Senin, 07 April 2014

Syekh Jamaluddin Pasai di Minangkabau

Oleh: al-Faqir Apria Putra

Dalam menelusuri sejarah persebaran ilmu tasawuf di Minangkabau, kita akan dihadapkan dengan nama-nama tokoh sufi pengembara yang datang, adakalanya bermukim atau sekedar tinggal beberapa saat di Minangkabau. Kita catat nama-nama seperti Syekh Burhanuddin Kuntu di Minangkabau Timur, yang riwayatnya tidak begitu dapat dipastikan (riwayat mengenainya hanya diberikan oleh Mahmud Yunus, 1982). Adalagi tokoh yang dikenal dengan Syekh Keramat Taram. Tokoh ini dikenal sebagai sosok misterius, yang konon datang dari Negeri Madinah al-Munawwarah bersama Syekh Abdurra’uf Singkel. Ia, setelah tinggal beberapa saat di Aceh, kemudian mengembara sepanjang pantai timur sumatera, hingga sampai di pedalaman Minangkabau. Di Pedalaman, tepatnya di Taram, Lima Puluh Kota, ia tinggal dan memapankan karir ulama dengan mengajar ilmu agama. Layaknya sufi-sufi lain, riwayat hidupnya penuh dengan peristiwa yang tergolong “khariq lil ‘adah” (di luar manusia) yang di dalam literatur Sunni disebut “karomah”.

Selain dua tokoh tersebut, terdapat tokoh lain yang ternyata mempunyai andil dalam persebaran Tarekat Sufi Naqsyabandiyah. Tokoh ini ialah Syekh Jamaluddin Pasai. Azyumardi Azra (2007) dalam karya fenomenalnya “Jaringan Ulama” menyebutkan tokoh ini sebagai penyebar pertama Tarekat Naqsyabandiyah di abad 18. Selain itu, informasi ini juga dikuatkan oleh Cristine Dobbin dalam “Islamic Revivalism”. Namun ketokohan Jamaluddin Pasai yang dimaksud oleh dua peneliti kenamaan ini tidak lengkap. Penulisnya tidak membeberkan siapa sebenar Jamaluddin, bagaimana pengaruh, dan jaringan intelektualnya. Oleh karenanya, ketokohan Jamaluddin sebagai sufi pembawa Tarekat Naqsyabandiyah pertama dibantah oleh peneliti-peneliti setelahnya. Penelitian setelahnya menekankan peran Syekh Isma’il al-Khalidi al-Minangkabawi, tokoh penting jaringan ulama Nusantara abad 19 yang bermukim di Makkah asal Simabur Batusangkar. Tokoh terakhir disebut sebagai pembawa pertama Tarekat Naqsyabandiyah; mengaminkan Schrieke (1919).

Mengenai Jamaluddin yang kita sebut, Van Ronkel mempunyai informasi lain yang bersumber dari sebuah naskah fiqih berorientasi Naqsyabandiyah yang tersimpan di perpustakaan Universitas Leiden. Naskah itu berjudul “Lubab al-Kifayah”. Pengarang naskah tersebut tak lain ialah Syekh Jamaluddin Pasai. Naskah ini, menurut Chambert-Loir, diperkirakan ditulis pada perempat pertama abad 18 (buku “Naik Haji di Masa Silam I: 1482-1890”, 2013: 210). Benar kiranya, pengarang, dalam hal ini jamaluddin, merujuk karya ulama Naqsyabandiyah terkemuka di Makkah di abad sebelumnya, yaitu Ibnu ‘Alan al-Naqsyabandi. Ibnu ‘Alan pernah menulis syarah terhadap “Qashidah Bintil Milaq” yang menjadi acuan oleh tokoh-tokoh Naqsyabandi dan Syattariyah di Minangkabau pada abad 19.

Chambert-Loir telah membuat edisi teks salah satu bagian naskah ini, berdasarkan hasil transkripsi Van Ronkel (1919), kemudian memasukkan dalam buku “Naik Haji di Masa Silam” jilid I (terbitan KPG bekerjasama dengan Ecole francaise d’Extreme-Orient, November 2013). Naskah ini berkisah tentang perjalanan hidup Jamaluddin, mulai dari Timur Tengah seperti Makkah, Zabid (Yaman), dan Mesir lalu pulang ke Sumatera, ke Batak dan akhirnya ke Minangkabau, yaitu ke Pariaman dan pedalaman. Dalam teks ini pengarang menyebut namanya dengan Jamaluddin ibnu Jawi.

Bagian naskah ini berupa bait-bait sya’ir dalam bahasa Melayu, yang ditranskrip oleh Van Ronkel dalam bentuk prosa. Hal ini membuat Chambert-Loir yang mengedit kemudian merasa “pusing” memahami teks ini. Meski begitu, dari hasil editan Chambert-Loir kita dapat mengikuti beberapa fragmen dari kisah perjalanan tokoh ulama Pasai ini.

Terkait dengan Minangkabau, menarik kita simak bagian akhir bait Jamaluddin. Ia mengemukakan:

(35) Dari sana pula lalu berlayar,
Ke negeri Pariaman nama bandar,
Sampai di sana nyatalah khabar,
Pada pendeta alam (?=alim) yang besar-besar.

.....
(37) Mencari bicara meninggalkan zaman,
Lalu ke Agam bertanam-tanaman,
Ke Lima Puluh Kota sampai Palangan,
Menghasilkan tanaman dan perbuatan.

(Chambert-Loir, 2013: 218)

Dari dua fragmen bait ini berisi kisahnya di Minangkabau. Pertama di Pariaman, di mana di daerah ini Jamaluddin bertemu dengan ulama-ulama besar yang menyampaikan berita gembira padanya. Kedua, di pedalaman Minangkabau, yaitu Agam dan Lima Puluh Kota. Di sana ia menghasilkan “pekerjaan” yaitu berdakwah dan mengajar agama. Kita ketahui bahwa sejak abad 18 dua daerah terakhir, yaitu Agam dan Lima Puluh Kota menjadi basis pendidikan Islam ala sufi yang padat di Minangkabau. Ordo sufi yang berkembang di daerah ini, sejak dahulu, ialah Naqsyabandiyah dan Syttariyah. Apakah memang Jamaluddin pernah menancapkan pengaruh di daerah ini, hingga kedua daerah ini menjadi sentra tasawuf? Sampai saat ini belum ada analisis tuntas mengenai pengaruh ulama luar terhadap transmisi keilmuan Islam di alam Minangkabau. Paling tidak, apa yang dikemukakan Chambert-Loir dan Van Ronkel membuktikan bahwa pada abad 18 telah ada ulama sufi Pasai ber-Tarekat Naqsyabandiyah singgah dan “menghasilkan pekerjaan” di pedalaman Minangkabau, Agam dan Lima Puluh Kota. Oleh karenanya, apa yang dikemukakan Azra dan Dobbin mengenai sosok Jamaluddin dan pengaruhnya di Minangkabau menjadi lebih agak jelas dari sebelumnya.

Perpustakaan Riset Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta
Ciputat, 7 April 2014.

Rabu, 02 April 2014

Jejak Intelektualisme Persatuan Tarbiyah Islamiyah di Pesisir Selatan

Oleh: al-Faqir Apria Putra

Tulisan ini sengaja ditulis memenuhi permintaan Ust. Heri Surikno, Mudarris di MTI Timbulun, Pesisir Selatan.

Rekam Jejak Masa


Sejarah Islam di Pesisir telah melewati waktu cukup panjang. Kita mendengar, misalnya cerita Kho Pin Ho, seorang jenderal Muslim dari benua Cina yang merapatkan kapalnya di sebuah pulau kecil di Pesisir, sehingga kemudian pulau itu bernama Pulau Cingkuak. Cingkuak ialah perubahan bahasa dari nama sang jenderal, Kho Pin Ho. Itu sudah lama, sudah berabad-abad yang lalu. Riwayat kedatangannya itu oleh sementara kalangan menjadi petanda bahwa di masa Kho Pin Ho telah terjalin kontak antara benua Ruhum (Cina) dengan Pulau Perca, tepatnya Pesisir. Hubungan yang terjalin itu tepatnya ialah tali keagamaan, yaitu agama Islam. Maka di disitulah perjalanan agama dimulai di ranah Banda nan Sapuluah ini. Itu yang diungkap Yulizal Yunus dalam “Islam di Gerbang Selatan Sumatera”.

Perjalanan agama Islam, yakninya I’tikad Ahlussunnah wal Jama’ah (al-Asy’ariyyah) dan Mazhab Syafi’i itu sebenarnya baru muncul kepermukaan sejarah ketika Syekh Buyuang Mudo Puluik belajar agama ke Aceh, tepatnya kepada Syekh Abdurra’uf Singkel, pada abad ke-XVII. Syekh Buyuang Mudo tidak sempat mengkhatam kajinya di Aceh, sesuai dengan saran gurunya itu, beliau kemudian melanjutkan pelajaran agamanya kepada Syekh Burhanuddin Ulakan, Pariaman. Di sana beliau memutus kaji dan memperoleh ijazah keilmuan, serta diakui sebagai salah satu khalifah Syekh Burhanuddin tersebut. Syekh Buyuang Mudo kemudian mengembangkan dakwah Islam ke kampung halamannya, Bayang. Di sana beliau mendirikan surau dan mengabdi untuk tegaknya agama hingga wafat.

Selain Syekh Buyuang Mudo, ada tokoh ulama lain yang mempunyai pengaruh besar dalam perjalanan agama di Pesisir, yaitu yang dikenal dengan Syekh Keramat Langgai. Tokoh ini disebut sebagai nenek moyang orang Pesisir. Dalam historiografi lokal disebutkan bahwa nenek moyang orang Pesisir turun dari Sungai Pagu, menembus hutan di belantara bukit barisan, dan sampai di tepian pesisir. Di sana mereka membuka pemukiman dan menaruko. Syekh ini, atau yang lebih dimasyhurkan dengan Aek Keramat Langgai lebih sebagai sufi yang mempunyai khariq lil ‘adah (kisah keramat – diluar nalar logis). Sampai saat ini sosoknya sebagai tokoh bertuah masih menjadi buah bibir. Makamnya berada di Langgai, sebuah daerah yang terletak di antara Pesisir dan Sungai Pagu, masih di ziarahi hingga saat ini. Konon, bagi siapa saja orang luar yang datang ke Langgai, niscaya akan dibasuh hujan. Salah satu peninggalan Aek Langgai ini ialah sebuah kitab tulisan tangan berusia lebih dari tiga abad. Kitab itu ialah Minhaj al-Thalibin karya agung Imam Nawawi. Jelas, Aek Keramat Langgai ialah ulama Syafi’iyyah.


Foto: Salah satu halaman Naskah Minhaj al-Thalibin peninggalan Aek Keramat Langgai (difoto di Surantih, Pesisisr Selatan, 2010)

Kita belum mempunyai rekaman tokoh-tokoh lain. Tentunya banyak ulama lain yang telah memancangkan perjuangan agama Islam sesuai dengan I’tikad Ahlussunnah wal Jama’ah di masa awal sejarah Islam di Pesisir. Kita mengenal Kesultanan Indropuro, kerajaan Bahari yang merupakan sapih belahan Kerajaan Pagaruyuang di abad-abad silam di Pesisir. Di masa kesultanan ini juga banyak ulama-ulama. Begitu juga kawasan Istana Mande Rubiah, daerah Bundo Kanduang yang bertuah itu. Juga banyak bukti-bukti keislaman yang kuat kita temui. Namun sayang, kita belum mempunyai catatan yang memuaskan untuk hal itu.

Di Lunang, kita kenal Syekh Ibrahim Lunang, murid Syekh Burhanuddin Ulakan angkatan pertama. Beliau berkhitmat mengajar agama di Lunang, khususnya Tarekat Syattariyah. Sejarah tetangnya belum kita dapati.

Di Koto Baru, Kambang, dikenal pula Mufti Kambang, seorang syekh ‘alim yang menjadi tumpuan masyarakat dalam soal-soal agama. Namun riwayat tentang itu belum juga ditelusuri secara mendalam. Dalam satu kesempatan saya sempat berkunjung ke Mesjid Raya Koto Baru Kambang. Di mihrab mesjid itu ditemui satu lemari kitab kuning. Kitab-kitab itu tak lain kitab-kitab Syafi’iyyah yang besar-besar dan berjilid-jilid, juga kitab-kitab mu’tamad dalam ilmu tasawuf. Dapat diterka, Mufti Kambang itu tak lain juga ulama Syafi’iyyah.

Pesisir Selatan dan Persatuan Tarbiyah Islamiyah

Pesisir Selatan mempunyai peran penting dalam sejarah Persatuan Tarbiyah Islamiyah. Selain, sebagaimana yang saya ungkap di atas, Pesisir Selatan di masa silam dihuni oleh ulama Syafi’iyyah yang berpengaruh luas, juga dikarenakan ulama-ulama Pesisir menjadi simpul jaringan intelektual ulama Persatuan Tarbiyah Islamiyah. Paling tidak, terdapat dua ulama besar Persatuan Tarbiyah Islamiyah yang mempunyai koneksi intelektual (isnad) dengan ulama Pesisir Selatan. Pertama Syekh Muhammad Dalil, atau yang dimasyhurkan dengan Syekh Bayang. Kedua, Syekh Khatib ‘Ali Padang. Syekh Bayang belajar agama pertama kali di kampung halamannya dengan ulama-ulama terkemuka ketika itu. Sedangkan Syekh Khatib ‘Ali Padang juga pernah menimba ilmu dengan ulama Pesisir, salah satunya Syekh Haji Saya di Air Haji.

Selain posisi jaringan intelektual itu, bukti posisi penting Pesisir dapat kita lihat pada keaktifan ulama-ulama Pesisir dalam kegiatan Persatuan Tarbiyah Islamiyah di masa lalu. Salah satunya, pada tahun 1954 diadakan konferensi Tarekat Naqsyabandiyah di Bukittinggi. Waktu itu hadir 180 masya’ikh Tarekat Naqsyabandiyah. Namun dari 180 itu, hanya terdapat 34 tokoh yang menonjol. Dua dari 34 tokoh terkemuka dalam konferensi itu berasal dari Pesisir Selatan, yaitu Syekh Abdul Wahab al-Khalidi Pelangai dan Syekh Qulan al-Khalidi Painan. Di samping itu di Pesisir terdapat pula sekolah-sekolah agama (baca: pesantren) Persatuan Tarbiyah Islamiyah yang dimotori oleh ulama-ulama yang tergolong dalam Persatuan Tarbiyah Islamiyah.

Berdasarkan penelusuran saya, terdapat empat tokoh besar dalam perjalanan Persatuan Tarbiyah Islamiyah dan MTI di Pesisir Selatan. Empat tokoh itu ialah (1) Tuanku Syekh Bayang, (2) Syekh Kolang Koto Kandih, (3) Syekh Junaid al-Mashri, dan (4) Syekh Munaf Bakrin Tuanku Lubuak.

A. Tuanku Syekh Bayang


Tuanku Syekh Bayang ialah salah seorang ulama tua yang hidup pada pertengahan abad ke 19 hingga paruh pertama abad 20. Beliau lahir di daerah Bayang, Pesisir Selatan. Sebelum belajar agama di Mekkah al-Mukarramah, beliau belajar dasar-dasar agama di kampung halamannya. Setelah itu beliau melanjutkan pelajarannya di Mekkah. Di sana beliau belajar dengan ulama-ulama terkemuka. Beliau pulang ke Minangkabau pada awal abad 20, dan bermukin di Padang. Di sana beliau memapankan karier keulamaannya hingga wafat. Di Padang beliau mengajar bermacam ilmu-ilmu agama di Mesjid Ganting, mesjid tertua di Kota Padang. Ketika beliau wafat, beliau juga di makamkan di Mesjid ini.

Syekh Bayang termasuk salah seorang ulama tua yang bersinggungan langsung dengan benih-benih Persatuan Tarbiyah Islamniyah di masa awal, namun beliau tidak sempat melihat perkembangan Persatuan Tarbiyah Islamiyah selanjutnya karena beliau wafat pada 1923. Sebelumnya ia termasuk salah seorang ulama yang aktif pada Ittihad Ulama Sumatera yang ketika itu dipimpin oleh ulama-ulama kenamaan seperti Syekh Sa’ad Mungka dan Syekh Abdullah Halaban.

Syekh Bayang termasuk ulama yang gigih mempertahankan I’tikad Ahlussunnah wal Jama’ah dan Mazhab Syafi’i di Minangkabau, terbukti dengan keikut sertaannya dalam muzakarah-muzakarah bersama Ulama-ulama dari Kaum Muda. Beliau ‘alim dalam ushul syari’at, terutama dalam Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah. Beliau menulis sebuah risalah monumental di zamannya, berjudul Targhub ila Rahmatillah.

B. Syekh Kolang Koto Kandih


Riwayat perjalanan hidupnya belum terungkap lengkap, namun dipastikan beliau ialah ulama besar terkemuka di Pesisir di awal abad 20. Beliau belajar agama di Kelang, Malaysia, oleh sebab itu beliau digelari dengan Syekh Kelang atau Syekh Kolang. Setelah lama belajar agama, beliau kemudian pulang ke kampung halamannya, Koto Kandih. Di sana beliau mendirikan sebuah Madrasah yang dikenal dengan Madrasah Tarbiyah Islamiyah Koto Kandih, Kambang. Madrasah ini terkemuka di Pesisir zaman itu, dan termasuk yang tertua. Bagaimana hubungannya pribadi Syekh Kolang dengan Persatuan Tarbiyah Islamiyah, belum terungkap jelas. Namun, Madrasah ini mempunyai andil yang besar dalam membentengi faham Ahlussunnah wal Jama’ah dari rongrongan faham modernis.

C. Syekh Junaid al-Mashri: Dari Situjuah ke Pasisia


Syekh Junaid al-Mashri ialah murid dari Syekh Muhammad Ruslan Limbukan, Payakumbuh. Beliau berasal dari Situjuah Banda Dalam, Payakumbuh. Ketika MTI Koto Kandih kekurangan guru dalam mengajar agama lewat kitab-kitab kuning, maka beliau dijemput untuk menetap di Koto Kandih dan mengajar. Beliau sosok yang ‘alim, lagi keramat. Beliau mempunyai andil dalam melanjutkan eksistensi MTI Koto Kandih, dengan berhasil mengkader murid-murid yang ‘alim. Murid-muridnya inilah yang kemudian menyambung estafet keulamaan Ahlussunnah wal Jama’ah di Pesisir Selatan. Syekh Junaid wafat pada paruh terakhir abad 20.

D. Syekh Munaf Bakrin Tuanku Lubuak

Surau Lubuak, Baruangbaruangbalantai, ialah salah satu saksi bisu kejayaan ulama Persatuan Tarbiyah Islamiyah di Pesisir Minangkabau. Surau ini pernah menjadi basis intelektual ulama Perti hingga akhir abad 20; mempunyai jariangan luas hingga daerah Mukomuko, Bengkulu. Tokoh utamanya ialah Syekh Munaf Bakrin, atau yang dikenal dengan “Tuanku Lubuak”.
Syekh Munaf Bakrin belajar agama kepada ulama-ulama generasi pertama Persatuan Tarbiyah Islamiyah, seperti Syekh Ibrahim Harun “Beliau Bomban” Tiakar, Payakumbuh. Dalam ilmu Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah beliau belajar intens kepada Syekh Muhammad Thaib di Pauah, Padang.

E. Pemandangan saat ini

Masa-masa cemerlang telah berlalu terlalu lama, namun sebagaimana hukum alam tentu ada “arus balik”-nya, ertinya masa-masa kejayaan Persatuan Tarbiyah Islamiyah tak mustahil akan terulang lagi. Melihat keadaan masa kini, dapatlah saya simpulkan bahwa terjadi satu ghirah besar dalam generasi muda Persatuan Tarbiyah Islamiyah; apatah lagi bisa menyaksikan perkembangan MTI Timbulun, dan semangat generasi mudanya. Insya Allah wibawa Persatuan Tarbiyah Islamiyah sebagai “NU”-nya Sumatera Barat dapat menggema se-antero negeri. Syaratnya satu, yaitu dengan menjalin kembali tali-temali yang sebelumnya rapuh oleh putaran zaman keegoan. Semoga.


Dalam Khalwat yang hening, Jakarta.

Januari 2014.

Senin, 10 Maret 2014

Warisan Intan Permata Minangkabau: Intelektualisme Islam, Transmisi Keilmuan dan Karya Tulis

Oleh: al-Haqir Apria Putra

Minangkabau, terkenal bukan hanya karena keelokan alamnya, kekayaan budayanya, pengaruhnya yang melebihi zaman, tapi lebih dikenal karena tokoh-tokoh intelektual yang lahir dari rahimnya. Intelektualisme di Minangkabau telah berlangsung lama, sejak Islam masuk, dan hadirnya ulama-ulama kenamaan di ranah ini.

Ulama, ialah salah satu dari tungku tigo sajarangan, satu unsur inti dari kehidupan adat Minangkabau. Dia mempunyai posisi penting, bukan hanya dalam tugasnya mengayomi umat, namun juga berperan kehidupan sosial masyarakat. Ketika Islam mulai tersebar luas, yang ditandai dengan pengaruh ulama-ulama Aceh di abad XVII, ulama-ulama Minangkabau juga mempunyai andil besar dalam islamisasi dunia Melayu tersebut. Lewat lembaga surau yang terus tumbuh menjamur pada abad-abad itu, yang tumbuh dibarengi meningkatnya aktifitas transmisi keilmuan Islam, ulama-ulama di ranah Andalas ini memainkan peran krusialnya. Malah menembus batas-batas wilayah Minangkabau sendiri, Malaya, Mindanao (Filipina), Brunei, Sulawesi dan pulau-pulau lainnya. Kemasyhuran Minangkabau sebagai pusat agama Islam dan gudangnya para ulama telah menjadi daya tarik yang luar biasa, sehingga berdatanganlah pelajar-pelajar dari berbagai belahan negeri, berbagai bangsa buat berkhitmat menuntut agama. Hingga pelajar-pelajar itu dinamai dengan Orang Siak, orang dari tempat jauh (Siak). Sampai-sampai orang tua-tua dulu ketika mengingat-ingat euforia di masa di surau, menggambarkan dengan sangat indah. Lampu-lampu damar terpasang di surau-surau, ibaratkan bintang-bintang di tengah gelap malam gulita. Bunyi mendaras kaji bagaikan bunyi lebah terbang. Sungguh meriah. Bukan hanya itu, terjadi islamisasi di segala bidang. Silat misalnya, diajarkan lewat adagium lahia silek mancari kawan, batin silek mancari Tuhan; langkahnyo ampek, Alif, Lam, Lam, Ha, ALLAH. Konon gerakan-gerakan silat itu diciptakan dari huruf-huruf arab dari kitab-kitab kuning yang dibahas setiap malam di surau bersama Tuanku Syaikh.

Mengingat masa-masa silam kebesaran ulama di Ranah Minangkabau, kita teringat dengan satu artikel berjudul De Priester en Zijn Invloed op de Samenleving in de Padangsche Bovenlanden tulisan AWP. Verkerk Pistorius. Dalam artikel ini digambarkan dengan bahasa sastra akan kebesaran seorang ulama di pedalaman Minangkabau abad XIX, Syekh Muhammad Shaleh Silungkang, kemasyhuran, tuah, berikut keadaan surau dan murid-muridnya. Kita juga akan terkaget, dalam kamus-kamus biografi Arab, ulama-ulama Minangkabau telah dicantumkan. Misalnya bila merujuk Umar Abdul Jabbar dalam Siyar wa tarajim ba’d ulama’ina fi Qarn rabi’ asyara, jelas memasukkan al-Minangkabawi sebagai ulama terkemuka di shaf ulama-ulama Mekah kala itu. Juga bila kita membalik-balik kamus yang cukup tebal, Natsar al-Jauhar wa Durar fi Ulama Qarn Rabi’ Asyara, kita akan temui Syekh Muhammad Janan Thaib asal Bukittinggi, pendiri Madrasah al-Indonesi (sekolah Indonesia) jauh sebelum Indonesia bernama Indonesia.

“Menengok ke belakang buat melangkah jauh ke depan”, begitu Hamka dalam Adat Minangkabau Menghadapi Revolusi-nya. Tiada guna kita membaca masa silam, kebesaran Islam tempo dulu, kenangan Minangkabau di masa dulu, bila kita tiada dapat mengambil pelajaran untuk menyongsong hari depan. Niscaya itu akan menjadi nostalgia dalam memori kolektif semata. Apa yang hendak kita lihat, bagaimana kita membangkitkan ghirah (semangat) agama seperti yang telah dicapai ulama-ulama silam itu? Salah satu jawabannya bercermin dengan pribadi mereka, lebih konkrit lagi kepada karya-karya besar yang mereka tinggalkan.

Orang boleh saja berkata, ulama-ulama dulu kuno, sistem pendidikannya kolot, tidak tahu teknologi dan lainnya. Tapi jangan salah, yang berkata tentunya akan terdiam. Beberapa penelitian mutakhir secara eksplisit membuktikan betapa canggihnya ulama-ulama silam. Betapa banyak sarjana-sarjana setingkat doktor berbondong-bondong mengkaji pendidikan tradisional di surau-surau atau pondok pesantren. Mereka yang dulu dianggap kuno, kini telah ibarat emas yang di cari. Dalam lapangan agama, misalnya, betapa banyak kita lihat saat ini lulusan-lulusan luar negeri yang dianggap menempuh pendidikan agama ala modern itu terperangah ketika mendengar seorang guru tamatan pesantren tradisional ketika menjelaskan Nahwu. Kita mendapat riwayat bagaimana Syekh Thaher Jalaluddin al-Falaki, Ulama Minangkabau di Pulau Penang itu membuat takjub ilmuan-ilmuan di Inggris karena hitungan astronomi yang begitu akurat. Dan kita mungkin melupakan Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, yang pernah menulis Riyadhul Hisab (taman hitungan) dalam ilmu matematika. Atau Syekh Muhammad Sa’ad Mungka Payakumbuh yang lancar menulis sya’ir-sya’ir Arab seperti halnya pujangga-pujangga Timur Tengah. Dalam adagium orang tua-tua disebutkan, dikumpa sagadang kuku, dikambang saleba alam, begitulah keilmuan di surau.

Keilmuan surau memiliki beberapa karakteristik. Ulama-ulama surau menjaga keotentikan keilmuan dengan adanya sanad (mata rantai) yang mengharuskan orang-orang siak (murid) untuk ber-talaqqi (face to face). “Adab” lebih diutamakan dalam sistem pendidikan surau. Sopan santun kepada guru sangat ditekankan, selain itu juga kepada teman-teman belajar. Di surau juga dikenal istilah ijazah. Dalam pengertian sederhana ialah izin guru untuk mengajarkan kepada orang lain. Seorang murid mendapat ijazah setelah melengkapi beberapa syarat, terutama kemampuannya dalam menyerap pelajaran di surau. Ijazah biasanya dituliskan pada selembar kertas lengkap dengan mahor guru. Klasifikasi keilmuan di Surau lebih cendrung kepada apa yang dijelaskan al-Ghazali dalam Ihya’, yaitu terdiri dari 3 garis besar, Tauhid, Fiqih dan Tasawuf. Tauhid dengan mempelajari aqidah Ahl Sunnah wal Jama’ah atau i’tiqat Asy’ariyah; Fiqih mengikut Mazhab Syafi’iyah; dan Tasawuf dengan mengamalkan tarekat-tarekat mu’tabar, seperti Syattariyah, Naqsyabandiyah dan Sammaniyah. Ulama-ulama yang menguasai ilmu-ilmu ini, meminjam istilah dalam Tubsirah al-Fashilin ‘an Ushul al-Washilin, disebut ulama yang mempunyai dua sayap, lahia dan bathin. Begitu sekilas transmisi keilmuan Islam di Minangkabau.


Foto: Salah satu surat Ijazah seorang ulama di Pasaman Barat.

Siapa-siapa saja ulama Minangkabau yang mempunyai karya besar? Jawabnya sangat banyak sekali. Di antaranya ialah Syekh Burhanuddin Ulakan, Syekh Jalaluddin Faqih Shaghir Cangkiang, Syekh Isma’il al-Khalidi Simabur al-Minangkabawi, Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Syekh Muhammad Sa’ad Mungka Payakumbuh, Syekh Muhammad Dalil Fatawi Bayang, Syekh Khatib ‘Ali al-Fadani, Syekh Thaher Jalaluddin, Syekh Sulaiman ar-Rasuli, Syekh Abdul Karim Amrullah Danau Maninjau, Syekh Muhammad Jamil Jaho, Syekh Mudo Abdul Qadim Belubus, Syekh Muhammad Zein Simabur, Syekh Ibrahim Musa Parabek, Syekh Janan Thaib Bukittinggi, Tuanku Mudo Abdul Hamid Hakim dan Syekh Abdul Jalil Tuanku Mudo Bonjol Khatulistiwa.

Jakarta, 26 September 2012

Senin, 03 Februari 2014

Bila Maulid didendangkan: Satu waktu di Surau Lubuak Ipuah, Pariaman

Oleh: al-Faqir al-Haqir Apria Putra

Tulisan ini ditulis berdasarkan perjalanan ke Surau Lubuak Ipuah, pada Desember 2011. Dilengkapi dengan informasi literatur lain seputar Lubuak Ipuah, seperti “Sejarah Syi’ar Islam di Lubuak Ipuah”, tulisan Buya Mansuruddin Tuanku Bagindo berdasarkan riwayat yang diuraikan oleh Tuanku Abdurrahman (Tuanku Kali ke-III di Lubuak Ipuah)

Sayup-sayup terdengar suara seseorang berdendang dari kejauhan. Bunyi serak dan penuh khitmat, terasa sangat khusuk di tengah malam itu. Dari jauh, dengan jelas didengar dendang Maulid Nabi, riwayat kisah perjalanan (sirah) Nabi Muhammad saw. yang dibaca dengan bahasa Arab nan penuh intrik sastra. Pendengarnya tentu akan haru, sebab bait-bait kisah perjalanan Rasulullah itu menyelinap hati sampai ke sanubari paling dalam. Itu Maulid Syaraful Anam. Si-pendendang sendiri tak lain ialah Tuanku Kadi Lubuak Ipuah.


Foto 1: Surau Lubuak Ipuah, masa kini. (Dokumentasi penulis, 2012)

Malam itu, saya baru saja pulang dari Lubuak Landua, Pasaman Barat. Sebelum sampai di Kota Padang, kami sempatkan mampir di Surau Lubuak Ipuah, Pariaman. Setelah sampai di depan surau itulah saya mendengar takjub dendang Maulid Nabi Syaraful Anam itu.

Surau Lubuak Ipuah: Sekilas sejarah dan posisinya


Surau Lubuak Ipuah sendiri ialah salah satu pusat agama Islam tertua di Pesisir setelah Surau Syekh Burhanuddin Ulakan. Sekitar abad 17-18, di Lubuak Ipuah terdapat salah seorang murid Syekh Burhanuddin Ulakan, yaitu Syekh Jangguik Itam. Syekh Jangguik Itam mempunyai seorang cucu yang ‘alim, beliau bernama Syekh Abdurrahman Lubuak Ipuah. Pada saat itu ramai-lah murid-murid berdatangan dari berbagai daerah, sehingga Syekh Abdurrahman menghabiskan masa untuk melayani murid-murid yang menuntut ilmu tersebut. Untuk hal keagamaan masyarakat Lubuak Ipuah, untuk memudahkan dalam mengamalkan ajaran agama, beliau kemudian menulis tuntunan praktis seputar ibadah, tauhid dan tasawuf dalam sebuah kitab. Kitab itu kemudian dikenal dengan nama “Risalat Lubuak Ipuah”, ditulis dalam bahasa Melayu aksara Arab (Arab Melayu). Sampai saat ini risalah ini tetap menjadi pedoman ringkas bagi masyarakat untuk soal amal ibadah.


Foto 2: salinan Risalat Lubuak Ipuah (Dokumentasi penulis, 2010)

Di masa Syekh Abdurrahman inilah jabatan Tuanku Kali (Tuanku Kadi) mulai diadakan. Sampai saat ini posisi Tuanku Kali telah dipegang oleh enam generasi. Secara berurutan, Tuanku Kali Lubuak Ipuah ialah:
1. Tuanku Kali Capuak.
2. Tuanku Kali Thaib
3. Tuanku Kali Abdurrahman
4. Tuanku Kali Musa
5. Tuanku Kali Abdurrazaq
6. Tuanku Kali Abdurrasyid (saat ini)

Surau Lubuak Ipuah, yang secara bergantian dari generasi ke generasi dibina oleh Tuanku Kali menepati posisi penting dalam jaringan intelektual Pesisir Minangkabau, khususnya dikalangan Tarekat Syattariyah. Surau ini pernah menjadi basis pendidikan Islam terkemuka di abad-abad lalu. Salah seorang ulama besar yang pernah belajar agama di Surau Lubuak Ipuah, antara lain ialah Syekh Uwaih Limo Puluah Malalo (w. 1930, dalam usia 200 tahun).


Foto 3: Tuanku Kali Abdurrasyid, Tuanku Kali Lubuak Ipuah saat ini (Dokumentasi penulis, 2012)

Saat ini, dimasa Tuanku Kali Abdurrasyid, Surau Lubuak Ipuah tetap menjadi salah satu sentra, meskipun beberapa tradisi seperti aktifitas belajar kitab telah pupus melewati zaman. Namun, eksistensinya tetap hidup di tengah-tengah masyarakat Pariaman. Beberapa tahun yang lalu, surau ini telah dipugar dari semula berupa surau kayu, sekarang dalam bentuk surau batu. Meski telah dipugar, namun simbol-simbol persenyawaan adat dan agama Islam telah dipelihara dan dipertahankan, seperti gonjong dan labu-labu.


Foto 4: Kitab Nahwu, salah satu peninggalan Syekh Lubuak Ipuah masa silam yang telah berusia lebih dua abad (Dokumentasi penulis, 2012)

Syaraful Anam: Tradisi Maulid Pesisir di Surau Lubuak Ipuah

Dalam tradisi kaum ulama Minangkabau, di bulan Maulid di adakan perayaan Maulid diberbagai surau sebagai bentuk kecintaan kepada Nabi sekaligus untuk menyegarkan ingatan akan perjuangan Rasulullah. Tradisi ini merupakan tradisi yang masyhur di kalangan Ahlussunnah wal Jama’ah. Pada perayaan Maulid tersebut dibacakan kisah perjalanan hidup Rasulullah. Di surau-surau Minangkabau, paling tidak ada dua kitab yang menjadi acuan riwayat hidup Rasulullah yang dibaca dalam perayaan Maulid. Yaitu (1) kitab Barzanji, karangan Syekh Ja’far al-Barzanji, ulama besar Syafi’iyyah di Madinah Munawwarah, dan (2) Maulid Syaraful Anam.

Barzanji biasa dibaca dikalangan ulama yang bertarekat Naqsyabandiyah. Sedangkan Syaraful Anam biasanya dikalangan Syattariyah. Oleh karenanya, Surau Lubuak Ipuah membaca Syaraful Anam dalam tradisi Maulidnya.

Menarik untuk diungkap, irama dendang Syaraful Anam, sebagaimana yang saya dengar ketika ke Lubuak Ipuah, ternyata diciptakan oleh seorang ulama Syattariyah lainnya, yaitu Syekh Muhammad Hatta Kapalo Koto. Menurut riwayatnya, Syekh Muhammad Hatta satu kali duduk dipinggir pantai dan mendengar alunan ombak yang menggebu. Dari suara alunan ombak itu-lah beliau menciptakan nada irama Syaraful Anam tersebut. Sehingga pendengar Maulid Syaraful Anam akan merasa perasaan yang dalam, menimbulkan rasa khitmat mengenang Rasulullah.

Ketika Maulid didendangkan


Maulid Nabi telah berlangsung lama. Maulid merupakan suatu inovasi beragama yang dimulai oleh orang-orang sholeh dimasa silam untuk membangkitkan semangat dalam menjalankan syari’at Rasulullah. Jumhur ulama menganjur Maulid Nabi, karena Maulid mempunyai hikmah yang banyak, selain juga disokong nash-nash Naql secara ‘amm.
Satu artikel yang cukup menarik mengenai perjalanan tradisi Maulid ditulis oleh Nico Kaptein, salah seorang akademisi Leiden University yang konsen pada sejarah Islam Indonesia. Ia menulis The Berdiri Mawlid Issue Among Indonesian Muslims in the Period from Circa 1875 to 1930 (Bijdragen tot de taal-, Land, -en Volkenkunde, 1993, 124-153). Dalam artikel ini ia menguraikan bagaimana Maulid menjadi isu penting keagamaan di dunia Muslim, termasuk Indonesia. Serangan modernis (Muhammadiyah dan Salafi-Wahabi) menjadi pengikis utama dari tradisi ulama yang telah berlangsung lama ini.

Barangkali, tradisi ini di sebagian daerah tinggal kenangan. Namun, bagaimanapun orang-orang yang mencela Maulid di zaman ini, namun kecintaan akan Rasulullah akan tetap menggebu di hati urang-urang Surau Minangkabau. Itulah makna penting Maulid didendangkan. []

Selasa, 21 Januari 2014

Mengenang Drukkerij al-Islamiyah Fort de Kock: Penerbit Turats Ulama Minangkabau di Masa Pemerintahan Belanda

Oleh: al-Faqir Apria Putra

Data dalam artikel ini bersumber dari beberapa literatur, antara lain buku “Riwayat Hidup Ulama Syafi’iyyah” (Syekh Yunus Yahya Magek, 1976), “Ayah Kita” (Abuya Baharuddin ar-Rasuli, 1978) dan “Sejarah dan Keagungan Mazhab Syafi’i (Abuya Sirajuddin Abbas, 1973).

Minangkabau, di masa penjajahan Belanda dikenal sebagai salah satu pusat percetakaan Arab di Indonesia. Hal ini dibarengi dengan tingginya minat baca seiring lahirnya karya-karya tulis ulama di kawasan ini. Dengan demikian tak heran bila Minangkabau waktu itu menjadi pusat intelektual Islam yang ditandai dengan berdirinya ratusan Madrasah hasil formulasi dari surau-surau yang ada di abad sebelumnya.

Terdapat puluhan penerbit dan percetakaan Arab saat itu, antara lain yang terkenal Tsamaratul Ikhwan (Bukittinggi), KAHAMY (Bukittinggi), Limbago (Payakumbuh), Percetakan Alam Minangkabau (Payakumbuh), Tandikat (Padang Panjang), Sa’adiyah (Padang Panjang), al-Moenir (Padang), de Voltherding (Padang), Percetakan Orang Alam Minangkabau/ Datuk Sutan Maharaja (Padang), Pulobomer (Padang), dan Mathba’ah al-Islamiyah (Bukittinggi). Dari sederetan nama penerbit dan percetakan yang ada dan tertulis dalam catatan kolonial awal abad 20 tersebut, Mathba’ah Islamiyah merupakan penerbit dan percetakan yang menarik untuk ditinjau lebih jauh. Ketertarikan kita terhadap penerbit ini cukup beralasan, karena (1) Mathba’ah Islamiyah didirikan oleh seorang tokoh yang mempunyai reputasi di kalangan ulama Minangkabau (2) Mathba’ah Islamiyah konsen dengan penerbitan Ulama Minangkabau, serta kitab-kitab untuk madrasah dan surau, (3) Percetakan ini tercatat sebagai percetak al-Qur’an pertama di Sumatera, (4) Penerbit ini berjasa menerbitkan karya-karya langka secara cuma-cuma dan dibagi-bagikan demi kemaslahan Kaum Muslimin ketika itu, (4) penerbit ini mempunyai pengaruh luas dalam mengadangkan faham Ahlussunnah wal Jama’ah dan Mazhab Syafi’i di Minangkabau.

Keberhasilan Mathba’ah Islamiyah di sokong oleh pendiri sekaligus pimpinannya, yaitu al-Marhum HMS. Sulaiman, seorang wara’ dari golongan ‘urang siak’ (santri) yang dikenal dermawan. Ketokohan HMS. Sulaiman sangat menonjol dikalangan ulama, terutama ulama dari Persatuan Tarbiyah Islamiyah, wadah persatuan ‘Ulama Tuo’ Minangkabau.


HMS. Sulaiman Bukittinggi

Dalam buah bibir kalangan ‘urang siak’, terdapat dua Sulaiman yang populer sebagai tokoh keagamaan. Sulaiman pertama, yaitu Syekh Sulaiman ar-Rasuli (1871-1970), ulama besar Minangkabau yang terkenal sebagai salah seorang pendiri Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) sekaligus pendiri dan pemimpin Madrasah Tarbiyah Islamiyah Candung. Sulaiman kedua, HMS. Sulaiman, seorang ‘alim pendiri Mathba’ah Islamiyah Bukittinggi. Kedua Sulaiman ini tidak hanya sedekar dikait-kaitkan karena kesamaan nama, tapi memang kedua tokoh yang terpandang ini mempunyai hubungan yang erat.

HMS. Sulaiman lahir pada paruh terakhir abad 19. Ia besar dan tumbuh dalam keluarga yang agamis dan cinta ilmu. Ketika usianya menanjak remaja, ia diserahkan ayahnya untuk belajar agama ke beberapa surau, sampai ia dikenal sebagai seorang malin (alim kecil). Ia kemudian bukan hanya tumbuh sebagai seorang malin, namun juga mempunyai ciri kecintaan dan kedekatan dengan ulama-ulama Minang di zaman itu. Selain itu ia juga dikenal dermawan. Ketika penerbit (waktu itu dikenal dengan Drukkerij atau Firma) Islamiyah Bukittinggi dibuka, ia secara berkala menerbitkan beberapa karya ulama dengan dananya sendiri. Hal ini dapat kita buktikan dari beberapa kitab cetakan Islamiyah, yang pada sampulnya tertulis: “atas nafkah HMS. Sulaiman Fort de Kock.” Di samping kitab-kitab, al-Islamiyah juga menerbitkan al-Qur’an, di mana sebelumnya al-Qur’an disalin dengan tangan atau dicetak batu. Konon al-Qur’an hasil cetakan al-Islamiyah ialah mushaf cetakan pertama di Indonesia.

Selain itu HMS Sulaiman juga sangat senang kepada ulama, sehingga ia secara cuma-cuma mewakafkan banya kitab kepada ulama dimaksud. Salah seorang ulama yang banyak mendapat wakaf kitab dari HMS. Sulaiman ialah Syekh Muda Wali al-Khalidi, ulama besar Aceh yang saat itu berada di Minangkabau.

Pada tahun 1928, diadakan pertemuan ulama-ulama Minangkabau di Bukittinggi dan membuahkan keputusan mendirikan Madrasah Tarbiyah Islamiyah dan Persatuan Tarbiyah Islamiyah sebagai benteng ulama-ulama Ahlussunnah wal Jama’ah di Minangkabau. Ketika itu hadir ulama-ulama dari berbagi penjuru Minangkabau, antara lain Syekh Sulaiman ar-Rasuli, Syekh Muhammad Arifin Batuhampar, Syekh Abdul Wahid Tabek Gadang dan lain-lainnya, juga hadir HMS. Sulaiman. Dengan demikian, HMS. Sulaiman juga termasuk salah satu dari sederetan tokoh yang membidani berdirinya Persatuan Tarbiyah Islamiyah.

Di antara ulama-ulama yang mempunyai kedekatannya dengannya ialah tiga serangkai ulama Perti, yaitu Syekh Sulaiman ar-Rasuli, Syekh Muhammad Jamil Jaho dan Syekh Abbas Qadhi Ladang Laweh. Ketiga ulama inilah yang menyarankan kepada HMS. Sulaiman untuk mendirikan toko kitab sekaligus drukkerij (penerbit dan percetakan), yang kemudian ia namai Drukkerij/ Mathba’ah al-Islamiyah Bukittinggi.

Penerbit dan Percetakan Arab terkemuka di Sumatera Tengah


Drukkerij al-Islamiyah sonter menjadi salah satu dari sederetan toko dan penerbit kitab di Sumatera Tengah ketika itu. Untuk melengkapi keperluan kitab-kitab agama yang dipelajari di Madrasah (pesantren) Tarbiyah Islamiyah yang jumlahnya ketika itu lebih dari 300 buah, HMS. Sulaiman mendatangkan kitab-kitab terbitan Mesir, kemudian menjadikan tokonya untuk mendistribusikan kepada sekolah-sekolah agama yang membutuhkan. Selain itu, usahanya yang paling besar ialah mencetak kitab-kitab karya ulama Minangkabau sendiri. Untuk itu HMS. Sulaiman melengkapi Drukkerij al-Islamiyah dengan sebuah mesin cetak aksara Arab. Dengan itulah kitab-kitab ulama dicetak dan disebarkan. Kitab hasil cetakan al-Islamiyah terbilang rapi dan hampir menyamai kitab cetakan Mesir ketika itu.

Al-Islamiyah menjadi satu dari sekian penerbit yang terkenal dan yang mampu melewati tiga zaman hingga periode kemerdekaan RI. Dari zaman Belanda, Jepang dan zaman mendeka, al-Islamiyah telah berjasa dalam menyebarkan kitab-kitab ulama serta turats ulama Minangkabau seiring dengan tingginya minat baca dikalangan urang siak (santri) saat ini.

HMS. Sulaiman wafat di Padang pada 1972 setelah lama menderita sakit. Setelah wafatnya, kabar mengenai Drukkerij al-Islamiyah yang terkenal itu tidak kita dengar lagi. Mungkin percetakan ini diteruskan oleh anak-anaknya dan kemudian bergelut dengan percetakan modern, hingga hilang ditelan zaman. Atau masih ada namun tak setenar dulu, seperti halnya Maktabah Isa al-Babi al-Halabi di Kairo itu.

Salah satu kitab Melayu yang tampak baru karena dicetak ulang ialah “Nazham Nabi Bercukur” karangan Labai Sidi Rajo Sungai Pua. Saya mendapatinya pada deretan kitab-kitab berdebu di sebuah toko Aua Kuniang, Bukittinggi. Pada sampul kitab itu tertulis: dicetak oleh Mathba’ah al-Islamiyah Bukittinggi. Sempat saya tanyakan kepada pegawai toko dimanakan percetakan Islamiyah ini berada, ia menggeleng mengisyaratkan ketidaktahuannya. Saya rasa tinggal kenangan sudah.

Beberapa contoh: al-Qur'an dan Turats Ulama cetakan al-Islamiyah Fort de Kock


Foto 1: al-Qur’an al-Karim dan Terjemahnya dalam Bahasa Indonesia (Arab-melayu). Terbitan Mathba’ah al-Islamiyah – HMS. Sulaiman, Bukittinggi.


Foto 2: “Kitab al-Jawahir al-Kalamiyah fi Bayan aqa’id al-Imaniyyah” karangan Syekh Sulaiman ar-Rasuli Candung (Drukkerij al-Islamiyah – HMS. Sulaiman, 1927)


Foto 3: “Kitab Tarbiyah al-Islamiyah fi Durus al-Fiqhiyyah” karangan Syekh Abdul Latif Syakur Ampek Angkek Bukittinggi (Drukkerij al-Islamiyah – HMS. Sulaiman)


Foto 4: “Kitab at-Tarbiyah wat Ta’lim Qismut Tauhid” karangan Syekh Abdul Latif Syakur Ampek Angkek Bukittinggi (Drukkerij al-Islamiyah – HMS. Sulaiman, 1927)


Foto 5: “Dawa’ul Qulub fi Qishah Yusuf wa Ya’qub” karangan Syekh Sulaiman ar-Rasuli Candung (Drukkerij al-Islamiyah – HMS. Sulaiman, 1927)


Semua Hanya Kenangan

Sayang, kita tidak mempunyai rekaman yang lengkap tentang penerbit ini. beberapa informasi singkat pernah diberikan oleh orientalis Belanda. Namun itu hanya sepintas, tidak sampai memberikan gambaran utuh tentang berbagai hal, seperti buku-buku yang pernah diterbitkan, riwayat akhir penerbit hingga lokasi dan lainnya.

Seperti halnya penerbit-penerbit Arab lainnya di Minangkabau, Mathba’ah Islamiyah hanya kita kenal dari catatan-catatan sepenggal dan hanya menjadi kenangan masa lalu; salah satu tonggak sejarah; di mana kaum agamawan haus ilmu dan mempunyai minat baca yang tinggi. Kontras dengan zaman sekarang tentunya.

Secercah Harapan

Dalam sebuah percakapan dengan seorang alumni Madrasah Tarbiyah Islamiyah, melompat keinginan untuk menerbitkan kembali turats ulama Minangkabau. Hal ini muncul karena telah teriventarisnya beberapa karya ulama Minangkabau yang dulunya menjadi master peace di zamannya. Keinginan itu disambut baik oleh teman-teman. Langkah awal ialah mendirikan penerbit sesuai prosedur yang berlaku, membentuk badah tahqiq dan pengelola penerbit tersebut. Kesadaran ini muncul karena motivasi keadaan kaum santri di Jawa yang begitu giat menjaga, merawat dan menerbitkan turats ulama.

Sempat terucap, “Sudah saatnya kita berinisiatif mengkhitmati ulama kita. Tak perlu lagi kita berharap banyak dengan persatuan-persatuan kaum agama di Sumatera Barat sendiri untuk menjaga kekayaan intelektual ulama silam. Bila tidak kita, siapa lagi!”.

Semoga terwujud dengan segera.


Dalam khalwat yang Hening,
Jakarta, medio Januari 2014


Apria Putra

Jumat, 20 Desember 2013

Yang Berjasa, Yang Terlupakan (Bagian 3): Syekh Jalaluddin al-Kisa’i Sungai Landai, Agam.

Oleh: al-Faqir Apria Putra

Ulama-ulama yang kita tulis ini, meskipun tercatat dalam lembaran sejarah, namun sayang hanya segelintir kecil diantara kita yang mengenal, dan masih mengenang jasa beliau-beliau tersebut. Padahal, bila ditinjau dimasa-masa silam, ulama-ulama ini menjadi tumpuan ilmu pengetahuan Islam, selalu menjadi teladan. Meski mereka telah lama tiada, mereka tetap dipanuti, makamnya tetap diziarahi sebagai bentuk ta’zhim kepada ulama-ulama yang berjasa terhadap Islam di Minangkabau. Tulisan bersambung ini dilansir sebagai pengingat bagi kita, generasi penerus, untuk mengenal serta meneladani, hingga mempererat tali rohani dengan ulama-ulama Minangkabau di masa yang lampau itu.

Syekh Jalaluddin Sungai Landai ialah salah seorang ulama besar Luak Agam. Ia hidup pada paruh kedua abad 19 hingga awal abad 20. Mengenai riwayat intelektualnya belum diketahui dengan pasti, namun ia mempunyai peran signifikan dalam jaringan ulama Minangkabau pada periode tersebut. Laqab (gelar) al-Kisa’i dibelakang namanya memberikan indikasi bahwa beliau ialah salah seorang yang ‘alim dalam ilmu al-Qur’an dan juga seorang hafizh. Al-Kisa’i adalah laqab seorang ulama ahli Qira’at yang masyhur. Gelar yang sama juga dimiliki oleh datuk Buya Hamka sendiri, yaitu Syekh Amarullah Tuanku Kisa’i, yang hafal al-Qur’an.

Di antara peran Syekh Sungai Landai ini ialah menjadi “adviseur” dari perkumpulan “Ittihad Ulama Sumatera”, sebuah wadah persatuan ulama-ulama Minangkabau di awal abad 20. Di dalam Majalah al-Mizan, Th. 1916 No. 25 (terbitan Syarikat al-Ihsan, Maninjau) disebutkan susunan kepengurusan Ittihad Ulama Sumatera 1916, bahwa Syekh Sungai Landai bersama dengan ulama-ulama lain seumpama Syekh Bayang Padang, Syekh Khatib ‘Ali Padang, Syekh Abdul Manaf Lantai Batu, Syekh Abdullah Halaban, Syekh Muhammad Jamil Pariaman, Syekh Sutan Ibrahim Parabek dan Syekh Sutan Banten Bukittinggi bersama-sama memajukan perkumpulan Ittihad Ulama Sumatera tersebut. Dalam daftar pengurus itu disebutkan nama Syekh Sutan Kisa’i Sungai Landai.

Salah seorang murid Syekh Jalaluddin yang dapat diketahui ialah Syekh Ibrahim Musa Parabek (1882-1963), ulama besar pendiri Perguruan Thawalib Parabek.

Kitab Karangan Syekh Sungai Landai


Satu diantara karya Syekh Sungai Landai ialah sebuah risalah mengenai Rukun Islam dan Rukun Iman, berjudul “Risalah Rukun Syarat Sembahayang dan Rukun Iman serta dengan Akidah Iman.” Karya ini, sebagai yang tertera pada judul, berisi tentang hal ihwal Rukun Islam yang mencakup kewajiban syari’at, yaitu perkara bersuci, shalat, zakat dan haji. Pembahasan syari’at ini kemudian dilanjutkan dengan pembahasan tentang Akidah Iman, yaitu mengenai sifat-sifat yang wajib bagi Allah yaitu sifat 20. pembahasan dalam term akidah ini cukup runtun yang agak terperinci.

Satu kutipan dari karya ini, yang menjabarkan tentang mustahilnya istilah Duur dan Tasasul dalam ilmu Tauhid sebagai berikut:
Bermula makna berlingkar-lingkar [duur. Pen] yaitu berganti-ganti seperti bertiga atau berempat atau lebih, dan berganti-ganti semuanya mengadakan dirinya dengan berlingkar-lingkar maka yaitu mustahil karena jadi daripada demikian itu orang yang kemudian menjadikan akan orang yang dahulu daripadanya.


Foto: Risalah Rukun Syarat Sembahyang karya Syekh Jalaluddin Sungai Landai

Cetakan ketiga karya ini dicetak atas nafkah HMS. Sulaiman. Dicetak pada Mathba’ah Islamiyah Fort de Kock, tanpa menyertakan tahun.

Mesjid dan Makam Syekh Sungai Landai

Mesjid Syekh Jalaluddin Sungai Landai terletak diketinggian, di kaki Gunung Singgalang yang cukup asri. Mesjid itu telah dipugar dengan gaya modern. Sedangkan makam Syekh Sungai Landai tak jauh dari Mesjid ini. Pada makam itu terdapat inskripsi yang sudah memudar oleh masa.


Foto: Mesjid Syekh Jalaluddin Sungai Landai, Agam.


Foto: Makam Syekh Jalaluddin Sungai Landai

Al-Fatihah...

Al-Faqir al-Haqir Apria Putra.

Minggu, 10 November 2013

Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi dan Matematika

Oleh: al-faqir al-Haqir Apria Putra

Senin, 4 November 2013, Pemda Sumatera Barat mengadakan sebuah seminar bertajuk “Seabad Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi”. Seminar tersebut berlangsung di Pangeran Beach Hotel, Padang, dihadiri oleh berbagai pakar Islam Minangkabau, cendikiawan, akademisi dan tak ketinggalan alim ulama. Seketika mendapat kabar tentang seminar ini, saya cukup bergembira. Ternyata ulama besar Minangkabau yang telah didendangkan berpuluh-puluh tahun oleh para cendikiawan masa silam telah mulai dilirik oleh pemerintah daerah. Sebuah kesadaran untuk menghargai orang besar negeri ini, bukan sekedar ulama oposan, lebih dari itu ialah ulama internasional yang menghabiskan umurnya di Mekah sambil mendidik kader-kader ulama untuk dunia Melayu. Tak tanggung-tanggung, seminar itu menghadirkan 4 cendikiawan Minang sendiri, yaitu Prof. Azyumardi Azra, Prof. Mafri Amir, Dr. Putra Eka Wirman dan terakhir Yasrul Huda, Ph.D. Besar hati kita dengan terlaksanakan seminar tersebut. Terobat sudah penantian perhatian pemerintah buat ulama-ulama besar Minangkabau. Karena saya berhalangan untuk hadir pada seminar itu, saya ambil pena, saya tulis perihal Ulama besar Minangkabau ini. Hal ini sebagai pelengkap terhadap penelitian yang ada, tersebab saya telah lama melirik-lirik ulama besar ini, mengumpulkan peninggalan-peninggalan tangannya, sudah sepatutnya pula memberikan sedikit dari secuil pengetahuan tentang beliau ini. Semoga bermanfaat kiranya.

Biografi Ringkas

Berdasarkan penyelidikan sepintas saya, tokoh pertama yang menulis panjang lebar mengenai ketokohan dan dedikasi Syekh Ahmad Khatib ini ialah al-marhum Buya Hamka. Beliau menulis perihal Syekh Ahmad Khatib pertama sekali dalam bukunya “Sejarah Islam di Minangkabau” (1938), yang kemudian diuraikan secara lebih detail dalam buku “Ayahku” (1950), dan lengkapi hingga terbitan terakhir tahun 1981. Selain itu Buya Hamka menulis pula paper untuk Seminar Islam di Padang 1970, dengan topik “Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi dan Syekh Thaher Jalaluddin”, yang kemudian dimuat dalam “Islam dan Adat Minangkabau” (1982). Selain itu, Abuya Sirajuddin Abbas, ulama Minang yang semasa dengan Buya Hamka, juga menulis dalam “Sejarah dan Keagungan Mazhab Syafi’i” (1971) dan “Thabaqat Syafi’iyyah” (1978). Tulisan Hamka, tepatnya, kemudian banyak dikutip dan diperluas oleh peneliti-peneliti lainnya seperti Deliar Noer, Akhira Nazwar, Muhammad Sanusi Latief, Burhanuddin Daya, bertali-tali hingga saat ini.

Pada tulisan ini, kita akan mengambil informasi biografinya bukan dari sumber-sumber itu, melainkan dari “Siyar wa Tarajum Ba’d Ulama’ina fi Qarn Rabi’ Asyr Hijri”, yang ditulis oleh Syekh Umar Abdul Jabbar, seorang tokoh pendidik dan sejarawan di Arab Saudi. Sebelumnya perlu kita ketahui bahwa Syekh Ahmad Khatib pernah meninggalkan autobiografi yang ditulisnya sendiri, sayang kabarnya autobigrafi yang masih berbentuk manuskrip itu masih bersemayam di Perpustakaan Leiden, negeri Belanda.

Syekh Umar Abdul Jabbar memulai riwayatnya. Dimasa silam, datanglah salah seorang alim dari Mekah, beliau bernama Abdullah. Beliau menetap di Ampek Angkek, Agam. Karena kealimannya, oleh masyarakat beliau diangkat sebagai Khatib dan dinikahkan dengan gadis setempat. Beliau kemudian dikenal dengan Syekh Abdullah Khatib. Beliau mempunyai seorang anak laki-laki yang juga ‘alim, yaitu Abdullatif. Abdullatif inilah ayah dari Ahmad Khatib muda. Niscaya informasi Umar Abdul Jabbar ini berbeda dengan apa yang disebutkan Hamka dalam “Ayahku”. Hamka menyebutkan bahwa Datuk Syekh Ahmad Khatib merupakan turunan dari pejuang-pejuang Paderi, artinya keturunan orang Minang asli (lihat “Ayahku”, cetakan Umminda, 1982, halaman 271).

Syekh Ahmad Khatib dilahirkan pada hari senin, 6 Dzul Hijjah 1276. Sebelum belajar agama lebih intens, Ahmad Khatib berhadap dengan ayahnya untuk belajar dasar-dasar agama, dan membaca al-Qur’an.

Diwaktu masih belia, umur yang masih kecil, Ahmad Khatib telah dibawa ayahnya ke Mekah, selain menunaikan rukun Islam kelima, tujuan lainnya untuk menuntut ilmu agama di kampung halaman kakeknya. Mekah ketika itu sangat harum sekali sebagai pusat ilmu pengetahuan, disamping sebagai pusat ibadah kaum muslimin.

Di Mekah Syekh Ahmad Khatib menimba ilmu pengetahuan secara mendalam, diantaranya ialah menghafal al-Qur’an. Selain itu Syekh Ahmad Khatib juga belajar bahasa Inggris. Menurut informasi Umar Abdul Jabbar, Syekh Ahmad Khatib selama belajar di Mekah menimba ilmu kepada tiga orang ulama besar ketika itu, yaitu Sayyid Umar Syatha, Sayyid Usman Syatha dan Sayyid Bakri Syatha (Pengarang I’anah al-Thalibin). Beliau hanya menimba ilmu kepada tiga ulama ini. Berkat kesungguhan, keuletan dan kerajian, Syekh Ahmad Khatib dapat menangkap pelajaran dengan sangat baik, dan kemudian mampu memapankan karir ulamanya di Haramain tersebut.

Kecerdasan dan kealimannnya membuat seorang tokoh masyarakat Mekah, Syekh Shaleh Kurdi tertarik. Konon Syekh Shaleh Kurdi seorang pemilik toko kitab di Mekah. Syekh Ahmad Khatib ketika itu selalu Singgah untuk membeli dan membaca kitab. Syekh Ahmad Khatib kemudian diambil menjadi menantu oleh Syekh Shaleh Kurdi.

Setelah lama mengajar dan dikenal luas sebagai seorang yang ‘alim, Syekh Ahmad Khatib kemudian mencapai posisi prestius yaitu menjadi Imam dan Khatib dalam Mazhab Syafi’i di Mesjidil Haram. Hal mana posisi ini belum pernah dipegang oleh orang non-Arab.
Menurut Umar Abdul Jabbar (Siyar wa Tarajum, halaman 41), Syekh Ahmad Khatib meninggalkan 46 karangan dalam berbagai vak keilmuan. Namun sayang, karangan-karangannya tersebut sangat sulit kita dapati saat ini, tidak seperti rekannya sesama ulama, yaitu Syekh Nawawi Banten yang digelari “Sayyid Ulama Hijaz” (Penghulu Ulama Hejaz), yang masih banyak dicetak, dalam dan luar negeri, dan tetap dijadikan buku pokok pelajaran-pelajaran pesantren di dunia Melayu. Hanya ada 1 karangan Syekh Ahmad Khatib yang tetap dicetak ulang, dan menjadi pelajaran satu dua pesantren, yaitu “al-Nafahat ‘ala Syarah Waraqat”, kitab ushul fiqih Mazhab Syafi’i, syarah dari kitab Waraqat karya Imam al-Haramain.

Syekh Ahmad Khatib wafat pada 6 Jumadil Awal 1334 (1916). Beliau meninggalkan murid-murid yang cakap dan kemudian dikenal sebagai ulama-ulama besar dunia Melayu, diantaranya Syekh Sulaiman ar-Rasuli Candung (w. 1971, usia 99 tahun), Syekh Muhammad Jamil Jaho, Syekh Thaher Jalaluddin, Syekh Muhammad Jamil Jambek, Syekh Abdul Karim Amrullah, Syekh Muhammad Nur “Qadhi Langkat”, Syekh Hasyim Asy’ari (Pendiri NU), Kyai Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah), dan lain-lain banyak lagi.

Pribadi yang disalah-tafsirkan


Syekh Ahmad Khatib menjadi kebanggaan sendiri bagi Indonesia, dengan segala kebesaran dan prestasi keulamaannya, sehingga banyak dikalangan akademisi, terutama dari Minangkabau yang mencoba menulis dan mendalami pribadinya. Namun sayang, dari beberapa tulisan, hasil penyelidikan, kita temukan beberapa kesimpulan tentang pribadi dan pemikiran Syekh Ahmad Khatib yang terlalu tergesa-gesa dan acap keliru. Di antara anggapan-anggapan tersebut dinyatakan bahwa Syekh Ahmad Khatib ialah anti taqlid, hal ini sangat keliru. Syekh Ahmad Khatib ialah pemegang teguh Mazhab Syafi’i dan Ahlussunnah wal Jama’ah (Asy’ari dan Maturidiyyah). Beliaulah tiang tengah Mazhab Syafi’i di Indonesia awal abad 20 itu. Begitu pula murid-muridnya, pemegang teguh Mazhab Syafi’i. Dan itu tergambar dari karya-karya tulisnya yang puluhan banyak itu. Disini tampak para penulis biografi beliau tidak membaca karya-karya itu, kasihan. Bukankah beliau ialah Imam dan Khatib dalam Mazhab Syafi’i? Kita tentu maklum. Hal ini disebabkan oleh keterangan Hamka dalam Ayahku (dalam “Ayahku”, Hamka acap keliru menulis nama kitab karya Syekh Ahmad Khatib), dan karena akademisi Minang yang masih terbawa euforia “Kaum Muda” itu, sebab tentang Syekh Ahmad Khatib belum ada satupun “orang surau” yang menulisnya.

Kesimpulan kedua yang gegabah, ialah menyatakan Syekh Ahmad Khatib penyokong pembaharuan ala “Kaum Muda” atau ala “Wahabi” (sekarang bernama Salafi) di Indonesia. Ini keliru. Sebab Syekh Ahmad Khatib ialah tokoh yang tidak setuju terhadap paham “Muda” dan “Wahabi” itu. Beliau menulis sebuah kitab yang berjudul “al-Khuttah al-Mardhiyyah” sebagai kritik kerasnya terhadap Ibnu Taymiyah dan Ibnu Qayyim, dan sebagai pertahanan ulama-ulama Mazhab Syafi’i dan Ahlussunnah wal Jama’ah. Sayang, mereka tidak membaca.

Kritik Syekh Ahmad Khatib terhadap Tarekat Naqsyabandiyah yang dianggap sebagai bentuk perlawanan terhadap tradisi, bentuk pembaharuan orientasi Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. Lagi-lagi ini keliru. Syekh Ahmad Khatib memang mengkritisi Tarekat Naqsyabandiyah, tapi hanya tertentu pada “Rabithah” (Bukankan Syekh Dr. Al-Buthi sebagai pengamal Tarekat Naqsyabandiyah juga tidak suka dengan Rabithah?). Bila tuan-tuan membaca Izhar dan al-Ayah, dua karangannya, tentu tuan akan mengerti. Kritikan Syekh Ahmad Khatib dibantah oleh ulama-ulama dari berbagai negeri ketika itu, misalnya dari Minangkabau Syekh Muhammad Sa’ad Mungka Payakumbuh, menulis “Irgham Unuf Muta’annitin” dan “Tanbihul Awam” (karangan terakhir tidak dijawab Syekh Ahmad Khatib lagi), Syekh Husein Madinah menulis “al-Suyuf al-Maslulah”, dan Habib Husen al-Attas. Sayang, banyak akademisi yang hanya bercermin dari “sumber kedua”, tidak membaca langsung kitab-kitab tersebut. (Hampir semua kitab-kitab tua itu ada dalam simpanan Kutubkhannah penulis artikel ini, al-Faqir Apria Putra)

Kesimpulan kita, Syekh Ahmad Khatib ialah ulama besar Syafi’yyah di zamannnya, peneguh Ahlussunnah wal Jama’ah. Beliau ialah sosok yang berjiwa tasawuf sebagai mana pendiriannya dalam kitabnya “al-Fath al-Mubin”.
Semoga tuan-tuan membuka mata.

Syekh Ahmad Khatib dan ilmu Matematika

Dalam tulisan ini kita akan melirik salah satu karangan Syekh Ahmad Khatib yang menurut hemat saya cukup mengagumkan. Karangan beliau itu berjudul “Riyadh al-Hussab fi ‘ilm al-Hisab” (cetakan Mathba’ah al-Maimuniyyah, Mesir, 1310 H). Kitab ini merupakan pembahasan panjang lebar mengenai ilmu Matematika. Kitab ini terdiri dari 176 halaman. Pada permulaan kitab ini, Syekh Ahmad Khatib memaparkan alasan penulisan kitab ini. beliau mengemukakan alasan agama, bahwa matematika diperlukan untuk mengukur kiblat, hisab falaki dan pembagian harta pusaka. Oleh sebab itu setiap muslim mesti mengetahuinya, lanjutnya. Selanjutnya, Syekh Ahmad Khatib menyebutkan bahwa guru pertama ilmu Hisab ini ialah Nabi Idris Alaihi Salam.
Pembahasan dalam kitab ini cukup mendalam, apakah trigonometri, logaritma dan lainnya. Kitab ini juga dipenuhi dengan “raqam-raqam” untuk pemudah penuntut ilmu.


Foto: Halaman depan Riyadh al-Hussab


Foto: Halaman pertaman kitab Riyadh al-Hussab


Foto: Halaman Riyadh al-Hussab yang dipenuhi raqam Matematika


Foto: Halaman Riyadh al-Hussab yang dipenuhi raqam Matematika

Ini sebuah karya, yang menurut saya dapat dikategorikan sebagai sains dari seorang ulama tradisional, yang hidup dan mengembangkan diri di lingkungan Madrasah.

Murid yang mahir “hitung-hitungan”

Matematika dalam kajian agama merupakan sesuatu yang sangat penting. Beberapa vak keilmuan yang urgen hanya bisa dikuasai dengan kemahiran hitungan-hitungan, seperti Ilmu Faraidh dan Ilmu Falak. Oleh karenanya, para ulama dalam konteks khusus, dapat dikatakan sebagai saintis Matematika. Seperti itu pula yang diusahakan oleh Syekh Ahmad Khatib dengan penulisan kitab-kitab bidang Matematika.
Salah seorang murid Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi yang mewarisi ilmu Hitung-hitung ini ialah Syekh Abdul Karim Amrullah, atau Haji Rasul. Dalam salah satu tulisan tangannya, ia pernah mengukur perjalanan seseorang dari suatu tempat ke tempat lainnya, dalam berapa menit, berapa panjang jaraknya.


Foto: Tulisan tangan hasil hitung-hitungan Syekh Abdul Karim Amrullah Maninjau

Ciputat, Jakarta. Awal November 2013.
Al-Faqir Apria Putra.

Jumat, 25 Oktober 2013

Syekh Muhammad Thayyib Umar Sungayang: Ulama Besar Ahlussunnah wal Jama’ah dari Fort van der Capellen

oleh: al-faqir al-haqir Apria Putra

Artikel ini ditulis secara ringkas, tidak dimaksudkan untuk berpanjang-panjang bicara; namun sekedar usaha kecil untuk pelurus riwayat mengenai ulama kami al-Marhum Syekh Muhammad Thayyib bin Umar bin Abdul Qadir Sungayang, Batusangkar, yang disebut-sebut sementara orang sebagai “Ulama Kaum Muda” dan “Ulama Wahabi” yang menganut mazhab Muhammad Abduh, Rasyid Ridha dan Muhammad bin Abdil Wahhab an-Najdi.

Siapa tak kenal dengan Syekh Thayyib Umar Sungayang. Ulama besar yang mempunyai nama yang harum dikalangan orang Siak (baca: santri) di Minangkabau di awal abad 20. Salah seorang muridnya yang terkemuka ialah Prof. Mahmud Yunus, ulama dan tokoh pendidikan Islam Indonesia. Demikian harumnya, sampai-sampai generasi muda saat ini tetap mengenal namanya, bahkan diabadikan menjadi salah satu nama pesantren Modern, yaitu Pesantren Syekh Muhammad Thayyib Umar yang disokong oleh alumni-alumni Mesir masa kini.

Kenal nama, tentu kita kenal “Syekh Thayyib Umar Sungayang”. Namun mengenal pribadi secara mendalam, kita belum tentu tahu. Sekedar membuka-buka masa silam yang penuh kegemilangan, kita singkap riwayat ringkas beliau ini; untuk pengingat, untuk mempahamkan kita bagaimana sebenarnya jalan agama di ranah Minangkabau ini.

Riwayat rngkas mengenai Syekh Muhammad Thayyib Umar Sungayang pertama kali disitir oleh Hamka dalam buku “Ayahku”, riwayat itu ringkas, tak memuaskan hati. Dari tulisan Hamka, kita mengenal sosok Syekh Thayyib sebagai konco Haji Rasul. Riwayat yang agak lekap dan lebih kita percayai ditulis oleh Prof. Mahmud Yunus, murid kesayangan Syekh Thayyib Umar sendiri. Beliau menulis riwayat gurunya itu dalam “Sejarah Pendidikan Islam di Minangkabau”. Selanjutnya riwayat hidup beliau ditulis oleh Tim Islamic Centre Sumatera Barat pada tahun 1981, dikompilasi dalam buku “Riwayat Hidup dan Perjuangan 20 Ulama Besar Sumatera Barat”. Kita akan sari dari buku-buku masyhur ini, dan kita tambah dengan bahan-bahan yang belum dmasukkan oleh para sarjana tersebut.

Syekh Muhammad Thayyib bin Umar bin Abdul Qadir dilahirkan di Sungayang, Batusangkar, yang masa itu dikenal dengan nama Fort van der Capellen, pada tahun 1974. Diusia belia, beliau telah belajar dengan beberapa orang guru agama di kampung halamannya. Di usia remaja, beliau meninggalkan kampung halamannya untuk menambah pengetahuan, diantaranya kepada Syekh Abdul Manan Padang Gantiang dan Syekh Muhammad Shaleh Padang Kandih (ulama besar Tarekat Naqsyabandiyah Sumatera Tengah, w. 1912). Setelah cukup lama belajar kepada kedua ulama besar ini, Syekh Thayyib Umar berangkat ke Mekah dan mukim disana selama 5 tahun. Diantara gurunya disini ialah Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi (w. 1916), khatib dan guru besar dalam Mazhab Syafi’i di Mesjidil Haram. Pada tahun 1897 beliau kembali ke Sungayang dan langsung mengabdi mengajar agama di surau Tanjuang Pauah. Pada tahun 1910 beliau membuka Madras School, sebuah madrasah (setingkat pesantren di Jawa) dengan sistem klasikal sebagai trobosan baru sekolah agama masa itu. Syekh Thayyib Umar wafat pada tahun 1920.

Syekh Thayyib Umar: Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah

Sebagai ulama tua Minangkabau, Syekh Thayyib Umar Sungayang ialah ulama yang teguh memegang Ahlussunnah wal Jama’ah (Asy’ariyyah dan Maturidiyyah), sebagai pegangan ulama besar Minangkabau sebelumnya, seperti Syekh Abdul Manan, Syekh Muhammad Shalih Padang Kandih Suliki dan Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi. Begitu juga ulama-ulama seangkatan beliau, seperti Haji Rasul, Syekh Jamil Jambek, Abdullah Ahmad dan Syekh Thaher Jalaluddin. Sebagai sokongannya terhadap pegangan ulama Minangkabau itu, beliau karang sebuah risalah yang berjudul “Aqa’id al-Iman”, menjelaskan Aqidah Lima Puluh (terutama Sifat Dua Puluh). Risalah ini dicetak bersama kitab “Irsyadul Awam ilal Islam” karya Syekh Muhammad Zain Simabur Batusangkar.


Foto: Halaman pertama kitab "Aqa'id al-Iman" oleh Syekh Muhammad Thayyib Umar Sungayang, berisi tentang penjabaran Aqidah Lima Puluh sesuai dengan akidah Ahlussunnah wal Jama'ah (Asy'ariyyah dan Maturidiyyah), dicetak bersama kitab "Irsyadul Awam Ilal Islam" karya Syekh Muhammad Zain Simabur, hal. 137.

Kita ingin membanding beberapa tulisan para sarjanawan yang menyebut Syekh Muhammad Thayyib dengan nada “ulama Wahabi”. Dalam beberapa penelitian disebutkan Syekh Thayyib Umar Sungayang sebagai kelompok kaum Muda (modernis) yang progresif seperti Haji Rasul. Mencap Syekh Thayyib Umar dengan “Ulama Muda” hanya semata-mata berpegang kepada buku “Ayahku”-nya Hamka saja, itu tidak mencukupi untuk sebuah tulisan ilmiah.

Syekh Muhammad Thayyib Umar memang ternyata pernah menulis di Majalah al-Moenir (Padang), majalah Kaum Muda Minangkabau. Namun itu bukan berarti beliau sehaluan dengan Ulama Muda yang Pro al-Manar Rasyid Ridha. Bukan.

Benar Syekh Thayyib pernah menulis sya’ir sindiran terhadap orang siak (para santri). Sya’ir sindiran itu dimuat dalam al-Moenir tahun 1912, diantaranya berbunyi:

Jangan diikut masa yang lata
Menuntut ilmu suatu mata
Sekedar fiqih hanya dicinta
Sehabis umur sendi anggota

Habislah masa fiqih tak terang
Rupa yang sungguh berupa karang
Awaklah faqih disangka orang
Ilmu yang tahqiq dapatnya jarang

Adapun masa dahulu hari
Ilmu dituntut pemagar diri
Sekedar bergelar faqih dan kari
Untuk pelepas rodi negeri
…………
Lebih-lebih di Minangkabau
Guru masyaikh pandai menghimbau
Ditipunya awam seperti kerbau
Ke dalam khalwat banyak terambau


Namun sindiran yang beliau ungkap ini menyerang teman-teman dan guru-guru surau yang menjadikan agama sebagai jualan semata; tidak berikhlas diri belajar dan mengajar agama. Bukan menolak ulama-ulama surau tentunya.

Sebagai bantahannya terdapat cap “Kaum Muda”, Syekh Thayyib Umar Sungayang mengeluarkan pernyataan pada Majalah Soeloeh Melajoe (tahun 1914), bahwa beliau bukannya “Ulama Muda” menganut mazhab al-Manar (majalah Syekh Rasyid Ridha), yang menyelisihi Ahlussunnah wal Jama’ah dan Mazhab yang Empat.

Syekh Thayyib sebagai guru-guru dan teman-temannya ulama Minangkabau tetap berpegang kepada Ahlussunnah wal Jama’ah dan Mazhab Syafi’i. Meski dalam satu dua masalah beliau berbeda dalam furu’ (cabang), dalam ushul (pokok) tetap perpegang kepada tali yang satu. Itulah kemudian yang dikembangkan oleh murid-murid Syekh Thayyib Umar selanjutnya seperti Syekh Abdul Wahid al-Khalidi Beliau Tobek Godang (pimpinan besar Perti), Prof. Mahmud Yunus, Angku Ajhuri, dan lainnya; mereka tetap asy’ariyyah dan syafi’iyyah.

Al-Fatihah.

Ditulis sesaat sebelum berziarah ke makam Syekh Abdul Aziz “Beliau Simpang Kapuak” (w. 1985, dalam usia 175 tahun), Simpang, Luak Lima Puluh Kota.
Se-dha’if manusia, Apria Putra, yang dimasyhurkan orang dengan “Angku Mudo Khalis”.

Senin, 21 Oktober 2013

Pembawa Muhammadiyah ke Minangkabau adalah Pembela “Qunut Subuh” dan “Jahar Bismillah”

Oleh: Hamba yang Dha’if; yang karam dalam taqshir Apria Putra
Tulisan ini berdasarkan kitab “al-Syir’ah fi al-Radd ‘ala man Qala al-Qunut…” (1938), buku “Ayahku” dan “Islam dan Adat Minangkabau” (Hamka), buku-buku lainnya, dan kesaksian mata Abuya H.Sya’rani Khalil Dt. Majo Reno dan Abuya Drs.H. Abdul Jalal.

Minangkabau (baca: Sumatera Barat) ialah daerah pijakan Muhammadiyah periode awal diluar Jawa. Beberapa disertasi dan tesis mengenai Muhammadiyah di Minangkabau telah ditulis, diantaranya yang populer Dr. Alfian dengan judul terjemahannya: “Politik Modernism Muhammadiyah di Indonesia” (Cornell University), yang fokus penelitiannya ialah Minangkabau, selain Yogyakarta.

Di daerah ini, Minangkabau, organisasi modernis Muhammadiyah cukup berkembang disokong oleh ulama-ulama yang tergolong kepada “Kaum Muda” ketika itu. Ulama-ulama dari Kaum Muda telah menguatkan pengaruh sekitar tahun 1906, diwaktu sebagian ulama mendapat pengaruh Majalah al-Urwatul Wusqa (yang dipimpin Jamaluddin al-Afghani) dan al-Manar (diasuh oleh Rasyid Ridha, Mesir). Salah seorang tokoh utama “Kaum Muda” di Minangkabau ialah Syekh Doktor fid Din Abdul Karim Amrullah (1879-1949), atau yang lebih dikenal dengan “Inyiak De-er” atau “Haji Rasul”, beliau ialah ayahanda dari Buya Hamka.

Buya Hamka dalam bukunya yang terkenal “Ayahku” menuliskan tentang awal mula Muhammadiyah masuk ke Minangkabau. Ketika itu ayahnya –Haji Rasul- melawat ke Yogyakarta, beliau bertemu dengan pendiri Muhammadiyah, Kyai Haji Ahmad Dahlan. Sangat besar sambutan Kyai Ahmad Dahlan kepada Haji Rasul, sebab Majalah al-Moenir (terbitan Padang yang salah satu redaksinya ialah Haji Rasul) ternyata telah sampai ke Yogyakarya, dan majalah tersebut menyokong faham ulama-ulama Muhammadiyah. Apatah lagi, konon Kyai Ahmad Dahlan juga satu guru dengan Haji Rasul di Mekah, yaitu Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi (w. 1916). Bertemulah kedua ulama ini dengan hangatnya; keduanya saling isi-mengisi, Haji Rasul memberikan ide-ide segar kepada Kyai Ahmad Dahlan, dan Kyai Ahmad Dahlan menitipkan Muhammadiyah kepada Haji Rasul.

Pada tahun 1925, menurut cacatan Buya Hamka, pulanglah Haji Rasul ke kampung halamannya Sungai Batang, Maninjau. Di Sungai Batang ini pertama sekali dibuka cabang Muhammadiyah untuk daerah Minangkabau. Dibentuk sebuah pengurus cabang yang diisi oleh murid-murid Haji Rasul, termasuk anak beliau, Buya Hamka, namun Haji Rasul tidak pernah tercatat menjadi anggota Muhammadiyah, meski beliau dalam muktamar-muktamar Muhammadiyah menjadi tetamu kehormatan, sederajat dengan Kyai Mas Mansur.

Meski digolongkan kepada “Kaum Muda”, dan menjadi pionirnya, dan bertindak sebagai pembawa “Muhammadiyah” ke Minangkabau, Haji Rasul tetap dalam pendiriannya. Pendiriannya dalam soal agama dituangkan dalam karya tulisnya, yang sampai saat ini baru ditemukan sebanyak 31 judul. Dari karya-karya ini kita bisa mengenal secara mendalam mengenai kepribadian dan pemikiran Haji Rasul sebenarnya, yang saat ini banyak disalahfahami oleh sebagian peneliti.

Salah satu karyanya yang cukup populer ialah “al-Syir’ah fi Radd ‘ala man Qala al-Qunut fi al-Shubh Bid’ah wa anna al-Jahr bi al-Basmallah Bid’ah aidhan” (Bukittinggi: Drukkerij Tsamaratul Ikhwan, 1938), yang secara sederhana judul ini bermakna: “al-Syir’ah (pengumuman) penolak orang yang mengatakan Qunut Subuh bid’ah dan menjaharkan Bismillah bid’ah.” Dalam karyanya ini Haji Rasul mengupas dalil-dalil, berupa hadis-hadis dan qaul Fuqaha mengenai Qunut Subuh dan menjaharkan Bismillah. Kesimpulannya Qunut Subuh tidak bid’ah, malah sebaliknya, Qunut Subuh ialah sunnat diamalkan. Begitu pula mengenai menjaharkan Bismillah dalam shalat Jahar (Shalat Maghrib, Isya dan Subuh berjama’ah) bukan merupakan Bid’ah, malah menjaharkan Bismillah disyari’atkan, terbentang dalam dalil-dalil yang sharih.


Foto: Kulit depan kitab "al-Syir'ah" karya Haji Rasul

Begitulah sosok ulama-ulama silam: baju boleh berupa-rupa warna, namun yang namanya prinsip pantang diubah, dianjak, digeser walau sedikitpun; mereka ialah ulama-ulama yang berprinsip dan teguh dalam prinsip tersebut sampai badan berkalang tanah. Begitu pula yang dipegang oleh generasi yang digolongkan kepada “ulama modernis” berikutnya, seperti Prof. Mahmud Yunus, Buya Hamka dan Buya MD Dt. Palimo Kayo. Saya mendapat kesaksian mata dari tokoh-tokoh yang pernah menyaksikan mereka ini. Dari Abuya Sya’rani Khalil Dt. Majo Reno (87 tahun), Pimpinan Madrasah al-Manar Batu Hampar Payakumbuh, saya mendapat kesaksian pandangan mata beliau, ketika Mahmud Yunus dan Buya Datuak Palimo Kayo ketika diundang ke Batu Hampar, mereka dijadikan imam shalat Subuh, dan mereka berqunut subuh. Begitu juga Buya Hamka, ketika mengimami shalat Subuh di Mesjid Taqwa Muhammadiyah Padang juga berqunut subuh. Hal ini diungkap oleh Abuya Drs. H. Abdul Jalal, dosen senior Ushul Fiqih dan Fiqih IAIN Imam Bonjol Padang.

Al-Fatihah.....
Rahimahumullah, semoga mereka –ulama besar Minangkabau itu- mendapat tempat yang selayak-layaknya di sisi Allah. Amin.


Ditulis di sisi Mesjid Jami’ Shalihin “Muhammadiyah” Padang Batang,
Diwaktu subuh, 17 Dzulhijjah 1434/ 22 Oktober 2013.
ditangan faqir yang berlumur dosa, Apria Putra.

Senin, 07 Oktober 2013

Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Putri Bengkawas Tinggal Sejarah

Oleh: al-Faqir al-Haqir Apria putra
Berdasarkan ziarah ke Makam Ummi Hajjah Syamsiyah Abbas Bengkawas, dan kunjungan ke bekas kompleks MTI Putri Bengkawas. Kamis/ 3 Oktober 2013.

Dikalangan ulama muda terkenal Diniyyah Putri Padang Panjang sebagai ikon sekolah agama khusus perempuan, sedangkan dikalangan ulama Tarbiyah Islamiyah (ulama tua) dikenal Madrasah Tarbiyah Islamiyah Putri Bengkawas sebagai wadah pendidikan perempuan. Pendidikan perempuan telah menjadi salah satu perhatian dikalangan ulama Minangkabau. Berbagai-bagai artikel untuk mengedepankan pendidikan agama dikalangan kaum hawa banyak bermunculan diberbagai media masa (majalah) ketika itu, yaitu diawal abad 20 tersebut. Hal ini paling tidak telah banyak diungkap oleh berbagai peneliti, diantaranya Jeffrey Hadler lewat disertasinya “Muslim and Matriarchs: Cultural Resilience in Indonesian through jihad and Colonialism” (2008). Namun, dikalangan ulama surau hal ini menjadi satu trobosan baru, dan “MTI Putri Bengkawas” menjadi model yang cocok peningkatan pendidikan agama; pencetak ulama perempuan.

MTI Putri Bengkawas didirikan pada tahun 1940, didirikan oleh seorang ulama perempuan dari Luak Agam, yaitu Ummi Hj. Syamsiyah Abbas binti Syekh Abbas Qadhi Ladang Laweh. Beliau ialah saudara dari ulama terkemuka, Abuya H. Sirajuddin Abbas. Keulamaan –Ummi Syamsiyah- dibuktikan telah karangannya yang populer dalam menengahi perdebatan dengan ulama-ulama Muda. Beliau, Ummi, juga terkemuka karena dipercaya menduduki posisi-posisi penting dalam mengisi kemerdekaan.

MTI Bengkawas telah memainkan peran penting dalam peningkatan mutu pendidikan agama perempuan dalam wadah Persatuan Tarbiyah Islamiyah. Dari 360 madrasah (baca: Pesantren), menurut data tahun 1954, yang dinaungi Persatuan Tarbiyah Islamiyah, baru MTI Bengkawas yang diketahui menyelenggarakan pelajaran agama khusus perempuan.

Meski telah mencapai masa jaya, MTI Bengkawas terkena musibah sebagaimana yang menimpa sekolah-sekolah agama (baca: Pesantren) ketika itu. Berbagai peristiwa, apakah itu peperangan dan sejenisnya, telah menjadi perintang keberlanjutan surau dan madrasah di Minangkabau. Hal ini pulalah agaknya yang menimpa MTI Bengkawas; ia terhanyut waktu, sehingga sisa gedung madrasah ini saja yang dapat kita temui saat ini.

Inilah sejarah yang dapat kita kenang; kenangan atas ulama-ulama Minangkabau silam.


Foto: Bagian depan bekas gedung MTI Putri Bengkawas


Foto: Rumah Ummi Syamsiyah Abbas di komplek MTI Bengkawas


Foto: Gedung MTI Bengkawas, yang kemudian dimanfaatkan oleh "STIKES Fort de Kock"


Foto: Rumah Ummi, sekaligus sebagai asrama


Foto: Gedung MTI yang kemudian digunakan sebagai "play group"


Foto: bekas gedung MTI Putri Bengkawas


Foto: Makam Ummi Syamsiyah Abbas

Sungai Antuan,
Luak Limo Puluah Kota.

al-Faqir al-Haqir Apria putra al-masyhur bi-Angku Mudo Khalisi