh tahun oleh para cendikiawan masa silam telah mulai dilirik oleh pemerintah daerah. Sebuah kesadaran untuk menghargai orang besar negeri ini, bukan sekedar ulama oposan, lebih dari itu ialah ulama internasional yang menghabiskan umurnya di Mekah sambil mendidik kader-kader ulama untuk dunia Melayu. Tak tanggung-tanggung, seminar itu menghadirkan 4 cendikiawan Minang sendiri, yaitu Prof. Azyumardi Azra, Prof. Mafri Amir, Dr. Putra Eka Wirman dan terakhir Yasrul Huda, Ph.D. Besar hati kita dengan terlaksanakan seminar tersebut. Terobat sudah penantian perhatian pemerintah buat ulama-ulama besar Minangkabau. Karena saya berhalangan untuk hadir pada seminar itu, saya ambil pena, saya tulis perihal Ulama besar Minangkabau ini. Hal ini sebagai pelengkap terhadap penelitian yang ada, tersebab saya telah lama melirik-lirik ulama besar ini, mengumpulkan peninggalan-peninggalan tangannya, sudah sepatutnya pula memberikan sedikit dari secuil pengetahuan tentang beliau ini. Semoga bermanfaat kiranya.

Biografi Ringkas

Berdasarkan penyelidikan sepintas saya, tokoh pertama yang menulis panjang lebar mengenai ketokohan dan dedikasi Syekh Ahmad Khatib ini ialah al-marhum Buya Hamka. Beliau menulis perihal Syekh Ahmad Khatib pertama sekali dalam bukunya “Sejarah Islam di Minangkabau” (1938), yang kemudian diuraikan secara lebih detail dalam buku “Ayahku” (1950), dan lengkapi hingga terbitan terakhir tahun 1981. Selain itu Buya Hamka menulis pula paper untuk Seminar Islam di Padang 1970, dengan topik “Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi dan Syekh Thaher Jalaluddin”, yang kemudian dimuat dalam “Islam dan Adat Minangkabau” (1982). Selain itu, Abuya Sirajuddin Abbas, ulama Minang yang semasa dengan Buya Hamka, juga menulis dalam “Sejarah dan Keagungan Mazhab Syafi’i” (1971) dan “Thabaqat Syafi’iyyah” (1978). Tulisan Hamka, tepatnya, kemudian banyak dikutip dan diperluas oleh peneliti-peneliti lainnya seperti Deliar Noer, Akhira Nazwar, Muhammad Sanusi Latief, Burhanuddin Daya, bertali-tali hingga saat ini.

Pada tulisan ini, kita akan mengambil informasi biografinya bukan dari sumber-sumber itu, melainkan dari “Siyar wa Tarajum Ba’d Ulama’ina fi Qarn Rabi’ Asyr Hijri”, yang ditulis oleh Syekh Umar Abdul Jabbar, seorang tokoh pendidik dan sejarawan di Arab Saudi. Sebelumnya perlu kita ketahui bahwa Syekh Ahmad Khatib pernah meninggalkan autobiografi yang ditulisnya sendiri, sayang kabarnya autobigrafi yang masih berbentuk manuskrip itu masih bersemayam di Perpustakaan Leiden, negeri Belanda.

Syekh Umar Abdul Jabbar memulai riwayatnya. Dimasa silam, datanglah salah seorang alim dari Mekah, beliau bernama Abdullah. Beliau menetap di Ampek Angkek, Agam. Karena kealimannya, oleh masyarakat beliau diangkat sebagai Khatib dan dinikahkan dengan gadis setempat. Beliau kemudian dikenal dengan Syekh Abdullah Khatib. Beliau mempunyai seorang anak laki-laki yang juga ‘alim, yaitu Abdullatif. Abdullatif inilah ayah dari Ahmad Khatib muda. Niscaya informasi Umar Abdul Jabbar ini berbeda dengan apa yang disebutkan Hamka dalam “Ayahku”. Hamka menyebutkan bahwa Datuk Syekh Ahmad Khatib merupakan turunan dari pejuang-pejuang Paderi, artinya keturunan orang Minang asli (lihat “Ayahku”, cetakan Umminda, 1982, halaman 271).

Syekh Ahmad Khatib dilahirkan pada hari senin, 6 Dzul Hijjah 1276. Sebelum belajar agama lebih intens, Ahmad Khatib berhadap dengan ayahnya untuk belajar dasar-dasar agama, dan membaca al-Qur’an.

Diwaktu masih belia, umur yang masih kecil, Ahmad Khatib telah dibawa ayahnya ke Mekah, selain menunaikan rukun Islam kelima, tujuan lainnya untuk menuntut ilmu agama di kampung halaman kakeknya. Mekah ketika itu sangat harum sekali sebagai pusat ilmu pengetahuan, disamping sebagai pusat ibadah kaum muslimin.

Di Mekah Syekh Ahmad Khatib menimba ilmu pengetahuan secara mendalam, diantaranya ialah menghafal al-Qur’an. Selain itu Syekh Ahmad Khatib juga belajar bahasa Inggris. Menurut informasi Umar Abdul Jabbar, Syekh Ahmad Khatib selama belajar di Mekah menimba ilmu kepada tiga orang ulama besar ketika itu, yaitu Sayyid Umar Syatha, Sayyid Usman Syatha dan Sayyid Bakri Syatha (Pengarang I’anah al-Thalibin). Beliau hanya menimba ilmu kepada tiga ulama ini. Berkat kesungguhan, keuletan dan kerajian, Syekh Ahmad Khatib dapat menangkap pelajaran dengan sangat baik, dan kemudian mampu memapankan karir ulamanya di Haramain tersebut.

Kecerdasan dan kealimannnya membuat seorang tokoh masyarakat Mekah, Syekh Shaleh Kurdi tertarik. Konon Syekh Shaleh Kurdi seorang pemilik toko kitab di Mekah. Syekh Ahmad Khatib ketika itu selalu Singgah untuk membeli dan membaca kitab. Syekh Ahmad Khatib kemudian diambil menjadi menantu oleh Syekh Shaleh Kurdi.

Setelah lama mengajar dan dikenal luas sebagai seorang yang ‘alim, Syekh Ahmad Khatib kemudian mencapai posisi prestius yaitu menjadi Imam dan Khatib dalam Mazhab Syafi’i di Mesjidil Haram. Hal mana posisi ini belum pernah dipegang oleh orang non-Arab.
Menurut Umar Abdul Jabbar (Siyar wa Tarajum, halaman 41), Syekh Ahmad Khatib meninggalkan 46 karangan dalam berbagai vak keilmuan. Namun sayang, karangan-karangannya tersebut sangat sulit kita dapati saat ini, tidak seperti rekannya sesama ulama, yaitu Syekh Nawawi Banten yang digelari “Sayyid Ulama Hijaz” (Penghulu Ulama Hejaz), yang masih banyak dicetak, dalam dan luar negeri, dan tetap dijadikan buku pokok pelajaran-pelajaran pesantren di dunia Melayu. Hanya ada 1 karangan Syekh Ahmad Khatib yang tetap dicetak ulang, dan menjadi pelajaran satu dua pesantren, yaitu “al-Nafahat ‘ala Syarah Waraqat”, kitab ushul fiqih Mazhab Syafi’i, syarah dari kitab Waraqat karya Imam al-Haramain.

Syekh Ahmad Khatib wafat pada 6 Jumadil Awal 1334 (1916). Beliau meninggalkan murid-murid yang cakap dan kemudian dikenal sebagai ulama-ulama besar dunia Melayu, diantaranya Syekh Sulaiman ar-Rasuli Candung (w. 1971, usia 99 tahun), Syekh Muhammad Jamil Jaho, Syekh Thaher Jalaluddin, Syekh Muhammad Jamil Jambek, Syekh Abdul Karim Amrullah, Syekh Muhammad Nur “Qadhi Langkat”, Syekh Hasyim Asy’ari (Pendiri NU), Kyai Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah), dan lain-lain banyak lagi.

Pribadi yang disalah-tafsirkan


Syekh Ahmad Khatib menjadi kebanggaan sendiri bagi Indonesia, dengan segala kebesaran dan prestasi keulamaannya, sehingga banyak dikalangan akademisi, terutama dari Minangkabau yang mencoba menulis dan mendalami pribadinya. Namun sayang, dari beberapa tulisan, hasil penyelidikan, kita temukan beberapa kesimpulan tentang pribadi dan pemikiran Syekh Ahmad Khatib yang terlalu tergesa-gesa dan acap keliru. Di antara anggapan-anggapan tersebut dinyatakan bahwa Syekh Ahmad Khatib ialah anti taqlid, hal ini sangat keliru. Syekh Ahmad Khatib ialah pemegang teguh Mazhab Syafi’i dan Ahlussunnah wal Jama’ah (Asy’ari dan Maturidiyyah). Beliaulah tiang tengah Mazhab Syafi’i di Indonesia awal abad 20 itu. Begitu pula murid-muridnya, pemegang teguh Mazhab Syafi’i. Dan itu tergambar dari karya-karya tulisnya yang puluhan banyak itu. Disini tampak para penulis biografi beliau tidak membaca karya-karya itu, kasihan. Bukankah beliau ialah Imam dan Khatib dalam Mazhab Syafi’i? Kita tentu maklum. Hal ini disebabkan oleh keterangan Hamka dalam Ayahku (dalam “Ayahku”, Hamka acap keliru menulis nama kitab karya Syekh Ahmad Khatib), dan karena akademisi Minang yang masih terbawa euforia “Kaum Muda” itu, sebab tentang Syekh Ahmad Khatib belum ada satupun “orang surau” yang menulisnya.

Kesimpulan kedua yang gegabah, ialah menyatakan Syekh Ahmad Khatib penyokong pembaharuan ala “Kaum Muda” atau ala “Wahabi” (sekarang bernama Salafi) di Indonesia. Ini keliru. Sebab Syekh Ahmad Khatib ialah tokoh yang tidak setuju terhadap paham “Muda” dan “Wahabi” itu. Beliau menulis sebuah kitab yang berjudul “al-Khuttah al-Mardhiyyah” sebagai kritik kerasnya terhadap Ibnu Taymiyah dan Ibnu Qayyim, dan sebagai pertahanan ulama-ulama Mazhab Syafi’i dan Ahlussunnah wal Jama’ah. Sayang, mereka tidak membaca.

Kritik Syekh Ahmad Khatib terhadap Tarekat Naqsyabandiyah yang dianggap sebagai bentuk perlawanan terhadap tradisi, bentuk pembaharuan orientasi Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. Lagi-lagi ini keliru. Syekh Ahmad Khatib memang mengkritisi Tarekat Naqsyabandiyah, tapi hanya tertentu pada “Rabithah” (Bukankan Syekh Dr. Al-Buthi sebagai pengamal Tarekat Naqsyabandiyah juga tidak suka dengan Rabithah?). Bila tuan-tuan membaca Izhar dan al-Ayah, dua karangannya, tentu tuan akan mengerti. Kritikan Syekh Ahmad Khatib dibantah oleh ulama-ulama dari berbagai negeri ketika itu, misalnya dari Minangkabau Syekh Muhammad Sa’ad Mungka Payakumbuh, menulis “Irgham Unuf Muta’annitin” dan “Tanbihul Awam” (karangan terakhir tidak dijawab Syekh Ahmad Khatib lagi), Syekh Husein Madinah menulis “al-Suyuf al-Maslulah”, dan Habib Husen al-Attas. Sayang, banyak akademisi yang hanya bercermin dari “sumber kedua”, tidak membaca langsung kitab-kitab tersebut. (Hampir semua kitab-kitab tua itu ada dalam simpanan Kutubkhannah penulis artikel ini, al-Faqir Apria Putra)

Kesimpulan kita, Syekh Ahmad Khatib ialah ulama besar Syafi’yyah di zamannnya, peneguh Ahlussunnah wal Jama’ah. Beliau ialah sosok yang berjiwa tasawuf sebagai mana pendiriannya dalam kitabnya “al-Fath al-Mubin”.
Semoga tuan-tuan membuka mata.

Syekh Ahmad Khatib dan ilmu Matematika

Dalam tulisan ini kita akan melirik salah satu karangan Syekh Ahmad Khatib yang menurut hemat saya cukup mengagumkan. Karangan beliau itu berjudul “Riyadh al-Hussab fi ‘ilm al-Hisab” (cetakan Mathba’ah al-Maimuniyyah, Mesir, 1310 H). Kitab ini merupakan pembahasan panjang lebar mengenai ilmu Matematika. Kitab ini terdiri dari 176 halaman. Pada permulaan kitab ini, Syekh Ahmad Khatib memaparkan alasan penulisan kitab ini. beliau mengemukakan alasan agama, bahwa matematika diperlukan untuk mengukur kiblat, hisab falaki dan pembagian harta pusaka. Oleh sebab itu setiap muslim mesti mengetahuinya, lanjutnya. Selanjutnya, Syekh Ahmad Khatib menyebutkan bahwa guru pertama ilmu Hisab ini ialah Nabi Idris Alaihi Salam.
Pembahasan dalam kitab ini cukup mendalam, apakah trigonometri, logaritma dan lainnya. Kitab ini juga dipenuhi dengan “raqam-raqam” untuk pemudah penuntut ilmu.


Foto: Halaman depan Riyadh al-Hussab


Foto: Halaman pertaman kitab Riyadh al-Hussab


Foto: Halaman Riyadh al-Hussab yang dipenuhi raqam Matematika


Foto: Halaman Riyadh al-Hussab yang dipenuhi raqam Matematika

Ini sebuah karya, yang menurut saya dapat dikategorikan sebagai sains dari seorang ulama tradisional, yang hidup dan mengembangkan diri di lingkungan Madrasah.

Murid yang mahir “hitung-hitungan”

Matematika dalam kajian agama merupakan sesuatu yang sangat penting. Beberapa vak keilmuan yang urgen hanya bisa dikuasai dengan kemahiran hitungan-hitungan, seperti Ilmu Faraidh dan Ilmu Falak. Oleh karenanya, para ulama dalam konteks khusus, dapat dikatakan sebagai saintis Matematika. Seperti itu pula yang diusahakan oleh Syekh Ahmad Khatib dengan penulisan kitab-kitab bidang Matematika.
Salah seorang murid Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi yang mewarisi ilmu Hitung-hitung ini ialah Syekh Abdul Karim Amrullah, atau Haji Rasul. Dalam salah satu tulisan tangannya, ia pernah mengukur perjalanan seseorang dari suatu tempat ke tempat lainnya, dalam berapa menit, berapa panjang jaraknya.


Foto: Tulisan tangan hasil hitung-hitungan Syekh Abdul Karim Amrullah Maninjau

Ciputat, Jakarta. Awal November 2013.
Al-Faqir Apria Putra.