<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4620918976357743641</id><updated>2012-02-19T20:20:14.127-08:00</updated><title type='text'>Surau Tuo</title><subtitle type='html'>AKAR ISLAM MINANGKABAU - 
kumpulan khazanah keemasan Islam di Minangkabau. Mulai dari Ulama-ulama tua, Surau hingga karya-karya klasik. Surau Tuo tempat mula mengkaji agama dan adat, tempat menempa akal, budi, raso pareso jo mufakat; tempat menaiki jenjang Syari'at Tarikat Hakikat Ma'rifat. mencapai INSAN KAMIL, "iduik nan ka dipakai, mati nan ka ditompang."</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://surautuo.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4620918976357743641/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surautuo.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Apria Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08209012488814467728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>33</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4620918976357743641.post-2214673799979299842</id><published>2012-02-19T20:18:00.001-08:00</published><updated>2012-02-19T20:20:14.139-08:00</updated><title type='text'>Tudingan Kaum Muda dan Kaum Sufi Minangkabau: Fakta, keprihatinan dan harapan</title><content type='html'>oleh: Faqir yang Karam dalam laut &lt;i&gt;Taqshir&lt;/i&gt;, &lt;b&gt;Apria Putra&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-xHdq_nFd8jM/T0HJjNKlfAI/AAAAAAAAAg8/Sv5UFWvY_AI/s1600/DSC05348.JPG" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="320" width="197" src="http://1.bp.blogspot.com/-xHdq_nFd8jM/T0HJjNKlfAI/AAAAAAAAAg8/Sv5UFWvY_AI/s320/DSC05348.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Suatu sore, dihari jum’at, saya berkesempatan menziarahi seorang ulama tua di Batuhampar. Beliau, Buya H. Sja’rani Chalil Dt. Majo Reno (lahir 1926), cucu dari ulama besar Minangkabau di Sumatera yaitu Maulana Syekh Abdurrahman bin Abdullah al-Khalidi “Beliau Batuhampar” (w. 1899), masih sehat bugar di usia senjanya di komplek Surau Dagang Batuhampar (sekarang Madrasah al-Manar), masih seperti keadaan dimana saya mengunjunginya dua tahun yang lalu. Air wajahnya menunjukkan kejernihan, lazim, sebab beliau turunan dari ulama-ulama Batuhampar yang terkemuka di Minangkabau, pewaris Tarikat Naqsyabandiyah sejak mula pelajaran agama tertancap kuat di Sumatera Tengah ini. Meski jernih wajah tetap menyinarkan semangat, namun ada gerangan yang mengganjal hati beliau. Bagaimana tidak, beberapa orang muda telah pula hendak mengoyang sendi Kaum Sufiyyah di daerah ini, hanya berbekal buku-buku yang dijual dengan promosi penuh rayuan akan para remaja dan orang muda. Beliau menggelengkan kepala membaca buku itu, sebab badan telah pula tua, suara tak selantang dulu semasa muda, mata telah kabur dimakan usia, sedang orang-orang muda masih kuat, tulang masih togok, pikiran masih nyalang menyala. Beliau berfikir, para generasi penerus tiada lagi yang mampu mempaham kitab kuning, &lt;i&gt;Nahwu, Sharaf, Ma’ani, Bayan, Badi’, Mantiq&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Ushul&lt;/i&gt;, belum ada yang tajam, pisau-pisau yang dibawa masih tumpul belaka, bagaimana akan dibawa untuk mendedah dalil-dalil hendak membela Tarikat ini. dan ketika itu aku terhenyak, diam menekur. Sedangkan sedari dulu, lebih seratus tahun yang lalu, Batuhampar, adalah pusat agama Islam, turun-temurun mengajarkan Tarikat Naqsyabandiyah, dan Minangkabau sejak mula Islam mencapai jaya, telah dihuni oleh Ulama-ulama Sufi belaka, yang tak terpungkiri mereka telah memainkan peran sangat krusial dalam dakwah Islam ke berbagai belahan negeri, dari yang dekat hingga yang jauh-jauh. Kemudian beliau, Buya Sya’rani, bercerita tentang ulama-ulama Silam, mengenai laut ilmu mereka, dalam faham dan fasih lidahnya, seperti Syekh Abdul Wahid as-Salihi “Beliau Tabek Gadang” (w. 1950), atau yang kitab-kitab dalam benaknya, seperti Syekh Muda Wali Aceh. Dan aku terharu, tak berkedip, ditambah senyum merekah muda dari wajah tua Buya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“dan kita harus rapatkan barisan”, sebab yang akan membuka langkah buat menghadang  kita adalah mereka yang berpendidikan mesir, yang lancar bahasa Arab &lt;i&gt;‘Ammiyah&lt;/i&gt;-nya,  yang retorika pidatonya jempolan, pandai benar mencari alasan-alasan buat menginjak Tarikat ‘Aliyah ini, ditambah hafal pula hujjah-hujjah &lt;i&gt;Ibnu Taimiyah&lt;/i&gt;, telah pula tamat membaca kitab &lt;i&gt;Ibnu Qayyim&lt;/i&gt;, tahu letak pendapat-pendapat Abdul Wahab, bergaya kesalafi-salafiyan, bila berbicara berhamburan ayat dan hadist, tiada kenal lagi &lt;i&gt;Minhaj, Mughni, Qaliyubi, ‘Amirah, Tuhfah, Nihayah&lt;/i&gt;, tiada mau berpedoman pada &lt;i&gt;Ihya’, Qusyairi, Qutul Qulub&lt;/i&gt;, melarang berpitua kepada &lt;i&gt;Syafi’i&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Asy ‘Ary&lt;/i&gt;, apa lagi... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kita hendak menahan laju zaman, masa telah bertukar. Orang tua-tua yang alim Allamah, telah pula berganti dengan yang muda. Mulai dari Surau yang pernah mencapai keemasan, gilang gumilang di Alam Minangkabau, telah beransur bertukar dengan Madrasah, kemudian terakhir memakai nama Pesantren. Itulah kehendak zaman. Ada pula surau yang ditinggal lapuk saja, atau pula gonjong-gonjongnya yang bertingkat menarik hati, kemudian menjadi memujuk-mujuk mata, tempat berwisata, bahwa ini Minangkabau masa silam. Namun, sampai hatikah kita?? Sampai hatinya hendak merubah agama yang telah sejak semula diwariskan kepada kita, kemudian membelakangi kaji ulama-ulama Silam??? Sudah alim-kah kita dari mereka?? Sebab mereka tiada tahu dengan teknologi, tiada pandai bermanis-manis dengan retorika dan stilistika linguis, kita lihat mereka dalam keadaan usang, berbungkus kerisik. Tahukah kita??? Kalau ada intan, lukluk marjan, permata nilam, ratna manikam dalam kain yang telah lama itu???? Niscaya tuan-tuan tiadakan dapat menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka, orang-orang yang mengaku ‘alim, yang hendak merongrong kaum Sufi itu, merasa bangga dengan “pembaharuan”, yang mereka gembar gemborkan dengan semboyan menggairahkan “memurnikan ajaran Islam, kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah”. Sebuah rayuan cantik, yang mampu menggoda para pelajar dan orang-orang muda yang tidak mempunyai dasar akar agama yang kokoh. Dengan kalimat sedemikian, berarti hanya mereka yang mengikut al-Qur’a dan Sunnah, sedangkan masyarakat banyak, berikut ulama-ulama silam telah jauh dari al-Qur’an!!! Na’uzubillah. Nyatalah telah tertipu mereka. Malah sebaliknya, ulama-ulama silamlah yang nyata memegang al-Qur’an dan Sunnah secara lurus, mengikut para Mujtahid yang telah ijma’ secara masyhur, mengikut akidah yang lurus, kitab dalam kepala, ilmu diamalkan, soal ibadahnya tiada orang-orang sekarang yang mampu menyaingi, bayangkan saja ulama-ulama silam itu hanya dengan berjalan kaki ke Mekkah, dan soal dengan dekat Allah tiadakan terkira sebab &lt;i&gt;zhahir&lt;/i&gt; sekali karomah-nya. Bagaimana dengan orang-orang yang mengaku alim zaman sekarang???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulanya adanya pergolakan agama di Minangkabau, atau apa yang disebut dengan “pembaharuan” itu, mula terjadi pada awal abad XX (“Pembaharuan” dalam masa Paderi bukan pada konteks ini, para pemimpin Paderi nyata merupakan ulama-ulama sufi belaka), walau seabad sebelumnya ada serangan Syekh Salim Sumair dan Sayyid Usman bin Aqil terhadap Syekh Isma’il bin Abdullah al-Minangkabawi, namun serangan itu nyatanya hanya tertuju pada pribadi belaka, bukan pada Tarikat yang dianutnya, ini dapat dilihat pada kitab &lt;i&gt;al-Wasiqatul Wafiyah fi ‘Uluwwi Syani Thariqatus Sufiyyah&lt;/i&gt; (terbitan Batavia, 1882). Pada awal abad XX tersebut, beberapa ulama muda di Minangkabau mulai mempertanyakan keabsahan Tarikat Naqsyabandiyah. Munculnya pertanyaan ini disinyalir besar karena bacaan-bacaan mereka terhadap Majalah al-Manar (Mesir) dan Majalah al-Imam (Pulau Penang). Nama seorang ulama besar asal Ampek Angkek (Agam), Syekh Ahmad Khatib bin Abdul Latief al-Minangkabawi (w. 1916) menjadi masyhur sekali sebab serangannya terhadap Tarikat Naqsyabandiyah lewat kitab &lt;i&gt;Izhar Zaghlil Kazibin fi Tasyabbuhihim bis Shadiqin&lt;/i&gt; (terbitan 1906), yang menyerupakan orang pakai rabithah dengan orang menyembah berhala. Kecaman ini telah dikupas habis oleh seorang ulama besar, pendekar Naqsyabandiyah, Syekh Muhammad Sa’ad bin Tintak al-Khalidi Mungka Tuo (w. 1922) lewat &lt;i&gt;Irghamu Unufil Muta’annitin fi Inkarihim Rabitathal washilin&lt;/i&gt; (dalam Ayah-ku, Hamka, dengan rada menyindir menyebutkan bahwa Syekh Ahmad Khatib telah membasuh dalil-dalil Syekh Mungka, apakah benar demikian kejadiannya?? Apakah Hamka sudah membanding-bandingkan dua kitab ini?? sedangkan Hamka keliru menyebutkan judul kitab Syekh Mungka tsb). Perdebatan ini berlanjut antara dua ulama besar ini lewat kitab-kitabnya. Hingga akhirnya mereka merasa puas dengan pertahanan masing-masing. Dan dalam satu pertemuan jamuan makan di Mekkah, kedua ulama ini bertemu muka, Syekh Ahmad Khatib cukup tercengang dengan pribadi Syekh Mungka yang selama ini hanya dikenal melalui khabar lisan dari para jamaah haji. Keduanya kemudian berbincang-bincang dalam keramah-tamahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kitab perbantahan dua ulama besar ini menjadi kajian ulama-ulama di Sumatera, mereka membanding-bandingkannya, untuk menilai dan memimbang mana yang tahqiq antara keduanya. Kemudian ulama besar seluruh Aceh, Maulana Syekh Muda Wali al-Khalidi Aceh, pendiri dayah besar Darussalam Labuhan Haji, mengomentari perdebatan ini, dengan menyatakan keunggulan Syekh Mungka, dan menyebutkan bahwa kitab Syekh Ahmad Khatib ibaratkan “&lt;i&gt;Harimau yang telah dipancung lehernya&lt;/i&gt;”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua orang ulama terkemuka Minangkabau lainnya juga mengomentari kitab Syekh Ahmad Khatib, diantaranya Syekh Muhammad Khatib ‘Ali di Padang, lewat kitabnya &lt;i&gt;Miftahus Shadiqiyyah fi Istilahin Naqsyabandiyah&lt;/i&gt; (1908) dan, Ulama besar asal Bayang, Syekh Muhammad Dalil bin Muhammad Fatawi (Syekh Bayang), selaku murid dari Syekh Abdurrahman Alahan Panjang, lewat kitabnya &lt;i&gt;Targhub ila Rahmatillah&lt;/i&gt;. Keduanya menyatakan haq atas Tarikat Naqsyabandiyah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah ikhwan!! Bahwa Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi adalah seorang ulama besar dalam Mazhab Syafi’i juga, meski dalam Tarikat beliau tidak sepakat dengan penggunaan rabithah, namun beliau itu pun juga seorang sufi belaka, dan mempunyai pandangan-pandangan khusu mengenai Tarikat, ini dapat kita lihat dalam kitab karangan beliau, yaitu &lt;i&gt;Fathul Mubin fima yata’allaqu bi Umuriddin &lt;/i&gt;(terbitan Mekkah, tahun 1901). Beliau memang radikal dalam soal adat berpusaka kepada kemenakan, namun selain yang satu itu, beliau adalah seorang ulama bijaksana. Dengan demikian gugurlah anggapan para akademisi yang menilai bahwa Syekh Ahmad Khatib adalah sosok radikal tulen, yang memproduksi para pembaharu di dunia melayu, sedangkan murid-muridnya banyak pula yang menjadi ulama Tarikat ahli Sufi yang besar-besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian sebahagian murid-murid Syekh Ahmad Khatib yang pulang ke Minangkabau disebut menjadi pendebat Naqsyabandiyah ulung, seperti Syekh DR. Abdul Karim Amarullah (ayah Hamka), DR. Haji Abdullah Ahmad Padang (Direktur Adabiyah, redaktur al-Munir), ada lagi seperti Syekh Muhammad Jamil Jambek, ada pula seorang akademisi yang menyebut nama Syekh Muhammad Thayyib Umar Sungayang sebagai salah seorang mereka. Tahukah bahwa perjalanan dari setiap pribadi mereka sangat bersinggungan dengan Tarikat Ahli Sufi??? (hal ini akan penulis kupas agak panjang dalam tulisan lain), dan mereka adalah ulama-ulama dari Mazhab Syafi’i belaka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DR. Abdul Karim Amarullah, anak dari seorang ulama besar atas dasar Tarikat Naqsyabandiyah di Maninjau, Syekh Amarullah Maninjau, adalah seorang ulama berjiwa Tasawuf pula, beliaupun telah mengambil Tarikat ‘Alawiyah dan Hadadiyah kepada ayahnya. Dan beliau tetap berpegang kepada pitua &lt;i&gt;Syafi’iyah&lt;/i&gt;, meski dalam satu dua masalah beliau agak kasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut, Abdullah Ahmad, redaktur majalah al-Munir itu, tetap pula berpegang pada kitab-kitab Syafi’iyah, sebagaimana kitab lihat dalam setiap bahasan majalah al-Munir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syekh Muhammad Jamil Jambek, ulama terkemuka ahli Falak itu, dikenal pula telah menerima Tarikat Naqsyabandiyah. 2 jilid karangan beliau, berjudul “Penerangan tentang Asal Usul Tarikat Naqsyabandiyah” (yang terbit agak lama, 1940-an), secara hati-hati mempertanyakan Naqsyabandiyah, tidaklah beliau berkeras. Setelah itu tiada pula terdengar gaungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perihal Syekh Muhammad Thayyib Umar sungayang, seorang ulama tokoh pendidikan, tak habis pikir kita bagaimana para akademisi memasukkan namanya menjadi seorang yang “radikal” itu. Beliau memang memajukan pelajaran agama dengan ilmu bantu, yaitu ilmu-ilmu umum, beliau juga memang suka sindir menyindir, suatu yang lumrah, suka berpantalon, meski nampaknya beliau lebih suka memakai sorban layaknya ulama-ulama besar masa itu. Beliaupun murid seorang Syekh Tarikat Naqsyabandiyah yang besar, Syekh Muhammad shaleh Padang Kandih (w. 1912, ayah “Beliau Tobekgadang” yang terkenal itu), andainya saja beliau tiada belajar Tarikat itu, mustahil beliau tiada mendengar atau menyaksikan dengan pikiran akan Tarikat Naqsyabandiyah di Munggu tersebut. Dan dalam “Soeloeh Melaju” (1914), terbit berita bahwa beliau tiada suka namanya disebut-sebut sebagai salah seorang corong al-Munir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika disebut Syekh Thahir Djalaluddin, ulama besar asal Agam pula, yang hidup di tanah Malaya, sebagai penentang berat, tidak pula kita menemukan bukti. Sebagai seorang ulama lanjut, beliau tetap sebagai Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi. Memang beliau dalam al-Imam telah meniru gaya al-Manar, sebab beliau memang bertemu Abduh dan Rasyid Ridha di Mesir. Muridnya yang cukup dekat, Haji Bakhtiar Djamili, dalam biografinya, memberikan informasi bagaimana wirid-wirid Syekh Thahir, berikut Tarikat-tarikatnya, beliaupun juga seorang yang mahir silat, layaknya ulama-ulama tua Minangkabau lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ditonjolkan dua tokoh pembaharu Mesir terkemuka, Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha, ketika kita mendalami riwayat hidup dua tokoh ini, nyatalah keduanya mempunyai riwayat kedekatan dengan para tokoh sufi berikut Tarikat-tarikat yang ada di Mesir, seamsal Rifa’iyah. Hal ini telah diungkap oleh Elizabeth Sirriyeh, pakar Sufisme dari University of Leeds, dalam “&lt;i&gt;Sufis and Anti-Sufis&lt;/i&gt;”-nya&lt;br /&gt;Dan sekarang kita lebih terperanjat lagi. Kalau pergolakan agama yang terjadi hampir seabad yang lalu itu lahir dari ulama-ulama besar, tahu kitab, satu guru, memakai kearifan “orang Minang”, dan mereka masih Syafi’iyah, yangmana mereka berdebat dengan mengarang kitab, mereka tiada mau mencaci terlalu kasar, tetap solit meski paham tak sama, namun sekarang apa yang kita lihat sudah sangat jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang (abad 21), kebanyakan faham-faham yang membelakangi kaji ulama-ulama Minangkabau dulu itu dibawa oleh tamatan Timur Tengah, termasuk Madinah, Mesir, Sudan dan lainnya (meski tidak semuanya seperti itu, namun gerak langkah yang sebahagian itu telah begitu jauh). Meski beberapa dasawarsa silam (awal abad XX), ada pula orang Minangkabau yang belajar ke Mesir, seperti Syekh Thahir, Syekh Jalaluddin Thaib Bukittinggi (Pendiri Madrasah al-Indonesia di Mekkah), Prof. Mahmud Yunus, Prof. Mukhtar Yahya, Nasharuddin Thaha, Mukhtar Luthfi, dan lainnya, namun tidak seperti ini ronanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, sebagai diutarakan Elizabeth Sirriyeh lewat risetnya, Mesir telah dipengaruhi oleh Abduh dan Rasyid Ridha. Keduanya memainkan peran penting dalam memberantas Tarikat-tarikat Sufi, lewat kedudukan Abduh sebagai Mufti Mesir, dan muridnya Rasyid Ridha yang aktif menulis dalam “al-Manar” yang begitu berpengaruh, berikut kecaman terhadap prilaku “Taqlid” dalam Mazhab fiqih tertentu. Begitu halnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan slogan yang amat manis, “memurnikan ajaran Islam itu dari khurafat, kembali kepada al-Qur’an), mereka (keluaran Timur Tengah) berpidato penuh retorika, atau lewat blosur-blosur jum’at memberitahu kalau masyarakat telah terperosot jauh, telah syirik dan bid’ah, sehingga banyak orang-orang awam dan para pelajar terpedaya. Mereka pakar jargon “Salaf” sebagai tren untuk idola, sangat menawan dengan reklame: “mencontoh Salafus Shaleh”; indah, namun sangat perlu diwaspadai. “Salafi” sebuah nama populer bagi “Wahabi”, yang hendak pula mendangkalkan akidah dengan menyatakan bahwa Tauhid itu cuma mengerti “Uluhiyah” dan “Rububiyah”, sebuah keniscayaan. Generasi muda takkan kenal lagi istilah “Ta’luq Tanzihi Hadis” dan “Ta’luq Suluhi Qadim”, dan takkan mengerti lagi dengan “Kam Mufassal” dan “Kam Mujmal”, tak pula kenal dengan istilah “Duur” dan “Tasasul”, hingga tak tahu “Sifat Dua Puluh” yang membuat orang tua-tua kita dulu sampai kepada “Ma’rifat”. Sebab mereka hanya belajar Tauhid “Uluhiyah” dan “Rububiyyah”, TITIK. Wajar kalau mereka membatalkan suatu amal yang tidak termakan oleh otaknya, seperti ber-“Tahlil” dengan suara melengking khas “Sammaniyah”, atau tidak percaya dengan “Khariqul lil Adah” (peristiwa diluar logika, atau “Karomah”). Memilukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan brosur-brosur mengenai “Salafi” dikirim dari Saudi Arabia, dikeluarkan oleh sebuah departemen yang dikendalikan oleh ulama-ulama Wahabi, yaitu “Departemen Dakwah dan Irsyad”, kumpulan dari ulama-ulama resmi dari “Alu Syaikh” (keluarga/ yang sepaham dengan Syekh Abdul Wahab, sesepuh Wahabi), tersebut nama-nama Abdullah bin Bazz, Shalih Fauzan, dan lainnya, yang mengeluarkan fatwa ganjil-ganjil yang tiada dikenal dimasa Imam yang Empat. Kemudian diperparah dengan munculnya Nashiruddin al-Bani, yang dikatakan ahli Hadist, padahal dia hanya belajar secara otodidak, tidak menerima secara “musalsal” dari guru ke guru (layaknya seorang ulama Hadist yang sejati), yang telah dibuka kedok kesesatannya oleh puluhan ulama dari berbagai penjuru dunia, lewat berbagai macam “Risalah” dan “Kitab”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti itulah realita yang kita hadapi, mau bagaimanapun mesti kita lalui. Karena pepatah Arab memang benar: “Setiap yang jatuh, mesti ada yang memungutnya”. Maka salahnya dalam syara’, ialah hendak merobah sesuatu yang terlah di-“Ijma’”-i sejak dahulu kala. Kalau salah dalam adat, menyebarkan faham-faham baru yang menyalahi orang banyak disebut dengan DAGO-DAGI (mangguntiang nan lah bunta, manyubik nan lah rato), salah diundang-undang Duo Baleh. DAGO = membatalkan mufakat yang telah adil dalam Negeri (=Mufakat Agama). DAGI = membuat haru biru dalam Nagari (yaitu huru hara dengan memasukkan faham baru yang membuat ricuh masyarakat). Karena tersebut Minangkabau, Indonesia, Dunia Melayu umumnya, sejak dahulu telah kuat memegang Mazhab Syafi’i, ber-“I’tiqat” Ahlissunnah wal Jama’ah, dan memakai Kearifan Tasawuf lewat pengamalan Tarikat-tarikat “Mu’tabarah”. Bukan Ahlussunnah versi Wahabi, bukan pula Ahlussunnah versi Ibnu Taimiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah yang dipegang oleh umat Islam, sejak mula Islam itu masuk ke nusantara, diakui oleh sejarawan manapun. Bahkan ketika terjadi “Sumpah Satie Bukik Marapalam”, pengukuhan pertalian adat dan syara’ di Puncak Pato, Lintau, dimasa Paderi, disebutkan bahwa yang dimaksud dengan “Syarak nan Kawi, Adat nan Lazim” itu adalah agama Islam dengan I’tikad Ahlissunnah wal Jama’ah dan atas Mazhab Syafi’i dalam Fiqih. “&lt;i&gt;Dipotong Kabau, Dagiang dilapah, Darah dicacah, Tanduak dibanam ka Tanah, di Mulai jo Fatihah, disudahi jo Do’a, Sia nan Malangga akan dimakan Biso Kewi, Kaateh Indak Bapucuak, Kabawah Indak Baurek, Ditangah digiriak Kumbang…&lt;/i&gt;”. &lt;br /&gt;Begitulah keadaan yang kita terima. Tiada jalan hendak memperjuangkan agama di Ranah Minang ini, kecuali dengan merapatkan barisan, mewariskan ilmu yang kita terima dari ulama-ulama silam, kembali membuka kitab-kitab yang telah lama berdebu, mengisi kembali pengajian kita, mempertegak kembali tonggak-tonggak surau yang telah condong akibat masa. Intinya mendirikan pekerjaan agama, mendidik tunas muda dengan penuh kesungguhan, menyiapkan regenerasi buat memperjuangkan agama dizaman mendatang, melafazhkan kembali “kitab kuning” tanpa menghiraukan omongan kaum Modernis yang menganggapnya dengan sebelah mata, kita singkap intan berlian dari kain yang telah usang, biar berpindah ke kain yang baru. Biar cemerlang ranah Minang ini; “&lt;i&gt;dalam nan indak tajangkau, dangka nan indak tasubarangi, buayo gadang maunikan&lt;/i&gt;”, sebagaimana dahulu. Biar zaman bertukar, meski gaya dan rono berganti, namun dalam agama tetap teguh dalam akidah, “&lt;i&gt;Bagantuang ka Tali nan Indak Kaputuih, Bapagang ka raso nan Indak ka hilang&lt;/i&gt;”, itulah “&lt;i&gt;Iduik nan ka dipakai, mati nan ka di tompang&lt;/i&gt;”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saya masih tertegun, diam menekur, sambil mengapit kitab lama bertuliskan tangan yang telah berusia lebih dari 200 tahun ini, &lt;i&gt;Kifayatul Muhtajin ila Masyrabil Muwahidin bi Wahdatil Wujud&lt;/i&gt; karya Syekh Abdurra’uf Singkel, titipan Buya Sya’rani Khalil Dt. Majo Reno.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4620918976357743641-2214673799979299842?l=surautuo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surautuo.blogspot.com/feeds/2214673799979299842/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surautuo.blogspot.com/2012/02/tudingan-kaum-muda-dan-kaum-sufi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4620918976357743641/posts/default/2214673799979299842'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4620918976357743641/posts/default/2214673799979299842'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surautuo.blogspot.com/2012/02/tudingan-kaum-muda-dan-kaum-sufi.html' title='Tudingan Kaum Muda dan Kaum Sufi Minangkabau: Fakta, keprihatinan dan harapan'/><author><name>Apria Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08209012488814467728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-xHdq_nFd8jM/T0HJjNKlfAI/AAAAAAAAAg8/Sv5UFWvY_AI/s72-c/DSC05348.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4620918976357743641.post-4576737746142451307</id><published>2012-02-12T17:54:00.000-08:00</published><updated>2012-02-12T17:54:04.434-08:00</updated><title type='text'>Khazanah Agama berbuhul Adat: “Kisah Muhammad ‘Arif, Pedoman Hidup di Alam Minangkabau menurut gurisan Adat dan Syara’” karya Syekh Sulaiman ar-Rasuli Candung (1871-1970)</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-qy0AVroyFTw/Tzhs0O2oKII/AAAAAAAAAgk/ByupS_uqn9A/s1600/Kodak-kodak.JPG" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="281" width="214" src="http://3.bp.blogspot.com/-qy0AVroyFTw/Tzhs0O2oKII/AAAAAAAAAgk/ByupS_uqn9A/s320/Kodak-kodak.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Oleh: al-Haqir &lt;b&gt;Apria Putra&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syekh Sulaiman ar-Rasuli atau yang lebih dikenal dengan “Inyiak Canduang”, dikenal sebagai seorang tokoh ulama terkemuka Minangkabau, selain itu beliau juga mumpuni dalam pengetahuan adat Minangkabau. Kealiman beliau dalam ilmu agama tidak terpungkiri lagi, begitu pula pengetahuan beliau, Syekh Sulaiman ar-Rasuli, tentang adat telah diakui luas. Kepakaran beliau terhadap adat ini tampaknya disokong oleh kedekatan beliau dengan ahli adat yang tua-tua dan para Tuanku Laras dimana pengetahuan adat mereka masih kuat berakar. Pengetahuan beliau ini dibuktikan dengan beberapa risalah populer yang berbicara tentang Adat ini. istimewanya, ketika beliau berbicara adat, maka seketika itu beliau juga berbicara mengenai syara’, sebab, ungkap beliau, adat dan syara’ itu berlazim-laziman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu diantara karya beliau yang secara khusus berbicara adat, dan sebagai satu karya beliau yang sangat khas ialah Kisah Muhammad Arif, yang cetak pada tahun 1939 pada Drukkerij Tsamaratul Ikhwan Bukittinggi.  karya ini tampak terinspirasi oleh karya “Rancak di Labuah” yang konon khabarnya aslinya dikarang oleh Tuanku Lareh Kapau itu.  Kisah Muhammad Arif ini ditulis dengan gaya penceritaan Kaba, sarat dengan kata-kata dan permisalan Minangkabau. Nilai tambah yang membuat karya ini istimewa ialah aspek pemikiran tentang adat dan syara’ yang dibingkai dengan cerita pengajaran seorang ibu pada anaknya yang begitu menawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-SKEufDBiH4Q/TzhtCQfkt8I/AAAAAAAAAgw/TFtT61W2IBE/s1600/DSC03042.JPG" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="320" width="214" src="http://4.bp.blogspot.com/-SKEufDBiH4Q/TzhtCQfkt8I/AAAAAAAAAgw/TFtT61W2IBE/s320/DSC03042.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;Foto&lt;/b&gt;: Sampul "Kisah Muhammad 'Arif" (1939)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita ini dimulai dengan mengisahkan seorang perempuan bernama Siti Budiman. Seorang gadis yang disamping mempunyai paras menawan, juga seorang yang taat beragama dan kuat beradat, memakai sopan santun dan patuh kepada orang tua. Ini digambarkan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;Adapun kemudian dari itu, ada seorang perempuan, Siti Budiman tu namonyo, anak Tuanku Lebar Alam, dunsanak Datuak Rajo Adil, sukunyo Bodi Caniago, di kampung Talago Manis, dalam nagari Teluk Paham, di Luhak nan Tigo nanko, pemerintahan Lareh nan Duo, di tanah Alam Minangkabau. Lorong kepada Siti Budiman, urang baiak asal baiak, tahu mudharat dan manfaat, tahu di awal dengan akhir, ingat dirantiang ka mancucuak, tahu di dahan kamanimpo, tahu diereng dengan gendeng, tahu diadat jo pusako, baso basi nan labiah bana, bijaksano arif budiman, sifat cerdik cindokio, patut namanya Siti Budiman.&lt;br /&gt;Lorong kepado agamonyo, Siti taat menyembah Allah, hati suci khusu’ tawadhu’, iman teguh amalan banyak, hati ikhlas beradat, sabar ridha hati tawakkal, tidak digaduah apo-apo. Tentang kepado peromanan, ataupun bentuk rendah tinggi, sadang elok mato mamandang, tidak melebihi ancak-ancak, tidak mengiringi sio-sio. Lorong kapado kelakuan, sifat pemalu dipakainyo, jarang keluar dari rumah, bamain nan tidak bana, salah sedikit tidak kayo, padi tidak sedang kadimakan, suda manyabik anam bulan, tetap hidupnyo membeli beras, bakain sapalolosan, tidak manyimpan di lamari  &lt;br /&gt;Kisah dilanjutkan dengan pernikahan Siti Budiman dengan Muhammad Shidiq Fakih Arifin, seorang pemuda yang alim cendikia. Setelah menikah kedua pasangan ini tetap dalam keadaan miskin, namun kemiskinan ini tak menjauhkan dirinya dari ibadat, malah membuat mereka semakin rajin menegakkan perintah agama. Adapun kerja suami istri ini disiang hari ialah bertani, sedang malamnya mengajar mengaji, mengajar sembahyang dan sifat duapuluh. Begitulah yang berlaku bertahun-tahun lamanya. Sampai Siti Budiman  melahirkan anak laki-laki dinamai dengan Muhammad Arif, diiringi oleh adiknya yang bernama Siti Arifah.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang larat tak dapat ditolak, belumlah baligh dua anak karunia Tuhan, sang suami dipanggil oleh Allah, Muhammad Shadiq wafat. Maka keraslah Siti Budiman sendirian mendidik anak-anak mereka hingga dewasa. Pada suatu waktu, ketika mereka sekeluarga berkumpul, pada saat itulah Siti Budiman menguraikan paparan nasehat untuk anak-anaknya. Nasehat itu antara lain terdiri dari nasehat memilih sekolah, nasehat untuk jadi penghulu, nasehat untuk jadi ulama, nasehat ketika berkawin, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam butir nasehat menjadi Ulama, Siti Budiman berujar kepada Muhammad Arif:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Anak den Muhammad Arif, Alim Ulama den tarangkan, tujuh pulo deang baginyo. Satu ulama matohari, duo ulama sumbu lampu, tigo ulama nan pamacah, ampek ulama banyak lancah, limo ulama bagai kancah, anam ulama ruuk sabun, tujuah ulama nan pagawat. Anak kanduang dangankan bana !&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;Arti Ulama matohari, suluah bendang di nagari, cermin terus dalam suku, kok hidup bakeh batanyo, kok mati tampek ba khaul, itu ulama sabananyo.&lt;br /&gt;Arti ulama sumbu lampu, ulama banyak bapitua tapi untuak urang sajo, sekali tidak diamalkan. Urang banyak dapek faedah, badan sendiri nan tabaka, sebab tidak ado mengamalkan.&lt;br /&gt;Arti ulama nan pamacah, nan banyak dimaso kini, pitua banyak nan ganjia, keceknyo banyak nan baru, pamacah urang sakampuang, pancarai anak jo bapak, pamutus silaturahim, pahasuang malawan guru, deang nagari nan lah kusuik, sabab marampas karajo urang, naiak mimbar jadi khatib, tidak siapo nan manyuruah, sadang awak balun khatib, sampai manyusah pemerintah.&lt;br /&gt;………… &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poin ketiga dari dari pembahagian ulama diatas, menyiratkan pembaca untuk mewanti-wanti ulama yang kerjanya memecah masyarakat, menyebarkan faham baru dan membawa fatwa ganjil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya ini menjadi istimewa karena mengandung nilai-nilai ajaran agama dan adat yang dipaparkan dengan pintar lewat cerita. Terakhir, kisah ini ditutup dengan &lt;i&gt;taqrizh &lt;/i&gt;dari Muhammad Amin Fakih Bandaro Ampang Gadang, dalam bentuk sya’ir menyatakan betapa penting Kisah ini dibaca oleh khalayak ramai. Satu kutipan sya’ir-nya ialah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ………&lt;br /&gt;Wahai saudaro sekalian teman&lt;br /&gt;Patut dipakai buku pedoman&lt;br /&gt;Siang dan malam jadi idaman&lt;br /&gt;Cerita puteri Siti Budiman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isinya patut peukur tubuah&lt;br /&gt;Melebihi buku Rancak di Labuah&lt;br /&gt;Pergaulan hidup janganlah jabuah&lt;br /&gt;Dibaca sedikit hendak bertambuah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isinya cukup tidaklah kurang&lt;br /&gt;Bermacam nasehat ado dikarang&lt;br /&gt;Dunia akhirat keduanya terang&lt;br /&gt;Adat dan syarat terang benderang&lt;br /&gt;………&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4620918976357743641-4576737746142451307?l=surautuo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surautuo.blogspot.com/feeds/4576737746142451307/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surautuo.blogspot.com/2012/02/khazanah-agama-berbuhul-adat-kisah.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4620918976357743641/posts/default/4576737746142451307'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4620918976357743641/posts/default/4576737746142451307'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surautuo.blogspot.com/2012/02/khazanah-agama-berbuhul-adat-kisah.html' title='Khazanah Agama berbuhul Adat: “Kisah Muhammad ‘Arif, Pedoman Hidup di Alam Minangkabau menurut gurisan Adat dan Syara’” karya Syekh Sulaiman ar-Rasuli Candung (1871-1970)'/><author><name>Apria Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08209012488814467728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-qy0AVroyFTw/Tzhs0O2oKII/AAAAAAAAAgk/ByupS_uqn9A/s72-c/Kodak-kodak.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4620918976357743641.post-3033902490358121132</id><published>2012-01-26T18:27:00.000-08:00</published><updated>2012-01-26T18:43:19.483-08:00</updated><title type='text'>Syekh Muda Abdul Qadim Belubus (1878-1957): Ulama besar Tarikat Naqsyabandiyah dan Samaniyah di Sumatera Tengah</title><content type='html'>oleh: &lt;i&gt;al-Faqil Ila Rahmatillah&lt;/i&gt; &lt;b&gt;Apria Putra&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini dikutip dari buku penulis, "Ulama Luak nan Bungsu" dan "Bibliografi Karya Ulama Minangkabau", berdasarkan keterangan Buya H. Anas Malik Belubus, dan keterangan dari kitab-kitab Beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syekh Muda Abdul Qadim atau yang lebih dikenal dengan “Baliau Belubus” adalah seorang ulama terkemuka pemangku Tarikat Naqsyabandiyah dan Tarikat Samaniyah. Meski nama beliau tidak begitu banyak disebut oleh para peneliti Ulama, namun beliau mempunyai pengaruh besar yang tak terbantahkan dikalangan ahli-ahli Tarikat Sufiyah di Sumatera Tengah, Minangkabau Umumnya. Bahkan dikabarkan bahwa khalifah-khalifah beliau, salah satunya Syekh Ibrahim Bonjol di Binjai, telah pula mengembangkan sayap ilmu Tarikat dari silsilah Syekh Mudo menyeberang lautan, sampai Malaysia dan Thailand.  Ketika diadakan kongres Tarikat Naqsyabandiyah di Bukittinggi pada tahun 1954 yang dipayungi oleh Perti, maka beliau Syekh Mudo adalah salah persertanya, disamping 280 ulama-ulama besar lainnya di Sumatera Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-gYdr-BKBdwU/TyIJhwDzTyI/AAAAAAAAAfc/sqqalvydwL0/s1600/Syekh%2BMudo%2BBelubus.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="320" width="244" src="http://3.bp.blogspot.com/-gYdr-BKBdwU/TyIJhwDzTyI/AAAAAAAAAfc/sqqalvydwL0/s320/Syekh%2BMudo%2BBelubus.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;Foto:&lt;/b&gt; Syekh Muda Abdul Qadim Belubus diusia senjanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-Z2TNHskY9iY/TyIJvkKPiOI/AAAAAAAAAfo/RUE6IoXiqw4/s1600/Abdul%2BMalik%2BBelubus.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="320" width="225" src="http://2.bp.blogspot.com/-Z2TNHskY9iY/TyIJvkKPiOI/AAAAAAAAAfo/RUE6IoXiqw4/s320/Abdul%2BMalik%2BBelubus.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;Foto:&lt;/b&gt; Syekh H. Abdul Malik, anak Syekh Mudo yang melanjutkan surau Belubus disamping kemenakan Syekh Mudo, yaitu Syekh H.Mukhtar Angku Tanjuang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belubus, sebuah nagari yang terletak di ketinggian, tak jauh dari kota Payakumbuh. Di daerah ini Syekh Muda Abdul Qadim lahir pada tahun 1878. tempat mula beliau menuntut ilmu ialah Batu Tanyuah. Disini beliau mengaji kitab cara lama kepada salah seorang alim yang tidak begitu dikenal namanya. Setelah dari Batu Tanyuah, beliau kemudian belajar mendalami Syari’at dan Tharikat, paling tidak ada 6 daerah terkemuka dalam Tarikat Sufiyah di Minangkabau yang dikhitmatinya. Tempat-tempat itu ialah, pertama, Batu Hampar (Payakumbuh) tempat bermukimnya ulama besar Maulana Syekh Abdurrahman bin Abdullah al-Batu Hampari an-Naqsyabandiyah (w. 1899). Disini beliau mula mengaji Tarikat Naqsyabandiyah sampai memperoleh Natijah, hingga Syekh Abdurrahman menggelari beliau dengan “Syekh Mudo”. Kedua Padang Kandih, yaitu kehadapan Tuan Syekh Muhammad Shaleh Padang Kandih (w. 1912). Ketiga Kumpulan, tempat bermukimnya ulama besar Maulana Syekh Ibrahim bin Fahati “Angguik Balinduang” Kumpulan (w. 1915). Keempat di Padang Bubus Bonjol, tempat beliau berkhitmat atas jalan Tarikat Naqsyabandiyah di Makam Syekh Muhammad Sa’id Padang Bubus (Abad XIX). Kelima di Simabur, kepada salah seorang ulama masyhur dalam ilmu Hakikat, namun nama beliau ini tidak dikenal lagi. Keenam di Kumango, Batusangkar, kepada Maulana Syekh Abdurrahman al-Khalidi “Beliau Kumango”.  Begitulah pengembaraan keilmuan beliau, terutama dalam bidang ilmu Hakikat dan Tarikat, hingga beliau beroleh nama besar selaku ulama terkemuka dalam Tarikat Ahli Sufi, Naqsyabandiyah dan Samaniyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syekh Mudo setelah itu mulai mengajarkan ilmu yang telah diperolehnya di kampung halaman beliau, Belubus. Disini beliau mendirikan surau, pusat khalwat Naqsyabandi, yang dibarengi dengan pengajaran Tarikat Samaniyah dan Silat Kumango. Surau Belubus kemudian menjadi terkemuka, banyak orang-orang siak dari seantero Minangkabau yang melanjutkan kaji-nya, terutama dalam Tarikat kepada Syekh Mudo Abdul Qadim. Diantara murid-murid beliau tersebut, banyak pula yang kemudian terkemuka pula selaku ulama, diantaranya ialah Syekh Beringin di Tebing Tinggi Medan, Syekh Ibrahim Bonjol di Binjai, Syekh Muhammad Kanis Tuanku Tuah Batu Tanyuah dan Buya H. Muhammad Dalil Dt. Manijun di Jaho.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-9mFuYCLp87s/TyIKEnU2m-I/AAAAAAAAAf0/hViPx4F9OWc/s1600/Anto.JPG" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="320" width="298" src="http://1.bp.blogspot.com/-9mFuYCLp87s/TyIKEnU2m-I/AAAAAAAAAf0/hViPx4F9OWc/s320/Anto.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;Foto:&lt;/b&gt; Makam Syekh Mudo Abdul Qadim, bersama Syekh Mukhtar Angku Tanjuang (Foto: Apria Putra, 2007)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syekh Mudo wafat pada tahun 1957 dan dimakamkan di depan Mihrab Surau Belubus. Selain meninggalkan ilmu Tarikat yang berurat berakar, terutama di kawasan Luak Limopuluah, beliau juga meninggalkan beberapa karangan yang diperuntukkan bagi kalangan Ahli Tarikat. Beberapa buah karangan itu dapat diakses, sebagian lainnya masih tersimpan dan dirahasiakan oleh pewaris Surau Belubus. Diantara karangan Syekh Mudo tersebut ialah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;1) As-Sa’adatul Abdiyah fima Ja’a bihin Naqsyabandiyah menyatakan wirid-wirid amalan Tharikat Naqsyabandiyah.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Risalah ini selesai ditulis pada tahun 1936. pada sampul karya ini tercetak jelas : “Tidak dijual dan tidak dipakai bagi orang yang belum mengamalkan wirid tersebut”. Sebuah peringatan yang umum dikalangan ahli Tharikat, sebab ada kekhawatiran bila kaji tharikat diumbar-umbar maka akan jatuh harganya sebagai ilmu yang istimewa. Adapula karena kaji tharikat diperkatakan dipasaran, ada orang-orang yang belum sampai akal dan ilmunya yang membatalkan kaji tersebut, sebab membatalkannya merupakan suatu kecelaan yang nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum Risalah ini berisi tentang kaifiyah mengambil Tarikat Naqsyabandiyah. Mulai dari Bai’at, penjelasan Zikir-zikir Naqsyabandiyah, Rabithah dan lainnya.  Risalah ini telah dicetak beberapa kali oleh berbagai percetakan. Terakhir dicetak pada Percetakan Sa’adiyah Bukittinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2) As-Sa’adatul Abdiyah fima ja’a bihin Naqsyabandiyah Bagian Natijah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kitab Naqsyabandiyah yang dipergunakan khusus bagi guru-guru mursyid yang telah mencapai khalifah, sebab di dalamnya banyak dibicarakan mengenai rahasia-rahasia Tharikat Naqsyabandiyah yang dilarang dikemukakan kepada khalayak umum. Cetakan ke-2 risalah ini dicetak oleh Syarikah Tapanuli – Medan tahun 1950. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-HYftROiwSEI/TyIKXbkvDZI/AAAAAAAAAgA/KC93xXdSsWM/s1600/as-Sa%2527adah%2BCopi.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="320" width="210" src="http://1.bp.blogspot.com/-HYftROiwSEI/TyIKXbkvDZI/AAAAAAAAAgA/KC93xXdSsWM/s320/as-Sa%2527adah%2BCopi.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;Foto:&lt;/b&gt; Sampul Kitab "as-Sa'adatul Abdiyah", terbitan Medan, 1950&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;3) Risalah Tsabitul Qulub&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Risalah ini merupakan literatur langka mengenai Tarikat Samaniyah di Minangkabau. Secara umum isinya berbicara tentang ilmu Tasawwuf dan Tarikat, namun didalamnya disinggung mengenai amalan Tarikat Samaniyah dengan cukup panjang. Risalah ini terdiri dari beberapa jilid. Sampai saat ini baru diidentifikasi sebanyak 3 juzu’ karya ini. Deskripsi setiap jilid ialah sebagai berikut:&lt;br /&gt;[Pertama] &lt;i&gt;Tsabitul Qulub jilid I&lt;/i&gt;, Kitab ini berisi dalil-dalil yang tersirat untuk mempertahankan amal Tharikat, serta memperkokoh hati murid, supaya tidak terpecah-pecah akibat faham yang bergitu rupanya. Penulisan sumber rujukan dalam kitab ini cukup variatif, menunjukkan kealiman Syekh Muda yang masyhur itu. Diantar sumber-sumber kitab yang menjadi rujukannya ialah Tanwirul Qulub (sangat populer saat ini), Shahifatus Shafa (besar kemungkinan karangan Syekh Sulaiman Zuhdi Jabal Qubis), Manzhirul A’ma, Khazinatul Asrar, ar-Rahmatul Habithah, Hadist Arba’in, Sairus Salikin, al-Minhul Nisbah, Husnul Husain, al-Qusyairi, Lathifatul Asrar, Hidayatus Salikin, Aiqazhul Manam, Hidayatul Hidayah, Mawahib Sarmadiyah, al-Asymuni dan lain-lainnya.Selain menjadi penguat hati si murid, risalah ini juga memuat kaifiyah Tharikat Saman dan Tharikat Muhammad Yaman (pecahan Saman) beserta wirid-wirid dan zikir-zikirnya. Risalah ini kemudian ditutup dengan sebuah fasal yang cukup panjang berisi tentang “Pengajaran tatakala nyawa akan berpulang ke hadirat Allah”.  (cetakan ke-6, pada percetakan as-Sa’adiyah Bukittinggi, t. th)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-BHPinf6nBLM/TyIKpKcCxXI/AAAAAAAAAgM/6pzw_A3oo_w/s1600/Tsabitul%2BQulub.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="320" width="205" src="http://3.bp.blogspot.com/-BHPinf6nBLM/TyIKpKcCxXI/AAAAAAAAAgM/6pzw_A3oo_w/s320/Tsabitul%2BQulub.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;Foto:&lt;/b&gt; Sampul "Risalah Tsabitul Qulub", Juzu' pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Kedua] &lt;i&gt;Tsabitul Qulub jilid II&lt;/i&gt;, Kajian dalam kitab ini tak kalah menariknya. Kitab ini baru dijumpai penulis dalam bentuk manuskrip, salinan tangan oleh Marnis Dt. Bangso Dirajo. Di antara isi kitab ini ialah:&lt;br /&gt;1) Himpunan akidah lima puluh&lt;br /&gt;2) Sebab zikir la ilaha illallahu tidak pakai muhammadur rasulullah&lt;br /&gt;3) Masalah Nur Muhammad dan Nur Allah&lt;br /&gt;4) Kelebihan manusia dari pada segala alam&lt;br /&gt;5) Masalah Najis dan hadast&lt;br /&gt;6) Pembahasan Muqarinah Niat&lt;br /&gt;7) Tentang martabat Ahadiyah, wahdah dan wahidiyah&lt;br /&gt;8) Menyatakan syari’at dan tharikat di dalam sembahyang&lt;br /&gt;9) Rabithah dalam sembahyang&lt;br /&gt;10) Asal suluk 40 hari, dan lainnya banyak lagi&lt;br /&gt;[Ketiga]&lt;i&gt; Tsabitul Qulub jilid III&lt;/i&gt;, pada jilid ini termuat pengajaran Tharikat yang cukup istimewa, yakni membicarakan perhubungan shalat dengan Tharikat. Di mana di dalamnya ada tertulis:&lt;br /&gt;Maka dari itu nyatalah bagi kita bahwa ilmu Tharikat itu bersuanya di dalam sembahyang. Sepatutnya kita mahir ilmu tharikat itu dengan beberapa martabatnya. &lt;br /&gt;………………&lt;br /&gt;Maka apabila hilang hamba dan hilang kalimat dan tinggal nur, maka nur itulah yang dinamakan dengan zikir Hakikat. Maka apabila hilang hamba hilang kulimah hilanglah pula nur maka pulanglah hak kepada yang mepunyai, dan kembalilah hamba kepada Tuhannya. (Tsabitul Qulub jilid ke-III)&lt;br /&gt;Kemudian kitab ini disambung dengan pembahasan mengenai “nafsu yang tujuh”, dijabarkan dengan kalimat jelas dan ringkas. Kemudian kitab ini disudahi dengan wirid-wirid dalam tharikat Saman.&lt;br /&gt;Asal naskah kopiannya masih ada tersimpan di surau Belubus, yakni cetakan Islamiyah – Medan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) &lt;b&gt;Al-Manak: mempusakai dari ayah, Syekh Mudo Abdul Qadim Belubus&lt;/b&gt; (disebut juga dengan kitab “Bintang Tujuh”)&lt;br /&gt;Kitab ini berisi ilmu-ilmu yang dipusakai dari Syekh Muda Abdul Qadim. Diantara isinya cara mencari awal-awal bulan Arab, mencari awal bulan Ramadhan, ilmu Bintang Tujuh (saat baik dan buruk), ilmu pertukangan rumah adat Alam Minangkabau, mencari waktu baik dan jahat, mencari barang hilang dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-79ro2ssAMGo/TyIK4M6_WVI/AAAAAAAAAgY/RgiYpJ--hGI/s1600/al-Manaq%2BBelubus.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="320" width="208" src="http://4.bp.blogspot.com/-79ro2ssAMGo/TyIK4M6_WVI/AAAAAAAAAgY/RgiYpJ--hGI/s320/al-Manaq%2BBelubus.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;Foto:&lt;/b&gt; Sampul Kitab "al-Manaq" (Bintang Tujuh)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4620918976357743641-3033902490358121132?l=surautuo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surautuo.blogspot.com/feeds/3033902490358121132/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surautuo.blogspot.com/2012/01/syekh-muda-abdul-qadim-belubus-1978.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4620918976357743641/posts/default/3033902490358121132'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4620918976357743641/posts/default/3033902490358121132'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surautuo.blogspot.com/2012/01/syekh-muda-abdul-qadim-belubus-1978.html' title='Syekh Muda Abdul Qadim Belubus (1878-1957): Ulama besar Tarikat Naqsyabandiyah dan Samaniyah di Sumatera Tengah'/><author><name>Apria Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08209012488814467728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-gYdr-BKBdwU/TyIJhwDzTyI/AAAAAAAAAfc/sqqalvydwL0/s72-c/Syekh%2BMudo%2BBelubus.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4620918976357743641.post-4759667944134288790</id><published>2012-01-03T19:07:00.000-08:00</published><updated>2012-01-03T19:07:05.535-08:00</updated><title type='text'>Konferensi Tarikat Naqsyabandiyah di Bukittinggi tahun 1954</title><content type='html'>oleh: &lt;b&gt;al-Faqir Ilallah Apria Putra&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Tulisan ini berdasarkan kitab “Tabligul Amanah fi Izalati Khurafat wa Syubhah” (Syekh Sulaiman ar-Rasuli, ditambah surat panjang dari Syekh Yunus Yahya Magek, 1954), “Gerakan Kaum Tua di Minangkabau” (Disertasi Prof. Sanusi Latief, 1988), “Kitab Lima Serangkai”, “Majalah Sinar Keemasan” (1964), “Rahasia Mutiara Tarikat Naqsyabandiyah”, “Pertahanan Tarikat Naqsyabandiyah” (1950), “Buku Penutup Umur” (Karangan H.Jalaluddin)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulama-ulama Minangkabau, yang notabene-nya merupakan para alim yang memegang Tarikat-tarikat Ahli Sufi telah memainkan peran penting dalam perjalanan agama di pulau perca ini. keadaan ini paling tidak tetap berlaku hingga awal abad XX, sebelum datangnya angin pembaharuan yang di bawa oleh apa yang disebut sebagai “Ulama Muda” atau “Kaum Muda”, dimana mereka dengan segala daya, berikut hujjah-hujjah yang keras dan kasar menghantam pengalaman ulama-ulama Silam. Untuk hal ini, tulisan Martin van Bruinessen (berjudul “Tarikat: Amalan Dunia dan Akhirat?” dalam Kitab Kuning-nya) telah membuka tabir realita andil kaum Tarikat dalam dinamika Islam berikut dalam pencapaian kemerdekaan republik ini. Ini tidak terbantah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tulisan kali ini kita akan melihat satu peristiwa penting, dikalangan ulama-ulama Tarikat di Minangkabau dalam merespon dinamika intelektual Islam di daerah ini. peristiwa, yang mungkin kurang dibicarakan para sejarawan Islam di daerah ini ialah Konferensi Ulama-ulama Tarikat Naqsyabandiyah yang diadakan di Bukittinggi, pada tanggal 17-18 januari 1954. Konferensi ini diadakan oleh Dewan Tarikat Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti), yang dihadiri oleh oleh 280 ulama-ulama, guru musyid dan khalifah-khalifah Naqsyabandiyah se-Sumatera Tengah, diantara ulama-ulama besar yang hadir dalam konferensi tersebut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Syekh Abdul Ghani Batu Basurek – Kampar, Riau. Beliau Syekh Tarikat Naqsyabandiyah terkemuka setelah Syekh Abdul Wahab Rokan al-Khalidi. Yang sewaktu konferensi tersebut, Beliau –Syekh Ghani Batu Basurek- berumur 143 tahun (wafat 1961 dalam usia yang sepuh 150 tahun). &lt;br /&gt;2. Syekh Sulaiman ar-Rasuli Candung, ulama besar Perti. Waktu itu beliau berusia 83 tahun (wafat ditahun 1970, dalam usia senja 99 tahun).&lt;br /&gt;3. Syekh Muhammad Sa’id al-Khalidi – Bonjol. Diwaktu itu beliau berusia 74 tahun (beliau wafat di Bonjol pada tahun 1979, dalam usia 99 tahun).&lt;br /&gt;4. Syekh Mudo Abdul Qadim Belubus (wafat pada tahun 1957). &lt;br /&gt;5. Syekh Adam Palembayan – Agam.&lt;br /&gt;6. Syekh Ibrahim Harun Tiakar Payakumbuh (wafat di tahun 1961)&lt;br /&gt;7. Syekh Abdul Majid Koto nan Gadang – Payakumbuh.&lt;br /&gt;8. Syekh Darwisy Arsyadi Batu Hampar Payakumbuh, cucu dari yang mulia Syekh Abdurrahman Batu Hampar.&lt;br /&gt;9. Syekh Muhammad Zain Kumpulan – Lubuk Sikaping.&lt;br /&gt;10. Syekh Abdussalam Bangkinang – Kampar.&lt;br /&gt;11. Syekh Mansur Kamang Bukittinggi&lt;br /&gt;12. Syekh Ma’shum Penampungan – Bukittinggi.&lt;br /&gt;13. Syekh Muhammad Yunus Tuanku Sasak – Talu, Pasaman&lt;br /&gt;14. Syekh Yunus Yahya Magek – Bukittinggi&lt;br /&gt;15. Syekh Husen Amini al-Khalidi Pasia – Bukittinggi&lt;br /&gt;16. Syekh Yahya al-Khalidi Malalo – Tanah Datar&lt;br /&gt;17. Syekh Umar Lubuk Sikaping, Pasaman&lt;br /&gt;18. Syekh Hasyim al-Khalidi Pariaman&lt;br /&gt;19. Syekh Abdurrahman al-Khalidi Simalanggang – Payakumbuh&lt;br /&gt;20. Syekh Dzulqarnain al-Khalidi Situjuh – Payakumbuh&lt;br /&gt;21. Syekh Abu Bakar al-Khalidi, Maninjau&lt;br /&gt;22. Syekh Abdurrahman Kuran-kuran, Lubuk Sikaping&lt;br /&gt;23. Syekh Abdul Wahab al-Khalidi Pelangi PSK&lt;br /&gt;24. Syekh Muhammad Rasyad Koto Marapak, Pariaman&lt;br /&gt;25. Syekh Muhammad Syafi’i al-Khalidi Pandai Sikek, Padang Panjang&lt;br /&gt;26. Syekh Muhammad Kanis “Tuanku Tuah”, Batu Tanyuah.&lt;br /&gt;27. Syekh Abu Syamah al-Khalidi Tigo Baleh, Bukittinggi&lt;br /&gt;28. Syekh Sulaiman al-Khalidi Malampah, Lubuk Sikaping&lt;br /&gt;29. Syekh Zakaria Labai Sati Malalo, Tanah Datar&lt;br /&gt;30. Syekh Sulaiman al-Khalidi Magek, Bukittinggi&lt;br /&gt;31. Syekh Qulan al-Khalidi Painan, Pesisir Selatan&lt;br /&gt;32. Syekh Mahmud Abdullah “Beliau Tarantang”, Payakumbuh&lt;br /&gt;33. Syekh Arifin Jamil “Tuanku Solok” Kamang, Bukittinggi&lt;br /&gt;34. Syekh Jamaluddin al-Khalidi Padang Luar Kota&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu agenda konferensi itu ialah mengoreksi buku-buku H. Jalaluddin (beliau ini mertua dari Prof. Kadirun Yahya yang terkenal dengan konsep “Suluk Metafisika”-nya itu) yang kala itu banyak beredar. Buku-buku itu banyak memuat pelajaran Tarikat Naqsyabandiyah, yang menurut hemat konferensi tersebut banyak terdapat kesilapan. Hal ini penting sebab H. Jalaluddin diketahui bukan sebagai seorang ulama yang mumpuni untuk membahas masalah-masalah Tarikat, dalam riwayatnya disebutkan bahwa H. Jalaluddin tidak belajar agama layaknya orang-orang siak masa itu, kebanyakan pengetahuannya disinyalir hanya diperoleh dari bacaan buku saja, dan mengenai ijazah Tarikatnya yang dikatakan berasal dari Syekh Ali Ridha jabal Qubais patut dipertanyakan keabsahannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-o2n7CO1EQuo/TwPBa4_T3VI/AAAAAAAAAfE/bdN0tmv38ZE/s1600/Pertahanan%2BJALALUDDIN.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="320" width="222" src="http://4.bp.blogspot.com/-o2n7CO1EQuo/TwPBa4_T3VI/AAAAAAAAAfE/bdN0tmv38ZE/s320/Pertahanan%2BJALALUDDIN.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;Foto&lt;/b&gt;: Sampul kitab "Pertahanan Tarikat Naqsyabandiyah" karangan H.Jalaluddin, terbitan Tsamaratul Ikhwan (Bukittinggi) tahun 1950. salah satu kitab yang dikoreksi oleh Konferensi Tarikat Naqsyabandiyah di Bukittinggi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil dari konferensi tersebut kemudian ditulis oleh Syekh Sulaiman ar-Rasuli dalam sebuah risalah yang berjudul&lt;i&gt; Tablighul Amanah fi Izalatil Munkarat wasy Syubhah&lt;/i&gt;, yang berarti &lt;i&gt;menyampaikan amanat untuk menghilangkan kemungkaran dan syubhat yang dimasukkan dalam Tarikat Naqsyabandiyah&lt;/i&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-g9ZduuhT3F0/TwPAxJypriI/AAAAAAAAAe4/-1UvUZGx-1s/s1600/Tabligul%2BAmanah.JPG" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="320" width="210" src="http://3.bp.blogspot.com/-g9ZduuhT3F0/TwPAxJypriI/AAAAAAAAAe4/-1UvUZGx-1s/s320/Tabligul%2BAmanah.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;: Sampul Kitab &lt;i&gt;Tablighul Amanah&lt;/i&gt; susunan Syekh Sulaiman ar-Rasuli (cetakan kedua oleh Maktabah Nusantara, Bukittinggi, 1954), kitab ini disertai satu surat panjang dari Syekh Yunus Yahya Magek&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam risalah ini disebutkan sebanyak 33 kesalahan H. Jalaluddin dalam karangan-karangannya. Keputusan dari konferensi tersebut disebutkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Bahwa buku-buku yang dikarang oleh pengarang tersebut yang berkenaan dengan tarikat banyak sekali mengandung kesalahan&lt;br /&gt;b. Bahwa membaca buku-buku itu haram atas orang yang belum membedakan salah dan benar yang tersebut dalam buku-buku tersebut.&lt;br /&gt;c. Bahwa menaruh buku-buku tersebut haram kalau tidak dicoreng mana yang salah&lt;br /&gt;d. Wajib memberitahukan orang yang belum tahu akan kesalahan buku tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Risalah ini diterbitkan pada tahun 1954 pada percetakan KAHAMY, Bukittinggi. Kemudian dicetak ulang pada percetakan Nusantara, Bukittinggi, 1954, disertai dengan satu surat yang panjang dari H. Yunus Yahya, isinya membantah keras pembelaan H. Jalaluddin (yaitu dalam buku “Lima Serangkai”) yang dinilai merendahkan Syekh Sulaiman ar-Rasuli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun buku-buku H.Jalaluddin telah diberi lampu merah oleh ulama-ulama Minangkabau di tahun 50-an itu, namun beberapa bukunya yang kemudian masih dicetak ulang masih mempunyai banyak peminat, yang tentunya mereka yang belum membaca “Tabligul Amanah”. Setelah wafatnya, kepemimpinan PPTI (Persatuan Pengamal Tarikat Islam) yang didirikannya dipimpin oleh muridnya Syekh Mustary, Tarikat-nya pun mempunyai cabang yang lumayan banyak, bahkan sampai ke Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-Y3og30X8gJ8/TwPB8mUVAFI/AAAAAAAAAfQ/uysj7JyqoKg/s1600/Lima%2BSerangkai.JPG" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="320" width="222" src="http://1.bp.blogspot.com/-Y3og30X8gJ8/TwPB8mUVAFI/AAAAAAAAAfQ/uysj7JyqoKg/s320/Lima%2BSerangkai.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;Foto&lt;/b&gt;: Sampul "Kitab Lima Serangkai" (1964) karangan H.Jalaluddin, dimana dalam tulisannya ini disebutkan pembelaannya, buku ini dipandang sebagai bentuk merendahkan Syekh Sulaiman ar-Rasuli, karena disertai dengan kata-kata yang tak pantas.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4620918976357743641-4759667944134288790?l=surautuo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surautuo.blogspot.com/feeds/4759667944134288790/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surautuo.blogspot.com/2012/01/konferensi-tarikat-naqsyabandiyah-di.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4620918976357743641/posts/default/4759667944134288790'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4620918976357743641/posts/default/4759667944134288790'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surautuo.blogspot.com/2012/01/konferensi-tarikat-naqsyabandiyah-di.html' title='Konferensi Tarikat Naqsyabandiyah di Bukittinggi tahun 1954'/><author><name>Apria Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08209012488814467728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-o2n7CO1EQuo/TwPBa4_T3VI/AAAAAAAAAfE/bdN0tmv38ZE/s72-c/Pertahanan%2BJALALUDDIN.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4620918976357743641.post-9195543252089203885</id><published>2011-12-18T22:41:00.000-08:00</published><updated>2011-12-18T22:50:12.899-08:00</updated><title type='text'>Syekh Batu Hampar: Jejak Rekam Tokoh Pendidikan Tradisional Surau di Pedalaman Minangkabau</title><content type='html'>oleh: &lt;b&gt;al-Faqir Ilallah Apria Putra&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sebahagian besar artikel ini dikutip dari buku penulis, "Ulama-ulama Luak nan Bungsu"&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;1. Pengantar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sejarah pendidikan Islam di Minangkabau, Surau merupakan institusi yang tidak bisa dikesampingkan. Surau memainkan peranan yang sangat signifikan dalam menyebarkan keilmuan Islam jauh sebelum pendidikan modern yang berbasis Madrasah muncul. Dalam sejarah tercatat, tokoh-tokoh besar yang mempunyai pengaruh luas banyak lahir dari Surau. Mereka dididik dan dibesarkan dalam lingkungan Surau. Sebutlah beberapa nama seumpama Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi (w. 1916) yang pernah menjadi Mufti mazhab Syafi’i dan Imam di Mesjid al-Haram Mekah; Syekh Thahir Jalaluddin yang menjadi Mufti di Pulau Penang Malaysia; Syekh Janan Thaib yang menjadi guru besar pula di Mekah al-Mukarramah, dan banyak lagi lainnya. Begitu pula tokoh-tokoh nasional yang berjasa dalam masa awal pembentukan Indonesia, semisal Agus Salim, Hamka, Hatta dan lainnya. Ketokohan mereka tidak dapat dilepaskan sepenuhnya dari Surau, atau boleh dikata pernah beroleh pendidikan di Surau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memperoleh gambaran sebuah komplek pendidikan surau di abad-abad yang lalu di Minangkabau, kita akan melihat aktifitas surau besar yang didirikan oleh Syekh Abdurrahman (1777-1899), yaitu surau Batu Hampar, Payakumbuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2. Syekh Batu Hampar dan Jejak Biografis Tokoh abad XIX&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syekh Batu Hampar ialah salah seorang ulama terkemuka di pedalaman Minangkabau di abad XIX. Ulama besar nan shaleh itu ialah Tuan Syekh Abdurrahman Batu Hampar, kakek dari poklamator RI, Muhammad Hatta. Tuan Syekh Batu Hampar ini disebut oleh orang banyak dengan panggilan “Beliau”, sebagai ta’zhim dan hormat akan ulama kharismatik ini, sebab bila disebut nama Beliau secara langsung terasa akan kurang adab. Menurut Tarikh-nya Beliau dilahirkan pada tahun 1783. Ayah Beliau Abdullah gelar Rajo Baintan, sedang ibu beliau dikenal dengan panggilan Tuo Tungga. Beliau dilahirkan dilingkungan yang taat beragama dan cinta ilmu pengetahuan, kondisi inilah yang secara langsung membentuk kepribadian beliau yang shaleh dan cinta dengan ilmu, watak ini pula yang diwarisi oleh keturunan Tuan Syekh Batu Hampar dikemudian hari, tercatat anak cucu beliau merupakan Syekh belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengembaraan Beliau menuntut ilmu di mulai pada usia yang masih beliau. Tepat di umur 15 tahun, Beliau meminta izin kepada ayahnya untuk pergi merantau menuntut ilmu ke Gologandang di daerah Batu Sangkar. Beliau-pun berangkat ke Batusangkar untuk menemui seorang ulama yang terkemuka masa itu, “Beliau Gologandang”. Syekh Abdurrahman menghabiskan beberapa tahun menuntut ilmu kepada ulama besar ini. Konon kabarnya, Syekh Abdurrahman pergi ke Gologandang dengan membawa tas rotan yang berisi pakaian, sebuah buntil berisi beras, satu leha (untuk mengaji) dan uang 6 sen yang diberikan orang tuanya untuk bekal selama berjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bertahun-tahun menimba ilmu di Gologandang, kemudian Beliau berangkat ke tempat yang lebih jauh lagi. Dengan berjalan kaki, menempuh perjalanan yang memang sulit, Syekh Abdurrahman pergi ke Tapak Tuan – Aceh Barat untuk menuntut ilmu yang lebih tinggi lagi. Di sini Syekh Abdurrahman menghabiskan waktu selama 8 tahun, menuntut ilmu agama. Dari Tapak Tuan, Beliau berlayar ke Mekkah untuk mengerjakan Haji dan menambah ilmu yang lebih tinggi lagi. Di Mekkah, Beliau sempat bermukim menuntut ilmu selama 7 tahun. Di sini pula beliau belajar Tarikat Naqsyabandiyah, dan mendapat ijazah di Jabal Abi Qubais. Syekh Abdurrahman pula kembali ke Aceh, kemudian pergi lagi ke Mekkah. Pada akhirnya beliau kembali pulang ke Minangkabau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-FlK0nQ9CRvs/Tu7dLybqZ9I/AAAAAAAAAeg/9ezxShC5uSA/s1600/CIMG1708.JPG" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="320" width="192" src="http://2.bp.blogspot.com/-FlK0nQ9CRvs/Tu7dLybqZ9I/AAAAAAAAAeg/9ezxShC5uSA/s320/CIMG1708.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;Foto&lt;/b&gt;: salah satu "Ijazah Qira'at Imam Ashim" yang diterima oleh seorang Siak (Penuntut) yang bernama Usman bin Abdullah at-Taifuri, diterimanya dari Syekh Arsyad Batu Hampar, diterima dari Syekh Abdurrahman Batu Hampari, beliau terima dari Syekh Muhammad As'ad bin Abdullah Aceh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama sudah Syekh Abdurrahman meninggalkan kampung halaman, terhitung sudah 48 tahun semenjak beliau berangkat menuntut ilmu pertama kalinya di usia 15 tahun. Selama masa 48 tahun itu pulalah beliau menuntut ilmu kepada ulama-ulama terkemuka saat itu, sampai ke negeri yang jauh-jauh, Mekkah al-Mukarramah. Di usia-nya yang ke-63 tahun beliau teringat kampung halamannya, Batu Hampar, negeri yang telah lama ditinggalkannya. Sedang beliau telah lama mengaji, dada beliau-pun telah berisi penuh dengan ilmu pengetahuan. Beliau kemudian pulang  ke kampung halamannya melewati jalur Galogandang tempat beliau mengaji dulu. Di sebuah perkampungan, di negeri Barulak Tanah Datar, Beliau bertemu dengan seorang sosok perempuan tua yang sedang mengambil upah menuai padi di sawah-sawah sekitar itu. Ternyata Syekh Abdurrahman tak ingat lagi jalan ke Batu Hampar, karena sudah sangat lama ditinggalkannya, lalu bertanya kepada perempuan tua itu. Setelah bertanya dan bercakap-cakap sebentar dengan perempuan itu, keduanya saling berpandangan lama. Tiba-tiba mereka saling berpelukan dengan berlinang air mata, menangis tersedan-sedan, karena ternyata mereka adalah anak dan ibu. Kala itu si ibu sedang mencari nafkah hidup dengan pergi menuai padi ke negeri yang jauh dari Batu Hampar. Si anak, karena sudah lama sekali merantau, tak tahu lagi jalan ke rumah orang tuanya, begitupun beliau tidak dapat mengenal ibunya dengan segera. Si ibu sudah mengira selama ini anaknya telah tiada dan tak diharapkan lagi pula. Tiba-tiba kini mereka telah berjumpa, begitu mengharukan. Akhirnya beliau ajak ibunya untuk pulang bersama ke Batu Hampar. Kabarnya Beliau sendiri yang menjujung beban-beban padi ibunya itu dari Barulak terus hingga sampai di kampungnya Batu Hampar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mula-mula Beliau bersama ibunya tinggal menetap di kampungnya yang terletak di lereng bukit antara bukit Pauh dan bukit Sulah di Batu Hampar. Kerja Beliau pertama kali di kampungnya ialah membuat ladang tebu dimana sering anak-anak gembala datang ke tempat Beliau. Sesuai dengan sifat pribadi Beliau yang ramah tamah, maka anak-anak gembala itu Beliau pergauli secara baik. Mereka sering kali datang untuk meminta atau membeli tebu obat haus dahaga mereka setelah mengembala. Mereka Beliau beri tebu dan sering berucap: “tebu-tebu itu semakin manis rasanya jika lebih dahuli membaca Basmallah sebelum memakannya”. Dengan keramah tamahan itulah Beliau meresapkan rasa beragama kepada anak-anak gembala itu. Dengan sikap dan cara beliau itulah, tak heran jika dibelakang hari beliau didatangi oleh ribuan orang-orang siak dari berbagai daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekerjaan berat yang mula-mula beliau lakukan ialah membina masyarakat banyak, dan menyadarkan mereka untuk mengerjakan perintah syara’ dengan sebaik-baiknya. Walaupun masyarakat waktu itu telah beragama Islam, namun yang namanya berbuat maksiat masih juga dikerjakan. Menyabung ayam dan berjudi menjadi kebiasaan yang telah mendarah daging, bahkan kalangan adat-pun ikut menyokong perbuatan-perbuatan seperti itu. Dengan rasa simpati, wibawa serta cara beliau yang persuasif, beliau berhasil menjalankan pekerjaan menegakkan agama dengan sukses. Beliau mampu menyadarkan tetua adat di kampung itu, Datuak Malano. Melihat Dt. Malano yang telah pergi ke Mesjid untuk shalat jum’at, maka berbondong-bondonglah anak kemenakannya dan masyarakat banyak mengikuti beliau pergi ke Mesjid. Begitupula dengan acara adu ayam dan berjudi yang telah populer itu, secara beransur-ansur mulai di tinggalkan, sampai tidak dikerjakan lagi. Kesuksesan Syekh Abdurrahman melaksanakan dakwahnya terletak pada kelembutan beliau, himbauan yang persuasif, tidak melalui kekerasan sama sekali dan dakwah beliau menyinap ke hati yang paling dalam. Apatah lagi beliau selaku ulama besar, keilmuan dan keshalehan beliau tentu menjadi modal dasar arah dakwah beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syekh Abdurrahman semakin terkenal oleh masyarakat banyak dan mendapat tempat di hati mereka. Beliau-pun semakin dihormati selaku orang alim, namanya semakin harum hingga daerah-daerah di luar Batu Hampar. Beliau yang berperawakan tinggi dan tegap, kulit kuning bersih. Jubah dan sorban beliau yang selalu terpasang rapi menandakan keulamaan.&lt;br /&gt;Syekh Abdurrahman wafat pada tanggal 23 oktober 1899, dalam usia 122 tahun. Beliau ulama yang berjasa besar terhadap Islam, hingga ke daerah-daerah jauh di Minangkabau. Dedikasinya untuk mendidik orang siak memang tak ternilai. Posisi beliau dalam mengajar ilmu al-Qur’an, Syari’at dan Tarikat Naqsyabandiyah sangat istimewa. Beliau telah meninggalkan kompleks penguruan Islam yang besar di masanya, orang-orang siak yang menjadi muridnya yang selalu menjadi perpanjangan tangan beliau setelah wafatnya dan beliaupun telah meninggal anak-anak cucu yang telah berhasil dididik menjadi orang-orang shaleh dan taat untuk menggantikan Beliau nantinya. Dan nama Beliau akan tetap abadi, sebagai tertera pada cap stempel besi dan ijazah Beliau, tersuratlah nama besar “Maulana Syekh Abdurrahman bin Abdullah al Khalidi an-Naqsyabandi al-Jawi Batu Hampari”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;3. Surau Batu Hampar dan Model Ideal Pendidikan Surau Minangkabau&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada mulanya Syekh Abdurrahman membangun sebuah surau untuk mengajarkan ilmu agama yang telah puluhan tahun beliau tuntut. Pelajaran yang mula beliau berikan ialah Tilawah al-Qur’an, sebab Beliau sangat mahir Qira’at dengan bermacam-macam iramanya, maka banyaklah masyarakat berdatangan ke surau Beliau, dari semua kalangan tua muda belajar membaca al-Qur’an dengan berbagai model pelafalan dan alunan irama yang syahdu. Selain itu, pelajaran yang Beliau beri juga diawali dengan dasar-dasar pengetahuan agama, dimulai dengan mengkaji rukun tiga belas (rukun-rukun shalat) dan segala hal yang berhubungan dengan ibadah, kemudian dikaji pula tauhid dengan mendalami sifat dua puluh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Syekh Abdurrahman semakin masyhur kemana-mana, sehingga makin banyaklah jumlah orang siak yang datang ke Batu Hampar, buat mengaji kepada Tuan Syekh. Orang siak ini datang dari seluruh wilayah Minangkabau, sampai ke negeri yang jauh-jauh, seperti Jambi, Bengkulu dan Bangka Hulu. Sedangkan rumah-rumah penduduk telah penuh sesak dihuni oleh oleh orang-orang siak sebelumnya. Maka muncullah inisiatif Syekh Abdurrahman buat membangun sebuah kompleks yang khusus dihuni oleh orang-orang siak, kompleks tersebut dikenal dengan “Kampung Dagang”. Beberapa bangunan induk dan berpuluh-puluh surau di bangun mengelilinginya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangunan induk yang terpenting ialah mesjid besar dengan gaya arsitektur Minangkabau, terbuat dari kayu yang ada pula berukir-ukir, gonjongnya bertingkat-tingkat. Di sini Syekh Abdurrahman mengajar al-Qur’an dan mengajar perkara-perkara agama kepada murid-muridnya yang silih berganti. Mesjid ini dikenal dengan nama “Mesjid Dagang”. Bersebelahan dengan Mesjid, terdapat sebuah bangunan yang cukup besar, bertingkat dua, itulah bangunan tempat melaksanakan Suluk, kabarnya sewaktu itu peserta suluknya pernah mencapai jumlah 400 orang dalam setahun. Persis di sebelah timur Mesjid ini dibangun sebuah bangunan permanen dengan sebuah menara yang cukup menarik, dengan gaya menara khas timur tengah. Menara ini dibangun di masa Syekh Arsyad, anak Beliau, yang dipergunakan untuk mengumandangkan azan. Di sebelah timur menara itu terdapat bangunan permanen lain, di sinilah Syekh Abdurrahman dan anak cucunya di makamkan. Sebuah bangunan lagi yang menjadi daya tarik dan simbol kejayaan Batu Hampar kala itu ialah sebuah rumah gadang yang cukup besar, didirikan diatas kolam. Rumah gadang ini menjadi tempat penginapan para penziarah, pejalan kaki yang kemalaman atau masyarakat yang hendak beribadah selama berbulan-bulan di Batu Hampar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-FVHRKj0_H8Y/Tu7dzC5_c-I/AAAAAAAAAes/Y4stR3dMLyc/s1600/DSCN1786.JPG" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="320" width="312" src="http://4.bp.blogspot.com/-FVHRKj0_H8Y/Tu7dzC5_c-I/AAAAAAAAAes/Y4stR3dMLyc/s320/DSCN1786.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;Foto&lt;/b&gt;: Salah satu sudut Kampung Dagang (Surau Batu Hampar), khas dengan gaya ornament Timur Tengah, yang dibangun di era 1920-an oleh Syekh Arsyad Batu Hampar setelah kepulangannya dari berpetualang di Timur Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih kurang 200 meter ke arah timur, diseberang jalan raya yang membatasi perkampungan itu, terdapat satu bangunan induk lainnya yaitu “surau Baru”. Disekitar bangunan-bangunan induk inilah berdiri lebih kurang 30 surau yang rata-rata berukuran 7x8 meter, umumnya bertingkat dua. Di surau-surau inilah para orang-orang siak yang ramai itu bertempat tinggal dan mengualang pelajarannya dengan guru-guru tuo (guru-guru bantu Syekh Abdurrahman). Surau-surau ini diberi nama sesuai dengan asal daerah orang siak yang menghuninya. Untuk daerah Limapuluh Kota ada surau Mungka, surau Tiakar, surau Payobasuang, surau Suayan, surau Sarik Laweh, surau Taeh, surau Koto nan IV, surau Sungai Beringin, surau Suliki, surau Sungai Rimbang, surau Pauh Sangik, surau Tiakar Guguk, surau Lundang dan surau Pangkalan; untuk daerah Agam ada surau Canduang, surau Sungai Angek, surau Tilatang Kamang, surau Banuhampu, surau Magek, surau Padang Tarab dan surau Lasi; untuk daerah Solok ada surau Saniangbakar, surau Kacang dan surau Solok; untuk daerah Tanah Datar ada surau Simabur dan surau Batipuah; untuk daerah Pesisir Selatan ada surau Bayang, surau surau Painan, surau Batang Kapas dan surau Siguntur; untuk daerah Pariaman ada surau Pariaman; untuk daerah Padang ada surau Padang; untuk daerah Riau dan Jambi ada surau Limo koto; dan untuk daerah Palembang dan Bengkulu ada surau Palembang dan surau Krui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengurus administrasi dan kebutuhan orang-orang siak yang sangat banyak tersebut, maka Syekh menunjuk petugas-petugas khusus untuk membidangi segala sesuatu yang berkaitan dengan orang-orang siak. Hal ini bertujuan agar pesuluk dan orang-orang siak tidak terbebani dengan urusan-urusan yang dapat mengganggu kosentrasi beribadah dan belajarnya. Diantara hal-hal yang kelola oleh petugas-petugas itu ialah untuk membangunkan orang-orang siak di waktu Subuh, tukang sapu dan menjaga kebersihan, tukang kelola air bersih, tukang masak untuk orang-orang siak, tukang masa bagi pesuluk, tukang kelola alat-alat dapur dan tukang simpan bahan-bahan makanan. Dengan adanya petugas-petugas khusus ini membuat orang-orang siak menjadi semakin betah belajar dan melaksanakan ibadah suluk, sebab makan telah tersedia begitupula kebersihan surau masing-masih telah pula terjaga, sehingga hati penghuni surau besar Batu Hampa ini benar-benar bulat tertuju untuk belajar agama dan ibadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang keperluan air bersih telah diusahakan oleh Syekh sendiri, yaitu dengan mengalirkan air dari sebuah mata air yang tidak jauh dari kompleks surau. Air itu dialirkan dengan pipa-pipa besi dan melewati 4 bak penyaring, kemudian disalurkan ke surau-surau tempat orang-orang siak bermukim. Air-air itu membuat sarana surau Baru Hampar semakin lengkap. Dengan air itu orang-orang siak dapat mencukupi kebutuhan mandi dan mencuci. Disamping itu, tak ketinggalan dikompleks surau sendiri dilengkapi dengan sebuah pasar kecil dan beberapa kedai kelontong yang menjual segala kebutuhan orang-orang siak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedisiplinan sangat dituntut bagi penghuni-penghuni surau. Tata tertib dan peraturan sangat dipentingkan. Bagi mereka yang melanggar akan dikenai sangki berupa hukum rendam. Seorang santri yang melanggar direndam di dalam kolam yang telah disediakan dengan disaksikan oleh orang-orang siak lainnya. Hal ini kontan saja secara praktis membuat penghuni kompleks surau Batu Hampar menjadi aman, sebab hampir-hampir tak ada yang melanggar kedisiplinan. Semua sistem diatur dengan sebaik-baiknya, maka dapat dipastikan model surau Batu Hampar ialah salah satu contoh tipikal pendidikan Islam yang bermutu tinggi dan paling baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara pengajaran yang dikenal dengan itu sesuai dengan cara surau ialah berhalaqah, murid-murid hadir mengelilingi guru. Menyimak serta mendengarkan penjelasan Syekh. Untuk membantu mengulang pelajaran, maka orang-orang siak akan dibimbing oleh “guru-guru tuo”, yaitu sejumlah orang-orang siak yang senior yang telah cakap dalam pelajaran dan sudah beberapa lama mengaji kepada Syekh. Para orang siak-pun tak dipungut bayaran sepeserpun. Namun mereka secara berkala, dan dengan sukarela memberikan shadaqah kepada sang Syekh. Ada pula dari penziarah dan pesuluk yang datang cukup banyak dari negeri yang jauh-jauh, mereka telah menyediakan sadakah untuk syekh jauh-jauh hari, dengan ikhlasnya. dari pemberian sukarela orang-orang siak dan para penziarah telah mebuat kehidupan sanga Syekh menjadi mapan, lebih dari cukup. Bahkan sang syekh dapat pula dengan hasil sadaqah itu mengantar anak-anaknya pergi ke Mekkah untuk berhaji dan belajar agama, sehingga tercatat anak cucunya dikemudian hari merupakan ulama terkemuka yang belajar ke Mekkah. Dengan hasil sadaqah itu pulalah kehidupan kompleks surau Batu Hampar menjadi semakin makmur, para petugas komplek dibiayai dengan itu, juga makan orang siak dan kebutuhan hidup mereka dapat di tanggung pihak surau dengan baik. Selain itu, sang Syekh juga mempunyai beberapa piring sawah dan beberapa kebun kelapa, yang itu semua digunakan untuk kemakmuran surau Besar Batu Hampar dan para penghuninya.&lt;br /&gt;Orang-orang siak seluruhnya laki-laki, jumlah mereka diperkirakan 1000 sampai 2000 orang, termasuluk para pesuluk yang terdiri dari ratusan orang. Jumlah tertinggi di masa kepemimpinan Syekh Arsyad, anak Beliau, dan di masa Syekh Arifin, cucu Beliau.  Sebuah jumlah yang cukup fantastis. Maka dapat dibayangkan betapa meriahnya suasana surau Syekh Abdurrahman kala itu, di mana ribuan orang-orang belajar agama, tampak betapa pendidikan Islam ala surau terasa sangat hidup di Luak nan Bungsu. Jika malam hari, suasana semakin asyik dan semarak. Berpuluh-puluh damar menyala di surau-surau dan tiang-tiang penerang di kompleks surau Batu Hampar. Sekali-kali, sewaktu acara-acara penting jumlah-jumlah damar (lampu penerang) bertambah hingga ratusan banyaknya. Jika dilihat dari jauh tampak seperti kerumunan bintang-bintang, sangat indah dan menyenangkan. Apatah lagi setiap malamnya, alunan suara-suara merdu dan bacaan ayat-ayat al-Qur’an begemuruh di kerumunan cahaya-cahaya damar itu. Bunyinya ibarat dengungan lebah terbang, itulah suara orang-orang siak mendaras kaji dan membaca al-Qur’an, sakin banyaknya. Sangat ramai dan sangat semarak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di surau Besar Batu Hampar yang terkemuka itu, Syekh Abdurrahman dan anak cucunya mengabdikan diri untuk mendidik dan mengajar orang-orang siak dari berbagai daerah. Pelajaran pertama dan dasar diberikan kepada orang-orang siak itu ialah kecapakan tilawah al-Qur’an, terutama dalam Qira’at Imam ‘Ashim. Syekh Abdurrahman sendiri beberapa lama di Mekkah telah belajar Qira’at  kepada Qari-qari terkemuka di tanah suci. Kemahiran beliau dalam soal Qira’at tidak dapat disangsikan lagi. Pelajaran al-Qur’an dengan segala macam Qira’at-nya menjadi daya tarik tersendiri bagi orang-orang siak untuk ramai mengaji di Batu Hampar. Setelah menamatkan al-Qur’an dan melakukan khatam al-Qur’an dengan acara yang cukup meriah, orang-orang siak akan diajarkan pelajaran-pelajaran agama yang lebih mendalam lagi, sesuai dengan peringkatnya masing-masing. Pelajaran selanjutnya mengenai ilmu-ilmu alat dan hukum syari’at, yang mencakup kajian bahasa Arab (Nahwu, Sharaf dan Balaghah), Tafsir, Hadist dan Fiqih Syafi’iyyah. Sedang untuk orang-orang siak yang telah mantap dalam ilmu-ilmu tersebut, dapat melanjutkan untuk mengaji ilmu Tarikat kepada Syekh, yang untuk selanjutnya mengikuti suluk dalam Tarikat Naqsyabandiyah selama beberapa hari. Bagi mereka yang telah sampai maqam suluknya, maka akan diberi sang Syekh ijazah sebagai tanda pengakuan akan ilmunya, dan orang siak diizinkan untuk pulang mengembangkan ilmu yang telah didapat atau tinggal bersama syekh untuk menjadi “guru tuo” sekaligus “khalifah” beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang ulama tua, Beliau Syekh Abdurrahman terbilang tipe ulama shaleh yang sangat dihormati dan disegani. Apatah lagi Beliau ialah Qari, alim pula dalam syari’at dan dalam pula fahamnya dalam bidang Tasawwuf dan Tarikat, maka Beliau jelas merupakan tipe ulama besar yang berpengaruh luas. Ini terlihat dari banyaknya orang-orang siak yang menyauk ilmu dari Batu Hampar, Beliau mampu menjadikan surau Batu Hampar menjadi pemukiman orang siak besar dari berbagai penjuru Minangkabau, ditambah pula dengan sistem administrasi yang sangat baik untuk masa itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai keshalehan Beliau yang masyhur itu, diusia yang lebih 100 tahun bilangannya, berbulan-bulan Beliau sakit tua terlentang berbaring diatas kasur disebuah kamar di belakang Mesjid beliau, sehingga dengan cara demikian beliau selalu shalat berjama’ah sambil berbaring menekurkan kepala, akhirnya dengan mengerdipkan mata saja tanpa tinggal waktu shalat satu waktupun sampai datang ajal Beliau. 11 tahun sebelum Beliau wafat, Beliau telah lumpuh total karena faktor usia sudah sangat tua, 111 tahun. Namun Beliau telah terlihat taat beribadah, tak terhalangi oleh fisik yang sudah lemah dan usia yang sudah renta. Jika waktu shalat telah tiba, maka murid-muridnya yang banyak itu menggotong beliau dengan tandu ke Mesjid untuk shalat. Begitu lah Beliau Batu Hampar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selaku ulama besar yang shaleh, beliau terkemuka pula dalam Tasawwuf, sebagai pengamal sekaligus Syekh Tarikat Naqsyabandiyah. Pada musim-musim suluk, disamping aktifitas mengaji yang terus dijalankan, surau Batu Hampar berubah menjadi pemukiman pesuluk yang jumlahnya ratusan orang. Dapat dikatakan bahwa surau Batu Hampar kala itu merupakan salah satu pusat Tarikat Naqsyabandiyah yang terbesar, terkemuka dan tertua di Luak nan Bungsu yang masih tercatat rapi oleh para ahli Biografi. Sampai saat sekarang, setelah usia surau yang kini menjadi Pesantren itu mendekati 2 abad lamanya, aktifitas suluk tetap menjadi daya tarik sendiri, dan ratusan orang masih mengerjakan khalwat di Batu Hampar setiap tahunnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut cacatan Belanda yang ditulis J. C. Boyle, yang merupakan catatan Syekh-syekh Naqsyabandiyah di dataran tinggi Minangkabau abad-19, digambarkan sosok Syekh Abdurrahman sebagai seorang ulama besar yang sangat dihormati oleh masyarakat Banyak dan murid-muridnya ramai berdatangan dari berbagai penjuru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ribuan orang siak belajar kepada Syekh Batu Hampar, hingga menjadi alim semuanya. Merekalah yang pulang ke kampung masing-masing membuka surau pengajian yang tak kalah penting kedudukannya dalam transmisi keilmuan islam selanjutnya. Diantara murid-murid beliau yang terkemuka yang masih ditemui catatannya ialah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Syekh Salim Batu Bara, dimasyhurkan orang dengan “Beliau Andalas”, termasuk murid Beliau periode pertama.&lt;br /&gt;2. Syekh Abdus Shamad&lt;br /&gt;3. Syekh Ibrahim Kubang Suliki.&lt;br /&gt;4. Syekh Muhammad Arsyad, anak Beliau sendiri dan pengganti Beliau setelah wafatnya. Syekh Arsyad ialah alim terkemuka dan dapat dikatakan mewarisi keilmuan Syekh Abdurrahman. Pada mulanya Beliau ialah guru tuo di surau Ayahnya, kemudian pergi ke Mekkah untuk naik haji dan belajar. Pernah pula berkeliling timut tengah antara lain Mesir, Baitul Maqdis dan Istanbul.&lt;br /&gt;5. Maulana Syekh Abdurrahman al-Khalidi (wafat 1927) Kumango – Batu Sangkar. Sangat masyhur dikalangan ahli Tarikat, digelari dengan “Beliau Kumango”. Beliau syekh Tasawwuf yang terkemuka, sampai pula belajar ke Mekkah dan Madinah. Termasuk salah satu pembawa dan penyebar Tarikat Samaniyah di Minangkabau. Ulama perumus silat Tradisional yang kental akan Tasawwuf “Silek Kumango”. Masyhur keramat Beliau ditengah-tengah masyarakat. &lt;br /&gt;6. Syekh Sulaiman ar-Rasuli (wafat 1970), dimasa belianya beliau belajar al-Qur’an di surau Syekh Batu Hampar.&lt;br /&gt;7. Syekh Mudo Abdul Qadim Belubus Payakumbuh (wafat 1957), dimasyhurkan orang “Beliau Belubus”, ulama besar Tarikat Naqsyabandiyah dan Samaniyah yang sangat berpengaruh di Luak nan Bungsu. Terkenal pula sebagai syekh yang keramat. Menurut catatan sejarah Beliau, gelar “Syekh Mudo” diberikan langsung oleh Syekh Abdurrahman Batu Hampar kepada Syekh Abdul Qadim, sebab dimasa muda belajar ke Batu Hampat telah dapat mencapai maqam yang tinggi dalam mengamalkan Tarikat Naqsyabandiyah.&lt;br /&gt;8. dan banyak lagi lainnya. Kabarnya Syekh Abdullah “Beliau Halaban” pernah pula menyauk ilmu di Batu Hampar ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Tuan Syekh tersebut wafat, maka kepemimpinan surau Batu Hampar dipimpin kemudian oleh anak-anak cucu Beliau yang tak pula kurang alim-nya. Periode-periode kepemimpinan setelah Syekh Abdurrahman ialah :&lt;br /&gt;1. Syekh Muhammad Arsyad (wafat 1924), anak Syekh Abdurrahman. Memimpin dari tahun 1899 hingga 1924. di masa Beliau ini perkembangan surau Syekh Abdurrahman semakin pesat, para orang siak makin berdatangan ke Batu Hampar.&lt;br /&gt;2. Syekh Muhammad Arifin Arsyadi (wafat 1938), cucu Syekh Abdurrahman, anak dari Syekh Arsyad. Terkemuka sebagai salah seorang ulama besar Perti. Beliau memimpin surau Batu Hampar dari tahun 1924 hingga 1938. selain itu beliau juga mendirikan MTI Batu Hampar, yang juga ramai dikunjungi orang-orang siak.&lt;br /&gt;3. Syekh Ahmad (wafat 1949), anak Syekh Abdurrahman. Beliau memimpin surau dari tahun 1938 hingga 1949.&lt;br /&gt;4. Syekh Darwisy Arsyadi (wafat 1964), cucu Syekh Abdurrahman, adik dari Syekh Arifin. Memimpin surau dari tahun 1952 hingga tahun 1964.&lt;br /&gt;5. Syekh Dhamrah Arsyadi (wafat 1992), cucu Syekh Abdurrahman, adik Syekh Arifin. Memimpin surau dari tahun 1964 hingga 1992. di masa Beliau ini surau Batu Hampar di kembangkannya menjadi lebih modern dengan nama “Madrasah al-Manar”. Namun materi pelajaran tidak diobah-obah, dan Aktifitas Tarikat Naqsyabandiyah tidak pudar sama sekali.&lt;br /&gt;6. Buya H. Sya’rani Khalil Dt. Majo Reno (lahir 1926), biasa dipanggil dengan gelar “Datuak Oyah”, cucu Syekh Abdurrahman. Beliau memimpin Perguruan al-Manar dari tahun 1992 hingga sekarang. Disamping mengasuh perguruan, beliau juga memimpin suluk di Batu Hampar yang masih digemari hingga ratusan orang jumlahnya setiap tahun.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4620918976357743641-9195543252089203885?l=surautuo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surautuo.blogspot.com/feeds/9195543252089203885/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surautuo.blogspot.com/2011/12/syekh-batu-hampar-jejak-rekam-tokoh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4620918976357743641/posts/default/9195543252089203885'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4620918976357743641/posts/default/9195543252089203885'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surautuo.blogspot.com/2011/12/syekh-batu-hampar-jejak-rekam-tokoh.html' title='Syekh Batu Hampar: Jejak Rekam Tokoh Pendidikan Tradisional Surau di Pedalaman Minangkabau'/><author><name>Apria Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08209012488814467728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-FlK0nQ9CRvs/Tu7dLybqZ9I/AAAAAAAAAeg/9ezxShC5uSA/s72-c/CIMG1708.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4620918976357743641.post-2995652957865210480</id><published>2011-12-01T19:05:00.000-08:00</published><updated>2011-12-01T19:05:42.301-08:00</updated><title type='text'>Al-Marhum Syekh Muhammad Sa’ad al-Khalidi Mungka Tuo (W. 1922) dan Polemik Tarikat Naqsyabandiyah dengan Mufti Mekah Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi (W. 1916)</title><content type='html'>oleh: al-Faqir ila Rahmatillah &lt;b&gt;Apria Putra&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syekh Muhammad Sa’ad atau yang dikenal dengan Syekh Mungka atau “Beliau Surau Baru” merupakan salah seorang ulama besar yang terkemuka di Minangkabau di masanya. Di ranah Minang, beliau diakui kealimnya, digelari dengan Syaikhul Masyaikh (guru besar) karena dikunjungi oleh berbagai Ulama di Minangkabau, dan lebih dari itu beliau merupakan pemuka Tarikat Naqsyabandiyah al-Khalidi terkemuka di pulau perca ini.  Kemasyhurannya paling tidak dikarenakan bantahan beliau terhadap Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi lewat risalahnya yang begitu besar pengaruhnya dikalangan ulama-ulama masa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau dilahirkan di Koto Tuo, Mungka, Payakumbuh, pada tahun 1857 dari suku Kutianyia (Pitopang). Di kampung halamannya, beliau telah berguru kepada beberapa ulama terkemuka Minangkabau kala itu, diantaranya &lt;b&gt;Syekh Abu Bakar Tabiang Pulai&lt;/b&gt; (w.1889), &lt;b&gt;Syekh Muhammad Jamil Tungkar&lt;/b&gt; (w. 1890), &lt;b&gt;Syekh Muhammad Shaleh Padang Kandih&lt;/b&gt; (w. 1912). Kemudian beliau melanjutkan pengembaraan intelektualnya di Mekah, Yaman dan Madinah, yaitu pada tahun 1894-1898 dan 1912-1915.   di Tanah suci beliau sempat menimba ilmu kepada ulama-ulama terkemuka seumpama Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, Syekh Muhammad Hasbullah al-Makki dan Syekh Ahmad bin Zainuddin al-Fatani. Beliau dikabarkan juga pernah berguru kepada Mufti al-‘Allamah az-Zawawi, guru Sayyid Usman Betawi yang masyhur.  Disana beliau juga bertemu dengan ulama-ulama Tarikat yang mempunyai reputasi seperti Syekh Abdul Karim Banten (Tarikat Qadariyah wa Naqsyabandiyah), Syekh Abdul ‘Azhim Maduri (Tarikat Naqsyabandiyah Muzhariyah) dan Syekh Abdul Qadir al-Fatani (Tarikat Syathariyah), halmana pertemuan beliau dengan ulama-ulama ini tentu menambah wawasan intelektual beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiba di kampung halaman, Mungka, beliau mendirikan sebuah surau bertingkat dua yang dinamai dengan Surau Baru. Surau ini menjadi terkemuka, dan menarik banyak orang-orang siak dari berbagai penjuru Minangkabau. Banyak diantara murid-muridnya menjadi ulama besar dikemudian hari. Sebahagian besar ulama-ulama Tua yang mengikuti pergolakan awal XX tersebut merupakan hasil didikan beliau ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-VQr5rgxQlsQ/Ttg_48_GXXI/AAAAAAAAAd8/6QHco6JOEEs/s1600/Surau%2BBaru%2BSyekh%2BMuhammad%2BSaad%2Bcopy.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="240" width="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-VQr5rgxQlsQ/Ttg_48_GXXI/AAAAAAAAAd8/6QHco6JOEEs/s320/Surau%2BBaru%2BSyekh%2BMuhammad%2BSaad%2Bcopy.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;Foto&lt;/b&gt;: Surau Baru Mungka saat ini setelah beberapa kali renovasi. nampak ciri khasnya telah hilang, padahal dulu Surau ini besar bergonjong bertingkat 2, dengan sebuah menara menjulang ke langit&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam bidang intelektual, beliau dituakan diantara ulama-ulama Tua. Pernah, sebelum wafatnya beliau menjadi pendiri dan penasehat Ittihad Ulama Sumatera (Persatuan Ulama Sumatera) bersama dengan ulama-ulama besar lainnya seperti Syekh Abdullah Beliau Halaban (w. 1926).  Dalam tulis menulis, beliau juga dikenal mahir mengarang dalam bahasa Arab, apalagi dalam jawi. Karangan-karangan beliau konon cukup banyak.  Tapi sayang, hanya satu dua karangan beliau itu yang sampai kepada kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1906 datanglah sebuah Risalah dari Mekkah al-Mukarramah, yang dikarang oleh Syekh Ahmad Khatib bin Abdul Latif al-Minangkabawi (1852-1915), seorang ulama di Mesjidil Haram – Mekkah, menjabat sebagai Imam dan Khatib dalam Mazhab Syafi’i, yang juga berasal dari Minang tepatnya dari Ampat Angkat –Bukittinggi. Risalah itu berjudul &lt;b&gt;Izhar Zaghlil Kazibin fi Tasyabbuhihim bis Shadiqin&lt;/b&gt; (=menyatakan kebohongan orang-orang yang menyerupai orang yang benar). Risalah itu sesampainya di Padang kemudian dicetak di daerah itu dan tersebar luas di Minangkabau. Yang mana dalam Risalah (berjumlah 144 halaman pada cetakan Mesir) dipertanyakanlah keabsahan Tarikat Naqsyabandiyah, dipakailah beberapa dalil untuk menyatakan bahwa Tarikat Naqsyabandiyah tak lebih dari bid’ah belaka, hingga yang lebih parahnya dalam Risalah itu diserupakanlah orang-orang yang memakai Rabithah sebagai orang yang menyembah berhala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja dengan kemunculan Risalah ini membuah geger masyarakat Minangkabau, apatah lagi ulama-ulamanya, karena Tarikat Naqsyabandiyah telah menjadi amalan bagi setiap ulama, dan berbagai daerah di Minangkabau menjadi pusat Tarikat terpadat di dunia Melayu. Kehidupan Tarikat bagi ulama-ulama Minangkabau yang diibaratkan sebagai pakaian itu sekarang jelas terusik dengan kehadiran risalah tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat luas jadi hiruk pikuk, banyak kehebohan terjadi, hingga ada yang saling mengkafirkan. Dari sinilah pangkal timbulkan kaum muda di Minangkabau, mereka yang hendak mengusik pengajian ulama-ulama tua itu, merusak kato mufakat, sampai sekarangpun masih banyak yang bertipe seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disaat kericuhan itu semakin menjadi, sedangkan ulama-ulama Tarikat sendiri masih banyak yang diam, maka tampillah Syekh Muhammad Sa’ad Mungka untuk mengangkat penanya, menuliskan sebuah Risalah sebagai I’thiradh (bantahan) akan kitab Syekh Ahmad Khatib itu, sekaligus mendudukan masalah Tarikat Naqsyabandiyah dengan sebenar-benarnya. Syekh Muhammad Sa’ad ketika itu menulis sebuah Risalah yang berjudul &lt;b&gt;Irgham Unufil Muta’annitin fi Inkarihim Rabithathal Washilin &lt;/b&gt;(= meremukkan hidung penantang, yaitu mereka yang mengingkari Rabithah orang-orang yang telah sampai kepada Allah) . Kitab ini kemudian dikirim ke Mekkah lewat jama’ah haji. Pada permulaan Risalah itu, Syekh Sa’ad menulis:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Setelah Basmallah dan Hamdalah serta shalawat)&lt;i&gt;&lt;br /&gt;Tatakala di thaba’ orang kitab izhar Zaghlil Kazibin dan masyhurlah sikatib negeri Minangkabau, gaduhlah orang awam dan caci mencaci mereka itu, hingga mengkafirkan setengah mereka itu mereka yang lain orang yang ditetapkan oleh Allah hatinya atas yang haq. Dan demikian itu dengan sebab tersebut di dalam kitab izhar tersebut menyerupakan orang yang pakai rabithah dengan orang yang menyembah berhala dan di datangkan beberapa dalil dari pada al-Qur’an dan hadist dan kalam sahabat dan ulama sufiyah. Maka dengan sebab itu memintalah dari pada al-haqir Muhammad Sa’ad bin Tanta’ Mungka Tuo setengah dari pada ikhwan dari pada ahlus shalah bahwa menyebutkan al-Haqir akan wajah bagi penguatkan segala dalil rabithah dan bagi penolakkan segala wajah membatalkan rabithah dan pemasukkan amalan Tarikat Naqsyabandiyah kepada syari’at, supaya jangan terlonsong dan terkecuh orang-orang yang tiada kuasa menfahamkan dalil. Maka oleh itulah terbukalah hati hamba bagi menyuratkan beberapa wajah mengambil dalil dengan beberapa ayat dan hadist bagi menetapkan Rabithah, dan beberapa wajah bagi penolakan mengambil dalil dengan beberapa ayat dan hadist atas batil rabithah dan lainnya. Dan memudakan hamba dengan kadar yang sedikit atas sekira-kira faham hamba yang lemah dan hamba namai akan dia dengan Irgham Unufil Muta’annitin fi Inkarihin Rabithathal Washilin. Dan harap hamba daripada Allah Ta’ala akan bahwa dijadikannya akan dia akan tulus ikhlas bagi wajahnya yang karim dan akan jadi sebab bagi me[ng]hela do’a ikhwan yang shaleh-shaleh dan bagi memperoleh limpahan cahaya yang dipetaruhkan-Nya pada hati auliya’-Nya yang shadiqin dan bagi menang dengan jannatul Na’im. &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;(kutipan al-Ayatul Bayyinat fi Izalati Khurafat ba’dh Muta’ashsibin karangan Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, cetakan at-Taqdum al-Ilmiyah – Mesir pada tahun 1908, hal. 13-14)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah muqaddimah-nya, Syekh Sa’ad Mungka kemudian menjelaskan duduk perkara masalah Tarikat, tersebab Beliau ulama Tarikat pula maka dijelaskan bahwa Tarikat Naqsyabandiyah ada asalnya dari Syara’ berdasarkan dalil-dalil yang sharih dan yang tersirat. Dibantahnyalah keterangan-keterangan Syekh Ahmad Khatib dengan hujjah yang berdalil pula. Tak tanggung-tanggung dalam risalah-nya, Syekh Sa’ad juga mempesertakan kajian ilmu alat yang komplit, mulai tata bahasa hingga ilmu ushul. Lalu masuklah Syekh Sa’ad mengoreksi keterangan-keterangan Syekh Ahmad Khatib yang menurut faham beliau berjauh-jauhan dalil dan madlul¬-nya itu, sebagai jauh panggang daripada api. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Syekh Sa’ad berpesan kepada masyarakat luas agar tidak terpedaya dengan omongan orang-orang yang ingkar seumpama Syekh Ahmad Khatib itu, dengan ucapan :&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Dan janganlah terpedaya segala saudara dengan kata segala orang yang ingkar, dan jika ada ia ulama pada zhahir sekalipun; bermula Tarikat Naqsyabandiyah tiada asal baginya pada syari’at, dan rabithah dan khalwat empat puluh hari dan meninggalkan makan daging selama suluk tiada pula asalnya bagi syari’at tetapi ia daripada setengah bid’ah yang ditegah, karena bahwasanya ini kata palsu saja dan kecohan dan supaya akan nyata asalnya kemudian.&lt;/i&gt; (al-Ayat al-Bayyinat hal. 32)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syekh Sa’ad kemudian menjelaskan bahwa ilmu Tarikat ini ialah ilmu shudur (hati) bukan ilmu suthur (yang tersurat dalam kertas). Yaitu berupa Talqin khusus yang diberikan oleh Ahlinya, oleh karena itu pokok dalil tidak dituntut diketahui oleh orang awam. Dan lagi para tokoh Tarikat ini terkenal sebagai orang-orang yang tsiqah (terpercaya). Asal talqin berasal dari Nabi Muhammad, kemudian turun kepada sayyidina Abu Bakar, lanjutnya tali bertali kepada tokoh-tokoh dan Syekh-syekh ikutan, yangmana mereka itu orang-orang yang alim, mempunyai dua sayap zhahir dan Bathin. Mereka tidak mempunyai sifat-sifat keliru, baik itu kekeliruan basyariyah maupun kekeliruan nafsiyah. Mereka mempunyai kemuliaan turun temurun sampai hari kiamat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai ungkapan Syekh Ahmad Khatib perihal bid’ah, maka Syekh berujar betapa banyak bid’ah-bid’ah yang bisa menjadi sunat. Adapun mengenai hadist yang diketengahi oleh Syekh Ahmad Khatib, dan yang banyak dipakai oleh penentang-penentang Tarikat:&lt;br /&gt;كل بدعة ضلالة و كل ضلالة فى النار&lt;br /&gt;Maka Syekh Sa’ad mengemukakan, bahwa yang dimaksud bid’ah yang sesat dalam hadist ini tertentu pada bid’ah syar’iyyah semata, bukan bid’ah lughawi, ini merupakan kekeliruan memahami. Keterangannya ada dalam kitab Fatawa al-Haditsiyah karangan Imam Ibnu Hajar al-Haitami, ungkap beliau. Kemudian Syekh Sa’ad mengungkapkan, pengingkaran Syekh Ahmad Khatib terhadap Tarikat Naqsyabandiyah merupakan pengingkaran terhadap “Ahlullah yang auliya’”, sebab waliyullah itulah yang mengajarkannya. Perbuatan Syekh Ahmad Khatib ini sangat terlarang, “saya takut menyebutnya”, ungkap Syekh Sa’ad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyangkut masalah larangan makan daging selama suluk yang disebutkan Syekh Ahmad Khatib tidak berasal dari Syara’ itu, dijawab oleh Syekh Sa’ad bahwa ada asalnya dari syara’. Ada beberapa hadist yang dikemukakan oleh Syekh Sa’ad yang intinya menghentikan makan daging beberapa waktu gunanya untuk i’tidal ikhtiyari (menjaga kesederhanaan diri), apatah lagi dalam rangka berriyadhah (berlatih diri) bersuluk tentu dianjurkan. Adapun dalil yang dipakai Syekh Ahmad Khatib yang menegahkan larangan makan daging, menurut Syekh Sa’ad tidak tepat, sebab hadist yang menegahkan itu maksudnya ialah menghentikan makan daging selama-lamanya, sedangkan suluk tidak begitu adanya. Itulah yang dimaksud hadist tersebut jika ditinjau asbabul wurud-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai “Suluk” yang dikatakan Syekh Ahmad Khatib merupakan buatan guru-guru tarikat semata, dijawab Syekh Sa’ad bahwa itu merupakan hal keliru. Syekh Sa’ad kemudian menyebutkan hadist yang secara tersirat merupakan dalil menegakkan “Suluk”, kemudian beliau katakan dalam kitab-kitab mu’tabar juga banyak ditemui dalil-dalilnya, seumpama dalam kitab &lt;i&gt;Ittihaf Saadat Muttaqin Syarah Ihya’ Ulumuddin&lt;/i&gt;, disini disebutkan bahwa Imam Ghazali pernah melakukan khalwat 40 hari selama 3 kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bantahan yang keras dikemukakan oleh Syekh Ahmad Khatib terhadap rabithah guru yang diamalkan oleh ahli Naqsyabandiyah, dengan beberapa ayat syekh Ahmad Khatib mencela rabithah hingga sampai menyerupakan orang yang berabithah dengan penyembah berhala. Syekh Sa’ad membantah hujjah Syekh Ahmad Khatib tersebut, beliau berujar bahwa syekh Ahmad Khatib keliru memahami makna rabitah yang hakiki. Menghadirkan rupa guru, ungkap Syekh Sa’ad, sesaat sebelum berzikir bukan berarti menyembah guru. Tidak sama halnya dengan orang musyrik yang menyembah berhala dengan maksud mendekatkan diri kepada Allah. Yang satu menghadirkan sementara, yang satu menyembah, amat jauh perbedaan keduanya, jawab Syekh Sa’ad. Sehingga hal ini tidak cocok menjadi dalil menolak rabithah, tambah beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan adanya Risalah Syekh Sa’ad ini, menjadi legalah ulama-ulama Minangkabau kala itu. Kericuhan yang terjadi akibat Risalah Syekh Ahmad Khatib mulai mereda perlahan-lahan. Hal ini diungkap dengan syukur oleh Syekh Muhammad Sa’ad Mungka sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;Maka terbujuklah dengan dia setengah segala hati yang pecah-pecah wal hamdulillah ‘ala dzalika.&lt;/i&gt; (Risalah Tanbihul Awam ‘ala Taghrirat Ba’dhil Anam karangan Syekh Muhammad Sa’ad Mungka, cetakan De Volherding – Padang, tahun 1910, hal. 3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Namun ketenangan ulama Naqsyabandiyah tidak bertahan lama, sebab beberapa waktu kemudian datang lagi Risalah karangan Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi sebagai bantahan atas kitab Irgham Unufil Muta’annitin. Kitab ini berjudul &lt;b&gt;al-Ayatul Bayyinat fi Izalati Khurafat Ba’dhil Muta’assibin&lt;/b&gt; (= bukti-bukti yang nyata untuk menghilangkan khurafat sebahagian orang-orang yang fanatik), sampai di Padang pada tahun 1907 dan dicetak untuk disebarkan. Dalam Risalah ini Syekh Ahmad Khatib menambah keterangannya perihal Tarikat Naqsyabandiyah yang menurutnya tak berasal dari Syara’ tersebut. Risalah ini lebih tebal dari kitab Izhar (yakni 224 halaman), lebih luas cakupannya. Dalam kitab ini, Syekh Ahmad Khatib berujar bahwa Syekh Sa’ad tidak membaca dengan cermat kitabnya. Dalil-dalil Syekh Sa’ad diibaratkan sebagai “sarang lawah” (laba-laba) yang rapuh, tidak berarti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya hujjah yang dipakai Syekh Ahmad Khatib dalam al-Ayatul Bayyinat sama dengan yang terdapat dalam Izhar, cuma pada risalah ini beliau berusaha mengoreksi keterangan-keterangan Syekh Sa’ad Mungka, mencari cela di mana kelemahan beliau. Dalam risalah-nya, Syekh Ahmad Khatib tampak lebih menfokuskan waktu untuk membahas persoalan rabithah secara utuh, sehingga perkara rabithah lebih mendominasi halaman-halaman al-Ayatul Bayyinat, di samping masalah-masalah lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan hadirnya al-Ayatul Bayyinat membuat masyarakat kembali ricuh, perdebatan masalah Tarikat kembali semarak di Minangkabau. Beberapa ahli Tarikat meminta kepada Syekh Sa’ad untuk kembali mengangkat pena buat menolak segala hujjah dan sangka Syekh Ahmad Khatib atas Tarikat Naqsyabandiyah. Namun Syekh Sa’ad tidak serta merta menggoreskan kalamnya untuk menolak Sang mufti. Ditimbangnyalah baik-baik masalah ini, sesudah berdo’a dan bertawassul kepada arwah saadat Naqsyabandiyah, maka terbukalah hati beliau untuk menyuratkan sebuah wajah menolak hujjah orang yang mungkir kepada Tarikat Naqsyabandi. Maka beliau tulislah sebuah risalah yang berjudul &lt;b&gt;Tanbihul Awam ‘ala Taghrirat Ba’dhil Anam&lt;/b&gt; (= peringatan bagi orang yang awam akan tipuan sebahagian orang-orang). Setelah selesai ditulis risalah inipun dibawa kehadapan Syekh Ahmad Khatib di Mekkah, selain itu risalah ini juga di cetak untuk disebarkan kepada khalayak ramai. Tanbihul Awam dicetak di Padang pada percetakan De Volherding di tahun 1910, terdiri atas 87 halaman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-tDu-WGKk42M/Ttg_hDqDjPI/AAAAAAAAAdw/FvmPIkGS8kw/s1600/CIMG2266%2Bcopy.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="320" width="217" src="http://2.bp.blogspot.com/-tDu-WGKk42M/Ttg_hDqDjPI/AAAAAAAAAdw/FvmPIkGS8kw/s320/CIMG2266%2Bcopy.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;Foto&lt;/b&gt;: Sampul kitab Tanbihul Awam 'ala Taghrirat Ba'dhil Anam karangan Syekh Mungka (Terbitan de Voltherding, Padang, 1910)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada permulaan risalah ini, Syekh Sa’ad menuliskan perihal pribadi beliau. Dengan rendah hati dan tawadhu’, beliau umpamakanlah keadaan yang menimpanya seperti seekor kambing yang hendak menanduk sebuah batu besar. Bagaimanapun caranya kambing itu menanduk, mustahil batu besar itu akan hancur, malahan tanduk kambing itu yang akan luluh. Beliau, dengan kerendahan hatinya, membilang diri beliau belumlah cukup ilmu, belum alim benar. Namun karena ini mencakup perihal orang banyak, beliau lalu mencoba merangkai kata, sehingga jadilah sebuah risalah yang berjudul Risalah Tanbihul Awam dengan berkat pertolongan Allah dan Tasawwul dengan segala penghulu Tarikat Naqsyabandi, maka selesailah kitab Tanbihul Awam, yang menurut beliau hanya berupa “lafazd-lafazd yang sedikit”. Tak lain harapan yang beliau ingini dari penulisan ini ialah supaya “terbujuk kembali segala hati yang pecah”. (hal. 4) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum isinya juga mempertegas dan memperluas cakupan risalah-nya terdahulu, Irgham Unufil Muta’annitin, sambil menolak i’tiradh (penolakan) dari Syekh Ahmad Khatib. Namun walau begitu, di sinilah tampak keulamaan besar beliau. Dalam Tanbihul Awam Syekh Sa’ad banyak menggunakan kalimat-kalimat kinayah (sindiran) terhadap Syekh Ahmad Khatib, dinama dalil-dalil Syekh Ahmad Khatib yang semula menjadi hujjah penolak Tarikat Naqsyabandiyah, beliau jadikan pula hujjah untuk memperkuat dan memperkokoh Tarikat Naqsyabandiyah. Disini kemahiran beliau yang ahli ilmu Alat nampak sekali, kelihaian beliau memainkan ilmu Mantiq jelas terlihat. Disini terlihat kecerdasan beliau, yang kadangkala keras, kadangkala penuh humoris, bahkan bisa membuat orang merasa geli dan tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu contoh ungkapan Syekh Ahmad Khatib, yang beliau –Syekh Sa’ad- tanggapi dengan sangat cerdas dan menggelitik, ialah ungkapan Syekh Ahmad Khatib yang mengatakan : “Dalil yang di dalam kampir garam beliau (maksudnya Syekh Sa’ad) hanya sekedar itulah”. Dijawab dengan cerdas oleh Syekh Sa’ad:&lt;i&gt;&lt;br /&gt;Maka berkata hamba : telah maklum bagi tiap-tiap orang yang berakal bahwasanya yang di dalam kampir garam ialah garam dan rasanya masin (asin), gunanya memperelok rasa tiap-tiap makanan. Maka memintak mengeluarkan dalil dari kampir garam ialah perkataan orang yang berubah akal. Dan jika ada murad [maksud] beliau menyerupakan ilmu hamba dengan garam pada pihak masin (asin) boleh memberi muslahat, maka demikian itu puji yang mentaqdirkan akan dia Allah ta’ala pada mulut beliau, tetapi murad beliau tiada munasabah (sesuai) akan dia. Dan jika ada murad  beliau memperolok-olokkan hamba dengan menyerupakan ilmu hamba yang kurang dengan garam yang baik faedah, maka yaitu tiada patut dengan maqam (kedudukan) beliau yang tinggi, karena beliau orang alim besar, sudah lama mengajar dalam Mesjidil Haram, jadi guru oleh segala guru, tiada bandingan beliau dalam alam Minangkabau ini, tapi karena hawa nafsu takut juga beliau bahasa akan gugur pangkat beliau karena kitab beliau dibanding orang, maka sebab itulah beliau buat perkataan seperti perkataan orang jalang-jalang seperti yang telah dilihat dalam kitab yang beliau buat itu. &lt;/i&gt;(Tanbihul Awam hal. 14)    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara ungkapan Syekh Sa’ad yang bernada keras kepada Syekh Ahmad Khatib, misalnya :&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Jika ditanya kepada orang yang sadar, apa hukumnya kepada orang yang bercakap seperti cakap beliau ini (maksudnya Syekh Ahmad Khatib. Pen), barangkali orang tersebut akan menjawab: sepatutnya dijahit saja mulutnya dengan jarum besi, supaya orang-orang lain jangan terpedaya pula dengan ucapannya lalu mereka turut sesat dan menyesatkan.&lt;/i&gt; (Tanbihul Awam hal. 20) &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Adapula ungkapan Beliau Syekh Sa’ad yang menggelikan dan humoris, yaitu ketika menanggapi ungkapan Syekh Ahmad Khatib yang mengatakan : “Segala yang engku sebutkan dalam kitab engku tersebut tidak sanggup untuk menolak kentut serangan saya itu dari janggut engku, seperti yang telah dilihat pada awal kitab engku”. Maka dijawab oleh Syekh Sa’ad dengan ucapan:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Memang serangan engku itu mempunyai beberapa kentut, seperti binatang kukuih yang selalu menyerang dengan kentutnya. Jika memang kentut serangan tidak akan dapat hamba tolak dari janggut hamba, maka pastilah baunya amat busuk. Dan setiap yang berbau busuk amatlah batil. Lalu hamba berkata, kebenaran telah datang, kebatilan telah lenyap, sebenarnyalah kebatilan itu pasti lenyap.&lt;/i&gt; (Tanbihul Awam hal. 67)  &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Selain membahas katerangan-keterangan Syekh Ahmad Khatib mengenai Tarikat Naqsyabandiyah, dalam risalah Tanbihul Awam ini juga terdapat sindiran Syekh Sa’ad kepada Syekh Ahmad Khatib yang mencela adat Minangkabau mempusakakan harta kepada kemenakan. Ungkapan Syekh Ahmad Khatib itu ialah : “betapakah orang kita Minangkabau yang berpusaka kepada kemenakan yang ada segala hartanya pusaka daripada mamaknya, maka makanan dan minuman dan pakaian daripada pusaka mamaknya. Dan meng-adat-kan ia akan pusaka bagi kemenakan yang menyalahi suruh Allah… “ (al-Ayatul Bayyinat hal. 15). Maka dijawab oleh Syekh Sa’ad :&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Fa aqulu maka berkata pula hamba : tiada lazim daripada keadaan orang Minangkabau berpusaka kepada kemenakan bahwa akan ada sekalian harta mereka itu dan pakaian mereka itu dan minuman mereka itu haram, karena telah maklum bagi tiap-tiap orang bahwasanya mereka itu senantiasa mencari kehidupan seperti berniaga dan bertanam padi dan tembakau dan sebagainya. Dan jika haram harta mereka itu semuanya maka sepatutnya bahwa tiada menerima akan dia orang di Mekkah, apabila dikirim orang kepada mereka itu atas jalan sedekah atau badal haji atau sebagainya. Tetapi yang hamba lihat dan hamba dengar mengambil saja mereka itu akan dia. Dan beliau yang mengharamkan itupun (maksudnya : Syekh Ahmad Khatib. Pen) tiada juga menolak akan dia, apabila dikirim orang kepada beliau hanyalah beliau terima saja, maka antara perbuatan beliau dan kata beliau berlain-lainan.&lt;/i&gt; (Tanbihul Awam hal. 11)  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhir bahasannya, Syekh Sa’ad dalam Tanbih-nya memberikan wasiat yang cukup panjang dengan menjelaskan kedudukan ilmu zhahir dan bathin (yaitu halaman 77-84), kemudian beliau menyebutkan beberapa kitab karangan ulama-ulama besar Mekkah dan Madinah yang menolak ingkar orang kepada Tarikat Naqsyabandiyah, memperkokoh amalan Naqsyabandi, diantara yang beliau sebutkan ialah kitab as-Suyuful Maslulah karangan Syekh Husein Ahmad al-Hindi, beberapa karangan as-Sayyid Muhammad Mahdi al-Kurdi dan karangan Sayyid Umar bin Salim al-‘Attas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadirnya Tanbihul Awam kembali membuat lega ulama-ulama Minangkabau, bahkan ada sebagian ulama tersebut yang mengikuti jejak Syekh Sa’ad untuk membela Tarikat Naqsyabandiyah, diantaranya ialah menantu Syekh Sa’ad sendiri, Syekh Khatib ‘Ali al-Minangkawi yang mengarang kitab &lt;b&gt;Burhanul Haq&lt;/b&gt; (terbit tahun 1928 di Pulo Bomer – Padang). Banyak pula diantara ulama-ulama yang sebelumnya belum memasuki ranah Tarikat kemudian bertekun mengamalkan Tarikat Naqsyabandi, setelah memuthala’ah, memperbanding-bandingkan kitab Syekh Ahmad Khatib dengan kitab Syekh Sa’ad Mungka. Salah seorang dari ulama besar itu ialah &lt;b&gt;Maulana Syekh Muda Wali al-Khalidi Naqsyabandi&lt;/b&gt;, ulama besar di Aceh, pernah menulis dalam kitabnya Intan Permata mengenai keputusan perdebatan Syekh Ahmad Khatib dengan Syekh Sa’ad Mungka sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Ketahuilah hai segala ummat Ahlus Sunnah wal Jama’ah, bahwasanya karangan yang mulia Syekh Ahmad al Khatib yang bernama: Izhar Zighlil-Kazibin, tentang membantah Rabithah dan Thariqat naqsyabandiyah itu adalah silap dan salah paham dari Syekh yang mulia itu, karena beliau itu telah ditolak oleh yang mulia Syekh Sa`ad Mungka Payakumbuh (Sumatra Tengah) dengan kitabnya Irghamu Unufil Muta`annitin. Kemudian kitab ini dijawab pula oleh yang mulia Syekh Ahmad al khatib dengan kitabnya as Saiful Battar (maksudnya kitab al-Ayatul Bayyinat. Pen). Kitab ini pun ditolak oleh yang mulia Syekh As`ad Mungka dengan kitabnya yang bernama Tanbihul `Awam. Pada akhirnya patahlah kalam Tuan Syekh Ahmad al-Khatib. Karena itu maka hamba yang faqir ini, Syekh Muhammad waly al Khalidy sebabnya mengambil Thariqat Naqsyabandiyah adalah setelah muthala`ah pada karangan karangan Syekh Ahmad Khathib dan karangan karangan Syekh Sa`ad Mungka, dimana antara karangan kedua-dua orang ulama itu sifatnya soal jawab dan debat-berdebat. Perlu diketahui bahwa Tuan Syekh Ahmad Khatib itu murid Sayyid syekh Bakri bin sayyid Muhammad Syatha. Sedangkan Tuan Syekh As`ad Mungka murid Mufti Az Zawawy, gurunya Syekh Usman Betawi yang masyhur itu. Maka muncullah kebenaran ditangan Tuan Syekh Sa`ad Mungka apalagi saya telah melihat pula kitab as-Saiful Maslul karangan ulama Madinah selaku menolak kitab Izhar Zighlil Kazibin. Oleh sebab itu bagi murid-muridku yang melihat karangan syekh Ahmad Khatib itu janganlah terkejut, karena karangan beliau itu ibarat harimau yang telah dipancung kepalanya.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut keterangan dari yang mulia &lt;b&gt;Syekh Arifin Batu Hampar&lt;/b&gt; (w. 1939), salah seorang murid Syekh Ahmad Khatib dan sebagai pelaku sejarah, pada satu ketika, setelah perdebatan itu, Syekh Ahmad Khatib dan Syekh Muhammad Sa’ad pernah bertemu dalam satu acara jamuan makan di Mekkah al-Mukarramah. Syekh Ahmad Khatib merasa heran melihat penampilan Syekh Sa’ad, yang menurut dugaan beliau Syekh Sa’ad bertubuh gemuk seperti beliau dan ulama-ulama Arab lainnya, padahal postur Syekh Sa’ad kecil dan agak kurus. Kemudian, Syekh Ahmad Khatib mempersilahkan Syekh Sa’ad duduk di sampingnya. Setelah usai makan minum, Syekh Ahmad Khatib dan Syekh Mungka tampak berbicara panjang lebar dalam suasana ramah tamah. Seakan-akan diantara beliau berdua tidak pernah terjadi perdebatan sengit lewat kitab-kitabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-piU-xhVI4Gg/TthAUIbo4vI/AAAAAAAAAeI/FNZnmg6fe4I/s1600/Makam%2BSyekh%2BM%2BSa%2527ad%2Bcopy.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="240" width="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-piU-xhVI4Gg/TthAUIbo4vI/AAAAAAAAAeI/FNZnmg6fe4I/s320/Makam%2BSyekh%2BM%2BSa%2527ad%2Bcopy.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;Foto&lt;/b&gt;: Makam Syekh Mungka (kiri) dan anak beliau Syekh Muhammad Jamil Sa'adi (kanan). (Foto: Penulis)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4620918976357743641-2995652957865210480?l=surautuo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surautuo.blogspot.com/feeds/2995652957865210480/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surautuo.blogspot.com/2011/12/al-marhum-syekh-muhammad-saad-al.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4620918976357743641/posts/default/2995652957865210480'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4620918976357743641/posts/default/2995652957865210480'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surautuo.blogspot.com/2011/12/al-marhum-syekh-muhammad-saad-al.html' title='Al-Marhum Syekh Muhammad Sa’ad al-Khalidi Mungka Tuo (W. 1922) dan Polemik Tarikat Naqsyabandiyah dengan Mufti Mekah Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi (W. 1916)'/><author><name>Apria Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08209012488814467728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-VQr5rgxQlsQ/Ttg_48_GXXI/AAAAAAAAAd8/6QHco6JOEEs/s72-c/Surau%2BBaru%2BSyekh%2BMuhammad%2BSaad%2Bcopy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4620918976357743641.post-38959965995657229</id><published>2011-11-18T17:57:00.000-08:00</published><updated>2011-11-18T17:57:27.572-08:00</updated><title type='text'>Katalog Naskah Kuno Islam: Surau Lubuk Landur dan Mesjid Syekh Bonjol</title><content type='html'>Oleh: al-Haqir &lt;b&gt;Apria Putra&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-lyysyXGDPhc/TscMPhTbwyI/AAAAAAAAAco/mU26b39N-iI/s1600/Cover%2BKatalog%2BLubuk%2BLandur%2BJPEG.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="227" width="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-lyysyXGDPhc/TscMPhTbwyI/AAAAAAAAAco/mU26b39N-iI/s320/Cover%2BKatalog%2BLubuk%2BLandur%2BJPEG.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Penyusun: DR. Ahmad Taufik Hidayat, Apria Putra dan Chairullah Ahmad&lt;br /&gt;Hal: 139+xviii&lt;br /&gt;cetakan pertama, November 2011&lt;br /&gt;Penerbit: PT. Tinta Mas Indonesia, Jakarta dan Komunitas Suluah Padang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasaman, sebuah kawasan yang terletak di rantau Minangkabau sebelah utara, telah memainkan peranan penting dalam penyebaran keilmuan Islam lewat lembaga pendidikan tradisional, Surau. Tercatat beberapa Surau terkemuka, berikut tokoh-tokoh ulama yang mempunyai nama besar hadir di daerah ini. satu cacatan yang cukup tua, perihal jalannya agama di negeri Minangkabau, secara jelas menyebut Pasaman menjadi salah satu sentra pendidikan Islam di abad XVIII. Tepatnya di Rao, tempat mukim Syekh Tuanku di Tampang, yang mahir dalam ilmu Mantiq dan ma’ani, disamping pelajaran-pelajaran agama lainnya, khusus dalam bidang Tasawuf.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di abad XIX, Pasaman juga menorehkan dinamika panjang yang mengisi lembar-lembar Sejarah Minangkabau, yaitu dengan perang Paderi, sebuah gerakan keagamaan yang berpengaruh luas hingga Sumatera bagian utara.  Posisi Pasaman, tepatnya Bonjol, yang dijadikan wilayah inti Paderi bukan hanya karena daerahnya yang dipagar oleh benteng alam yang kokoh saja, lebih dari itu disebabkan oleh tokoh-tokoh ulama di Daerah ini memang teruji dalam bidang keagamaan, disamping alim dalam keilmuan, juga mempunyai keteguhan yang kuat dalam menegakkan perintah agama.  Salah satu pusat pendidikan Surau yang terkemuka di abad XIX, begitu pula sampai saat ini, ialah Kumpulan. Ketokohan ulama besar Syekh Ibrahim bin Fahati al-Khalidi (1764-1914),  yang dikenal dengan “Angguik Balinduang Kumpulan” memang menjadi buah bibir dikalangan orang-orang siak di berbagai wilayah Sumatera. Berikut Surau dan pengajarannya yang disamping mendalami agama lewat kitab, juga mengajarkan Tasawuf lewat kearifan Tarikat Naqsyabandiyah, menjadi daya tarik yang begitu kuat, sehingga banyak dikalangan penuntut ilmu agama jatuh hati ke Kumpulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat banyak surau-surau terkemuka di abad XIX dan awal abad XX yang menyandarkan isnad keilmuannya ke Kumpulan. Diantara surau-surau itu, yang masih eksis dan tetap menjaga tradisi keilmuannya sampai saat ini, ialah Surau Syekh Lubuk Landur dan Mesjid (baca: Surau) Syekh Muhammad Sa’id Bonjol. Keterikatan kedua lembaga tradisional ini, berikut eksistensinya dalam menjaga tradisi keilmuan Islam, layaknya surau Kumpulan, dapat disaksikan dalam manuskrip-manuskrip kuno yang masih tersimpan  dan terpelihara pada koleksi dua lembaga ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Surau Lubuk Landur dan Mesjid Syekh Bonjol: Jejak historis pendidikan Islam ala Sufi di rantau Pasaman&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surau Lubuk Landur dan Mesjid Syekh Muhammad Sa’id Bonjol menjadi basis intelektual Islam, terutama dalam bidang Tarikat Naqsyabandiyah, dan tetap begitu hingga saat ini.   Kedua lembaga ini paling tidak telah memapankan posisinya dalam jaringan keilmuan Islam di Minangkabau pada (awal) abad XX, dan menancapkan pengaruh yang kuat ke berbagai daerah, bahwa ke luar wilayah Minangkabau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-Sx-IKldJxPI/TscMihXksKI/AAAAAAAAAc0/0bnwkD5ltag/s1600/Original.JPG" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="240" width="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-Sx-IKldJxPI/TscMihXksKI/AAAAAAAAAc0/0bnwkD5ltag/s320/Original.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Foto: &lt;b&gt;Tim bersama Syekh Mustafa Kamal Lubuk Landur, Mei 2011&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surau Lubuk Landur, merupakan satu corak pendidikan Islam tradisional yang didirikan oleh Syekh Muhammad Bashir (w. 1912, dalam usia 122 tahun), seorang ulama terkemuka, setelah menimba ilmu agama beberapa tahun diberbagai surau, khususnya Kumpulan, dan Mekkah al-Mukarramah. Menurut garis keturunan nasab, diketahui bahwa beliau mempunyai hubungan yang erat dengan tokoh Paderi, dimana buyut beliau, Peto Sulaiman, berkerabat dengan Peto Syarif (Tuanku Imam Bonjol). Peto Sulaiman mempunyai istri dari Sikilang Sasak Pasaman, dari istrinya ini beliau dikaruniai seorang anak yang kemudian dikenal dengan Salim Peto Bandaharo, yang merupakan ayah dari Syekh Muhammad Bashir sendiri.  Dalam catatan biografi Syekh Ibrahim Kumpulan disebutkan bahwa Syekh Muhammad Bashir ialah salah satu khalifah Syekh Ibrahim yang terkemuka, disamping ulama-ulama lain seperti Syekh Syahbuddin Sayurmatinggi, Syekh Mudo Kinali, Syekh Yunus Tuanku Sasak dan lainnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menimba ilmu ke berbagai surau, Syekh Muhammad Bashir kemudian melanjutkan pengembaraan intelektual ke Mekkah al-Mukarramah. Disamping melaksanakan Haji, beliau juga meluangkan waktu untuk menuntut ilmu kepada ulama-ulama terkenal disana, khususnya dalam bidang Tarikat Naqsyabandiyah. Karena prestasinya dalam bidang yang terakhir ini, beliau kemudian juga memperoleh ijazah Naqsyabandiyah dari Syekh ‘Ali Ridha di Jabal Abi Qubais Mekkah, disamping dari Syekh Kumpulan. Sekembalinya ke kampung halaman beliau, Syekh Muhammad Bashir kemudian memapankan karir keulamaanya di Lubuk Landur. Disini beliau mendirikan surau, disebuah kawasan yang asri, tepat dipinggir sungai Ikan Larangan. Syekh Muhammad Bashir mengajarkan keilmuan keislaman di surau Lubuk Landur sampai beliau wafat ditahun dalam usia yang sepuh 122 tahun. Kepemimpinan Surau Lubuk Landur kemudian dipegang oleh anak beliau yang juga ‘alim, yaitu Syekh Muhammad Amin. Setelah Syekh ini wafat, kepemimpinan surau ini digantikan sementara oleh Syekh Abdul Jabbar Lubuk Landur. Kemudian digantikan oleh seorang ulama yang cukup terkenal, Syekh Abdul Madjid, yang tak lain ialah anak Syekh Muhammad Amin sendiri. Syekh Abdul Madjid wafat pada tahun 1984. Beliau kemudian digantikan oleh anak beliau, Muzardin Syekh Mustafa Kamal, hingga saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sentra pendidikan tradisional kedua, yang mempunyai koneksi dengan Kumpulan dalam hal Tarikat Naqsyabandiyah ialah Mesjid Syekh Muhammad Sa’id Bonjol. Mesjid ini terletak di kampung Ganggo Hilir Bonjol. Tidak seperti surau-surau Tarekat kebanyakan yang terletak jauh dari keramaian, Mesjid ini berada di tepi jalan raya yang dapat dijangkau dengan mudah. Ulama yang terkemuka dan mempunyai pengaruh besar, sebagai pendiri Mesjid ini ialah Syekh Muhammad Sa’id Bonjol (1888-1979), atau yang lebih dikenal dengan Syekh Bonjol.  Beliau terkemuka sebagai salah seorang ulama Tarikat Naqsyabandiyah yang diterimanya dari Syekh Kumpulan.  Disamping itu, beliau merupakan salah satu sesepuh Perti (Persatuan Tarbiyah Islamiyah), teman perjuangan Syekh Sulaiman ar-Rasuli Candung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama Syekh Sa’id belajar keberbagai ulama mumpuni hingga Mekkah al-Mukarramah, setelah kembali ke kampung halamannya, beliau mendirikan Mesjid tempat sidang jum’at, disini beliau mengajar, khususnya Suluk Tarikat Naqsyabandiyah. Dalam transmisi keilmuan Islam di Pasaman, Syekh Sa’id merupakan mata rantai penting. Murid-murid beliau bukan hanya berasal dari wilayah sekitar, tapi juga dari berbagai pelosok Minangkabau. Hingga saat ini, Mesjid ini masih tetap eksis, memakai tradisi lama  dan mengelar Suluk setiap tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Karakter umum Naskah Lubuk Landur dan Mesjid Syekh Bonjol&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai lembaga transmisi keilmuan Islam di Minangkabau pada abad-abad lalu, Surau Lubuk Landur dan Mesjid Syekh Muhammad Sa’id Bonjol menyimpan khazanah Naskah yang mempunyai karakter yang khas. Disinyalir di dua lembaga ini dulunya menyimpan banyak koleksi Naskah keagamaan, berdasarkan fakta bahwa dulunya dua tempat ini begitu masyhur dikalangan penuntut ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inventaris, berikut pendeskripsian dan digitalisasi naskah di Lubuk Landur dilakukan oleh sebuah Tim yang terdiri Mahasiswa Sastra Arab Fak. Adab yang tergabung dalam kelompok pecinta naskah “Komunitas Suluah”, yang diketuai Charullah Ahmad. Di Surau ini, dalam sebuah lemari tua, terdapat puluhan naskah dalam keadaan memprihatinkan. Setelah diadakan pembersihan, penyusunan kembali dan pendeskripsian tercatat lebih dari 40 buah naskah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskah-naskah Lubuk Landur ini memiliki karakteristik yang cukup khas, yaitu naskah-naskah lokal contents yang ditulis oleh beberapa ulama Pasaman yang pernah menimba ilmu di tanah suci Mekah. Selain dari Syekh Lubuk Landur sendiri, juga terdapat nama-nama seperti Muhammad Shaleh bin Malin Pandito Ujung Gading, Haji Abdul Manan bin Abdul Jabbar Kajai Talu, Syekh Muhammad Amin (Anak Syekh Lubuk Landur), Ibnu Abdullah Rao, Muhammad Shaleh bin Murid Rao dan lainnya. Disamping itu juga ada karya-karya ulama terkemuka Melayu lainnya, seperti Syekh Daud bin Abdullah Fathani, Syekh Jalaluddin Aceh dan Syekh Ahmad Khatib Sambas. Dari kolofon naskah diketahui bahwa sebahagian besar naskah-naskah itu ditulis di Mekah, tepatnya di kampung Syamiyah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-Wh93DxNNFuo/TscM3PVjJpI/AAAAAAAAAdA/1S2nleYj_7Y/s1600/DSC00512.JPG" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="240" width="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-Wh93DxNNFuo/TscM3PVjJpI/AAAAAAAAAdA/1S2nleYj_7Y/s320/DSC00512.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Foto: Tim dan Naskah Kuno Lubuk Landur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan dari segi isi, naskah-naskah Lubuk Landur termasuk kaya, sebab naskah-naskah ini mencakup berbagai bidang keilmuan Islam, seperti ilmu alat (Nahwu dan Sharaf), Tauhid, Fiqih dan Tasawuf. Naskah-naskah itu didominasi oleh teks-teks Tasawuf, termasuk didalamnya mengenai Tarikat Naqsyabandiyah, Tarikat Qadiriyah, Tarikat Rifa’iyah dan Tarikat Samaniyah. Salah satu naskah yang cukup istimewa di surau ini ialah, naskah al-Urwatul Wusqa wa Silsilah al-Wali al-Atqa, mengenai silsilah Syekh Muhammad Saman. Selain itu terdapat satu bundel naskah yang terdiri dari Surat-surat, kumpulan ijazah dan sebuah Wasiat Syekh Ibrahim Kumpulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk lokasi kedua, Mesjid Syekh Muhammad Sa’id Bonjol, dilakukan inventaris dan pendeskripsian pada akhir tahun 2009, oleh Tim Filologia Mahasiswa Sastra Arab, yang dikoordinasi oleh Malik Akbar. Dilokasi ini ditemui 16 naskah dalam berbagai keilmuan Islam. Namun naskah-naskah yang mendominasi di lokasi ini ialah mengenai Tasawuf.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4620918976357743641-38959965995657229?l=surautuo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surautuo.blogspot.com/feeds/38959965995657229/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surautuo.blogspot.com/2011/11/katalog-naskah-kuno-islam-surau-lubuk.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4620918976357743641/posts/default/38959965995657229'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4620918976357743641/posts/default/38959965995657229'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surautuo.blogspot.com/2011/11/katalog-naskah-kuno-islam-surau-lubuk.html' title='Katalog Naskah Kuno Islam: Surau Lubuk Landur dan Mesjid Syekh Bonjol'/><author><name>Apria Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08209012488814467728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-lyysyXGDPhc/TscMPhTbwyI/AAAAAAAAAco/mU26b39N-iI/s72-c/Cover%2BKatalog%2BLubuk%2BLandur%2BJPEG.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4620918976357743641.post-7154680954298574132</id><published>2011-11-15T00:31:00.000-08:00</published><updated>2011-11-15T00:31:44.701-08:00</updated><title type='text'>Benarkah Syi’ah pernah menjadi faham keagamaan di Minangkabau?</title><content type='html'>oleh: Faqir ila Rahmatillah &lt;b&gt;Apria Putra&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia Melayu, nusantara termasuk di dalamnya Malaysia, Thailand, Filipina dan lainnya, merupakan wilayah yang kuat menganut Islam atas i’tikad Ahlis Sunnah wal Jam’ah dengan Mazhab Syafi’i serta ber-Tasawwuf lewat kearifan Tarikat-tarikat Sufi. Hal ini telah menjadi kenyataan sejak berabad-abad ketika Islam masuk ke daerah ini. begitu pulalah Minangkabau. Ranah Minang pernah menjadi pusat keislaman yang kuat menganut amal sunni dalam akidah, mazhab syafi’i dalam Syari’at dan Tarikat Sufi dalam Tasawuf.  Hal ini diperkuat oleh temuan manuskrip-manuskrip tua yang umurnya telah berabad-abad, yangmana kajian-kajian fiqih yang terdapat dalam lembaran-lembaran lama itu berdasarkan mazhab Syafi’i, kajian Tauhid berdasarkan Ahlussunnah dan kajian Tasawuf menurut jalur al-Ghazali dan al-Junaid. Berikut, Tambo-tambo lama yang ditulis tangan Arab Melayu, yang sangat kental dengan nuansa Islam, itupun tidak terbertik satu fragmentpun yang dinisbahkan kepada ajaran selain Sunni.  Tidak ditemui satupun bukti yang meyakinkan bahwa Minangkabau dahulunya pernah didonimasi ajaran lain, seumpama Syi’ah atau Mu’tazilah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan adanya Syi’ah yang dilontarkan oleh segelintir Sejarawan kemudian? Dalam Sejarah Minangkabau yang ditulis oleh MD. Mansur, dkk, menyebutkan bahwa Minangkabau pernah dihuni oleh Syi’ah, dipimpin oleh orang Syi’ah pula, rentang waktunya ialah lk. 1000-1350.  Namun, jika diteliti keterangan buku itu, maka tak sulit mengemukakan bahwa keterangan ini bersumber dari Mangaraja Onggang Parlindungan dalam buku-nya yang kontroversia “Tuanku Rao”, sebab sebelum Parlindungan tak ada satupun buku atau catatan Belanda yang menegaskan hal tersebut. Dan menurut para ahli, disertai dengan seminar “Islam di Minangkabau” 23-26 Juli 1969 di Padang, menyimpulkan bahwa buku “Tuanku Rao” tidak lagi layak sebagai sumber sejarah, sebab kebanyakan isinya merupakan hal-hal baru yang tidak pernah ditemui dalam referensi lain, adapula yang tak masuk akal, ada lagi yang berseberangan dengan fakta. Hal ini telah dikupas dengan jeli oleh Hamka dalam “Antara Fakta dan Khayal”-nya.  Sehingga seketika itu jatuh harga buku itu, dari dielu-elukan, hingga dinyatakan “tamat” riwayatnya.  Bantahan Hamka mengenai buku itu dikokohkan oleh Seminar Tuanku Rao di Lubuk Sikaping, Pasaman, tahun 2008, yang dihadiri oleh Dr. Bachtiar Chamsah (Mensos RI), Ismail Hasan (Penasehat MUI Pusat), Drs. Syarnir Aboe Nain (Lembaga Kajian Gerakan Paderi), Haedar Nashir (PP Muhammadiyah), Prof. Gusti Asnan (Guru Besar Sejarah Unand), Dr. Saafroeddin Bahar (Dosen UGM), Dr. Ichwan Azhari (Pusat Studi Sejarah Universitas Negeri Medan), Prof. Mestika Zed (Guru Besar Sejarah UNP) dan tak ketinggalan Prof. Taufik Abdullah (LIPI), yang mana salah satu rumusan dari seminar tersebut bahwa buku “Tuanku Rao” dan buku yang senada  tidak dapat dijadikan sumber sejarah.  Namun, Sedjarah Minangkabau telah menjadi bacaan wajib ketika hendak mengkaji Sejarah Minang kemudian hari, sehingga Sirajuddin Abbas-pun bersikeras bahwa Syi’ah memang ada di Minangkabau.  Begitulah halnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan terbaru mengenai keberadaan Syi’ah dalam lembar sejarah Minang ialah dalam Suluh Bendang Limbago Pucuak Adat (sebuah majalah yang dikeluarkan oleh Limbago Pucuak Adat Alam Minangkabau, Istano Silinduang Bulan Batusangkar, 2010), lewat sebuah tulisan yang bertajuk Sejarah Ringkas Sejarah Pagaruyung Darul Qarar  dimana didalamnya disebutkan bahwa pada tahun 1403 kerajaan Pagaruyung masa itu dipimpin oleh Sultan Bekilap Alam, yang dinyatakan sebagai kerajaan Islam sekte Syi’ah Karamita yang dekat dengan sunnah.  Hal ini tentu mengherankan, sebab Syi’ah sekte Karamita sebenarnya termasuk aliran Syi’ah yang ghulat (melampaui batas) sangat bertentangan sunni.  Sekte ini karena keterlaluannya bahkan mengajarkan bahwa shalat hanya 2 kali sehari, membolehkan nikah dengan ibu kandung atau anak gadis sendiri, minum tuak halal, prilaku homo ala kaum Luth legal, dan lainnya yang sesat-sesat.  Sedangkan Minang terkenal kuat adatnya, nikah dengan saudara sesuku saja dilarang, apatah lagi dengan ibu dan anak gadis kandung, Nauzubillah. Maka tak meleset kiranya bahwa sumber penulisan ini ialah sumber pertama tadi atau buku yang mengutip dari sumber pertama tersebut. Sebab, bagaimanapun, menurut penyelidikan Hamka, tidak ada satu referensipun yang menegaskan bahwa Syi’ah memang ada di Minangkabau.  Apakah itu catatan manuskrip atau hasil penyelidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-GDVDAm_h1Pw/TsIjHbRB24I/AAAAAAAAAcc/p9uxJ3eTVgU/s1600/DSC00392.JPG" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="320" width="240" src="http://3.bp.blogspot.com/-GDVDAm_h1Pw/TsIjHbRB24I/AAAAAAAAAcc/p9uxJ3eTVgU/s320/DSC00392.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Foto:&lt;/b&gt; Tabuik di Pariaman, yang sering dituding sebagai bukti kuat Syi'ah di Minangkabau. (Foto: Apria Putra, 2008)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataannya, yang ada cuma indikasi dari beberapa tradisi yang sering dihubungkan dengan Syi’ah. Seorang sarjana Belanda memang pernah berujar “ada kemungkinan pengaruh syi’ah memang ada di Minangkabau.” Dengan bukti perayaan Tabut.  Tapi kenyataannya, dalam riwayat dikemukakan bahwa Tabut mulanya berasal dari permainan rakyat yang kemudian dibawa-bawa ke ranah agama.  Beberapa pemuka Syathariyah yang sempat di temui di Pariaman mengingkari (tidak setuju) dengan Tabut ini.  Adapula yang mengatakan bahwa ber-Shafar peninggalan orang Syi’ah. Maka pendapat ini juga keliru.  Bershafar baru dimulai pada abad XIX,  diperopori oleh Syekh Abdurrahman Bintungan Tinggi, dan Syekh Abdullah jelas-jelas sebagai pemuka Tarikat Syathariyah, bermazhab Syafi’i. Kemudian ada lagi yang menyebutkan bahwa Kuntu merupakan basis Syi’ah,  tapi tidak pula kejelasan. Menurut bagian Agama di-Kuntu, benda-benda kuno yang ditemui di daerah ini ada sebilah pedang dan sebuah kitab bertulis tangan yang berjudul Fathul Wahab.  Naskah ini jelas merupakan kitab fiqih, ditulis oleh Syaikhul Islam Zakaria al-Anshari, salah seorang ulama terkemuka al-Azhar beberapa abad silam, alim terkemuka dalam Mazhab Syafi’i. Bila disebut Ulakan sebagai pusat Syi’ah, pendapat ini juga tertolak mentah-mentah. &lt;br /&gt;Sebab Ulakan dengan Syekh Burhanuddin-nya merupakan pusat Islam bermazhab Syafi’i dan bertasawuf dengan Tarikat Syathariyah.  Andai pula dikatakan bahwa ada ditemui teks-teks yang menyebutkan kebesaran Ahli Bait (termasuk Ali), maka itu bukan pula bukti. Sebab menghormati Ahlil Bait dalam sunni memang dianjurkan.  Maka dengannya hingga saat ini belum ada bukti bahwa Minangkabau pernah didominasi oleh faham-faham diluar Ahlussunnah wal jama’ah (sunni), Mazhab selain Syafi’i atau Tasawwuf ghair mu’tabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, marilah kita mengutip kesimpulan Azyumardi Azra mengenai Syi’ah ini, setelah mendalami semua pendapat sekaligus dengan rujukan-rujukannya, ia mengatakan semua kemiripan itu tidak bisa dijadikan alasan bagi mendalamnya pengaruh syi’ah, khususnya sebagai faham teologi dan ideologi. Katanya, harus diingat bahwa kecendrungan persianisasi terjadi berbarengan dengan proses yang disebut Marsall G.S. Hudgson sebagai “re-universalisasi” Sunni atas “Sunniisasi” dunia Islam. Dalam kaitan ini dunia Islam, termasuk Indonesia, dilanda oleh gelombang kuat untuk kembali kepada orthodoksi Sunni dengan menekankan urgensi Syari’ah (hukum Islam) dalam kehidupan muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sumber penulisan:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;1. Hamka, Mazhab Syafi’I di Indonesia dalam Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao (Jakarta: Bulan Bintang, 1974)&lt;br /&gt;2. Sirajuddin Abbas, I’tiqat Ahlussunnah wal Jama’ah (Jakarta: Pustaka Tarbiyah, 2000)&lt;br /&gt;3. Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib, Kitab Menerangkan Perkembangan Agama Islam Semenjak Dahulu dari Syekh Burhanuddin sampai ke zaman kita sekarang (manuscript)&lt;br /&gt;4. Edwar Djamaris, Tambo Minangkabau: Suntingan Teks disertai Analisis Struktur (Jakarta: Balai Pustaka, 1991)&lt;br /&gt;5. Zuriati, Undang-undang Minangkabau dalam Perspektif Ulama Sufi (Padang: Universitas Sastra Universitas Andalas, 2007)&lt;br /&gt;6. M. Nasroen, Dasar Falsafah Adat Minangkabau (Jakarta: Bulan Bintang, 1957)&lt;br /&gt;7. MD. Mansur, dkk, Sedjarah Minangkabau (Jakarta: Bhratara, 1970)&lt;br /&gt;8. Hamka, Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao (Jakarta: Bulan Bintang, 1974)&lt;br /&gt;9. Marjohan (ed), Gerakan Paderi, Pahlawan dan Dendam Sejarah (Yoyakarta: PP Muhammadiyah dan Pemkab Pasaman, 2009)&lt;br /&gt;10. Tim Redaksi, Suluah bendang Limbago Adat (Batusangkar: Limbago Pucuk Adat Alam Minangkabau Istano Silinduang Bulan, 2010)&lt;br /&gt;11. Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, Tuhfatur Raghibin fi Bayan Haqiqat Iman al-mukmin wa ma yafsuduhu min riddatil muridin (jeddah: al-Haramain, t. th)&lt;br /&gt;12. Asril Ma’az, Sekilas Lintas Sejarah Syekh Abdurrahman Bintungan Tinggi (naskah tidak diterbitkan )&lt;br /&gt;13. Duski Samad, Syekh Burhanuddin dan Islamisasi Minangkabau: Syarak Mandaki Adat Menurun (Jakarta: The Minangkabau Foundation, 2002)&lt;br /&gt;14. Adrianus Khatib, Kaum Padri dan Pemikiran Keagamaan di Minangkabau (Disertasi pada IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 1991)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4620918976357743641-7154680954298574132?l=surautuo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surautuo.blogspot.com/feeds/7154680954298574132/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surautuo.blogspot.com/2011/11/benarkah-syiah-pernah-menjadi-faham.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4620918976357743641/posts/default/7154680954298574132'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4620918976357743641/posts/default/7154680954298574132'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surautuo.blogspot.com/2011/11/benarkah-syiah-pernah-menjadi-faham.html' title='Benarkah Syi’ah pernah menjadi faham keagamaan di Minangkabau?'/><author><name>Apria Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08209012488814467728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-GDVDAm_h1Pw/TsIjHbRB24I/AAAAAAAAAcc/p9uxJ3eTVgU/s72-c/DSC00392.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4620918976357743641.post-2522217492057227253</id><published>2011-11-03T20:21:00.000-07:00</published><updated>2011-11-03T20:21:39.625-07:00</updated><title type='text'>Sjech Tuanku Limopuluah Malalo (1730-1930): Ulama Besar Pendekar Syathariyah di Pedalaman Minangkabau</title><content type='html'>Oleh : Yang Taqshir &lt;b&gt;Apria Putra&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Berdasarkan perjalanan ke Surau Uwai Limopuluah di Malalo, juni 2011. Dilengkapi keterangan Tuanku Lubuak Ipuah, berikut cacatan arsip-arsip lama dan inskripsi penghargaan Gubernur Jenderal Hindia Belanda 1929.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau masyhur digelari dengan Uwai Limopuluah Malalo, tokoh dikenal sebagai salah seorang ulama besar Tarikat Syathariyah. Beliau mempunyai jaringan intelektual yang luas dikalangan ulama-ulama Minangkabau, apakah di Rantau, sebagai pusat Syathariyah, maupun di Darek  yang dipandang secara gamblang menjadi pesaing Ulakan. Disamping itu, ulama yang satu ini mempunyai karir serta reputasi yang sangat diperhitungkan dalam membidani surau-surau basis Tarikat di Pesisir maupun di pedalaman Minangkabau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-vl_K4JQlQXI/TrNZ3DTpdwI/AAAAAAAAAaY/LAZmo4GUe24/s1600/DSC01084.JPG" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="320" width="249" src="http://3.bp.blogspot.com/-vl_K4JQlQXI/TrNZ3DTpdwI/AAAAAAAAAaY/LAZmo4GUe24/s320/DSC01084.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Meski menjadi salah satu icon inti dalam jaringan pendidikan di abad XVIII hingga akhir awal abad XX, namun tak banyak sumber yang berbicara langsung mengenai tokoh yang satu ini. bukti keterkaitan beliau selanjutnya kita lihat dalam silsilah keilmuan Tarikat Syathariyah, dimana cukup banyak ulama-ulama di abad XIX dan XX, yang mengaitkan keilmuan mereka kepada Tuanku Limopuluah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi melihat sejarah intelektual beliau, kita akan mendapati berbagai macam kesaksian tentang ketokohan ulama ini. Dalam satu besluit gubernur jenderal pemerintahan Belanda, yang dipahat pada sebuah marmer, terdapat inskripsi yang menginformasikan wafat beliau. Beliau dicatat wafat pada tahun 1930, dalam usia yang sangat sepuh, yaitu 200 tahun.  Bisa dibayangkan berapa peristiwa besar sepanjang abad XIX telah dijalaninya diusianya yang panjang itu, terutama dalam membina karir intelektual, dalam ranah keulamaan Syathari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-GwpREjF_R5s/TrNaDZX2udI/AAAAAAAAAak/2NygWiY7RiU/s1600/DSC00983.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="137" width="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-GwpREjF_R5s/TrNaDZX2udI/AAAAAAAAAak/2NygWiY7RiU/s320/DSC00983.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;Foto&lt;/b&gt;: Keindahan Danau Singkarak, tempat terletaknya Kampung Malalo, Mukim Syekh Tuanku Limopuluah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita hitung mundur dari informasi wafat Tuanku Limopuluah, kita dapati bahwa tahun kelahiran beliau ialah diawal abad XVIII, tepatnya tahun 1730. nama kecil beliau ialah Djinang, setelah dewasa yang agak alim digelari dengan Pakiah Madjolelo, dan setelah menjadi ulama terkemuka masyhur disebut dengan Tuanku Limopuluah Malalo. Ada beberapa versi kisah yang diterima dari sumber-sumber oral di Malalo mengenai sebab pemakaian gelar “Limopuluah” setelah tanda keulamaan “Tuanku”.  Yang pasti ungkapan “Limopuluah” merujuk kepada sebuah negeri, yaitu Luak Limopuluah, salah satu daerah di pedalaman Minangkabau yang termasuk wilayah asal (inti) Minangkabau. Versi pertama menyebutkan bahwa gelaran “Limopuluah” berasal dari dedikasi intelektual beliau ketika berdebat dengan ulama-ulama “Limapuluah Kota”. Inti perdebatan yang dimaksud ialah mengenai permasalahan “Martabat Tujuh”, kajian filosofis dalam Tarikat Syathariyah. sebagaimana disebut dalam beberapa sumber, terdapat polemik yang cukup hangat antara ulama-ulama Darek dengan ulama-ulama Pesisir dalam hal Tarikat ini. Ulama Darek kala itu, yang secara genetis dikenal sebagai pembaharu, mengungkapkan kajian Martabat Tujuh yang dibawa oleh pemuka Syathariyah merupakan satu materi yang rumit, sehingga hanya dapat dipahami dan diajarka oleh ulama-ulama besar yang mumpuni seperti Syekh Abdurrauf Singkel. Selain itu, pengajian Martabat Tujuh yang berkembang dikalangan ulama-ulama masa itu sudah terlalu jauh melewati ranah filsafat metafisika yang rumit, bahkan terkadang bisa membawa kepada kekufuran.  Sedangkan ulama-ulama pemangkunya tidak dipandang begitu alim untuk mengajarkan faham yang pelik ini. selain itu juga ada sementara kalangan yang mencap kajian ini sebagai celah menjadi Zindik, bukan memperdekat, malah memperjauh dari ketuhanan. Tak banyak ulama-ulama Syathariyah yang maju kedepan membela ajaran mereka,  kebanyakan nampak berdiam diri. Namun tidak begitu dengan Uwai  Limopuluah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu daerah yang dihuni oleh ulama-ulama ialah Luak Limopuluah, disana telah dinyatakan sengketa terhadap faham “Martabat Tujuh”. Melihat demikian diadakanlah semacam muzakarah untuk membicarakan faham yang pelik tersebut dimuka sekalian ulama-ulama Luak Limopuluah, sedangkan dikalangan Syathariyah diundanglah Tuanku Limopuluah sebagai pembandingnya. Setelah dilangsungkan, ternyata Tuanku Limopuluah dapat mempertahankan argumentasinya terhadap Martabat Tujuh tersebut, meskipun telah berganti-ganti Ulama Limopuluah untuk mendedah sekaligus mendebat pengajian lama itu, tiada yang mampu menjatuhkan hujjah Uwaih. Akhir dari muzakarah itu para ulama Limopuluah mengakui kealiman Tuanku Limopuluah, sehingga digelarilah beliau dengan “Tuanku Limopuluah”, yang berarti Tuanku yang telah mempertahankan kaji “Martabat Tujuh” didepan ulama-ulama Limopuluah.  Sehingga sebagian orang mengatakan, kalau tidaklah Tuanku Limopuluah, tentu habis sajalah pengajian Syathariyah ini di Minangkabau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Versi kedua dari sebab gelaran “Limopuluah” ialah dimana Tuanku ini telah lama menetap dan mengajar di Luak Limopuluah kota. Sehingga digelari sajalah beliau dengan “Tuanku Limopuluah”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai jaringan intelektual beliau, kita tidak menemui satu catatan yang sempurna mengenai  guru-guru beliau tempat menimba ilmu. Hal ini telah merupakan implikasi dari kitab-kitab peninggalan beliau yang sebahagian besarnya raib, sehingga informasi, betapa besarpun, tidak bisa kita korek dari cacatan-cacatan yang ditinggalkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sumber-sumber yang ada disebutkan bahwa Tuanku Limopuluah pernah menimba ilmu kepada Tuan Syekh Abdullah “Beliau Surau Gadang” (w. 1901), ayah dari Syekh Abbas Abdullah, Padang Japang Payakumbuh.  Guru beliau diketahui sebagai seorang ulama besar, pemimpin lembaga pendidikan tradisional “Surau” yang besar di abad XIX, yaitu Surau Gadang Padang Japang. Syekh Abdullah memiliki rantai keilmuan yang kokoh, sebab beliau telah memperoleh ilmu di Surau Taram, dari Tuanku Syekh Sungai Durian.  Guru Tuanku Limopuluah lainnya yang cukup terkemuka dikalangan Syathariyah ialah Tuanku Syekh Abdurrahman Lubuak Ipuah Pariaman,  beliau merupakan salah seorang ulama tersohor dalam jaringan Ulama Syathariyah, mempunyai sanad keilmuan hingga Syekh Burhanuddin Ulakan sendiri. Cukup lama Syekh Limopuluah di Lubuak Ipuah, sehingga beliau dipercaya Syekh Lubuak Ipuah untuk mengajar murid-murid yang banyak disurau ini.  hanya tokoh ulama ini yang diketahui sebagai tempat pengambilan ilmu Tuanku Limopuluah. Untuk selanjutnya, setelah laam menimba ilmu, Tuanku Limopuluah kemudian kembali ke Malalo dan mendirikan surau terkemuka dikalangan penuntut ilmu belakangan di kaki sebuah gunung. Kemudian hari surau itu dikenal dengan nama “Surau Uwai Limopuluah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem belajar yang beliau terapkan di Surau Uwaih ialah sistem kaji duduak (Halaqah) dimana murid-murid mengelilingi guru. Materi yang diajarkan mencakup cabang-cabang pokok keilmuan Islam, yaitu Fiqih, Tauhid dan Tasawuf, disamping ilmu alat berupa Nahwu. Kitab yang diajarkan berupa kitab-kitab klasik dikalangan ulama-ulama Mazhab Syafi’i, seperti Minhajutthalibin (Karya Imam Nawawi) dalam ilmu Fiqih, Awamil dan Fawakih Janiyyah (karya Syekh Khatab) dalam ilmu alat. Kitab-kitab itu disalin dengan tangan oleh murid-murid dari kitab-kitab induk yang berusia lebih tua. Pengajaran Tarikat Syathariyah menjadi pelajaran yang populer tentunya disurau Uwai Limopuluah, namun kita tidak menemui catatan kitab-kitab apa yang menjadi rujukan di Surau Uwai, namun disinyalir, kitab-kitab Syekh Abdurrauf seperti Tanbihul Masyi tetap menjadi pegangan utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu bentuk inovasi yang dikembangkan oleh Tuanku Limopuluah dalam mengajar pengajian Tubuh ialah dalam kesenian salawat Dulang, berupa nyanyian sya’ir-sya’ir dalam bahasa Minang, yang sangat kental dengan pengajian Tubuh.  Diantara materi Selawat Dulang (atau Selawat Talam) ini ialah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Assalamu ‘alaikum e tolan sahabat&lt;br /&gt;O jikalau kito ka mangaji hakikat&lt;br /&gt;Nyawa jo tubuah lah nyato sakabek&lt;br /&gt;Urang mandanga samonyo ingek&lt;br /&gt;Urang ulama banyak nan kiramaik&lt;br /&gt;……………&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lai malainkan suci sungguah Tajali&lt;br /&gt;Banamo Muhammad, banamo Muhammad&lt;br /&gt;Zahir batini, zahir batini&lt;br /&gt;A’yan Tsabitah iyo mangko katantu &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syekh Tuanku Uwai Limopuluah wafat pada tanggal 28 agustus 1930, dan beliau dimakamkan diketinggian bukit Malalo, tidak jauh dari suraunya. Sebelum dimakamkan, ketika dimandikan, nampak betapa beliau digandrungi oleh masyarakat banyak, hingga air bekas mandi beliau itu diperebutkan orang untuk diambil berkahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup banyak ulama-ulama yang menyandarkan silsilah keilmuannya kepada Uwai Limopuluah Malalo. Sebahagian mereka menjadi pionir dari kalangan ulama Syathariyah dkemudian hari, diantaranya ialah: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;1. Syekh Angku Aluma Koto Tuo (w. 1961) &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Beliau ialah seorang ulama Tarikat Syathariyah di Darek yang mempunyai pengaruh besar, hingga disebut ketika Ulakan tidak lagi menampakkan pengaruh, nyaris Koto Tuo (dalam hal ini Surau Angku Aluma ini) menyaingi posisi Ulakan, bahkan merebut pengaruh Ulakan dikalangan pengikut Syathariyah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2. Pakiah Majolelo&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Mungkin yang orang yang dimaksud dengan Pakiah Madjolelo ini ialah H. Abdul Latief Tuanku Imam Gapuak (1840-1960, dalam usia 120 tahun)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;3. Syekh Cubadak Aia Pariaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Syekh Mato Aia Pakandangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Syekh Balinduang Pilubang&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4620918976357743641-2522217492057227253?l=surautuo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surautuo.blogspot.com/feeds/2522217492057227253/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surautuo.blogspot.com/2011/11/sjech-tuanku-limopuluah-malalo-1730.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4620918976357743641/posts/default/2522217492057227253'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4620918976357743641/posts/default/2522217492057227253'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surautuo.blogspot.com/2011/11/sjech-tuanku-limopuluah-malalo-1730.html' title='Sjech Tuanku Limopuluah Malalo (1730-1930): Ulama Besar Pendekar Syathariyah di Pedalaman Minangkabau'/><author><name>Apria Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08209012488814467728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-vl_K4JQlQXI/TrNZ3DTpdwI/AAAAAAAAAaY/LAZmo4GUe24/s72-c/DSC01084.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4620918976357743641.post-9028062243818076627</id><published>2011-10-10T22:20:00.000-07:00</published><updated>2011-10-13T20:02:35.351-07:00</updated><title type='text'>Buku “Ulama-ulama Luak nan Bungsu: Cacatan Biografi Ulama Luak Limopuluah Kota dan Perjuangannya”, oleh al-Faqir Apria Putra</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-PcLNwRupIBc/TpPR6uu1RRI/AAAAAAAAAPU/lk--hbpZmyE/s1600/Edit%2BCover%2BOK%2Bcopykk.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="223" width="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-PcLNwRupIBc/TpPR6uu1RRI/AAAAAAAAAPU/lk--hbpZmyE/s320/Edit%2BCover%2BOK%2Bcopykk.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Foto: Cover Buku "Ulama Luak nan Bungsu"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menunggu lama, buku “Ulama-ulama Luak nan Bungsu: Cacatan Biografi Ulama Luak Limopuluah Kota dan Perjuangannya” akhirnya terbit. Buku setebal xviii+379  halaman ini diterbitkan oleh Minangkabau Press, Padang, setember 2011, ditulis oleh seorang peneliti mandiri karya-karya klasik, Apria Putra. Sebenarnya draf buku ini telah rampung akhir desember 2010, namun karna berbagai kendala, buku ini baru naik cetak september. Rencana penulis, buku ini tidak dijual untuk umum. Andai buku yang lebih dari 100 eks dijanjikan oleh pihak penerbit sampai dengan segera di Padang, penulis bermaksud menymbangkannya pada instansi, perorangan dan surau-surau yang mempunyai terkaitan dengan isi buku ini. Semoga lekas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini merangkum biografi ringkas 50 Ulama yang pernah mencapai keemasan di era kejayaan Surau di Luak Limopuluah Kota. Pengambilan ide 50 ulama sendiri sebagai acuan penulisan, menselaraskan nama Luak 50. Semoga ulama-ulama lain, yang lebih banyak dari 50 tokoh ini, dikemudian hari dapat dirangkum dalam buku yang lebih lengkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun ulama-ulama yang ditulis dalam buku ini ialah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Syekh Ibrahim Mufti “Beliau Keramat nan Tuo” Taram &lt;br /&gt;2. Syekh Abdurrahman  Batu Hampar&lt;br /&gt;3. Maulana Syekh Abu Bakar Tabiang Pulai Koto Baru Mungka&lt;br /&gt;4. Syekh Abu Bakar “Datuak Gaek” Taeh Bukik&lt;br /&gt;5. Syekh Muhammad Jamil “Beliau Tungkar”&lt;br /&gt;6. Syekh Abdullah “Beliau Puncak Pakuang” Padang Japang&lt;br /&gt;7. Syekh Muhammad Shaleh “Beliau Munggu” Padang Kandis&lt;br /&gt;8. Syekh Muhammad Thaha Limbukan &lt;br /&gt;9. Syekh Muhammad Arsyad Batu Hampar&lt;br /&gt;10. Syekh Muhammad Sa’ad al-Khalidi “Beliau Surau Baru” Mungka&lt;br /&gt;11. Syekh Abdullah “Beliau Halaban”&lt;br /&gt;12. Syekh Ahmad Baruah Gunuang &lt;br /&gt;13. Syekh Abdul Hamid “Beliau Tanjuang Ipuh” &lt;br /&gt;14. Syekh Muhammad Arifin bin Syekh Arsyad Batu Hampar &lt;br /&gt;15. Tuanku Mudo Alwi Koto nan IV &lt;br /&gt;16. Syekh Abdul Wahid as-Shalihi “Beliau Tabek Gadang” &lt;br /&gt;17. Maulana Syekh Muda Abdul Qadim “Beliau Belubus” &lt;br /&gt;18. Syekh Ibrahim Harun “Beliau Bomban” Tiakar  &lt;br /&gt;19. Syekh Haji Jamin Taeh Bukik &lt;br /&gt;20. Syekh Adimin ar-Radji Taram &lt;br /&gt;21. Syekh Muhammad Kanis “Tuanku Tuah” Batu Tanyoh &lt;br /&gt;22. Syekh Mukhtar “Tuanku Lakuang” Lampasi &lt;br /&gt;23. Syekh Muhammad Djamil Sa’adi Mungka Tuo &lt;br /&gt;24. Buya H. Rusli Abdul Wahid - Suliki&lt;br /&gt;25. Buya Syahidan Syarbaini Mungo&lt;br /&gt;26. Syekh Sa’in bin Yusuf Dt. Kondo nan Bajolai &lt;br /&gt;27.  “Beliau Keramat Tanjuang Lilin” Taeh Bukik &lt;br /&gt;28. Syekh Abdurrahman gelar “Haji Piobang” Payakumbuh&lt;br /&gt;29. Syekh Surau Durian Taram&lt;br /&gt;30. Syekh Abdul Karim Koto nan Gadang&lt;br /&gt;31. Syekh Bustami Batu Balang&lt;br /&gt;32. Syekh Muhammad Nur Baruah Gunuang&lt;br /&gt;33. Beliau Sungai Ameh Taram &lt;br /&gt;34. Tuanku Mudo Marah Limbukan&lt;br /&gt;35. Tuanku Imran Limbukan&lt;br /&gt;36. Syekh Muhammad Salim Sikabu-kabu &lt;br /&gt;37. Angku Karuang Sicincin Payakumbuh&lt;br /&gt;38. Tuan Syekh Beringin&lt;br /&gt;39. Syekh Jalaluddin Sicincin Payakumbuh&lt;br /&gt;40. Syekh Rasyid Thaher “Beliau Perambahan”&lt;br /&gt;41. Syekh Abdul Majid Koto nan Gadang&lt;br /&gt;42. Syekh Isma’il al-Khalidi “Beliau Tabiang Runtuah” &lt;br /&gt;43. Syekh Haji Ruslan Limbukan&lt;br /&gt;44. Syekh Abdurrahman Simalanggang Payakumbuh&lt;br /&gt;45. Syekh Mahmud Abdullah “Beliau Tarantang” Harau&lt;br /&gt;46. Syekh Dzulqarnain Situjuh &lt;br /&gt;47. Buya Juned al-Mashri Situjuah Banda Dalam&lt;br /&gt;48. Syekh Malin Saidi Koto nan Gadang&lt;br /&gt;49. Tuanku Haji Darusan Indobaleh Mungo&lt;br /&gt;50. Buya Abdullatif Kapur IX&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini, dikutip kata pengantar penulis dalam Buku “Ulama Luak nan Bungsu” sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;SEKAPUR SIRIH DARI PENULIS&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الحمد لله الذى كرّم بنى آدم و اصطفى منهم العلماء و اختار أيضا منهم الشهداء و الكرماء وفضل منهم العارفين بالله و الصفات و الأسماء و أذاقهم لذة المحبة و أطلهم حقيقة الأشياء والأرض و السماء. و الصلاة و السلام على سيدنا محمد خاتم الأنبياء, الذي خلق من ذاته ومنه جميع الأشياء, وعلى اله و أصحابه السادات الأولياء و تابع التابعين لهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syukur al-Hamdulillah, catatan Biografi ulama-ulama Luak Limapuluh, Luak nan Bungsu ini dapat dihimpun dalam bentuk sederhana, dengan segala keterbatasan.&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/--iClGB0yj9g/TpemPC2eFpI/AAAAAAAAAZs/5-CbNk23m_g/s1600/kkk.JPG" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="160" width="123" src="http://4.bp.blogspot.com/--iClGB0yj9g/TpemPC2eFpI/AAAAAAAAAZs/5-CbNk23m_g/s320/kkk.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Adapun catatan ini dihimpun setelah melewati perjalanan yang panjang, dimulai diketika masa-masa belia penulis tinggal dan mengaji di surau. Di tempat ini sering didengar perihal ulama-ulama silam yang dituturkan oleh guru, diceritakan bagaimana keteladanan mereka dalam menuntut ilmu hingga mengajar murid-murid yang banyak, layaknya Alim Ulama suluah bendang dalam Nagari. Setelah bergantinya waktu, memasuki era remaja, penulis berkesempatan mengunjungi dan menziarahi Makam-makam ulama-ulama tua tersebut, serta sempat pula bercakap-cakap dengan pewaris-pewaris surau-surau tua itu. Bukan hanya di Luak Limapuluah, bahkan sampai mengunjungi pusat-pusat Islam di abad-abad terdahulu, semisal di tanah Rao (Pasaman), Kumpulan, Bonjol, Lubuk Landur, Malampah, Jaho, Malalo, Sungai Pagu, Bidar Dalam, Lintau, Simabur dan Pesisir Selatan.  Di sinilah kesan yang mendalam itu hadir, seolah-olah tiada mau berpisah dengan mereka para Ulama dan Syekh-syekh tua yang berjasa besar terhadap Islam di Luak nan Bungsu, Minangkabau umumnya, pada merekalah zahir Rahmat Allah. Sebagai Warasatul Anbiya’, pewarisnya para Nabi, kepada merekalah kita berhak bertanya, kepadanyalah kita mesti belajar al-Qur’an dan Sunnah, mereka Ulama, suluh penerang  diwaktu malam, tempat bertongkat di waktu siang.&lt;br /&gt;Maka menulis riwayat perjalanan mereka, para ulama-ulama tersebut merupakan sebuah kemestian. Hal ini dilakukan agar kita dapat meneladani pribadi-pribadi mereka, meniru segala amal yang mereka lakukan, hingga hal ini bisa menumbuhkan rasa ghirah (semangat) untuk mendirikan pekerjaan agama, sebagai mana mereka lakukan di masa lalu. Apatah lagi saat ini para pemuda-pemuda tiada mengenal lagi ulama-ulama mereka, jejak Islam di ranah Minang ini, bahkan beberapa orang-orang tua sendiri yang berbarengan hidupnya atau yang bertemu muka dengan ulama-ulama ini tidak mengenal sosok dan bagaimana perjuangan mereka. Hal ini menimbulkan kebutaan terhadap sejarah Islam, bahkan bisa berimplikasi kepada faham keagamaan yang mereka pegang, tidak mempunyai filter, kadang-kadang amalan mereka membelakangi kaji ulama-ulama tua kita dahulu. Sebuah keniscayaan.&lt;br /&gt;Orang-orang tua tempat bertanya hampir pula tiada, surau-surau tua hampir pula rubuh dimakan usia, jejak-jejak Islam masa silam hampir kabur oleh perputaran zaman, maka dengan mencatat riwayat-riwayat lama itu merupakan jalan terbaik, buat menyelamatkan khazanah Islam, kalau tidak disebut memperteguh agama di ranah Minangkabau ini. &lt;br /&gt;Sebenarnya mencatat riwayat hidup ulama-ulama besar adalah kebiasaan alim masa silam. Kadangkala murid-muridnya menulis riwayat hidup guru, ulama lain menulis riwayat ulama sejawatnya, atau pribadi ulama itu sendiri yang menulis autobigrafinya. Hal ini dikarenakan banyaknya manfaat yang bisa dipetik dari riwayat-riwayat ulama tersebut. Salah satunya mendengar riwayat ulama-ulama itu bisa menjadi penyebab turunnya Rahmat Allah. Manfaat lain, adapula sebahagian murid-murid yang mengenang ulama, guru mereka, untuk memperkuat tali temali bathin, memperteguh jalinan rabithah (kasih sayang), agar barokah ilmu itu tidak putus-putus. Dengan mengetahui riwayat hidup ulama dan sanad keilmuan mereka pulalah, niscaya kitapun akan mengenal sumber keilmuan itu secara mantap, tali bertali dari Rasulullah, kepada ulama-ulama, hingga kita sekarang ini.&lt;br /&gt;Faedah mengetahui riwayat hidup ulama-ulama itu diungkapkan dalam Manaqib  Syekh Muhammad Saman sebagai berikut :&lt;br /&gt;Adapun kemudian dari pada itu, maka apabila kedengaran bahwasanya pengkhabaran keramat Auliya’ Allah Ta’ala itu jadi sebab turunnya rahmat Allah subhanah wa ta’ala. Dan bahwasanya orang yang mendengar hikayat auliya Allah itu menghilangkan segala sifat mazmumah di dalam hati, daripada riya’, dan sum’ah, dan hubbuddunya (cinta dunia) dan barang yang lainnya. Dan [manfaat lainnya] yang menerangkan hati dengan segala sifat mahmudah (kebaikan), daripada ikhlas, dan zuhud, dan qana’ah, dan sabar, dan tawakkal, dan ridha dan barang sebagainya.&lt;br /&gt;Dan ku dengar pula, bahwasanya anak murid yang dahulu-dahulu itu mengarang mereka itu akan keramat guru mereka itu, serta membaca anak murid mereka itu akan hikayat keramat guru mereka itu daripada kecilnya sampai kepada baligh-nya pada tiap-tiap tahunnya. (Hikayat Syekh Muhammad Samman hal. 3)  &lt;br /&gt;Dalam hadist riwayat Ibnu Asakir disebutkan, dari Jabir ra. Rasulullah bersabda :&lt;br /&gt;أكرموا العلماء فإنهم ورثة الأنبياء فمن أكرمهم فقد أكرم الله و رسوله&lt;br /&gt;Terjemahannya:&lt;br /&gt;Muliakanlah ulama karena mereka sebagai pewaris para Nabi. Maka siapa yang memuliakan mereka berarti telah memuliakan Allah dan Rasul-Nya.&lt;br /&gt;(Irsyadul Ibad ila Sabilir Rasyad hal. 8)&lt;br /&gt;Dalam Hadist Riwayat Dailami disebutkan pula:&lt;br /&gt;ذكر الأنبياء من العبادة, و ذكر الصالحين كفارة, و ذكر الموت صدقة, و ذكر القبر يقربكم من الجنة.&lt;br /&gt;Terjemahannya:&lt;br /&gt;Mengingat para Nabi adalah termasuk ibadah, mengingat orang-orang shaleh adalah kafarat, mengingat kematian adalah shadaqah, dan mengingat kubur akan mendekatkan kalian ke surga (HR. Dailami dalam al-Jami’us Shaghir Juz II hal. 19)&lt;br /&gt;Dan dalam etika, adab belajar, memang keberadaan seorang guru dan Syekh sangat diutamakan selain ilmu itu sendiri. Disamping adanya nash-nash yang menjadi amar hal demikian, alasan logisnya jika seseorang mengambil sebuah ilmu, maka dia mesti terlebih dahulu kenal dan menambatkan hati kepada ahli ilmu, yakni Ulama, sebelum menuntut ilmu tersebut. Adab berguru inilah yang dipegang erat oleh orang-orang siak masa silam, sampai mati berpantang lepas, hingga merekapun beroleh limpahan berkah yang luar biasa, murid ke murid menjadi Syekh ternama pula, namun sang guru tiada lupa sama sekali. Hal ini kontras sekali dengan apa kejadian hari ini.&lt;br /&gt;Jika Minangkabau disebut sebagai gudang ulama, maka Luak nan Bungsu merupakan salah satu lumbungnya. Di sini pernah bermukim ulama-ulama yang masyhur terbilang, surau-surau besar dengan ratusan orang siak banyak menjamur. Tak terpungkiri Luak nan Bungsu adalah salah satu basis transmisi keilmuan Islam lewat lembaga tradisional Surau yang terkemuka di ranah Minang.&lt;br /&gt;Transmisi keilmuan islam, berarti mentranfer ilmu-ilmu agama kepada generasi selanjutnya, agar tradisi keilmuan itu tidak putus. Setidaknya ada tiga porsi keilmuan Islam yang diajarkan secara mendalam di surau-surau Minangkabau, yangmana Luak nan Bungsu salah satu pusatnya. Pertama ialah pemahaman tentang syari’at, dengan mempelajari secara tuntas fiqih Mazhab Syafi’i. Kedua ialah pemahaman mengenai Tauhid, menekankan aspek akidah melalui “pengajian Sifat Dua Puluh” dan pemahaman Ahlussunnah wal Jama’ah (Sunni). Dan ketiga pengamalan Tasawwuf lewat Tharikat-tharikat Mu’tabarah. Di hampir semua surau-surau lama ketiga porsi keilmuan ini diajarkan secara tuntas, walaupun dibeberapa surau telah mengambil spesialis keilmuan tertentu, seperti Nahwu, Tafsir, Ma’ani dan lainnya, namun ketiga porsi ini tetap medapat tempat di surau-surau tersebut.&lt;br /&gt;Dengan demikian jelas, surau-surau Minangkabau sangat kuat memegang tradisi Sunni; bersyari’at dengan Fiqih Syafi’i, berakidah sesuai dengan faham Asy’ariyah dan mengamalkan salah satu Tharikat Sufiyah sebagai sebuah kearifan Tasawwuf. Itulah sebabnya kenapa ulama-ulama surau ini kuat pendirian ketika munculnya beberapa kecaman dari kaum Modernis (kaum muda), karena memang sejak dulu Ahlussunnah telah mapan di ranah Minangkabau ini. &lt;br /&gt;Itulah yang dipegang oleh umat Islam di bukan hanya di Luak nan Bungsu, Minangkabau, bahkan di negeri permai Nusantara ini, diakui sejarawan manapun. Ketika terjadi Sumpah satie Bukik Marapalam, pengukuhan pertalian adat dan syara’ di Minangkabau di Bukit Marapalam – Lintau setelah masa perang Paderi, disebut bahwa yang dimaksud dengan syara’ nan lazim, adat nan kawi itu ialah agama Islam dengan I’tiqat Ahlussunnah wal Jama’ah dan atas Syari’at menurut Mazhab Syafi’i, bukan Syi’ah atau Mu’tazilah. Dipotong kerbau, dagiang dilapah, darah dicacah, tanduak dibanam ka tanah, dimulai jo fatihah disudahi jo do’a, sia nan malangga akan dimakan biso kewi, kaateh indak bapucuak, kabawah indak baurek, ditangah digiriak kumbang... begitulah adanya ulama-ulama tua kita silam.&lt;br /&gt;Dengan demikian, mengkaji ulama, apakah dari segi biografinya, jaringan keilmuannya hingga peninggalan tulisan yang pernah ditinggalkannya, sangat penting, demi untuk meneladani hingga merekontruksi jalannya agama Islam di Minangkabau, negeri emas ini. Apatah lagi bagi kita –Minangkabau- yang pernah “Jaya” dengan ulamanya, jika hendak kembali menegakkan Adat basandi Syara’-Syara’ basandi Kitabullah, Babaliak ka surau. Menelusuri jejak Ulama, silsilah ilmu mereka, berati mengkaji keilmuan mereka yang luar biasa dalamnya; yang mereka tuangkan dalam naskah-naskah Tua, kearifan ulama, warisan yang mesti dijaga oleh kita.&lt;br /&gt;Maka penulis berusaha menuangkan setiap derai untaian orang-orang tua, rangkaian riwayat yang bercerai berai dan diulas pula dengan keterangan-keterangan dari bibliografi-bibliografi yang ada. Maka jadilah sebuah cacatan kecil, Catatan Biografi ulama-ulama Luak nan Bungsu, Luak Limapuluhkota.&lt;br /&gt;Sekiranya ada ungkapan yang lebih dalam dari ucapan terima kasih, maka penulis akan haturkan kepada kedua orang tua penulis yang telah berjasa mengasuh dan mendidik penulis selama ini. kemudian rasa terima kasih yang sebesar-besarkan kepada guru-guru penulis, baik di lembaga formal maupun non formal. Khususnya kepada guru-guru penulis tercinta al-Marhum Tuanku Mudo Rasyid Zaini (w. 2008), Tuan Guru Ulak Karang – Indobaleh Mungo, Mursyidina Alismi Tuanku Boncah di Taeh Baruah – Payakumbuh, Syekh Tuanku Mudo Nahrawi di Batu Berair Mungo, Buya mudo Muhammad Zaki Umaro di Situak dan kepada yang mulia, yang karam dalam lautan ilmu, Buya Drs. H. Ahmad Zaini di Padang.&lt;br /&gt;Kemudian penulis mengucapkan kepada alim ulama, khalifah-khalifah dan para zuriyyat ulama-ulama tersebut yang telah berkenan menerima penulis dengan ramah ketika berziarah dan menggali informasi, begitupula segala pihak yang telah membantu penulis dalam penulisan catatan biografi ini. Terutama kepada Tuan Syekh Abu Bakar Tuanku Saidina Ibrahim (khalifah ke-IV Syekh Ibrahim Kumpulan) di Kumpulan – Pasaman, Buya H. Anas Malik (cucu Syekh Mudo Abdul Qadim Belubus) di Belubus – Payakumbuh, Buya Mushaddiq di Tabek gadang, Buya Nasribei di Padang Kandih, Buya Abdullah Hukum di Malampah – Pasaman, Buya Abusidar di Koto Kandih – Pesisir Selatan, khalifah dari Syekh Zakaria Labai Sati Malalo - Tanah Datar, Tuanku Qadhi Tanjuang Ipuah – Pariaman, Tuanku Imam Padang Sarai – Padang, anak cucu dari Syekh Mohammad Arif Sampu – Solok Selatan, Buya Tigo Jangko – Lintau dan lain-lainnya. Ucapan terima kasih juga penulis ucapkan kepada Bapak , “Dr” Pranomo (Fak. Sastra UNAND), Drs. Yulizal Yunus, M. Si (Lemlit IAIN Padang), Dr. Ahmad Taufik Hidayat dan bapak Sofyan Hadi, SS, M. Hum (PPS UIN Syarif Hidayatullah – Ciputat), dari mereka penulis mendapat dorongan dan semangat untuk menggali khazanah ulama-ulama silam. dan segenap pihak yang penulis libatkan dalam penulisan biografi ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu dalam kesempatan terbatas ini.&lt;br /&gt;Demikianlah, semoga catatan Biografi ini bermanfaat hendaknya kehadapan masyarakat banyak. Penulis berdo’a dengan penulisan riwayat ulama-ulama ini, penulis, begitu juga para pembaca memperoleh limpahan barokah dan rahmat berkat tuah Nabi Besar Muhammad SAW, dan para pewaris beliau, para ulama. Amin...&lt;br /&gt;Terakhir penulis mengutip ungkapan guru kita Syekh Sulaiman ar-Rasuli (w. 1970) yang masyhur dengan gelar “Inyiak Canduang”, yang memesankan kita untuk tetap istiqamah:&lt;br /&gt;Jalan jan diasak urang lalu,&lt;br /&gt;Cupak jan dipapek rang manggaleh,&lt;br /&gt;Kaji jan diubah pakiah singgah.&lt;br /&gt;Dan dalam penutup kitab Tsabitul Qulub, yang mulia Syekh Mudo Abdul Qadim (w. 1957) “Beliau Belubus” berujar: “Pegang Syari’at Tubuh nan kasar, pegang tharikat tubuh nan halus, pegang Hakikat tubuh nan Bathin, pegang Ma’rifat Tuhan nan punya pegang. Dicari pengenalan di dalam zikir, dipakai di dalam sembahyang, disudahi tatakalo nyawa berpulang kerahmatullah…”&lt;br /&gt;Kitapun akan teringat dua bait sya’ir pada sampul Tanbihul Awam-nya Syekh Muhammad Sa’ad Mungka:&lt;br /&gt;لي سادة  من  عزهم  أقدامهم فوق الجباه&lt;br /&gt;إن لم أكن منهم فلى  فى حبهم عز وجاه&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakan Sabtu – Mungo,  2010&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Ditulis ditangan Faqir yang Karam dalam lautan dosa&lt;br /&gt;Apria Putra&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4620918976357743641-9028062243818076627?l=surautuo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surautuo.blogspot.com/feeds/9028062243818076627/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surautuo.blogspot.com/2011/10/buku-ulama-ulama-luak-nan-bungsu.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4620918976357743641/posts/default/9028062243818076627'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4620918976357743641/posts/default/9028062243818076627'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surautuo.blogspot.com/2011/10/buku-ulama-ulama-luak-nan-bungsu.html' title='Buku “Ulama-ulama Luak nan Bungsu: Cacatan Biografi Ulama Luak Limopuluah Kota dan Perjuangannya”, oleh al-Faqir Apria Putra'/><author><name>Apria Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08209012488814467728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-PcLNwRupIBc/TpPR6uu1RRI/AAAAAAAAAPU/lk--hbpZmyE/s72-c/Edit%2BCover%2BOK%2Bcopykk.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4620918976357743641.post-7875474404045719603</id><published>2011-10-10T22:12:00.000-07:00</published><updated>2011-10-10T22:29:58.341-07:00</updated><title type='text'>Mesjid Tuo Ampang Godang: Khazanah Arkeologi Islam Minangkabau nan Terabaikan</title><content type='html'>Oleh: &lt;b&gt;Apria Putra&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mesjid Tuo Ampang Gadang ialah salah satu kekayaan budaya masa lalu yang keadaannya begitu memprihatinkan. Bentuk arsiteknya yang menawan, khas surau-surau lama di Darek, serta kearifan dari setiap ornamennya menyiratkan bahwa Mesjid ini pernah memainkan peran keagamaan bagi masyarakat Ampang Gadang di masa lalu. Namun, setiap sekian puluh tahun, Mesjid Tuo ini tak lagi diperhatikan. Memang salah saing dengan mesjid gaya Modern yang dibagun tak jauh dari situs ini. Tak satupun dari instansi terkait, baik Badan Kebudayaan dan Kepurbakalaan yang nimbrung unruk mempertahankan kekayaan budaya dan agama ini, begitu pula dari Depag, jangankan hendak membenahi, menyilau agak sepicingpun tidak, walaupun Mesjid ini pernah menjadi aset arkeologi islam yang cukup hangat dibicarakan di era 80-an. tapi apakan daya, pemberitaan tahun 80-an hanya sekedar pengisi laporan para arkeolog, setelah itu, dibiar ditelan masa.&lt;br /&gt;inilah beberapa bagian ornamen Mesjid yang sempat diabadikan oleh penulis, dalam sebuah perjalanan ziarah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-wuGViLi9e4Q/TpPOP8dkayI/AAAAAAAAAOA/hUCvqPhZJnQ/s1600/CIMG5784%2Bcopy.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="320" width="240" src="http://1.bp.blogspot.com/-wuGViLi9e4Q/TpPOP8dkayI/AAAAAAAAAOA/hUCvqPhZJnQ/s320/CIMG5784%2Bcopy.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Foto 1: Jalan Masuk Mesjid, tenang, senyap dan sejuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-tPYKY_HZMsY/TpPOf4uXfRI/AAAAAAAAAOM/Fhp4BSrycEo/s1600/CIMG5786%2Bcopy.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="320" width="240" src="http://4.bp.blogspot.com/-tPYKY_HZMsY/TpPOf4uXfRI/AAAAAAAAAOM/Fhp4BSrycEo/s320/CIMG5786%2Bcopy.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Foto 2: Mesjid Ampang Gadang, khas gaya Minang dengan Menara bergaya India untuk Azan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-A0R4u_VpQ9s/TpPO1lhQVMI/AAAAAAAAAOY/l3GN5mMPFeI/s1600/CIMG5792%2Bcopy.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="240" width="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-A0R4u_VpQ9s/TpPO1lhQVMI/AAAAAAAAAOY/l3GN5mMPFeI/s320/CIMG5792%2Bcopy.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Foto 3: Bagian Mesjid yang rusak parah, kelapukan kayu karena rembesan hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-gMLyTfYVNnE/TpPPNoTtHwI/AAAAAAAAAOk/0sD94St_7N8/s1600/CIMG5801%2Bcopy.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="240" width="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-gMLyTfYVNnE/TpPPNoTtHwI/AAAAAAAAAOk/0sD94St_7N8/s320/CIMG5801%2Bcopy.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Foto 4: Bagian dinding dalam Mesjid yang dipenuhi oleh kaligrafi yang indah, berbagai jenis khat terdapat dalam setiap bagian dinding dalam mesjid, mulai dari &lt;i&gt;naskhi, riq'ah, diwani, tsulust, farisi&lt;/i&gt; dan lainnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-Ne1CV8Un7cY/TpPPwHFg8uI/AAAAAAAAAOw/UNTzxfV6UjA/s1600/CIMG5802%2Bcopy.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="240" width="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-Ne1CV8Un7cY/TpPPwHFg8uI/AAAAAAAAAOw/UNTzxfV6UjA/s320/CIMG5802%2Bcopy.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Foto 5: Bagian dalam Mesjid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-8ZLnNdg35hs/TpPP6h3jXII/AAAAAAAAAO8/0zz7KB2xBMA/s1600/CIMG5811%2Bcopy.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="240" width="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-8ZLnNdg35hs/TpPP6h3jXII/AAAAAAAAAO8/0zz7KB2xBMA/s320/CIMG5811%2Bcopy.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Foto 6: Penulis, al-Faqir, berada disamping kolam berwudhu', hening dalam ketakjuban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga ada yang tergerak, ada yang tergugah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4620918976357743641-7875474404045719603?l=surautuo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surautuo.blogspot.com/feeds/7875474404045719603/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surautuo.blogspot.com/2011/10/mesjid-tuo-ampang-gadang-khazanah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4620918976357743641/posts/default/7875474404045719603'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4620918976357743641/posts/default/7875474404045719603'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surautuo.blogspot.com/2011/10/mesjid-tuo-ampang-gadang-khazanah.html' title='Mesjid Tuo Ampang Godang: Khazanah Arkeologi Islam Minangkabau nan Terabaikan'/><author><name>Apria Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08209012488814467728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-wuGViLi9e4Q/TpPOP8dkayI/AAAAAAAAAOA/hUCvqPhZJnQ/s72-c/CIMG5784%2Bcopy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4620918976357743641.post-3530814945594334501</id><published>2011-09-23T18:33:00.000-07:00</published><updated>2011-10-10T21:53:05.542-07:00</updated><title type='text'>Surau Batu Bulan, Sjech Isma’il al-Chalidi dan Naskah Kuno</title><content type='html'>Oleh : &lt;b&gt;Apria Putra&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Ditulis berdasarkan  perjalanan Ziarah penulis ke Surau Batu Bulan, Senin, 1 Agustus 2011/ 1 Ramadhan 1423 H&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-DVYe5isV9Ho/Tn0yyyu9ylI/AAAAAAAAANc/B33Bau6porw/s1600/wallpaperhhh.JPG" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="218" width="152" src="http://4.bp.blogspot.com/-DVYe5isV9Ho/Tn0yyyu9ylI/AAAAAAAAANc/B33Bau6porw/s320/wallpaperhhh.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Di dataran tinggi yang cukup makmur, Luak nan Bungsu, dilingkupi bukit-bukit hijau dengan pemandangan sesawahan bak permadani terhampar, dilengkapi udara khas tropis yang menyiratkan keakraban alam dengan manusia, berikut jejeran rumah-rumah gadang berbagai ukiran yang tetap tegak tegap mengisyaratkan kehidupan masyarakat Minangkabau yang masih kental, disinilah berdiri sebuah surau tua dengan tonggak-tonggak kayunya yang seakan tak pupus digulung zaman. Itulah surau Batu Bulan, surau lama yang berusia entah berapa abad, namun tetap eksis meski tak sejaya dahulu pastinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surau Batu Bulan, adalah salah satu tonggak sejarah pendidikan Islam yang penting bagi masyarakat Talang Maua. Berpuluh-puluh tahun yang lalu, di surau kayu yang berhawa sejuk itu ramai dikunjungi orang-orang siak (santri dalam istilah Jawa) dari berbagai penjuru negeri di Limapuluh Kota untuk menimba ilmu keislaman kepada ulama terkemuka yang diam berkhitmat disana. Nama ulama itu masih dikenang, meskipun riwayat perjalanannya tak lagi diperdengarkan, dia ialah Sjech Isma’il al-Chalidi (nama ulama ini jangan dikacaukan dengan Syekh Isma’il bin Abdullah, yang wafat sekitar tahun 1850-an, penyebar tarikat Naqsyabandiyah al-Khalidiyah yang terkemuka itu). Penyebutan “al-Chalidi” dibelakang nama beliau merupakan nisbah kepada Tarikat Naqsyabandiyah al-Khalidiyah (menurut gurisan silsilah Maulana Syekh Khalid Kurdi) yang dianut dan diamalkannya. Adapun aktifitas transmisi keilmuan di Surau Batu Bulan, disamping mengajian kitab yang lazim dilakukan di tanah Melayu ini, juga pengajaran amalan Tarikat Naqsyabandiyah melalui aktifitas Suluk (khalwat). Untuk yang terakhir ini, Suluk Naqsyabandi, masih sempat kita merasakan hawa dingin sebagai bekas amalan orang-orang dahulu di dalam surau ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-_EO17k4GAsg/TpPLXRfw3yI/AAAAAAAAAN0/Yus_bQFja_0/s1600/Surau%2BBatu%2BBUlan.JPG" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="320" width="263" src="http://3.bp.blogspot.com/-_EO17k4GAsg/TpPLXRfw3yI/AAAAAAAAAN0/Yus_bQFja_0/s320/Surau%2BBatu%2BBUlan.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;Foto:&lt;/b&gt; Surau Batu Bulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat kepada bentuk arsiteknya, niscaya akan terlihat ketidak lazimannya untuk tipikal surau-surau di darek, Limapuluh Kota khususnya, surau Batu Bulan bentuk atap dan gaya persendian tonggak-tonggaknya mirip dengan surau-surau Syathariyah di pesisir Minangkabau. Atapnya bergonjong, seperti rumah gadang, persis gaya atap Surau Syekh Burhanuddin di Tanjuang Medan (Ulakan), tidak sama dengan surau-surau tua lainnya di darek yang mempunyai atap tumpak dan bertingkat-tingkat. Entah ada pengaruh dari pesisir, penyelidikan kita belum memadai untuk mengungkap hal ini. Sebelum pemugaran di era 80-an, bentuk asli bagian dalam surau terdiri dari 3 tingkat hingga ke puncak. Tingkat pertama dipakai untuk shalat dan mengaji, sedangkan untuk tingkat atas dipakai untuk melaksanakan Suluk Tarikat Naqsyabandiyah. Layaknya di surau-surau terkemuka lainnya, makam Syekh Isma’il terletak disebelah Mihrab Surau. Makam terbuat dari adukan semen dan batu kali, keadaannya sudah runtuh dan tampak kurang terawat. Dulu, masih ramai orang-orang berziarah ke pusara Syekh Isma’il, diantaranya ada yang datang dari negeri jauh-jauh, seperti Kampar. Namun kemudian, setelah kaji Naqsyabandiyah telah dipinggirkan, hanya satu dua yang masih setia untuk mengenang ulama yang satu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-lttQxG77tOs/Tn00Eba5hcI/AAAAAAAAANs/cHLRBe1unx0/s1600/Bjkklhjj%2Bcopy.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="320" width="226" src="http://2.bp.blogspot.com/-lttQxG77tOs/Tn00Eba5hcI/AAAAAAAAANs/cHLRBe1unx0/s320/Bjkklhjj%2Bcopy.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1984, Yuwono Sudibyo (arkeolog asal Jogja) bersama Tim, dalam pelaksanaan Tugas Inventarisasi Peninggalan Tradisi Megalitik di kabupaten Limapuluh Kota pernah berkunjung ke Surau Batu Bulan. Pada saat kunjungan, berikut penelitian lapangan inilah dilakukan pemugaran terhadap surau dengan terlebih dahulu melakukan pembongkaran terhadap dinding surau yang hampir rapuh. Pembukaan dinding dilakukan bersama-sama, pada saat itu banyak ditemui naskah-naskah kuno yang sengaja ditaruh dalam lapiras dinding. Naskah tersebut berbagai ukuran, mulai dari yang kecil hingga yang besar dan tebal-tebal. Beberapa barang antikpun sempat ditemui, diantaranya keris-keris usang yang terletak dalam lembar-lembar naskah itu. Konon, sebahagian naskah yang berupa lembaran di bakar anak-anak mengaji, alasan sepelenya karena tak tahu gunanya, mengenai naskah-naskah lainnya, menurut informasi dibawa oleh tim. Keberadaan naskah-naskah ini dibenarkan oleh H. Amirulis Yakun Dt. Majo Indo, tokoh masyarakat Batu Bulan, bahwa dahulu di masa PRRI, banyak naskah-naskah itu sengaja disembunyikan di semak belukar, sedang pemiliknya lari ke hutan, hingga kampung Batu Bulan tak berpenghuni. Ketika kembali, rupanya naskah-naskah itu telah rusak akibat rembesan air. Maka naskah-naskah ini akhirnyapun hanya tinggal cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-JXG8aSiqNRs/Tn0y-OOBO5I/AAAAAAAAANk/AwfQNIixgO0/s1600/Minhajutthalibin.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="254" width="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-JXG8aSiqNRs/Tn0y-OOBO5I/AAAAAAAAANk/AwfQNIixgO0/s320/Minhajutthalibin.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;Foto&lt;/b&gt;: Naskah "Minhajut Thalibin", Fiqih Mazhab Syafi'i karya Imam Nawawi yang banyak tersebar di Minangkabau. Naskah yang di foto yaitu Naskah Sijunjung (digitalisasi oleh Apria Putra)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah sekedar riwayat Surau Batu Bulan, sebagai bukti keemasan masa lalu di Minangkabau. Dimasa ulama, kitab dan amalan Tarikat Sufiyah masih dipegang erat; cerminan bagi kita yang lama tenggelam, untuk membangkit batang tarandam di kemudian waktu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4620918976357743641-3530814945594334501?l=surautuo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surautuo.blogspot.com/feeds/3530814945594334501/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surautuo.blogspot.com/2011/09/surau-batu-bulan-sjech-ismail-al.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4620918976357743641/posts/default/3530814945594334501'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4620918976357743641/posts/default/3530814945594334501'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surautuo.blogspot.com/2011/09/surau-batu-bulan-sjech-ismail-al.html' title='Surau Batu Bulan, Sjech Isma’il al-Chalidi dan Naskah Kuno'/><author><name>Apria Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08209012488814467728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-DVYe5isV9Ho/Tn0yyyu9ylI/AAAAAAAAANc/B33Bau6porw/s72-c/wallpaperhhh.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4620918976357743641.post-1572540116713455237</id><published>2011-08-02T02:34:00.000-07:00</published><updated>2011-08-02T02:38:53.989-07:00</updated><title type='text'>Berziarah ke makam Syekh Muhammad Thahir Barulak (w. 1851) dan Syekh Muhammad Jamil Tungkar (w. 1890)</title><content type='html'>Oleh: Yang karam dalam laut dosa, &lt;b&gt;Apria Putra&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-N4375B2EiXs/TjfFn2mo-MI/AAAAAAAAANU/jDZZb2UiXqQ/s1600/putra.JPG" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="320" width="226" src="http://1.bp.blogspot.com/-N4375B2EiXs/TjfFn2mo-MI/AAAAAAAAANU/jDZZb2UiXqQ/s320/putra.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Sebelum menggerakkan pena menulis ini, saya teringat 2 bait sya’ir dalam kitab Mawahib Rabbil Falaq Syarah Qashidah Bintil Mailiq buah tangan Maulana Syekh Isma’il bin Abdullah al-Khalidi Naqsyabandi Simabur al-Minangkabawi (terbitan Maktabah Islamiyah, Bukittinggi, tahun 1928). Dimana bait ini yang selalu membuat saya rindu ulama-ulama silam, membuat air mata tidak tertahan. Gubahannya ialah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لى سادة  من  عزهم #  أقدامهم فوق الجباه&lt;br /&gt;إن لم أكن منهم فلى #  فى حبهم عز و جاه&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Bagiku ada tuan-tuan,&lt;br /&gt;Dimana mereka dimuliakan,&lt;br /&gt;Tapak kaki mereka di atas segala dahi.&lt;br /&gt;Walaupun aku bukan bagian dari mereka,&lt;br /&gt;Namun mencintai mereka adalah kemuliaan dan tuah.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramadhan telah diambang pintu, adalah sebuah tradisi masyarakat yang baik ketika akan memasuki Ramadhan yaitu menziarahi makam karib kerabat, untuk mendo’akan orang-orang yang mendahuluinya di hari baik dan bulan baik ini. Bagi jama’ah-jama’ah muslimin yang memiliki silsilah keilmuan, mereka melakukan ziarah ke makam ulama-ulama, para guru dan para mursyid yang telah wafat. Untuk kawasan Limapuluh kota, ada banyak pusara ulama-ulama besar, karena memang tersebut dalam sejarah penyebaran Islam bahwa kawasan ini merupakan satu diantara gudang ulama di Minangkabau dulunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun surau-surau besar, dimana ratusan tahun lalu menjadi sentra pendidikan Islam telah rapuh dan lapuk dimakan usia dan tak dihuni, namun kita masih beroleh bukti makam para ulama, sebagai isyarat keemasan Islam di masa lalu. Kita dapat sebutkan ulama-ulama besar itu, diantaranya Syekh Keramat nan Tuo di Taram (abad XVII), Syekh Surau Durian di Taram (Abad XIX), Syekh Abdurrahman al-Khalidi Naqsyabandi “Beliau Batu Hampar” (w. 1899), Syekh Abdullah Surau Gadang di Padang Japang (w. 1901), Syekh Muhammad Shaleh Beliau Munggu di Padang Kandih (w. 1912), Syekh Muhammad Thaha di Limbukan (w. 1916), Syekh Muhammad Arsyad Batu Hampar (w. 1924), Syekh Muhammad Sa’ad al-Khalidi di Mungka Tuo (w. 1922), Syekh Abdullah Beliau Halaban (w. 1926), Syekh Ahmad Abdullatif di Baruah Gunuang (w. 1938), Syekh Arifin Beliau Batu Hampar (w. 1939), Syekh Mudo Abdul Qadim Belubus (w. 1957), Syekh Ibrahim Harun di Tiakar (w. 1961) dan banyak lainnya, kita dapat menyebutkan ratusan nama lainnya. Mereka ulama-ulama terkemuka, sebagai suluah bendang dalam Nagari, berpitua kepada Ahlussunnah, memakai ilmu yang diibaratkan dengan dua sayap lahir dan batin. Di masa beliau hidup, namanya harum segenap negeri Minangkabau, bukan hanya di ranah kelahirannya ini, kemasyhuran mereka sampai ketanah seberang, melintasi lautan hingga tanah Malaya dan tanah suci Mekah al-Mukarramah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski beberapa nama dan biografinya telah dikenal dan dicatat oleh sejarawan Islam di negeri ini, namun ada kiranya 2 ulama besar yang jarang disebut, entah dilupakan atau pun terlalu pelik untuk digali. Kedua beliau itu merupakan diantara penghulu-penghulu ulama di abad XIX di ranah Minang ini, beliau ialah Syekh Muhammad Thahir Barulak dan Syekh Muhammad Jamil Tungkar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum Ramadhan tahun ini saya berkesempatan mengunjungi makam kedua ulama besar ini di Barulak (Tanah Datar). Kesan yang saya dapatkan sungguh menarik, baik dalam suasana dan keadaan Kubah makam beliau yang berdekatan dengan Mesjid masih menyiratkan kesejukan sebagai ciri khas surau-surau Sufi masa lalu, meski telah lewat seabad sejak kepergian beliau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam catatan Belanda, seperti Verkerk Pistorius dan Werner Kraus, disebutkan bahwa Syekh Muhammad Thahir Barulak merupakan salah seorang ulama terkemuka dan pemegang Tarikat Naqsyabandiyah terkemuka di abad XIX. Mempunyai pengaruh yang luas di pedalaman Minangkabau. Beliau, Syekh Thahir, merupakan salah seorang khalifah dari Syekh Isma’il al-Minangkabawi (w. 1857) yang terkenal itu. Namun dalam sebuah catatan silsilah Tarikat Naqsyabandiyah di Limapuluhkota disebutkan bahwa Syekh Thahir menerima dari Sulaiman al-Qarimi di Jabal Abi Qubais, dua generasi setelah Syekh Isma’il yang dimaksud. Berikut mengenai posisi beliau sebagai ulama besar di Minangkabau di masanya, disebutkan dalam naskah-naskah lama bahwa fatwa beliau diperpegangi dalam Mazhab Syafi’i dan Tarikat Naqsyabandiyah di abad XIX. Nama beliau disejajarkan dengan ulama-ulama masyhur lainnya, seumpama Syekh Jalaluddin Fakih Shaghir Cangking, Syekh Muhammad Shaleh Silungkang, Syekh Abdul Halim al-Khalidi Labuh, Syekh Mustafa al-Khalidi Sungai Pagu, Syekh Muhammad Yatim Padang dan banyak lainnya. Begitu keterangan yang kita terima dari Risalah Miftahus Shadiqiyyah fi Istilahin Naqsyabandiyah (terbitan Pulo Bomer-Padang, 1905) dan sebuah naskah tulisan tangan dari Syekh Abdul Majid Kinali Pasaman Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai Syekh Muhammad Tungkar, kita mendapat informasi yang agak terang. Salah seorang keturunannya yang dapat diwawancarai di Situjuh Tungkar, menyebutkan sekilas hidup beliau tersebut. Beliau, Syekh Tungkar, merupakan salah seorang murid terutama dari Syekh Muhammad Thahir Barulak tersebut. Beliau memakai gelar adat Datuak Paduko Sirajo. Konon kabarnya, Syekh Jamil-lah yang mula-mula mendirikan jum’at di Tungkar. Setelah menimba ilmu di berbagai surau terkemuka di Minangkabau, pun telah menerima ijazah dari guru besar Syekh Muhammad Thahir Barulak, beliau kemudian mengabdikan diri untuk mengajar agama. Mulanya beliau membuka pengajian kitab di Muara Parik, disana beliau mendirikan sebuah surau yang cukup besar, 9 ruang. Masih memakai kayu-kayu-an, berdinding tadir dan beratap rumbia. Cukup banyak murid-murid yang berdatangan ke Muara Parik untuk berkhitmat mengaji agama kepada beliau. Setelah beberapa tahun, beliau pindah ke Tungkar, dan mendirikan sebuah surau pula yang agak besar. Disini beliau memapankan karirnya sebagai ulama terkemuka, dan masyhur di dataran tinggi Minangkabau. Murid-murid beliau ini tercatat sebagai ulama besar pula dikemudian hari, diantaranya yang termasyhur Maulana Syekh Abu Bakar Tabiang Pulai (w. 1988), Tuanku Syekh Abdullah Beliau Halaban dan Syekh Muhammad Sa’ad al-Khalidi Mungka Tuo. Murid-murid beliau inilah yang terkemuka berjalan dengan jalan Naqsyabandi ke daerah yang jauh-jauh di Ranah emas Minangkabau ini. begitulah sekilas riwayat yang kita terima mengenai dua ulama besar abad XIX tersebut.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian setelah beliau wafat, makamnya pun di dekat-dekatkan. Hal ini mengisyaratkan betapa eratnya bertalian “rabithah” antara guru dan murid, hingga pusaranya pun diperhampirkan di sebuah ruangan Kubah, Mesjid Taqwa Barulak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-MNC8MEn5ZWw/TjfEuGmvnNI/AAAAAAAAANM/j09Mim2Qhd0/s1600/Makam.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="264" width="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-MNC8MEn5ZWw/TjfEuGmvnNI/AAAAAAAAANM/j09Mim2Qhd0/s320/Makam.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Melihat keadaan Mesjid ini, maka tak sulit bagi kita untuk mengatakan bahwa dulunya kawasan mesid ini ialah sebuah kompleks surau yang besar. Dimana ratusan bahkan ribuan orang-orang siak mengaji agama kehadapan Syekh Thahir tersebut. Letak mesjid, sama halnya dengan tipe surau-surau Naqsyabandiyah di Darek, yaitu berada di bawah tebing, sehingga menimbulkan nuasa ketenang dan keheningan yang nyata. Meski tampak telah beberapa kali pemugaran, namun suasana hening itu masih terasa, walau zaman telah bertukar, dan Naqsyabandi itu entah dimana adanya lagi. &lt;br /&gt;Ada keanehan yang dirasa, ketika memasuki mesjid itu, sekonyong-konyong dingin menusuk tulang, meski hari tengah panas terik. Walau dingin begitu, tapi menentramkan hati. &lt;i&gt;Wallahu a’lam&lt;/i&gt; dengan yang kurasa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-dXFyLPWWah4/TjfEfo_S-PI/AAAAAAAAANE/b7-pXzNwrAA/s1600/Mesjid%2BTaqwa%2BBarulak.JPG" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="207" width="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-dXFyLPWWah4/TjfEfo_S-PI/AAAAAAAAANE/b7-pXzNwrAA/s320/Mesjid%2BTaqwa%2BBarulak.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Foto: &lt;b&gt;Mesjid Taqwa Barulak,bekas Surau Tuanku Sjech Barulak&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun disayangkan, nampak roda zaman telah mengikis nilai-nilai yang ada. Mesjid ini pastinya tak seperti dulu lagi. Tak ada regenerasi sang Syekh, tak ada tampak aktifitas Suluk Naqsyabandi sebagai dulu digembar-gemborkan, sedangkan makamnya pun tampak kurang diperhatikan. Entahpun orang-orang telah menganggap semua itu bid’ah??? Telah seperti orang-orang baru yang mengaku alim zaman sekarang, serta merta mengatakan “tidak sesuai Syari’at”??? Entahlah. Yang dilihat, nama organisasi modernism telah terpampang di Surau besar Tarikat Naqsyabandiyah ini. Hal ini sungguh membuatku pilu, membuat batin menangis, membuat air mata mengalir... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akankah kita akan hanya mengenang sejarah yang tersuruk ini, dan tertawa dalam seminar-seminar keislaman yang dengan bangga mengatakan: “Minang ini gudang ulama!!!”, dulu, dulu sekali, kemudian terlena dengan masa lalu dalam memori kolektif, padahal kita banyak membelakangi kaji ulama-ulama silam...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, aku membaca kembali sya’ir bertuliskan tangan, “Nazham Ziarah Kubur” karangan Haji Abdul Wahid Ketinggian, disitu didendangkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;………&lt;br /&gt;Sudah sembahyang kami ziarah,&lt;br /&gt;Bersama-sama ke dalam kubah,&lt;br /&gt;Dua orang mursyid dilebihkan Allah,&lt;br /&gt;Maulana [Syekh] Muhammad Jamil lagi bertuah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maulana Muhammad Thahir pula kedua,&lt;br /&gt;Hari Isnain wafatnya nyata,&lt;br /&gt;Tahun seribu dua ratus tujuh puluh dua,&lt;br /&gt;Demikian tersurat pada tempatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maulana Muhammad Jamil Pula diterangkan,&lt;br /&gt;Tahun seribu tiga ratus sembilan,&lt;br /&gt;Hari rabu dalam catatan,&lt;br /&gt;Begitulah pula menurut keterangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tulis mana yang dapat,&lt;br /&gt;Untung ke kita menjadi syafa’at,&lt;br /&gt;Dihari kemudian mendapat manfaat,&lt;br /&gt;Selamat perjalanan dunia akhirat. (bait 9-16)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4620918976357743641-1572540116713455237?l=surautuo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surautuo.blogspot.com/feeds/1572540116713455237/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surautuo.blogspot.com/2011/08/berziarah-ke-makam-syekh-muhammad.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4620918976357743641/posts/default/1572540116713455237'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4620918976357743641/posts/default/1572540116713455237'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surautuo.blogspot.com/2011/08/berziarah-ke-makam-syekh-muhammad.html' title='Berziarah ke makam Syekh Muhammad Thahir Barulak (w. 1851) dan Syekh Muhammad Jamil Tungkar (w. 1890)'/><author><name>Apria Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08209012488814467728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-N4375B2EiXs/TjfFn2mo-MI/AAAAAAAAANU/jDZZb2UiXqQ/s72-c/putra.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4620918976357743641.post-7506667217799639913</id><published>2011-07-09T22:12:00.000-07:00</published><updated>2011-07-09T23:00:13.531-07:00</updated><title type='text'>Dinamika Intelektual Ulama Minangkabau dalam Karya-karya awal abad XX</title><content type='html'>Oleh: &lt;b&gt;Apria Putra&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-kRcDr4LxT50/Thk_fUuEQCI/AAAAAAAAAM0/zcl4EO3YM6k/s1600/Aquyy.JPG" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="160" width="114" src="http://1.bp.blogspot.com/-kRcDr4LxT50/Thk_fUuEQCI/AAAAAAAAAM0/zcl4EO3YM6k/s320/Aquyy.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Karya-karya yang lahir dari dinamika keagamaan diawal abad XX membuktikan betapa suatu pergolakan intelektual memberikan motivasi kepada para ulama untuk mengkaji hujjah masing-masing, hingga mengarang tulisan sebagai penjelas isu-isu yang ada kepada masyarakat luas. Selain itu, sebagai dijelaskan didepan, adapula karya-karya itu murni sebagai risalah-risalah pengajaran bagi para murid, demi mengokohkan keilmuan yang telah diwarisi oleh generasi sebelumnya.&lt;br /&gt;Disini kita perlu memberi arahan perihal masalah-masalah apa saja yang menjadi topik perbincangan pada masa itu, berikut karya-karya yang terlibat dalamnya. Sebagaimana bidang keilmuan yang menjadi pokok dalam islam, maka klasifikasi dinamika intelektual dalam karya-karya tersebut dikelompokkan ke dalam 3 macam vak keilmuan, yaitu Tarikat (Tasawwuf), Tauhid (Aqidah) dan Fiqih (Furu’). Dari tiga kelompok ini akan terbagi lagi ke dalam beberapa poin persoalan. Selain memetakan karya-karya dalam setiap bidang tersebut, kita akan melengkapinya pula dengan daftar kepustakaan lain yang menjadi literatur masing-masing kelompok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.&lt;b&gt; Tarikat (Tasawuf)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tarikat ialah masalah pertama yang diperbincangkan dimasa ini. Perdebatan mengenai masalah ini dimulai dari keraguan Ulama-ulama Muda terhadap keabsahan Tarikat. Keraguan yang timbul sepertinya kuat dipengaruhi oleh Majalah-majalah kaum pembaru di Mesir, seperti ‘Urwatul Wustqa dan al-Manar, dimana kedua majalah ini menjadi pedoman pembaruan, termasuk kasus di Minangkabau sendiri. &lt;br /&gt;Tarikat sebelum awal abad XX merupakan satu pengamalan keagamaan yang penting, yang mewarnai kehidupan sosial masyarakat kala itu. Sebagaimana diketahui bahwa Islam masuk ke nusantara diwarnai oleh unsur-unsur Tasawwuf yang cukup kental, maka keberadaan Tarikat yang merupakan satu kearifan Tasawuf telah berusia lama sebagai usia Tasawuf itu sendiri, tapi soal penamaan memang datang kemudian.  Kemudian, para ahli nampak berbeda mengenai Tarikat apa yang mula-mula dianut oleh masyarakat Minangkabau. Sebahagian mengungkapkan bahwa Tarikat Syathariyah-lah yang mula-mula menancapkan akarnya di Minangkabau, hal ini dibuktikan dengan eksis-nya surau Ulakan yang dipimpin oleh ulama besar Syekh Burhanuddin Ulakan sebagai sentra jaringan ulama-ulama pada Minangkabau pada masa itu.  Sedangkan Tarikat Naqsyabandiyah, menurut keterangannya, baru ada di Minangkabau ketika Syekh Isma’il Simabur pulang dari Mekah, yaitu pada abad ke XIX.  Namun keterangan ini nampaknya perlu ditinjau kembali, karena pendapat ini telah menafikan Syekh-syekh Tarikat Naqsyabandiyah yang telah menancapkan pengaruh di pedalaman Minangkabau sebelum Syekh Isma’il Simabur, seperti Syekh Muhammad Thahir Barulak (w. 1851)  yang begitu terkenal, Syekh Muhammad Sa’id Padang Bubus Bonjol (guru Syekh Ibrahim Kumpulan) , Syekh Muhammad Shaleh Silungkang, Syekh Jalaluddin Cangkiang, Syekh Abdurrahman Batuhampar dan lainnya.   Dan pendapat yang menyatakan bahwa Tarikat Syathariyyah yang mula dikenal di Minangkabau perlu didiskusikan kembali, mengingat eksistensi Surau Taram sebagai sentra Tarikat Naqsyabandiyah, yang kabarnya telah ada sebelum kepulangan Syekh Burhanuddin. Arza-pun menyebutkan seorang tokoh Naqsyabandiyah asal Minangkabau, Jamaluddin (abad ke-XVII), yang mula belajar di Pasai, lalu berlayar ke Baitul Faqih, Aden, Haramain, Mesir dan India. &lt;br /&gt;Perkembangan pergolakan intelektual di awal abad XX mula muncul di daerah pedalaman, hal ini tampaknya diakibatkan oleh kultur masyarakatnya yang lebih terbuka terhadap pembaruan, sifat mereka yang lebih kosmopolitan, tentunya bersinggungan dengan Tarikat Naqsyabandiyah yang begitu dominan di daerah ini. &lt;br /&gt;Pada abad XIX Minangkabau adalah sentra Tarikat yang  begitu padat. Laporan-laporan kolonial pada masa itu menyebutkan bahwa sebahagian besar penduduk di daerah ini merupakan para menganut Tarikat Naqsyabandiyah. Surau-surau yang menjadi sentra keilmuan Islam di kawasan pedalaman ini  tentu beraflisiasi dengan Tarikat. Kelancaran transportasi antara Minang dengan Mekah, karena mulainya peroperasian kapal uap, memberikan dorongan kepada masyarakat Minangkabau untuk naik haji dan belajar di tanah suci. Di Mekah, selain menunaikan ibadah dan  belajar agama kepada ulama-ulama terkemuka, mereka juga bergabung dengan zawiyah-zawiyah sufi yang bertebaran di Tanah Suci, salah satunya bergabung dengan Tarikat Naqsyabandiyah, di Jabal Qubais misalnya. Setelah mereka pulang, disamping membawa gelar haji dan ilmu pengetahuan agama yang cukup, mereka juga membawa ijazah dalam Tarikat Naqsyabandiyah, yang menjadi izin tertulis dari ulama Mekah bahwa seorang itu telah dibolehkan untuk mengajar Tarikat Naqsyabandiyah di kampung halamannya. Maka berdirilah surau-surau Naqsyabandiyah dengan pengikut-pengikut yang lumayan banyak. Diantara guru-guru Tarikat Naqsyabandiyah di Mekah kala itu ialah Syekh Sulaiman Zuhdi.&lt;br /&gt;Adanya penambahan nisbah “al-Khalidiyah” mengiringi “Naqsyabandiyah” merupakan nama yang melekat setelah masa silsilah ke-30 dari Rasulullah, yaitu dimasa Maulana Syekh Khalid Kurdi. Periodesasinya ialah:&lt;br /&gt;1. Dimasa Sayyidina Abu Bakar Shidiq ra. Hingga masa Syaikh Taifuriyah dinamai dengan Shidiqiyah&lt;br /&gt;2. Dari masa Syekh Taifuriyah hingga masa Khawajah Syekh Abdul Khaliq Fajduani dinamai dengan Taifuriyyah&lt;br /&gt;3. Periode Syekh Abdul Khaliq hingga Syekh Bahauddin al-Bukhari dinamai dengan Khawajakaniyah&lt;br /&gt;4. Masa Syekh Bahauddin al-Bukhari hingga Syekh Ubaidullah Ahrar dinamai dengan Naqsyabandiyah&lt;br /&gt;5. Masa Syekh Ubaidullah hingga Imam Robbani dinamai dengan Ahrariyyah&lt;br /&gt;6. Darimasa Imam Robbani hingga Maulana Syekh Khalid dinamai dengan Mujaddidiyah&lt;br /&gt;7. Dimasa Maulana Syekh Khalid hingga saat sekarang ini dinamai dengan al-Khalidiyah  &lt;br /&gt;Sejak masa Maulana Syekh Khalid inilah dinamai dengan al-Khalidiyah, lengkapnya dibaca “Tarikat Naqsyabandiyah al-Ahrariyah al-Mujaddidiyah al-Khalidiyah”, lebih lazim disebut dengan “Tarikat Naqsyabandiyah al-Khalidiyah”. Dan inilah yang berkembang pesat di Bumi nan Permai ini, Minangkabau.&lt;br /&gt;Munculnya pergolakan agama pada awal abad XX telah menyulut perdebatan panjang. Lahirnya karya-karya yang membantah keabsahan Tarikat Naqsyabandiyah dari kaum muda, membuat kaum Tua yang teguh memegang Tarikat perlu mendirikan pertahanan untuk menolak segala sangkaan itu, diantaranya lewat tulisan, berikut lewat debat-debat terbuka dan tabligh.  Mengenai Tarikat ini, ada beberapa poin terpenting yang menjadi perdebatan antara kaum Tua dan Kaum Muda, Yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Rabithah&lt;br /&gt;Rabithah adalah satu amalan yang menjadi ciri khas dalam Tarikat Naqsyabandiyah. Dalam literatur-literatur Naqsyabandiyah disebutkan bahwa hakikat Rabithah ialah:&lt;br /&gt;أن الرابطة عبارة عن التعلق القلب بشيء على وجه المحبة &lt;br /&gt;“Rabithah itu ialah ibarat daripada menggantungkan hati dengan sesuatu atas wajah jalan kasih”.   Maksudnya yaitu menggantungkan hati kepada guru mursyid dengan kasih sayang.&lt;br /&gt;Ada beberapa kaifiyyat dalam melaksanakan rabithah, menurut tingkatan masing-masingnya, mulai dari murid yang mubtadi’ (permulaan), sampai murid yang sudah mencapai tingkat tinggi.  Salah satu kaifiyyatnya ialah menghadirkan rupa guru ketika akan melaksanakan zikir. &lt;br /&gt;Kaifiyyah inilah yang dibantah oleh ulama Muda. Yang kemudian ditanggapi oleh ulama-ulama Tua dengan menyatakan dangkalnya pemahaman ulama muda dalam memaknai rabithah yang sejatinya, lengkap pula hujjah-hujjah Naql.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Amalan Suluk&lt;br /&gt;Suluk adalah bentuk riyadhah, beribadah mendekatkan diri kepada Allah, lazimnya dilaksanakan selama 40 hari. Dalam proses suluk ini ada beberapa hal yang kemudian dipertanyakan oleh ulama muda, diantaranya perihal meninggalkan makan daging selama suluk dan hal mengurung diri melama 40 hari tersebut.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;3) Pengajian “Nur Muhammad”&lt;br /&gt;Pengajian “Nur Muhammad”, dengan kata lain “Pengajian Tuabuah” merupakan salah satu ciri dalam Tarikat Syathariyah. Ia merupakan satu bentuk pelajaran Tasawuf yang bersumber dari pengajian “Martabat Tujuh” yang tersebar di nusantara lewat kitab Tuhfatul Mursalah ila Ruhun Nabi. Untuk kasus Minangkabau ini, risalah-risalah Syekh Abdurra’uf seperti Tanbihul Masyi,  memainkan peran penting dalam penjabaran hubungan ontologis antara Tuhan dan Alam tersebut. Pengajian ini kemudian melahirkan satu bentuk Tasawwuf bingkai lokal yang dikenal dengan “Kaji Tubuah” atau “Pangajian A’yan Tsabitah dan A’yan Kharajiyah”.  &lt;br /&gt;Inilah 3 hal yang menjadi pokok pergolakan agama antara kaum Tua dan Kaum Muda kala itu, halmana keadaan ini melahirkan motivasi untuk menulis risalah untuk mempertahankan pemahaman masing-masing. &lt;br /&gt;Dari kalangan ulama yang mempertanyakan hal-hal Tarikat (disebut ulama golongan Muda), terdapat beberapa kepustakaan dalam membantah pendirian ulama Tua, antaranya:&lt;br /&gt;1) Izhar Zaghlil Kazibin fi Tasyabbuhihm bis Shadiqin&lt;br /&gt;2) Al-Ayatul Bayyinat lil Munshifin &lt;br /&gt;3) As-Saiful Battar (no. 1-3 ialah karangan Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi)&lt;br /&gt;4) Qathi’u Riqab al-Mulhidin&lt;br /&gt;5) Izharu Asatir Mudhillan (no. 4-5 karangan Inyiak Rasul)&lt;br /&gt;6) Penerangan Tentang Asal Usul Tarikat Naqsyabandiyah (Inyiak Jambek)&lt;br /&gt;7) Beberapa artikel dalam Majalah kaum Muda, seperti dalam al-Moenir dan al-Ittifaq wal Iftiraq.&lt;br /&gt;Disamping melakukan analisis sendiri, mereka, ulama golongan muda (terkecuali Syekh Ahmad Khatib) ada menggunakan sumber-sumber dari kalangan pembaharu Mesir untuk mengokohkan hujjah-nya, seperti Majalah al-Manar. Beberapa karangan Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Qayyim juga memainkan peran penting. Berikut majalah al-Imam dari Malaya, yang diasuh oleh Syekh Thaher Jalaluddin, juga diperhitungkan dalam usaha ulama muda.&lt;br /&gt;Dengan adanya bantahan tersebut, membuat ulama-ulama Tua, yang notabene-nya ulama Tarikat, menulis beberapa karya dalam mepertahankan Tarikat dari penyelewengan tersebut, antara kepustakaan yang terpenting ialah:&lt;br /&gt;1) Irghamu Unufil Muta’annitin fi Inkarihim Rabithatal Washilin&lt;br /&gt;2) Tanbihul Awam ‘ala Taghrirat Ba’dhil Anam (No. 1-2 karya Syekh Mungka)&lt;br /&gt;3) Burhanul Haq&lt;br /&gt;4) Miftahus Shadiqiyyah fi Ishtilah Naqsyabandiyah&lt;br /&gt;5) Risalah an-Nasyiyah fi Asas Tariqat Naqsyabandiyah (No. 3-5 karya Syekh Khatib Ali)&lt;br /&gt;6) Dawa’ul Qulub fi Qishah Yusuf wa Ya’qub&lt;br /&gt;7) Aqwalul Wasithah fiz Zikr war Rabithah (No. 6-7 karya Syekh Sulaiman ar-Rasuli)&lt;br /&gt;8) Risalah Tsabitul Qulub (Syekh Muda Abdul Qadim Belubus)&lt;br /&gt;9) Rahasia Sjari’at dan Hakikat (Syekh Abu Bakar Maninjau)&lt;br /&gt;10) Beberapa karangan Syekh H. Jalaluddin&lt;br /&gt;11) Beberapa artikel dalam al-Mizan dan ar-Radd wal Mardud&lt;br /&gt;12) Karangan-karangan dari Syekh Naqsyabandi yang tidak diterbitkan (masih dalam bentuk manuskrip), seperti sebuah surat keterangan tentang Tarikat Naqsyabandiyah dari Syekh Muhammad Sa’id Bonjol (w. 1979, usia 99 tahun), adapula yang cukup menarik, seperti kitab Nahjatus Salikin yang ditulis oleh Syekh Abdusshamad di Kajai (Talu). &lt;br /&gt;Diantara hujjah ulama berdasarkan kitab-kitab Tasawwuf mu’tamad, seperti Ittihaf Saadatil Muttaqin Syarh Ihya’ Umumiddin dan Ruhul Ma’ani (Tafsir Sufi), mereka juga berpedoman kepada kitab-kitab mu’tabar yang menjadi pegangan dikalangan ulama Tarikat Naqsyabandiyah, diantaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Al-Bahjatus Saniyyah fi Adabit Tariqatil Aliyah Naqsyabandiyah&lt;br /&gt;Karya ini ditulis oleh Syekh Muhammadi bin Abdullah al-Khani an-Naqsyabandi, salah seorang khalifah dari Maulana Syekh Khalid Kurdi. Karya ini menjadi pengangan ulama-ulama Tua, didalamnya terdapat penjelasan penting mengenai Tarikat ini. Untuk beberapa lama karya ini menjadi sangat langka, hingga keberadaannya sering disembunyikan. Terakhir, karya ini telah dicetak ulang di Mesir (2005) dan satu penerbit di Turki, yaitu Hakikatkitabevi, telah membebaskan hak cipta risalah ini, sehingga dapat dipublikasikan dimanapun dan oleh siapapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Ar-Rahmatul Habithah fiz Zikri Ism Zat war Rabithah&lt;br /&gt;Ditulis oleh Syekh Husen ad-Dausari al-Bashri as-Syafi’i al-Khalidi, salah seorang murid dari Syekh Ismail al-Minangkabawi. Karya ini hingga saat ini menjadi satu karya yang cukup langka. Hanya beberapa Syekh tua yang menyimpannya. Karya ini menguraikan panjang lebar mengenai Zikir Ismuz Zat dan Rabithah yang sering dipertanyakan oleh orang awam. Isinya sangat menarik, disamping menggunakan bahasa Arab, disertai juga dengan terjemahannya dalam bahasa Melayu (huruf jawi), didalamnya disebutkan beberapa Qashidah yang menunjukkan ketinggian Tarikat Naqsyabandiyah, dan bantahan terhadap kerancuan orang-orang yang membantah Tarikat ini. karya ini terbit di mekah oleh Mathaba’ah Makah al-Muhammiyah pada tahun 1886, atas jasa dari Syekh Ahmad Mansur Baz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Majmu’atur Rasa’il ‘an Ushulil Khalidiyyah ad-Dhiya’iyah al-Mujaddidiyah an-Naqsyabandiyah (=kumpulan 18 Risalah penting dan surat-surat Syekh Sulaiman Zuhdi mengenai asas-asas pokok Tarikat Naqsyabandiyah).&lt;br /&gt;Karya ini ialah sebuah bundel, kumpulan risalah-risalah dan surat-surat yang ditulis oleh Syekh Sulaiman Zuhdi, seorang Syekh Naqsyabandiyah yang masyhur dan terkenal banyak mengeluarkan khalifah-khalifah untuk wilayah nusantara, di Jabal Abi Qubais. Karya ini menjadi satu risalah yang begitu penting mengenai Tarikat Naqsyabandiyah, dimana keberadaannya juga langka, yang hanya dimiliki oleh Syekh-syekh berusia tua. Diantara risalah-risalah penting dalam bundel ini ialah Shahifatus Shafa li Ahlil Wafa (tentang 17 tingkatan zikir dalam Naqsyabandi), Nahjatus Salikin wa Bahjatus Salikin, Mahsiratus Salikin ‘ala Sairatus Sa’irin dan Tubshiratul Fashilin ‘an Ushulil Washilin (tentang Rabithah). Risalah ini dicetak di Mekah, tanpa menyebutkan tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Mawahib Rabbal Falaq Syarh Qashidah Bintil Mailiq&lt;br /&gt;Karya ini merupakan karya terjemahan dari karya Syekh Ibnu Alan an-Naqsyabandiyah, yang merupakan syarah (penjelasan) tentang Qashidah bintil Mailiq. Meski matan-nya, Qashidah itu, menguraikan tentang Tarikat Syazili, namun Syekh Ibnu Alan memberikan komentar karya ini dengan menjelaskan seluk beluk Tarikat Naqsyabandiyah. Karya ini kemudian diterjemahkan kedalam bahasa Melayu oleh Syekh Ismail al-Khalidi al-Minangakabawi. Karya ini kemudian tersebar dikalangan penganut Tarikat di dunia Melayu, terutama di Minangkabau. Disamping disebarkan dalam bentuk manuskrip, juga dalam bentuk cetakan. Salah satunya dicetak di Fort de Kock (Bukittinggi), pada percetakan Inyiak HMS Sulaiman (Mathba’ah Islamiyah), pada tahun 1928, atas izin dari waris Syekh Ismail, yaitu Abdullah bin Isma’il al-Khalidi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) Beberapa Risalah yang membantah Syekh Ahmad Khatib dan membela Tarikat Naqsyabandiyah, diantaranya as-Suyuful Maslulah karangan Syekh Husein Ahmad al-Hindi, berikut karangan-karangan Sayyid Muhammad bin Mahdi bin Lahudi al-Hasani al-Kurdi dan Allamah Umar bin Salim al-Attas.  Hadirnya karya-karya ini memberikan dukungan kepada ulama-ulama Minangkabau untuk mempertahankan Tarikat Naqsyabandiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6) Tanwirul Qulub fi Mu’amalati Alamal Ghuyub dan Mawahib Sarmadiyah&lt;br /&gt;Dua karya ini sangat terkenal di nusantara, khususnya di Minangkabau. Dikarang oleh seorang ulama kenamaan, yang alim, pernah menjadi pengajar di Universitas al-Azhar, yaitu Syekh Muhammad Amin Kurdi al-Irbili asy-Syafi’i al-Asy’ari an-Naqsyabandi. Karya pertama, Tanwirul Qulub, dibagi kedalam 3 bab besar. Bab I mengenai ilmu Tauhid berdasarkan Ahlussunnah wal Jama’ah, Bab II mengenai hukum-hukum Fiqih berdasarkan Mazhab Imam Syafi’i dan Bab III mengenai Tasawwuf, terutama Tarikat Naqsyabandiyah. Kitab kedua, Mawahib Sarmadiyah, merupakan karya yang berisi tentang Manaqib (biografi) ahli Silsilah Tarikat Naqsyabandi, mulai dari Rasulullah hingga pemangku Tarikat itu pada masa kini. Kitab Tanwirul Qulub ini dicetak dan tersebar luas, mudah ditemui di toko-toko kitab. Sedang kitab kedua, agak kurang diperhatikan, kecuali oleh para Syekh terkemuka, walaupun dulu nama kitab ini begitu populer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7) Jami’ul Ushul fil Auliya’&lt;br /&gt;Karya ini ditulis oleh Syekh Ahmad al-Khamaskhanawi an-Naqsyabandi. Isinya, disamping menguraikan ajaran-ajaran Tarikat Naqsyabandiyah, juga meriwayatkan Manaqib Syekh Baha’uddin Syah Naqsyabandi (pendiri Tarikat Naqsyabandiyah) berikut menjelaskan istilah-istilah populer yang terdapat dalam Tasawuf. Pada mulanya kitab ini termasuk karya langka, namun beberapa dasawarsa terakhir telah dicetak ulang oleh sebuah penerbit kitab kuning di Jakarta, yaitu al-Haramain, sehingga dapat dijumpai di toko-toko kitab di Bukittinggi.&lt;br /&gt;Itulah beberapa bibliografi seputar Tarikat Naqsyabandiyah pada awal abad XX. Sedangkan mengenai perbantahan tentang Tarikat Syathariyah, yang mulanya didedah habis oleh Dr. Abdul Karim Amarullah, lewat Qathi’u Riqab al-Mulhidin, mengenai hal ini kita tidak mempunyai cacatan mengenai pembelaan kaum Syathariyah sendiri. Meski begitu kita mendapati beberapa karya mengenai “Pengajian Tubuh”, yang sebahagian besarnya dalam bentuk manuskrip di Pariaman. Sebahagian besar karya itu memberikan pengukuhan terhadap pengajian “Nur Muhammad”, dan hanya sebahagian kecil yang jelas-jelas menunjukkan bantahan terhadap kaum Muda dalam masalah ini. Diantara karya itu berbentuk sya’ir yang dicetak di Padang Panjang. Diantara karya-karya pengukuhan terhadap “Pengajian” ini ialah:&lt;br /&gt;1) Tahqiq Syathari&lt;br /&gt;2) Sya’ir Ihwal Jalan&lt;br /&gt;3) Sya’ir Siriah (No. 1-3 ditulis oleh Syekh Sidi Jamadi)&lt;br /&gt;4) Sya’ir Tarikat serta Tasawuf (ditulis oleh Mad Abut gelar Tuanku Kari Lubuk Alung, terbitan Tandikek Padang Panjang)&lt;br /&gt;5) Beberapa karya yang tidak diterbitkan (dalam bentuk manuskrip), seperti Risalah Lubuak Ipuah oleh Syekh Lubuk Ipuah, beberapa tulisan dari Syekh Aluma Koto Tuo (berbentuk sya’ir), beberapa tulisan dari murid-murid Syekh Isma’il Kiambang (dalam tulisan latin) dan lainnya.&lt;br /&gt;Selain karya diatas, kita juga menemui literatur-literatur yang menjadi pegangan para Ahli Tarikat Syathari, diantaranya, yang paling istimewa, karya-karya Syekh Abdurra’uf yang tersebar di Minangkabau, seperti Bayan Tajalli, Daqa’iqul Huruf, Tanbihul Masyi dan Kifayatul Muhtajin. Selain itu ada karya-karya ulama Mekah dan India, seperti Simitul Majid oleh Syekh Ibrahim al-Kurani dan Tuhfatul Mursalah oleh al-Burhanpuri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping itu, kita juga memperoleh beberapa manuskrip perihal pengajian “Nur Muhammad” tersebut, yang bukan ditulis oleh kalangan Syathari, namun oleh penganut Tarikat Samaniyah. Salah satu diantaranya yang cukup menarik ialah sebuah sya’ir anonim yang diberi titel Sya’ir Tharikat Nuraniyah Rabbaniyyah Khalawatiyah Muhammadiyah dan Samaniyah. Sampai saat ini ditemui 2 versi sya’ir ini, pertama, salinan Buya Muhammad Ridhwan Sungai Pagu (w. 1982), dan kedua versi Manuskrip Simpang Tonang, Pasaman Barat (yang diwarisi oleh Pandeka Sutan Duo Koto). Diantara isinya ialah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Inilah sya’ir tharikat namanya&lt;br /&gt;Pada Tuanku Syaikh Talang Babungo]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wa fi dubdari alam sempurnanya&lt;br /&gt;A’udzubillah penolak balanya&lt;br /&gt;Bismillah itu hendak disya’irkannya&lt;br /&gt;Supaya ‘asyiq segala saudaranya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Johan perkasa Syah(i) alam&lt;br /&gt;Menentang qaba qausain pada siang dan malam&lt;br /&gt;Ke bahrul adam ia tenggelam&lt;br /&gt;Bijaksana dzuq-nya dalam&lt;br /&gt;…………&lt;br /&gt;Mengenal diri sangatlah mudah&lt;br /&gt;Sebab dibebal menjadi susah&lt;br /&gt;Rupa yang zhahir jangan diubah&lt;br /&gt;Itulah bernama sifat ma’nawiyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahdatul wujud jalannya lancar&lt;br /&gt;Alam-nya bebal ma’rifat-nya mungkir&lt;br /&gt;Kalau tidak pada guru yang sikir&lt;br /&gt;Tentulah masuk neraka sa’ir  &lt;br /&gt;Ditemuinya teks-teks ini memberikan bukti betapa “Pengajian Tubuh” menjadi salah satu corak Tasawuf yang mempunyai bekas mendalam dikalangan Sufi di Minangkabau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. &lt;b&gt;Fiqih (Furu’)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Furu’ Fiqih merupakan salah satu topik yang cukup hangat dibicarakan pada awal abad XX. Sebagaimana ditulis didepan bahwa di nusantara, khususnya Minangkabau, dikenal erat memegang Mazhab Syafi’i dalam furu’ syari’at. Lahirnya paham pemabaharuan yang mempertanyakan Mazhab-mazhab fiqih yang ada, yang dikatakan sebagai sebab kemunduran Islam, membawa perdebatan dikalangan ulama, yang terbagi ke dalam dua kelompok berikutnya. &lt;br /&gt;Diantara masalah-masalah Fiqih yang menjadi perbincangan hangat diawal abad XX di Minangkabau, berikut kepustakaan kepejuangan dalam masalah-masalah tersebut, diantaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Masalah Taqlid&lt;br /&gt;Ulama Muda berpendapat bahwa taqlid dalam syari’at itu tidak harus, malah ada yang radikal dikalangan mereka, dengan menyatakan bahwa taqlid itu sebab utama kemunduran umat Islam pada masa kini. Sedangkan dikalangan kaum Tua, menyatakan bahwa setiap muslim yang tidak mampu mengistinbathkan hukum dari al-Qur’an dan Sunnah, wajib bertaqlid kepada salah satu Mazhab yang 4 (mu’tabar). &lt;br /&gt;Adapun kepustakaan yang terlibat dalam masalah ini ialah: [kalangan ulama Muda] diantaranya buku Pedoman Guru: Pembetul Kiblat faham keliru (H. Abdul Karim Amarullah) dan banyak artikel dalam al-Moenir dan al-Ittifaq wal Iftiraq. [kalangan Tua] untuk merespon faham Muda dalam masalah ini mereka menulis, antara lain Intisharul I’tisham (Syekh Khatib ‘Ali); beberapa tulisan dalam Tanbihul Awam (Syekh Mungka); beberapa bait sya’ir dalam Kitab Enam Risalah (Syekh Sulaiman ar-Rasuli) dan banyak artikel dalam al-Mizan dan ar-Radd wal Mardud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Melafazkan Niat (Ushalli)&lt;br /&gt;Masalah Ushalli atau melafazhkan niat menjadi satu topik yang sangat hangat. Dikalangan ulama Muda menilai bahwa Ushalli itu bid’ah belaka. Sedangkan dikalangan ulama Tua, dengan merujuk kepada Imam Nawawi, menyebutkan bahwa Ushalli itu sunnat untuk penolong hadir penghadirkan niat.&lt;br /&gt;Kepustakaan pejuang dalam hal ini ialah: [kalangan Muda] seperti kitab al-Fawaid al-‘Aliyah (H. Abdul Karim Amarullah) dan beberapa artikel dalam Majalah ulama Muda. [kalangan Tua] diantaranya satu tulisan dalam Tanbihul Awam (Syekh Mungka), satu bagian dalam Burhanul Haq (Syekh Khatib ‘Ali), Kitab Enam Risalah (Syekh Sulaiman ar-Rasuli) dan banyak artikel dalam majalah-majalah ulama Tua. Kemudian datang Risalah dari Mekah, yaitu Khuttatul Mardhiyah karangan Syekh Ahmad Khatib yang mempertegas pendirian Ushalli sebagai sunnat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Berdiri Maulid (berdiri Marhaban)&lt;br /&gt;Kegemaran masyarakat waktu itu ialah memperingati kelahiran nabi (Maulid) dengan membaca kisah-kisah Maulid, seperti Barzanji dan Syaraful Anam. Dan ketika tiba pada bacaan “Nabi Lahir” mereka serempak berdiri untuk menghormati Nabi Muhammad. Datangnya gelombang ulama Muda menyatakan bahwa berdiri Maulid merupakan Bid’ah yang harus dicegah. Di kalangan kaum Muda lahir risalah, seperti kitab Aiqazul Niyam (H. Abdul Karim Amarullah) dan beberapa artikel dari Majalah di Padang. Sedangkan dikalangan kaum Tua lahir buku Tsamaratul Ihsan fi Wiladati Sayyidil Insan (Syekh Sulaiman ar-Rasuli) dan Burhanul Haq, berikut Risalah Mau’izhah wa Tazkirah (Syekh Khatib ‘Ali), tentunya juga artikel-artikel dalam Majalah kaum Tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Harta Pusaka&lt;br /&gt;Minangkabau yang kuat dengan adat Pusaka, diantara dalam pewarisan, menimbulkan perdebatan pula di Minang. Diantara ulama yang menyatakan harta pusaka sebagai harta syubhat ialah Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi dalam karyanya Minhajul Masyru’. Namun dikalangan ulama yang mukim di ranah Minang, apakah kaum Tua dan kaum Muda umumnya sepakat bahwa harta Pusaka itu harta musabalah yang diwarisi turun menurun. Sedangkan dalam harta pencaharian para ulama sepakat bahwa harta tersebut mesti diwariskan menurut faraidh. Dan para ulama itu aktif mengajarkan ilmu faraidh di surau-surau mereka, seperti Syekh Mungka. Adapula yang mengarang buku seperti Dr. Abdul Karim Amarullah dalam karyanya al-fara’idh.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) Masalah Qunut&lt;br /&gt;Sebahagian kaum Muda berpendapat bahwa Qunut Subuh itu merupakan bid’ah belaka. Sedangkan dikalangan ulama Tua, layaknya pengikut Syafi’iyah, teguh menyatakan bahwa Qunut Subuh itu sunat. Diantara ulama yang mempertahankan Qunut seperti Dr. Abdul Karim Amarullah. Meski disebut sebagai gerbong ulama Muda, beliau dalam masalah Qunut termasuk tokoh yang mempertahankannya, disamping ulama-ulama Tua. Beliau menulis buku untuk mempertahankan Qunut dengan titel as-Syir’ah (terbitan Tsamaratul Ikhwan, Bukittinggi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6) Masalah furu’ lainnya.&lt;br /&gt;Masalah-masalah lain, dengan frekuensi perdebatan yang lebih kecil antara lain: (1) Nikah Muhallil, dengan kepustakaan Pembuka Mata (HAKA); (2) Hisab dan Rukyah; (3) Hukum perempuan shalat ‘Id dilapangan; (4) masalah meniga hari hingga menseratus hari; (5) masalah Talaq Tiga sekaligus, salah satu kepustakaannya ialah Risalah Tanbihul Manam karangan Abdullah Qari bin Syekh Hasyim Mudik Tampang Rao (Murid Syekh Khatib Ali); dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. &lt;b&gt;Tauhid (Aqidah)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Aspek Tauhid menjadi perdebatan pula di awal abad XX, meski perbincangan mengenai masalah yang satu ini tidak meluas sehebat perkara Tarikat. Perkara yang pernah menjadi perdebatan ialah masalah mengaji “Sifat Dua Puluh”. Pemicu perdebatan itu hanya dilontarkan oleh segelintir, yang namanya tidak pula dikenal dari dikalangan ulama-ulama Muda. Sebagaimana diketahui, bahwa antara kaum Tua dan kaum Muda tidak berbeda dalam so’al i’tiqat, mereka sama-sama memegang Ahlussunnah wal Jama’ah (kecuali dalam satu dua masalah furu’-nya), sama-sama mengaji dan mengajar Sifat Dua Puluh sebagai ciri khas Mazhab Asy’ary. hal ini dapat kita cermati dari karangan-karangan dua kelompok ini, dinama ulama-ulama tersebut menyebutkan bahwa mengetahui Sifat Dua Puluh, yang termaktup dalam Aqidah Limapuluh, merupakan wajib ‘ain bagi setiap Mukallaf.  &lt;br /&gt;Barulah pada tahun 1340 (1910), ada seorang Haji yang dari Sumpur, bernama Haji Muhammad Karim, yang menulis nazham Aqidah Lima Puluh. Dalam Nazham tersebut dikatakanlah bahwa mengaji Sifat Dua Puluh itu ialah Bid’ah yang sesat, sebab tidak diperbuat oleh Rasul katanya. Hadirnya risalah ini tentu menyulut perdebatan pula. Diantaranya, yang memberi reaksi, ialah Labai Sidi Rajo yang menulis sebuah Sya’ir untuk menolak Haji Muhammad Karim dan siapa-siapa yang menolak pengajian Sifat Dua Puluh dalam majalah al-Mizan. Bantahan terhadap Haji Muhammad Karim ini yang cukup berwibawa dan terkemuka ialah karya Syekh Janan Thaib Bukittinggi, lewat karyanya al-Muqmatus Shakharam fi Raddi ‘ala man Ankara ilmal Kalam. Meski dicetak di Mekah, karya ini tersebar Minangkabau, dan kita memperoleh keterangan bahwa karya ini dijual di toko-toko kitab di Fort de Kock (Bukittinggi) masa itu, seperti di toko Haji Jalaluddin Thaib.&lt;br /&gt;Disamping Syekh Janan Thaib, ada banyak karya yang lahir di awal abad XX yang mengukuhkan “Pengajian Sifat Dua Puluh”. Diantaranya ditulis dalam bentuk nazham, yaitu Kitab Ushul Diyanah, ditulis oleh Muhammad Dahid gelar Malin Bonso Koto Tangah Padang. Karya ini cukup menarik, disamping padat isi, juga ditulis dengan rupa-rupa shurah (gambar), sedangkan penjelasannya dalam bentu Nazham. Diantara petikan Nazham yang mengokohkan “Sifat Dua Puluh” yaitu:&lt;br /&gt;Sifat Dua Puluh ilmu Aqidah&lt;br /&gt;Sebelum ini aturan sudah&lt;br /&gt;Cukup dalilnya berbagai surah&lt;br /&gt;Ambil Fahamnya, Tuan lihatlah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan lihatlah dahulu nyata&lt;br /&gt;Dari awal risalah hingga sempurna&lt;br /&gt;Berbagai surah, misal, dalilnya&lt;br /&gt;Supaya tahqiq hati menerima &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya ini ditaqrizh dan ditahqiq oleh ulama-ulama ketika itu, yaitu (1) Tuanku Haji Muncak Lubuk Alung; (2) Guru Muhammad Shaleh Tujuh Koto Pariaman; (3) Guru Faqih Muhammad Shaleh Anduring, Padang; (4) Tuanku Haji Marzuki, Sukomananti, Talu; (5) Guru Syafi’i (tamatan Jaho); (6) Tuanku Pakiah Sati, ulama Koto Tangah; (7) Tuanku Haji Khatib Umar (guru Tarbiyatul Ishlah, Koto Tangah); (8) Tuanku Haji Muhammad Kajai Talu; dan (9) Tuanku Syekh Abdul Majid Lubuk Landur (Pasaman Barat)  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping itu ada juga karya-karya lain yang perlu dicatat, yaitu Risalah Libasul Iman karangan Angku Mudo Abdul Jalil Bonjol (terbitan Kahamy, Bukittinggi). Pengarangnya, konon, merupakan ahli falaq yang masyhur disamping alim dalam agama. Beliau pernah menimba ilmu di Timur Tengah, wafat pada tahun 1960, hidupnya sezaman dengan Syekh Muhammad Sa’id Bonjol yang terkenal itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Risalah selanjutnya ialah Kitab Empat Risalah [(1) Permulaian I’tiqat kepada Allah; (2) Anwarul Iman; (3) Mau’izhah; (4) Nurul Hidayah] karangan Tuanku Mudo bin Syekh Abdul Ghani Guguk Tinggi (terbitan Durekrij Islamiyah, Fort de Kock, 1931). Dalam karya ini dijelaskan tentang pengajian Tauhid, berikut sifat-sifat yang wajib bagi Allah.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping masalah Sifat Dua Puluh, masalah lain dalam bidang aqidah yang cukup menghebohkan ialah masalah kelompok Ahmadiyah Qadiyani. Ahmadiyah sendiri masuk ke negeri Minangkabau di era-20-an, dibawa oleh beberapa murid Thawalib Padang Panjang setelah berguru kepada juru dakwah Ahmadiyah, Rahmat Ali (Mubaligh Ahmadiyah yang datang dari India),  di Tapak Tuan, Aceh. Para ulama, apakah dari kaum Tua, maupun kaum Muda, sejalan dalam hal ini, yaitu membentengi umat dari kaum Ahmadiyah tersebut. Beberapa karya yang lahir untuk menolak pendirian Ahmadiyah, seperti Syekh Muhammad Thaher Jalaluddin (1869-1956), mufti besar Pulau Penang asal Ampek Angkek Bukittinggi, menulis risalah yang berjudul Perisai Orang Beriman: Pengisai Mazhab Orang Qadiyan (Singapura: Setia Press, 1930); kemudian dari yang ‘alim Maulana Syekh Muhammad Jamil Jaho (w 1940), yang dimasyhurkan orang dengan “Angku Jaho” menulis Nujumul Hidayah fi Raddi ‘ala Ahlil Ghiwayah; berikut Syekh Dr. Abdul Karim Amarullah, ayah dari Buya Hamka, menggoreskan kalam dengan judul al-Qaulus Shahih (diterbitkan atas nafkah Datoek nan Bareno, Drukkrerij Persatoean Moehammadijah Djojakarta, 1926); kemudia Maulana Syekh Sulaiman ar-Rasuli (1871-1970), mengungkapkan perihal Ahmadiyah tersebut dalam Risalah Aqwalul Mardhiyah (Bukittinggi: Maktabah Islamiyah, 1950).&lt;br /&gt;Inilah diantara dinamika intelektual antara kaum Tua dan Kaum Muda dalam hal i’tiqat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4620918976357743641-7506667217799639913?l=surautuo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surautuo.blogspot.com/feeds/7506667217799639913/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surautuo.blogspot.com/2011/07/dinamika-intelektual-ulama-minangkabau.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4620918976357743641/posts/default/7506667217799639913'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4620918976357743641/posts/default/7506667217799639913'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surautuo.blogspot.com/2011/07/dinamika-intelektual-ulama-minangkabau.html' title='Dinamika Intelektual Ulama Minangkabau dalam Karya-karya awal abad XX'/><author><name>Apria Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08209012488814467728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-kRcDr4LxT50/Thk_fUuEQCI/AAAAAAAAAM0/zcl4EO3YM6k/s72-c/Aquyy.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4620918976357743641.post-3757143523237794316</id><published>2011-06-16T20:01:00.000-07:00</published><updated>2011-06-18T21:19:52.947-07:00</updated><title type='text'>Sastra Ulama Minangkabau : Interpretasi Sufistik dalam Sya’ir</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-Z7N2si7eiv8/TfrDdBXvCcI/AAAAAAAAAHM/SJf5ajJJZY8/s1600/CIMG6839.JPG" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="320" width="214" src="http://4.bp.blogspot.com/-Z7N2si7eiv8/TfrDdBXvCcI/AAAAAAAAAHM/SJf5ajJJZY8/s320/CIMG6839.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Oleh: &lt;b&gt;Apria Putra&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara tentang geliat Sastra Minangkabau dengan segala haru-birunya membuat kita berada dalam diskursus keislaman yang komplit, begitu sangat menarik. Berawal dari pujangga-pujangga masa silam yang menggores tinta emas dalam kesusastraan Minangkabau, sampai angkatan muda Minang yang kaya berkarya, menyusun prosa dan puisi berdedikasi tinggi. &lt;br /&gt;Meneropong para sastrawan urang awak masa lampau, kita melihat satu ciri khas tempo “doeloe” tersebut. Mereka tak pernah menyebut diri mereka sastrawan, tapi mereka adalah ulama sejati, suluh bendang dalam nagari, penunjuk jalan Ilahi kepada orang banyak. Tapi kemudian hari nama mereka disejajarkan dengan sastrawan-sastrawan papan atas yang melegenda hingga sekarang. karya-karya mereka yang sarat dengan pengajaran-pengajaran agama menggambarkan perasaan yang dalam, menyusup kalbu, begitu kaya dengan nilai-nilai estetik yang maha dalam. Tidakkah kita mengenal Tuan Syekh Bayang dengan Dār al-Mau’izhah-nya, Inyiak Canduang dengan Sya’ir Yusuf-nya, atau Muhammad Raju dengan Nabi Bercukur-nya, dan banyak lagi yang lainnya. Mereka itu ulama, tapi karena kedalaman cintanya pada Rabb, melahirkan rasa indah yang luar biasa, kemudian mereka pancarkan lewat tinta hitam diatas putih. Lalu jadilah sebuah karya, indah, dalam, penuh estetik yang menyentuh, itulah sastra, sastra Islam istilah populernya.&lt;br /&gt;Itu baru dari Sya’ir dan Puisi religi yang mereka lahirkan, belum lagi dari prosa cerita-cerita hikmah, sungguh sangat tak ternilai harganya. Berakar dari jenis sastra yang mereka gandrungi, kita akan melihat sekilas mengenai sastra Islam itu sendiri sebelum mengkaitkan dengan sastra Minangkabau. &lt;br /&gt;Salah seorang dosen, peneliti sekaligus sastrawan, dalam sebuah forum diskusi perkuliahan berkomentar sebagai tanggapan terhadap pertanyaan salah seorang mahasiswa, “Sebenarnya tidak ada istilah sastra Indonesia atau sastra Islam”. Sebuah kalimat yang sederhana, tapi penuh makna. Karena yang namanya sastra, lanjut beliau, lahir dari keadaan jiwa yang merasa, bukan karena seseorang itu dalam bingkai suatu kaum atau kelompok tertentu, sebuah jawaban yang logis. &lt;br /&gt;Sebenarnya yang menjadi acuan bersastra ialah keindahan, estetik. Dalam Islam sendiri sangat menekankan nilai estetika ini, bahkan digambarkan bahwa Allah itu Jamil (indah), Dia suka dengan keindahan, begitulah Naql-nya secara sederhana. Dengan demikian apa yang disebut sastra Islam, ialah hasil karya orang-orang Islam itu sendiri tentang agama dan keyakinannya, apa-apa yang dirasakannya, tentunya yang bernilai “indah”, penuh moral, terikat dengan tali syari’ah.&lt;br /&gt;Sungguh agung karya ini, nampak jelas sebuah tonggak keimanan yang terpancang dan terealisasi lewat untaian kata atau dalamnya makna. Seterusnya disebutkan bahwa sastra Islam itu merupakan realita yang berpuncak pada yang Haq. Keindahan yang dibangun berpusat pada kemahaindahan Allah. Karena itu sastra bagi Sufi, adalah membangun cinta dan komunikasi indah dengan yang maha indah sebagai sumber al-Haq. Penghayatan estetik sejalan dengan penghayatan Allah itu indah dan ia amat menyukai yang indah. Para penyair yang cendekia terutama dari kalangan ulama atau sufi, akrab dengan dunia estetik, yang oleh banyak penyair diimplementasikan prinsip mereka tidak membangun Istana di alam terbuka, tetapi istana cinta di kalbunya sebagai pernyataan cinta kepada Allah yang maha indah. Dalam bahasa lain dikatakan, mereka membangun istana cinta di kalbunya itu mengambil konsep orang sufi yakni membangun fana pada dirinya dan membangun Baqa pada Allah SWT.&lt;br /&gt;Begitu dalam perasaan yang dirasakan oleh sufi dalam mengungkapkan ketrasendennya Tuhan, membuat karya-karya mereka sangat kaya dengan keindahan, karena mereka mengambarkan sang maha indah, dialah al-Haq. Itulah sastra Zikir ungkapan Taufik Ismail, profetik menurut istilah sastrawan lainnya.&lt;br /&gt;Begitulah yang terjadi pada jiwa ulama-ulama Minang dahulu, mereka sungguh telah dipenuhi oleh gairah keagamaan yang tinggi, sehingga melahirkan karya-karya khas sufistik yang penuh dengan goresan perasaan murni. Sama halnya dengan Rumi dengan Mastnawi-nya, Ibnu ‘Arabi dengan Futuhat al Makiyyah-nya atau al Hallaj dengan Tawasin-nya, sungguh karya-karya fenomenal dizamannya.&lt;br /&gt;Tak mungkir lagi kenyataan bahwa karya-karya Minangkabau begitu lekat dengan pengalaman-pengalaman sufistik. Sebagaimana yang kita lihat dari tradisi lisan Minang Salawat Dulang. Bait-bait Sya’ir yang didendangkan berisi simbol-simbol sufistik sebagai sebuah interpretasi tasawwuf yang menarik untuk dikaji. Misalnya dalam bait berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Assalamu ‘Alaikum dengan Bismillah&lt;br /&gt;Sekarang ini hendak pahamlah&lt;br /&gt;Hendaklah paham dengan kulimah&lt;br /&gt;Iyo kulimah Laa ilaha illallah.&lt;br /&gt;Hurufnyo ampek kamanjadi Suraha&lt;br /&gt;Ampek alamatnyo kamanjadi masalah&lt;br /&gt;Mulo patamo kulimah La ilaha&lt;br /&gt;Pado lahie tubuah nan kasa&lt;br /&gt;Barupo batampan buliah dikana&lt;br /&gt;bahuruf basuaro dapek didanga&lt;br /&gt;kulimah kaduo Ilaha&lt;br /&gt;tubuah nan halus bukan di lua&lt;br /&gt;melainkan nan halus nan suci bana&lt;br /&gt;kamanjadi Nur kamanjadi nyawa&lt;br /&gt;kulimah katigo illa&lt;br /&gt;kalimah kaampek Illahu&lt;br /&gt;kulimah tujuan hendaklah dikana&lt;br /&gt;pado hakikinyo lah nyato zat&lt;br /&gt;pado majazinyo lah nyato sifat&lt;br /&gt;dio nan asa di alam judat&lt;br /&gt;kamanjadi asa ka manjadi alamat&lt;/i&gt; (Roust, 1999 : 76)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari bait-bait tersebut jelas disebutkan bahwa ada beberapa simbol-simbol sufistik dalam Sya’ir yang dikemukakan oleh orang-orang terdahulu tersebut. Karya-karya tersebut masih didendangkan kebanyakan ahli-ahli dendang masa kini. Mereka banyak menyebutkan konsep-konsep sufistik dengan bahasa Sya’ir yang bernilai tinggi dan dengan sastra yang kaya.&lt;br /&gt;Bukan sampai disitu saja, interpretasi Sufistik dalam Sya’ir bagi Masyarakat Minang terlihat dari ritual-ritual kebudayaan yang berkembang kala itu. Misalkan dalam ritual Debus, dalam acara yang dilakukan secara berkelompok di daerah-daerah terpencil Minang itu terdapat ungkapan-ungkapan Sufistik. Misalnya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Dalam Buluah babuluah pulo,&lt;br /&gt;Dalam buluah rotan baduri,&lt;br /&gt;Dalam tubuah batubuah pulo,&lt;br /&gt;Dalam tubuah insan badiri.&lt;/i&gt; (H. Idris, wawancara, 2006)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide sentral dalam bait diatas ialah masalah Martabat Tujuh yang dikemukakan oleh pengikut-pengikut Syathariyah di Minangkabau, yang &lt;i&gt;nota bene&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;-nya ialah para sufistik.&lt;br /&gt;Melirik tentang ide sufistik dalam karya sastra Minangkabau, maka kita akan menemui perbendaharaan yang tidak habis-habisnya. Bagaikan mutiara, semakin digosok dan diselami sampai kadalamnya, maka kita akan mendapati suatu kekayaan yang menabjukkan, kekayaan yang tidak akan ada habis-habisnya.&lt;br /&gt;Begitulah Minang, ranah nan indah permai ini, tempat simpanan harta pusaka sastra yang menabjukkan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4620918976357743641-3757143523237794316?l=surautuo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surautuo.blogspot.com/feeds/3757143523237794316/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surautuo.blogspot.com/2011/06/sastra-ulama-minangkabau-interpretasi.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4620918976357743641/posts/default/3757143523237794316'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4620918976357743641/posts/default/3757143523237794316'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surautuo.blogspot.com/2011/06/sastra-ulama-minangkabau-interpretasi.html' title='Sastra Ulama Minangkabau : Interpretasi Sufistik dalam Sya’ir'/><author><name>Apria Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08209012488814467728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-Z7N2si7eiv8/TfrDdBXvCcI/AAAAAAAAAHM/SJf5ajJJZY8/s72-c/CIMG6839.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4620918976357743641.post-4341558405476184038</id><published>2011-06-16T19:57:00.000-07:00</published><updated>2011-06-18T21:18:28.030-07:00</updated><title type='text'>Tipikal Surau Minangkabau: Studi Surau dan Manuskrip Sjech Bintungan Tinggi (Pariaman)</title><content type='html'>Oleh: &lt;b&gt;Apria Putra&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-8N1ypCGvuWc/Tf13b4FrUdI/AAAAAAAAAHU/KnJhk2ky9FM/s1600/_MG_0463.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="228" width="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-8N1ypCGvuWc/Tf13b4FrUdI/AAAAAAAAAHU/KnJhk2ky9FM/s320/_MG_0463.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;Foto&lt;/b&gt;: Salah satu Tipikal Surau lagendaris di Darek, Surau Tuo Taram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat jejak histories Islam di Pariaman memang membuat kita takjub akan keberadaan lembaga surau di sana. Rasa kental beragama, taat beribadah dan kaya dengan khazanah tradisi Islam menjadi pemandangan indah, indah karena hidup dalam batasan moril, religiusitas serta budaya yang beraneka ragam. &lt;br /&gt;Surau, itulah tempat awal dan akar perkembangan Islam di sini, yang nantinya membias seantero jagat alam Minangkabau dengan jaringan ulama yang luas. Eksistensi surau menjadikan tolak ukur kemajuan islam di suatu daerah kala itu. Sehingga tidak berlebihan bila kehidupan keislaman orang Minang tak terlepas dari surau, sebuah bangunan yang kebanyakan dibuat dengan susunan-susunan papan tetapi dari dalamnya lahir intan berlian, pemenuhi jagat cakrawala intelektual Islam masa sekarang.&lt;br /&gt;Kehidupan di surau bukanlah sesederhana yang kita bayangkan, lebih komplek malahan dari rumus-rumus trigonometri. Mengapa begitu, karena kehidupan surau bukan hanya terjalin secara tampak, sama halnya kajian eksakta, tapi lebih dari itu jalinan kehidupan surau dibuhul dengan tali spitual, rohani, hal-hal yang abstrak istilah ilmiahnya.&lt;br /&gt;Kehidupan surau sendiri dapat kita lihat dengan adanya guru yang mengajar dalam hal ini dipegang oleh seorang Syekh atau Tuanku. Guru inilah yang menjadi titik nadi kehidupan surau, karena dari beliaulah para murid-murid berdatangan menimba ilmu-ilmu keislaman yang luas dan komprehensif. Hal selanjutnya yang kita lihat yaitu adanya kajian-kajian Islam yang komplit, mulai dari dasar-dasar agama, lingua yang menjadi alat, sampai kepada kajian-kajian tingkat tinggi yang hanya disampaikan kepada orang-orang yang mempunyai pemahaman yang dalam.&lt;br /&gt;Hal selanjutnya yang dapat kita lihat dari kehidupan surau yaitu adanya murid-murid, di Minangkabau dikenal dengan istilah orang siak.  Murid-murid inilah yang berkumpul siang, pagi dan petang, membaca kaji, mensurah kitab sampai kepada menghafal pelajaran menjadi pemandangan harian yang mewarnai eksis-nya sebuah surau. Dalam kasus surau-surau yang berpengaruh, murid-murid ini pada hari-hari tertentu menyebar ditengah-tengah masyarakat, meminta sedikit sumbangan untuk bekal mengaji ketika kiriman dari kampung belum datang. Masyarakatpun merasa senang memberi pangan untuk para penuntut ilmu ini, sebab mereka merasa sangat lekat dengan ilmu. Memuliakan orang yang menuntut ilmu, sama dengan memuliakan ilmu, pahala yang bukan kepalang kita dapatkan, begitulah kesadaran masyarakat kala itu, sangat bertolak belakang dari realitas masa sekarang. Murid-murid yang meminta tunjangan bekal belajar ini dikenal dengan istilah mamakiah ( berasal dari kata fakiah ). &lt;br /&gt;Fungsi surau bukan hanya untuk mengaji seperti diatas, malah lebih komplek seperti yang dibayangkan. Disamping menjadi pusat kajian Islam, surau juga berfungsi sebagai tempat bermusyawarah, tempat tinggal anak laki-laki, berajar adat, pusat latihan beladiri masa lalu, pokoknya pusat aktifitas sosial agama di desa-desa Minangkabau. Sehingga mengkaji surau, berarti kita mengkaji seluruh elemen yang ada ditengah-tengah masyarakat. Apakah itu adat, budaya, tradisi dan istimewa dalam agama.&lt;br /&gt;Dalam gambaran adat Minangkabau pra-Islam telah terjalin hubungan yang erat antara lembaga keagamaan ( surau )  sebagai pusat ibadat dengan kerajaan sebagai pusat kekuasaan. Jalinan inilah nantinya dipertegas setelah Islam masuk ke Minangkabau dan dianut oleh masyarakat. Hal ini diisyaratkan oleh pepatah syara’ mangato, adat mamakai (agama yang memberi fatwa dan agama yang melaksanakan), sehingga agama dan adat menjadi identitas orang Minang. Akan sangat aib bila orang minang dikatakan sebagai orang yang tidak beradat, atau tidak beragama. &lt;br /&gt;Penyebaran Islam ke Minangkabau berawal dari tumbuhya tradisi surau sebagai tonggak tua pengenalan Islam di daerah ini, namun masih banyak ilmuan yang menguaknya secara jelas. hal ini disebabkan oleh belum banyaknya intelektual Islam yang menggeluti asal usul masuknya Islam ke Minangkabau, kecuali beberapa orang saja. Dalam hal ini Syekh Burhanuddin Ulakan yang sebelumnya telah menjalin hubungan dengan Syekh Abdurra’uf Singkel di Aceh. Beliau adalah satu-satunya ulama yang telah mengembangkan Islam sebelum masa kolonial Belanda. &lt;br /&gt;Di Minangkabau nama Syekh Burhanuddin tidak asing lagi bagi masyarakatnya, ia dikenal terutama dikalangan generasi tua sebagai tokoh pertama penyebar Islam di Negeri ini. Namanya harum dan ajarannya mewarnai pola pikir dan cara kehidupan masyarakat. Kenyataan ini sangat mungkin diyakini dan sulit dipungkiri, karena masing-masing suku dari berbagai daerah di Minangkabau mempunyai surau. Suatu aib kalau suatu suku dalam satu kampung tidak mempunyai surau. Di surau-surau ini para murid menimba ilmu dari guru-gurunya, sekaligus sebagai tempat transmisi ajaran Islam ke berbagai daerah.  Salah satu surau berpengaruh yang merupakan lahir dari eksistensi surau Ulakan yaitu surau Bintungan Tinggi. &lt;br /&gt;Keberadaan surau Bintunagn Tinggi tidak terlepas dari keberadaan seorang ulama kharismatik dan berpengaruh di Ulakan dan Bintungan Tinggi, dialah Syekh Abdurrahman Bintungan Tinggi. Beliau adalah hasil didikan ulakan yang cemerlang pada zamannya, yang paling berperang diantara khalifah-khalifah  Ulakan lainnya dalam melanjutkan usaha dan ajaran Syekh Burhanuddin Ulakan. &lt;br /&gt;Sebelum kita mengenal eksistensi surau Bintungan Tinggi dalam mengembangkan agama Islam kala itu. Kita mesti terlebih dahulu mengetahui serta mengnal tokoh sentral surau Bintungan Tinggi yaitu Syekh Abdurrahman.&lt;br /&gt;Syekh Abdurrahman lahir pada tahun 1827 H / 1243 masehi, dari pasangan Syekh Ibnu Muttaqin dengan Pik mande yang bersuku sikumbang. Ayah beliau sendiripun seorang ulama disegani pada zamannya dan juga merupakan anak langsung dari Syekh Abdurrahman Ulakan, Khalifah Syekh Burhanuddin di Tanjung Medan Ulakan. &lt;br /&gt;Perjalanan intelektual Syekh Bintungan Tinggi sendiri dimulai ketika belajar kepada ayahnya sendiri, Syekh Ibnu Muttaqin atau yang lebih dikenal dengan panggilan Syekh Tabat Yada. Tak kurang dari sepuluh tahun beliau diasuh oleh ayahnya sendiri mempelajari seluk beluk keislaman secara utuh. Yaitu mulai pada tahun 1248 H – 1258 H. bersama ayahnya Syekh Bintungan Tinggi mulai mengenal keilmuan Islam. Beliau telah mempelajari Fiqih, Tafsir Jalaein, Nahwu Sharaf, Ushul Fiqih, Hadist dan Musthalah-nya disamping mempelajari seluk beluk kajian al Qur’an. &lt;br /&gt;Tepatnya, ketika Syekh Abdurrahman berumur 15 tahun, beliau diantar oleh ayahnya untuk mengaji ke Ulakan, tepatnya di surau Syekh Burhanuddin Ulakan. Seketika itu yang menimpin lembaga pendidikan Ulakan ialah Syekh Ja’far Thahir, sedangkan dalam urusan Tarekat masih dipegang oleh Syekh Sultan Qusa’I Habibullah, khalifah Syekh Burhanuddin yang ke-10. &lt;br /&gt;Syekh Abdurrahman belajar di Ulakan selama 17 tahun, yaitu mulai tahun 1258 sampai 1275. didalam masa belajar di Ulakan inilah Syekh Abdurrahman pernah mendalami ilmu di Mekah al Mukarramah (1272-1274), yaitu selama 2 tahun. &lt;br /&gt;Setelah keilmuannya telah terasa matang oleh pandangan batin gurunya, maka pada tahun 1275, beliau telah diberi ijazah  oleh gurunya Syekh Sultan Qusa’I Habibullah, sebagai guru hakiki-nya disamping Syekh Ja’far Thahir sebagai gurunya di surau Ulakan. Pewisudahan Syekh Abdurrahman terjadi pada acara khatam maulid Nabi Muhammad SAW, setelah gurunya melihat Syekh Abdurrahman fana dalam maqamnya, tepatnya 12/13 Rabi’ul Awwal 1275 H, ketika itu beliau langsung diberi gelar Syekh Tuanku Mudo Abdurrahman. &lt;br /&gt;Setelah beliau menamatkan pendidikannya di Ulakan, beliaupun menjalankan amanah gurunya Syekh Sultan Qusa’I untuk mengabdi di Ulakan, mengajar dan mendampingi Syekh Ja’far Thahir. Syekh Abdurrahman mengajar di Ulakan selama 7 tahun, sejak 1275 sampai 1282 H. setelah gurunya Syekh Sultan Qusa’I meninggal, beliaupun mengundurkan diri dari Ulakan dan mendirikan lembaga sendiri, di tanah milik istrinya Hj. Siti Malai, lembaga pendidikan itu dikenal dengan nama Surau Bintungan Tinggi.&lt;br /&gt;Surau itu didirikan pertama kali pada tahun 1283 H/1864 H, sejak itulah surau Bintungan Tinggi menjadi lembaga pendidikan terkemuka di Pariaman, sama halnya dengan surau Syekh Burhanuddin Ulakan. Sehingga dalam sekejap saja, murid-murid berdatangan silih berganti untuk menimba ilmu pengetahuan di Bintungan Tinggi. Tercatat tak kurang dari seribu murid yang menghadiri pengajian mengelilingi guru besar, Syekh Abdurrahman Bintungan Tinggi. Murid-murid tersebut datang dari berbagai pelosok negeri, seperti Bengkulu, Sumatera Utara dan Riau. Mereka tinggal tak kurang dari 17 surau-surau kecil yang berada disekitar surau utama, surau Bintungan Tinggi.&lt;br /&gt;Pada periode selanjutnya, surau Bintungan Tinggi mengalami pemugaran masih semasa Syekh Abdurrahman. Pemugaran itu terjadi pada tahun 1908 M. pemugaran itu sendiri atas dorongan dari keluarga besar Syekh Abdurrahman, dorongan itu berbentuk moril dan materil.&lt;br /&gt;Hasil dari pembangunan ulang surau Bintungan Tinggi itu sendiri lebih besar dari surau sebelumnya, yaitu menjadi 11,5x11,5 m dengan bahan kayu yang didatangkan langsung dari Sungai Sarik dan 2x11 Enam Lingkung Padang Pariaman. Dan pembangunannya sendiri dijalankan oleh arsitek pribadi Syekh Bintungan Tinggi yaitu Tuanku Katib Koto Baru.&lt;br /&gt;Setelah bebrapa tahun mengajar murid-murid yang sangat banyak, maka pada tahun 1923 beliau menutup usia dengan meninggalkan warisan yang sangat berharga bagi generasi berikutnya. Beliau kemudian di makamkan di sebuah gobah yang telah dibangun pada masa Syekh Abdurrahman masih hidup. Kubah tersebut terletak  di depan surau Syekh Bintungan Tinggi sendiri.&lt;br /&gt;Setelah Syekh Bintungan Tinggi wafat, maka kepeminpinan surau Bintungan Tinggi diteruskan oleh khalifah-khalifahnya yang telah berjumlah 5 generasi sampai saat ini, nama-namanya yaitu :&lt;br /&gt;1. H. Abdullah Tuanku Mudo,&lt;br /&gt;2. H. Zubaidi Tuanku Mudo,&lt;br /&gt;3. M. Nasir Tuanku Bandaro,&lt;br /&gt;4. Muhammad Ma’az Tuanku Lunak ( wafat 1972 )&lt;br /&gt;5. Tuanku Mudo Asdil Ma’az (sekarang). &lt;br /&gt;Sedangkan barang-barang berharga milik Syekh Bintungan Tinggi termasuk naskah-naskahnya disimpan oleh Bapak Asril Ma’az, BA.&lt;br /&gt;Diantara peninggalan Syekh Bintungan Tinggi yang sangat berharga itu ialah Naskah-naskah keagamaan, yang menurut perhitungannya berjumlah sebanyak 36 buah.  Naskah-naskah inilah yang banyak dilirik oleh para peneliti, untuk dibaca dan dipublikasikan, sebagai usaha melestarikan naskah-naskah tersebut.&lt;br /&gt;Walaupun sakarang zaman telah berubah seiring berputarnya waktu, nilai-nilai masyarakat yang telah bergeser, peradaban yang kian terkikis, namun surau Bintungan Tinggi masih tegak seperti sediakala, walau disana sini dipugar, surau Bintungan Tinggi masih menjadi pusat keagamaan ditengah masyarakat Bintungan Tinggi. Walaupun sekarang tak ada lagi yang mengaji kitab seperti dulu, namun Tarekat masih dipegang erat, naskah-naskah sebagai warisan masih dipelihara dengan baik, sebagai alternatif terakhir kontraksi dari zaman yang memprihatinkan.&lt;br /&gt;Begitulah adanya sekarang, memang membuat hati pilu. Namun kita masih menang, sebab kita punya naskah, yang bisa dibuka kapan saja kita buka, yang dapat kita kaji, walau tak seperti dulu.&lt;br /&gt;Sebagai warisan yang amat berharga, masyarakat telah mulai menyadari akan usaha pelestarian naskah. Memang ironis, bila seorang pewaris naskah-naskah kuno membiarkan warisan tersebut sebagai barang terbuang. Bahkan ada yang menumpuk-menumpuknya disudut rumah, membiarkan berkabut dan habis dimakan usia.&lt;br /&gt;Naskah-naskah yang berisi teks-teks ilmu pengetahuan tersebut berisi dengan ilmu pengetahuan yang berbagai macam, sangat beruntung sekali orang-orang yang dapat memanfaatkannya, menjadikannya referensi untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;Adapun yang dimaksud dengan teks adalah kandungan atau isi naskah. Teks sendiri terdiri dari isi dan bentuk. Teks mengandung ide-ide atau amanat yang ingin disampaikan oleh pengarang kepada pembaca. Sedangkan bentuknya berisi muatan cerita atau pelajaran yang hendak dibaca dan dipelajari menurut berbagai pendekatan melalui alur, perwatakan, gaya dan lain sebagainya. &lt;br /&gt;Dengan demikian didalam naskah-naskah yang umurnya sudah ratusan tahun tersebut tersimpan perbendaharaan, sebagai budaya orang-orang dahulu. Ilmu-ilmu yang dibukukan itu sangat relevan dengan kehidupan kita sekarang bila dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;Begitu halnya dengan naskah-naskah kuno yang terdapat di Surau Bintungan Tinggi. Disamping sebagai warisan, ajaran-ajaran naskah tersebut masih dijaga dengan baik dalam realitas kehidupan masyarakat Bintungan Tinggi.  Walau sekarang amat jarang kita temui orang-orang yang membukanya, kecuali sedikit tuanku-tuanku yang telah kurang populasinya saat sekarang ini.&lt;br /&gt;Sebagaimana yang telah disebutkan terdahulu, bahwa ada terdapat sekitar 36 naskah yang telah teridentifikasi oleh penelitian-penelitian mutakhir.  Naskah-naskah tersebut berisi antara lain :&lt;br /&gt;1. Al Qur’an dengan seluk beluk tafsirnya&lt;br /&gt;2. Fiqih&lt;br /&gt;3. Ilmu Nahwu Sharaf&lt;br /&gt;4. Sejarah&lt;br /&gt;5. Mazhab Syafi’i&lt;br /&gt;6. Sejarah Rasulullah dan kisah-kisah&lt;br /&gt;7. Tasawwuf&lt;br /&gt;Ilmu Tasawwuf adalah teks terpenting yang menjadi perbendaharaan Bintungan Tinggi. Naskah-naskah tersebut umunya ditulis dengan bahasa Arab, disamping bahasa Melayu. &lt;br /&gt;Kecemasan memang menyelimuti hati orang-orang yang cinta ilmu, sebab dengan adanya ancaman dari orang-orang yang tak bertanggung jawab dengan memperjual belikan naskah. Walaupun naskah-naskah surau Bintungan Tinggi dipelihara dengan baik oleh Bapak Asril Ma’az sebagai pewarisnya, namun jika nantinya tak ada lagi pewarisnya, ancaman itu tidak dapat disangkal&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4620918976357743641-4341558405476184038?l=surautuo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surautuo.blogspot.com/feeds/4341558405476184038/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surautuo.blogspot.com/2011/06/tipikal-surau-minangkabau-bercermin.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4620918976357743641/posts/default/4341558405476184038'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4620918976357743641/posts/default/4341558405476184038'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surautuo.blogspot.com/2011/06/tipikal-surau-minangkabau-bercermin.html' title='Tipikal Surau Minangkabau: Studi Surau dan Manuskrip Sjech Bintungan Tinggi (Pariaman)'/><author><name>Apria Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08209012488814467728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-8N1ypCGvuWc/Tf13b4FrUdI/AAAAAAAAAHU/KnJhk2ky9FM/s72-c/_MG_0463.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4620918976357743641.post-5737686541448333073</id><published>2011-06-06T20:54:00.000-07:00</published><updated>2011-06-06T20:56:03.817-07:00</updated><title type='text'>Buku “Bibliografi Karya Ulama Minangkabau awal abad XX” oleh Apria Putra dan Chairullah Ahmad</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-EZX2rrg2QNw/Te2fz8odo1I/AAAAAAAAAG8/QE13celY294/s1600/Cover%2BBUKU%2BBIBLIOGRAFI.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="223" width="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-EZX2rrg2QNw/Te2fz8odo1I/AAAAAAAAAG8/QE13celY294/s320/Cover%2BBUKU%2BBIBLIOGRAFI.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Foto&lt;/b&gt;: Cover Buku "Bibliografi Ulama Minangkabau awal abad XX"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 23 mei 2011 telah terbit sebuah buku yang bertajuk “Bibliografi Karya Ulama Minangkabau Awal Abad XX”. Dalam buku setebal viii + 244 halaman ini, penulis, Apria Putra dan Chairullah Ahmad, mencoba mengidentifikasi lebih dari 50 karya klasik Ulama Minangkabau yang pernah beredar pada dari akhir abad XIX hingga tahun 1960-an. Menarik, karya-karya yang dewasa ini terpinggirkan dan terlupakan itu kenyataannya pernah menjadi master peace dimasanya, dimana persebarannya bukan hanya Minangkabau, lebih dari itu bahkan melewati lautan, hingga Mekkah al-Mukarramah. Bila dilihat dari isinya begitu luar biasa, mulai dari dasar-dasar kajian Agama hingga “kaji” tingkat tinggi dalam bidang Tasawuf (Tarikat). Berikut mengenai penulis-penulisnya berupa ulama-ulama terkemuka, mulai dari yang berkedudukan internasional, prestisius, seperti Mufti Syekh Ahmad Khatib, hingga ulama-ulama lokal Minangkabau yang mempunyai pengaruh tak sedikit di tanah kelahirannya. Meninjau karya-karya ini membuat kita semakin memahami keadaan Minangkabau dimasa dahulu, dimasa keemasan Ulama dengan surau-surau-nya. &lt;br /&gt;Di dalam buku yang terbilang sederhana ini, penulis mencantumkan karya-karya ulama yang telah dapat diinventarisasi di lapangan. Meski baru puluhan buah, namun diharapkan buku ini mampu membuka jalan untuk menengok dan menjejaki kembali khazanah Islam Minangkabau yang begitu menabjukkan. &lt;br /&gt;Tercatat 28 ulama berikut karyanya yang dideskripsikan dalam buku ini. ulama-ulama tersebut ialah:&lt;br /&gt;1. Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi&lt;br /&gt;2. Syekh Muhammad Sa’ad Mungka&lt;br /&gt;3. Syekh Muhammad Dalil Bayang&lt;br /&gt;4. Syekh Khatib Muhammad Ali al-Fadani&lt;br /&gt;5. Syekh Thayyib Umar Sungayang&lt;br /&gt;6. Syekh Yahya al-Khalidi Magek&lt;br /&gt;7. Syekh Thaher Jalaluddin al-Falaki &lt;br /&gt;8. DR. Abdul Karim Amarullah &lt;br /&gt;9. Syekh Jalaluddin al-Kusai Sungai Landai &lt;br /&gt;10. Syekh Abdul Wahid Tabek Gadang &lt;br /&gt;11. Syekh Hasan Bashri Maninjau &lt;br /&gt;12. Syekh Muhammad Jamil Jaho &lt;br /&gt;13. Syekh Muhammad Jamil Jambek &lt;br /&gt;14. Syekh Sulaiman ar-Rasuli &lt;br /&gt;15. Syekh Muhammad Zein Batusangkar &lt;br /&gt;16. Syekh Muda Abdul Qadim Belubus &lt;br /&gt;17. Syekh Harun Toboh Pariaman &lt;br /&gt;18. Syekh Ibrahim Musa Parabek  &lt;br /&gt;19. Syekh Abu Bakar Ali Naqsyabandi Maninjau&lt;br /&gt;20. Syekh Janan Thaib Bukittinggi&lt;br /&gt;21. Syekh Sidi Jamadi Koto Tangah &lt;br /&gt;22. Haji Jalaluddin&lt;br /&gt;23. Tuanku Mudo Abdul Hamid Hakim&lt;br /&gt;24. Ust. Zainuddin Labay el-Yunusi&lt;br /&gt;25. Buya H. Sirajuddin Abbas&lt;br /&gt;26. Buya Hamka&lt;br /&gt;27. Buya H. Mansur Dt. Nagari Basa&lt;br /&gt;28. Syekh H. Yunus Yahya Magek&lt;br /&gt;Buku ini terbitkan untuk kalangan terbatas, atas dukungan dari Komunitas Suluah dan Indonesia Heritage Centre (IHC), dengan kata pengantar dari Dr. Ahmad Taufik Hidayat, MA. Berikut Kata Pengantar Penulis dalam pembukaan buku tersebut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pengantar Penulis&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-ZhLkbiU70-0/Te2g62RFOdI/AAAAAAAAAHE/1zkLNYvV5KY/s1600/untitled.JPG" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="202" width="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-ZhLkbiU70-0/Te2g62RFOdI/AAAAAAAAAHE/1zkLNYvV5KY/s320/untitled.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;بسم الله الرحمن الرحيم. اللهم صلى  و سلم على سيدنا محمد&lt;br /&gt;و على آله و أصحابه أجمعين&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syukur al-Hamdulillah buku ini dapat penulis selesaikan dengan segala keterbatasannya. Adapun penulisan buku ini dimotivasi oleh keinginan untuk mengangkat kembali karya-karya klasik ulama Minangkabau, yang saat ini telah tenggelam, serta dilupakan. Banyaknya karya-karya yang lahir  dari ulama-ulama Minangkabau semakin membuktikan betapa ranah ini dulunya merupakan pusat intelektual Islam sebelum datangnya era modernisasi. Dengan-nya, sebutan bahwa negeri ini merupakan “Gudang Ulama” dimasa silam terbukti benar adanya. Kemudian, bagaimana agar keadaan masa lalu itu tidak hanya sekedar  jadi kenangan manis dalam memori kolektif orang banyak? Jawabnya, salah satunya dengan bercermin kepada pribadi dan karya-karya sebagai warisan tertulis dari mereka. Dan penulisan buku ini ialah langkah awal, sebagai inventarisasi karya-karya mereka yang mulanya terserak ditengah-tengah masyarakat.&lt;br /&gt;Meski pengumpulan dan identifikasi buku ini belumlah lengkap, sebab sangat banyak karya-karya yang belum dapat diakses, namun penulis berharap hadirnya buku ini mampu membantu para pembaca untuk mengenal karya-karya di awal abad XX, serta memberi arahan dalam memetakan pemikiran ulama-ulama tersebut, tentunya sambil mengenal kepribadian mereka masing-masing.&lt;br /&gt;Dalam penulisan buku ini, penulis mengucapkan terimakasih yang tak terhingga kepada para ulama, Syekh-syekh, khalifah-khalifah dan para zurriyyat (pewaris) ulama-ulama silam yang penulis temui dilapangan. Dimana para pemangku ulama ini telah membuka pintu selebar-lebarnya untuk penulis dalam mengakses karya-karya yang mereka warisi tersebut. Ucapan terima kasih selanjutkan penulis ucapkan kepada Bapak Dr. Ahmad Taufik Hidayat yang telah menyokong penulis dalam hal pengumpulan karya-karya tersebut dan telah pula berkenan memberikan pengantarkan dalam buku ini. Terima kasih kepada Dr. Danil M. Chaniago, Bapak Drs. Yulizal Yunus, M. Si (Lemlit IAIN Imam Bonjol Padang), Dr. Zaim Rais, MA. dan Ibuk Yulfira Riza, M. Hum, atas support-nya dalam inventarisasi khazanah Ulama Minangkabau. Selanjutnya kepada tim kecil “Filologia Sastra Arab `07”, meski telah berlalu, namun pengalaman bersama dalam melanglang buana menelusuri bukit dan lembah mencari khazanah Ulama sangat berarti bagi penulis. Ucapan terima kasih selanjutnya kepada teman-teman dari Mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab angkatan 2007, yang sedang berjuang menyelesaikan studi di Fakultas Adab. Selanjutnya kepada adik-adik, laskar pemburu Naskah kuno dari Mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab angkatan 2009, terus berjuang, selamatkan warisan Ulama Silam. Terakhir terimakasih kepada Komunitas Suluah, tempat penulis belajar berkarya, dan The Indonesian Heritage Centre (IHC), yang telah menfasilitasi penerbitan buku ini.&lt;br /&gt;Penutup kalam, semua jerih payah ini dipersembahkan buat orang-orang terdekat yang penulis cintai: Ayahanda dan Ibunda, guru-guru penulis dalam lembaga formal maupun non formal, serta rekan seperjuangan. Semoga bermanfaat untuk para pembaca umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Palimo Indah, Padang, Mei 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apria Putra&lt;br /&gt;Chairullah Ahmad&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4620918976357743641-5737686541448333073?l=surautuo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surautuo.blogspot.com/feeds/5737686541448333073/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surautuo.blogspot.com/2011/06/buku-bibliografi-karya-ulama.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4620918976357743641/posts/default/5737686541448333073'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4620918976357743641/posts/default/5737686541448333073'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surautuo.blogspot.com/2011/06/buku-bibliografi-karya-ulama.html' title='Buku “Bibliografi Karya Ulama Minangkabau awal abad XX” oleh Apria Putra dan Chairullah Ahmad'/><author><name>Apria Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08209012488814467728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-EZX2rrg2QNw/Te2fz8odo1I/AAAAAAAAAG8/QE13celY294/s72-c/Cover%2BBUKU%2BBIBLIOGRAFI.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4620918976357743641.post-3887694176121774116</id><published>2011-05-04T21:10:00.000-07:00</published><updated>2011-05-04T21:10:44.075-07:00</updated><title type='text'>MENYELAMI LAUTAN NAQSYABANDIYAH, NASKAH SYEKH MUHAMMAD SALIM SIKABU KABU : DESKRIPSI TEKS DAN KONTEKS</title><content type='html'>ditulis oleh &lt;i&gt;Apria Putra&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-GS-6mCx6jMg/TcIiUGgSmDI/AAAAAAAAAGo/7dblKnfqLP0/s1600/Kitab%2BSyekh%2BMuhammad%2BSalim%2Bsikabu-kabujjjj.JPG" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="196" width="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-GS-6mCx6jMg/TcIiUGgSmDI/AAAAAAAAAGo/7dblKnfqLP0/s320/Kitab%2BSyekh%2BMuhammad%2BSalim%2Bsikabu-kabujjjj.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Foto&lt;/b&gt;: &lt;i&gt;Satu Bagian dari Naskah Syekh Muhammad Salim Sikabu-kabu&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. NASKAH SYEKH MUHAMMAD SALIM SIKABU KABU : DESKRIPSI NASKAH &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskah Tarekat Naqsyabandiyah Syekh Muhammad Salim Sikabu kabu (selanjutnya disebut NTS) merupakan salah satu manuskrip yang berisi amalan tarekat Naqsybandiyah di antara tumpukan naskah-naskah lain dengan pembahasan yang sama.  Namun keberadaannya cukup menarik mengingat NTS bukan hanya berbicara mengenai ritual namun juga memuat kajian esoteris dalam tarekat naqsyabandiyah, filosofis amalan hingga ketentuan-ketentuan yang terkait dengan hal tersebut. &lt;br /&gt;NTS penulis peroleh pada tahun 2005 dari sdr. Firdaus yang diperolehnya dari ayahnya di Aur Kuning Payakumbuh. Yang empunya menyerahkan pada penulis tanpa menyebutkan asal usul naskah sebelum sampai ketangan ayahnya  yang merupakan salah seorang jama’ah Naqsyabandiyah di Aur Kuning. &lt;br /&gt;Secara jelas NTS tidak memiliki judul seperti yang penulis sebutkan, namun penamaan tersebut merupakan inisiatif penulis untuk menyebut NTS. Penamaan tersebut penulis ambil dari pembahasan naskah NTS yang secara keseluruhan membahas amalan tarekat naqsyabandiyah. &lt;br /&gt;Pengarang NTS ialah Maulana Syekh Muhammad Salim Sikabu kabu. Kata “Sikabu kabu” menunjukkan nisbah daerah asal pengarang, yaitu daerah Sikabu kabu, wilayah Payakumbuh, Kabupaten Lima Puluh kota, Sumatera Barat. Beliau adalah salah seorang syekh tarekat di daerah Sikabu kabu yang riwayat hidupnya sangat kabur. Sejauh penelusuran penulis, di daerah Sikabu kabu hanya terdapat dua surau Suluk, tidak dijumpai keterangan tentang pribadi Syekh Sikabu kabu ini. Menurut Syekh Tuanku Mudo Nahrawi al Khalidi, salah seorang penasehat tarekat Naqsyabandiyah di Luak Lima Puluh, syekh Sikabu kabu ini hidup sekitar tahun 50-an, namun soal riwayat hidupnya juga tidak terungkap.  Dari gelar “Maulana” yang tertulis di depan namanya memberi kesan kepada kita bahwa Syekh Sikabu kabu ini adalah syekh terkenal, punya banyak murid dan memiliki prestasi yang cemerlang dalam tarekat. Nama pengarang terdapat pada kolofon NTS yang ditulis pada pinggir blok teks :&lt;br /&gt;Ditulis ini buku pada hari tanggal 10 hari bulan şafar 1350 ‘arabiyah dengan seizin muallafnya. Ditulis oleh hamba faqih melacaklah isi adanya muallafnya al-Mursyidina wa maulana wa ustażina Syaikhina Muhammad Salim sikabu-kabu adanya intahi. &lt;br /&gt;Dari kolofon NTS diperoleh informasi tanggal ditulisnya NTS yaitu pada tanggal 10 safar 1350 H, tepatnya pada tahun 1929. jika sekarang bertarikh 1430, maka naskah NTS telah berusia 80 tahun. Dari kolofon juga ditemui informasi bahwa NTS merupakan salinan dari naskah yang usianya lebih tua, bisa jadi naskah yang ditulis oleh pengarang sendiri, dan pengarang berperan sebagai pengoreksi naskah. &lt;br /&gt;Mengenai nama penyalin NTS terdapat pada tulisan yang mirip dengan tanda tangan di bawah kolofon. Tulisan itu terdiri dari dua kata namun penulisannya disambung, tidak lazim dalam ilmu khat, yaitu sambungan huruf “ha” dengan “mim”. Tulisan tersebut berbunyi Fakih Muncak. Gelar fakih di depan namanya mengindikasikan bahwa penyalin adalah seorang santri tingkat atas, besar kemungkinan si fakih ini murid dari pengarang.  &lt;br /&gt;Informasi mengenai tempat penyalinan terdapat pada akhir teks secara tersirat, yaitu :&lt;br /&gt;…tetapi kami simpan akan dia sehabis-habis simpan karena picik waktu haji dan suluk ikhwan pada ini hari dan masa banyak bimbing segala masa di dalam negeri yang sah sejahtera… &lt;br /&gt;Dari pernyataan diatas diperoleh keterangan bahwa tempat penyalinan naskah ini di Mekah, tersirat dari ungkapan “piciknya waktu haji” yang diperkuat dengan ungkapan “negeri yang sah sejahtera…”. Ungkapan ini juga mengindikasikan bahwa penulisan tersebut dilakukan secara tergesa mengingat waktu haji yang sempit, akibatnya banyak terdapat korup (kesalahan) dan lakuna dalam NTS. Pernyataan tersebut juga menginformasikan bahwa sewaktu penyalinan berlangsung, sedang diadakan amalan suluk. Pertanyaan lagi bagi kita, siapa sebenarnya sosok syekh Sikabu kabu, kalau beliau benar seorang pengarang NTS di Mekah dan menyulukkan jamaah di sana, berarti kedudukannya menyamai pusat tarekat di Jabal Abu Qubais ketika itu, jelas beliau syekh terkenal. Atau mungkin beliau salah seorang khalifah di Jabal Abu Qubais, badal syekh Sulaiman Zuhdi, Sulit untuk ditebak.&lt;br /&gt;NTS ditulis dengan alas naskah kertas lokal (Indonesia). Terdiri dari 16 halaman, ditulis tanpa penomoran halaman. Jumlah baris pada halaman 1-7 yaitu sebanyak 23 baris, sedang pada halaman 8-16 sebanyak 15 baris ditulis dengan gaya kitab kuning lama. Ukuran naskah 21x16 cm, dengan blok teks 19,5x13,4 cm pada halaman 1-7 dan 13x10,5 pada halaman 8-16. NTS disampul dengan kertas tebal dengan gambar bunga kecoklat-coklatan yang sudah lusuh. Tinta yang digunakan dalam menulis naskah yaitu tinta biru tanpa rublikasi, namun terdapat dua ilustrasi simbolis jalan zikir dalam amalan tarekat Naqsyabandiyah. Aksara yang dipakai yaitu aksara Arab dengan jenis khat Naskhi yang tergolong rapi mudah dibaca. Bahasa yang dipakai yaitu bahasa melayu dan dibeberapa tempat menggunakan bahasa Arab dan sedikit bahasa daerah Minangkabau.&lt;br /&gt;Secara umum keadaan naskah masih baik, kendati warna kertas sudah menguning karena dimakan usia. Jika dilihat dari sisi penulisan, nampak kekurangan di sana sini, akibat kesalahan penyalin ataupun ketidak ketelitiannya. Namun secara utuh NTS dapat ditransliterasikan secara utuh, sehingga dapat digambarkan konsep tarekat naqsyabandiyah yang terdapat dan tersirat dalam NTS.&lt;br /&gt;Jika dilihat dari segi isi, NTS termasuk naskah yang miskin akan informasi penulisan, tidak seperti kebanyakan naskah lainnya. NTS tidak diawali dengan kata pengantar (muqaddimah) dan penutup (khatimah), namun langsung masuk kepada pembahasan inti teks yaitu pasal-pasal mengenai rahasia amalan tarekat naqsyabandiyah, itupun ditulis tidak teratur. Seperti contoh ada bagian kata yang bisa dipenggal (dipisahkan) penulisannya, sangat menyalahi kaidah karangan Arab (insya’). Maka jelas informasi yang berkaitan dengan NTS hanya bersandar kepada beberapa baris kolofon. Begitupun informasi NTS yang ditelusuri melalui oral history juga tidak mebuahkan hasil memuaskan. Maka untuk hal ini penulis mengambil jalan tengah yaitu tawaquf, menangguhkan informasi rinci terhadap NTS kepada peneliti-peneliti selanjutnya. Untuk sementara informasi ringkas dari NTS kita cukupkan dari penjelasan kolofon yang tertulis diakhir naskah.&lt;br /&gt;Secara ringkas, NTS merupakan teks ringkas berbentuk narasi mengenai amalan-amalan tarekat Naqsyabandiyah al-khalidiyah, tidak sampai disitu, NTS juga membahas rahasia-rahasia yang terdapat dalam amalan tarekat naqsyabandiyah berupa aspek-aspek filosofis yang melatar belakangi ritual suluk dalam naqsyabandiyah. Pada awal teks penulis memberi penjelasan secara mendalam mengenai rahasia amalan zikir ismuż żāt, yaitu pembahasan zikir kalimah “Allah” di laţifah al-Qalb sebanyak 5000 kali. Pembahasan ini terdapat pada pasal pertama.&lt;br /&gt;Kemudian dilanjutkan dengan pasal kedua mengenai rahasia-rahasia zikir laţāif pada tujuh pusat kesadaran manusia.  Jumlah zikirnya sebanyak 11000, dengan perincian 5000 kali pada lathifatul Qalb, letaknya di bawah tetek sebelah kiri, kurang lebih dua jari dari rusuk; pada lathifatur Roh sebanyak 1000 kali, letaknya di bawah tetek kanan , kurang lebih dua jari ke arah dada; pada lathifatus Sirr sebanyak 1000 kali, letaknya di atas dada kiri kira-kira dua jari ke kanan; pada lathifatul khafi zikirnya sebanyak 1000 di atas dada kanan kira-kira dua jari ke arah dada; pada lathifatul akhfa zikirnya sebanyak 1000 kali letaknya di tengah-tengah dada; lathifatun Nafsin Nathiqah zikirnya sebanyak 1000 kali, letaknya di atas kening; dan pada lathifatu kulil jasad zikirnya 1000 kali di seluruh tubuh.  Penunjukan terhadap zikir lathaif ini di gambarkan oleh pengarang dalam raqam yang mudah dipahami.  Di samping itu, di dalam NTS juga dijelaskan rahasia-rahasia setiap lathaif.&lt;br /&gt;Pembahasan NTS dilanjutkan dengan pembahasan zikir nafi isbat yaitu melafalkan kalimat lā ilāha illa Allāh dengan melengkapi beberapa syarat.  Pembahasan ini terletak pada pasal kedua. Pasal ketiga membahas tentang rahasia zikir wuquf, yakni zikir diam, pembahasan ini dilanjutkan dengan pemaparan muraqabah (kosentrasi) ithlaq pada halaman berikutnya. &lt;br /&gt;Pada halaman berikutnya, pengarang memaparkan pembahasan muraqabah ma’iyah dan tawajuh, menyangkut kosentrasi pikiran akan zat Allah ta’ala serta menghadapkan diri zhahir dan bathin kepada zat azza wa jalla. Pada pembahasan terakhir dipaparkan tentang zikir tahlil disertai dengan kaifiyat (metode) mengamalkannya. Pembahasan ini dilanjutkan dengan pemaparan seluk beluk suluk dan pangkat-pangkat kewalian.  &lt;br /&gt;NTS kemudian disudahi dengan sebuah khatimah (penutup) yang menginformasikan beberapa rujukan penting dalam mengamalkan tarekat Naqsyabandiyah dan informasi penulisan naskah. Untuk yang terakhir ditulis di luar margin teks, dengan gaya tulisan menyamping dan diakhiri dengan penulisan nama penyalin yang mirip dengan tanda tangan. &lt;br /&gt;Secara sistematis isi kandungan NTS dapat disebutkan sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Pasal pertama menyatakan zikir ismuzzat dan zikir lathaif, yaitu halaman 1-7&lt;br /&gt;2. Pasal kedua menyatakan zikir nafi isbat, yaitu halaman 7-8&lt;br /&gt;3. Pasal ketiga menyatakan zikir wuquf, yaitu halaman 8&lt;br /&gt;4. Pasal keempat menyatakan muraqabah ithlaq, halaman 8-11&lt;br /&gt;5. Pasal menyatakan muraqabah ma’iyah, halaman 11-13&lt;br /&gt;6. Zikir tahlil lisan dan hal ihwal suluk, halaman 13-16&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. SISI FILOSOFIS NAQŚABANDIYAH VERSI NASKAH SYEKH MUHAMMAD SALIM SIKABU KABU : STUDI TEKS DAN KONTEKS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya konsep-konsep filosofis dari amalan-amalan tarekat tertentu begitu sulit digambarkan secara utuh, hal ini disebabkan bahwa para sufi-tarekat lebih menekan perasaan (zuq), lebih meluapkan rasa emosional, ketimbang merealitaskan aspek rasio. Walau demikian disini penulis akan berbicara sekedarnya mengenai sisi filosofis tarekat Naqsyabandiyah versi NTS. Hal ini tentunya menyangkut teks-teks yang ada yang kemudian diungkap konteks yang terdapat di dalamnya dengan metode filologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-Nwt5d8fLfW4/TcIiuR5x8QI/AAAAAAAAAGw/dzfeuFNato0/s1600/Kitab%2BIzhar%2B%2528Ahmad%2BKhatib%2529.JPG" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="320" width="209" src="http://3.bp.blogspot.com/-Nwt5d8fLfW4/TcIiuR5x8QI/AAAAAAAAAGw/dzfeuFNato0/s320/Kitab%2BIzhar%2B%2528Ahmad%2BKhatib%2529.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Foto&lt;/b&gt; &lt;i&gt;Kitab Izhar karangan Syekh Ahmab Khatib al-Ninangkabawi. Risalah pertama di Minangkabau yang membantah pendirian Tarikat Naqsyabandiyah&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam NTS lebih dominan menekankan aspek kejiwaan yang dibentuk melalui kosentrasi zikr. Kemudian di dalamnya dijelaskan pusat-pusat (titik-titik) kesadaran manusia pada 7 tempat, tertulis dalam NTS sebagai berikut :&lt;br /&gt;Tanbih bermula Lathāif yang seupama itu yaitu limo dari pada alam al-khalqi dan yaitu nafsu al-hewani dan anasir yang empat itu yaitu air dan api dan angin dan tanah. Dan lima Dari pada alam al-‘amri pertama Lathāif Lathīfah al-Qalb, kedua Lathīfah al-Sir, katigo Lathīfah al-akhfa, keempat Lathīfah al-khafi, keenam Lathīfah ar-Ruh. Dan bermula asal tiap-tiap Lathīfah alam al-khalqi dan Lathīfah yang lain dari pada alam al-‘amri. &lt;br /&gt;Dari keterangan NTS diatas nyata bahwa keberadaan jiwa manusia disertai dengan 7 pusat kesadaran, yaitu lathifatul Qalb, letaknya di bawah tetek sebelah kiri, kurang lebih dua jari dari rusuk; pada lathifatur Roh letaknya di bawah tetek kanan , kurang lebih dua jari ke arah dada; pada lathifatus Sirr kali, letaknya di atas dada kiri kira-kira dua jari ke kanan; pada lathifatul khafi di atas dada kanan kira-kira dua jari ke arah dada; pada lathifatul akhfa letaknya di tengah-tengah dada; lathifatun Nafsin Nathiqah zikirnya, letaknya di atas kening; dan pada lathifatu kulil jasad di seluruh tubuh.. Itulah pembentuk kejiwaan. Mengenai hal ini al-Farabi mengungkapkan bahwa jiwa itu bersemayam di dalam raga. Ruh bagi manusia merupakan substansi dari “alam amri” yang tidak berbentuk suatu apapun, tidak diciptakan dari materi ruh itu sendiri, tidak dapat ditentukan dengan isyarat, dan tidak mondar mandir di antara diam dan gerak.   &lt;br /&gt;Ketujuh titik ini menjadi objek perhatian para ahli tarekat, diterpa setiap hari dengan latihan zikir, sehingga memancarlah sinar-sinar ilahi dari hatinya. Selanjutnya dari kutipan NTS diatas di sebutkan “relasi spritual” antara latifah-latifah tersebut dengan ‘Alam Amri dan Alam Khalqi.&lt;br /&gt;Selain dari teks NTS di atas, ada juga teks lain dalam NTS yang merupakan konsep filosofis dari tarekat Naqsyabandiyah. Yaitu :&lt;br /&gt;…Wa ammā ar-ruh adapun ruh itu mangko ia laţifah yang dibangsakan kepada pekerjaan Tuhan yang capkan pada badan yang ditaruhkan di dalam hati yang putih dan terkadang ada ia…(?) yakni tinggal yang berderangkannya. &lt;br /&gt;Dalam teks ini, penulis menegaskan antara setiap pusat kesadaran manusia (latifah) sebagai tempat perbuatan manusia. Diterangkan bahwa keberadaan hati (baca=jiwa) tergambar seperti cahaya putih yang terang benderang, sebagai konsekwensi dari bentu tajalli af’alallahu.&lt;br /&gt;Dilain tempat dalam NTS juga dijelaskan konsep fana yang merupakan suatu bentuk tingkatan kebersihan jiwa, setelah fana maka baru si Sali mengalami baqa. Teks yang dimaksud ialah :&lt;br /&gt;Adapun jalan an-nafsu yakni bersifat ia dengan sifat malaikat kemudian dari fana segala tubu[h] dan jisim yang tebal, mangko jadilah demikian Laţāif sifat bagi nafsu yang sunyi Amāwah (?) dan berdiri dengan dia. Dan fana segala Laţāif sebelum fana nafsu dan Baqānya dengan Baqā nafsu dan şabbitlah bagi Laţāif yang amariyah tisbah  gharibiyah yakni tambah yang larang-larang adanya berjumpa dan I’tibar yang ‘Ajabiyah yakni tercengang dan heran, mangko bahwasanya Maqam Qalb itu wilayah Nabiyullah Adam ‘alaih al-salām. &lt;br /&gt;Selain dari konsep fana yang ditawarkan dalam teks diatas, diperoleh pula informasi bahwa setiap pusat kesadaran (lataif) itu merupakan tempat wilayah anbiya’ nabi-nabi yang berada ia dengan cahaya yang terang benderang, kilau kemilau dengan beraneka warna.&lt;br /&gt;Dalam filsafat epistemologi dijelaskan bahwa konsep fana berhubungan erat dengan konsep “keakuan”. Dikatakan bahwa realitas keakuan dalam hidup ini terikat dengan “kesediaan”, yakni keadaan berkonflik dengan objek-objek material, meskipun tidak identik dengannya. Akan tetapi, “keakuan” dicirikan dengan objek-objek yang diproyeksikan. Ciri objektivitasi inilah yang menyebabkan “keakuan” melangkah begitu jauh hingga mengojektifkan dirinya sendiri dalam pengertian yang lain. &lt;br /&gt;Itulah diantara konsep-konsep filosofis yang dapat penulis hadirkan dari naskah NTS. Untuk selanjutnya kajian ini sangat membutuhkan pengalaman “rasa”, sehingga apa-apa yang tidak tertulis dalam tulisan, bisa diketahui dengan pengetahun murni (ma’rifat)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4620918976357743641-3887694176121774116?l=surautuo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surautuo.blogspot.com/feeds/3887694176121774116/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surautuo.blogspot.com/2011/05/menyelami-lautan-naqsyabandiyah-naskah.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4620918976357743641/posts/default/3887694176121774116'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4620918976357743641/posts/default/3887694176121774116'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surautuo.blogspot.com/2011/05/menyelami-lautan-naqsyabandiyah-naskah.html' title='MENYELAMI LAUTAN NAQSYABANDIYAH, NASKAH SYEKH MUHAMMAD SALIM SIKABU KABU : DESKRIPSI TEKS DAN KONTEKS'/><author><name>Apria Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08209012488814467728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-GS-6mCx6jMg/TcIiUGgSmDI/AAAAAAAAAGo/7dblKnfqLP0/s72-c/Kitab%2BSyekh%2BMuhammad%2BSalim%2Bsikabu-kabujjjj.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4620918976357743641.post-3337383173998029216</id><published>2011-04-04T22:17:00.000-07:00</published><updated>2011-04-04T22:17:46.127-07:00</updated><title type='text'>Mengenang Ulama besar Minangkabau, penghulu Tarikat Naqsyabandiyah dan guru dari ulama-ulama di Sumatera tengah: Maulana Syekh Ibrahim bin Fahati al-Khalidi Kumpulan (1764-1914)</title><content type='html'>Oleh: Apria Putra&lt;br /&gt;(disari dari makalah penulis "Jaringan Ulama Pasaman" yang dipresentasikan pada acara Konservasi dan Preserfasi Naskah Kuno, Fak. Sastra UNAND, 2010) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-mojb41oZNWw/TZqlnJDGpAI/AAAAAAAAAGg/pplZqS8XVjo/s1600/Kumpulan.JPG" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="240" width="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-mojb41oZNWw/TZqlnJDGpAI/AAAAAAAAAGg/pplZqS8XVjo/s320/Kumpulan.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Foto: Penulis, Apria Putra (no. 3 dari kiri) bersama dengan Tuan Syekh Abu Bakar Tuanku Saidina Ibrahim (bersorban) dan Tim Filologia, di Surau Tinggi, Kumpulan, Pasaman, Maret 2009 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ditanya siapa ulama besar atas jalan Naqsyabandiyah di abad ke XIX dan awal abad XX, berpengaruh luas dikalangan orang-orang siak Minangkabau hingga tanah Batak, terbilang dalam catatan-catatan Belanda akan kemasyhurannya,  maka Beliaulah Maulana Syekh Ibrahim al-Khalidi Kumpulan, masyhur ditengah-tengah masyarakat dengan “Angguik Balinduang” Kumpulan.&lt;br /&gt;Nama kecil beliau ialah Abdul Wahab, lahir pada tahun 1764. diusia yang masih belia Beliau mengaji al-Qur’an menemui seorang alim di Pasir Lawas – Agam. Tersebut bahwa guru beliau tersebut maklum mahir al-Qur’an dan murid langsung dari Syekh Burhanuddin di Ulakan. Setelah menamatkan kaji di tempat tersebut, Beliau melanjutkan mempelajari hukum-hukum syari’at atas mazhab Syafi’i di Cangkiang, IV Angkat Candung. Kemudian Beliau berangkat ke Mekkah al-Mukarramah untuk menunaikan ibadah Haji. Setelah Beliau kembali dari Mekkah, Beliau belajar ilmu Tharikat Naqsyabandiyah kepada mamanda Beliau Syekh Muhammad Sa’id Padang Bubus. Inilah guru Beliau pertama dalam ilmu Tharikat, hakikat dan Ma’rifat. Kemudian beliau pergi ke Mekkah lagi dan di situ beliau bermukim selama 7 tahun, untuk melanjutkan pengajian dalam ilmu syari’at dan secara khusus melanjutkan ilmu Tharikat di Jabal Abi Qubais kepada Maulana Syekh Khalid Kurdi. &lt;br /&gt;Setelah beliau menjadi orang alim pada ilmu Syari’at dan Tharikat, beliau kembali pulang ke Kumpulan. Di Kampung Sawah Laweh Kumpulan, beliau mengajar ilmu agama dalam syari’at dan Tharikat di sebuah Surau yang bernama Surau Kaciak. Karena orang semakin bertambah-tambah menimba ilmu kepada Syekh Ibrahim, maka dibangunlah kompleks surau yang lebih besar dinamai dengan Surau Tinggi. &lt;br /&gt;Syekh Ibrahim mempunyai pengaruh yang luas dikalangan ulama dan masyarakat banyak, maka beliau menepati posisi sentral dalam jaringan ulama setelahnya, terutama dalam jaringan Tharikat Naqsyabandiyah. Diantara murid-murid beliau yang terkenal keulamaannya setelah Beliau ialah:&lt;br /&gt;• Syekh Syahbuddin Tapanuli&lt;br /&gt;• Syekh Muhammad Nur Baruah Gunung, Limapuluh Kota.&lt;br /&gt;• Syekh Muhammad Bashir Lubuk Landur&lt;br /&gt;• Syekh Yunus Tuanku Sasak&lt;br /&gt;• Syekh Daud Durian Gunjo&lt;br /&gt;• Syekh Mudo Tibarau di Kinali&lt;br /&gt;Layaknya ulama-ulama besar dan yang ahli sufi lainnya, Beliau –Syekh Ibrahim- juga terbilang keramatnya, sebagai anugerah Allah akan wali-walinya dan orang-orang shaleh pilihan. Diantara karomah-karomah beliau yang masyhur menjadi buah bibir masyarakat umum ialah menggariskan tongkat Beliau ketika banjir di negeri Talu, sehingga air banjir itu menjadi surut; hilang lenyapnya tulisan-tulisan buku seorang sarjana Inggris yang hendak mendebat beliau dalam masalah Tasawwuf, dan banyak lagi lainnya kisah-kisah tersebut. &lt;br /&gt;Syekh Ibrahim Kumpulan wafat pada tahun 1914, dalam usia 150 tahun. Menurut penuturan masyarakat, sewaktu Beliau meninggal dunia kampung Koto Tuo penuh sesak oleh orang banyak. Kebanyakan dari mereka itu tidak dikenal siapa orangnya dan banyak pula di antara mereka itu yang berpakaian putih-putih. Selain itu muncul keanehan, negeri tersebut penuh dengan kabut putih dan kupu-kupu kuning. Setelah berlalu 40 hari, maka kabut putih dan kupu-kupu kuning itu menghilang sama sekali.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4620918976357743641-3337383173998029216?l=surautuo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surautuo.blogspot.com/feeds/3337383173998029216/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surautuo.blogspot.com/2011/04/mengenang-ulama-besar-minangkabau.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4620918976357743641/posts/default/3337383173998029216'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4620918976357743641/posts/default/3337383173998029216'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surautuo.blogspot.com/2011/04/mengenang-ulama-besar-minangkabau.html' title='Mengenang Ulama besar Minangkabau, penghulu Tarikat Naqsyabandiyah dan guru dari ulama-ulama di Sumatera tengah: Maulana Syekh Ibrahim bin Fahati al-Khalidi Kumpulan (1764-1914)'/><author><name>Apria Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08209012488814467728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-mojb41oZNWw/TZqlnJDGpAI/AAAAAAAAAGg/pplZqS8XVjo/s72-c/Kumpulan.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4620918976357743641.post-8984137723350354574</id><published>2011-04-04T22:12:00.000-07:00</published><updated>2011-04-04T22:12:36.790-07:00</updated><title type='text'>Sosok Hamka dalam karyanya “Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao”</title><content type='html'>oleh: Apria Putra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-4vnuK9f4jWc/TZqkdimYcdI/AAAAAAAAAGY/GC_YQmxuU0A/s1600/HAMKA.JPG" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="320" width="225" src="http://3.bp.blogspot.com/-4vnuK9f4jWc/TZqkdimYcdI/AAAAAAAAAGY/GC_YQmxuU0A/s320/HAMKA.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Foto: Prof. DR. H. Abdul Malik Karim Amarullah (Buya HAMKA)&lt;br /&gt;(Sumber foto: Koleksi Kutub Khannah Inyiak Rasul, Maninjau)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hamka seorang tokoh besar yang penuh teka-teki. Beliau selaku seorang ulama, sastrawan, mufassir hingga sejarawan memang pantas menyandang nama besar karena dedikasi yang tidak ternilai terhadap Islam, dunia sastra hingga kegiatan jurnalistik di Indonesia. Seorang tokoh yang mempunyai segudang kepiawaian dalam bidang-bidang kelas berat, suatu karakter yang langka untuk manusia zaman sekarang. Kepiawaian beliau itu sebanding dengan karya yang banyak dihasilkannya, banyak dan berbobot. Dalam sastra, kemahirannya merangkai kata memang khas, tiada yang sepertinya. Dalam agama, kedalaman faham terhadap kitab-kitab klasik memang patut diajungkan jempol, seorang modern yang mengerti kepustakaan agama tradisionalism secara tuntas. Begitu pula dalam hal sejarah, khususnya sejarah Islam, analisa yang mendalam akan sumber-sumber kesejarahan yang otentik sangat dikuasainya. Khusus untuk bidang terakhir ini, beliau telah menulis buku sejarah Islam yang berjilid-jilid banyaknya, diberi judul populer “Sejarah Umat Islam”, sebuah sumbangan bibliografi yang penting halmana di negeri yang kaya dengan orang besar ini sejarah masih banyak dipertanyakan. &lt;br /&gt;Salah satu karyanya yang cukup mencolok di era-70 itu ialah “Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao”, sebuah buku bandingan dan koreksian terhadap fakta-fakta sejarah yang dikemukakan MO Parlindungan dalam buku “Tuanku Rao”. Dengan kepiawaian merangkai kata dan gaya penyampaiannya yang lugas, disertai dengan fakta-fakta otentik dari berbagai sumber populer beliau mencoba meruntuh untaian-untaian cerita yang dibangun dalam “Tuanku Rao”. Tak sekedar bandingan kering yang dikemukakan beliau, namun juga disertai dengan analisa sejarah yang tajam, terasa menggelitik, bagi seorang yang tidak pernah belajar history method dibangku formal ini beliau telah dapat menerapkan kritik sejarah dengan baik, diakui oleh pakar-pakar sejarah sekarang ketika seminar “Tuanku Rao” di Pasaman di tahun 2008. Dari buku setebal 365 hal ini, kita akan menemui sosok dan karakter seorang Hamka secara lebih untuh, melalui cerminan ungkapan kata-kata yang beliau tulis di tahun 1974 itu.&lt;br /&gt;Adalah Hamka dalam buku polemiknya itu tersirat karakter beliau selaku orang yang berprinsip, teguh pendirian menguraikan pegangan sejelas-jelasnya, apa adanya dan sesuai pula dengan fakta-fakta lapangan yang akurat. Dalam tulisannya tersebut Hamka secara nyata menolak adanya “Syi’ah di Ulakan”, “Haji Piobang selaku pionir Wahabi yang dikirim ke Minang buat membikin negara Darul Islam”, “Paderi adalah teror belaka”, “Mazhab Hambali di Minang” dan lainnya, hal-hal yang tak termakan kaji dan tak ilmiah, prinsip Hamka. Dalam buku tersebut sangat tercermin keteguhan hati beliau menegakkan kebenaran menurut yakin hati, bahkan tak segan-segan menyebutkan cerita Parlindungan hanya sebingkai bualan hampa, tak bernilai ilmiah, muncul dari imajinasi khayal semata. Begitu keras Hamka menyindir MOP, bukan sindiran semata-mata benci, tapi sindiran yang timbul dari lubuk kebenaran yang diteguhkan oleh ilmu pengetahuan yang mendalam adanya.&lt;br /&gt;   Selain dari keteguhan prinsip yang tercermin, dalam bukunya juga tak sulit diambil kesimpulan bahwa Hamka memang menguasai medan bahas dengan men-dalam, baik dari segi tertib sejarah, hingga literatur penyelidikan beliau yang sulit untuk dicari titik lemahnya. Di sini tampak betapa tinggi tingkat intelektual beliau, selaku seorang besar yang hanya belajar dari surau ke surau itu. Dalam bantahan pedasnya terhadap fakta-fakta “Tuanku Rao”, nyata sekali penguasaan beliau terhadap literatur-literatur orisinil kesejarahan, cara penyampaian yang lugas sekaligus menggelitik, tak hanya itu bantahannya disampul kuat dengan analisis-analisis sejarah yang tajam, sehingga membuat MOP tak mampu berkutik hingga mempertahankan “Tuanku Rao” dari kritikan Hamka sendiri.&lt;br /&gt;Dalam “Antara Fakta…”, Hamka tak hanya piawai memilih rujukan, tapi juga mampu memadukan bibliografi-bibliografi yang kaya, sehingga menjadi hujjah yang kuat, bukti intelektualitas Hamka. Tak hanya buku-buku lokal yang beliau gunakan sebagai bahan, tapi juga buku-buku Belanda, istimewa dalam sumber-sumber Arab, sebuah kemahiran sejarah yang jarang terwarisi oleh generasi sekarang. Maka keteguhan hati serta intelektualitas Hamka dalam Buku “Antara Fakta…” menjadi cermin sosok Hamka yang seutuhnya, beliau selaku tokoh besar nan jarang tandingannya, ulama masyhur terbilang, hingga sejarawan handal yang kaya dengan dalih dan hujjah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4620918976357743641-8984137723350354574?l=surautuo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surautuo.blogspot.com/feeds/8984137723350354574/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surautuo.blogspot.com/2011/04/sosok-hamka-dalam-karyanya-antara-fakta.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4620918976357743641/posts/default/8984137723350354574'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4620918976357743641/posts/default/8984137723350354574'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surautuo.blogspot.com/2011/04/sosok-hamka-dalam-karyanya-antara-fakta.html' title='Sosok Hamka dalam karyanya “Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao”'/><author><name>Apria Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08209012488814467728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-4vnuK9f4jWc/TZqkdimYcdI/AAAAAAAAAGY/GC_YQmxuU0A/s72-c/HAMKA.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4620918976357743641.post-3358410505560526696</id><published>2011-04-01T10:19:00.000-07:00</published><updated>2011-04-01T10:19:54.194-07:00</updated><title type='text'>Tuanku Syekh Mudik Tampang - Rao: Ketokohan, Institusi dan Naskah-naskah Kuno Islam</title><content type='html'>&lt;i&gt;Tulisan ini berdasarkan penelusuran Penulis (Apria Putra) dan tim, Rao - Maret 2009&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-_iA5w--aUJo/TZYIOZ5l8cI/AAAAAAAAAEo/Fd9-vkD1TQU/s1600/Rao%2B1.JPG" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="240" width="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-_iA5w--aUJo/TZYIOZ5l8cI/AAAAAAAAAEo/Fd9-vkD1TQU/s320/Rao%2B1.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Foto 1: Penulis (no. 2 dari kanan) dan tim berada di Surau Lamo Tuanku Mudik Tampang - Rao, dalam komplek Ponpes Dar al-Ulum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-4hjhcjOkmFU/TZYIbqc4FuI/AAAAAAAAAEw/ZECiBu-yCXE/s1600/Rao%2B2.JPG" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="240" width="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-4hjhcjOkmFU/TZYIbqc4FuI/AAAAAAAAAEw/ZECiBu-yCXE/s320/Rao%2B2.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Foto 2: "Kekayaan intelektual Naskah kuno Islam Rao", tim menyisir tiap-tiap naskah peninggalan Tuanku Syekh Mudik Tampang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melirik kepada Islam di Minangkabau di masa lalu, kita akan merasa kesulitan mengetahui sejarahnya secara runtun dan sistematis. Hal ini disebabkan karena sumber-sumber yang menyajikan hal tersebut tak seberapa, bisa dihitung dengan jari, kita hanya bisa mengandalkan sumber oral histories, beberapa cacatan lokal yang banyak memakai simbolis dan beberapa karya sarjana Belanda yang mengerti dengan Islam itu sendiri. Maka tak lain cara yang dapat kita tempuh supaya sejarah jangan hilang dengan meninggalnya orang-orang tua menangku sejarah itu sendiri, yaitu dengan menusuri sendiri tempat-tempat kejayaan Islam yang pernah tercatat itu. Selain itu, kita juga dapat mempergunakan kajian arkeologi terhadap benda-benda peninggalan sang Ulama, berupa benda-benda fisik seperti surau, mimbar dan pernak-pernik lainnya. Selain itu kita dapat mengadakan kajian filologis terhadap naskah-naskah tertulis yang pernah diwariskan oleh sang ulama.&lt;br /&gt;Kajian arkeologis dapat dilakukan oleh sejarawan, sedang untuk kajian filologis dapat dilakukan oleh intelektual Islam yang bergelut dengan sastra dan bidang-bidang keilmuan yang luas termasuk sejarah. Maka faktor filologis memang begitu sentral ketika mengkaji pemikiran, ajaran dan dapat juga memberi sumbangan yang tak sedikit terhadap sejarah sang Syekh.&lt;br /&gt;Dengan berlatar demikian, maka penelusuran terhadap naskah-naskah kuno sangatlah diperlukan. Dari realitas yang ada tersebut, didorong oleh niat melestarikan serta mempelajari karya-karya ulama masa lalu, maka dilakukanlah Inventarisasi naskah Kuno oleh Tim Filologi Sastra Arab, menyelusuri jejak-jejak peninggalan ulama tersebut di daerah yang luput dari pengamatan Filolog. Selain itu Tim juga mencoba merekontruksi sejarah yang terabaikan. Untuk kali ini dilakukan di Surau Tuanku Mudik Tampang Rao, Surau yang dilihat dari tarikh-nya telah ada sejak abad ke-18.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tuanku Mudik Tampang Rao dalam Historika Paderi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada sumber otentik yang berbicara langsung mengenai Tuanku Mudik Tampang, siapa beliau. Dari gelar nama beliau, dapat dimengerti bahwa nama itu hanya berupa gelar kehormatan, yaitu terdiri dari kata “Tuanku” dan “Mudik Tampang”. Tuanku ialah gelaran yang biasa dipakai untuk orang-orang besar, di Minangkabau dikenal sebagai gelar Ulama. Sedangkan “Mudik Tampang” ialah nama daerah, yaitu sebuah distrik kecil di Tanah Rao. Jadi gabungan dua istilah ini memberikan pengertian bahwa sang Syekh berasal dari Mudik Tampang, Rao.&lt;br /&gt; Menurut salah satu sumber oral yang ditemui, Bapak Nasaruddin Hasibuan, sang Syekh Tuanku Mudik Tampang lahir dimasa tuan Syekh Abdurrauf Singkel (guru dari Syekh Burhanuddin Ulakan yang terkenal) masih hidup. Beliau digelari dengan panggilan Syekh nan Bacukua Sabalah, yaitu sebuah gelar yang mengungkap kekeramatan sang Syekh, menghilang dari kampungnya dan langsung tiba di Mekkah untuk memadamkan kebakaran dalam keadaan bercukur sebelah.  Beliau seangkatan dengan ulama-ulama besar paruh abad ke-18 dan ke-19, diantaranya Tuan Syekh Muhammad Shaleh “Beliau Munggu” Padang Kandih Lima Puluh Kota, yang masyhur namanya di Tiga Luhak dalam ilmu Tarekat dan Hakikat (ayah yang Mulia Syekh Abdul Wahid “Beliau Tabek Gadang”); Maulana Syekh Ibrahim Kumpulan, masyhur sebagai guru besar Tarekat Naqsyabandiyah di abad ke-19. Beliaupun punya hubungan dengan Tuanku Rao, pimpinan Paderi yang dikenal dalam historiografi Batak dengan nama si Pokki Nangolngolan Sinambela.&lt;br /&gt;Walaupun riwayat hidup beliau masih kabur, namun ada satu sumber yang memberikan sedikit informasi mengenai sang Syekh Mudik Tampang, sumber itu ialah Hikayat Jalaluddin, merupakan salah satu sumber lokal yang langka mengenai Paderi. Dinama Syekh Jalaluddin Ahmad Faqih Saghir menyebutkan :&lt;br /&gt;…akan halnya cerita ini perimenyatakan asal kembang ilmu syari’at dan hakikat dan asal teguh larangan dan pegangan dan asal berdiri Agama Allah dan agama Rasulullah.……adalah seorang Auliya’ Allah yang kutab lagi kisyaf lagi mempunyai keramat yaitu orang tanah Aceh Tuanku Syekh Abdurra’uf, orang masyhurkan ia mengambil ilmu dari pada tuan Syekh Abdul Qadir Jailani. Itupun ia mengambil tempat di negeri Madinah tempat berpindah nabi kita Muhammad Rasulullah ‘alaihi wa sallam yaitu bimbing menghafazkan ilmu syari’at dan ilmu Hakikat ialah menjadi pintu ilmu sebelah pulau Aceh ini. Maka digarakkan Allah berlayar ia dikepala tempurung menjelang negeri Aceh adanya. Maka kemudian dari itu turunlah ilmu Tarekat ke negeri Ulakan kepada auliya’ Allah yang mempunyai keramat lagi mempunyai derajat yang a’la, ialah pergantungan ilmu tahqiq, ikutan dunia akhirat oleh segala makhluk di sebelah tanah ini. Maka berpindahlah Tarekat ke Paninjauan. Lalu kepada tuanku Mansiang nan Tuo. Segala surat-surat ia memakaikan tertib majlis lagi wara’ seperti Tuanku nan di Ulakan jua halnya. Maka dimasyhurkan orang pula Tuanku nan Tuo di negeri Kamang. Ia telah menghafazkan ilmu alat. Dan Tuanku di Lambah dan serta Tuanku di Puar, yang mempunyai keramat lagi beroleh limpah dari pada Tuanku di Paninjauan, orang Empat Angkat jua adanya. Maka Tuanku di Tampang di Tanah Rao datang dari negeri Madinah membawa ilmu mantiq dan ma’ani… (hal. 5-6)&lt;br /&gt;Dari keterangan Faqih Shaghir ini diketahui bahwa Tuanku Mudik Tampang masyhur namanya sebagai pemuka-pemuka ulama, khususnya di abad ke-18. beliau pernah belajar di Hejaz (Mekah dan Madinah), sehingga terkenal beliau sebagai ulama yang ahli dalam ilmu bahasa Arab, mantiq dan ma’ani. Selain itu beliau juga dikenal sebagai salah seorang Ulama Tarekat Naqsyabandiyah, hingga sekarang di surau bekas peninggalan beliau beratus-ratus orang, laki-laki dan perempuan, melaksanakan suluk dan wasilah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Surau Tuanku Mudik Tampang : Denyut Islam di Tanah Rao&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai salah satu pusat pendidikan Islam tertua di tanah Rao, yang dipimpin oleh ulama besar Tuanku Mudik Tampang, surau Mudik tampang telah memainkan peranan penting dalam penyebaran Islam, khususnya di Rao, umumnya di utara Minangkabau tersebut. Ketokohan dan kesantunan dakwah yang dimiliki Tuanku Mudik Tampang, telah menjadi daya tarik tersendiri  bagi para santri untuk datang menuntut ilmu ke Rao, menta’zhimi yang ‘Alim Beliau Mudik Tampang. Apatah lagi dalam upaya mengislamkan daerah-daerah perpaduan budaya Minang dan Batak itu.&lt;br /&gt;Selain menggembleng masyarakat dengan ilmu yang mendalam tentang Islam, Syekh Tampang juga mengajar masyarakat khusus untuk mengenal Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya lewat pengamalan Tarekat Naqsyabandiyah, dengan melakukan Suluk disetiap tahunnya. Sampai sekarang, sudah beberapa lewat generasi, ratusan orang masih bersuluk Tarekat Naqsyabandiyah setiap tahunnya. Sekarang, komplek surau Tuanku Mudik Tampang telah disulap menjadi Pesantren, dengan nama Pesantren al-Qur’an Darul ‘Ulum Rao, sebagai pelanjut cita-cita sang Syekh, pemenuhi tanah Rao di masa lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Naskah-naskah Tua Rao : Inventarisasi Manuskrip Surau Tuanku Mudik Tampang&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai halnya ulama-ulama yang hidup di awal berkembangnya pendidikan Islam di Minangkabau, maka tak ayal lagi Tuanku Mudik Tampang memiliki khutub khannah manuskrip. Apatah lagi Tuanku Mudik Tampang yang terkenal sebagai ulama yang pernah menuntut di Mekah Medinah, sedang dimasa-masa abad itu segala macam keilmuan Islam tertulis dalam bentuk makhtuthat (tulisan tangan), begitu pula ketika mengimla’ perkataan-perkataan guru, juga dengan tangan belaka.&lt;br /&gt;Indikasi yang ditemui di Surau Tuanku Mudik Tampang Rao bahwa dulunya skriptorium ini banyak menyimpan naskah-naskah Tua, ini terlihat dari tata ruang Surau yang dibuat begitu artistik. Di Mihrab surau terdapat sebuah ruang khusus Syekh. Di seluruh bagian dinding inilah ditemui rak-rak, yang cukup menampung ratusan kitab. Namun yang ditemui hanya puluhan manuskrip dari ratusan yang diperkirakan. Menurut salah satu sumber yang pernah ditemui, bahwa sewaktu sang Syekh dulu meninggal dunia, banyak diantara murid-muridnya yang mengambil kitab-kitab tersebut, apakah sebagai kenangan dengan sang guru atau memang ingin menggali ilmu yang terkandung di dalamnya, yang jelas naskah-naskah itu telah raib dari tempat penyimpanannya.&lt;br /&gt;Sebahagian kecil naskah-naskah yang tertinggal untuk selanjutnya di simpan di atas loteng (minang: pagu). Setelah hampir ratusan tahun tersimpan tanpa ada yang mengusik itulah Tim Sastra mencoba menyelamatkan kembali naskah-naskah tua itu, menginggat usia yang sudah tua yang satu saat bisa membuat naskah tersebut rusak dan akhirnya hancur ditelan zaman. Kemudian naskah-naskah tua tersebut diturunkan satu persatu dari tempat penyimpanannya. Hal ini dilakonkan langsung oleh Tim Sastra Arab. &lt;br /&gt;Setelah semua naskah dikeluarkan, maka terkumpullah sebanyak 32 manuskrip, kebanyakannya sudah tidak lengkap dimakan rayap. Kemudian naskah-naskah itu dibersihkan untuk di simpan selanjutnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4620918976357743641-3358410505560526696?l=surautuo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surautuo.blogspot.com/feeds/3358410505560526696/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surautuo.blogspot.com/2011/04/tuanku-syekh-mudik-tampang-rao.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4620918976357743641/posts/default/3358410505560526696'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4620918976357743641/posts/default/3358410505560526696'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surautuo.blogspot.com/2011/04/tuanku-syekh-mudik-tampang-rao.html' title='Tuanku Syekh Mudik Tampang - Rao: Ketokohan, Institusi dan Naskah-naskah Kuno Islam'/><author><name>Apria Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08209012488814467728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-_iA5w--aUJo/TZYIOZ5l8cI/AAAAAAAAAEo/Fd9-vkD1TQU/s72-c/Rao%2B1.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4620918976357743641.post-3401313901307067508</id><published>2011-04-01T10:08:00.000-07:00</published><updated>2011-04-01T10:08:39.294-07:00</updated><title type='text'>Syekh Muhammad Sa'id Bonjol: Ulama terkemuka Tarikat Naqsyabandiyah</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-_O-_XjYyNuM/TZYGfI7PmqI/AAAAAAAAAEg/E0eJMO-qYLU/s1600/SYekh%2BBonjol.JPG" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="160" width="104" src="http://4.bp.blogspot.com/-_O-_XjYyNuM/TZYGfI7PmqI/AAAAAAAAAEg/E0eJMO-qYLU/s320/SYekh%2BBonjol.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Foto: Syekh Muhammad Sa'id "Syekh Bonjol"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di salah satu Pusat perjuangan Paderi (1803-1838), Bonjol, pernah pula menjadi pusat kajian Islam Tradisional Minangkabau yang masyhur namanya sampai akhir abad ke-20. Nama besar perguruan Islam Tradisional itu tak lain karena dedikasi dan ketenaran seorang ulama besar yang kharismatik di daerah ini. Ulama itu ialah Syekh Muhammad Sa’id Bonjol, terkenal pulalah beliau ini dengan panggilan “Imam Bonjol ke-II”. Nama beliau paling banyak disebut apabila dihubungkan dengan jami’ah (organisasi) ulama-ulama Tua Minangkabau, PERTI, sebagai salah seorang sesepuh yang dihormati, teman seperjuangan Inyiak Syekh Sulaiman ar-Rasuli.&lt;br /&gt;Syekh Muhammad Sa’id dilahirkan pada tahun 1881. tidak tercatat lagi masa kecil beliau. Namun dapat diduga bahwa beliau di masa-masa umur puluhan tahun mengaji ala surau Minangkabau di daerah kelahirannya, Bonjol. Dasar-dasar keilmuan  surau inilah yang memotivasinya untuk belajar ke tanah suci Mekkah dikemudian harinya, sebagai halnya ulama-ulama besar yang sebaya dengan beliau, sampai masyhurnya beliau sebagai Ulama besar.&lt;br /&gt;Syekh Sa’id mengambil Tarekat Naqsyabandiyah dari yang Mulia Syekh Ibrahim Kumpulan (1764-1914), yang masyhur namanya dengan “Angguik Balinduang Kumpulan”. Keberhasilan beliau dalam Tarekat Naqsyabandiyah menyebabkan beliau diangkat sebagai khalifah Syekh Ibrahim Kumpulan. Dikarenakan begitu taatnya beliau kepada Allah sehingga beliau mendapat Karunia Allah di dalam mengerjakan khalwat. Diceritakan dalam mengerjakan Suluk di Bulan Ramadhan beliau beroleh Karomah. Seketika mengambil wadhu’ di Malam Hari, Sorban beliau dilarikan Pohon kelapa yang rebah, sebab sebelumnya beliau meletakkan kain sorban beliau di pohon kelapa rebah itu sebelum berwudhu’. &lt;br /&gt;Surau beliau yang kini telah menjelma menjadi mesjid merupakan pusat intelektual Islam yang terkemuka hingga akhir dekade abad XX. Jelas pula, sosok ulama Syekh Sa’id merupakan mata rantai penting dalam transmisi keilmuan Islam yang tidak bisa diabaikan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4620918976357743641-3401313901307067508?l=surautuo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surautuo.blogspot.com/feeds/3401313901307067508/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surautuo.blogspot.com/2011/04/syekh-muhammad-said-bonjol-ulama.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4620918976357743641/posts/default/3401313901307067508'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4620918976357743641/posts/default/3401313901307067508'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surautuo.blogspot.com/2011/04/syekh-muhammad-said-bonjol-ulama.html' title='Syekh Muhammad Sa&apos;id Bonjol: Ulama terkemuka Tarikat Naqsyabandiyah'/><author><name>Apria Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08209012488814467728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-_O-_XjYyNuM/TZYGfI7PmqI/AAAAAAAAAEg/E0eJMO-qYLU/s72-c/SYekh%2BBonjol.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4620918976357743641.post-6150978777844031697</id><published>2011-03-25T10:31:00.000-07:00</published><updated>2011-03-25T21:09:44.095-07:00</updated><title type='text'>Sya'ir Bimbingan Rohani Karya Buya H. Mansuruddin Tuanku Bagindo: Teks dan Konteks</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-UqsIHoL5pg8/TY1m0AcZHpI/AAAAAAAAADo/hHp-JN4zNXU/s1600/Buya%2BMansuruddin%2BTk%2BBagindo%2BLubuk%2BIpuah1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="320" width="250" src="http://1.bp.blogspot.com/-UqsIHoL5pg8/TY1m0AcZHpI/AAAAAAAAADo/hHp-JN4zNXU/s320/Buya%2BMansuruddin%2BTk%2BBagindo%2BLubuk%2BIpuah1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Foto: al-Marhum Buya Mansuruddin Tk. Bagindo Pariaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;A. Pendahuluan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan naskah-naskah keagamaan di nusantara sangat menjadi perhatian besar para peneliti, tak sedikit diantara mereka yang mengkhususkan kajiannya dalam naskah-naskah klasik tersebut. Hingga dapat dikatakan bahwa nusantara merupakan salah satu sentra naskah-naskah kuno islam di dunia.   &lt;br /&gt;Kalau kita lihat secara spesifik, salah satu daerah yang menjadi gudang naskah-naskah ialah Minangkabau. Di daerah ini dapat ditemui tumpukan-tumpukan naskah yang keberadaannnya mengiringi penyebaran dan dakwah Islam di rumpun tanah melayu. Masuknya Islam ke Minangkabau menurut para ahli sejarah melewati pesisir barat Sumatera, sejak lama telah dicatat sebagai pintu masuk dari berbagai pengaruh asing, termasuk pengaruh Islam. Islam yang lebih awal datang dan berkembang di Aceh ternyata begitu cepat telah sampai ke Pariaman, yang ditandai oleh kehadiran Syekh Abdul ‘Arif atau yang lebih dikenal dengan Tuanku Madinah.&lt;br /&gt;Eksistensi dan kejayaan Islam di Minangkabau tak terlepas dari ketokohan seorang Ulama besar, mahaguru sekian banyak ulama-ulama masa silam, yaitu Syekh Burhanuddin Ulakan. Beliau merupakan murid utama sekaligus khalifah Syekh Abdurra’uf Singkel Aceh.  Di lembaga surau yang beliau pimpin itulah lahir ribuan ulama-ulama, penyebar islam ke pedalaman Minangkabau. Murid-murid beliaulah yang nantinya banyak memainkan peranan penting dalam perjuangan islam di Minangkabau, memberi warna pilar-pilar Islam melalui lembaga surau yang tumbuh menjamur mulai dari periode Syekh Burhanuddin ini. Sehingga Islam di Minangkabau hadir dengan dinamika sendiri, mencapai kecemerlangan dalam kurun-kurun waktu berikutnya.&lt;br /&gt;Hadirnya lembaga surau tidak diragui lagi telah memberi identitas sendiri terhadap Islam di Minangkabau. Surau tidak hanya identik sebagai pusat ibadah, namun lebih dari pada itu. Surau juga menepati posisi sebagai pusat keilmuan Islam.&lt;br /&gt;Dengan adanya tradisi mengaji yang berkembang di surau masa itu, maka banyak pulalah kegiatan salin menyalin, yang dikenal dengan istilah kuttab. Salinan materi ajaran Islam itu dalam bentuk naskah, tulisan tangan tanpat mengenal titik dan koma. Tradisi menyalin ini merupakan konsekwensi logis karena kala itu belum ada mesin cetak untuk mencetak kitab-kitab pelajaran.&lt;br /&gt;Hal yang menarik dari keberadaan naskah-naskah tua Minangkabau ialah terjadi akulturasi penulisan, yaitu antara gaya penulisan Arab yang sarat nilai islam dengan kebudayaan Melayu. Dapat kita lihat adanya bentuk naskah yang berupa prosa (natsar) dan ada pula dalam bentuk sajak (syi’ir). Di antara dua bentuk tradisi penulisan naskah di Minangkabau ini, maka jenis syi’ir merupakan jenis naskah yang menarik untuk dikaji, sebab bentuk syi’ir sangat erat kaitannya dengan erotica sastra. Kepiawaian pengarang mengungkapkan ajaran-ajaran keagamaan dengan bahasa yang indah tidak cacat isi menjadi sebuah kajian yang begitu menjanjikan untuk diteliti lebih lanjut.&lt;br /&gt;Salah satu naskah yang ditulis dengan langgam syi’ir itu ialah Naskah Sya’ir Bimbingan Rohani yang ditulis oleh Haji Mansuruddin Tuanku Bagindo di Lubuk Ipuh Padang Pariaman. Keberadaan naskah yang baik untuk dideskripsikan didasarkan pada lingkungan penulisan naskah di sentra penyebaran Islam priode awal di Minangkabau, yakninya daerah Pariaman.&lt;br /&gt;Pariaman merupakan salah satu daerah di Minangkabau yang menjadi basis Islam di era awal penyebaran Islam di Nusantara. Awalnya yaitu dari Syeikh Burhanuddin yang ada di ulakan, yang mana di sini telah tersebar surau-surau yang banyak mengamalkan ajaran Islam yang memakai ciri khas tasawufnya. Di samping adanya surau-surau sebagai tempat pembimbingan para mubaliqh dan para keagamaan orang-orang Islam, di sana juga banyak terdapat naskah-naskah kuno. Salah satu naskahnya yaitu syair bimbingan rohani karangan Tuanku Bagindo Pariaman. Dalam naskah ini beliau bercerita bagaimana seseorang memelihara tubuhnya termasuk yang lahirnya dan anggota tubuh yang batinnya. Kemudian di dalam naskah ini juga di masukkan ajaran tasawufnya menurut ahli al-Sunnah Wal jamaah.&lt;br /&gt;Dengan demikian dalam pembahasan kali ini kami mencoba mengambil Naskah Sya’ir bimbingan Rohani sebagai objek studi. Sehingga nantinya apa yang tersirat dalam naskah ini dapat terungkap dengan baik dengan menghadirkan suntingan teks yang dapat dinikmati oleh semua kalangan pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;B. Teks dan Konteks Naskah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskah Naskah Syaīr Bimbingan Rohani karangan Haji Mansuruddin Tuanku Bagindo merupakan salah satu naskah keagamaan yang ditulis dalam bentuk Sya’ir di antara puluhan naskah keagamaan lain dengan bentuk yang sama.  Hal ini menjadi bukti nyata terhadap dunia penaskahan Minangkabau, sebab dengan adanya naskah tersebut mengungkap penulisan naskah di Minangkabau yang selama ini hanya banyak dikenal dalam bentuk prosa ilmiah (Natsar Ilmi), namun ada juga penulisan naskah dengan bentuk Sastra ilmiah, sarat dengan nilai keindahan. Keindahan itu terletak dari susunan kalimat yang ditulis bersajak, serupa puisi-puisi lama melayu, tetapi dengan isi yang tetap padat.&lt;br /&gt;Naskah Syaīr Bimbingan Rohani dikarangan oleh Haji Mansuruddin Tuanku Bagindo, salah seorang  Naskah yang digolongkan kepada kajian Tasawwuf yang penulis teliti berasal dari Ibuk Yulfira Riza yang diperolehnya dari tempat penyimpanannya sendiri ketika melaksanakan penelitian naskah di Pariaman. Naskah tersebut terdiri dari dua jilid, namun pada kesempatan kali ini hanya jilid pertama saja yang akan ditransliterasi dan dihadirkan mengingat bahasannya lebih baik dan mampu menggambarkan pemikiran penulis secara umum.&lt;br /&gt;Penulisnya sendiri yaitu Haji Mansuruddin Tuanku Bagindo adalah seorang tokoh agama di daerah Lubuk Ipuh kabupaten Padang Pariaman, yang mana di daerah ini ditemui banyak skriptorium manuskrip.&lt;br /&gt;Secara fisik naskah ini berukuran 13,5 cm x  18,5 cm. Naskah berjumlah 38 halaman dengan jumlah baris dalam setiap halaman sebanyak 22 baris. Cara penulisannya yaitu dengan membagi dua ruangan kertas, dibaca dari kalimat sebelah kanan dilanjutkan dengan kalimat sebelah kiri. Antara dua kalimat persajak dipisahkan oleh spasi yang rapi, persis seperti penulisan Sya’ir dalam bahasa Arab.&lt;br /&gt;Alas naskah berupa kertas lokal, disampul dengan kertas karton. Dari teks sendiri hanya ditemui sedikit informasi mengenai naskah, apakah dari informasi penulis yang tertuang pada kolofon, atau dari keadaan fisik naskah. Namun dari susunan kalimat dan pemilihan diksi kata-kata dapat dikatakan bahwa naskah ini merupakan naskah yang cukup lama berdasarkan susunan kata-katanya yang mirip karya-karya lama melayu.&lt;br /&gt;Naskah ini beraksara Arab melayu dengan susunan sajak dan wazan mencotoh puisi-puisi klasik melayu. Judul naskah dibuat mencolok seperti gaya kitab kuning, susunan kata-kata seperti pyramid terbalik. Dijudul tersebut tertulis:&lt;br /&gt;Sya’ir&lt;br /&gt;( Bimbingan Rohani )&lt;br /&gt;Mengandung Nasehat bagaimana caranya&lt;br /&gt;Mendidik hati dan jiwa&lt;br /&gt;Sehingga memahami apakah&lt;br /&gt;Yang dinamai hidup bahagia&lt;br /&gt;Menurut islam&lt;br /&gt;Yang diridhoi&lt;br /&gt;Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi naskah yang terpenting lainnya terdapat pada bagian khatimah (penutup), di dalamnya penulis menyebutkan kapan naskah tersebut ditulis, penulis mengungkapkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamatlah syiir Alhamdulillah&lt;br /&gt;Shalawat dan salam atas Rasulullah&lt;br /&gt;Kalau raga sahabat semuanya&lt;br /&gt;Sampai kiamat hingga itulah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syiirpun tamat pada hari isnain&lt;br /&gt;3 hari bulan Ramadhan&lt;br /&gt;Dawatlah habis terbitlah bosan&lt;br /&gt;Berhenti dahulu tenang fikiran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari ini syiir lah tamat&lt;br /&gt;3 hari Ramadhan wahai sahabat&lt;br /&gt;1400 tahun hijriah&lt;br /&gt;9 tambahnya bilangan tamat &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sajak ini, penulis menginformasikan kapan ditulisnya naskah, yaitu pada tanggal 3 ramadhan 1400 Hijriyah, tepatnya pada jam 9. walaupun naskah ini terbilang baru, yaitu ditulis pada tahun 1979, mengingat isi naskah yang terbilang bagus dan padat, maka naskah ini layak untuk dideskripsikan. Walau ada sementara orang yang mensyaratkan bahwa usia naskah paling kurang 50 tahun. Namun bagi sementara kalangan mengungkapkan bahwa tulisan apapun jua dengan usia berapa jua, asal dia tulisan (manuskrip) maka itu tergolong naskah, seperti yang telah dipopulerkan M. Yusuf dalam katalognya. &lt;br /&gt;Sebagai penutupnya, Tuanku Bagindo menulis keterangan berkaitan dengan keutamaan berpegang kepada zikrullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Ringkasan Isi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teks ini menjelaskan tentang nasehat-nasehat agama menurut kajian tasawuf dalam bentuk syi’ir berbahasa melayu. Pembahasannya di mulai dengan menjelaskan tata cara menjaga anggota yang lahir seperti lidah, mata, tangan, telinga, kaki, dan lain-lain. Kemudian di lanjutkan dengan pembahasan tata cara menjaga hati yaitu anggota tubuh yang batin.&lt;br /&gt;Awal sajak dimulai dengan ucapan Basmallah, kemudian diteruskan dengan alas an penulis menulis sajak tersebut. Penulis mengungkapkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepatah kata saya sampaikan&lt;br /&gt;Kepada pembaca orang budiman&lt;br /&gt;Sebabnya syair saya tuliskan&lt;br /&gt;Karna melihat putaran zaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putaran zaman wahai saudara&lt;br /&gt;Zaman pembangunan sudahlah nyata&lt;br /&gt;Boleh dilihat di sini sana&lt;br /&gt;Mulai dari kota sampai ke desa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga kalau dilihat&lt;br /&gt;Perubahan nasib lekas dan lambat&lt;br /&gt;Mungkin tercapai menurut iradat&lt;br /&gt;Bagaimana adanya dalam maklumat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jikalau di lihat sana sini&lt;br /&gt;Sangat meningkat pembangunan jasmani&lt;br /&gt;Rumah yang bagus meja dan kursi&lt;br /&gt;Mobil dan Honda silih berganti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh begitu hendaklah ingat&lt;br /&gt;Tiap-tiap nikmat mengandung laknat&lt;br /&gt;Sengketa banyak tidak sepakat&lt;br /&gt;Itu tandanya usaha tidak berkat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan menyolok mata&lt;br /&gt;Keadilan jauh hampir niaya&lt;br /&gt;Suatu cobaan Tuhan yang Esa&lt;br /&gt;Hendak sadari wahai saudara &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ungkapan diatas penulis menyatakan peringatan tentang dunia yang semakin hari semakin canggih, perkembangan di sana sini, hidup manusia bergelimang dengan kesenangan dan pamor. Namun itu semua menurut penulis merupakan godaan semata, yang jika kita tidak hati-hati menjalani hidup yang fana ini, niscaya kita akan terpedaya dengan melupakan Allah, melupakan kehidupan akhirat yang kekal Abadi.&lt;br /&gt;Kemudian mulailah penulis menguraikan tata cara membersihkan anggota badan yang zhahir dalam segala maksiat. Menurut penulis cara membersihkan anggota badan yaitu dengan menjauhi segala larangan (Takhalli), selanjutnya dengan menghiasi anggota badan dengan ibadah dan perbuatan baik.&lt;br /&gt;Sebagai contohnya, dalam tata cara menjaga kaki dari perbuatan maksiat, penulis mengungkapkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita mendidik di aliah sekarang&lt;br /&gt;Kepada anggota kaki yang panjang&lt;br /&gt;Anggota kita sekian orang&lt;br /&gt;Keperluan hidup di alam perang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun kaki kadang gunanya&lt;br /&gt;Menyampaikan maksud kemana-mana&lt;br /&gt;Kian kemari mencari sesuatunya&lt;br /&gt;Kaki menyampaikan dengan langkahnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunakan kaki untuk tompangan&lt;br /&gt;Perahu hidup dalam pekerjaan&lt;br /&gt;Dipakai sehari-hari berkepanjangan&lt;br /&gt;Membantu  hidup memberi kelapangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandaikah saudara memanjat tak berkaki&lt;br /&gt;Begitu melompat atau mendaki&lt;br /&gt;Hendaklah jawab dengan hakiki&lt;br /&gt;Pikiran waras untuk menunjuki &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menguraikan tata cara membersihkan anggota tubuh dari maksiat. Kemudian pengarang beralih kepada tata cara membersihkan anggota tubuh yang bathin. Kebersihan jiwa ini difokuskan dengan menjaga hati sanubari dari sifat-sifat tercela.&lt;br /&gt;Untuk selanjutnya, pembicaraan mengenai hati sangat difokuskan. Pada halaman berikutnya, penulis menjelaskan tata cara mengawas hati, dan hati disini itulah yang disebut dengan alam rohani yang menjadi topic pembicaraan yang sebenarnya di dalam naskah ini. Kemudian penulis menyebutkan faedah memelihara hati. Dalam hal ini pengarang mengungkapkan:&lt;br /&gt;Jantung dan hati hendaklah isi&lt;br /&gt;Dengan iman rasa marasai&lt;br /&gt;Menurut tempat(…….?)hati&lt;br /&gt;Jauhkan rasa benci membenci&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendaklah hidup tenggang menenggang&lt;br /&gt;Jangan berpilin meraggang-ragang&lt;br /&gt;Rasakan di diri rasakan di orang&lt;br /&gt;Tau kesulitan hidup sekarang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keamanan hidup ialah itu&lt;br /&gt;Agak maagak jangan terlalu&lt;br /&gt;Hendak kembalikan ini dan itu&lt;br /&gt;Kepada Allah Tuhan yang Satu &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat kepada konteks pembahasan di dalam naskah ini, maka dapatlah dipastikan bahwa naskah Sya’ir Bimbingan Rohani merupakan naskah Tasawwuf yang dikategorikan kepada Tasawwuf Akhlaqi, mendidik anggota tubuh dan jiwa dari perbuatan maksiat, guna untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.&lt;br /&gt;Secara sistematis, Naskah Sya’ir Bimbingan Rohani berisi:&lt;br /&gt;1. Mukaddimah&lt;br /&gt;2. Sepatah kata dari penulis&lt;br /&gt;3. Memelihara lidah&lt;br /&gt;4. Memimpin alam jasmani&lt;br /&gt;5. Menjaga tangan&lt;br /&gt;6. Memelihara mata&lt;br /&gt;7. Menjaga telingan&lt;br /&gt;8. Menjaga kaki&lt;br /&gt;9. Cara mengawas alam rohani atau hati dan buahnya&lt;br /&gt;10. Buah kedua&lt;br /&gt;11. Pertanyaan sahabat kepada Nabi&lt;br /&gt;12. Buah ketiga&lt;br /&gt;13. penutup&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4620918976357743641-6150978777844031697?l=surautuo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surautuo.blogspot.com/feeds/6150978777844031697/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surautuo.blogspot.com/2011/03/syair-bimbingan-rohani-karya-buya-h.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4620918976357743641/posts/default/6150978777844031697'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4620918976357743641/posts/default/6150978777844031697'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surautuo.blogspot.com/2011/03/syair-bimbingan-rohani-karya-buya-h.html' title='Sya&apos;ir Bimbingan Rohani Karya Buya H. Mansuruddin Tuanku Bagindo: Teks dan Konteks'/><author><name>Apria Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08209012488814467728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-UqsIHoL5pg8/TY1m0AcZHpI/AAAAAAAAADo/hHp-JN4zNXU/s72-c/Buya%2BMansuruddin%2BTk%2BBagindo%2BLubuk%2BIpuah1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4620918976357743641.post-8101312160334741907</id><published>2011-03-18T09:34:00.001-07:00</published><updated>2011-03-18T09:34:49.909-07:00</updated><title type='text'>Surau: Melirik Aktifitas Transmisi Keilmuan Islam Tradisional</title><content type='html'>Oleh: Apria Putra&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Tulisan ini dikutip dari  Penelitian Kelompok penulis pada PUSLIT IAIN Padang, 2010&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Surau dalam Sejarah Pendidikan Islam di Minangkabau&lt;br /&gt;Dalam sejarah pendidikan Islam di Minangkabau, Surau merupakan institusi yang tidak bisa dikesampingkan. Surau memainkan peranan yang sangat signifikan dalam menyebarkan keilmuan Islam jauh sebelum pendidikan modern yang berbasis Madrasah muncul. Dalam sejarah tercatat, tokoh-tokoh besar yang mempunyai pengaruh luas banyak lahir dari Surau. Mereka dididik dan dibesarkan dalam lingkungan Surau. Sebutlah beberapa nama seumpama Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi (w. 1916) yang pernah menjadi Mufti mazhab Syafi’i dan Imam di Mesjid al-Haram Mekah; Syekh Thahir Jalaluddin yang menjadi Mufti di Pulau Penang Malaysia; Syekh Janan Thaib yang menjadi guru besar pula di Mekah al-Mukarramah, dan banyak lagi lainnya. Begitu pula tokoh-tokoh nasional yang berjasa dalam masa awal pembentukan Indonesia, semisal Agus Salim, Hamka, Hatta dan lainnya. Ketokohan mereka tidak dapat dilepaskan sepenuhnya dari Surau, atau boleh dikata pernah beroleh pendidikan di Surau. &lt;br /&gt;Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan WJS. Poerwadarminta, Surau diartikan sebagai tempat sembahyang (shalat), mengaji dan langgar. Sedangkan Gerard Moussay dalam Dictionnaire Minangkabau Indonesien menyebutkan bahwa surau ialah tempat belajar Agama; surau digunakan juga sebagai asrama bagi remaja yang mulai tumbuh dewasa.  &lt;br /&gt;Dalam Ensiklopedi Pendidikan yang ditulis oleh Soegarda Poerbakawatja, dkk, disebutkan bahwa surau merupakan tempat belajar di Sumatera Barat. Di surau diberikan pelajaran keagamaan. Secara umum Poerbakawatja membagi institusi surau dalam dua tipe, besar dan kecil. Surau besar menyelenggarakan pelajaran rendah sampai yang tinggi. Sedangkan sifat pelajaran dari surau-surau kecil hanya terdiri dari pelajaran menghafal dan menulis. Menurut Snouck Hurgronye, seorang yang rajin dan cerdas akhirnya dapat membaca dan memahami buku-buku fiqih di Surau-surau yang besar dibawah pimpinan seorang guru yang pandai dan bijaksana.&lt;br /&gt;Sedangkan AA. Navis dalam Alam Takambang Jadi Guru memberikan gambaran bahwa surau pada mulanya hanya berfungsi sebagai tempat tinggal laki-laki duda dan bujangan. Lambat laun fungsinya menjurus sebagai tempat pendidikan Agama Islam, menjadi tempat mukim bagi siapa saja yang datang untuk belajar agama, sehingga ulama-ulama muda yang mendapat pendidikan dari sana disebut orang surau. Surau demikian tak obahnya pesantren di Jawa. Surau yang tetap berfungsi seperti asalnya masih ada hingga kini. &lt;br /&gt;Mengenai asal mula penamaan surau, disebutkan bahwa surau pada mula keberadaannya berfungsi sebagai biara budha di Minangkabau, yakni sebelum masuknya pengaruh Islam. Dimasa itu Adityawarman telah membuat sebuah model surau di Minangkabau sebagai pusat pengembangan agama budha. Bahkan dikatakan bahwa asal surau itu dari kata Saruaso, sebuah nama daerah, yang secara harfiyah bermakna surau asal, “surau” dan “aso”. Fungsi ini lama kelamaan berubah setelah masuknya agama Islam, apakah yang berasal dari pantai timur Sumatera atau pantai barat. Hingga akhirnya Surau identik dengan pusat pendidikan Islam di masa lalu. &lt;br /&gt;Sebelum fungsi surau sempurna, surau menjadi milik suku tertentu di Minangkabau. Adapun karakter surau di masa itu ialah:&lt;br /&gt;1) Tempat tinggal bagi anak-anak yang telah berusia lebih dari 6 tahun, para bujangan, duda, pelancong dan orang-orang tua.&lt;br /&gt;2) Tempat berembut mencari mufakat bagi kaum atau suku.&lt;br /&gt;3) Tempat berkumpul, berkomunikasi dan bertemunya anak kemenakan, ipar, bisan dan bako.&lt;br /&gt;4) Tempat mensosialisasikan adat, sopan santun dan tata pergaulan.&lt;br /&gt;5) Tempat belajar silat.&lt;br /&gt;Setelah mendapat pengaruh Islam yang kental, maka fungsi surau bertambah dengan:&lt;br /&gt;1) Tempat belajar mengaji dan sembahyang.&lt;br /&gt;2) Tempat ibadah sehari-hari. &lt;br /&gt; Pada abad-abad yang lalu, surau disebut orang Belanda sebagai Indische Scholen (sekolah orang Melayu) atau Godstientscholen (sekolah agama). Hal ini mengisyaratkan betapa Surau di masa-masa itu merupakan satu lembaga yang sangat maju dan dikenal luas, sampai orang-orang kompeni ambil bagian untuk menggambarkan aktifitas surau ini. kenyataan itu makin diperkuat dengan data-data yang diberikan Belanda yang menggambarkan betapa pesat pendidikan model surau di Minangkabau di masa lampau.&lt;br /&gt;Salah satu data yang akan dikutip saat ini, yaitu data yang diberikan AWP. Verkerk Pistorius, dalam artikelnya yang berjudul De Priester En Zijn Invloed op de samenleving in de Padangsche Bovenlanden (pengaruh para ulama dalam masyarakat Minangkabau) pada tahun 1868. dia memberikan data banyaknya surau di Minangkabau kala itu, diantaranya:&lt;br /&gt;1) Surau Taram, terbesar, sekitar 1000 murid.&lt;br /&gt;2) Surau Koto Tuo, sekitar 220 sampai 300 murid.&lt;br /&gt;3) Surau Cangkiang, sekitar 400 murid.&lt;br /&gt;4) Surau Pasir, sekitar 300 murid.&lt;br /&gt;5) Surau Laboh – Tanah Datar, sekitar 200 murid.&lt;br /&gt;6) Surau Padang Gantiang – Tanah Datar, sekitar 100 murid.&lt;br /&gt;7) Surau Simabur, sekitar 200 murid.&lt;br /&gt;8) Surau Pangean, sekitar 100 murid.&lt;br /&gt;9) Surau Piei (Laras Salajoe), sekitar 300 murid.&lt;br /&gt;10) Surau Muara Panas, sekitar 150 murid.&lt;br /&gt;11) Surau Kota Hanou, sekita 200 murid.&lt;br /&gt;12) Surau Kasih, Larang Saniang Bakar, sekitar 150 murid.&lt;br /&gt;13) Surau Singkarah, sekirar 100 sampai 150 murid.&lt;br /&gt;14) Surau Calou (Sijunjung), sekitar 300 sampai 400 murid.&lt;br /&gt;15) Surau Padang Sibusuk, sekitar 150 murid.&lt;br /&gt;Begitupula dalam laporan terakhir keberadaan Inlandsche Scholen (sekolah anak negeri) pada tahun 1913, memberikan angka terbesar untuk sumatera barat dalam jumlah sekolah agama (maksudnya Surau) dibandingkan Daerah lain di Sumatera. Yaitu:&lt;br /&gt;Daerah Jumlah Sekolah Jumlah Murid&lt;br /&gt;Sumatera Barat 4.054 48.239&lt;br /&gt;Tapanuli 426 6.481&lt;br /&gt;Bengkulu 72 789&lt;br /&gt;Palembang 82 1.215&lt;br /&gt;Jambi ? 3.333&lt;br /&gt;Sumatera Timur 70 1.630&lt;br /&gt;Aceh 432 5.995&lt;br /&gt;Riau 129 1.397&lt;br /&gt;Lampung ? ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun cacatan mengenai nama-nama surau di atas belumlah secara menyeluruh, namun data tersebut telah memberikan gambaran pesatnya perkembangan surau di Minangkabau sebelum masa kemerdekaan.&lt;br /&gt;Dalam keterangan Mahmud Yunus, terdapat beberapa surau terkemuka sebelum abad XX yang mengembangkan pelajaran Islam dengan cara metode lama, yaitu:&lt;br /&gt;1) Surau Syekh Abdullah Khatib Ladang Lawas Bukittinggi.&lt;br /&gt;2) Surau Syekh Muhammad Jamil Tungkar&lt;br /&gt;3) Surau Syekh Tuanku Kolok (Syekh Muhammad Ali) di Sungayang – Batusangkar.&lt;br /&gt;4) Surau Syekh Abdul Manan (Tuanku Talao) di Padang Gantiang – Batu Sangkar&lt;br /&gt;5) Surau Syekh Muhammad Shaleh Padang Kandis – Suliki.&lt;br /&gt;6) Surau Syekh Abdullah “Beliau Surau Baru” di Padang Japang – Suliki&lt;br /&gt;7) Surau Syekh Ahmad Alang Lawas – Padang&lt;br /&gt;8) Surau Syekh Amarullah – Maninjau&lt;br /&gt;9) Dan lain-lainnya.&lt;br /&gt;Ibaratkan pesantren di Jawa, surau di Minangkabau mempunyai beberapa komponen yang membentuk komunitas orang siak dalam hubungannya dengan menuntut ilmu. Setidaknya ada tiga komponen yang saling bersinergi dalam komunitas surau, Pertama, ulama yang menjadi pengajar utama; kedua, orang siak (santri) yang menuntut ilmu dan ketiga keilmuan Islam yang diajarkan. Apabila ketiga komponen itu saling berkorelasi dengan baik maka akan terciptalah suatu lingkungan pendidikan agama yang baik. Sedangkan tempat belajar (surau) akan tercipta sendirinya ketika ketiga komponen itu saling berhubungan kuat. Bila komunitas ulama dan orang siak terbentuk, maka tak akan lama akan berdiri komplek surau-surau besar bergonjong yang sekian tingkatnya. &lt;br /&gt;Antara ulama dan orang siak tercipta suatu hubungan rohani yang erat, yang dibentuk oleh adab sopan santun kepada guru. Akan sangat aib dikalangan mereka bila ada salah satu murid yang melanggar pituah guru, apatah lagi bila menyalahi guru. Prinsip demikian agaknya diperoleh dalam pembacaan mereka terhadap kitab-kitab sumber yang menjadi rujukan. Salah satu doktrin yang sangat kuat misalnya menyebutkan bahwa hormat kepada guru termasuk salah syarat utama untuk memperoleh ilmu pengetahuan.  &lt;br /&gt;Selain itu, sisi lain keberhasilan surau di masa lalu ialah karena terciptanya kondisi belajar yang kondusif. Ulama merasa berkewajiban mengajarkan ilmunya dan orang siak merasa berkewajiban belajar ilmu agama. Di samping terbentuk karena adab yang dipakaikan (kode etik ilmu pengetahuan) yang memang dipatuhi secara penuh, hal ini juga tercipta karena masing-masing komponen memang berniat tulus sejak awal. Ulama hanya berniat semata-mata untuk mengajar, tanpa mengharap sepeserpun hasil jerih payahnya. Salah satu contoh dapat dikemukakan di sini pengalaman mengajar Syekh Daud Durian Gonjo (1854-1939) Pasaman di suraunya. Menurut keterangan cucunya, buya Abdullah Hukum, ia mengajar tanpa meminta bayaran sama sekali dari murid-muridnya, malah ia sendiri yang mensubsidi mereka, memberi mereka kebutuhan pangan, papan dan sandang. Padahal, aktifitas Syekh Daud setiap hari hanya mengajar dan berada di balik kelambu mengamalkan suluk tarekat Naqsyabandi saja. Malah ia juga tergolong ‘kaya’ karena berjasa mendirikan sejumlah rumah gadang bagi sanak familinya.  Dari mana Syekh Daud memperoleh itu semua? Sejauh ini tidak banyak informasi yang dapat diperoleh dari cucu maupun orang-orang yang dekat dengannya.  &lt;br /&gt;Demikian juga halnya dengan orang-orang siak. Merka datang menemui sang ulama dari tempat yang jauh dengan berjalan kaki semata-mata untuk menimba ilmu, bahkan ada yang berjalan berhari-hari hanya untuk mendengar sepatah dua patah kata dari seorang ulama yang masyhur tersohor. Walau keadaan kehidupan kala itu serba terbatas, namun tak pernah terdengar seorang ulama yang terlantar, hidup miskin dan tidak makan hanya karena ia berprofesi sebagai pengajar. Juga jarang sekali diketahui keluarga dari kalangan ulama (yang kebanyakannya berpoligami) berantakan karena tak ada uang. Malah yang terjadi sebaliknya, banyak ulama-ulama surau masa lalu yang hidup lebih dari berkucupan. Sawah ladang panen dengan sangat memuaskan, anak dan istri diperbelanjai secara penuh, bahkan masih cukup untuk membiayai murid-murid yang belajar di Surau seperti kasus Syekh Daud di atas. Hingga pertengahan abad ke-20, surau-surau di Minangkabau boleh disebut memperoleh kehidupan yang mapan. Begitulah keadaannya ulama dan lembaga surau yang dipimpinnya di masa lalu.&lt;br /&gt;Untuk memperoleh gambaran sebuah komplek pendidikan surau di abad-abad yang lalu, kita akan melihat aktifitas surau besar yang didirikan oleh Syekh Abdurrahman (1777-1899), yaitu surau Batu Hampar, Payakumbuh.&lt;br /&gt;Syekh Abdurrahman setelah 48 tahun berkelana menuntut ilmu kepada berbagai ulama di Minangkabau, dan sempat pula belajar di Mekkah, pada usiaya yang ke-63 tahun kembali ke kampungnya Batu Hampar. Setibanya di kampung halaman, Batu Hampar, Syekh Abdurrahman kemudian mulai membangun suraunya yang pertama, dimana ia mula-mula mengajar membaca al-Qur’an. Syekh Abdurrahman adalah seorang qari yang baik, oleh karena itu ia tidak sekadar mengajar membaca al-Qur’an seadanya, tetapi juga ilmu tilawatil Qur’an  dengan berbagai macam irama yang kita kenal dewasa ini. karena Syekh Abdurrahman memang dikenal sebagai qari yang terkemuka, maka banyak murid berdatangan dari luar Minangkabau seperti Jambi, Palembang, Bangka dan lain-lain. Demikian banyak jumlah muridnya, sehingga tidak tertampung lagi di surau dan rumah-rumah penduduk.&lt;br /&gt;Dari sinilah timbul gagasan untuk membangun komplek pendidikan Islam yang memadai. Untuk itu dibangun sekitar 30 surau yang rata-rata berukuran 7x8 meter dan kebanyakan bertingkat dua. Surau-surau ini dibangun mengelilingi beberapa bangunan induk. Bangunan induk pertama dan utama adalah “Mesjid Dagang” yang dibangun bertingkat dua, dengan arsitektur rumah adat Minangkabau. Di Mesjid Dagang inilah Syekh Abdurrahman memimpin shalat berjama’ah setiap waktu dan mengajar al-Qur’an. Di samping timur mesjid dagang ini terdapat sebuah menara sekitar 20 meter tingginya yang dibangun dengan arsitektur ala timur tengah. Kemudian, disebelah timur mesjid dagang ini terdapat bangunan bertingkat dua yang dibangun khusus untuk mereka yang  melakukan suluk. Di samping itu terdapat pula sebuah bangunan besar dengan tembok yang melengkung . Disinilah Syekh Abdurrahman dan anak cucunya di makamkan setelah mereka wafat. Sebuah bangunan induk lainnya adalah rumah gadang yang berfungsi sebagai tepat penginapan bagi para tamu dan penziarah yang datang secara insidental.&lt;br /&gt;Suatu hal yang menarik, setiap surau di kompleks yang kemudian terkenal sebagai “Kampung Dagang” ini diberi nama sesuai dengan nama daerah asal murid-murid. Karena itu misalnya ada ”Surau Suliki”, “Surau Tilatangkamang”, “Surau Solok”, “Surau Pariaman”, “Surau Padang”, “Surau Painan”, “Surau Riau”, “Surau Jambi”, “Surau Bengkulu”, “Surau Palembang” dan lain-lain. Di surau-surau inilah para penuntut ilmu berdiam dan mengulang pelajarannya. Di kawasan yang luasnya sekitar 3 hektar ini ada pula sebuah pasar kecil, dimana terdapat beberapa kedai (warung) tempat menjual berbagai kebutuhan murid sehari-hari, seperti barang-barang kelontong, pakaian jadi, dasar pakaian dan sebagainya. Kemudian untuk memenuhi kebutuhan air minum dan mandi para penghuni kampung dagang, dibangun saluran air dari suatu sumber air yang terletak di bukit kecil setengah kilometer dari luar kompleks. Air bersih diperoleh setelah melalui empat kali saringan dengan empat bak kolam. Air yang sudah disaring ini ditampung disebuah kolam besar, dan dari sinilah dialirkan dengan pipa besi ke kamarmandi-kamarmandi di sekitar kolam.&lt;br /&gt;Jumlah orang siak (santri) yang belajar di surau Syekh Abdurrahman jumlahnya berkisar antara 1000 sampai 2000 orang. Untuk mengikuti pelajaran di surau, orang siak tidak dikenakan pungutan atau pembayaran apapun; jarang sekali orang siak memberi uang kepada Syekh, jika itu ada disampaikan oleh pihak keluarga yang bersangkutan atas dasar kerelaan dan keikhlasan. Biaya hidup bagi orang siak yang berasal dari masyarakat kampung yang berdekatan dengan surau biasanya dijemput sendiri atau diantar oleh orang tua mereka. Masyarakat kota yang berdekatan tidak pula kurang partisipasinya dalam menunjang pemenuhan kebutuhan orang siak. Setiap hari minggu, dengan pedati mereka mengantar beras, sayur dan kebutuhan pokok lainnya ke surau. Sementara itu, orang siak yang datang dari negeri yang jauh, biasanya tiap hari kamis menyebar ke negeri-negeri sekitar Batuhampar dengan membawa buntil. Sore harinya mereka kembali dengan membawa buntilan  besar dan uang untuk biaya seminggu. Begitulah prototipe surau yang mencerminkan sebuah lembaga pendidikan yang cukup mapan di Minangkabau.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Pengembaraan Keilmuan Guru&lt;br /&gt;Hampir seluruh Ulama-ulama Minangkabau, sampai pertengahan abad ke-XX merupakan ulama didikan Mekkah. Paling tidak, setelah menyelesaikan pengajian di berbagai surau di Minangkabau, mereka berangkat Haji dan tinggal beberapa lama di Mekkah, mengambil barokah pada beberapa halaqah yang bertebaran di Mesjidil Haram, adapula yang sampai mendapat ijazah kitab hingga meraih gelar Khalifah dengan selembar ijazah keluaran Jabal Abi Qubais. Adapula yang benar-benar hidup menahun di Mekkah, belajar ilmu secara khusus kepada beberapa Syekh ternama, setelah cukup bilangan beberapa tahun, mereka berkelana menziarahi Madinah dan Baitul Maqdis, dan pulang selaku ulama besar. &lt;br /&gt;Dengan demikian, ulama-ulama selaku icon intelektual Islam di ranah Minang khususnya telah bersinggungan dengan jaringan Ulama kosmopolitan ketika berada di Mekkah. Setelah kembali ke kampung halaman, mereka membentuk jaringan lokal lewat institusi surau di daerah masing-masing. Sementara itu, surau sendiri berfungsi sebagai tempat penggemblengan bagi orang siak sebelum mereka berkeinginan belajar di Mekkah, menempuh pergaulan intelektual yang lebih luas. Di Surau mereka membekali diri dengan pengetahuan keagamaan yang memadai. Hingga beberapa dekade awal abad ke XX, Mekah merupakan tempat yang ramai dikunjungi untuk menuntut ilmu, selain untuk berhaji. Zawiyah-zawiyah termasyhur banyak berdiri disekitar Mesjidil Haram yang dipimpin oleh Syekh-Syekh ternama dengan corak pengajian masing-masing. Sehingga, Mekah telah menjadi pusat ibadah dan pusat ilmu pengetahuan sekaligus. Malah mungkin lebih dikenal ketimbang al-Azhar.  &lt;br /&gt;Dengan sikap masyarakat muslim seperti itu maka, muncul pameo kalau belum mengaji ke Mekah, ilmunya belum sempurna, keulamaannya belum sah. Begitulah posisi Mekah bagi kalangan penuntut ilmu dan Muslim umumnya.&lt;br /&gt;Dengan mengunjungi berbagai halaqah dan Zawiyah Sufi  di Mekkah saat itu, yang menjamur seantero tanah haram, para penuntut ilmu akan dihidangkan dengan berbagai ilmu pengetahuan agama, dari berbagai Mazhab, berbagai ulama dengan bidang keilmuannya masing-masing (takhassus) dan dari berbagai penjuru dunia. &lt;br /&gt;Posisi mereka setelah pulang ke kampung halamannya menjadi ulama terkemuka, dan ilmu yang mereka bawa pulang, tersimpan dalam sudur, bukan sekedar ilmu yang di dapat lingkungan bawah, kalangan lokal, lebih dari itu ilmu yang mereka peroleh ialah pengetahuan agama yang kosmopolitan sebagaimana jaringan global yang mereka bentuk ketika menuntut ilmu dari berbagai Syekh terkemuka di Haramain. Di samping itu, keilmuan mereka mencapai keotentikan yang bisa diuji, lewat sanad keilmuan dari para musnid, ulama-ulama besar di Mekkah dan Madinah.  Mata rantai keilmuan bersambung bersambung (musalsil), tidak terputus (munqathi’), sampai kepada tokoh-tokoh ulama salaf yang shaleh, hingga sampai kepada Rasulullah.&lt;br /&gt;Sudah menjadi tradisi di Minangkabau, apabila ada orang siak yang telah dianggap alim, terutama bila telah menimba ilmu di Mekkah dan mendapat ijazah, maka masyarakat atau kaum sukunya akan bergotong royong membuatkan surau buatnya untuk mengajar agama. Sampai beberapa dekade awal abad ke-20 tradisi itu masih berlaku. Tidak heran bila akhirnya Minangkabau populer sebagai gudang ulama, dimana setiap kampung dan pelosok-pelosok negeri terdapat satu surau atau lebih. &lt;br /&gt;Demikianlah ulama-ulama Minangkabau masa lalu, termasuk ulama-ulama, yang merupakan icon jaringan ulama dari yang bersifat lokal hingga yang bersifat kosmopolitan (internasional), mereka merupakan ulama-ulama yang teguh berilmu, mempunyai sanad intelektual dari Haramain, central cosmos-nya ilmu pengetahuan Islam. Sampai mereka di kampung halamannya mereka membuka surau, dan lewat surau itulah mereka membentuk jaringan guru-murid yang kokoh. Apabila murid-murid ini telah alim pula dikemudian hari, maka hubungan guru-murid itu menjadi sebuah jaringan ulama lokal. Bahkan surau menjadi pijakan awal jaringan ulama lokal, dan selanjutnya mereka –alumni surau- berkecimpung dalam jaringan ulama kosmopolitan di Mekkah. Banyak ulama surau yang memesankan kepada muridnya untuk menyempurnakan ilmu di Mekkah, bergaul dengan ulama manca negara, membentuk koneksi intelektual internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Pengangkatan Guru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana diungkap diatas, seorang ulama akan terhubung erat dengan gurunya yang terdahulu. Hubungan ini dijalin dengan hubungan rohani yang terikat dengan sanad keilmuan. Dalam konteks ini, seorang santri, orang siak akan selalu bersikap tunduk kepada gurunya itu, sampai-sampai dalam hal-hal prinsipil seorang murid akan selalu meminta pendapat gurunya. Begitupulalah dalam hal mengajar, seorang murid tidak akan serta merta mengajar tanpa adanya restu dari gurunya yang terdahulu, meski ilmu sang murid telah cukup untuk mengajar kitab-kitab yang tinggi. Sikap ini tercipta karena adanya keyakinan bahwa kebaikan itu ada bila dihubungkan dengan guru, misalnya dalam meminta izin atau restu. &lt;br /&gt;Dalam proses pengembaraan keilmuan, sang murid pada mulanya belajar dari surau ke surau, dari pelajaran rendah meningkat perlahan lahan ke pelajaran yang tinggi. Dari kitab matan ke hasyiyah yang berjilid-jilid banyaknya. Perpindahan pelajaran ini biasanya merupakan isyarat dari Syekh atau gurunya sendiri. Seorang murid tidak akan megikuti kelas-kelas yang tinggi dalam pembelajaran ala surau tanpa adanya amar (perintah) dari gurunya untuk belajar kitab yang lebih tinggi. Penilaian untuk naik tingkat bukan ditentukan oleh berapa nilai yang diperoleh, tidak melalui sebuah ujian tertulis karena memang sistem evaluasi kala itu belum ada. Tapi kemahiran seorang murid untuk menguasai materi-materi yang telah diberikan telah dinilai sendiri oleh sang guru, apakah ketika bergaul, keaktifan dalam halaqah  dan pandangan mata batin sang guru. Dari sinilah penguasaan seorang murid diukur sehingga naik tingkat belajarnya ke jenjang yang lebih tinggi lagi.&lt;br /&gt;Sebuah perasaan yang hampir-hampir dimiliki oleh semua penuntut ilmu kala itu ialah rasa tidak puas terhadap ilmu pengetahuan. Meski mereka telah menamatkan berbagai kitab dengan spesifikasi masing-masing, mereka masih tetap mendatangi tempat-tempat lain untuk menambah ilmu, bahkan ada yang mendatangi surau-surau tertentu hanya ingin mengambil berkah dari pengajian seorang Syekh, padahal kitab yang dibaca hanya berupa pengulangan dari pelajaran yang telah pernah diterima. Namun dengan telah menghadiri halaqah Syekh dimaksud, mereka telah merasa sangat puas dan berharap sekali barokah Allah turun keharibaan  mereka. &lt;br /&gt;Adapun mereka yang merasa berkecukupan, melanjutkan pengembaraan keilmuan ke tempat yang lebih jauh lagi dan lebih prestisius, yaitu Mekkah dan Madinah (Haramain), sebuah tempat yang menjadi idola para penuntut ilmu disamping untuk menunaikan ibadah Haji. Mereka yang hidup berada dapat melakukan perjalanan ke Mekkah dengan memakai kapal uap melewati masa yang berbulan-bulan lamanya. Sedang mereka yang hidup pas-pasan, tapi mempunyai semangat yang kuat untuk menuntut ilmu, melakukan perjalanan dengan berjalan kaki, menelusuri pulau Sumatera hingga Aceh, lalu menyeberangi lautan menuju Thailand dan berjalan terus ke Mekah. Rasa keinginan kuat itu untuk menjalang kota Suci membuat mereka rela untuk melakukan perjalan ribuan kilo jaraknya, dan memakan waktu bertahun-tahun pula.&lt;br /&gt; Di sanalah, ditempat mereka menuntut ilmu, Mekkah tentunya, mereka memperoleh ijazah dari guru mereka setelah menamatkan satu kitab yang tentunya penamatan itu diiringi juga dengan pemahaman yang matang. Maka ijazah merupakan sebuah petanda, simbol tertulis dari seorang guru yang mengisyaratkan bahwa si-pemegang ijazah telah menguasai materi pelajarn dengan baik dan berhak menyebarkan ilmu yang telah diperolehnya kepada orang lain. Maka dengan demikian adanya bukti tertulis dari guru berupa ijazah yang di dalamnya dibubuhi sanad keilmuannya menjadi sebuah petanda pengangkatan seseorang yang mulanya murid menjadi guru, dan berhak mengajar kepada murid-muridnya yang lain.&lt;br /&gt;Disamping itu, adanya amar (perintah) secara lisan dan sharih (jelas) menjadi sebuah pesan khusus disamping ijazah dalam rangka pengangkatan seorang guru. Kita memiliki banyak contoh kasus seperti ini, misalnya HAKA (Haji Abdul Karim Amarullah) yang diperintahkan secara sharih oleh Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi untuk mengajar disalah satu halaqah di serambi Mesjidil Haram – Mekkah. Contoh lainnya Syekh Muhammad Jamil Jaho yang juga di-amar-kan oleh Syekh Ahmad Khatib untuk mengajar di Mekkah. &lt;br /&gt;Dalam kasus keilmuan Tarikat, sebuah kearifan Tasawuf, prosesi pengangkatan guru ini lebih ketat dibanding keilmuan lainnya yang sekarang mulai tampak pudar. Dalam Tarikat, sahnya seorang menjadi guru mesti dengan sebuah ijazah yang dikeluarkan oleh guru sebelumnya, selain keharusan dicantumkan cap stempel gurunya sebagai tanda kelegalan sebuah ijazah. Tanpa ini, seorang guru Tarikat tak akan diikuti ajarannya oleh orang banyak, malah sebaliknya ia akan dicela. Namun yang mesti digaris bawahi bahwa ijazah untuk mereka yang mengaji dengan sistem tradisional tidak pernah melewati suatu evaluasi layaknya ujian yang dikenal saat ini. Pemberian ijazah tersebut sangat murni berdasarkan keilmuannya sendiri, dan sangat tidak mungkin terjadinya nepotisme dikalangan guru-guru tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) Transmisi Keilmuan dan Integritas Guru&lt;br /&gt;Surau, bagaimanapun keadaannya telah menjadi sarana pendidikan Islam terkemuka dan berperan besar dalam Islamisasi, melahirkan ulama-ulama besar di zamannya, hingga mencetak juru-juru dakwah profesional. Di masa keemasannya, surau mampu menjadi barometer sosial-masyarakat, apakah dalam usaha perjuangan masyarakat terhadap kompeni, penentuan ekonomi petani , pengajaran adat istiadat Minangkabau dan tentunya istimewa dalam bidang agama. Fungsi surau yang bukan sekedar pusat pendidikan Islam, membuat kedudukan surau menjadi sangat penting bagi masyarakat kala itu. Seorang ulama kharismatik yang memimpin surau seolah-olah sama posisinya dengan pemimpin masyarakat, terutama kepemimpinan dalam bidang agama, penentuan kearifan ekonomi hingga penjagaan ketertiban masyarakat. Begitulah surau, keadaan dan posisinya di masa jayanya.&lt;br /&gt;Meneropong surau dari segi sosial keagamaan, kita akan memperoleh suatu gambaran nyata betapa lembaga ini, surau, memainkan peran penting dalam setiap aspek kehidupan masyarakat. Ulama yang menjadi titik nadi kehidupan surau merupakan sosok yang menjadi panutan, tumpuan hingga pimpinan. Sehingga fungsi utama surau sebagai tempat transmisi keilmuan yang dalam menjadi semakin menjadi nyata, dengan ulama sebagai penentu arah kebijakan-nya. &lt;br /&gt;Transmisi keilmuan islam yang dijalankan di surau kepada generasi selanjutnya, tentu dimaksudkan agar tradisi keilmuan itu tidak putus. Setidaknya ada tiga porsi keilmuan Islam yang diajarkan secara mendalam di surau-surau Minangkabau. Pertama ialah pemahaman tentang syari’at, dengan mempelajari secara tuntas fiqih Mazhab Syafi’i. Kedua ialah pemahaman mengenai Tauhid, menekankan aspek akidah melalui “pengajian Sifat Dua Puluh” dan pemahaman Ahlussunnah wal Jama’ah (Sunni). Dan ketiga pengamalan Tasawuf lewat Tarikat-tarikat Mu’tabarah. Di hampir semua surau-surau lama ketiga porsi keilmuan ini diajarkan secara tuntas, walaupun dibeberapa surau telah mengambil spesialis keilmuan tertentu, seperti Nahwu, Tafsir, Ma’ani dan lainnya, namun ketiga porsi ini tetap medapat tempat di surau-surau tersebut. &lt;br /&gt;Dengan demikian jelas, surau-surau Minangkabau sangat kuat memegang tradisi Sunni; bersyari’at dengan Fiqih Syafi’i, berakidah sesuai dengan faham Asy’ariyah dan mengamalkan salah satu Tarikat Sufiyah sebagai sebuah kearifan Tasawuf. Itulah sebabnya kenapa ulama-ulama surau begitu teguh mempertahankan pendirian ketika muncul beberapa kecaman dari kaum Modernis (kaum muda), karena memang sejak dulu Ahlussunnah telah mapan di ranah Minangkabau ini.&lt;br /&gt;Memang tidak ditemui satu catatan kurikulum yang dipakai oleh lembaga surau. Namun dari penemuan naskah-naskah tua yang masih ditemui sekarang, kita akan membenarkan betapa surau ini menjadi basis Ahlussunnah yang kokoh berakar. Hingga saat ini masih dapat ditemui kitab-kitab besar mazhab Syafi’i yang masih bertuliskan tangan di surau-surau semacam ini, yang usianya berabad-abad lamanya. Masih dapat ditemui syarah-syarah ilmu Tauhid yang besar-besar di bekas-bekas surau masa lalu. Dan masih dapat pula dijumpai kitab-kitab Tarikat yang sangat langka. Di sinilah kekuatan surau, dengan ulama dan aktifitas transmisi keilmuannya yang ditransfer secara mendalam dan standar yang tinggi.&lt;br /&gt;Begitulah keilmuan surau-surau di Minangkabau, kuat memegang Ahlussunnah, kuat beramal dengan Tarikat-tarikat Ahli Sufi. Untuk selanjutnya keilmuan surau yang begitu halnya telah diadobsi oleh Perti, karena memang Perti merupakan kelanjutan surau-surau lama itu. Dan kitab-kitab tulisan tangan dalam tradisi surau dahulu telah diganti dengan kitab-kitab kuning, dengan tetap memakai materi kitab-kitab lama itu. Kitab kuning untuk selanjutnya menjadi prioritas keilmuan yang utama bagi kaum tua, sebab dengan kitab kuning akan terwarisi segala ajaran yang mencakup Fiqih Syafi’i, Ahl Sunnah dan Tasawwuf secara utuh. Diantara kurikulum Kitab yang dikaji di Madrasah-madrasah Perti itu ialah : (1) Bidang Fiqih, yaitu Matan Ghayah wat Taghrib, Fathul Qarib Mujib, Al-Bajuri, I’anatut Tahlibin dan Mahalli; (2) Bidang Tauhid, yaitu Jawahirut Tauhid, Al-Aqwal al-Mardiyah, Fathul Majid, Umm Burhain; (3) Bidang Tasawwuf, yaitu Minhajul ‘Abidin, Mau’izatul Mukminin dan Hikam; (4) Nahwu dan Sharaf (gramatikal Arab), yaitu Matan al-Jurumiyah, Matan Bina wal Asas, Mukhtashar Jiddan, Kaelani, Kawakib ad Durriyyah, Qatrun Nida, Ibnu Aqil ‘ala Alfiyah; (5) Bidang Ushul Fiqih, yaitu Waraqat, Jami’ul Jawami’, Asybah wa an-nazhair; (6) Bidang Tarekh (sejarah Islam), yaitu Khulasah Tarekh Islami, Nurul Yaqin, Itfamul Wafa; (7) Manthiq (logika), yaitu Idhohul Mubham, Sullamulwi; (8) Tafsir, yaitu Jalalain; (9) Balaghah, yaitu Jauharatul Maknun; dan (10) Bidang Hadist dan Musthalah, yaitu Kitab as-Sanawani dan al-Baiquniyah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4620918976357743641-8101312160334741907?l=surautuo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surautuo.blogspot.com/feeds/8101312160334741907/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surautuo.blogspot.com/2011/03/surau-melirik-aktifitas-transmisi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4620918976357743641/posts/default/8101312160334741907'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4620918976357743641/posts/default/8101312160334741907'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surautuo.blogspot.com/2011/03/surau-melirik-aktifitas-transmisi.html' title='Surau: Melirik Aktifitas Transmisi Keilmuan Islam Tradisional'/><author><name>Apria Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08209012488814467728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4620918976357743641.post-2953185354139273286</id><published>2011-03-18T09:32:00.000-07:00</published><updated>2011-03-18T09:32:42.777-07:00</updated><title type='text'>Sebuah Catatan bagi mereka yang mengingkari penghulu-penghulu Naqsyabandiyah: Satu Kesaksian Sejarah, Kehalusan Pesan dan Cerminan “Raso” dari Luak Limopuluah</title><content type='html'>Oleh: Apria Putra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tersebut dalam sejarah, bahwa keberadaan Tarikat Naqsyabandiyah di Minangkabau mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan Islam di ranah ini. Dia adalah amalan ulama-ulama besar sejak dahulu kala, bukan hanya di Minangkabau ini, di Sumatera, bahkan di Indonesia ini. mereka –ulama- silam itu, disamping zahir ‘alim bersyari’at, mereka juga bertarikat, mereka memakai dua sayap, lahia dan batin, masyhur berpakaian dengan pakaian Naqsyabandi. Itulah kaji ulama-ulama Ahlussunnah di negeri gudang ulama ini. orang-orang yang mengenal sejarah tentu tak akan memungkiri betapa besar jasa ulama-ulama yang nota bene-nya Ahli Tarikat Sufiyah itu, apakah dalam penyebaran Islam atau perjuangan melawan penjajah. &lt;br /&gt;Maka dialah intan berlian yang tersisa dari ulama-ulama silam, lukluk marjan pusaka orang-orang alim saisuak, yang terus diwarisi dan dipakai, hingga orang-orang luar kagum ketika memasuki Luak nan Bungsu, sebab masyarakatnya ramah dan santun, dan satu sebabnya, disamping alam geografis yang membentuk watak itu, ialah karena cahaya kulimah diwajah mereka, sebab mereka orang-orang Naqsyabandiyah. &lt;br /&gt;Sungguh saya tak mampu menguraikan “Naqsyabandi” yang ibarat samudera itu kehariban tuan-tuan, sebab “Naqsyabandiyah” satu coraknya bukanlah salah satu dari ilmu suthur, tapi dialah ilmu shudur. Sungguh saya takkan menguraikan yang “Batin” itu dalam kertas yang kecil ini, sebab kertas ini takkan mampu membendung luasnya lautan Tasawwuf yang tersimpan dalam mutiara Naqsyabandiyah. Pun saya ini barulah orang awam bekala, alim bukan, ulama tidak, ilmu bintang-bintangan, jo adat ambo mangapalang, jo syarak jauah sakali. Namun karena soal ini suatu yang penting, yang telah pula menggoncangkan alam Minangkabau diawal abad ke-20, maka perlu pula menulis ini kehadapan tuan-tuan yang dipercaya selaku pemutus “kato syara’” dalam Luak nan Bungsu ini.&lt;br /&gt;Saya takkan mengurai “Tarikat”, semua telah jelas tertulis dalam kitab-kitab mu’tamad yang dipakai sejak ratusan tahun yang lalu. Sebutlah semisal kitab Ihya’ Ulumuddin karya Imam al-Ghazali yang terkemuka, Jami’ul Ushul fil Auliya’  karangan Syekh Ahmad al-Khamaskhanawi an-Naqsyabandi, Risalah Qusyairiyah buah tangan Imam al-Qusyairi dan banyak lagi lainnya, beratus-ratus judul dapat kita sebutkan. Namun yang yang menjadi masalah, yang akan menguraikan kitab itu siapa lagi??? Mau dibaca saja, maka bersya’irlah orang-orang alim: &lt;br /&gt;من يأخذ العلم  من شيخ  مشافهة  يكن عن الزيغ و التصحيف فى حرم&lt;br /&gt;و من يكن آخذا للعلم من صحف  فـــــعلمه   عند  أهل  العلم   كالعدم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpendidikan Mesir-pun belumkan lagi menjadi jaminan buat membaca dan menguraikan karya-karya besar itu. Wajar bila tampak keanehan, sebagai tradisi Islam di Minang ini, lantas kontan mengata Bid’ah, khurafat dan Tahayyul. &lt;br /&gt;Dan “Tarikat” itu bukanlah satu aliran faham sebagai banyak diungkap saat ini, niscaya kelirulah mereka. Sebab “Tarikat” merupakan satu pengamalan dan jalan kearifan Tasawwuf, yangmana kajiannya ialah perkara membersihkan hati.  Tasawwuf merupakan 3 serangkai kajian Islam yang paling inti, disamping Fiqih dan Tauhid. Satu antara 3 hal tersebut tidak terpisahkan, jika kurang satu maka takkan sempurna, begitu ulama-ulama kita telah mengisyaratkannya. &lt;br /&gt;Islam masuk ke Minangkabau jelas dengan membawa unsur Tasawwuf yang kental lewat balutan Tarikat-tarikat ahli Sufi.  Apakah itu Tarikat Syathariyah, Tarikat Samaniyah maupun Tarikat Naqsyabandiyah. Dan Luak Limopuluah merupakan salah satu basis Tarikat, khususnya Tarikat Naqsyabandiyah, yang terpadat bukan hanya di Minangkabau, namun juga di dataran Melayu ini. ulama-ulamanya masyhur terbilang lewat surau-surau yang tumbuh menjamur dengan ribuan orang Siak yang datang silih berganti. Mereka bukan hanya ahli dalam syari’at belaka, disamping itu mereka melengkapi diri dengan Tasawwuf ber-Tarikat Naqsyabandiyah. Maka berdirilah ratusan Surau Suluk yang besar-besar kala itu. Bila disebut kampar sebagai negeri “Seribu Suluk”, maka boleh dikata Luak nan Bungsu adalah adiknya. Begitulah perihal jalan agama waktu itu. Semua satu, semua sama bersyafi’i dan sama berpakaian Naqsyabandiyah.  &lt;br /&gt;Kemudian ada orang yang berteori, bahwasanya arus pembaharuan ala Paderi telah menghanyutkan sendi-sendi pengamalan Tarekat di Minangkabau. Maka hal demikian keliru, sebab, meskipun Paderi membawa semangat Wahabi ke Minang lewat 3 Haji itu, namun mereka sekali-kali mereka tidak merubah jalan agama di kampung ini. malah mereka adalah orang-orang kuat ber-Tasawwuf dan ber-Tharikat. Sebutlah Tuanku nan Renceh, Tuanku Pamansiangan nan Mudo, Syekh Jalaluddin Cangkiang, begitupula Harimau nan Salapan itu merupakan murid-murid terutama Tuanku nan Tuo, ulama besar yang memakai jalan Syathariyah.  &lt;br /&gt;Sungguh takkan cukup kertas ini menulis nama siapa-siapa saja Ulama besar Luak nan Bungsu ini yang alim dan terkemuka Sufi-nya itu dalam secarik kertas ini. saya kira tuan-tuan sudilah mencari arsip-arsip lama itu buat mengetahui jejak rekam Islam di Minangkabau, sebagai tempat kita bercermin. &lt;br /&gt;Barulah pada awal abad ke-20 muncul gelombang pergolakan agama, sebagai disebut oleh Prof. Schrieke, dimana timbul pertentangan Kaum Muda dan Kaum Tua di Minangkabau. Semuanya terekam jelas dalam berbagai Bibliografi. Seorang Mufti Syafi’iyyah di Mekkah beliau bernama Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi (w. 1916) menulis sebuah risalah yang menghebohkan Minangkabau, berikut dunia Melayu. Risalah itu berjudul Izhharuz Zaghlil Kazibin fi Tasyabbuhihim bis Shadiqin,  dimana didalam risalah itu dipertanyakanlah tentang Tarikat Naqsyabandiyah, khususnya mengenai Rabithah. Risalah itu tersebar di Minangkabau dikontribusikan oleh Murid-muridnya yang telah banyak terkontaminasi oleh Faham Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha (pengarang Majalah Modernisasi terkemuka “al-Manar”) sepertihalnya beliau. Kitab itu terdiri dari 144 halaman (terbitan at-Taqdum Ilmiyah Mesir, 1908). Dalam Muqaddimah-nya, disebutkan bahwa beliau membahas 5 masalah dalam Tarikat Naqsyabandiyah.  Mulai saat itu mulailah perang dingin itu muncul, satu keras berfaham baru dan satu istiqamah dengan faham ulama silam. Namun hal itu dapat dipertahankan oleh ulama-ulama Minangkabau kala itu, antara lain yang Mulia Syekh Muhammad Sa’ad “Beliau Surau Baru” Mungka Tuo (w. 1922) dan Syekh Khatib Muhammad ‘Ali al-Fadani (w. 1939). Yang Mulia Syekh Sa’ad, yang terkemuka selaku Syaikh Masyaikh (guru sekalian guru) ulama Minangkabau itu dan juga selaku pimpinan Ittihat Ulama Sumatera (Persatuan Ulama Sumatera) , menulis risalah yang terkenal yaitu Irghamu Unufil Muta’annitin fi Inkarihim Rabithatal Washilin (Meremukkan Hidung Penantang, mereka yang membatalkan rabithah orang-orang yang telah sampai kepada Allah). Diawal risalah itu beliau berujar:&lt;br /&gt;(Setelah Basmallah dan Hamdalah serta shalawat)&lt;br /&gt;Tatakala di thaba’ orang kitab izhar Zaghlil Kazibin dan masyhurlah sikatib negeri Minangkabau, gaduhlah orang awam dan caci mencaci mereka itu, hingga mengkafirkan setengah mereka itu mereka yang lain orang yang ditetapkan oleh Allah hatinya atas yang haq. Dan demikian itu dengan sebab tersebut di dalam kitab izhar tersebut menyerupakan orang yang pakai rabithah dengan orang yang menyembah berhala dan di datangkan beberapa dalil dari pada al-Qur’an dan hadist dan kalam sahabat dan ulama sufiyah. Maka dengan sebab itu memintalah dari pada al-haqir Muhammad Sa’ad bin Tanta’ Mungka Tuo setengah dari pada ikhwan dari pada ahlus shalah bahwa menyebutkan al-Haqir akan wajah bagi penguatkan segala dalil rabithah dan bagi penolakkan segala wajah membatalkan rabithah dan pemasukkan amalan Tarikat Naqsyabandiyah kepada syari’at, supaya jangan terlonsong dan terkecuh orang-orang yang tiada kuasa menfahamkan dalil….   &lt;br /&gt; Sedangkan Syekh Khatib ‘Ali menulis kitab Burhanul Haq Raddu ‘ala Tsamaniyah al-masail al-Jawab min Su’alis Sa’il al-Qathi’ah al-Waqi’ah Ghayatut Taqrib (cetakan Pulo Bomer-Padang, 1918), berikut kitab Miftahul Shadiqiyyah fi Ihtilahin Naqsyabandiyah (terjemahan karya Syekh Abdul Ghani an-Nablusi). Beliau lebih kuat lagi pertahanannya, sebab beliau pernah merekomendasi keputusan “14 orang oelama Radd tinggi di Mekah” (1924) yang kala itu dipimpin oleh mufti Sayyid Abdullah bin Sayyid Muhammad Shaleh az-Zawawi. Kemudian muncul lagi apologetis Syekh Muhammad Dalil Bayang (w. 1923) yaitu kitab Targhub ila Rahmatillah.   &lt;br /&gt;Meski kemudian Syekh Ahmad Khatib menulis lagi risalah kedua beliau tentang Tarikat Naqsyabandiyah, yaitu al-Ayatul Bayyinat lil Munshifin fi Izalati Khurafat Ba’di Muta’ashisibin. Dimana di dalamnya dibahas panjang lebar mengenai i’tiradh bantahan Syekh Muhammad Sa’ad tersebut. Tak berselang lama, Syekh Muhammad Sa’ad melayangkan lagi penanya yang kedua, berjudul Risalah Tanbihul Awam ‘ala Taghrirat Ba’dhil Anam, sehingga mematahkan kalam Syekh Ahmad Khatib.  Dengan syukur Syekh Sa’ad berujar:&lt;br /&gt;Maka terbujuklah dengan dia setengah segala hati yang pecah-pecah wal hamdulillah ‘ala dzalika.  &lt;br /&gt; Setelah dua ulama ini kembali akrab, saat lama berpolemik. Maka yang membuat panjang masalah ialah murid-murid Syekh Ahmad Khatib, seumpama DR. Abdul Karim Amarullah (ayah Hamka) , DR. Abdullah Ahmad Padang (pendiri Adabiyah School) dan lainnya. Mereka menulis surat kabar untuk menyambung ide-ide pembaharuan itu di Padang, dengan nama “Majalah al-Munir” (senada dengan al-Manar di Mesir).  Lalu kemudian diramaikan oleh Syekh Muhammad Jamil Jambek dengan buku Penerangan tentang asal Usul Tarikat Naqsyabandiyah (2 jilid, terbitan Tsamaratul Ikhwan Bukittinggi, 1940), dengan nada bantahan yang moderat.&lt;br /&gt;Begitulah halnya kaum muda di Minangkabau, yang mencoba menanggalkan amal Tarikat di pulau perca ini. kemudian pada tahun 1925, masuk Muhammadiyah ke Minangkabau (kantor perwakilan pertamanya di Sungai Batang Maninjau), dibawa oleh ayah Hamka ytb. Sehingga pertentangn semakin alot, kemudian disusul dengan pembentukan “Sumatera Thawalib” di Padang Panjang, yang mempunyai pendirian radikal terhadap Tarikat. &lt;br /&gt;Meski begitu, benteng telahpun terpasang, ulama-ulama Minangkabau lainnya terus membendung arus perubahan tersebut. Maka terkemukalah nama-nama seperti Maulana Syekh Sulaiman ar-Rasuli (w. 1970) yang mengarang berbagai risalah tentang Naqsyabandiyah, satunya yang terkemuka ialah Risalah Aqwalul Washithah fi Zikri wa Rabithah;  kemudian Syekh Abbas Qadhi Ladang Laweh, Syekh Arifin Batu Hampar, kemudian Syekh Abdul Wahid “Beliau Tabek Gadang” Payakumbuh, dan banyak lagi lainnya. Dan Syekh Bayang sendiri, dengan untaian sya’ir-nya Darul Mau’izhah:&lt;br /&gt;………&lt;br /&gt;Nama nazham ini Darul Mau’izhah&lt;br /&gt;Artinya pengajaran yang amat indah&lt;br /&gt;Karena pemutusan hajat fitnah&lt;br /&gt;Kepada ahli naqsyabandiyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karangan saya faqir yang ummi&lt;br /&gt;Taqshir dan lalai sepanjang hari&lt;br /&gt;Muhammad Dalil hamba haqiri&lt;br /&gt;Nama ayahnya Muhammad Fatawi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mula adanya di negeri Bayang&lt;br /&gt;Sekarang ini di negeri Bayang&lt;br /&gt;Di belakang mesjid tempatnya terang&lt;br /&gt;Demikian lagi di pasar Gadang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dosanya banyak tidak terhinggakan&lt;br /&gt;Jikalau ada tuan kasihan&lt;br /&gt;Tuan tolonglah minta ampunkan&lt;br /&gt;Kepada Allah Tuhan ar-Rahman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Shaleh bin Muhammad Saman&lt;br /&gt;Di Alahan Panjang duduk kediaman&lt;br /&gt;Nazham ini sungguhan betulkan&lt;br /&gt;Patut sekali tuan amalkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambillah nazham coba muthala’ah&lt;br /&gt;Supaya nafsu jangan melengah&lt;br /&gt;Nazham tarekat Naqsyabandiyah&lt;br /&gt;Nyatalah suci sempurna jelah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manalah tuan yang baik hati&lt;br /&gt;Mana yang salah boleh baiki&lt;br /&gt;Saya mengaku bukan ahli&lt;br /&gt;Belumlah patut mengarang ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau mufakat kitab dan Sunnah&lt;br /&gt;Muthabaqah pula dengan waqi’ah&lt;br /&gt;Semua itu karunia Allah&lt;br /&gt;Mengucap syukur alhamdulillah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jikalau tuan menaruh dengki&lt;br /&gt;Tuan membaca berhati benci&lt;br /&gt;Tuan melengah kanan dan kiri&lt;br /&gt;Mencari ikhtiar serta budi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mana orang ada menyalahkan&lt;br /&gt;Nomor berapa ia sebutkan&lt;br /&gt;Ambillah dawat lekas tuliskan&lt;br /&gt;Ke dalam Koran boleh masukkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fasal tarekat Naqsyabandiyah&lt;br /&gt;Asal mulanya dari Allah&lt;br /&gt;Jibril membawa kepada Rasulullah&lt;br /&gt;Dengan wahyunya azzal jalalah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian turun ke Abu Bakari&lt;br /&gt;Sudah itu ke Salman al-Farisi&lt;br /&gt;Sampai sekarang tali bertali&lt;br /&gt;Dengan silsilahnya terang sekali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jikalau tuan mau bertanya&lt;br /&gt;Kalau tarekat ini Abu Bakar punya&lt;br /&gt;Patut turun kepada anaknya&lt;br /&gt;Mengapa kepada Salman tempat turunnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini jawabnya yang amat indah&lt;br /&gt;Anak Nabi Siti Fathimah&lt;br /&gt;Patutlah ia jadi Khalifah&lt;br /&gt;Menggantikan Nabi Rasul ar-Rahmah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa Abu Bakar khalifah Nabi&lt;br /&gt;Diizinkan Allah Tuhan Ilahi&lt;br /&gt;Dengan sepakat segala ashabi&lt;br /&gt;Wallahu yakhtasshu bi Rahmatihi man Yasya’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya Allah Ta’ala yang menentukan&lt;br /&gt;Dengan rahmat-Nya buat yang dikehendakkan&lt;br /&gt;Patut sekali kita benarkan&lt;br /&gt;Demikianlah sebab hamba katakan&lt;br /&gt;……… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dilanjutkan oleh wadah kaum Tua, Persatuan Tabiyah Islamiyah, 1930. begitulah adanya pergolakan agama, yang pernah diabadikan sejarawahan, entah negeri kita ataupun para intelek belanda. Hingga kini corak Tasawwuf itu, masih seperti dulu, tiadakan bertukar. Dan sayapun menemui satu scrit di akhir tahun lalu, tepatnya di Kutubkhannah Dr. Abdul Karim Amrullah, Sungai Batang Maninjau, perihal ijazah Tarikat ‘Alawiyah dan Hadadiyah yang diterima Inyiak rasul itu dari ayahnya Syekh Amrullah Tuanku Kisa’i al-Khalidi Naqsyabandi ad-Danawi. &lt;br /&gt;Setelah masa pergolakan itu, kedua kelompok kemudian hidup berdamping, meski perang dingin pernah pula terjadi, namun tidak lagi meluas. Untuk kemudian, kehidupan “Tarikat” tetap berkembang di alam Minangkabau ini, bahkan menurut catatan-catatan peneliti meningkat dari tahun ke tahun.  Dari dulu tetap menjadi kekhasan Islam di Minangkabau, dan pulau-pulau nusantara ini. semuanya terekam jelas, sebagai diurai oleh Wan Shaghir Abdullah, si-“Manuskript berjalan dunia Melayu” itu, juga dibeberkan oleh Prof. Aboe Bakar Aceh.&lt;br /&gt;Untuk selanjutnya, para alim kita telahpun mengelompokkan Tarikat ke dalam 2 kategori besar, yaitu [satu] Tarikat Mu’tabarah (diakui), dan [dua] Tarikat ghair mu’tabarah.  Saya tidak akan memperpanjang kalam dalam ini. dari Tarikat Mu’tabarah, disebutkan sebanyak 41 Tarikat yang diakui, memiliki sanad yang mu’an’an kepada Rasulullah dan pengamalannya tidak bertentangan dengan              al-Qur’an dan Sunnah. Yaitu:  &lt;br /&gt;1. Umariyah    &lt;br /&gt;2. Naqsyabandiyah&lt;br /&gt;3. Qadiriyah&lt;br /&gt;4. Syaziliyah&lt;br /&gt;5. Rifa’iyah&lt;br /&gt;6. Ahmadiyah  &lt;br /&gt;7. Dasuqiyah&lt;br /&gt;8. Akbariyah&lt;br /&gt;9. Maulawiyah&lt;br /&gt;10. Kubrawiyah&lt;br /&gt;11. Sahrawardiyah&lt;br /&gt;12. Khalwatiyah&lt;br /&gt;13. Jalwatiyah&lt;br /&gt;14. Bakdasyiyah&lt;br /&gt;15. Ghazaliyah&lt;br /&gt;16. Rumiyah&lt;br /&gt;17. Sa’diyah&lt;br /&gt;18. Gistiyah&lt;br /&gt;19. Sya’baniyah&lt;br /&gt;20. Kalsyaniyah&lt;br /&gt;21. Hamzawiyah&lt;br /&gt;22. Bairumiyah 23. Usysyaqiyah&lt;br /&gt;24. Bakriyah&lt;br /&gt;25. Idrusiyah&lt;br /&gt;26. Ustmaniyah&lt;br /&gt;27. Alawiyah&lt;br /&gt;28. Abbasyiyah&lt;br /&gt;29. Zainiyyah&lt;br /&gt;30. Isawiyah&lt;br /&gt;31. Buhuriyah&lt;br /&gt;32. Hadadiyah&lt;br /&gt;33. Ghaibiyah&lt;br /&gt;34. Khadhiriyah&lt;br /&gt;35. Syathariyah&lt;br /&gt;36. Bayumiyyah&lt;br /&gt;37. Malamiyyah&lt;br /&gt;38. Uwaisyiyah&lt;br /&gt;39. Idriyyah&lt;br /&gt;40. Akabiral Auliyah&lt;br /&gt;41. Matbuliyyah&lt;br /&gt;42. Sunbuliyah&lt;br /&gt;43. Tijaniyah&lt;br /&gt;44. Samaniyyah&lt;br /&gt;Begitulah perihal Tarikat-tarikat Sufiyah dikalangan penghulu kita Ahlis Sunnah wal Jama’ah, begitulah amalan ulama-ulama di Pulau perca ini, nusantara umumnya.  Untuk dunia melayu, khusus di Minangkabau setidaknya ada tiga kearifan Tasawwuf yang berkembang pesat, yaitu Syathariyah, Naqsyabandiyah dan Samaniyah. Lebih khusus lagi di ranah Luak nan Bungsu ini, yang paling berkembang pesat ialah Tarikat Naqsyabandiyah al-Khalidiyah. Adanya penambahan                  nisbah “al-Khalidiyah” mengiringi “Naqsyabandiyah” merupakan nama yang melekat setelah masa silsilah ke-30 dari Rasulullah, yaitu dimasa Maulana Syekh Khalid Kurdi. Periodesasinya ialah:&lt;br /&gt;1. Dimasa Sayyidina Abu Bakar Shidiq ra. Hingga masa Syaikh Taifuriyah dinamai dengan Shidiqiyah&lt;br /&gt;2. Dari masa Syekh Taifuriyah hingga masa Khawajah Syekh Abdul Khaliq Fajduani dinamai dengan Taifuriyyah&lt;br /&gt;3. Periode Syekh Abdul Khaliq hingga Syekh Bahauddin al-Bukhari dinamai dengan Khawajakaniyah&lt;br /&gt;4. Masa Syekh Bahauddin al-Bukhari hingga Syekh Ubaidullah Ahrar dinamai dengan Naqsyabandiyah&lt;br /&gt;5. Masa Syekh Ubaidullah hingga Imam Robbani dinamai dengan Ahrariyyah&lt;br /&gt;6. Darimasa Imam Robbani hingga Maulana Syekh Khalid dinamai dengan Mujaddidiyah&lt;br /&gt;7. Dimasa Maulana Syekh Khalid hingga saat sekarang ini dinamai dengan al-Khalidiyah  &lt;br /&gt; Sejak masa Maulana Syekh Khalid inilah dinamai dengan al-Khalidiyah, lengkapnya dibaca “Tarikat Naqsyabandiyah al-Ahrariyah al-Mujaddidiyah al-Khalidiyah”, lebih lazim disebut dengan “Tarikat Naqsyabandiyah al-Khalidiyah”. Dan inilah yang berkembang pesat di Bumi nan Permai ini, Minangkabau.&lt;br /&gt;Itulah sekilas yang saya sebutkan mengenai “Tarikat” ulama-ulama kita tersebut, lebih dalam secara tafshili niscaya tiada mampu saya menguraikan. &lt;br /&gt;Adalah suatu kerinduan bila kesejukan tetap ada di Luak Limopuluah ini, ranah yang sering saya rindui di perantauan, yang masih belum terkuak keajaiban-keajaiban yang ada di negeri kita ini. harapannya orang-orang yang telah terlanjur buruk sangka kepada Tarikat dapat arif bertindak, menimbang dengan ilmu dan bertanya pada ahli-nya. Sebab kadang kala orang buta sering mengatakan matahari itu tak ada. Apatah lagi sekarang, ulama-ulama tempat bertanya telah banyak berpulang kerahmatullah, surau-surau sudah hampir lapuk dan roboh, orang-orang tak ber-himmah lagi belajar agama dengan semantap-mantapnya. Sedang orang ramai hanya seperti orang nan diasak jalannyo, kaji lah diubah pakiah singgah, cupaklah acok dipapek rang manggaleh. Pantas saja mutiara telah dianggap batu biasa, kerisik sudah dianggap sebagai sutera. Dan jika itu terjadi, maka Luak nan Bungsu, dalamnyo akan tajangkau, dangkanyo ka tasubarangi, dan Buayo Gadang itu takkan lagi maunikan kampuang kito. &lt;br /&gt;Jikalaupun ditangan kita ada kitab-kitab yang disurukkan itu, seumpama risalah-risalah yang “DALAM” karya Syekh Mudo Abdul Qadim (w. 1957) yang masyhur terbilang namanya dengan “Baliau Balubuih” itu, atau dapat membeli kitab al-Bahjatus Saniyyah fi Adabit Tariqatil Aliyah an-Naqsyabandiyah, atau Majmu’atur Rasa’il fi Ushulin Naqsyabandiyyah al-Mujaddi al-Khalidiyah karya Syekh Sulaiman Zuhdi yang sangat langka itu, ataupun mampu memperoleh kitab-kitab Tarikat yang sengaja disembunyikan itu, niscaya kita takkan faham maksudnya, sehingga akan kita ungkap saja “kitab apa pula ini???”, jikalau tanpa seorang guru yang alim allamah, yang terbilang silsilahnya dalam Tarikat Naqsyabandiyah. Sebab kato mereka basingkek-singkek, rundingan bamisa baumpamo, dibaliak tasurek ado nan Tasirek… mencakup Balaghah, lengkap bayan ma’ani badi’ dalam setiap ungkapannya. &lt;br /&gt;Begitupula perihal rabithah yang terpakai pada sisi Tarikat Naqsyabandiyah, tiadakan memperoleh faham kalau hanya membaca buku saja, apatah lagi membaca buku yang bukan dikarang oleh si-ahli-nya. Dia mesti berhadap-hadapan dengan ulama-ulama yang “dalam” fahamnya mengenai hal tersebut. Perlu diketahui, beliau-beliau itu masih ada, namun beliau-beliau tinggal di dusun-dusun terpencil, jauh dari hiruk pikuk kota nan memusingkan. Beliau-beliau hidup selaku petani, orang biasa tiadakan tau kalau mereka adalam alim-nya. Untuk perkara rabithah yang musykil ini, maka hendaklah bertanya kepada ulama-ulama mumpuni. &lt;br /&gt;Minggu, 27 Februari 2011, merupakan satu angin kesejukan bagi saya pribadi. Tepatnya di negeri yang sejuk, Koto Tangah – Kec. Bukik Barisan diadakan wirid bulanan oleh “Wirid Silaturahmi Sumatera Barat”. Dihadiri oleh tamu istimewa, Tuanku Raja Besar dari Negeri Sembilan – Malaysia, diiringin Wakil Bupati, dan diikuti oleh ribuan jama’ah yang bukan hanya datang dari Limapuluh kota, namun juga dari Agam, dimana kebanyakan beliau yang hadir ialah para Syekh dan Khalifah dari Tarikah Ahli Sufi yang ada di Minangkabau, apakah Naqsyabandiyah atau Sammaniyyah. Tuanku Raja Besar naik ke panggung, beliau membacakan sekilah hubungan kerabat antara Negeri Sembilan dengan Luak Limopuluah, disebutkan nama seorang ulama yang menjadi moyangnya yaitu Syekh Abdurrahman, teman dari Syekh Burhanuddin Ulakan. Rupanya beliau keturunan Sufi-sufi besar Minangkabau, ungkapku. Kemudian disambung pembicara Wakil Bupati, ketika sampai membicarakan faham Tarikat yang gencar-gencarnya dibicarakan itu, saya lihat para Tuanku dan Syekh tersimpul manis, entah apa gerangan yang mereka senyumkan. Kemudian tampil Buya Mangkuto Malin dari Sungai Beringin, mengupas Naqsyabandiyah dengan “dalam” dan berbekas, hingga hampir air mataku menganak sungai, haru. Saya hanya penonton luar lapangan, menyaksikan alim-alim itu duduk tenang berselimut khirqah. Andai saya adalah satu antara mereka, niscaya saya akan jahit mulut-mulut yang mengingkari “Tarikat” ini dengan kalam yang tajam. Namun saya memang terburu nafsu, mereka, para Tuanku Syaikh itu bukanlah termasuk orang yang suka memuncak bila kemafsadatan terhadap kaji lama itu marak, mereka masih senyum dan sabar dengan suasana yang ada. Ku ingat dalam Ijazah tertulis: “Jikalaulah Mereka atas Nama Tarikat, niscaya akan Kami tuangi dengan air Mata Ma’rifat”. &lt;br /&gt;Demikianlah halnya yang dapat saya ungkap dalam surat yang sederhana ini, kehadapan ulama-ulama supaya Arif dan Bijaksana. Janganlah nila setetes membuat rusak susu sebelanga, angkatkan segera nila itu, bersihkan putihnya susu yang ada, hingga dapat diminum mensihatkan jasad dan ruh. &lt;br /&gt;Terakhir, teringat ungkapan guru kito Maulana Syekh Mudo Abdul Qadim “Beliau Belubus” yang masyhur itu, beliau berpitua pada akhir Risalah Tsabitul Qulub-nya:&lt;br /&gt; “Pegang Syari’at Tubuh nan kasar,&lt;br /&gt;pegang tharikat tubuh nan halus, &lt;br /&gt;pegang Hakikat tubuh nan Bathin,&lt;br /&gt; pegang Ma’rifat Tuhan nan punya pegang. &lt;br /&gt;Dicari pengenalan di dalam zikir, dipakai di dalam sembahyang,&lt;br /&gt; disudahi tatakalo nyawa berpulang kerahmatullah…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;selesai ditulis 23.25, malam senin petang Rabu, 28 Februari 2011&lt;br /&gt;ditulis dengan wajah yang khalis, memakai tinta nan sempurna hitamnya, diatas kertas yang seputih-putihnya.&lt;br /&gt;Ditangan Fakir yang karam dalam lautan dosa&lt;br /&gt;Diam bermain di Surau Batu Berair, Mungo&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4620918976357743641-2953185354139273286?l=surautuo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surautuo.blogspot.com/feeds/2953185354139273286/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surautuo.blogspot.com/2011/03/sebuah-catatan-bagi-mereka-yang.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4620918976357743641/posts/default/2953185354139273286'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4620918976357743641/posts/default/2953185354139273286'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surautuo.blogspot.com/2011/03/sebuah-catatan-bagi-mereka-yang.html' title='Sebuah Catatan bagi mereka yang mengingkari penghulu-penghulu Naqsyabandiyah: Satu Kesaksian Sejarah, Kehalusan Pesan dan Cerminan “Raso” dari Luak Limopuluah'/><author><name>Apria Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08209012488814467728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4620918976357743641.post-5779808821076327288</id><published>2011-03-18T09:24:00.000-07:00</published><updated>2011-03-18T09:24:52.642-07:00</updated><title type='text'>Profil Skriptorium Manuskrip Mesjid Syekh Muhammad Sa’id Bonjol</title><content type='html'>Oleh: Apria Putra&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sebuah Catatan Perjalanan, Desember 2009&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Syekh Muhammad Sa’id Bonjol : Pribadi dan Ketokohannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di salah satu Pusat perjuangan Paderi (1803-1838), Bonjol, pernah pula menjadi pusat kajian Islam Tradisional Minangkabau yang masyhur namanya sampai akhir abad ke-20. Nama besar perguruan Islam Tradisional itu tak lain karena dedikasi dan ketenaran seorang ulama besar yang kharismatik di daerah ini. Ulama itu ialah Syekh Muhammad Sa’id Bonjol, terkenal pulalah beliau ini dengan panggilan “Imam Bonjol ke-II”.&lt;br /&gt;Masih tertulis dengan rapi nama Syekh Muhammad Sa’id Bonjol ini dalam buku-buku sejarah tua tentang Islam di Minangkabau, karena beliaulah penganjurnya yang gigih dan konsisten dengan akidah dan amalan yang dianut. Nama beliau paling banyak disebut apabila dihubungkan dengan jami’ah (organisasi) ulama-ulama Tua Minangkabau, PERTI, sebagai salah seorang sesepuh yang dihormati, teman seperjuangan Inyiak Syekh Sulaiman ar-Rasuli Candung. Organisasi Kaum Tua ini terkenallah sebagai wadah persatuan Ulama-ulama besar yang setia terhadap Mazhab Syafi’i dalam Fiqih, Ahlussunnah wal Jama’ah dalam berakidah dan memakai salah satu Tarekat Mu’tabarah sebagai bentuk pengamalan terhadap Tasawwuf sunni. Maka Syekh Sa’id merupakan salah satu tokoh yang tidak bisa dikesampingkan dalam perkumpulan ini.&lt;br /&gt;Syekh Muhammad Sa’id dilahirkan pada tahun 1881. tidak tercatat lagi masa kecil beliau. Namun dapat diduga bahwa beliau di masa-masa umur puluhan tahun mengaji ala surau Minangkabau di daerah kelahirannya, Bonjol. Dasar-dasar keilmuan  surau inilah yang memotivasinya untuk belajar ke tanah suci Mekkah dikemudian harinya, sebagai halnya ulama-ulama besar yang sebaya dengan beliau, sampai masyhurnya beliau sebagai Ulama besar.&lt;br /&gt;Selain ilmu-ilmu Syariat yang dipelajari beliau secara bertalaqqi sejak dari Surau sampai ke Mekah al-Mukarramah, beliaupun istimewa dalam ilmu Tarekat dan Hakikat, sehingga terkenallah Syekh Sa’id sebagai salah seorang mursyid dan syekh dari Tarekat Naqsyabandiyah al-Khalidiyah. Dari karena keistimewaan beliau dalam bidang Tasawwuf ini, Syekh Sa’id menjadi tokoh besar dalam mengurus bidang Tarekat Sufiyah dalam organisasi PERTI, setelah Syekh Abdul Wahid Beliau Tabek Gadang, Syekh Arifin Batu Hampar dan Syekh Muda Abdul Qadim Belubus Payakumbuh wafat. Tercatat bahwa beliau menjadi salah satu Ulama yang mengikuti Konferensi Tarekat Naqsyabandiyah di Bukittinggi pada tahun 1954, dalam membahas karangan-karangan Haji Djalaluddin (sebagai tersebut dalam Tablighul Amanah).&lt;br /&gt;Syekh Sa’id mengambil Tarekat Naqsyabandiyah dari yang Mulia Syekh Ibrahim Kumpulan (1764-1914), yang masyhur namanya dengan “Angguik Balinduang Kumpulan”. Keberhasilan beliau dalam Tarekat Naqsyabandiyah menyebabkan beliau diangkat sebagai khalifah Syekh Ibrahim Kumpulan. Dikarenakan begitu taatnya beliau kepada Allah sehingga beliau mendapat Karunia Allah di dalam mengerjakan khalwat. Diceritakan dalam mengerjakan Suluk di Bulan Ramadhan beliau beroleh Karomah. Seketika mengambil wadhu’ di Malam Hari, Sorban beliau dilarikan Pohon kelapa yang rebah, sebab sebelumnya beliau meletakkan kain sorban beliau di pohon kelapa rebah itu sebelum berwudhu’.&lt;br /&gt;Kedalaman ilmu beliau dalam bidang Syari’at, ditambah dengan paham yang matang dalam Tarekat, membuat Syekh Sa’id terkenal sebagai Ulama yang disegani oleh kawan maupun lawan. Tidak berapa lama setelah menamatkan kaji, Syekh Sa’id tidak perlu menunggu lama untuk membangun sebuah tempat pendidikan Tradisional sebagai tempat untuk mengamalkan ilmu yang telah berpuluh tahun dituntutnya. Baru saja beliau kembali ke kampung halamannya, para pelajar telah berbondong-bondong menuju Bonjol untuk bertalaqqi dan berkhitmat kepada Syekh Sa’id Bonjol. Masih teringat dan terkenang oleh para murid beliau yang sekarang berada dalam usia tua, ratusan orang siak mengaji siang dan malam, melafazhkan kitab kuning, berbai’at dalam Tarekat Naqsyabandiyah, di tempat Syekh Said yang sekarang telah disulap menjadi Mesjid Syekh Sa’id Bonjol. &lt;br /&gt;Begitu halnya yang berlaku selama puluhan tahun, mengaji dan bersuluk menjadi aktivitas rutin di Surau Syekh Sa’id. Kemasyhuran Beliau, menjadi bau harum semerbak yang mengundang para penuntut ilmu dari daerah-daerah yang jauh, bukan hanya di kawasan Bonjol. Tercatat murid-murid beliau berasal dari Payakumbuh, Agam, Lubuk Sikaping bahkan dari Sumatera Utara. Keramaian pelajar itu bertahan sampai masa berpulang kerahmatullah Syekh Sa’id di tahun 1979 dalam usia 98 tahun. beliau kemudian dimakamkan di Mihrab Mesjid beliau, seperti ulama-ulama besar lain, makam beliau dihiasi dengan Kelambu putih, sebagai hormat dan setia kepada Imam Bonjol ke-II, Syekh Haji Muhammad Sa’id.&lt;br /&gt;Seperti yang terjadi dengan ulama-ulama besar lainnya, pepatah orang-orang tua berlaku pula pada pribadi Syekh Sa’id. Ibarat kelapa condong, batangnya di tanah kita, namun buahnya jauh ke tanah orang lain. Murid-murid Syekh Sa’id yang seharusnya menjadi pengganti beliau bukanlah orang-orang Bonjol maupun keturunannya, tapi banyak di luar Bonjol. Maka tinggallah Makam dan Mesjid Syekh Sa’id, bukan lagi diurus dan dilanjutkan oleh para murid. Masih kita syukuri tradisi dan ajaran yang beliau anut tetap dipegang erat-erat oleh masyarakat Bonjol umumnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Mesjid Syekh Muhammad Sa’id Bonjol : Kedudukan dan Pengaruhnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana yang masih asri, begitulah jika kita memasuki kawasan mesjid Syekh Muhammad Sa’id Bonjol. Gaya arsitek lama, tata ruang yang sangat klasik dan amalan-amalan masyarakat di Mesjid ini yang masih seperti dulu menambah kekhasan Mesjid yang di desain di awal abad 20 itu.&lt;br /&gt;Mesjid Syekh Sa’id di pagari oleh tembok setinggi 2 meter di keempat penjurunya, sehingga dari pekarangan mesjid kita tak bisa melihat jalanan aspal di depan komplek mesjid ini. Memasuki pekarangan, kita akan memasuki pintu yang cukup besar pada pagar tembok. Dengan halaman yang telah bersemen, Mesjid akan tampak tegar walaupun dengan usia yang lebih setengah abad. Mesjid tersebut memiliki satu Kubah besar, dan dua kubah kecil di kanan kirinya. Memasuki ruangan Mesjid kita akan menemui akan tangga yang berciri khas di depan pintu masuk. Tangga tersebut menghubungkan lantai dasar dengan loteng (minang : pagu), di loteng itu sendiri terdapat ruangan khusus, dan di atas itu lagi ada ruangan lagi. &lt;br /&gt;Ruangan tertata dengan gaya lama, selain tonggak-tonggak semen bercampur kayu, mimbarnya pun sangat antik, berjenjang dari depan sehingga kalau khatib naik mimbar akan melangkah dan berdiri di jenjang-jenjang bertikar beludru itu. Sebagai hijab  antara laki-laki dan perempuan terdapat kain berwarna biru, tertutup rapat, sehingga memang laki-laki tak bisa memasuki tempat shalat wanita di Mesjid tersebut. &lt;br /&gt;Di sekitar mesjidpun masih berdiri bangunan-bangunan tua, bekas kejayaan dimasa lalu. Tepat sebelah kanan mesjid terdapat kran-kran tempat berwudhu’ laki-laki. Besebelahan dengan tempat berwudhu’ itu terdapat sebuah bangunan kayu yang dibangun diatas kolam yang cukup luas. Persis di belakang Mihrab mesjid terdapat ruangan makam Syekh Muhammad Sa’id dengan kelambu putih. Dibelakang makam tersebut, terdapat lagi sebuah ruangan khusus, dengan satu bilik sebagai tempat peninggalan benda-benda syekh, seperti jubah, sorban dan kitab-kitab. Di sebelah kiri mesjid terdapat lagi 2 buah bangunan yang terbuat dari kayu. Menurut keterangan yang ada bahwa ruangan-ruangan itu merupakan tempat para santri dahulunya menuntut ilmu.&lt;br /&gt;Bila masuk waktu shalat jum’at, maka suasananya pun akan sangat terasa lain, sebab memang tak biasa sebagaimana yang dialami oleh orang-orang modern saat ini. Di Mesjid inilah kita menyaksikan amalan tradisional yang masih kental, belum pudar di hanyutkan modernisasi dan Tajdid. Sebab Minangkabau sedari dulunya kuat menganut mazhab syafi’i, maka pengamalan jum’atnya sarat dengan amalan pekah Syafi’iyyah. Sebelum jum’at, beduk di pukul 2 kali berselang sekitar setengah jam. kemudian azan dilakukan dua kali . &lt;br /&gt;Suatu yang unik dari pelaksanaan azan di Mesjid Syekh Sa’id ini, azan pertamanya bersahut-sahutan antara satu muazzin dengan muazzin yang satunya, yang satu berdiri di Mihrab mesjid, sedang satunya lagi berdiri ditangga menuju ruangan atas. Apabila muazzin pertama yang berada di Mihrab azan dengan kalimat Allahu Akbar, maka disahut oleh muazzin kedua dengan kalimat yang sama setelah bacaan muazzin pertama selesai. Begitu seterusnya, sampai pada kalimat la ilaha illallahu baru dibaca bersama-sama oleh kedua muazzin tersebut. Kesyahduan irama yang dihasilkan menambah khitmat pelaksanaan jum’at, ditambah dengan suasana yang hening ala orang-orang tradisional, yang mungkin jarang kita kemui sekarang. &lt;br /&gt;Setelah azan dilantunkan, kemudian para jama’ah yang telah memenuhi mesjid berdiri untuk melaksanakan shalat sunat Qabliyah jum’at. Setelah itu baru khatib naik mimbar dengan setelan sorban, syal di pundak dan bersarung, tak lupa dengan tongkat ditangan kanan. Sesudah salam dilaksanakan azan yang kedua, namun tidak seperti azan pertama, azan ini dilakukan oleh muazzin seorang tanpa bersahut-sahutan. &lt;br /&gt;Khatib berdiri setelah kumandang azan, dan mulai membaca khotbah dengan bahasa Arab. Ada suatu yang aneh, walaupun dengan khutbah bahasa Arab namun khitmatnya beribadah lebih terasa dibanding dengan khutbah yang diucapkan dengan bahasa Indonesia, dengan uraian yang panjang. Dalam sejarah kita baca, bahwa pelaksanaan khutbah di Minangkabau dulunya memang dilakukan bahasa Arab, dapat dinyatakan sejak masuknya Islam itu sendiri. Baru di awal abad ke-20 dimulai khutbah dalam bahasa Indonesia oleh ulama-ulama yang kebanyakannya berfaham muda. Diantara ulama yang memulai perubahan bahasa khutbah itu ialah Syekh Muhammad Thayyib Umar Sungayang Tanah Datar (wafat 1920) dan Syekh Muhammad Djamil Djambek Bukittinggi (wafat 1947). Selanjutnya melihat keadaan masyarakat yang dari masa kemasa mulai kurang memahami bahasa Arab, perubahan khutbah inipun dilakukan pula oleh kaum Tua, dengan konsekwensi rukun khutbah mesti berbahasa Arab. Walaupun perubahan itu telah hampir seabad lalu di mulai, namun masih ada diantara ulama-ulama yang mempertahankan tradisi khutbah dengan bahasa Arab sebagai sediakalanya, tentu dengan dalil dan hujjah yang kuat pula. Maka Mesjid Syekh Sa’id ini termasuk kelompok yang masih memakai paham lama, ketika belum ada yang namanya modernisasi.&lt;br /&gt;Pelaksanaan khutbah sendiri di Mesjid Syekh Sa’id dalam waktu yang relatif pendek, kira-kira kurang dari 10 menit. Sewaktu khatib duduk di antara dua khutbah, bilal membaca dengan jahar beberapa ayat al-Qur’an dan Shalawat. Setelah itu, shalat dilakukan dengan imam tersendiri, bukan khatib. Pelaksaan shalatpun sangat kental dengan fiqih syafi’iyyah sebagai halnya dilakukan di- derah-daerah lainnya, menjaharkan bacaan basmallah dan membaca surat juga diawali basmallah. Selesai shalat berdo’a bersama sebagaimana yang lazimnya. Setelah itu, khusus bagi jama’ah tharekat Naqsyabandi tetap di dalam Mesjid ketika masyarakat lain pulang. Kemudian pintu ditutup, untuk melaksanakan Tawajjuh, sebuah amalan zikir dalam tharekat Naqsyabandiyah. &lt;br /&gt;Suatu yang unik lainnya ditemui, diwaktu pelaksanaan jum’at juga diikuti oleh kaum hawa untuk mendengarkan khutbah. Memang tak lazim bagi orang-orang sekarang, namun indikasi yang menunjukkan bahwa amalan seperti ini pernah banyak dilakukan di Minangkabau khususnya. Dan lagi jika ditelisik dari fiqih, sunnat pula hukumnya perempuan mengikuti jum’at. Begitu seharusnya, namun tak banyak masyarakat masa kini yang mengetahui.&lt;br /&gt;Begitulah eksistensi Mesjid Syekh Sa’id dalam menjaga tradisi dan amalan yang telah dibangun pondasinya oleh ulama Besar Syekh H. Muhammad Sa’id Bonjol. Dengan demikian, besar pula pengaruh eksisnya Mesjid bagi masyarakat sekitarnya dalam menumbuhkan sikap konsekwen dalam beamal ibadah, sebagaimana dibawa oleh ulama-ulama besar pendahulu kita, jauh dari pendangkalan keilmuan dan amalan yang dibawa oleh kaum modern.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4620918976357743641-5779808821076327288?l=surautuo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surautuo.blogspot.com/feeds/5779808821076327288/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surautuo.blogspot.com/2011/03/profil-skriptorium-manuskrip-mesjid.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4620918976357743641/posts/default/5779808821076327288'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4620918976357743641/posts/default/5779808821076327288'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surautuo.blogspot.com/2011/03/profil-skriptorium-manuskrip-mesjid.html' title='Profil Skriptorium Manuskrip Mesjid Syekh Muhammad Sa’id Bonjol'/><author><name>Apria Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08209012488814467728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4620918976357743641.post-8455884121399030931</id><published>2011-03-18T09:22:00.000-07:00</published><updated>2011-03-18T09:42:21.099-07:00</updated><title type='text'>SURAU BINTUNGAN TINGGI DAN NASKAH KUNO ISLAM</title><content type='html'>Oleh : Apria Putra&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;/i&gt;Berdasarkan penelusuran penulis ke Surau Bintungan Tinggi- Pariaman, Minggu/ 21 desember 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-qPm4g5LaN10/TYOLUvhoEgI/AAAAAAAAADI/sM_dkWQUtmM/s1600/Naskah%2BTABEK%2BPANJANG.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="214" width="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-qPm4g5LaN10/TYOLUvhoEgI/AAAAAAAAADI/sM_dkWQUtmM/s320/Naskah%2BTABEK%2BPANJANG.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;1. SURAU BINTUNGAN TINGGI : DULU DAN KINI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat jejak histories Islam di Pariaman memang membuat kita takjub akan keberadaan lembaga surau di sana. Rasa kental beragama, taat beribadah dan kaya dengan khazanah tradisi Islam menjadi pemandangan indah, indah karena hidup dalam batasan moril, religiusitas serta budaya yang beraneka ragam. &lt;br /&gt;Surau, itulah tempat awal dan akar perkembangan Islam di sini, yang nantinya membias seantero jagat alam Minangkabau dengan jaringan ulama yang luas. Eksistensi surau menjadikan tolak ukur kemajuan islam di suatu daerah kala itu. Sehingga tidak berlebihan bila kehidupan keislaman orang Minang tak terlepas dari surau, sebuah bangunan yang kebanyakan dibuat dengan susunan-susunan papan tetapi dari dalamnya lahir intan berlian, pemenuhi jagat cakrawala intelektual Islam masa sekarang.&lt;br /&gt;Kehidupan di surau bukanlah sesederhana yang kita bayangkan, lebih komplek malahan dari rumus-rumus trigonometri. Mengapa begitu, karena kehidupan surau bukan hanya terjalin secara tampak, sama halnya kajian eksakta, tapi lebih dari itu jalinan kehidupan surau dibuhul dengan tali spitual, rohani, hal-hal yang abstrak istilah ilmiahnya.&lt;br /&gt;Kehidupan surau sendiri dapat kita lihat dengan adanya guru yang mengajar dalam hal ini dipegang oleh seorang Syekh atau Tuanku. Guru inilah yang menjadi titik nadi kehidupan surau, karena dari beliaulah para murid-murid berdatangan menimba ilmu-ilmu keislaman yang luas dan komprehensif. Hal selanjutnya yang kita lihat yaitu adanya kajian-kajian Islam yang komplit, mulai dari dasar-dasar agama, lingua yang menjadi alat, sampai kepada kajian-kajian tingkat tinggi yang hanya disampaikan kepada orang-orang yang mempunyai pemahaman yang dalam.&lt;br /&gt;Hal selanjutnya yang dapat kita lihat dari kehidupan surau yaitu adanya murid-murid, di Minangkabau dikenal dengan istilah orang siak.  Murid-murid inilah yang berkumpul siang, pagi dan petang, membaca kaji, mensurah kitab sampai kepada menghafal pelajaran menjadi pemandangan harian yang mewarnai eksis-nya sebuah surau. Dalam kasus surau-surau yang berpengaruh, murid-murid ini pada hari-hari tertentu menyebar ditengah-tengah masyarakat, meminta sedikit sumbangan untuk bekal mengaji ketika kiriman dari kampung belum datang. Masyarakatpun merasa senang memberi pangan untuk para penuntut ilmu ini, sebab mereka merasa sangat lekat dengan ilmu. Memuliakan orang yang menuntut ilmu, sama dengan memuliakan ilmu, pahala yang bukan kepalang kita dapatkan, begitulah kesadaran masyarakat kala itu, sangat bertolak belakang dari realitas masa sekarang. Murid-murid yang meminta tunjangan bekal belajar ini dikenal dengan istilah mamakiah ( berasal dari kata fakiah ). &lt;br /&gt;Fungsi surau bukan hanya untuk mengaji seperti diatas, malah lebih komplek seperti yang dibayangkan. Disamping menjadi pusat kajian Islam, surau juga berfungsi sebagai tempat bermusyawarah, tempat tinggal anak laki-laki, berajar adat, pusat latihan beladiri masa lalu, pokoknya pusat aktifitas sosial agama di desa-desa Minangkabau. Sehingga mengkaji surau, berarti kita mengkaji seluruh elemen yang ada ditengah-tengah masyarakat. Apakah itu adat, budaya, tradisi dan istimewa dalam agama.&lt;br /&gt;Dalam gambaran adat Minangkabau pra-Islam telah terjalin hubungan yang erat antara lembaga keagamaan ( surau )  sebagai pusat ibadat dengan kerajaan sebagai pusat kekuasaan. Jalinan inilah nantinya dipertegas setelah Islam masuk ke Minangkabau dan dianut oleh masyarakat. Hal ini diisyaratkan oleh pepatah syara’ mangato, adat mamakai (agama yang memberi fatwa dan agama yang melaksanakan), sehingga agama dan adat menjadi identitas orang Minang. Akan sangat aib bila orang minang dikatakan sebagai orang yang tidak beradat, atau tidak beragama. &lt;br /&gt;Penyebaran Islam ke Minangkabau berawal dari tumbuhya tradisi surau sebagai tonggak tua pengenalan Islam di daerah ini, namun masih banyak ilmuan yang menguaknya secara jelas. hal ini disebabkan oleh belum banyaknya intelektual Islam yang menggeluti asal usul masuknya Islam ke Minangkabau, kecuali beberapa orang saja. Dalam hal ini Syekh Burhanuddin Ulakan yang sebelumnya telah menjalin hubungan dengan Syekh Abdurra’uf Singkel di Aceh. Beliau adalah satu-satunya ulama yang telah mengembangkan Islam sebelum masa kolonial Belanda. &lt;br /&gt;Di Minangkabau nama Syekh Burhanuddin tidak asing lagi bagi masyarakatnya, ia dikenal terutama dikalangan generasi tua sebagai tokoh pertama penyebar Islam di Negeri ini. Namanya harum dan ajarannya mewarnai pola pikir dan cara kehidupan masyarakat. Kenyataan ini sangat mungkin diyakini dan sulit dipungkiri, karena masing-masing suku dari berbagai daerah di Minangkabau mempunyai surau. Suatu aib kalau suatu suku dalam satu kampung tidak mempunyai surau. Di surau-surau ini para murid menimba ilmu dari guru-gurunya, sekaligus sebagai tempat transmisi ajaran Islam ke berbagai daerah.  Salah satu surau berpengaruh yang merupakan lahir dari eksistensi surau Ulakan yaitu surau Bintungan Tinggi. &lt;br /&gt;Keberadaan surau Bintunagn Tinggi tidak terlepas dari keberadaan seorang ulama kharismatik dan berpengaruh di Ulakan dan Bintungan Tinggi, dialah Syekh Abdurrahman Bintungan Tinggi. Beliau adalah hasil didikan ulakan yang cemerlang pada zamannya, yang paling berperang diantara khalifah-khalifah  Ulakan lainnya dalam melanjutkan usaha dan ajaran Syekh Burhanuddin Ulakan. &lt;br /&gt;Sebelum kita mengenal eksistensi surau Bintungan Tinggi dalam mengembangkan agama Islam kala itu. Kita mesti terlebih dahulu mengetahui serta mengnal tokoh sentral surau Bintungan Tinggi yaitu Syekh Abdurrahman.&lt;br /&gt;Syekh Abdurrahman lahir pada tahun 1827 H / 1243 masehi, dari pasangan Syekh Ibnu Muttaqin dengan Pik mande yang bersuku sikumbang. Ayah beliau sendiripun seorang ulama disegani pada zamannya dan juga merupakan anak langsung dari Syekh Abdurrahman Ulakan, Khalifah Syekh Burhanuddin di Tanjung Medan Ulakan. &lt;br /&gt;Perjalanan intelektual Syekh Bintungan Tinggi sendiri dimulai ketika belajar kepada ayahnya sendiri, Syekh Ibnu Muttaqin atau yang lebih dikenal dengan panggilan Syekh Tabat Yada. Tak kurang dari sepuluh tahun beliau diasuh oleh ayahnya sendiri mempelajari seluk beluk keislaman secara utuh. Yaitu mulai pada tahun 1248 H – 1258 H. bersama ayahnya Syekh Bintungan Tinggi mulai mengenal keilmuan Islam. Beliau telah mempelajari Fiqih, Tafsir Jalaein, Nahwu Sharaf, Ushul Fiqih, Hadist dan Musthalah-nya disamping mempelajari seluk beluk kajian al Qur’an. &lt;br /&gt;Tepatnya, ketika Syekh Abdurrahman berumur 15 tahun, beliau diantar oleh ayahnya untuk mengaji ke Ulakan, tepatnya di surau Syekh Burhanuddin Ulakan. Seketika itu yang menimpin lembaga pendidikan Ulakan ialah Syekh Ja’far Thahir, sedangkan dalam urusan Tarekat masih dipegang oleh Syekh Sultan Qusa’I Habibullah, khalifah Syekh Burhanuddin yang ke-10. &lt;br /&gt;Syekh Abdurrahman belajar di Ulakan selama 17 tahun, yaitu mulai tahun 1258 sampai 1275. didalam masa belajar di Ulakan inilah Syekh Abdurrahman pernah mendalami ilmu di Mekah al Mukarramah (1272-1274), yaitu selama 2 tahun. &lt;br /&gt;Setelah keilmuannya telah terasa matang oleh pandangan batin gurunya, maka pada tahun 1275, beliau telah diberi ijazah  oleh gurunya Syekh Sultan Qusa’I Habibullah, sebagai guru hakiki-nya disamping Syekh Ja’far Thahir sebagai gurunya di surau Ulakan. Pewisudahan Syekh Abdurrahman terjadi pada acara khatam maulid Nabi Muhammad SAW, setelah gurunya melihat Syekh Abdurrahman fana dalam maqamnya, tepatnya 12/13 Rabi’ul Awwal 1275 H, ketika itu beliau langsung diberi gelar Syekh Tuanku Mudo Abdurrahman. &lt;br /&gt;Setelah beliau menamatkan pendidikannya di Ulakan, beliaupun menjalankan amanah gurunya Syekh Sultan Qusa’I untuk mengabdi di Ulakan, mengajar dan mendampingi Syekh Ja’far Thahir. Syekh Abdurrahman mengajar di Ulakan selama 7 tahun, sejak 1275 sampai 1282 H. setelah gurunya Syekh Sultan Qusa’I meninggal, beliaupun mengundurkan diri dari Ulakan dan mendirikan lembaga sendiri, di tanah milik istrinya Hj. Siti Malai, lembaga pendidikan itu dikenal dengan nama Surau Bintungan Tinggi.&lt;br /&gt;Surau itu didirikan pertama kali pada tahun 1283 H/1864 H, sejak itulah surau Bintungan Tinggi menjadi lembaga pendidikan terkemuka di Pariaman, sama halnya dengan surau Syekh Burhanuddin Ulakan. Sehingga dalam sekejap saja, murid-murid berdatangan silih berganti untuk menimba ilmu pengetahuan di Bintungan Tinggi. Tercatat tak kurang dari seribu murid yang menghadiri pengajian mengelilingi guru besar, Syekh Abdurrahman Bintungan Tinggi. Murid-murid tersebut datang dari berbagai pelosok negeri, seperti Bengkulu, Sumatera Utara dan Riau. Mereka tinggal tak kurang dari 17 surau-surau kecil yang berada disekitar surau utama, surau Bintungan Tinggi.&lt;br /&gt;Pada periode selanjutnya, surau Bintungan Tinggi mengalami pemugaran masih semasa Syekh Abdurrahman. Pemugaran itu terjadi pada tahun 1908 M. pemugaran itu sendiri atas dorongan dari keluarga besar Syekh Abdurrahman, dorongan itu berbentuk moril dan materil.&lt;br /&gt;Hasil dari pembangunan ulang surau Bintungan Tinggi itu sendiri lebih besar dari surau sebelumnya, yaitu menjadi 11,5x11,5 m dengan bahan kayu yang didatangkan langsung dari Sungai Sarik dan 2x11 Enam Lingkung Padang Pariaman. Dan pembangunannya sendiri dijalankan oleh arsitek pribadi Syekh Bintungan Tinggi yaitu Tuanku Katib Koto Baru.&lt;br /&gt;Setelah bebrapa tahun mengajar murid-murid yang sangat banyak, maka pada tahun 1923 beliau menutup usia dengan meninggalkan warisan yang sangat berharga bagi generasi berikutnya. Beliau kemudian di makamkan di sebuah gobah yang telah dibangun pada masa Syekh Abdurrahman masih hidup. Kubah tersebut terletak  di depan surau Syekh Bintungan Tinggi sendiri.&lt;br /&gt;Setelah Syekh Bintungan Tinggi wafat, maka kepeminpinan surau Bintungan Tinggi diteruskan oleh khalifah-khalifahnya yang telah berjumlah 5 generasi sampai saat ini, nama-namanya yaitu :&lt;br /&gt;1. H. Abdullah Tuanku Mudo,&lt;br /&gt;2. H. Zubaidi Tuanku Mudo,&lt;br /&gt;3. M. Nasir Tuanku Bandaro,&lt;br /&gt;4. Muhammad Ma’az Tuanku Lunak ( wafat 1972 )&lt;br /&gt;5. Tuanku Mudo Asdil Ma’az (sekarang). &lt;br /&gt;Sedangkan barang-barang berharga milik Syekh Bintungan Tinggi termasuk naskah-naskahnya disimpan oleh Bapak Asril Ma’az, BA.&lt;br /&gt;Diantara peninggalan Syekh Bintungan Tinggi yang sangat berharga itu ialah Naskah-naskah keagamaan, yang menurut perhitungannya berjumlah sebanyak 36 buah.  Naskah-naskah inilah yang banyak dilirik oleh para peneliti, untuk dibaca dan dipublikasikan, sebagai usaha melestarikan naskah-naskah tersebut.&lt;br /&gt;Walaupun sakarang zaman telah berubah seiring berputarnya waktu, nilai-nilai masyarakat yang telah bergeser, peradaban yang kian terkikis, namun surau Bintungan Tinggi masih tegak seperti sediakala, walau disana sini dipugar, surau Bintungan Tinggi masih menjadi pusat keagamaan ditengah masyarakat Bintungan Tinggi. Walaupun sekarang tak ada lagi yang mengaji kitab seperti dulu, namun Tarekat masih dipegang erat, naskah-naskah sebagai warisan masih dipelihara dengan baik, sebagai alternatif terakhir kontraksi dari zaman yang memprihatinkan.&lt;br /&gt;Begitulah adanya sekarang, memang membuat hati pilu. Namun kita masih menang, sebab kita punya naskah, yang bisa dibuka kapan saja kita buka, yang dapat kita kaji, walau tak seperti dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. NASKAH-NASKAH KUNO SURAU BINTUNGAN TINGGI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai warisan yang amat berharga, masyarakat telah mulai menyadari akan usaha pelestarian naskah. Memang ironis, bila seorang pewaris naskah-naskah kuno membiarkan warisan tersebut sebagai barang terbuang. Bahkan ada yang menumpuk-menumpuknya disudut rumah, membiarkan berkabut dan habis dimakan usia.&lt;br /&gt;Naskah-naskah yang berisi teks-teks ilmu pengetahuan tersebut berisi dengan ilmu pengetahuan yang berbagai macam, sangat beruntung sekali orang-orang yang dapat memanfaatkannya, menjadikannya referensi untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;Adapun yang dimaksud dengan teks adalah kandungan atau isi naskah. Teks sendiri terdiri dari isi dan bentuk. Teks mengandung ide-ide atau amanat yang ingin disampaikan oleh pengarang kepada pembaca. Sedangkan bentuknya berisi muatan cerita atau pelajaran yang hendak dibaca dan dipelajari menurut berbagai pendekatan melalui alur, perwatakan, gaya dan lain sebagainya. &lt;br /&gt;Dengan demikian didalam naskah-naskah yang umurnya sudah ratusan tahun tersebut tersimpan perbendaharaan, sebagai budaya orang-orang dahulu. Ilmu-ilmu yang dibukukan itu sangat relevan dengan kehidupan kita sekarang bila dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;Begitu halnya dengan naskah-naskah kuno yang terdapat di Surau Bintungan Tinggi. Disamping sebagai warisan, ajaran-ajaran naskah tersebut masih dijaga dengan baik dalam realitas kehidupan masyarakat Bintungan Tinggi.  Walau sekarang amat jarang kita temui orang-orang yang membukanya, kecuali sedikit tuanku-tuanku yang telah kurang populasinya saat sekarang ini.&lt;br /&gt;Sebagaimana yang telah disebutkan terdahulu, bahwa ada terdapat sekitar 36 naskah yang telah teridentifikasi oleh penelitian-penelitian mutakhir.  Naskah-naskah tersebut berisi antara lain :&lt;br /&gt;1. Al Qur’an dengan seluk beluk tafsirnya&lt;br /&gt;2. Fiqih&lt;br /&gt;3. Ilmu Nahwu Sharaf&lt;br /&gt;4. Sejarah&lt;br /&gt;5. Mazhab Syafi’i&lt;br /&gt;6. Sejarah Rasulullah dan kisah-kisah&lt;br /&gt;7. Tasawwuf&lt;br /&gt;Ilmu Tasawwuf adalah teks terpenting yang menjadi perbendaharaan Bintungan Tinggi. Naskah-naskah tersebut umunya ditulis dengan bahasa Arab, disamping bahasa Melayu. &lt;br /&gt;Kecemasan memang menyelimuti hati orang-orang yang cinta ilmu, sebab dengan adanya ancaman dari orang-orang yang tak bertanggung jawab dengan memperjual belikan naskah. Walaupun naskah-naskah surau Bintungan Tinggi dipelihara dengan baik oleh Bapak Asril Ma’az sebagai pewarisnya, namun jika nantinya tak ada lagi pewarisnya.  Maka naskah tersebut akan terancam keberadaannya, di surau Bintungan Tinggi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. DESKRIPSI NASKAH ILMU TASAWWUF&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun naskah yang berhasil penulis peroleh gambarannya pada observasi filologi di Surau Bintungan Tinggi adalah Naskah ilmu Tasawwuf. Naskah tersebut tergolong naskah yang ditulis rapi dan jelas bagi orang yang membacanya. Secara umum deskripsinya dapat dilihat sebagai sebagai berikut.&lt;br /&gt;Naskah tersebut oleh peneliti sebelumnya telah disampul dan diberi judul Naskah Ilmu Tasawwuf dengan kode naskah 16. naskah tersebut berukuran 23,5 x 16,5 cm dengan blog teks 17 x 9 cm.&lt;br /&gt;Naskah tersebut terdiri dari 270 halaman. Setiap halamannya terdiri dari 17 baris. Menggunakan bahasa Arab dan bahasa Arab melayu dengan tinta yang dibedakan merah dan hitam.&lt;br /&gt;Disini dapat diidentifikasikan bahwa teks yang bertulisan merah merupakan rumusan umum, berbentuk matan kitab sedangkan yang bertulisan hitam ialah penjelasan berupa syarah (komentar).&lt;br /&gt;Tulisan naskah tersebut ialah khat Naskhi yang tidak terlalu rapi namun dapat dibaca dengan baik. Teks-teks setiap halamannya dibubuhi dengan cacatan-cacatan kecil untuk memberi keterangan dari teks, nampak bahwa cacatan-cacatan ini ditulis oleh penyalin dikemudian hari.&lt;br /&gt;Walaupun memakai kertas eropa, namun tidak ditemui tanda air (water mark) untuk mengirakan umur naskah tersebut. Didalam naskah tersebut juga tidak ditemui kolofon, keterangan tentang judul dan pengarang naskah sehingga naskah ini seperti naskah melayu kebanyakan yang anonim (tanpa disebutkan pengarangnya). &lt;br /&gt;Jilid naskah seperti naskah biasa yaitu dijilid dengan benang ditengah kuras-kurasnya sendiri. Keadaan naskah yang terlihat sudah lama membuat sebahagian teks tersebut ada yang tidak bisa dibaca akibat dimakan rayap.&lt;br /&gt;Sedangkan isi naskah ialah tentang ilmu Tasawwuf , sebuah ilmu yang menjadi prioritas utama orang-orang Bintungan tinggi yang sebahagian besar bertarekat Syathariyah. Dari keterangan yang ada terdapat kejelasan bahwa naskah tersebut menceritakan tentang Zat dan Wujud Allah. Sangat singkron dengan Tarekat Syathariyah sendiri yang mengaji wujud dan zat. Maka ada indikasi bahwa maka naskah tersebut merupakan salinan dari kitab al Hikam, sebuah kitab yang terkenal di Indonesia dalam kajian Tasawwuf tingkat tinggi. Persis pula bahwa kita tersebut ditulis dengan dua aksara, Arab dan Melayu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4620918976357743641-8455884121399030931?l=surautuo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surautuo.blogspot.com/feeds/8455884121399030931/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surautuo.blogspot.com/2011/03/surau-bintungan-tinggi-dan-naskah-kuno.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4620918976357743641/posts/default/8455884121399030931'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4620918976357743641/posts/default/8455884121399030931'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surautuo.blogspot.com/2011/03/surau-bintungan-tinggi-dan-naskah-kuno.html' title='SURAU BINTUNGAN TINGGI DAN NASKAH KUNO ISLAM'/><author><name>Apria Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08209012488814467728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-qPm4g5LaN10/TYOLUvhoEgI/AAAAAAAAADI/sM_dkWQUtmM/s72-c/Naskah%2BTABEK%2BPANJANG.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4620918976357743641.post-5902228569260194287</id><published>2011-03-15T01:14:00.000-07:00</published><updated>2011-03-15T01:15:32.105-07:00</updated><title type='text'>Angku Sjech Jamaluddin dan Surau Parak Pisang: Intan berlian yang terlupakan</title><content type='html'>Oleh: Apria Putra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara mengenai Negeri Sumani, kita akan menemui kekhasan sendiri, tepatnya bila kita melirik aktifitas keagamaan dan transmisi keilmuan Islam di daerah ini. Dalam catatan ringkas ini penulis mencoba merangkum keterangan orang-orang tua perihal ketokohan seorang ulama yang masyhur di daerah ini, dia merupakan intan berlian yang jarang dibicarakan saat ini, seorang tokoh yang mengajar orang-orang siak lewat institusi surau hingga paruh abad ke XX, yang “dalam” fahamnya dalam syari’at, mempunyai nama besar dalam soal-soal Tasawwuf dan “Kaji Tuo”, beliaulah Angku Syekh Jamaluddin, dimasyhurkan dengan Buya Jama Sumani.&lt;br /&gt;Tersebutlah nagari Sumani, tepatnya di distrik Parak Pisak, kabupaten Solok, pernah ada satu lembaga pendidikan tradisional Islam yang terkemuka. Suraunya tampak besar. Dikelilingi oleh surau-surau kecil tempat bermukimnya orang-orang mengaji yang berasal dari berbagai wilayah di Sumatera Tengah, apakah dari Jambi, Alahan Panjang, Sungai Pagu, Malalo dan lainnya. Ketenaran Surau Parak Pisang itu tak lain disebabkan oleh kemasyhuran ulamanya, yaitu angku Syekh Jamaluddin tersebut. Dalam penuturan orang tua yang sempat bertemu muka dengan beliau, diceritakan bahwa beliau merupakan salah seorang murid kesayangan dan teralim dari Syekh Abbas Abdullah Padang Japang (wafat 1957). Perihal Syekh Abbas sendiri merupakan seorang alim ternama di dataran tinggi Minangkabau, tepatnya di Padang Japang – Payakumbuh (sekarang termasuk kabupaten Limapuluh kota). Lembaga pendidikan Syekh Abbas ini telah lama masyhurnya, sejak dari ayahnya Syekh Abdullah “Beliau Surau Gadang” yang membuat halaqah besar di abad XIX. &lt;br /&gt;Kembali kepada Angku Jamaluddin, telah bertahun-tahun beliau mengaji di Padang Japang, berkhitmat dalam halaqah Syekh Abbas, karena kecerdasan dan kealiman beliau, beliaupun mampu menjadi guru tuo (yang lebih dikenal dengan istilah Guru Suduik) di surau gurunya. Sangat besar sayang Syekh Abbas kepada beliau, apatah lagi hal ini didukung oleh kecerdasan Angku Jama yang mampu mengusai kitab dengan jitu, tidak seperti teman-teman seangkatan beliau yang lainnya. Ketika semua kaji yang tersurat telah dikuasai, Syekh Abbas kemudian menyuruh Angku Jama pulang ke kampungnya dan mengajar, sebab ilmu yang ada pada beliau telah mumpuni, dan pelajaran dari Syekh Abbas-pun telah dikuasainya dengan baik. Dengan ijazah sharih yang diungkapkan gurunya itu, Angku Jama kemudian pulang ke kampung halamannya Sumani. Kemudian mulailah beliau mengajar dengan cara lama. Bukan main-main pelajaran yang beliau sampaikan, kitab-kitab gundul yang tebal-tebal, berikut dengan syarah dan hasyiyah tingkat berat, bahkan Tuhfah dan Nihayah, sebuah kecerdasan dan kedalaman ilmu yang jarang kita temui saat ini. sebuah prestasi yang hakiki, tidak prestesius seperti profesor-profesor saat ini. sehingga dalam waktu yang lumayan singkat, surau Parak Pisang yang lumayan besar itu menjadi icon intelektual terkemuka di daerah Solok kala itu. Sehingga berbondong-bondonglah orang-orang siak dari berbagai daerah di Minangkabau datang bermukim, menyauk ilmu dari lautnya ilmu Angku Syekh Jama ini.&lt;br /&gt;Memang berbagai ketegangan sosial masa penjajahan ini banyak menghambat kemajuan Islam, begitu pulalah yang dialami oleh Surau Parak Pisang. Setelah sekian lama mengisi lembaran Islam dengan torehan tinta emas, pendidikan di Surau ini terhenti ketika Jepang masuk ke Minangkabau di era 40-an itu. Banyak orang-orang siak dan lari akibat tekanan Dai Nippon, membuat transmisi keilmuan di surau ini nyaris tanpa bekas. &lt;br /&gt;Namun keadaan itu kemudian dapat teratasi setelah masa kemerdekaan diraih. Angku Syekh Jama kemudian dikenal sebagai seorang ulama yang karam dalam hakikat. Riwayat yang didengar, terbujuknya hati beliau kepada alam Hakikat setelah mewarisi sebuah kitab lama dari ayahnya yang dikenal sebagai ahli Tarikat diabad silam. Selama masa sendirian beliau ketika ditinggal orang-orang siak, beliau berkesempatan mengkaji kitab lama itu sedalam-dalamnya, bahkan beliau memperbanding-bandingkan kitab itu dengan kitab-kitab besar lainnya, seumpama Tuhfah tersebut. Bahkan menurut penuturan istri beliau, ketika masa tersebut penuhlah lantai surau beliau itu dengan kitab-kitab dalam keadaan terbuka. Sesekali sambil memperhatikan kitab lama ayahnya, beliau melirik satu persatu kitab-kitab yang telah dikembangkan sepenuh surau itu. Ketika siang hari (beliau membuka kitab malam hari), beliau melakukan hal-hal yang tak lazim untuk untuk ukuran ulama, beliau bermain layang-layang dan sesekali menunggangi kuda, sampai-sampai ada mulut yang berujar bahwa Angku Jama ini telah gila. Peristiwa seperti ini sering kita jumpai dalambigrafi-biografi tokoh Sufi, lazim dikenal dengan istilah Jazabat. Sampai pada suatu hari, semua kitab yang terbuka dihalaman surau itu beliau tutup dan beliau simpan dalam lemari. Maka usailah masa bersunyi-sunyi.&lt;br /&gt;Setelah itu beliau kembali mengajar, tepatnya mengajar hakikat dengan pelajaran “Kaji Tuo”. Sehingga ramailah kembali surau beliau itu, para orang siak (yang saat itu ialah terdiri dari orang-orang tua dan ulama-ulama pula) mulai berdatangan menyauk kaji Tuo, mengaji jalan ka Tuhan, hidup nan dipakai, mati nan ditompang, kehadapan angku Jama ini. &lt;br /&gt;Setelah Angku Syekh Jama wafat, tak banyak lagi kisah kejayaan yang dapat kita sebut. Hal ini mungkin karena tak ada lagi sosok sealim beliau dalam syari’at, apalagi Hakikat dan Tarikat. Hal ini juga ditambah dengan munculnya golongan muda di daerah ini, yang tak menyukai kaji-kaji lama yang “tak tertandingi itu”. &lt;br /&gt;Pada tahun 2003, ketika kelompok kajian Puitika Unand menyelusuri Surau Parak Pisang, maka didapatilah sisa-sisa kejayaan pengajian Tasawuf di Surau ini. ada berupa kitab-kitab lama, adapula catatan yang tersebunyi yang disimpan dalam bambu. Itu semua perihal “Kaji Tuo” itu, pegangan ulama-ulama silam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;Riwayat ini penulis peroleh dari guru penulis yang lautan ilmu. Adalah guru penulis pernah bertemu muka dengan beliau di tahun 1952 dimasa kanak-kanaknya, saat itu beliau mengikuti ayah dan mamaknya menuntut kaji kepada engku Jama ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4620918976357743641-5902228569260194287?l=surautuo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surautuo.blogspot.com/feeds/5902228569260194287/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surautuo.blogspot.com/2011/03/angku-sjech-jamaluddin-dan-surau-parak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4620918976357743641/posts/default/5902228569260194287'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4620918976357743641/posts/default/5902228569260194287'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surautuo.blogspot.com/2011/03/angku-sjech-jamaluddin-dan-surau-parak.html' title='Angku Sjech Jamaluddin dan Surau Parak Pisang: Intan berlian yang terlupakan'/><author><name>Apria Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08209012488814467728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4620918976357743641.post-6361548041399727899</id><published>2011-03-15T01:11:00.000-07:00</published><updated>2011-03-15T01:13:36.615-07:00</updated><title type='text'>Syekh Abdul Ghani Batu Basurek-Kampar (1811-1961): Pemuka Ulama Naqsyabandiyah dan Auliya’ yang terbilang di belahan Riau, ranah Minangkabau</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;Oleh: Apria Putra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di belahan aliran Sungai Kampar, di sebelah negeri seribu rumah Suluk, semasa dulu kala terkemuka dengan ulama-ulamanya yang masyhur terbilang. Di antara ulama-ulama yang terkemuka keberadaannya itu, tersebutlah orang tokoh yang paling masyhur terutama ketika membicarakan persebaran Tarikat Ahli Sufiyah, terutama Tarikat Naqsyabandiyah. Dua ulama besar itu ialah Maulana Syekh Abdul Wahab Rokan al-Khalidi dan Syekh Abdul Ghani Batu Basurek Kampar. Syekh Abdul Wahab terkenal murid-muridnya yang berasal dari orang awam hingga pejabat-pejabat pemerintahan, sedang Syekh Abdul Ghani Batu Basurek terkenal dengan murid-muridnya yang berasal dari ulama-ulama belaka. Dua ulama besar Naqsyabandiyah inilah yang terkemuka di pantai Timur Sumatera.&lt;br /&gt;Syekh Abdul Ghani itulah nama Beliau yang masyhur, sedangkan Batu Basurek ialah nisbah negeri beliua bermukim yang Batu Bersurat di Kampar, yang sekarang termasuk wilayah Riau, semasa dulu Kampar merupakan bagian rantau dari Luak Limapuluh Kota, ranah Minangkabau sejati. Jika disebut-sebut ulama penyebar Naqsyabandiyah di Kampar ini, ada satu tokoh lagi yang tak mungkin tidak disebut, yaitu Syekh Ja’far Pulau Gadang, alim pula, guru dari seorang Ulama Besar Minangkabau Syekh Zakaria Labai Sati Malalo. Namun soal kemasyhuran, dan ketersebutan dalam sejarah, tetap Syekh Abdul Ghani yang terbilang. &lt;br /&gt;Mengenai tahun lahir belum ditemui cacatan pasti, namun dari usia Syekh Abdul Ghani yang mencapai umur 150 tahun dan tahun wafatnya 1961, niscaya kita jumpai tahun lahirnya 1811. Bagi orang-orang dulu, apatah lagi dia merupakan Syekh-syekh terkemuka memang dikenal berumur panjang. Begitupula pendidikan awalnya, dimasa kecil-kecil tentunya, masih pula kabur dalam kabut sejarah. Namun dapat dipastikan bahwa Beliau merupakan ulama hasil didikan surau-surau yang menjamur seantero Minangkabau kala itu. Setelah menahun mengaji ala surau itu, Beliau melanjutkan pertualangan intelektualnya ke Haramain (Mekah dan Madinah), pusat Ibadah sekaligus ilmu pengetahuan kala itu. Dan menurut sumber Belanda, van Bruinessen, di Mekkahlah tepatnya di Jabal Abi Qubais-lah Syekh Abdul Ghani menerima ijazah atas jalan Tarikat Naqsyabandiyah, sebagai petanda bahwa beliau telah diangkat menjadi khalifah Naqsyabandi dan berhak mengajarkan ilmu Tarikat kepada orang banyak secara mandiri. Adapun syekh Naqsyabandi yang memberinya ijazah itu ialah Syekh Sulaiman Zuhdi, yang pada abad 19 banyak mengangkat khalifah-khalifah dari tanah “Jawi” (baca: Melayu) ini, beliau juga dikenal dengan nama Syekh Sulaiman Afandi.&lt;br /&gt;Setelah mengaji ilmu agama beberapa tahun lamanya dan telah pula di-khatam kaji itu dengan amalan Rohani Suluk Tarikat Naqsyabandiyah, kemudian menerima ijazah dalam Tarikat Sufi itulah Syekh Abdul Ghani memapankan karir ke-ulama-annya di Kampar, tepatnya di Batu Basurek. Di sanalah beliau mendirikan surau sekaligus rumah Suluk untuk mengajar agama dan melatih rohani dengan melaksanakan Suluk Naqsyabandi. Tak perlu menunggu waktu lama, surau beliau itu kemudian ramai sekali dikunjungi oleh orang-orang siak dari berbagai penjuru daerah. Nama Beliau selaku ulama terkemuka dalam kedalaman ilmu dan kedalaman faham masyhur kemana-mana. Melalui lembaga pendidikan itulah beliau mendidik murid-murid yang banyak, sehingga tak sedikit murid-murid beliau itu nantinya yang menjadi alim pula, kemudian pulang ke kampung halaman masing-masing selaku ulama dan mengajarkan ilmu pula di tanah kelahirannya. Tak jarang pula ada murid-muridnya yang telah ulama mengambil ilmu lagi kehadarat Syekh Abdul Ghani ini.&lt;br /&gt;Diantara murid-murid Beliau yang terkemuka dan dapat dicatat pada kesempatan kali ini ialah:&lt;br /&gt;1. Maulana Syekh Muda Wali al-Khalidi Naqsyabandi Aceh (w. 1964). Ulama besar kharismatik di Aceh abad ke-XX, tercatat sebagai pengibar bendera Tarikat Naqsyabandiyah di Aceh, juga termasuk sesepuh Perti yang sangat disegani. Syekh Wali ini pada mula belajar ilmu agama di berbagai Dayah di Aceh. Kemudian disarankan seorang tokoh di Aceh untuk menyambung pelajar ke Padang yaitu ke Normal Islam, yang saat itu dipimpin Mahmud Yunus (Prof.). Namun Syekh Wali hanya 3 bulan di Normal Islam Padang, sebab tak sesuai dengan cita-cita beliau untuk memperdalam agama, sedang di Normal Islam hanya pelajaran umum yang banyak diberikan. setelah berhenti dari Normal Islam, beliau berkenalan dengan salah seorang tokoh besar Syekh Khatib Muhammad Ali al-Fadani Parak Gadang (w. 1939). Dari hubungan dengan ulama-ulama itu beliau menjadi masyhur pula di Minangkabau, hingga Beliau digelari dengan “Angku Aceh”. Syekh Wali juga berkenalan dengan Syekh Jamil Jaho. Karena ketertarikannya dengan pemuda yang alim itu, Syekh Jamil Jaho mengambilnya menjadi menantu. Banyak usaha keagamaan yang dilakukan oleh Syekh Wali di Minangkabau sampai-sampai beliau mendirikan madrasah di Lubuk Alung bersama-sama dengan rekannya Syekh Zakaria Labai Sati Malalo (madrasah itu tidak ada lagi sekarang). Setelah itu Syekh Wali berangkat ke Mekkah untuk berhaji dan menambah ilmu pengetahuan, di Mekkah beliau seangkatan dengan ulama masyhur dari Padang Syekh Muhammad Yasin al-Fadani al-Makki (w. 1990) dan Syekh Alwi al-Husaini Mekkah. Sekembali dari Mekkah beliau pulang ke Minangkabau. Di saat itulah beliau merasakan haus dahaga ilmu. Obat satu-satunya kali itu ialah mengisi batin dengan air Ma’rifat. Maka Beliau carilah seorang mursyid yang kamal, sehingga bersuluklah Beliau kepada Syekh Abdul Ghani ini, hingga memperoleh maqam khalifah dan mendapat ijazah.&lt;br /&gt;2. Syekh Muhammad Yunus Tuanku Sasak di Sasak, Pasaman. Juga merupakan ulama besar, termasuk sederet tokoh-tokoh sepuh Perti. Beliau mengajar banyak murid di suraunya di Kapar Pasaman Barat.&lt;br /&gt;3. Syekh Muhammad Djamil Sa’adi (w. 1971), anak dari yang mulia Syekh Muhammad Sa’ad bin Tinta’ al-Khalidi Mungka Tuo Payakumbuh. Informasi beliau merupakan murid Batu Basurek ialah dari beberapa murid kepercayaan beliau di Mungka.&lt;br /&gt;4. Syekh Adimin ar-Radji Taram (w. 1970), terbilang murid tertua Syekh Sulaiman ar-Rasuli. Ulama terkemuka atas Jalur Tasawwuf Tarikat Naqsyabandiyah yang diterimanya dari Syekh Batu Basurek.&lt;br /&gt;5. Tuanku Alaydrus Ghani (w. ?), anak kandung dari Syekh Abdul Ghani Batu Basurek. Beliau yang melanjutkan surau ayahnya dan mendirikan pula Madrasah Tarbiyah Islamiyah di Kampar. Menerima Tharikat dari Syekh Muda Wali Aceh.&lt;br /&gt;6. Prof. DR. Syekh Muhibbin Wali, Ph. D., salah seorang Ahli hukum Islam dan Tasawwuf Indonesia, S3 Kairo Mesir. Anak kandung Syekh Muda Wali, menerima Tharikat dari Syekh Abdul Ghani Batu Basurek&lt;br /&gt;7. dan Banyak lagi lainnya.&lt;br /&gt;Selain itu Syekh Abdul Ghani termasuk tokh sepuh Perti yang sangat dihormati. Pada tahun 1954 terjadi kofrensi Tarikat Naqsyabandiyah di Bukittinggi atas prakarsa Perti, dan salah seorang tokoh utama yang hadir ialah Syekh Abdul Ghani (waktu itu usia nya telah sepuh). Hasil-hasil konfrensi itu dibukukan dengan judul Risalah Tablighul Amanah fi Izalati Khurafat wa syubhah  (KAHAMY, 1954).&lt;br /&gt;Syekh Abdul Ghani wafat tahun 1961 dalam usia yang sangat tua, 150 tahun, setelah berkhitmat lama menegakkan agama di Minangkabau umumnya. Usaha beliau dilanjutkan oleh anaknya yang juga alim yaitu Tengku ‘Aidrus Ghani.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4620918976357743641-6361548041399727899?l=surautuo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surautuo.blogspot.com/feeds/6361548041399727899/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surautuo.blogspot.com/2011/03/syekh-abdul-ghani-batu-basurek-kampar.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4620918976357743641/posts/default/6361548041399727899'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4620918976357743641/posts/default/6361548041399727899'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surautuo.blogspot.com/2011/03/syekh-abdul-ghani-batu-basurek-kampar.html' title='Syekh Abdul Ghani Batu Basurek-Kampar (1811-1961): Pemuka Ulama Naqsyabandiyah dan Auliya’ yang terbilang di belahan Riau, ranah Minangkabau'/><author><name>Apria Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08209012488814467728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4620918976357743641.post-4997130513999666352</id><published>2011-03-15T00:45:00.000-07:00</published><updated>2011-03-15T01:11:44.248-07:00</updated><title type='text'>Sekilas Tentang Naskah Kuno dan Ulama-ulama di Serambi Alam Sungai Pagu (Solok Selatan)</title><content type='html'>Oleh: Apria Putra&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;Tulisan ini merupakan hasil penelusuran Penulis dan Tim Filologia, menelusuri Solok Selatan pada 22-24 April 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;A. Keadaan Naskah Keagamaan di Sumatera Barat dewasa ini&lt;br /&gt;Sumatera Barat, secara sosio kultural merupakan wilayah Minangkabau, telah menoreh tinta emas dalam perjalanan Islam di nusantara. Masih menjadi buah bibir hingga saat ini bahwa negeri ini, Minangkabau, sejak dulu kala telah menjadi gudang ulama. Banyak terbilang nama-nama besar ulama lahir dari negeri ini, hal ini memberikan kesan kuat bahwa memang aktifitas keagamaan (baca: Islam) memang sangat semarak di Minangkabau sejak dulunya. Walaupun zaman renaisans, ke-gemilangan Islam, meminjam istilah Azra, telah memudar akibat beberapa faktor, namun beberapa bukti kuat tentang kejayaan Islam masa lalu masih dapat kita lihat hari ini, meski tak tinggal seberapa, seperti ulama-ulama pewaris alim ‘allamah masa lalu, surau-surau besar dan naskah-naskah hasil fikiran tokoh-tokoh cemerlang itu. Mana yang tinggal inilah yang mestinya (harus) diwariskan kepada generasi muda, agar filter (jati diri) tetap terjaga, agar adat basandi syara’-syara’ basandi Kitabullah tetap menjiwai orang-orang Minang.&lt;br /&gt;Salah satu karya gemilang intelektual Islam masa lalu ialah naskah-naskah, hasil-hasil buah fikiran ulama yang tertuang dalam bongkahan kertas-kertas tua yang lapuk. Berbicara mengenai naskah-naskah di Minangkabau, niscaya kita tidak akan terlepas dari dua aspek lainnya, yaitu Ulama, sebagai penulis dan penuang gagasan; dan Surau, sebagai tempat transmisi keilmuan Islam dan hasil pikiran dari tokoh-tokoh ‘alim. &lt;br /&gt;Salah satu karakter ulama silam yang paling menonjol ialah keperangaran mereka. Sudah diteorikan bahwa tidak ada satupun ahli metafisik Islam yang tidak menulis, walaupun hasilnya tak seberapa, namun penuangan tulisan amat mesti. Apalagi ulama-ulama yang tergolong dalam tokoh-tokoh Tasawwuf, maka menulis merupakan salah satu bentuk pengungkapan dzuq (rasa, raso-Minang). Walau untuk bidang-bidang lain, seumpama Fiqih, Tauhid, Ushul, Tafsir, Sintax (nahwu-sharaf) dan lainnya juga ramai ditulis, namun untuk Tasawwuf (Tharekat) menepati jumlah istimewa dalam khazanah keilmuan Islam di Minangkabau khususnya.&lt;br /&gt;Kemudian lewat surau-lah terbentuk tradisi keilmuan Islam tersebut, di mana seorang ulama berpengaruh mengajar keilmuannya kepada orang-orang siak dari berbagai daerah. Sehingga buah fikiran dari sang syekh sendiri dapat diwarisi dengan baik kepada generasi muda, dalam hal ini ialah murid-murid Syekh sendiri. Kebanyakan dari buah fikiran yang diwariskan itu terekam jelas dalam lembaran naskah-naskah tulisan tangan, dan untuk sebahagiannya telah ada pula yang dicetak untuk kalangan sendiri. Dan kebanyakan naskah-naskah itu menguraikan ajaran-ajaran Tasawwuf tingkat tinggi, yang biasanya menjadi pengajian tersuruk (kaji tersembunyi) bagi sebahagian kalangan guru-murid, biasanya setelah prosesi bai’at dalam sebuah tarikat.&lt;br /&gt;Naskah-naskah untuk kategori Tasawwuf tersebut sangat sulit untuk diakses kalangan banyak, sebab sulitnya prosesi yang mesti dilalui seseorang untuk melihatnya ataupun memilikinya. Kelangkaan ini menjadikan naskah tersebut menjadi barang mahal. Salah satu cohtoh dari naskah-naskah “tersembunyi” itu ialah Kitab Tahqiq Syekh Burhanuddin Ulakan, sebuah kitab yang disinyalir sebagai tulisan dari Syekh Burhanuddin sendiri. Menurut keterangan yang diperoleh bahwa naskah ini pernah dilihat oleh Alm. Adam Malik dan Hamka. Bagi siapa yang ingin melihat aslinya mestipula mengikuti serangkaian ritual dipimpin oleh Tuanku di Ulakan sendiri. Dari informasi yang diperoleh, bahwa naskah tersebut terbilang istimewa. Diantara syekh-syekh Syathariyah sendiri ada yang telah menyalin ala kadarnya kemudian diterbitkan sebagai panduan khusus murid-murid dari tharikat Syathariyah itu. Salah satu salinan yang diperoleh oleh Tim ialah salinan Syekh Sidi Jumadi Padang Sarai Koto Tangah. Salinan itu kemudian diterbitkan di Padang Panjang atas jasa penerbit Tandikek tahun 1926. secara fisik naskah tersebut masih baik, terdiri atas 9 teks. Satu dua teks itu anonim, tanpa penyebutan penulis (muingkin inilah yang ditulis Syekh Burhanuddin), beberapa teks lainnya jelas merupakan karangan Syekh Abdurra’uf Singkel dan ditutup dengan Sya’ir yang cukup panjang membahas martabat tujuh. Naskah ini menjadi barang langka dan sangat sulit diakses saat ini.&lt;br /&gt;Penelitian yang telah dilakukan memberikan gambaran betapa banyaknya naskah-naskah karya ulama-ulama di Sumatera Barat. Salah satunya di tahun 2003, atas kerjasama Fak. Sastra Unand dengan Tokyo University of Foreign Studies (Jepang) menerbitkan katalog manuskrip Minangkabau dengan judul Katalogus Manuskrip dan Skriptorium Minangkabau. Hasil inventarisasi yang dilakukan tersebut setidaknya mencatat lebih dari 300 manuskrip yang terdiri dari surat-surat, Tambo Minangkabau, kaba-kaba Minang dan naskah-naskah keagamaan (Tauhid, Fiqih, Tasawwuf, Sintax, Tafsir dan lainnya). Naskah-naskah berada di tangan masyarakat dan lembaga-lembaga tertentu, tersebar di hampir setiap pelosok Sumatera Barat, seperti di Taram, Suliki, Sumani – Solok, Batang Kapeh, Bayang, Lunang, Inderapura, Bintungan Tinggi, Tandikek, Batang Kabung dan lainnya. Begitupun yang oleh lembaga-lembaga seperti Musium Adityawarman dan Fakultas Sastra Unand sendiri.&lt;br /&gt;Selain penelitian itu, masih ada penelitian lainnya seperti yang dilakukan Rusydi Ramli (Fak. Adab IAIN Imam Bonjol) dengan tema Identifikasi Awal naskah-naskah Kuno Sumatera Barat dan beberapa tulisan dalam jurnal-jurnal Filologi tentang keberadaan naskah-naskah di Sumatera Barat. Dari hasil catatan-catatan yang ada itu diperoleh gambaran banyaknya naskah-naskah kuno keagamaan di Sumatera Barat, masih banyak lagi naskah-naskah yang belum dijamah oleh tangan-tangan filolog dan masih berada ditangan masyarakat. Contohnya, naskah-naskah kuno Islam yang ditemui oleh Tim Pusat Studi Naskah (Mahasiswa Sastra Arab) di Rao Kabupaten Pasaman  (Maret, 2009), setidaknya menemui 32 manuskrip kuno yang langka setelah puluhan tahun tidak dijamah oleh tangan manusia; dan di Bonjol, dengan menemui 17 manuskrip kepunyaan Alm. Syekh Muhammad Sa’id Bonjol (Desember 2009). ). Hal ini menguatkan indikasi masih banyaknya naskah-naskah yang luput dari pengamatan dan masih berada di tangan masyarakat.&lt;br /&gt;Oleh karenanya pada tangal 10-17 November 2010, kami dari Tim Peneliti telah menelusuri sentra Naskah-naskah di Sumatera Barat, tepatnya untuk menelusuri naskah yang berkaitan dengan penelitian ini. Banyak sedikitnya dari naskah-naskah tersebut telah diselamatkan dengan baik oleh Tim.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;B. Naskah-naskah Sungai Pagu&lt;br /&gt;Setelah melakukan penelusuran Lapangan ke sentra-sentra Islam di Sungai Pagu masa lalu di berbagai daerah, maka didapati keadaan dan keberadaan Naskah-naskah kuno dan Ulama pemangkunya di beberapa daerah antara lain, antara lain di:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;1. Padang Aro&lt;br /&gt; Padang Aro, sebuah kawasan yang terlihat makmur dengan keramaian, menyiratkan potensi keagamaan yang masih kokok, dimana di daerah ini masih ditemui bukti-bukti nyata akan hal tersebut. Di daerah ini, sebagaimana yang diperoleh oleh Tim di lapangan, pernah terdapat beberapa pusat pendidikan Islam tradisional dalam bentuk surau. Maka dari beberapa surau tersebut, ada satu yang paling menonjol dan memiliki dedikasi keilmuan yang memang terbilang dalam ahli-ahli sejarah oral di daerah ini. Adapun pusat pendidikan Islam Tradisional itu berada di Sampu, kawasan sejuk yang cukup asri dalam kacamata kekotaan. Surau sampu ini pernah memainkan peranan penting dalam revalitasi masyarakat yang Islam, tak tercatat lagi berapa banyak orang-orang siak yang datang mengaji ke daerah ini, tak terbilang pula berapa murid-murid alumni pendidikan ini yang menjadi ulama ternama pula di kemudian hari. Maka untuk hal transmisi keilmuan Islam di Padang Aro, umumnya di Solok Selatan, posisi Surau Sampu tak terpungkiri lagi membawa pengaruh yang luar biasa. Hingga sekarang, meski yang tinggal hanya sejarahnya saja, masa kejayaan Surau Sampu masih menjadi Buah bibir bagi banyak orang.&lt;br /&gt;Layaknya  sebuah lembaga pendidikan tradisional yang terpandang, tentulah Surau Sampu memiliki seorang tokoh kharismatik yang memainkan peran penting dalam pengembangan pendidikan tersebut. Jika berbicara mengenai tokoh besar itu, yang menjadi panutan tersebut, maka tak lain ialah ulama besar Syekh Muhammad ‘Arif (w. 1961) yang masyhur dengan gelar Syekh Sampu. Dengan seorang tokoh inilah pembelajaran Islam di Sampu dapat mencapai titik kejayaan, surau Sampu kemudian dapat mengundang orang-orang mengaji untuk datang ke Sampu, berkhitmat kepada ulama-nya yang terkemuka, Syekh Sampu. &lt;br /&gt;Syekh Sampu memiliki kharisma yang berbekas pada masyarakat banyak, hal ini sangat didukung oleh dedikasi keilmuannya yang komplit. Beliau seorang ahli fiqih yang mumpuni, mahir mengaji kitab. Beliau juga seorang ushuliyyin, beliau pun terbilang Sufi yang masyhur dengan pengajaran Tarikat Samaniyah. Tak pelak lagi dimensi keilmuannya tersebutlah yang membuat surau Sampu tenar hingga saat ini.&lt;br /&gt;Beliau pernah berjibaku menuntut ilmu di Mekkah al-Mukarramah, pernah bersufaha dengan ulama-ulama Minang lainnya di tanah Haram tersebut. Hal ini semakin memantapkan posisinya selaku ulama Besar di Solok Selatan.&lt;br /&gt;Sebagai ulama tua yang alim terbilang tentunya beliau memiliki simpanan Bibliografi kitab-kitab klasik yang banyak, termasuk naskah. Hal ini diakui terus terang oleh anak beliau, ketika kami mengunjungi Surau Syekh Sampu. Namun amat disayangkan beberapa naskah-naskah tua itu telah raib, sebahagian dipinjam orang, sebahagian tak terawat hingga hancur dimakan usia, sebahagian lagi ada yang diserahkan kepada pihak Pesantera Malus, tapi tak ada yang tau kemana rimbanya naskah-naskah itu saat ini. &lt;br /&gt;Menurut keterangan yang diperoleh Tim, setidaknya terdapat satu peti naskah yang masih tersisa setelah Syekh Sampu meninggal. Begitupula ada beberapa naskah yang disimpan diatas pagu kala itu. Namun karena tidak adanya usaha perawatan saat itu, anak-anak Syekh tersebut tiada mewarisi keahlian ayahnya membaca Arab gundul, kitab-kitab tersebut telah terabaikan, hingga sekarang hilang jejak. &lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-Spck9vjiitA/TX8bob89mWI/AAAAAAAAACo/0qAmr4nC6Xc/s1600/sampu%2B1.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-Spck9vjiitA/TX8bob89mWI/AAAAAAAAACo/0qAmr4nC6Xc/s320/sampu%2B1.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5584212444474874210" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Foto : Tim berada di Makam Syekh Muh. ‘Arif (Syekh Sampu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;2. Bidar Dalam&lt;br /&gt;Bidar Dalam, daerah bersejarah, tempat bersembunyinya Mr. Syafruddin Prawira Negara dulunya ketika pergolakan daerah (PRRI) di era 50-an itu. Kini telah berkembang menjadi satu kawasan yang ramai, tiada menyisakan bekas perang masa lalu. Rumah-rumah mewah yang tegak berdiri sekeliling jalan, menjadi petanda makmur sentosanya masyarakat.&lt;br /&gt;Namun siapa sangka, daerah yang dulu merupakan pusat perang itu, pernah menjadi gudang-nya para malin, suluh bendang nagari. Di sini pernah bermukim beberapa ulama hasil dari didikan Surau Sampu, mengembangkan sayap pengajaran Islam ke masyarakat banyak. Tak disangkal bahwa Bidar Dalam juga merupakan lumbung naskah-naskah kegamaan.&lt;br /&gt;Setelah Tim mengadakan penelusuran yang intens di tengah-tengah masyarakat Bidar Dalam, diketahui, kebanyakan naskah-naskah tersebut telah banyak yang raib. Sebabnya sangat lumrah sekali, pertama dicuri semasa perang, kedua dibakar pemiliknya, karena generasi setelah ulama-ulama terkemuka tersebut buta dengan huruf Arab, buta dengan bahasa Arab. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;3. Sungai Pagu&lt;br /&gt;Tepatnya Alam Surambi Sungai Pagu, tercatat merpakan pusat kebudayaan Minang dan pusat Islam terkemuka di Minangkabau. Di daerah ini pernah bermukim ulama-ulama besar yang namanya tetap harum hingga sekarang, menorehkan tinta emas dalam perjuangan kaum agama di Sumatera Barat. &lt;br /&gt;Disebut sebagai Alam Surambi, karena Sungai Pagu merupakan Serambi Alam Minangkabau, di sana pernah berkedudukan datuk-datuk pemangku adat yang besar bertuah, serpih belahan zuriyyat raja-raja Pagaruyung. Bekas dari kejayaan adat lama pusako usang itu masih tampak jelas, yaitu berderetnya ribuan rumah gadang, dengan arsitek Minang yang sangat unik dan menawan. Siapa yang memasuki wilayah ini tentu terkesima dengan rumah gadang, berukir ganggo cino, condong tanda kokoh, ribuan banyaknya. Inilah gambaran Minang masa dahulu, dizaman emasnya. Rumah gadang sembilan ruang yang kokoh menyiratkan rakyat yang hidup makmur sejahtera. Gemah ripah loh jinawi&lt;br /&gt;Selain rumah gadang tanda adat yang kuat berakar, tentunya adat nan kawi, syara’ nan lazim terkedepan sangat di Sungai pagu. Islam menjadi tumpuan adat yang sebenar-benarnya. Beberapa bukti arkeologis membuktikan hal tersebut. Tepatnya dikampung di masyhur dinamai negeri “seribu rumah gadang” berdiri semua mesjid batu, gonjong menjulang kelangit, tampat tegar mesti usianya sudah tua. Itulah salah satu bukti kejayaan Islam tersebut.&lt;br /&gt;Selain dari itu, di sini, di Sungai Pagu pernah hadir ulama-ulama besar yang terkemuka, yang terkenal dengan lembaga pendidikan tradisionalnya hingga berbagai penjuru Minangkabau. Diantara ulama ulama Sufi yang terkemuka tersebut ialah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;Syekh Maulana Sufi (wafat awal abad 19)&lt;br /&gt;Beliau dianggap sebagai penyebar agama Islam di Sungai Pagu. Salah satu peninggalannya ialah Mesjid Enam puluh kurang Aso, sebuah mesjid yang sangat unik dan diselubungi dengan keanehan-keanehan. Mesjid tersebut sesuai namanya terdiri atas enam puluh kurang satu tonggak kayu ( yang berarti 59), namun bila dihitung dengan seksama maka setiap kali dihitung hasilnya pasti akan berbeda-beda, entah apapula keanehannya yang lain.&lt;br /&gt;Sebagai seorang tokoh ulama tertua yang masih dapat dicatat, pastinya bukan hanya mesjid itulah peninggalan beliau, diyakini ada beberapa kertas tua yang turut menjadi warisan bagi kita semua. Namun penelusuran Tim ke Surau beliau belum mampu menuahkan hasil.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-CsNXcAt7dr0/TX8b1doNQXI/AAAAAAAAACw/inp9cUsfIXE/s1600/Mesjid%2BKoto%2BBaru.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-CsNXcAt7dr0/TX8b1doNQXI/AAAAAAAAACw/inp9cUsfIXE/s320/Mesjid%2BKoto%2BBaru.JPG" border="0"alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5584212668262990194" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Foto : Tim berada di salah satu mesjid tertua di Sungai Pagu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;Syekh  Mustafa al-Khalidi Sungai Pagu (w. 1901)&lt;br /&gt;Salah seorang tokoh ulama atas jalus Tarikat Naqsyabandiyah, mempunyai murid-murid yang luar biasa. Dialah Maulana Syekh Mustafa. Di Suraunya, yang sekarang terletak di tengah-tengah pemukiman seribu rumah gadang tersebut, nampak jelas peranannya selaku surau yang berdedikasi luas menyebarkan keilmuan Islam di Belahan selatan Minangkabau tersebut. Surau itu bernama surau menara, walau sudah dipugar entah berapa kali, namun surau itu masih menyiratkan keklasikannya.&lt;br /&gt;Diantara murid-murid Syekh Muftafa al-Khalidi yang kemudian menjadi ulama besar yang terkemuka di Minangkabau ialah Syekh Muhammad Dalil Bayang (Syekh Bayang) dan Syekh Khatib Muhammad ‘Ali Padang. &lt;br /&gt;Menurut keterangan yang diperoleh Tim sewaktu menelusuri surau Menara tersebut, tepatnya keterangan cucu dari cucu beliau, Syekh Muftafa bukan hanya meninggalkan Surau sebagai buah warisannya, tapi juga meninggalkan beberapa buah manuskrip tua, yang dikenalnya hanya kitab Tufah saja. Namun sejak pergolakan daerah pada tahun 50-an, kitab-kitab tersebut mengalami nasib yang sama dengan yang dialami tempat-tempat lain di Sumatera Barat. Hilang tanpa jejak. &lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-l9W8ZlJS7zc/TX8cLb1vkZI/AAAAAAAAAC4/tSnPfJtUiHU/s1600/Surau%2BMenara.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-l9W8ZlJS7zc/TX8cLb1vkZI/AAAAAAAAAC4/tSnPfJtUiHU/s320/Surau%2BMenara.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5584213045740016018" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Foto : Surau Menara, tempat aktifitas Syekh Mustafa al-Khalidi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;Syekh Khatib ‘Ali al-Fadani (w. 1939)&lt;br /&gt;Beliau merupakan seorang Murid Syekh Muftafa al-Khalidi yang cemerlang dan terkemuka di Minangkabau. Beliau merupakan salah seorang pemimpin ulama-ulama tua Minangkabau yang kharismatik. Seorang penulis dan penyair yang lahir di Muara Labuh, dan kemudian memapankan karirnya di Padang. Banyak sekali karangan beliau. Diantaranya yang terkemuka yaitu kitab Burhanul Haq, risalah yang bertujuan mempertahankan Mazhab Syafi’i dan Tarikat Naqsyabandiyah di Minangkabau.&lt;br /&gt;Dalam menelusuri, Tim tidak menemui satupun peninggalan beliau yang dapat ditemui di kampung halamannya sungai pagi. Peninggalannya banyak di Parak Gadang Padang, namun di masa pergolakan telah diobrak abrik orang-orang yang tak bertanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;Buya H. Muhammad Ridhwan Sungai Pagu (w. 1982)&lt;br /&gt;Salah seorang ulama pewaris keilmuan ulama-ulama tua, itulah beliau Buya Muhammad Ridhan (w. 1982) yang secara adat bergelar Datuk Tum Bijo. Beliau ini pernah menimba ilmu kepada Syekh Khatib ‘Ali di Parak Gadang dan Candung. Kemudian mendirikan sebuah surau di Jembatan Kuning, Koto Baru Sungai Pagu. Beliau terkenal sebagai ahli Tarikat yang Mumpuni. Kalau orang mengibaratkan menyuruk di lalang sehelai sebagai sebuah kemustahilan, tapi bagi beliau menyuruk di lalang sehelai adalah kenyataan, begitulah keramatnya tokoh yang satu ini. &lt;br /&gt;Sebagai murid dari tokoh-tokoh tua tersebut, Buya H. Muhammad Ridhwan mempunyai simpanan karya-karya Syekh Khatib ‘Ali yang langka itu agak lengkap. Untuk yang satu ini telah diinventarisasi oleh Prof. Sanusi Latief pada tahun 1984. adapula Buya Muhammad Ridhwan ini yang menulis karangan-karangan yang berbentuk Manuskrip, maka di sinilah Tim memainkan peranan untuk menginventarisirnya. Tercatat 14 manuskrip yang dapat diselamatkan oleh Tim di sini. (dilampirkan dalam bentuk copian).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-UGxemVVcd4c/TX8bGFQrFqI/AAAAAAAAACY/FSHE1znSRu0/s1600/Sungai%2BPagu%2B1.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-UGxemVVcd4c/TX8bGFQrFqI/AAAAAAAAACY/FSHE1znSRu0/s320/Sungai%2BPagu%2B1.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5584211854267979426" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;Foto : Penulis dan Tim serta pemilik naskah Buya Muhammad Ridwan Sungai Pagu&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-darTjRZp1Wk/TX8bOkgRttI/AAAAAAAAACg/ktFldKZwY9c/s1600/Sungai%2BPagu%2B2.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-darTjRZp1Wk/TX8bOkgRttI/AAAAAAAAACg/ktFldKZwY9c/s320/Sungai%2BPagu%2B2.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5584212000093877970" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Foto : Penulis dan Tim Sibuk mendeskripsikan naskah Buya Muh. Ridhwan Sungai Pagu&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4620918976357743641-4997130513999666352?l=surautuo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surautuo.blogspot.com/feeds/4997130513999666352/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surautuo.blogspot.com/2011/03/sekilas-tentang-naskah-kuno-dan-ulama.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4620918976357743641/posts/default/4997130513999666352'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4620918976357743641/posts/default/4997130513999666352'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surautuo.blogspot.com/2011/03/sekilas-tentang-naskah-kuno-dan-ulama.html' title='Sekilas Tentang Naskah Kuno dan Ulama-ulama di Serambi Alam Sungai Pagu (Solok Selatan)'/><author><name>Apria Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08209012488814467728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-Spck9vjiitA/TX8bob89mWI/AAAAAAAAACo/0qAmr4nC6Xc/s72-c/sampu%2B1.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4620918976357743641.post-3689627254080902142</id><published>2011-03-11T20:58:00.000-08:00</published><updated>2011-03-18T09:44:52.691-07:00</updated><title type='text'>Naskah Kuno Islam Taram</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tulisan ini merupakan hasil Penelusuran Penulis dan Tim Lektur Keagamaan RI, pada Februari 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;Deskripsi dan Identifikasi : Skriptorium dan Katalogus&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;1. Skriptorium Manuskrip : Nagari Taram dan Surau Tuo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tersebutlah nagari Taram, sebuah kawasan yang sekarang terlihat berkembang dan cukup makmur dari segi sosio-kemasyarakatan dan keagamaan. Dalam perkebangannya selanjutnya, nagari Taram dikenal luas di Luak nan Bungsu (Luak Limapuluh Kota), disamping kampung agamis, sebagai dari daerah pengembangan pariwisata, berupa sungai-sungai kecil yang jernih dan suasana alam yang cukup menawan, yang pastinya digemari Masyarakat. Disamping realitas masa kini tersebut, jauh sebelum zaman Milenium ini, nagari Taram merupakan salah satu Nagari yang menjadi sentra pendidikan Islam yang masyhur di Minangkabau khususnya, sampai-sampai tertulis dalam Surat Keterangan Fakih Shaghir tentang Tuanku Taram, yang konon khabarnya –menurut Faqih Shaghir- berbeda pengamalan dengan Tuanku di Ulakan (maksudnya Syekh Burhanuddin Ulakan), sehingga Tuanku Koto Tuo (guru dari penggerak-penggerak Paderi “Harimau nan Salapan”) perlu mengunjungi Taram buat beberapa waktu (baca lebih lanjut : Hikayat Jalaluddin diterbitkan oleh JJ. Holander, Leiden-Belanda).&lt;br /&gt;Secara geografis, nagari Taram sekarang termasuk ke dalam kecamatan Harau, daerahnya dilingkupi oleh bukit-bukit kecil dan tebing-tebing yang membentang hingga Harau (Sarilamak). Salah satu perbukitan yang unik ialah “Bukik Bulek” (Ind: Bukit Bulat), nampak tegar berdiri, yang konon menurut Historiografi lisan masyarakat Taram bukit ini merupakan tempat tambatan jangkar kapal besar dulunya. Selain itu nagari ini dilewati oleh satu aliran sungai yang cukup besar, sungai ini nantinya saling bertemu dengan sungai-sungai lain hingga menyatu menjadi “Sungai Sinamar” (yang besar), mengalir sangai ke Lautan barat Sumatera. Dibeberapa tempat, selain yang tadi mengalir pula sungai-sungai kecil yang menjadi kawasan favorit di daerah ini, bagi para pelancong khususnya, daerah ini sekarang terkenal dengan “Kapalo Banda” (Indonesia: Kepala Kali Air). Penamaan tempat ini sangat erat kaitannya dengan kisah “Syekh Keramat” yang menjadi penyebar Islam di nagari Taram. &lt;br /&gt;Selain tempat-tempat itu, ada satu lagi yang terpenting di nagari Taram, yaitu Surau Tuo dan Makam Keramat. Keberadaan dua situs ini sekarang dikelola oleh pemerintah nagari sendiri dan menjadi aset keagamaan utama nagari Taram, telah mempunyai hak paten sendiri dalam “Inventarisasi Kebudayaan Sumatera Barat”. Sebagai halnya kisah yang beredar ditengah-tengah masyarakat, dan yang dituturkan oleh keturunan Syekh Keramat (Ramli Dt. Marajo Bosa nan Mudo), bahwa kedatangan Syekh Keramat di daerah Taram ini diperkirakan pada abad ke-17. sebagai lembaga pendidikan Islam tardisional yang berkembang di Minangkabau, maka Syekh Keramat kemudian mendirikan surau cukup besar untuk mengajar ilmu agama yang didatangi oleh orang-orang siak¬¬ (santri. Pen), itulah Surau Tuo yang sudah Tua sebagai namanya. Surau ini dipastikan tidak menurut bentuk aslinya lagi, karena sudah beberapa kali memugaran akibat usianya yang kadung tua. Pernah pula dulu Nagari Taram Banjir, yang tentunya membawa sedikit banyak kerusakan pada kontruksi surau ini. Namun, walau usia sudah tua, kontruksi bangunan yang sudah berubah samasekali, yang namanya Surau Tuo tetap akan terkenang, dan aktifitas keagamaan tetap berlangsung hingga sekarang.&lt;br /&gt;Mengenai Makam Syekh sendiri yang terletak dalam Kubah, merupakan salah satu tujuan penziarah yang datang dari berbagai daerah di Minangkabau, bahkan ada yang datang dari luar. Sebagai dalam tradisi sunni (termasuk tradisi yang dipegang erat NU, Perti-Sumbar, Jami’atul Wasilah-Medah dan Nahdathul Wathan-Lombok) ziarah kemakam ulama besar dan berpengaruh merupakan hal yang dianjurkan sekali, maka semakin ramailah komplek surau Tuo bila tiba musim Ziarah, berkhitmat kepada Tuan Syekh yang konon mempunyai Karomah itu. Tidak hanya satu aliran Tasawwuf yang datang, tapi dari berbagai pengamal Tarikat, Naqsyabandiyah-kah, Syathariyah-kah atau Samaniyah-pun datang berbondong-bondong. Kontruksi Kubah makam inipun sama seperti kebanyakan makam ulama-ulama besar di Darek dan Rantau, Minangkabau umumnya. Di dalam Kubah terdapat 2 makam, yang satu dikenal dengan makam Syekh, yang satu lagi ialah makam anak beliau, Syekh Muhammad Nurdin. Anak beliau ini, konon mencari ayah-nya dari Bengkalis-Riau dan wafat di Taram. Makam tersebut memakai kelambu, sebagai dalam tradisi ahlussunnah, yang bertuliskan jama’ah Syathariyah Koto Tuo- Bukittinggi, yang mengindikan bahwa kelambu makam ini merupakan hadiah dari penziarah yang notabenenya jama’ah Tarikat Naqsyabandiyah Koto Tuo – Bukittinggi, yaitu dari khalifah Syathariyah terkemuka saat ini yaitu Alm. Tuanku Aluma Koto Tuo, dan anaknya Tuanku Ismail Koto Tuo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/--PbQQZbSHAI/TYOL7Z11gZI/AAAAAAAAADQ/QaAPkBiEH08/s1600/Pemandangan%2BSurau%2BTuo%2Bdan%2BBukik%2BBulek%2BTaram.JPG" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="240" width="320" src="http://4.bp.blogspot.com/--PbQQZbSHAI/TYOL7Z11gZI/AAAAAAAAADQ/QaAPkBiEH08/s320/Pemandangan%2BSurau%2BTuo%2Bdan%2BBukik%2BBulek%2BTaram.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto : Surau Tuo Taram&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;2. Silsilah Pewarisan Naskah : “Beliau Keramat” hingga Pewaris saat ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai halnya ulama Tua, Syekh Ibrahim Mufti “Beliau Keramat Taram” yang dideteksi sebagai penyebar Islam di masa awal, tepatnya di pedalaman Minangkabau. Tentu dapat dipastikan beliau mempunyai simpanan naskah-naskah tua, sebagai materi awal ilmu-ilmu keislaman yang beliau ajarkan kepada banyak santri di wilayah ini. Namun belum dapat teridentifikasi apakah naskah itu beliau sendiri yang menulis atau merupakan salinan dari naskah-naskah yang lebih Tua (tentunya menunggu penelitian yang lebih lanjut). Namun perlu juga diketahui mengenai ketokohan Beliau yang di elu-elukan masyarakat Minangkabau tersebut.&lt;br /&gt;Nama terang beliau, sebagai dituturkan oleh keturunannya ialah Syekh Ibrahim Mufti, gelar yang dikenal di Minangkabau seperti “Beliau Keramat”, Tuanku Taram atau Syekh Taram. Beliau aslinya bukanlah darah asli keturunan Minangkabau, tapi merupakan seorang ulama-mubaligh yang datang untuk menyebarkan Islam, bermukim di Taram hingga dinyatakan hilang (raib) dan ditemukan makamnya secara tiba-tiba didekat Mihrab Surau Tuo Taram. Menurut kisah yang diterima turun temurun, Beliau –Syekh Taram- merupakan teman satu angkatan dengan Syekh Abdurrauf Singkel – Aceh (guru Syekh Burhanuddin Ulakan, ulama dan Mufti yang masyhur di masa kerajaan Samudera Pasai Aceh). Satu sumber menyebut Syekh Taram ialah asli Palestina, satu lagi mengungkap beliau asli Medinah, namun yang pasti beliau adalah orang Arab tulen, timur tengah negeri dimasyhurkan. Ketika beliau bertemu ketika mengaji di Medinah (indikasinya ketika menuntut ilmu kepada Syekh Ahmad Qusasi al-Madani, biografinya lihat Azra Jaringan Ulama) Syekh Abdurrauf membawa beliau hingga menapakkan kaki di tanah Melayu (pulau perca) Aceh. Kemudian Syekh Abdurrauf melepas Syekh Ibrahim untuk menyebarkan Islam ke tanah nusantara lainnya, maka berangkatlah Syekh Ibrahim hingga sampai di sebuah kerajaan yang tersohor yakni Siak Indrapura, disana untuk sementara Beliau menetap, berdakwah sampai mempunyai seorang istri dan beberapa orang anak. Setelah lama di Siak, Syekh Irahim melanjutkan perjalanan dakwahnya, berjalan menyelusuri pantai Timur Sumatera, Riau, mengikuti aliran sungai-sungai seperti Kampar dan Indragiri, hingga sampai ke negeri Taram yang konon ketika itu baru dihuni oleh 82 orang. Di sini beliau bermukim untuk selanjutnya, tinggal sementara sebelum menetap di rumah “Angku Bulu Lidah”, kemudian mendirikan pengajian ala Surau Minangkabau, sampai menikah pula dengan seorang dara di Taram. (mengenai perhubungan dengan Syekh Abdurra’uf, ada sebuah cap setempel yang menjadi bukti) &lt;br /&gt;Berbicara mengenai Syekh Taram, pembicaan kita tak akan terlepas dari kekeramatan ulama yang satu ini. Bahkan orang-orang tua sering bercerita mengenai pribadi Beliau yang disertai dengan karomah yang diterima turun temurun, kebanyakan masyarakat hanya mengenal kekeramatan Beliau, tanpa tahu mengenai ketokohan beliau dan aktifitas pendidikan yang Beliau rintis. Begitulah halnya tentang pemegang naskah pertama kali, Tuanku Taram nan Keramat ini.&lt;br /&gt;Sekarang, telah lewat beberapa generasi, masa telah berganti beberapa abad lamanya, nama Syekh Taram tetap harum semerbak keulamaannya, makam beliau tetap menjadi salah satu tujuan tour spritual (ziarah) dari berbagai kawasan Minangkabau. Sedang untuk benda-benda peninggalan Syekh, termasuk tongkat, ember air tembaga dan naskah-naskah tua disimpan oleh keturunan Beliau yang ke-13 yaitu Ramli Datuak Marajo Basa nan Mudo (73 tahun), keturunan dari istri Syekh Taram yang bernama Laut Aceh. Di sinilah barang-barang itu disimpan secara tradisional. Menurut keterangan yang berlaku, disamping tongkat dan ember tembaga, naskah-naskah tua itu disimpan dengan baik dalam peti. Namun di era pergolakan daerah (tahun 50-an), ada seorang haji yang datang ke Taram, menurutnya dia bermimpi bertemu Syekh Taram yang mengisyaratkan untuk melihat naskah-naskah dalam peti itu, nama haji ini ialah Haji Abdul Hadi (haji ke Mekah seangkatan Buya H. MD. Datuak Palimo Kayo Bukittinggi). Rupanya H. Abdul Hadi mampu melunakkan hati pewaris waktu itu, sehingga peti yang tak pernah dibuka-buka itu akhirnya dibuka, dilihat oleh Haji yang mengaku bermimpi. Sampai di sini naskah-naskah itu menjadi tak terawat lagi, diperkirakan banyak naskah yang hilang dikemudian hari. Sehingga yang dapat kita saksikan sekarang hanya sebahagian kecil dan itupun tak berapa yang tinggal.&lt;br /&gt;Dan naskah-naskah inilah kemudian yang menjadi saksi bisu betapa Syekh Taram yang keramat itu bergiat menyebarkan Islam di Sumatera Tengah, mendidik orang¬ siak hingga ke pelosok-pelosok negeri. Terkenang hingga sekarang dimasa modern ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-mcbH169zmAk/TYOKnqpDn1I/AAAAAAAAADA/twNkL1o90Pk/s1600/Ramli%2BDT%2BMarajo%2BBasa%2B71%2Bth.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="320" width="214" src="http://3.bp.blogspot.com/-mcbH169zmAk/TYOKnqpDn1I/AAAAAAAAADA/twNkL1o90Pk/s320/Ramli%2BDT%2BMarajo%2BBasa%2B71%2Bth.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Bpk Ramli Dt. Marajo Basa nan Mudo&lt;br /&gt;Pewaris naskah ke-13 dari Syekh Keramat Taram&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto : Cap Stempel yang diyakini sebagai cap Syekh Abdurra’uf Singkel&lt;br /&gt;Ketika bersurat kepada Syekh Taram (naskah ini masih disimpan pewaris)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Naskah-naskah Taram : Identifikasi awal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;Naskah Fadha’il al-Qur’an&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul   :  Kitab Fadhail al-Qur’an&lt;br /&gt;Penulis   :  &lt;br /&gt;Penyalin  :  &lt;br /&gt;Bahasa/Aksara  :  Arab/Arab&lt;br /&gt;Ukuran Naskah :  &lt;br /&gt;Jumlah Halaman :  &lt;br /&gt;Kertas   :  Eropa&lt;br /&gt;Watermark  :  &lt;br /&gt;Warna tulisan  :  hitam dan merah (sebagai rubrikasi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi Fisik  :&lt;br /&gt;Naskah terdiri dari satu bundelan yang cukup tebal. Kondisi alas naskah cukup baik, walau di beberapa bagian kertas ada yang lengket akibat terkena hujan dan cuaca lembab. Penulisan menggunakan khat naskhi yang kurang rapi namun masih dapat dibaca dengan jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deskripsi Isi  :&lt;br /&gt;Naskah berisi tentang keutamaan-keutamaan membaca al-Qur’an, lebih spesifik dari itu naskah menguraikan tentang Fadhilah-fadhilah surat-surat al-Qur’an. Naskah ini merupakan naskah yang cukup istimewa, sebab keterangan-keterangan yang diberikan didukung kuat dengan hadist-hadist yang dibubuhi sanadnya. Tidak seperti naskah-naskah dan teks lain yang berbicara sama, kebanyakannya tidak menyebutkan sumber-sumber pengambilan (naql) yang autentik sebagai halnya yang terdapat dalam naskah Fadha’il Qur’an versi Taram ini.&lt;br /&gt;Naskah Hikayat Raja-raja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul   :  &lt;br /&gt;Penulis   :  &lt;br /&gt;Penyalin  :  &lt;br /&gt;Bahasa/Aksara  :  Melayu/Arab&lt;br /&gt;Ukuran Naskah :  &lt;br /&gt;Jumlah Halaman :  &lt;br /&gt;Kertas   :  Eropa&lt;br /&gt;Watermark  :  ada&lt;br /&gt;Warna tulisan  :  hitam &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi Fisik  :&lt;br /&gt;Naskah dalam keadaan baik, disebahagian kertas terdapat sobekan-sobekan kecil akibat perawatan yang kurang. Naskah ditulis menggunakan khas Riq’ah yang cukup rapi dan mudah dibaca. Naskah dijilid memakai model kuras, rangkaian kuras disatukan dengan benang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deskripsi Isi  :&lt;br /&gt;Naskah bercerita tentang hikayat raja-raja Islam seperti Harun ar-Rasyid penguasa Bangdad dulu. Gaya penceritaan naskah ini mirip dengan gaya dalam Sejarah Melayu yang ditulis oleh Tun Sri Lanang, namun untuk lebih lanjut nampaknya perlu dilakukan kajian komperatif antara kedua naskah. Episode yang ditawarkan dalam teks mengenai epos kepahlawanan hingga kehidupan pribadi penguasa-penguasa (sultan). Kalau memang didapati dalam naskah terdapat pengaruh Melayu (Siak), berarti memang benar indikasi yang menunjukkan bahwa Syekh Taram berasal dari Siak Inrapura dulunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;N&lt;/span&gt;askah Fiqih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul   :  &lt;br /&gt;Penulis   :  &lt;br /&gt;Penyalin  :  &lt;br /&gt;Bahasa/Aksara  :  Arab/Arab&lt;br /&gt;Ukuran Naskah :  &lt;br /&gt;Jumlah Halaman :  &lt;br /&gt;Kertas   :  Eropa&lt;br /&gt;Watermark  :  ada&lt;br /&gt;Warna tulisan  :  hitam dan merah (sebagai rubrikasi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi Fisik  :&lt;br /&gt;Naskah dalam keadaan baik, walau ada diantara bagian-bagiannya yang terlepas dan sobek karena faktor usia. Ada pula bagian-bagian tertentu yang rusak akibat lembab. Naskah menggunakan khat naskhi yang cukup rapi dan mudah dibaca. Tulisan terkesan kecil dibanding dengan teks lainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deskripsi Isi  :&lt;br /&gt;Naskah tampak lebih istimewa berbicara mengenai fiqih (khususnya rubu’ Ibadat), dibandingkan dengan teks-teks lain yang telah dicetak. Keistimewaan naskah terletak pada penjabaran materi yang kebih dalam, seperti dalam tradisi Hasyiyah pada kitab kuning. Dibanding dengan teks lain yang hanya menguraikan yang pokok saja dibandingkan dengan penjelasan rinci. Naskah berbicara mengenai hukum-hukum fiqih khususnya mengenai ibadah, seperti shalat, puasa, haji dan lainnya. Ada juga indikasi keistimewaan naskah itu ialah adanya penjelasan mengutip pendapan Imam Baidhawi (pengarang Tafsir Jamal Jalalen yang termasyhur) mengenai masalah-masalah yang dibicarakan.&lt;br /&gt;Naskah Asbabun Nuzul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul   :  &lt;br /&gt;Penulis   :  &lt;br /&gt;Penyalin  :  &lt;br /&gt;Bahasa/Aksara  :  Arab/Arab&lt;br /&gt;Ukuran Naskah :  &lt;br /&gt;Jumlah Halaman :  &lt;br /&gt;Kertas   :  Eropa&lt;br /&gt;Watermark  :  ada&lt;br /&gt;Warna tulisan  :  hitam dan merah (sebagai rubrikasi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi Fisik  :&lt;br /&gt;Naskah dalam kondisi cukup baik, kendati halamannya telah bercerai berai termakan usia. Naskah menggunakan khat Naskhi kurang rapi namun masih jelas dibaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deskripsi Isi  :&lt;br /&gt;Naskah berbicara mengenai asbabun Nuzul (sebab-sebab turun)-nya ayat-ayat al-Qur’an. Belum ditemui indikasi apakah naskah ini merupakan salinan dari karya as-Suyuthi yang berjudul Asbabun Nuzul (dicetak dipinggir Tarsir Jalilain) atau tidak. Keberadaan naskah yang menguraikan asbabun nuzul memberi kesan bahwa Syekh Taram dulunya memang masyhur dalam bidang keilmuan, apatah lagi dalam Tafsir yang mencakup asbabun Nuzul-ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskah Hadist (bagian I, II dan III)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul   :  &lt;br /&gt;Penulis   :  &lt;br /&gt;Penyalin  :  &lt;br /&gt;Bahasa/Aksara  :  Arab/Arab&lt;br /&gt;Ukuran Naskah :  &lt;br /&gt;Jumlah Halaman :  &lt;br /&gt;Kertas   :  Eropa&lt;br /&gt;Watermark  :  ada&lt;br /&gt;Warna tulisan  :  hitam dan merah (sebagai rubrikasi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi Fisik  :&lt;br /&gt;Naskah terdiri dari satu bundelan tebal, yang dibagi 3 menurut teksnya masing-masing. Naskah dalam kondisi cukup baik, namun halaman-halaman naskah sebahagian besar sudah terlepas dari kurasnya. Naskah ditulis dengan khat Naskhi yang kurang begitu rapi, namun masih dapat dibaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deskripsi Isi  :&lt;br /&gt;Naskah merupakan satu kumpulan hadist-hadist yang disertai dengan sanadnya masing-masing. Kebanyakan hadist yang terdapat dalam naskah berbicara tentang hukum-hukum fiqih.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4620918976357743641-3689627254080902142?l=surautuo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surautuo.blogspot.com/feeds/3689627254080902142/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surautuo.blogspot.com/2011/03/naskah-kuno-islam-taram-deskripsi-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4620918976357743641/posts/default/3689627254080902142'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4620918976357743641/posts/default/3689627254080902142'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surautuo.blogspot.com/2011/03/naskah-kuno-islam-taram-deskripsi-dan.html' title='Naskah Kuno Islam Taram'/><author><name>Apria Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08209012488814467728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/--PbQQZbSHAI/TYOL7Z11gZI/AAAAAAAAADQ/QaAPkBiEH08/s72-c/Pemandangan%2BSurau%2BTuo%2Bdan%2BBukik%2BBulek%2BTaram.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4620918976357743641.post-2626901870765983183</id><published>2011-03-11T20:49:00.000-08:00</published><updated>2011-03-15T01:08:14.409-07:00</updated><title type='text'>Tarikat Samaniyyah di Minangkabau: Seputar Tokoh dan Literatur</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;Tulisan Ini diterbitkan dalam Jurnal Tsaqafi 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Apria Putra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;1. Pendahuluan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masuknya Islam ke Minangkabau, umumnya ke nusantara, tak terpungkiri diwarnai oleh unsur-unsur Tasawwuf yang sangat kental. Hal ini dikarenakan ulama-ulama yang pernah hadir menyebarkan Islam di Pulau perca ini merupakan ulama-ulama Sufi belaka. Memang sejarah tidak mencatat bagaimana aktifitas ulama-ulama tersebut ketika bermukim di negeri ini ketika awal penyebaran Islam di abad ke VII masehi tersebut. Namun fakta yang nyata kita peroleh ketika tertulisnya nama-nama besar ulama mulai dari abad ke-XV dalam sejarah, yang mana ulama-ulama tersebut terbilang sebagai ulama-ulama Sufi terkemuka. &lt;br /&gt;Menurut keterangan Syekh Yusuf an-Nabhani mengutip kepada Ibnu Batutah dalam Tuhfatun Nazhar-nya, diabad-abad tersebut telah ada ulama Tasawwuf yang besar di negeri Aden (Yaman), mempunyai keramat yang masyhur sampai dikatakan beliau – ulama tersebut mampu bercakap-cakap dengan orang yang telah wafat , dan diakhir nama ulama tersebut tertulis “al-Jawi”, indikasi yang nyata bahwa beliau merupakan orang Melayu. Masa tersebut pula nama-nama Waliyullah yang sembilan orang di negeri Jawa, Wali Songo, yang merupakan penyebar-penyebar Islam dengan Tasawwuf tingkat tinggi, sebagai halnya tertulis dalam Primbon-primbon tua itu. Tak pula asing nama-nama seperti Hamzah Fansuri, pengarang sya’ir mistik Melayu yang indah menawan; Syamsuddin Sumatrani, sufi penganut martabat lima yang menjadi penasehat raja Aceh kala itu; Syekh Nuruddin ar-Raniri, ulama Ranir (India) yang memapankan karirnya di Aceh sebagai penolak wujudiyah; Syekh Abdurra’uf Singkel Syiah Kuala, ulama besar yang masyhur terbilang; dan yang fenomenal Tuan yang mulia Abu Muhassin Syekh Yusuf Tajul Khalwati Tuanta Samalaka ri Goa (Mahkota Tharikat Khalwatiyah - Tuan guru yang agung dari Goa), berpuluh tahun menuntut ilmu di Mekkah belajar berbagai Tharikat sekaligus berjuang di tanah air hingga wafat di Tanjung Harapan – Afrika Selatan. &lt;br /&gt;Sedang di Minangkabau sendiri, negeri yang masyhur dengan ulama-ulamanya, tersebut pula nama besar Syekh Burhanuddin Ulakan, sudah ratusan tahun lalu meninggal dunia, namun tak henti-hentinya orang berziarah ke makamnya (bershafar) sebagai bukti pengaruh beliau yang tiadakan pudar sama sekali. Tersebut pula Tuan Syekh Keramat – Taram Payakumbuh, masyhur bertuah, disebut sebagai teman seperjanan Syekh Abdurra’uf Singkel ketika mengaji di Madinah kepada Tuan Syekh Ahmad Qusyasi. Di aliran sungai Kampar, terdapat pula makam Syekh Burhanuddin Kuntu, yang terus diziarahi masyarakat banyak hingga sekarang. Kemudian terkemuka nama-nama besar di abad ke XVIII hingga abad XX, seperti Syekh Maoelana Soefi (1738-1818), Syekh Abdurrahman “Beliau Batu Hampar” Payakumbuh (w. 1899 – usia 120 th), Syekh Muhammad Thahir Barulak, Maulana Syekh Ibrahim Kumpulan (w. 1914 – usia 150 th), Syekh Abdul Ghani Batu Bersurat (w. 1961 – usia 150 th), Syekh Ja’far Kampar dan lain-lainnya. &lt;br /&gt;Berbicara mengenai Tasawwuf, maka kita tidak akan terlepas dari membicarakan Tarikat, karena Tarikat merupakan suatu kearifan ber-Tasawwuf, ibaratkan dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Besarnya pengaruh Syekh-syekh Tasawwuf terkemuka tersebut,  sehingga dikatakan oleh Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi ketika membahas Tharikat dalam Izhar-nya bahwa Tarikat itu telah menjadi pakaian di negeri Minangkabau.  Begitu pula laporan seorang petinggi Belanda saat itu, K. F. Holle, yang mengkhawatirkan kebangkitan Tarikat yang begitu pesat yang berpotensi menggeser kedudukan Belanda.   Salah satu Tarikat terkemuka yang masih terlihat kabur dalam catatan-catatan yang ada ialah Tarikat Samaniyah. Sebuah Tarikat yang cukup berjasa ketika perlawanan dengan Belanda, bahkan menurut salah satu sumber merupakan salah satu Tarikat yang mula-mula masuk ke Indonesia dan memperoleh pengikut besar di bumi nusantara ini.  Maka di sini kita akan melihat sekilas mengenai tokoh dan Literatur Tarikat Samaniyah di Minangkabau, negeri gudangnya ulama-ulama Tasawwuf itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Akar Samaniyah : Dari Perjalanan murid-murid Jawi ke Haramain hingga aktifitas Surau-surau Sufi di Minangkabau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga beberapa dekade awal abad ke XX, Mekah merupakan tempat yang ramai dikunjungi untuk menuntut ilmu, selain untuk berhaji. Zawiyah-zawiyah termayhur banyak berdiri disekitar Mesjidil Haram, para Syekh-syekh ternama banyak yang membuka pengajian di kawasan Mesjid sendiri. Sehingga Mekah sejak dahulunya menjadi pusat ibadah dan ilmu pengetahuan, malah mungkin lebih dikenal ketimbang al-Azhar.  Al-Haramain merupakan tempat berkumpulnya kaum Muslimin dari berbagai penjuru dunia, beberapa banyak ulama-ulama yang datang ke Mekkah buat mengajar sekaligus memperoleh barokah di kota suci tersebut.  Banyak dari kalangan muslim yang mengidolakan Mekah untuk tempat menuntut ilmu, walaupun hanya beberapa waktu saja, mengambil berkah istilahnya. Adapula yang hidup menahun di sana, memenuhi dada dengan ilmu, kemudian pulang dengan membawa berbagai ijazah tanda telah diakui keulamaannya. Hingga muncul pameo ditengah-tengah masyarakat, kalau belum mengaji ke Mekah, ilmunya belum sempurna, keulamaannya belum sah. Begitulah posisi Mekah bagi kalangan penuntut ilmu dan Muslim umumnya.&lt;br /&gt;Dengan mengunjungi berbagai halaqah dan Zawiyah Sufi  di Mekkah saat itu, yang banyaknya menjamur seantero tanah haram, para penuntut ilmu akan dihidangkan dengan berbagai ilmu pengetahuan agama, dari berbagai Mazhab, berbagai ulama dengan bidang keilmuannya masing-masing (takhussus)  dan dari berbagai penjuru dunia. Sehingga dapat dikatakan mereka –para penuntut ilmu itu- telah bersinggungan dengan Jaringan Ulama Internasional, dengan pusatnya kala itu ialah Mekkah dan Madinah.  &lt;br /&gt;Posisi mereka setelah pulang ke kampung halamannya –Minangkabau- menjadi ulama terkemuka, dan ilmu yang mereka bawa pulang, tersimpan dalam sudur, bukan sekedar ilmu yang di dapat lingkungan bawah, kalangan lokal, lebih dari itu ilmu yang mereka peroleh ialah pengetahuan agama yang kosmopolitan sebagaimana jaringan global yang mereka bentuk ketika menuntut ilmu dari berbagai Syekh terkemuka di Haramain. Di samping itu, keilmuan mereka mencapai keotentikan yang bisa diuji, lewat sanad keilmuan dari para musnid, ulama-ulama besar di Mekkah dan Madinah.  Dengannya mata rantai keilmuan itu bersambung (musalsil), tiada terputus (munqathi’), sampai kepada tokoh-tokoh ulama salaf yang shaleh, hingga sampai kepada Rasulullah.&lt;br /&gt;Sudah menjadi tradisi tersendiri di Minangkabau, apabila ada seorang siak yang telah alim, apatah lagi yang telah pula menimba ilmu di Mekkah dan mendapat ijazah, maka masyarakat atau kaum sukunya akan bergotongroyong membuatkan surau buatnya untuk mengajar agama. Sampai beberapa dekade awal abad ke-20 tradisi itu masih berlaku. Hingga terkemukalah Minangkabau menjadi gudang ulama, setiap kampung dan pelosok-pelosok negeri mesti berdiri sebuah surau atau lebih, dengan berdirinya surau itu sendiri maka mesti ada ulama di daerah itu. &lt;br /&gt;Di Mekkah sendiri, selain mempelajari hal ihwal syari’at sedalam-dalamnya, dengan berkhitmat kepada syekh-syekh terkemuka tersebut, adalah murid-murid Jawi  juga memprioritaskan untuk mengikuti pondok-pondok sufi (zawiyah) yang ramai bertebaran di Haramain. Aktifitas mereka di pondok sufi itu belajar Tasawwuf, terutama sekali mengambil bai’at dan bersuluk dalam salah satu Tarikat mu’tabarah. Dan salah satu Tarikat yang digemari pada abad XVII dan XVIII itu ialah Tarikat Samaniyah, yaitu Tarikat yang dikembangkan oleh seorang Sufi masyhur, ulama selaku penjaga Makam Rasulullah di Madinah, yaitu Syekh Muhammad bin Abdul Karim Saman (1719-1770).&lt;br /&gt;Mengenai pribadi Syekh Muhammad Saman sendiri, beliau merupakan seorang tokoh Sufi terkemuka di Abad XVIII, bahkan dikatakan bahwa Beliau merupakan Qutub Auliya’ (Pusaran Wali-wali) yang tersirat dalam berbagai kisah-kisah kekeramatan yang banyak tertulis dalam Hikayat Muhammad Saman.  Syekh Saman mempelajari berbagai Tarikat kepada Syekh-syekh besar di zamannya. Selain sebagai Syekh Tarikat yang berpengaruh, beliau juga dikenal ‘alim dalam fiqih yang dipelajarinya dari lima ulama Fiqih terkemuka yaitu Muhammad ad-Daqaq, Sayyid ‘Ali al-Atthar, ‘Ali al-Kurdi, ‘Abdul Wahab al-Thantawi dan Sayyid Hilal al-Makki. Di bidang Tasawwuf dan Tauhid, guru Syekh Saman yang paling mengesankan adalah Mustafa bin Kamaluddin al-Bakri (w. 1749), seorang penulis produktif dan Syekh Tharikat Khalwatiyah dari Damaskus. Selain itu as-Samani juga pernah belajar Tharikat Khalwatiyah kepada dua orang syekh terkemuka di Mesir, yaitu Muhammad bin Salim al-Hifnawi dan Mahmud al-Kurdi.  Syekh lain yang sangat berpengaruh terhadap ajaran dan praktek-praktek Syekh Saman ialah Syekh Abdul Karim an-Nablusi (w. 1731) , seorang Syekh Besar Naqsyabandiyah dan pembela jitu Ibnu al-‘Arabi dan al-Jili.  Dari berbagai syekh terkemuka yang pernah menjadi gurunya, maka Syekh Muhammad Saman setidak telah mengambil 4 macam Tarikat, yaitu Khalwatiyah, Qadiriyah, Naqsyabandiyah dan Syadziliyah. Dari berbagai teknik-teknik Tarikat inilah Syekh Muhammad Saman merumuskan sebuah metode Zikir, yang kemudian hari dikenal dengan Tarikat Saman, atau Tarikat Samaniyah.&lt;br /&gt;Selain ulama terkemuka, Syekh Saman juga menjabat posisi penting di Madinah selaku penjaga Makam Rasulullah. Hal ini paling tidak telah membuat Syekh Saman untuk lebih leluasa mengajarkan Tarikat Saman-nya, karena setiap waktu beliau akan dikunjungi oleh berbagai tamu dari berbagai penjuru dunia jika akan menziarahi Makam Rasulullah. Maka tidak mengherankan bila dalam waktu singkat, Syekh Saman telah memiliki murid-murid dari berbagai benua; dari Maghrib, Afrika Timur sampai ke India dan Nusantara. Di berbagai kota di Hijaz dan Yaman berdirilah Zawiyah Samaniyah.  Tak terpungkiri dengan posisi dan dedikasi Syekh Muhammad Saman yang sedemikian rupanya telah menarik beberapa murid jawi untuk mengambil ilmu dan berba’iat kepadanya, seperti salah seorang yang sangat terkemuka dan menjadi ulama serta tenar namanya lewat karya monumentalnya Siyarus Salikin ialah Arif billah Syekh Abdus Shamad al-Falimbani (abad 18),  melalui ulama yang satu ini kita memperoleh gambaran terbaik tentang ajaran Syekh Saman dalam bahasa Melayu. &lt;br /&gt;Di dalam Sairus Salikin ila Tariq Saadat Sufiyah disebutkan silsilah Tarikat Samaniyah dari Syekh Abdus Shamad al-Falimbani sebagai Berikut:&lt;br /&gt;1. Syekh Abdus Shamad al-Jawi al-Falimbani, mengambil dari:&lt;br /&gt;2. Sayyidi Syekh Muhammad bin Abdul Karim Saman al-Qadiri al-Khalwati al-Madani, mengambil dari:&lt;br /&gt;3. Sayyidi Bakri, mengambil dari:&lt;br /&gt;4. Syekh Abdul Latief, mengambil dari:&lt;br /&gt;5. Syekh Mustafa Afandi al-Adarnawi, mengambil dari:&lt;br /&gt;6. Syekh ‘Ali Afandi Qurabas, mengambil dari:&lt;br /&gt;7. Syekh Isma’il al-Jarawi, mengambil dari:&lt;br /&gt;8. Sayyidi Muhyiddin al-Qisthani, mengambil dari:&lt;br /&gt;9. Syekh Sya’ban Afandi al-Qisthamuni, mengambil dari:&lt;br /&gt;10. Syekh Halabi Sultanul Qura’ (Jamal Khalwati), mengambil dari:&lt;br /&gt;11. Bir Muhammad Azibkhani, mengambil dari:&lt;br /&gt;12. Syekh Abu Zakaria as-Syiruwani al-Bakuni, mengambil dari:&lt;br /&gt;13. Bir Ashdaruddin, mengambil dari:&lt;br /&gt;14. Syekh Izzuddin, mengambil dari:&lt;br /&gt;15. Syekh Muhammad Mir Khalwati, mengambil dari:&lt;br /&gt;16. Akha Muhammad al-Balisi, mengambil dari:&lt;br /&gt;17. Syekh Abi Ishaq Ibrahim az-Zahid al-Bukalani, mengambil dari:&lt;br /&gt;18. Syekh Jamal al-Ahuri, mengambil dari:&lt;br /&gt;19. Syekh Syihabuddin at-Tibrisi, mengambil dari:&lt;br /&gt;20. Syekh Rukanuddin Muhammad Nahas, mengambil dari:&lt;br /&gt;21. Quthbuddin Abhari, mengambil dari:&lt;br /&gt;22. Syekh Abi Najib As-Syuhuwardi, mengambil dari:&lt;br /&gt;23. Syekh Umar al-Bakri, mengambil dari:&lt;br /&gt;24. Syekh Wajihuddin al-Qaqithi, mengambil dari:&lt;br /&gt;25. Syekh Muhammad al-Bakri, mengambil dari:&lt;br /&gt;26. Syekh Muhammad ad-Dinuri, mengambil dari:&lt;br /&gt;27. Sayyidi Mumsad ad-Dinuri, mengambil dari:&lt;br /&gt;28. Sayyidi Junaid al-Baghdadi, mengambil dari:&lt;br /&gt;29. Sayyidi Sirri Siqthi, mengambil dari:&lt;br /&gt;30. Sayyidi Ma’ruf al-Kharkhi, mengambil dari:&lt;br /&gt;31. Sayyidi Daud ath-Tha’i, mengambil dari:&lt;br /&gt;32. Sayyidi Habibul ‘Ajami, mengambil dari:&lt;br /&gt;33. Sayyidi Hasan al-Bashri, mengambil dari:&lt;br /&gt;34. Amirul Mu’minin Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib KW, mengambil dari:&lt;br /&gt;35. Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. &lt;br /&gt;Begitulah halnya murid-murid jawi. Niscaya sebahagian murid-murid ini sesampainya di nusantara membuka pula pengajian untuk mengamalkan dan mengajarkan ilmu yang telah sekian lama diperoleh di Haramain, tak terkecuali Tharikat Samaniyah, yang kala itu hanya dikenal dengan nama Zikir Samman saja. Tharikat Saman setelah itu sangat populer di tengah-tengah masyarakat. Sampai-sampai ketika masuknya penjajah ke nusantara, maka sebahagian para pejuang yang mencoba mengusir bangsa eropa itu ialah para ahli Tharikat Samman, sebagaihalnya yang diceritakan dalam Sya’ir Perang Menteng. Salah satu kutipan isinya yaitu:&lt;br /&gt;Delapan Belas harinya sabtu&lt;br /&gt;Bulan Sya’ban ketika waktu&lt;br /&gt;Pukul empat jamnya itu&lt;br /&gt;Haji berzikir di pememarakat tentu&lt;br /&gt;Haji zikir di pengadapan&lt;br /&gt;Berkampung bagai mengadap ayapan&lt;br /&gt;Tidaklah ada malu dan sopan&lt;br /&gt;Ratib berdiri berhadapan&lt;br /&gt;La ilaha illallah dipalukan ke kiri&lt;br /&gt;Kepada hati nama sanubari&lt;br /&gt;Datanglah opsir meriksa berdiri&lt;br /&gt;Haji berangkat opsirpun lari &lt;br /&gt;Di Minangkabau sendiri, Tharikat Samaniyah sendiri telah menampakkan dirinya sejak awal abad ke-19. menurut  catatan yang ada, salah seorang ulama yang mengembangkannya ialah Syekh Muhammad Sa’id Padang Bubus Pasaman , guru dari yang mulia Syekh Ibrahim Kumpulan. Lewat ulama-ulama dan surau-surau sufi setelah itu Tarikat Samaniyah berkembang pesat. Kehadiran Tarikat Saman semakin terlihat dengan tampilnya Syekh Abdurrahman al-Khalidi Kumango, seorang ulama masyhur yang disegani kala itu. Dengan surau Kumango beliau mengajarkan Tarikat Saman dan salah satu teknik silat tradisional Minangkabau kepada murid-muridnya yang banyak datang dari segenap penjuru Minangkabau. Menurut cacatan M. Sanusi Latief, pusat-pusat Tarikat Samaniyah di Minangkabau antara lain:&lt;br /&gt;1) Kumango, Batu Sangkar &lt;br /&gt;2) Belubus &lt;br /&gt;3) Labuah Gunuang, Tuanku Mudo Josan&lt;br /&gt;4) Ateh Aka, Payo Basuang&lt;br /&gt;5) Tarantang &lt;br /&gt;6) Batu Tanyoh &lt;br /&gt;7) Mungka&lt;br /&gt;8) Lubuk Bangku, Sarilamak&lt;br /&gt;9) Aia Putiah, Harau&lt;br /&gt;10) Barulak, Salimpauang&lt;br /&gt;11) Sungai Patai, Sungayang&lt;br /&gt;12) Koto Panjang Lampasi &lt;br /&gt;13) Salido, Painan&lt;br /&gt;14) Padang Bubus, Bonjol&lt;br /&gt;15) Kampung Melayu, Bayang&lt;br /&gt;16) Bungo Pasang, Salido Kaciak, Painan&lt;br /&gt;Dari aktifitas-aktifitas surau Tarikat itulah nantinya terbentuk jaringan guru-murid, yang memperkuat penyebaran Tarikat-tarikat di Minangkabau, begitupula Tarikat Samaniyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;3. Melirik Jaringan Tarikat Samaniyah di Minangkabau : Sekilas mengenai Ulama Saman dan koneksi keilmuannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap ilmu mesti pula ada mata rantai yang saling berhubungan. Jika berbica mengenai mata rantai keilmuan itu maka kita tidak akan terlepas dari hubungan istimewa antara guru dan murid, bahkan karena sakin istimewanya hubungan ini tidak pisah terputus sama sekali, walaupun murid atau guru itu telah wafat. Salah satu sebab hubungan guru murid ini takkan terputus ialah karena hubungan ini dibentuk oleh ikatan rohani yang sangat kuat. Begitulah halnya yang berlaku dalam transmisi keilmuan islam sejak dahulunya, di mana murid-murid akan benar-benar menjaga isnad ilmu yang diperolehnya dari guru-gurunya itu. Namun akhir-akhir ini, zaman modern dikatakan orang, perhatian penuntut ilmu tidak lagi mementingkan hal tersebut. Salah satu keilmuan yang masih mempertahankan isnad (mata rantai) itu hingga sekarang ialah ilmu Tarikat sebagai sebuah kearifan bertasawwuf. Di mana melalui isnad atau silsilah inilah nantinya kita akan menemui jaringan keilmuan islam yang kompleks dan saling berkait.&lt;br /&gt;Dalam hal Tarikat, yaitu Tarikat Samaniyah di Minangkabau yang kita bicarakan saat ini, untuk mengetahui jaringan keilmuannya mestilah kita mengenal tokoh-tokoh terkemuka dalam mengembangkan ajaran Samman di tanah Andalas ini. Di antara tokoh-tokoh Tarikat Samaniyah yang masyhur di Minangkabau itu ialah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Syekh Abdurrahman al-Khalidi Kumango (wafat 1927)&lt;br /&gt;Beliau diimasyhurkan orang dengan “Beliau Kumango”. Beliau dikenal sebagai pembawa Tharikat Saman, walaupun sebelum masanya telah ada indikasi bahwa Samaniyah telah berkembang, namun dimasa “Beliau Kumango” inilah Tharikat Samaniyah mencapai kejayaannya, Samaniyah sering dipesertakan dengan pengajaran Tharikat Naqsyabandiyah. Ayah dari “Beliau Kumango” ini juga terkemuka alim, namanya Khatib ‘Alim Kumango.&lt;br /&gt;Nama besar “Beliau Kumango” selain dalam bidang Tharikat Samaniyah, Beliau juga merupakan guru besar sekaligus pencipta Silat Tharikat “Silek Kumango”, silat terkemuka di Minangkabau. Perjalanan menuntut ilmu “Beliau Kumango” terlihat unik, pada mulanya beliau adalah parewa, dan akhirnya menjadi Syekh Besar dan Ulama yang dihormati.&lt;br /&gt;Beliau mengambil Tharikat Samaniyah di Madinah, kepada Syekh Muhammad Ridhwan al-Madani. Murid-murid Beliau “Syekh Kumango” inilah yang memainkan peranan penting menyebarkan Tharikat Samaniyah di Dataran tinggi Minangkabau. Namun tak banyak ditemui cacatan perihal nama murid-murid Beliau ini.&lt;br /&gt;Garis silsilah Tarikat Saman yang Beliau ajarkan ialah:&lt;br /&gt;1) Syekh Abdurrahman al-Khalidi Kumango, mengambil dari:&lt;br /&gt;2) Sayyidina Muhammad Amin bin Ahmad Ridhwan Madinah, mengambil dari:&lt;br /&gt;3) Sayyidina Abu Hasan, mengambil dari:&lt;br /&gt;4) Syekh Hasib, mengambil dari:&lt;br /&gt;5) Syekh Muhammad Saman al-Madani al-Khalwati, mengambil dari:&lt;br /&gt;6) Arif Billah Sayyidi Muftafa Bakri, mengambil dari:&lt;br /&gt;7) Al-Imam Syekh Abdul Latif, mengambil dari:&lt;br /&gt;8) Syekh Muftafa Afandi, mengambil dari:&lt;br /&gt;9) Syekh Ismail al-Jarawi, mengambil dari:&lt;br /&gt;10) Sayyidi Muhammad ad-Din al-Qisthamuni, mengambil dari:&lt;br /&gt;11) Syekh Sya’ban Afandi al-Qisthamuni, mengambil dari:&lt;br /&gt;12) Al-Masyhur Jamal Khalwati, mengambil dari:&lt;br /&gt;13) Bir Muhammad an-Nakhari, mengambil dari:&lt;br /&gt;14) Syekh Abu Zakariya al-Syiruni, mengambil dari:&lt;br /&gt;15) Bir Sadhruddin, mengambil dari:&lt;br /&gt;16) Amir Khalwati, mengambil dari:&lt;br /&gt;17) Akha Muhammad al-Basi, mengambil dari:&lt;br /&gt;18) Syekh Abil Haq Ibrahim al-Kilani, mengambil dari:&lt;br /&gt;19) Syekh Jamaluddin al-Haruwi, mengambil dari:&lt;br /&gt;20) Syihabuddin at-Tibriri, mengambil dari:&lt;br /&gt;21) Rakanuddin Muhammad an-Najasi, mengambil dari:&lt;br /&gt;22) Qathbuddin al-Abhuri, mengambil dari:&lt;br /&gt;23) Syekh Najib as-Suhrudi, mengambil dari:&lt;br /&gt;24) Umar al-Bakri, mengambil dari:&lt;br /&gt;25) Syekh Wajhuddin al-Qith’i, mengambil dari:&lt;br /&gt;26) Syekh Muhammad al-Bakri, mengambil dari:&lt;br /&gt;27) Syekh ad-Dinuri, mengambil dari:&lt;br /&gt;28) Sayyid Junaid al-Baghdadi, mengambil dari:&lt;br /&gt;29) Sayyid Sirri Siqthi, mengambil dari:&lt;br /&gt;30) Sayyidi Ma’ruf al-Kharki, mengambil dari:&lt;br /&gt;31) Sayyid Daud ath-Tha’i, mengambil dari:&lt;br /&gt;32) Amirul Mukminin Sayyidina Ali bin Abi Thalib, mengambil dari:&lt;br /&gt;33) Rasulullah Muhammad Shallahu ‘alaihi wa sallam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lukisan : al-Marhum Maulana Syekh Abdurrahman Kumango&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Maulana Syekh Mudo Abdul Qadim Belubus (wafat 1957)&lt;br /&gt;Beliau masyhur terbilang ulama atas jalur Tasawwuf yang besar, teman pula bagi tokoh ulama dari kaum Tua Syekh Sulaiman ar-Rasuli Candung. Pernah mengikuti pertemuan Syekh-syekh Tarikat Naqsyabandiyah di Bukittinggi tahun 1954. Beliau sangat terkemuka di Luak nan Bonsu Luak Limapuluh kota. Perjalanan menuntut Tasawwuf dijalaninya semasa masih belia, beliau pernah mengaji kepada Tuan Syekh Abdurrahman Batu Hampar (wafat 1899) yang terkenal itu. Dari Syekh Batu Hamparlah Beliau menerima kaji Naqsyabandiyah sampai memperoleh gelar “Syekh Mudo” sebagai prestasinya dibidang Tharikat. Kemudian secara berturut-turut belajar Tasawwuf atas jalur Naqsyabandiyah di-6 tempat terkenal, di antaranya di Kumpulan, yakninya kepada yang Mulia Syekh Ibrahim Kumpulan; Padang Bubus Bonjol; Padang Kandih; Simabur; Kumango dan lainnya. Di Kumangolah beliau menerima Tharikat Samaniyah. Muridnya sangat banyak dan umumnya menjadi ulama terkemuka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto : Maulana Syekh Mudo Abdul Qadim Belubus Payakumbuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Tuan Syekh Beringin (wafat pertengahan abad XX)&lt;br /&gt;Beliau berasal dari Luak Limapuluh kota. Beliau salah satu di antara murid Syekh Mudo Abdul Qadim yang terkemuka, dari segi keilmuan dan kekeramatan. Paruh kedua hidupnya beliau menetap di Deli, Sumut. Beliaupun terkenal sebagai pejuang di zaman Jepang, ketika tentara Jepang mengepungnya di Surau Suluk Tebing Tinggi Deli, tiba-tiba saja hamparan halaman dan surau itu berubah menjadi danau, sehingga tentara Jepang itu pulang saja dengan tangan hampa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Syekh Ibrahim Bonjol (masih hidup sampai era-80-an)&lt;br /&gt;Beliau berasal Bonjol-Pasaman. Beliau merupakan khalifah Syekh Belubus yang cukup prestisius. Beliau memiliki komplek belajar Tharikat yang cukup makmur di Medan, diberinya nama “Baitul Ibadah”. Salah seorang khalifahnya juga terkemuka di Jakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto : Syekh Ibrahim Bonjol di Binjai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Khalifah Rajab Batu Bajarang Solok&lt;br /&gt;Eksistensinya mengajar Tharikat Saman merupakan indikasi dari sebuah buku bertuliskan tangan beliau: Kitab Segala Rahasia yang halus-halus. Beliau pernah berguru kepada Syekh Muhammad Nur Qadhi Langkat di Sumut (asal Muara Labuh, Solok).  Kemudian berguru secara khusus kepada yang Mulia Tuan Syekh Abdul Wahab Rokan al-Khalidi Naqsyabandi Rokan, akhirnya menerima gelar Khalifah dan mengajar di Batu Bajarang, dengan surau yang cukup besar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Syekh Haji Mahmud Abdullah “Beliau Tarantang” (w. 1986)&lt;br /&gt;Beliau ulama terkemuka di Tarantang, Harau, Luak Limapuluh kota. Dalam hal Tarikat Beliau mengambil dari Syekh Yahya Magek (guru Syekh Sulaiman ar-Rasuli). Selain alim dalam kitab-kitab Kuning dan Tarikat, beliau juga masyhur pandeka. Murid-murid beliau juga banyak, yang setiap tahunnya mengadakan pertemuan besar dalam acara Penutupan Khalwat dengan mengundang pejabat-pejabat limapuluh kota.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto : Syekh Mahmud Abdullah Tarantang &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Syekh Muhammad Kanis Tuanku Tuah (w. 1989)&lt;br /&gt;Beliau masyhur di Luak nan Bungsu selaku ulama. Beliau mendirikan Madrasah Tarbiyah Islamiyah di Batu Tanyoh sebagai wadah mengajarkan ilmu-ilmu islam. Pada usia mudanya mengaji kepada Syekh Ibrahim Harun Tiakar, dan secara khusus belajar Tarikat kepada Syekh Mudo Abdul Qadim Belubus. Selain Samaniyah, beliau juga merupakan Syekh Naqsyabandiyah yang kuat memegang prinsip. salah satu karangannya ialah kitab Izzatul Qulub bima ja’a bihin Naqsyabandiyah. Murid-muridnya banyak, sampai saat ini dimasa kepemimpinan anaknya Buya Zed Dt. Bungkuak. Bahka sebahagian orang-orang yang bersuluk berasal dari Banten. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Tarikat Samaniyah dalam Literatur keagamaan di Minangkabau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai saat ini hanya sedikit referensi Tharikat Saman yang kita temui, ataukah banyak diantara naskah-naskah itu yang tak sampai ke tangan kita. Mengenai Manaqib Saman, begitu pula Ratib Saman belum lagi diperoleh keberadaannya di Minangkabau, ada indikasi dulunya Ratib Saman berkembang luas mengingat penuturan oral orang tua-tua dulu ada orang yang berzikir sambil berdiri. Tapi untuk Palembang naskah Manaqib Saman sangat populer. Hingga saat ini beberapa Literatur yang khusus berbicara Samaniyah, yang dapat ditulis di sini yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Kaifiyah Khatamul Qur’an&lt;br /&gt;sebuah kitab anonim kumpulan karangan-karangan ulama Melayu yang tidak diketahui lagi siapa penulisnya. Di dalamnya ditemui ritual ringkas Ratib Saman, selain itu juga ada penjelasan mengenai Tharikat Syathariyah. Kitab ini masih di cetak di Jakarta, oleh al-Haramain.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Sairus Salikin fi Tharikatis Saadat as-Sufiyyah&lt;br /&gt;karangan Syekh Abdus Shamad al-Palimbani. Kitab yang sangat populer di Indonesia dalam bidang Tasawwuf, terutama dalam hal Tharikat Samaniyah. Kitab ini terdiri dari dua jilid tebal, dengan 4 juzu’ (bagian); beraksara Arab berbahasa Melayu. Sumber penulisan karya ini mencakup puluhan kitab-kitab populer di kalangan ahli Tasawwuf, terutama karya-karya Syekh Saman seumpama an-Nafahat Ilahiyah. Kitab ini terbit di berbagai wilayah, dari Kairo hingga Indonesia. Dipakai luas, dari Pattani (thailand), Malaysia dan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Risalah Tsabitul Qulub&lt;br /&gt;Karangan Syekh Muda Abdul Qadim Belubus Payakumbuh. Risalah ini terdiri dari beberapa jilid kecil, namun sangat padat isi, hampir mencakup selurus masalah-masalah Tharikat, khususnya Saman. Kitab ini masih tersembunyi, belum terpublikasi secara umum, sebab banyak murid-murid Syekh Belubus yang menyimpannya secara rahasia. Sampai saat ini, baru ditemui 3 jilid buku ini. Isinya:&lt;br /&gt;a. Risalah Tsabitul Qulub (jilid I). Secara praktis buku ini ditulis untuk menolak keraguan dalam mengamalkan zikir-zikir dan wirid-wirid dalam Tharikat, sehingga si murid tetap hati, kuat memegang Tharikat, tidak goyah diterpa perkataan-perkataan kaum muda yang membathalkan Tharikat. Kitab ini berisi dalil-dalil yang tersirat untuk mempertahankan amal Tharikat, serta memperkokoh hati murid, supaya tidak terpecah-pecah akibat faham yang bergitu rupanya. Penulisan sumber rujukan dalam kitab ini cukup variatif, menunjukkan kealiman Syekh Muda yang masyhur itu. Diantar sumber-sumber kitab yang menjadi rujukannya ialah Tanwirul Qulub (sangat populer saat ini), Shahifatus Shafa (besar kemungkinan karangan Syekh Sulaiman Zuhdi Jabal Qubis), Manzhirul A’ma, Khazinatul Asrar, ar-Rahmatul Habithah, Hadist Arba’in, Sairus Salikin, al-Minhul Nisbah, Husnul Husain, al-Qusyairi, Lathifatul Asrar, Hidayatus Salikin, Aiqazhul Manam, Hidayatul Hidayah, Mawahib Sarmadiyah, al-Asymuni dan lain-lainnya.&lt;br /&gt;Selain menjadi penguat hati si murid, risalah ini juga memuat kaifiyah Tharikat Saman dan Tharikat Muhammad Yaman (pecahan Saman) beserta wirid-wirid dan zikir-zikirnya. Risalah ini kemudian ditutup dengan sebuah fasal yang cukup panjang berisi tentang “Pengajaran tatakala nyawa akan berpulang ke hadirat Allah”. (cetakan ke-6, pada percetakan as-Sa’adiyah Bukittinggi, t. th) &lt;br /&gt;b. Risalah Tsabitul Qulub (jilid ke II). Kajian dalam kitab ini tak kalah menariknya. Kitab ini baru dijumpai penulis dalam bentuk manuskrip, salinan tangan oleh Marnis Dt. Bangso Dirajo. Di antara isi kitab ini ialah:&lt;br /&gt;• Himpunan akidah lima puluh&lt;br /&gt;• Sebab zikir la ilaha illallahu tidak pakai muhammadur rasulullah&lt;br /&gt;• Masalah Nur Muhammad dan Nur Allah&lt;br /&gt;• Kelebihan manusia dari pada segala alam&lt;br /&gt;• Masalah Najis dan hadast&lt;br /&gt;• Pembahasan Muqarinah Niat&lt;br /&gt;• Tentang martabat Ahadiyah, wahdah dan wahidiyah&lt;br /&gt;• Menyatakan syari’at dan tharikat di dalam sembahyang&lt;br /&gt;• Rabithah dalam sembahyang&lt;br /&gt;• Asal suluk 40 hari, dan lainnya banyak lagi. &lt;br /&gt;c. Risalah Tsabitul Qulub (jilid ke III). Jilid ke-3 ini memuat pengajaran Tharikat yang cukup istimewa, yakni membicarakan perhubungan shalat dengan Tharikat. Di mana di dalamnya ada tertulis:&lt;br /&gt;Maka dari itu nyatalah bagi kita bahwa ilmu Tharikat itu bersuanya di dalam sembahyang. Sepatutnya kita mahir ilmu tharikat itu dengan beberapa martabatnya. &lt;br /&gt;………………&lt;br /&gt;Maka apabila hilang hamba dan hilang kalimat dan tinggal nur, maka nur itulah yang dinamakan dengan zikir Hakikat. Maka apabila hilang hamba hilang kulimah hilanglah pula nur maka pulanglah hak kepada yang mepunyai, dan kembalilah hamba kepada Tuhannya. (Tsabitul Qulub jilid ke-III)&lt;br /&gt;Kemudian kitab ini disambung dengan pembahasan mengenai “nafsu yang tujuh”, dijabarkan dengan kalimat jelas dan ringkas. Kemudian kitab ini disudahi dengan wirid-wirid dalam tharikat Saman.&lt;br /&gt;Asal naskah kopiannya masih ada tersimpan di surau Belubus, yakni cetakan Islamiyah – Medan. Dengan cover yang dipakaikan foto Syekh Muda dan muridnya Syekh Beringin. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;4) Pertahanan Tharikat Naqsyabandiyah&lt;br /&gt;Tulisan Syekh Haji Djalaluddin (1950). Buku ini terdiri dari 5 jilid, bertuliskan Arab Melayu. Walau judul besarnya “Naqsyabandiyah”, namun pada sampulnya penulis juga menuliskan untuk Tharikat Samaniyah. Namun buku ini hanya berisi tentang pertahanan Tharikat secara umum saja, tampaknya tidak membahas aspek teoritis Tharikat Saman secara Khusus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) Sya’ir Saman (manuskrip). &lt;br /&gt;Naskah berupa manuskrip. Ditemukan dua salinan, satu di Simpang Tonang Pasaman, dan satu lagi di Koto Baru Sungai Pagu. Penulisnya belum diketahui pasti. Walau judul Besarnya Sya’ir Saman, namun isinya merupakan pengajian Tasawwuf yang bersifat filosofis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6) Kitab Segala Rahasia-rahasia yang halus-halus&lt;br /&gt;Manuskrip ini ditulis oleh Khalifah Rajab Batu Bajarang Solok Selatan. Selain berisi tentang Tarikat Naqsyabandiyah, Syadziliyah dan lainnya, juga berisi tentang amalan-amalan Tarikat Saman. Beliau berguru kepada Syekh Abdul Wahab Rokan al-Khalidi, setelah menimba ilmu beberapa saat kepada Tuan Syekh Muhammad Nur Qadhi Langkat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Penutup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai salah satu Tarikat Sufiyah yang berkembang di Minangkabau, begitu juga wilayah-wilayah lain di nusantara, Tarikat Samaniyah telah memberikan pengaruh yang tidak sedikit dalam kehidupan keberagamaan masyarakatnya. Namun karena sedikitnya referensi yang berbicara langsung mengenai Tarikat mu’tabar yang satu ini, membuat kita merasa kesulitan untuk memperoleh gambaran mengenai perkembangan dan sumbangsihnya, walaupun ada selentingan cacatan-cacatan lama, kebanyakannya masih tersimpan rapi di tangan para pengikutnya. Ada juga di kalangan peneliti luar yang mengungkapkan bahwa bentuk Tarikat Saman di Minangkabau banyak digabungkan dengan Tarikat Naqsyabandiyah, seperti yang terjadi di Belubus, namun bagi orang arif dia tidak akan gegabah beranggapan demikian. Tarikat Saman dan Naqsyabandi bukanlah dua berbeda yang kemudian satu. Tapi keduanya ialah metode mengingat Allah dan mensucikan hati yang pada hakikatnya satu, Cuma soal kaifiyah yang berbeda. Begitulah prasangka orang yang melihat Cuma dari luar belaka.&lt;br /&gt;Untuk saat ini, di beberapa wilayah ada kecendrungan untuk berbai’at Saman di usia yang muda. Padahal dulunya, hanya orang-orang tualah yang mahir bersaman. Kecendrungan ini telah membawa dampak makin betahnya para pemuda di surau, karena mereka merasa senang bertahlil. Namun arah positif ini hanya di sebahagian kecil tempat yang ditemui sekarang, wilayah lainnya malah tidak kenal lagi dengan Samman, apatah lagi dengan banyak wafatnya orang yang tua-tua yang memangku Tarikat Saman itu.&lt;br /&gt;Begitulah keadaannya. Demikianlah sekilas mengenai Tokoh dan Literatur Tarikat Saman di Minangkabau yang telah penulis kumpulkan beberapa tahun lamanya. Dengan cacatan, walaupun kita merasa sulit menemui sumber-sumber yang berbicara langsung tentang Tarikat Saman di Minangkabau, namun kita mesti tahu bahwa Tarikat Samaniyah dengan segala hal ihwalnya telah lama memberikan sumbangsih yang sangat berharga, apakah di zaman perang dulunya sebagai tameng pengusir Kompeni, ataupun dalam pembentukan moral masyarakat banyak. Tokoh-tokoh ulama Saman akan tetap terkenang, akan tetap di ziarahi, dan Tarikat Saman akan selalu berjaya sebagai halnya dulu, di ranah Minang, ranahnya ulama-ulama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepustakaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hamka, Tasawwuf, Perkembangan dan Pemurniannya (Jakarta: Pustaka Panjimas, 2004)&lt;br /&gt;Masduki HS, Intelektualisme Pesantren: (Jakarta: Diva Pustaka, 2004)&lt;br /&gt;Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Izhar Zaghlil Kazibin fi Tasyabbuhihim bis Shadiqin (Mesir: Mathba’ah at-Taqdum al-Ilmiyah, 1908)&lt;br /&gt;Martin van Bruinessen, Tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia: Survei Historis, Geografis dan Sosiologis (Bandung: Mizan, 1992)&lt;br /&gt;Martin van Bruinessen, Kitab Kuning, Pesantren dan Tarikat: Tradisi-tradisi Islam di Indonesia (Bandung: Mizan, 1995)&lt;br /&gt;Min Makkah ila Mishra (manuskrip, koleksi Madrasah al-Manar Batu Hampar Payakumbuh)&lt;br /&gt;Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Nusantara dengan Kepulauan Nusantara: akar Pembaruan Islam di Indonesia (Jakarta: Prenada Group, 2004)&lt;br /&gt;Azyumardi Azra, Surau: Lembaga pendidikan Islam tradisional dalam transisi dan Modernisasi (Jakarta: Logos, 2003)&lt;br /&gt;Ahmad Purwadaksi, Ratib Samman dan Hikayat Syekh Muhammad Samman: Suntingan Naskah dan Kajian Isi Teks (Jakarta: Djambatan, 2004)&lt;br /&gt;‘Arif billah Syekh Abdus Shamad al-Falimbani, Siyarus Salikin fi Thariqat as-Saadat as-Sufiyyah (Jeddah: al-Haramain, t. th)&lt;br /&gt;M. Sanusi Latief, Gerakan Kaum Tua di Minangkabau (Disertasi Doktor IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 1988)&lt;br /&gt;Syekh Muda Abdul Qadim Belubus, Risalah Tsabitul Qulub (Bukittinggi: as-Sa’adiyah, 1393 H) juz I&lt;br /&gt;Khalifah Rajab, Kitab Segala Rahasia-rahasia yang halus-halus (Manuskript) Surau Batu Bajarang Solok Selatan&lt;br /&gt;(Anonym), Ini Kaifiyat Khatam al-Qur’an (Jakarta: Syarikah Maktabah al-Madinah, t. th)&lt;br /&gt;Syekh Mudo Abdul Qadim, Tsabitul Qulub, juz II (manuscript salinan Buya Marnis Dt. Bangso Dirajo&lt;br /&gt;Naskah Simpang Tonang Pasaman (manuscript), bandingkan dengan Sya’ir Saman salinan Muhammad Ridhwan Dt. Tan Bijo Sungai Pagu.&lt;br /&gt;H. Jalaluddin, Pertahanan Tarikat Naqsyabandiyah (Bukittinggi: Tsamaratul Ikhwan, 1950)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4620918976357743641-2626901870765983183?l=surautuo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surautuo.blogspot.com/feeds/2626901870765983183/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surautuo.blogspot.com/2011/03/tarikat-samaniyah-di-minangkabau.html#comment-form' title='8 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4620918976357743641/posts/default/2626901870765983183'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4620918976357743641/posts/default/2626901870765983183'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surautuo.blogspot.com/2011/03/tarikat-samaniyah-di-minangkabau.html' title='Tarikat Samaniyyah di Minangkabau: Seputar Tokoh dan Literatur'/><author><name>Apria Putra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08209012488814467728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4620918976357743641.post-4887743971806941536</id><published>2010-06-29T22:48:00.000-07:00</published><updated>2011-03-15T01:09:46.667-07:00</updated><title type='text'>Eksistensi Kaum Tua di Luak nan Bungsu: Realitas Sejarah dan Koneksi Intelektual</title><content type='html'>Oleh : Apria Putra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Pendahuluan&lt;br /&gt;Hadirnya istilah Kaum Tua dan Kaum Muda di awal Abad ke-20 membawa warna tersendiri terhadap corak keislaman di Nusantara, Minangkabau Khususnya. Perdebatan panjang tersebut dimulai ketika munculnya kecaman para pembaharu  terhadap amalan dan tradisi keislaman yang dianggap tidak sesuai dengan ajaran Islam, juga menyangkut ketidak absahan ajaran Tarekat yang dianut oleh kebanyakan Masyarakat Minangkabau waktu itu. Beredarnya risalah Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi yang mengecam Tarekat Naqsyabandiyah membuat pertikaian kedua kelompok ini semakin alot dan meluas kewilayah-wilayah khilafiyah.  &lt;br /&gt;Mereka –kaum muda. pen- menggunakan berbagai metode untuk melancarkan dakwah mereka, ada dengan bertabligh, ada juga dengan debat terbuka dengan ulama-ulama Tua. B.J.O. Schrieke mencatat bahwa di Padang pernah terjadi perdebatan antara kaum Tua dan kaum Muda, yang dikenal dengan nama rapat Seribu Ulama, tepatnya pada tanggal 15 Juli 1919.  Di samping itu, mereka juga menggunakan majalah-majalah sebagai media mengungkapan buah pikiran dan ide, bahkan sekali-sekali juga menjadi wadah polemik dengan lawan mereka yang dapat dibaca oleh khalayak ramai. Sehingga di pusat-pusat kegiatan Kaum Muda muncullah Majalah-majalah seperti al-Moenir yang diterbitkan pada tahun 1910 di Padang, al-Achbar pada tahun 1919, al-Ittifaq wa Iftiraq dan sebagainya.  Begitulah sepak terjang kaum muda.&lt;br /&gt;Di pihak lain Kaum Tua, tak kecil pula usaha yang mereka tempuh untuk menolak segala tuduhan yang dilontarkan para pembaharu tersebut, dan mereka tak pula disokong oleh pribadi-pribadi kecil yang kolot sesuai namanya; Kaum Kuno, namun Kaum Tua mampu menolak segala prasangka tersebut dengan kedalaman ilmu yang mereka warisi, keilmiahan yang tercermin dari tulisan-tulisan yang banyak. Ketokohan kaum Tuapun tak dapat disangkal jasanya dalam penyebaran Islam dan perjuangan kemerdekaan di Minangkabau. Begitupun dalam berpolemik, merekapun mampu mempertahankan keyakinan yang dianut. . Dan kitapun menemui dalam cacatan sejarah betapa ulama-ulama Tua sangat berperan dalam pendidikan Islam dan dalam mendirikan organisasi persatuan Ulama, misalnya organisasi Ittihad Ulama Sumatera yang didirikan pada tahun 1912 di Bukittinggi sebagai wadah Kaum Tua di Minangkabau. &lt;br /&gt;Dari berbagai realitas tersebut
