Jumat, 25 Maret 2011

Sya'ir Bimbingan Rohani Karya Buya H. Mansuruddin Tuanku Bagindo: Teks dan Konteks


Foto: al-Marhum Buya Mansuruddin Tk. Bagindo Pariaman

A. Pendahuluan

Keberadaan naskah-naskah keagamaan di nusantara sangat menjadi perhatian besar para peneliti, tak sedikit diantara mereka yang mengkhususkan kajiannya dalam naskah-naskah klasik tersebut. Hingga dapat dikatakan bahwa nusantara merupakan salah satu sentra naskah-naskah kuno islam di dunia.
Kalau kita lihat secara spesifik, salah satu daerah yang menjadi gudang naskah-naskah ialah Minangkabau. Di daerah ini dapat ditemui tumpukan-tumpukan naskah yang keberadaannnya mengiringi penyebaran dan dakwah Islam di rumpun tanah melayu. Masuknya Islam ke Minangkabau menurut para ahli sejarah melewati pesisir barat Sumatera, sejak lama telah dicatat sebagai pintu masuk dari berbagai pengaruh asing, termasuk pengaruh Islam. Islam yang lebih awal datang dan berkembang di Aceh ternyata begitu cepat telah sampai ke Pariaman, yang ditandai oleh kehadiran Syekh Abdul ‘Arif atau yang lebih dikenal dengan Tuanku Madinah.
Eksistensi dan kejayaan Islam di Minangkabau tak terlepas dari ketokohan seorang Ulama besar, mahaguru sekian banyak ulama-ulama masa silam, yaitu Syekh Burhanuddin Ulakan. Beliau merupakan murid utama sekaligus khalifah Syekh Abdurra’uf Singkel Aceh. Di lembaga surau yang beliau pimpin itulah lahir ribuan ulama-ulama, penyebar islam ke pedalaman Minangkabau. Murid-murid beliaulah yang nantinya banyak memainkan peranan penting dalam perjuangan islam di Minangkabau, memberi warna pilar-pilar Islam melalui lembaga surau yang tumbuh menjamur mulai dari periode Syekh Burhanuddin ini. Sehingga Islam di Minangkabau hadir dengan dinamika sendiri, mencapai kecemerlangan dalam kurun-kurun waktu berikutnya.
Hadirnya lembaga surau tidak diragui lagi telah memberi identitas sendiri terhadap Islam di Minangkabau. Surau tidak hanya identik sebagai pusat ibadah, namun lebih dari pada itu. Surau juga menepati posisi sebagai pusat keilmuan Islam.
Dengan adanya tradisi mengaji yang berkembang di surau masa itu, maka banyak pulalah kegiatan salin menyalin, yang dikenal dengan istilah kuttab. Salinan materi ajaran Islam itu dalam bentuk naskah, tulisan tangan tanpat mengenal titik dan koma. Tradisi menyalin ini merupakan konsekwensi logis karena kala itu belum ada mesin cetak untuk mencetak kitab-kitab pelajaran.
Hal yang menarik dari keberadaan naskah-naskah tua Minangkabau ialah terjadi akulturasi penulisan, yaitu antara gaya penulisan Arab yang sarat nilai islam dengan kebudayaan Melayu. Dapat kita lihat adanya bentuk naskah yang berupa prosa (natsar) dan ada pula dalam bentuk sajak (syi’ir). Di antara dua bentuk tradisi penulisan naskah di Minangkabau ini, maka jenis syi’ir merupakan jenis naskah yang menarik untuk dikaji, sebab bentuk syi’ir sangat erat kaitannya dengan erotica sastra. Kepiawaian pengarang mengungkapkan ajaran-ajaran keagamaan dengan bahasa yang indah tidak cacat isi menjadi sebuah kajian yang begitu menjanjikan untuk diteliti lebih lanjut.
Salah satu naskah yang ditulis dengan langgam syi’ir itu ialah Naskah Sya’ir Bimbingan Rohani yang ditulis oleh Haji Mansuruddin Tuanku Bagindo di Lubuk Ipuh Padang Pariaman. Keberadaan naskah yang baik untuk dideskripsikan didasarkan pada lingkungan penulisan naskah di sentra penyebaran Islam priode awal di Minangkabau, yakninya daerah Pariaman.
Pariaman merupakan salah satu daerah di Minangkabau yang menjadi basis Islam di era awal penyebaran Islam di Nusantara. Awalnya yaitu dari Syeikh Burhanuddin yang ada di ulakan, yang mana di sini telah tersebar surau-surau yang banyak mengamalkan ajaran Islam yang memakai ciri khas tasawufnya. Di samping adanya surau-surau sebagai tempat pembimbingan para mubaliqh dan para keagamaan orang-orang Islam, di sana juga banyak terdapat naskah-naskah kuno. Salah satu naskahnya yaitu syair bimbingan rohani karangan Tuanku Bagindo Pariaman. Dalam naskah ini beliau bercerita bagaimana seseorang memelihara tubuhnya termasuk yang lahirnya dan anggota tubuh yang batinnya. Kemudian di dalam naskah ini juga di masukkan ajaran tasawufnya menurut ahli al-Sunnah Wal jamaah.
Dengan demikian dalam pembahasan kali ini kami mencoba mengambil Naskah Sya’ir bimbingan Rohani sebagai objek studi. Sehingga nantinya apa yang tersirat dalam naskah ini dapat terungkap dengan baik dengan menghadirkan suntingan teks yang dapat dinikmati oleh semua kalangan pembaca.

B. Teks dan Konteks Naskah

Naskah Naskah Syaīr Bimbingan Rohani karangan Haji Mansuruddin Tuanku Bagindo merupakan salah satu naskah keagamaan yang ditulis dalam bentuk Sya’ir di antara puluhan naskah keagamaan lain dengan bentuk yang sama. Hal ini menjadi bukti nyata terhadap dunia penaskahan Minangkabau, sebab dengan adanya naskah tersebut mengungkap penulisan naskah di Minangkabau yang selama ini hanya banyak dikenal dalam bentuk prosa ilmiah (Natsar Ilmi), namun ada juga penulisan naskah dengan bentuk Sastra ilmiah, sarat dengan nilai keindahan. Keindahan itu terletak dari susunan kalimat yang ditulis bersajak, serupa puisi-puisi lama melayu, tetapi dengan isi yang tetap padat.
Naskah Syaīr Bimbingan Rohani dikarangan oleh Haji Mansuruddin Tuanku Bagindo, salah seorang Naskah yang digolongkan kepada kajian Tasawwuf yang penulis teliti berasal dari Ibuk Yulfira Riza yang diperolehnya dari tempat penyimpanannya sendiri ketika melaksanakan penelitian naskah di Pariaman. Naskah tersebut terdiri dari dua jilid, namun pada kesempatan kali ini hanya jilid pertama saja yang akan ditransliterasi dan dihadirkan mengingat bahasannya lebih baik dan mampu menggambarkan pemikiran penulis secara umum.
Penulisnya sendiri yaitu Haji Mansuruddin Tuanku Bagindo adalah seorang tokoh agama di daerah Lubuk Ipuh kabupaten Padang Pariaman, yang mana di daerah ini ditemui banyak skriptorium manuskrip.
Secara fisik naskah ini berukuran 13,5 cm x 18,5 cm. Naskah berjumlah 38 halaman dengan jumlah baris dalam setiap halaman sebanyak 22 baris. Cara penulisannya yaitu dengan membagi dua ruangan kertas, dibaca dari kalimat sebelah kanan dilanjutkan dengan kalimat sebelah kiri. Antara dua kalimat persajak dipisahkan oleh spasi yang rapi, persis seperti penulisan Sya’ir dalam bahasa Arab.
Alas naskah berupa kertas lokal, disampul dengan kertas karton. Dari teks sendiri hanya ditemui sedikit informasi mengenai naskah, apakah dari informasi penulis yang tertuang pada kolofon, atau dari keadaan fisik naskah. Namun dari susunan kalimat dan pemilihan diksi kata-kata dapat dikatakan bahwa naskah ini merupakan naskah yang cukup lama berdasarkan susunan kata-katanya yang mirip karya-karya lama melayu.
Naskah ini beraksara Arab melayu dengan susunan sajak dan wazan mencotoh puisi-puisi klasik melayu. Judul naskah dibuat mencolok seperti gaya kitab kuning, susunan kata-kata seperti pyramid terbalik. Dijudul tersebut tertulis:
Sya’ir
( Bimbingan Rohani )
Mengandung Nasehat bagaimana caranya
Mendidik hati dan jiwa
Sehingga memahami apakah
Yang dinamai hidup bahagia
Menurut islam
Yang diridhoi
Allah

Informasi naskah yang terpenting lainnya terdapat pada bagian khatimah (penutup), di dalamnya penulis menyebutkan kapan naskah tersebut ditulis, penulis mengungkapkan:

Tamatlah syiir Alhamdulillah
Shalawat dan salam atas Rasulullah
Kalau raga sahabat semuanya
Sampai kiamat hingga itulah

Syiirpun tamat pada hari isnain
3 hari bulan Ramadhan
Dawatlah habis terbitlah bosan
Berhenti dahulu tenang fikiran

Pada hari ini syiir lah tamat
3 hari Ramadhan wahai sahabat
1400 tahun hijriah
9 tambahnya bilangan tamat

Dari sajak ini, penulis menginformasikan kapan ditulisnya naskah, yaitu pada tanggal 3 ramadhan 1400 Hijriyah, tepatnya pada jam 9. walaupun naskah ini terbilang baru, yaitu ditulis pada tahun 1979, mengingat isi naskah yang terbilang bagus dan padat, maka naskah ini layak untuk dideskripsikan. Walau ada sementara orang yang mensyaratkan bahwa usia naskah paling kurang 50 tahun. Namun bagi sementara kalangan mengungkapkan bahwa tulisan apapun jua dengan usia berapa jua, asal dia tulisan (manuskrip) maka itu tergolong naskah, seperti yang telah dipopulerkan M. Yusuf dalam katalognya.
Sebagai penutupnya, Tuanku Bagindo menulis keterangan berkaitan dengan keutamaan berpegang kepada zikrullah.

B. Ringkasan Isi

Teks ini menjelaskan tentang nasehat-nasehat agama menurut kajian tasawuf dalam bentuk syi’ir berbahasa melayu. Pembahasannya di mulai dengan menjelaskan tata cara menjaga anggota yang lahir seperti lidah, mata, tangan, telinga, kaki, dan lain-lain. Kemudian di lanjutkan dengan pembahasan tata cara menjaga hati yaitu anggota tubuh yang batin.
Awal sajak dimulai dengan ucapan Basmallah, kemudian diteruskan dengan alas an penulis menulis sajak tersebut. Penulis mengungkapkan:

Sepatah kata saya sampaikan
Kepada pembaca orang budiman
Sebabnya syair saya tuliskan
Karna melihat putaran zaman

Putaran zaman wahai saudara
Zaman pembangunan sudahlah nyata
Boleh dilihat di sini sana
Mulai dari kota sampai ke desa

Begitu juga kalau dilihat
Perubahan nasib lekas dan lambat
Mungkin tercapai menurut iradat
Bagaimana adanya dalam maklumat

Jikalau di lihat sana sini
Sangat meningkat pembangunan jasmani
Rumah yang bagus meja dan kursi
Mobil dan Honda silih berganti

Sungguh begitu hendaklah ingat
Tiap-tiap nikmat mengandung laknat
Sengketa banyak tidak sepakat
Itu tandanya usaha tidak berkat

Dalam kehidupan menyolok mata
Keadilan jauh hampir niaya
Suatu cobaan Tuhan yang Esa
Hendak sadari wahai saudara

Dari ungkapan diatas penulis menyatakan peringatan tentang dunia yang semakin hari semakin canggih, perkembangan di sana sini, hidup manusia bergelimang dengan kesenangan dan pamor. Namun itu semua menurut penulis merupakan godaan semata, yang jika kita tidak hati-hati menjalani hidup yang fana ini, niscaya kita akan terpedaya dengan melupakan Allah, melupakan kehidupan akhirat yang kekal Abadi.
Kemudian mulailah penulis menguraikan tata cara membersihkan anggota badan yang zhahir dalam segala maksiat. Menurut penulis cara membersihkan anggota badan yaitu dengan menjauhi segala larangan (Takhalli), selanjutnya dengan menghiasi anggota badan dengan ibadah dan perbuatan baik.
Sebagai contohnya, dalam tata cara menjaga kaki dari perbuatan maksiat, penulis mengungkapkan:

Kita mendidik di aliah sekarang
Kepada anggota kaki yang panjang
Anggota kita sekian orang
Keperluan hidup di alam perang

Adapun kaki kadang gunanya
Menyampaikan maksud kemana-mana
Kian kemari mencari sesuatunya
Kaki menyampaikan dengan langkahnya

Gunakan kaki untuk tompangan
Perahu hidup dalam pekerjaan
Dipakai sehari-hari berkepanjangan
Membantu hidup memberi kelapangan

Pandaikah saudara memanjat tak berkaki
Begitu melompat atau mendaki
Hendaklah jawab dengan hakiki
Pikiran waras untuk menunjuki

Setelah menguraikan tata cara membersihkan anggota tubuh dari maksiat. Kemudian pengarang beralih kepada tata cara membersihkan anggota tubuh yang bathin. Kebersihan jiwa ini difokuskan dengan menjaga hati sanubari dari sifat-sifat tercela.
Untuk selanjutnya, pembicaraan mengenai hati sangat difokuskan. Pada halaman berikutnya, penulis menjelaskan tata cara mengawas hati, dan hati disini itulah yang disebut dengan alam rohani yang menjadi topic pembicaraan yang sebenarnya di dalam naskah ini. Kemudian penulis menyebutkan faedah memelihara hati. Dalam hal ini pengarang mengungkapkan:
Jantung dan hati hendaklah isi
Dengan iman rasa marasai
Menurut tempat(…….?)hati
Jauhkan rasa benci membenci

Hendaklah hidup tenggang menenggang
Jangan berpilin meraggang-ragang
Rasakan di diri rasakan di orang
Tau kesulitan hidup sekarang

Keamanan hidup ialah itu
Agak maagak jangan terlalu
Hendak kembalikan ini dan itu
Kepada Allah Tuhan yang Satu

Melihat kepada konteks pembahasan di dalam naskah ini, maka dapatlah dipastikan bahwa naskah Sya’ir Bimbingan Rohani merupakan naskah Tasawwuf yang dikategorikan kepada Tasawwuf Akhlaqi, mendidik anggota tubuh dan jiwa dari perbuatan maksiat, guna untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.
Secara sistematis, Naskah Sya’ir Bimbingan Rohani berisi:
1. Mukaddimah
2. Sepatah kata dari penulis
3. Memelihara lidah
4. Memimpin alam jasmani
5. Menjaga tangan
6. Memelihara mata
7. Menjaga telingan
8. Menjaga kaki
9. Cara mengawas alam rohani atau hati dan buahnya
10. Buah kedua
11. Pertanyaan sahabat kepada Nabi
12. Buah ketiga
13. penutup

Jumat, 18 Maret 2011

Surau: Melirik Aktifitas Transmisi Keilmuan Islam Tradisional

Oleh: Apria Putra
Tulisan ini dikutip dari Penelitian Kelompok penulis pada PUSLIT IAIN Padang, 2010


A. Surau dalam Sejarah Pendidikan Islam di Minangkabau
Dalam sejarah pendidikan Islam di Minangkabau, Surau merupakan institusi yang tidak bisa dikesampingkan. Surau memainkan peranan yang sangat signifikan dalam menyebarkan keilmuan Islam jauh sebelum pendidikan modern yang berbasis Madrasah muncul. Dalam sejarah tercatat, tokoh-tokoh besar yang mempunyai pengaruh luas banyak lahir dari Surau. Mereka dididik dan dibesarkan dalam lingkungan Surau. Sebutlah beberapa nama seumpama Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi (w. 1916) yang pernah menjadi Mufti mazhab Syafi’i dan Imam di Mesjid al-Haram Mekah; Syekh Thahir Jalaluddin yang menjadi Mufti di Pulau Penang Malaysia; Syekh Janan Thaib yang menjadi guru besar pula di Mekah al-Mukarramah, dan banyak lagi lainnya. Begitu pula tokoh-tokoh nasional yang berjasa dalam masa awal pembentukan Indonesia, semisal Agus Salim, Hamka, Hatta dan lainnya. Ketokohan mereka tidak dapat dilepaskan sepenuhnya dari Surau, atau boleh dikata pernah beroleh pendidikan di Surau.
Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan WJS. Poerwadarminta, Surau diartikan sebagai tempat sembahyang (shalat), mengaji dan langgar. Sedangkan Gerard Moussay dalam Dictionnaire Minangkabau Indonesien menyebutkan bahwa surau ialah tempat belajar Agama; surau digunakan juga sebagai asrama bagi remaja yang mulai tumbuh dewasa.
Dalam Ensiklopedi Pendidikan yang ditulis oleh Soegarda Poerbakawatja, dkk, disebutkan bahwa surau merupakan tempat belajar di Sumatera Barat. Di surau diberikan pelajaran keagamaan. Secara umum Poerbakawatja membagi institusi surau dalam dua tipe, besar dan kecil. Surau besar menyelenggarakan pelajaran rendah sampai yang tinggi. Sedangkan sifat pelajaran dari surau-surau kecil hanya terdiri dari pelajaran menghafal dan menulis. Menurut Snouck Hurgronye, seorang yang rajin dan cerdas akhirnya dapat membaca dan memahami buku-buku fiqih di Surau-surau yang besar dibawah pimpinan seorang guru yang pandai dan bijaksana.
Sedangkan AA. Navis dalam Alam Takambang Jadi Guru memberikan gambaran bahwa surau pada mulanya hanya berfungsi sebagai tempat tinggal laki-laki duda dan bujangan. Lambat laun fungsinya menjurus sebagai tempat pendidikan Agama Islam, menjadi tempat mukim bagi siapa saja yang datang untuk belajar agama, sehingga ulama-ulama muda yang mendapat pendidikan dari sana disebut orang surau. Surau demikian tak obahnya pesantren di Jawa. Surau yang tetap berfungsi seperti asalnya masih ada hingga kini.
Mengenai asal mula penamaan surau, disebutkan bahwa surau pada mula keberadaannya berfungsi sebagai biara budha di Minangkabau, yakni sebelum masuknya pengaruh Islam. Dimasa itu Adityawarman telah membuat sebuah model surau di Minangkabau sebagai pusat pengembangan agama budha. Bahkan dikatakan bahwa asal surau itu dari kata Saruaso, sebuah nama daerah, yang secara harfiyah bermakna surau asal, “surau” dan “aso”. Fungsi ini lama kelamaan berubah setelah masuknya agama Islam, apakah yang berasal dari pantai timur Sumatera atau pantai barat. Hingga akhirnya Surau identik dengan pusat pendidikan Islam di masa lalu.
Sebelum fungsi surau sempurna, surau menjadi milik suku tertentu di Minangkabau. Adapun karakter surau di masa itu ialah:
1) Tempat tinggal bagi anak-anak yang telah berusia lebih dari 6 tahun, para bujangan, duda, pelancong dan orang-orang tua.
2) Tempat berembut mencari mufakat bagi kaum atau suku.
3) Tempat berkumpul, berkomunikasi dan bertemunya anak kemenakan, ipar, bisan dan bako.
4) Tempat mensosialisasikan adat, sopan santun dan tata pergaulan.
5) Tempat belajar silat.
Setelah mendapat pengaruh Islam yang kental, maka fungsi surau bertambah dengan:
1) Tempat belajar mengaji dan sembahyang.
2) Tempat ibadah sehari-hari.
Pada abad-abad yang lalu, surau disebut orang Belanda sebagai Indische Scholen (sekolah orang Melayu) atau Godstientscholen (sekolah agama). Hal ini mengisyaratkan betapa Surau di masa-masa itu merupakan satu lembaga yang sangat maju dan dikenal luas, sampai orang-orang kompeni ambil bagian untuk menggambarkan aktifitas surau ini. kenyataan itu makin diperkuat dengan data-data yang diberikan Belanda yang menggambarkan betapa pesat pendidikan model surau di Minangkabau di masa lampau.
Salah satu data yang akan dikutip saat ini, yaitu data yang diberikan AWP. Verkerk Pistorius, dalam artikelnya yang berjudul De Priester En Zijn Invloed op de samenleving in de Padangsche Bovenlanden (pengaruh para ulama dalam masyarakat Minangkabau) pada tahun 1868. dia memberikan data banyaknya surau di Minangkabau kala itu, diantaranya:
1) Surau Taram, terbesar, sekitar 1000 murid.
2) Surau Koto Tuo, sekitar 220 sampai 300 murid.
3) Surau Cangkiang, sekitar 400 murid.
4) Surau Pasir, sekitar 300 murid.
5) Surau Laboh – Tanah Datar, sekitar 200 murid.
6) Surau Padang Gantiang – Tanah Datar, sekitar 100 murid.
7) Surau Simabur, sekitar 200 murid.
8) Surau Pangean, sekitar 100 murid.
9) Surau Piei (Laras Salajoe), sekitar 300 murid.
10) Surau Muara Panas, sekitar 150 murid.
11) Surau Kota Hanou, sekita 200 murid.
12) Surau Kasih, Larang Saniang Bakar, sekitar 150 murid.
13) Surau Singkarah, sekirar 100 sampai 150 murid.
14) Surau Calou (Sijunjung), sekitar 300 sampai 400 murid.
15) Surau Padang Sibusuk, sekitar 150 murid.
Begitupula dalam laporan terakhir keberadaan Inlandsche Scholen (sekolah anak negeri) pada tahun 1913, memberikan angka terbesar untuk sumatera barat dalam jumlah sekolah agama (maksudnya Surau) dibandingkan Daerah lain di Sumatera. Yaitu:
Daerah Jumlah Sekolah Jumlah Murid
Sumatera Barat 4.054 48.239
Tapanuli 426 6.481
Bengkulu 72 789
Palembang 82 1.215
Jambi ? 3.333
Sumatera Timur 70 1.630
Aceh 432 5.995
Riau 129 1.397
Lampung ? ?

Meskipun cacatan mengenai nama-nama surau di atas belumlah secara menyeluruh, namun data tersebut telah memberikan gambaran pesatnya perkembangan surau di Minangkabau sebelum masa kemerdekaan.
Dalam keterangan Mahmud Yunus, terdapat beberapa surau terkemuka sebelum abad XX yang mengembangkan pelajaran Islam dengan cara metode lama, yaitu:
1) Surau Syekh Abdullah Khatib Ladang Lawas Bukittinggi.
2) Surau Syekh Muhammad Jamil Tungkar
3) Surau Syekh Tuanku Kolok (Syekh Muhammad Ali) di Sungayang – Batusangkar.
4) Surau Syekh Abdul Manan (Tuanku Talao) di Padang Gantiang – Batu Sangkar
5) Surau Syekh Muhammad Shaleh Padang Kandis – Suliki.
6) Surau Syekh Abdullah “Beliau Surau Baru” di Padang Japang – Suliki
7) Surau Syekh Ahmad Alang Lawas – Padang
8) Surau Syekh Amarullah – Maninjau
9) Dan lain-lainnya.
Ibaratkan pesantren di Jawa, surau di Minangkabau mempunyai beberapa komponen yang membentuk komunitas orang siak dalam hubungannya dengan menuntut ilmu. Setidaknya ada tiga komponen yang saling bersinergi dalam komunitas surau, Pertama, ulama yang menjadi pengajar utama; kedua, orang siak (santri) yang menuntut ilmu dan ketiga keilmuan Islam yang diajarkan. Apabila ketiga komponen itu saling berkorelasi dengan baik maka akan terciptalah suatu lingkungan pendidikan agama yang baik. Sedangkan tempat belajar (surau) akan tercipta sendirinya ketika ketiga komponen itu saling berhubungan kuat. Bila komunitas ulama dan orang siak terbentuk, maka tak akan lama akan berdiri komplek surau-surau besar bergonjong yang sekian tingkatnya.
Antara ulama dan orang siak tercipta suatu hubungan rohani yang erat, yang dibentuk oleh adab sopan santun kepada guru. Akan sangat aib dikalangan mereka bila ada salah satu murid yang melanggar pituah guru, apatah lagi bila menyalahi guru. Prinsip demikian agaknya diperoleh dalam pembacaan mereka terhadap kitab-kitab sumber yang menjadi rujukan. Salah satu doktrin yang sangat kuat misalnya menyebutkan bahwa hormat kepada guru termasuk salah syarat utama untuk memperoleh ilmu pengetahuan.
Selain itu, sisi lain keberhasilan surau di masa lalu ialah karena terciptanya kondisi belajar yang kondusif. Ulama merasa berkewajiban mengajarkan ilmunya dan orang siak merasa berkewajiban belajar ilmu agama. Di samping terbentuk karena adab yang dipakaikan (kode etik ilmu pengetahuan) yang memang dipatuhi secara penuh, hal ini juga tercipta karena masing-masing komponen memang berniat tulus sejak awal. Ulama hanya berniat semata-mata untuk mengajar, tanpa mengharap sepeserpun hasil jerih payahnya. Salah satu contoh dapat dikemukakan di sini pengalaman mengajar Syekh Daud Durian Gonjo (1854-1939) Pasaman di suraunya. Menurut keterangan cucunya, buya Abdullah Hukum, ia mengajar tanpa meminta bayaran sama sekali dari murid-muridnya, malah ia sendiri yang mensubsidi mereka, memberi mereka kebutuhan pangan, papan dan sandang. Padahal, aktifitas Syekh Daud setiap hari hanya mengajar dan berada di balik kelambu mengamalkan suluk tarekat Naqsyabandi saja. Malah ia juga tergolong ‘kaya’ karena berjasa mendirikan sejumlah rumah gadang bagi sanak familinya. Dari mana Syekh Daud memperoleh itu semua? Sejauh ini tidak banyak informasi yang dapat diperoleh dari cucu maupun orang-orang yang dekat dengannya.
Demikian juga halnya dengan orang-orang siak. Merka datang menemui sang ulama dari tempat yang jauh dengan berjalan kaki semata-mata untuk menimba ilmu, bahkan ada yang berjalan berhari-hari hanya untuk mendengar sepatah dua patah kata dari seorang ulama yang masyhur tersohor. Walau keadaan kehidupan kala itu serba terbatas, namun tak pernah terdengar seorang ulama yang terlantar, hidup miskin dan tidak makan hanya karena ia berprofesi sebagai pengajar. Juga jarang sekali diketahui keluarga dari kalangan ulama (yang kebanyakannya berpoligami) berantakan karena tak ada uang. Malah yang terjadi sebaliknya, banyak ulama-ulama surau masa lalu yang hidup lebih dari berkucupan. Sawah ladang panen dengan sangat memuaskan, anak dan istri diperbelanjai secara penuh, bahkan masih cukup untuk membiayai murid-murid yang belajar di Surau seperti kasus Syekh Daud di atas. Hingga pertengahan abad ke-20, surau-surau di Minangkabau boleh disebut memperoleh kehidupan yang mapan. Begitulah keadaannya ulama dan lembaga surau yang dipimpinnya di masa lalu.
Untuk memperoleh gambaran sebuah komplek pendidikan surau di abad-abad yang lalu, kita akan melihat aktifitas surau besar yang didirikan oleh Syekh Abdurrahman (1777-1899), yaitu surau Batu Hampar, Payakumbuh.
Syekh Abdurrahman setelah 48 tahun berkelana menuntut ilmu kepada berbagai ulama di Minangkabau, dan sempat pula belajar di Mekkah, pada usiaya yang ke-63 tahun kembali ke kampungnya Batu Hampar. Setibanya di kampung halaman, Batu Hampar, Syekh Abdurrahman kemudian mulai membangun suraunya yang pertama, dimana ia mula-mula mengajar membaca al-Qur’an. Syekh Abdurrahman adalah seorang qari yang baik, oleh karena itu ia tidak sekadar mengajar membaca al-Qur’an seadanya, tetapi juga ilmu tilawatil Qur’an dengan berbagai macam irama yang kita kenal dewasa ini. karena Syekh Abdurrahman memang dikenal sebagai qari yang terkemuka, maka banyak murid berdatangan dari luar Minangkabau seperti Jambi, Palembang, Bangka dan lain-lain. Demikian banyak jumlah muridnya, sehingga tidak tertampung lagi di surau dan rumah-rumah penduduk.
Dari sinilah timbul gagasan untuk membangun komplek pendidikan Islam yang memadai. Untuk itu dibangun sekitar 30 surau yang rata-rata berukuran 7x8 meter dan kebanyakan bertingkat dua. Surau-surau ini dibangun mengelilingi beberapa bangunan induk. Bangunan induk pertama dan utama adalah “Mesjid Dagang” yang dibangun bertingkat dua, dengan arsitektur rumah adat Minangkabau. Di Mesjid Dagang inilah Syekh Abdurrahman memimpin shalat berjama’ah setiap waktu dan mengajar al-Qur’an. Di samping timur mesjid dagang ini terdapat sebuah menara sekitar 20 meter tingginya yang dibangun dengan arsitektur ala timur tengah. Kemudian, disebelah timur mesjid dagang ini terdapat bangunan bertingkat dua yang dibangun khusus untuk mereka yang melakukan suluk. Di samping itu terdapat pula sebuah bangunan besar dengan tembok yang melengkung . Disinilah Syekh Abdurrahman dan anak cucunya di makamkan setelah mereka wafat. Sebuah bangunan induk lainnya adalah rumah gadang yang berfungsi sebagai tepat penginapan bagi para tamu dan penziarah yang datang secara insidental.
Suatu hal yang menarik, setiap surau di kompleks yang kemudian terkenal sebagai “Kampung Dagang” ini diberi nama sesuai dengan nama daerah asal murid-murid. Karena itu misalnya ada ”Surau Suliki”, “Surau Tilatangkamang”, “Surau Solok”, “Surau Pariaman”, “Surau Padang”, “Surau Painan”, “Surau Riau”, “Surau Jambi”, “Surau Bengkulu”, “Surau Palembang” dan lain-lain. Di surau-surau inilah para penuntut ilmu berdiam dan mengulang pelajarannya. Di kawasan yang luasnya sekitar 3 hektar ini ada pula sebuah pasar kecil, dimana terdapat beberapa kedai (warung) tempat menjual berbagai kebutuhan murid sehari-hari, seperti barang-barang kelontong, pakaian jadi, dasar pakaian dan sebagainya. Kemudian untuk memenuhi kebutuhan air minum dan mandi para penghuni kampung dagang, dibangun saluran air dari suatu sumber air yang terletak di bukit kecil setengah kilometer dari luar kompleks. Air bersih diperoleh setelah melalui empat kali saringan dengan empat bak kolam. Air yang sudah disaring ini ditampung disebuah kolam besar, dan dari sinilah dialirkan dengan pipa besi ke kamarmandi-kamarmandi di sekitar kolam.
Jumlah orang siak (santri) yang belajar di surau Syekh Abdurrahman jumlahnya berkisar antara 1000 sampai 2000 orang. Untuk mengikuti pelajaran di surau, orang siak tidak dikenakan pungutan atau pembayaran apapun; jarang sekali orang siak memberi uang kepada Syekh, jika itu ada disampaikan oleh pihak keluarga yang bersangkutan atas dasar kerelaan dan keikhlasan. Biaya hidup bagi orang siak yang berasal dari masyarakat kampung yang berdekatan dengan surau biasanya dijemput sendiri atau diantar oleh orang tua mereka. Masyarakat kota yang berdekatan tidak pula kurang partisipasinya dalam menunjang pemenuhan kebutuhan orang siak. Setiap hari minggu, dengan pedati mereka mengantar beras, sayur dan kebutuhan pokok lainnya ke surau. Sementara itu, orang siak yang datang dari negeri yang jauh, biasanya tiap hari kamis menyebar ke negeri-negeri sekitar Batuhampar dengan membawa buntil. Sore harinya mereka kembali dengan membawa buntilan besar dan uang untuk biaya seminggu. Begitulah prototipe surau yang mencerminkan sebuah lembaga pendidikan yang cukup mapan di Minangkabau.

3) Pengembaraan Keilmuan Guru
Hampir seluruh Ulama-ulama Minangkabau, sampai pertengahan abad ke-XX merupakan ulama didikan Mekkah. Paling tidak, setelah menyelesaikan pengajian di berbagai surau di Minangkabau, mereka berangkat Haji dan tinggal beberapa lama di Mekkah, mengambil barokah pada beberapa halaqah yang bertebaran di Mesjidil Haram, adapula yang sampai mendapat ijazah kitab hingga meraih gelar Khalifah dengan selembar ijazah keluaran Jabal Abi Qubais. Adapula yang benar-benar hidup menahun di Mekkah, belajar ilmu secara khusus kepada beberapa Syekh ternama, setelah cukup bilangan beberapa tahun, mereka berkelana menziarahi Madinah dan Baitul Maqdis, dan pulang selaku ulama besar.
Dengan demikian, ulama-ulama selaku icon intelektual Islam di ranah Minang khususnya telah bersinggungan dengan jaringan Ulama kosmopolitan ketika berada di Mekkah. Setelah kembali ke kampung halaman, mereka membentuk jaringan lokal lewat institusi surau di daerah masing-masing. Sementara itu, surau sendiri berfungsi sebagai tempat penggemblengan bagi orang siak sebelum mereka berkeinginan belajar di Mekkah, menempuh pergaulan intelektual yang lebih luas. Di Surau mereka membekali diri dengan pengetahuan keagamaan yang memadai. Hingga beberapa dekade awal abad ke XX, Mekah merupakan tempat yang ramai dikunjungi untuk menuntut ilmu, selain untuk berhaji. Zawiyah-zawiyah termasyhur banyak berdiri disekitar Mesjidil Haram yang dipimpin oleh Syekh-Syekh ternama dengan corak pengajian masing-masing. Sehingga, Mekah telah menjadi pusat ibadah dan pusat ilmu pengetahuan sekaligus. Malah mungkin lebih dikenal ketimbang al-Azhar.
Dengan sikap masyarakat muslim seperti itu maka, muncul pameo kalau belum mengaji ke Mekah, ilmunya belum sempurna, keulamaannya belum sah. Begitulah posisi Mekah bagi kalangan penuntut ilmu dan Muslim umumnya.
Dengan mengunjungi berbagai halaqah dan Zawiyah Sufi di Mekkah saat itu, yang menjamur seantero tanah haram, para penuntut ilmu akan dihidangkan dengan berbagai ilmu pengetahuan agama, dari berbagai Mazhab, berbagai ulama dengan bidang keilmuannya masing-masing (takhassus) dan dari berbagai penjuru dunia.
Posisi mereka setelah pulang ke kampung halamannya menjadi ulama terkemuka, dan ilmu yang mereka bawa pulang, tersimpan dalam sudur, bukan sekedar ilmu yang di dapat lingkungan bawah, kalangan lokal, lebih dari itu ilmu yang mereka peroleh ialah pengetahuan agama yang kosmopolitan sebagaimana jaringan global yang mereka bentuk ketika menuntut ilmu dari berbagai Syekh terkemuka di Haramain. Di samping itu, keilmuan mereka mencapai keotentikan yang bisa diuji, lewat sanad keilmuan dari para musnid, ulama-ulama besar di Mekkah dan Madinah. Mata rantai keilmuan bersambung bersambung (musalsil), tidak terputus (munqathi’), sampai kepada tokoh-tokoh ulama salaf yang shaleh, hingga sampai kepada Rasulullah.
Sudah menjadi tradisi di Minangkabau, apabila ada orang siak yang telah dianggap alim, terutama bila telah menimba ilmu di Mekkah dan mendapat ijazah, maka masyarakat atau kaum sukunya akan bergotong royong membuatkan surau buatnya untuk mengajar agama. Sampai beberapa dekade awal abad ke-20 tradisi itu masih berlaku. Tidak heran bila akhirnya Minangkabau populer sebagai gudang ulama, dimana setiap kampung dan pelosok-pelosok negeri terdapat satu surau atau lebih.
Demikianlah ulama-ulama Minangkabau masa lalu, termasuk ulama-ulama, yang merupakan icon jaringan ulama dari yang bersifat lokal hingga yang bersifat kosmopolitan (internasional), mereka merupakan ulama-ulama yang teguh berilmu, mempunyai sanad intelektual dari Haramain, central cosmos-nya ilmu pengetahuan Islam. Sampai mereka di kampung halamannya mereka membuka surau, dan lewat surau itulah mereka membentuk jaringan guru-murid yang kokoh. Apabila murid-murid ini telah alim pula dikemudian hari, maka hubungan guru-murid itu menjadi sebuah jaringan ulama lokal. Bahkan surau menjadi pijakan awal jaringan ulama lokal, dan selanjutnya mereka –alumni surau- berkecimpung dalam jaringan ulama kosmopolitan di Mekkah. Banyak ulama surau yang memesankan kepada muridnya untuk menyempurnakan ilmu di Mekkah, bergaul dengan ulama manca negara, membentuk koneksi intelektual internasional.

4) Pengangkatan Guru

Sebagaimana diungkap diatas, seorang ulama akan terhubung erat dengan gurunya yang terdahulu. Hubungan ini dijalin dengan hubungan rohani yang terikat dengan sanad keilmuan. Dalam konteks ini, seorang santri, orang siak akan selalu bersikap tunduk kepada gurunya itu, sampai-sampai dalam hal-hal prinsipil seorang murid akan selalu meminta pendapat gurunya. Begitupulalah dalam hal mengajar, seorang murid tidak akan serta merta mengajar tanpa adanya restu dari gurunya yang terdahulu, meski ilmu sang murid telah cukup untuk mengajar kitab-kitab yang tinggi. Sikap ini tercipta karena adanya keyakinan bahwa kebaikan itu ada bila dihubungkan dengan guru, misalnya dalam meminta izin atau restu.
Dalam proses pengembaraan keilmuan, sang murid pada mulanya belajar dari surau ke surau, dari pelajaran rendah meningkat perlahan lahan ke pelajaran yang tinggi. Dari kitab matan ke hasyiyah yang berjilid-jilid banyaknya. Perpindahan pelajaran ini biasanya merupakan isyarat dari Syekh atau gurunya sendiri. Seorang murid tidak akan megikuti kelas-kelas yang tinggi dalam pembelajaran ala surau tanpa adanya amar (perintah) dari gurunya untuk belajar kitab yang lebih tinggi. Penilaian untuk naik tingkat bukan ditentukan oleh berapa nilai yang diperoleh, tidak melalui sebuah ujian tertulis karena memang sistem evaluasi kala itu belum ada. Tapi kemahiran seorang murid untuk menguasai materi-materi yang telah diberikan telah dinilai sendiri oleh sang guru, apakah ketika bergaul, keaktifan dalam halaqah dan pandangan mata batin sang guru. Dari sinilah penguasaan seorang murid diukur sehingga naik tingkat belajarnya ke jenjang yang lebih tinggi lagi.
Sebuah perasaan yang hampir-hampir dimiliki oleh semua penuntut ilmu kala itu ialah rasa tidak puas terhadap ilmu pengetahuan. Meski mereka telah menamatkan berbagai kitab dengan spesifikasi masing-masing, mereka masih tetap mendatangi tempat-tempat lain untuk menambah ilmu, bahkan ada yang mendatangi surau-surau tertentu hanya ingin mengambil berkah dari pengajian seorang Syekh, padahal kitab yang dibaca hanya berupa pengulangan dari pelajaran yang telah pernah diterima. Namun dengan telah menghadiri halaqah Syekh dimaksud, mereka telah merasa sangat puas dan berharap sekali barokah Allah turun keharibaan mereka.
Adapun mereka yang merasa berkecukupan, melanjutkan pengembaraan keilmuan ke tempat yang lebih jauh lagi dan lebih prestisius, yaitu Mekkah dan Madinah (Haramain), sebuah tempat yang menjadi idola para penuntut ilmu disamping untuk menunaikan ibadah Haji. Mereka yang hidup berada dapat melakukan perjalanan ke Mekkah dengan memakai kapal uap melewati masa yang berbulan-bulan lamanya. Sedang mereka yang hidup pas-pasan, tapi mempunyai semangat yang kuat untuk menuntut ilmu, melakukan perjalanan dengan berjalan kaki, menelusuri pulau Sumatera hingga Aceh, lalu menyeberangi lautan menuju Thailand dan berjalan terus ke Mekah. Rasa keinginan kuat itu untuk menjalang kota Suci membuat mereka rela untuk melakukan perjalan ribuan kilo jaraknya, dan memakan waktu bertahun-tahun pula.
Di sanalah, ditempat mereka menuntut ilmu, Mekkah tentunya, mereka memperoleh ijazah dari guru mereka setelah menamatkan satu kitab yang tentunya penamatan itu diiringi juga dengan pemahaman yang matang. Maka ijazah merupakan sebuah petanda, simbol tertulis dari seorang guru yang mengisyaratkan bahwa si-pemegang ijazah telah menguasai materi pelajarn dengan baik dan berhak menyebarkan ilmu yang telah diperolehnya kepada orang lain. Maka dengan demikian adanya bukti tertulis dari guru berupa ijazah yang di dalamnya dibubuhi sanad keilmuannya menjadi sebuah petanda pengangkatan seseorang yang mulanya murid menjadi guru, dan berhak mengajar kepada murid-muridnya yang lain.
Disamping itu, adanya amar (perintah) secara lisan dan sharih (jelas) menjadi sebuah pesan khusus disamping ijazah dalam rangka pengangkatan seorang guru. Kita memiliki banyak contoh kasus seperti ini, misalnya HAKA (Haji Abdul Karim Amarullah) yang diperintahkan secara sharih oleh Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi untuk mengajar disalah satu halaqah di serambi Mesjidil Haram – Mekkah. Contoh lainnya Syekh Muhammad Jamil Jaho yang juga di-amar-kan oleh Syekh Ahmad Khatib untuk mengajar di Mekkah.
Dalam kasus keilmuan Tarikat, sebuah kearifan Tasawuf, prosesi pengangkatan guru ini lebih ketat dibanding keilmuan lainnya yang sekarang mulai tampak pudar. Dalam Tarikat, sahnya seorang menjadi guru mesti dengan sebuah ijazah yang dikeluarkan oleh guru sebelumnya, selain keharusan dicantumkan cap stempel gurunya sebagai tanda kelegalan sebuah ijazah. Tanpa ini, seorang guru Tarikat tak akan diikuti ajarannya oleh orang banyak, malah sebaliknya ia akan dicela. Namun yang mesti digaris bawahi bahwa ijazah untuk mereka yang mengaji dengan sistem tradisional tidak pernah melewati suatu evaluasi layaknya ujian yang dikenal saat ini. Pemberian ijazah tersebut sangat murni berdasarkan keilmuannya sendiri, dan sangat tidak mungkin terjadinya nepotisme dikalangan guru-guru tersebut.



5) Transmisi Keilmuan dan Integritas Guru
Surau, bagaimanapun keadaannya telah menjadi sarana pendidikan Islam terkemuka dan berperan besar dalam Islamisasi, melahirkan ulama-ulama besar di zamannya, hingga mencetak juru-juru dakwah profesional. Di masa keemasannya, surau mampu menjadi barometer sosial-masyarakat, apakah dalam usaha perjuangan masyarakat terhadap kompeni, penentuan ekonomi petani , pengajaran adat istiadat Minangkabau dan tentunya istimewa dalam bidang agama. Fungsi surau yang bukan sekedar pusat pendidikan Islam, membuat kedudukan surau menjadi sangat penting bagi masyarakat kala itu. Seorang ulama kharismatik yang memimpin surau seolah-olah sama posisinya dengan pemimpin masyarakat, terutama kepemimpinan dalam bidang agama, penentuan kearifan ekonomi hingga penjagaan ketertiban masyarakat. Begitulah surau, keadaan dan posisinya di masa jayanya.
Meneropong surau dari segi sosial keagamaan, kita akan memperoleh suatu gambaran nyata betapa lembaga ini, surau, memainkan peran penting dalam setiap aspek kehidupan masyarakat. Ulama yang menjadi titik nadi kehidupan surau merupakan sosok yang menjadi panutan, tumpuan hingga pimpinan. Sehingga fungsi utama surau sebagai tempat transmisi keilmuan yang dalam menjadi semakin menjadi nyata, dengan ulama sebagai penentu arah kebijakan-nya.
Transmisi keilmuan islam yang dijalankan di surau kepada generasi selanjutnya, tentu dimaksudkan agar tradisi keilmuan itu tidak putus. Setidaknya ada tiga porsi keilmuan Islam yang diajarkan secara mendalam di surau-surau Minangkabau. Pertama ialah pemahaman tentang syari’at, dengan mempelajari secara tuntas fiqih Mazhab Syafi’i. Kedua ialah pemahaman mengenai Tauhid, menekankan aspek akidah melalui “pengajian Sifat Dua Puluh” dan pemahaman Ahlussunnah wal Jama’ah (Sunni). Dan ketiga pengamalan Tasawuf lewat Tarikat-tarikat Mu’tabarah. Di hampir semua surau-surau lama ketiga porsi keilmuan ini diajarkan secara tuntas, walaupun dibeberapa surau telah mengambil spesialis keilmuan tertentu, seperti Nahwu, Tafsir, Ma’ani dan lainnya, namun ketiga porsi ini tetap medapat tempat di surau-surau tersebut.
Dengan demikian jelas, surau-surau Minangkabau sangat kuat memegang tradisi Sunni; bersyari’at dengan Fiqih Syafi’i, berakidah sesuai dengan faham Asy’ariyah dan mengamalkan salah satu Tarikat Sufiyah sebagai sebuah kearifan Tasawuf. Itulah sebabnya kenapa ulama-ulama surau begitu teguh mempertahankan pendirian ketika muncul beberapa kecaman dari kaum Modernis (kaum muda), karena memang sejak dulu Ahlussunnah telah mapan di ranah Minangkabau ini.
Memang tidak ditemui satu catatan kurikulum yang dipakai oleh lembaga surau. Namun dari penemuan naskah-naskah tua yang masih ditemui sekarang, kita akan membenarkan betapa surau ini menjadi basis Ahlussunnah yang kokoh berakar. Hingga saat ini masih dapat ditemui kitab-kitab besar mazhab Syafi’i yang masih bertuliskan tangan di surau-surau semacam ini, yang usianya berabad-abad lamanya. Masih dapat ditemui syarah-syarah ilmu Tauhid yang besar-besar di bekas-bekas surau masa lalu. Dan masih dapat pula dijumpai kitab-kitab Tarikat yang sangat langka. Di sinilah kekuatan surau, dengan ulama dan aktifitas transmisi keilmuannya yang ditransfer secara mendalam dan standar yang tinggi.
Begitulah keilmuan surau-surau di Minangkabau, kuat memegang Ahlussunnah, kuat beramal dengan Tarikat-tarikat Ahli Sufi. Untuk selanjutnya keilmuan surau yang begitu halnya telah diadobsi oleh Perti, karena memang Perti merupakan kelanjutan surau-surau lama itu. Dan kitab-kitab tulisan tangan dalam tradisi surau dahulu telah diganti dengan kitab-kitab kuning, dengan tetap memakai materi kitab-kitab lama itu. Kitab kuning untuk selanjutnya menjadi prioritas keilmuan yang utama bagi kaum tua, sebab dengan kitab kuning akan terwarisi segala ajaran yang mencakup Fiqih Syafi’i, Ahl Sunnah dan Tasawwuf secara utuh. Diantara kurikulum Kitab yang dikaji di Madrasah-madrasah Perti itu ialah : (1) Bidang Fiqih, yaitu Matan Ghayah wat Taghrib, Fathul Qarib Mujib, Al-Bajuri, I’anatut Tahlibin dan Mahalli; (2) Bidang Tauhid, yaitu Jawahirut Tauhid, Al-Aqwal al-Mardiyah, Fathul Majid, Umm Burhain; (3) Bidang Tasawwuf, yaitu Minhajul ‘Abidin, Mau’izatul Mukminin dan Hikam; (4) Nahwu dan Sharaf (gramatikal Arab), yaitu Matan al-Jurumiyah, Matan Bina wal Asas, Mukhtashar Jiddan, Kaelani, Kawakib ad Durriyyah, Qatrun Nida, Ibnu Aqil ‘ala Alfiyah; (5) Bidang Ushul Fiqih, yaitu Waraqat, Jami’ul Jawami’, Asybah wa an-nazhair; (6) Bidang Tarekh (sejarah Islam), yaitu Khulasah Tarekh Islami, Nurul Yaqin, Itfamul Wafa; (7) Manthiq (logika), yaitu Idhohul Mubham, Sullamulwi; (8) Tafsir, yaitu Jalalain; (9) Balaghah, yaitu Jauharatul Maknun; dan (10) Bidang Hadist dan Musthalah, yaitu Kitab as-Sanawani dan al-Baiquniyah.

Sebuah Catatan bagi mereka yang mengingkari penghulu-penghulu Naqsyabandiyah: Satu Kesaksian Sejarah, Kehalusan Pesan dan Cerminan “Raso” dari Luak Limopuluah

Oleh: Apria Putra

Tersebut dalam sejarah, bahwa keberadaan Tarikat Naqsyabandiyah di Minangkabau mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan Islam di ranah ini. Dia adalah amalan ulama-ulama besar sejak dahulu kala, bukan hanya di Minangkabau ini, di Sumatera, bahkan di Indonesia ini. mereka –ulama- silam itu, disamping zahir ‘alim bersyari’at, mereka juga bertarikat, mereka memakai dua sayap, lahia dan batin, masyhur berpakaian dengan pakaian Naqsyabandi. Itulah kaji ulama-ulama Ahlussunnah di negeri gudang ulama ini. orang-orang yang mengenal sejarah tentu tak akan memungkiri betapa besar jasa ulama-ulama yang nota bene-nya Ahli Tarikat Sufiyah itu, apakah dalam penyebaran Islam atau perjuangan melawan penjajah.
Maka dialah intan berlian yang tersisa dari ulama-ulama silam, lukluk marjan pusaka orang-orang alim saisuak, yang terus diwarisi dan dipakai, hingga orang-orang luar kagum ketika memasuki Luak nan Bungsu, sebab masyarakatnya ramah dan santun, dan satu sebabnya, disamping alam geografis yang membentuk watak itu, ialah karena cahaya kulimah diwajah mereka, sebab mereka orang-orang Naqsyabandiyah.
Sungguh saya tak mampu menguraikan “Naqsyabandi” yang ibarat samudera itu kehariban tuan-tuan, sebab “Naqsyabandiyah” satu coraknya bukanlah salah satu dari ilmu suthur, tapi dialah ilmu shudur. Sungguh saya takkan menguraikan yang “Batin” itu dalam kertas yang kecil ini, sebab kertas ini takkan mampu membendung luasnya lautan Tasawwuf yang tersimpan dalam mutiara Naqsyabandiyah. Pun saya ini barulah orang awam bekala, alim bukan, ulama tidak, ilmu bintang-bintangan, jo adat ambo mangapalang, jo syarak jauah sakali. Namun karena soal ini suatu yang penting, yang telah pula menggoncangkan alam Minangkabau diawal abad ke-20, maka perlu pula menulis ini kehadapan tuan-tuan yang dipercaya selaku pemutus “kato syara’” dalam Luak nan Bungsu ini.
Saya takkan mengurai “Tarikat”, semua telah jelas tertulis dalam kitab-kitab mu’tamad yang dipakai sejak ratusan tahun yang lalu. Sebutlah semisal kitab Ihya’ Ulumuddin karya Imam al-Ghazali yang terkemuka, Jami’ul Ushul fil Auliya’ karangan Syekh Ahmad al-Khamaskhanawi an-Naqsyabandi, Risalah Qusyairiyah buah tangan Imam al-Qusyairi dan banyak lagi lainnya, beratus-ratus judul dapat kita sebutkan. Namun yang yang menjadi masalah, yang akan menguraikan kitab itu siapa lagi??? Mau dibaca saja, maka bersya’irlah orang-orang alim:
من يأخذ العلم من شيخ مشافهة يكن عن الزيغ و التصحيف فى حرم
و من يكن آخذا للعلم من صحف فـــــعلمه عند أهل العلم كالعدم

Berpendidikan Mesir-pun belumkan lagi menjadi jaminan buat membaca dan menguraikan karya-karya besar itu. Wajar bila tampak keanehan, sebagai tradisi Islam di Minang ini, lantas kontan mengata Bid’ah, khurafat dan Tahayyul.
Dan “Tarikat” itu bukanlah satu aliran faham sebagai banyak diungkap saat ini, niscaya kelirulah mereka. Sebab “Tarikat” merupakan satu pengamalan dan jalan kearifan Tasawwuf, yangmana kajiannya ialah perkara membersihkan hati. Tasawwuf merupakan 3 serangkai kajian Islam yang paling inti, disamping Fiqih dan Tauhid. Satu antara 3 hal tersebut tidak terpisahkan, jika kurang satu maka takkan sempurna, begitu ulama-ulama kita telah mengisyaratkannya.
Islam masuk ke Minangkabau jelas dengan membawa unsur Tasawwuf yang kental lewat balutan Tarikat-tarikat ahli Sufi. Apakah itu Tarikat Syathariyah, Tarikat Samaniyah maupun Tarikat Naqsyabandiyah. Dan Luak Limopuluah merupakan salah satu basis Tarikat, khususnya Tarikat Naqsyabandiyah, yang terpadat bukan hanya di Minangkabau, namun juga di dataran Melayu ini. ulama-ulamanya masyhur terbilang lewat surau-surau yang tumbuh menjamur dengan ribuan orang Siak yang datang silih berganti. Mereka bukan hanya ahli dalam syari’at belaka, disamping itu mereka melengkapi diri dengan Tasawwuf ber-Tarikat Naqsyabandiyah. Maka berdirilah ratusan Surau Suluk yang besar-besar kala itu. Bila disebut kampar sebagai negeri “Seribu Suluk”, maka boleh dikata Luak nan Bungsu adalah adiknya. Begitulah perihal jalan agama waktu itu. Semua satu, semua sama bersyafi’i dan sama berpakaian Naqsyabandiyah.
Kemudian ada orang yang berteori, bahwasanya arus pembaharuan ala Paderi telah menghanyutkan sendi-sendi pengamalan Tarekat di Minangkabau. Maka hal demikian keliru, sebab, meskipun Paderi membawa semangat Wahabi ke Minang lewat 3 Haji itu, namun mereka sekali-kali mereka tidak merubah jalan agama di kampung ini. malah mereka adalah orang-orang kuat ber-Tasawwuf dan ber-Tharikat. Sebutlah Tuanku nan Renceh, Tuanku Pamansiangan nan Mudo, Syekh Jalaluddin Cangkiang, begitupula Harimau nan Salapan itu merupakan murid-murid terutama Tuanku nan Tuo, ulama besar yang memakai jalan Syathariyah.
Sungguh takkan cukup kertas ini menulis nama siapa-siapa saja Ulama besar Luak nan Bungsu ini yang alim dan terkemuka Sufi-nya itu dalam secarik kertas ini. saya kira tuan-tuan sudilah mencari arsip-arsip lama itu buat mengetahui jejak rekam Islam di Minangkabau, sebagai tempat kita bercermin.
Barulah pada awal abad ke-20 muncul gelombang pergolakan agama, sebagai disebut oleh Prof. Schrieke, dimana timbul pertentangan Kaum Muda dan Kaum Tua di Minangkabau. Semuanya terekam jelas dalam berbagai Bibliografi. Seorang Mufti Syafi’iyyah di Mekkah beliau bernama Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi (w. 1916) menulis sebuah risalah yang menghebohkan Minangkabau, berikut dunia Melayu. Risalah itu berjudul Izhharuz Zaghlil Kazibin fi Tasyabbuhihim bis Shadiqin, dimana didalam risalah itu dipertanyakanlah tentang Tarikat Naqsyabandiyah, khususnya mengenai Rabithah. Risalah itu tersebar di Minangkabau dikontribusikan oleh Murid-muridnya yang telah banyak terkontaminasi oleh Faham Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha (pengarang Majalah Modernisasi terkemuka “al-Manar”) sepertihalnya beliau. Kitab itu terdiri dari 144 halaman (terbitan at-Taqdum Ilmiyah Mesir, 1908). Dalam Muqaddimah-nya, disebutkan bahwa beliau membahas 5 masalah dalam Tarikat Naqsyabandiyah. Mulai saat itu mulailah perang dingin itu muncul, satu keras berfaham baru dan satu istiqamah dengan faham ulama silam. Namun hal itu dapat dipertahankan oleh ulama-ulama Minangkabau kala itu, antara lain yang Mulia Syekh Muhammad Sa’ad “Beliau Surau Baru” Mungka Tuo (w. 1922) dan Syekh Khatib Muhammad ‘Ali al-Fadani (w. 1939). Yang Mulia Syekh Sa’ad, yang terkemuka selaku Syaikh Masyaikh (guru sekalian guru) ulama Minangkabau itu dan juga selaku pimpinan Ittihat Ulama Sumatera (Persatuan Ulama Sumatera) , menulis risalah yang terkenal yaitu Irghamu Unufil Muta’annitin fi Inkarihim Rabithatal Washilin (Meremukkan Hidung Penantang, mereka yang membatalkan rabithah orang-orang yang telah sampai kepada Allah). Diawal risalah itu beliau berujar:
(Setelah Basmallah dan Hamdalah serta shalawat)
Tatakala di thaba’ orang kitab izhar Zaghlil Kazibin dan masyhurlah sikatib negeri Minangkabau, gaduhlah orang awam dan caci mencaci mereka itu, hingga mengkafirkan setengah mereka itu mereka yang lain orang yang ditetapkan oleh Allah hatinya atas yang haq. Dan demikian itu dengan sebab tersebut di dalam kitab izhar tersebut menyerupakan orang yang pakai rabithah dengan orang yang menyembah berhala dan di datangkan beberapa dalil dari pada al-Qur’an dan hadist dan kalam sahabat dan ulama sufiyah. Maka dengan sebab itu memintalah dari pada al-haqir Muhammad Sa’ad bin Tanta’ Mungka Tuo setengah dari pada ikhwan dari pada ahlus shalah bahwa menyebutkan al-Haqir akan wajah bagi penguatkan segala dalil rabithah dan bagi penolakkan segala wajah membatalkan rabithah dan pemasukkan amalan Tarikat Naqsyabandiyah kepada syari’at, supaya jangan terlonsong dan terkecuh orang-orang yang tiada kuasa menfahamkan dalil….
Sedangkan Syekh Khatib ‘Ali menulis kitab Burhanul Haq Raddu ‘ala Tsamaniyah al-masail al-Jawab min Su’alis Sa’il al-Qathi’ah al-Waqi’ah Ghayatut Taqrib (cetakan Pulo Bomer-Padang, 1918), berikut kitab Miftahul Shadiqiyyah fi Ihtilahin Naqsyabandiyah (terjemahan karya Syekh Abdul Ghani an-Nablusi). Beliau lebih kuat lagi pertahanannya, sebab beliau pernah merekomendasi keputusan “14 orang oelama Radd tinggi di Mekah” (1924) yang kala itu dipimpin oleh mufti Sayyid Abdullah bin Sayyid Muhammad Shaleh az-Zawawi. Kemudian muncul lagi apologetis Syekh Muhammad Dalil Bayang (w. 1923) yaitu kitab Targhub ila Rahmatillah.
Meski kemudian Syekh Ahmad Khatib menulis lagi risalah kedua beliau tentang Tarikat Naqsyabandiyah, yaitu al-Ayatul Bayyinat lil Munshifin fi Izalati Khurafat Ba’di Muta’ashisibin. Dimana di dalamnya dibahas panjang lebar mengenai i’tiradh bantahan Syekh Muhammad Sa’ad tersebut. Tak berselang lama, Syekh Muhammad Sa’ad melayangkan lagi penanya yang kedua, berjudul Risalah Tanbihul Awam ‘ala Taghrirat Ba’dhil Anam, sehingga mematahkan kalam Syekh Ahmad Khatib. Dengan syukur Syekh Sa’ad berujar:
Maka terbujuklah dengan dia setengah segala hati yang pecah-pecah wal hamdulillah ‘ala dzalika.
Setelah dua ulama ini kembali akrab, saat lama berpolemik. Maka yang membuat panjang masalah ialah murid-murid Syekh Ahmad Khatib, seumpama DR. Abdul Karim Amarullah (ayah Hamka) , DR. Abdullah Ahmad Padang (pendiri Adabiyah School) dan lainnya. Mereka menulis surat kabar untuk menyambung ide-ide pembaharuan itu di Padang, dengan nama “Majalah al-Munir” (senada dengan al-Manar di Mesir). Lalu kemudian diramaikan oleh Syekh Muhammad Jamil Jambek dengan buku Penerangan tentang asal Usul Tarikat Naqsyabandiyah (2 jilid, terbitan Tsamaratul Ikhwan Bukittinggi, 1940), dengan nada bantahan yang moderat.
Begitulah halnya kaum muda di Minangkabau, yang mencoba menanggalkan amal Tarikat di pulau perca ini. kemudian pada tahun 1925, masuk Muhammadiyah ke Minangkabau (kantor perwakilan pertamanya di Sungai Batang Maninjau), dibawa oleh ayah Hamka ytb. Sehingga pertentangn semakin alot, kemudian disusul dengan pembentukan “Sumatera Thawalib” di Padang Panjang, yang mempunyai pendirian radikal terhadap Tarikat.
Meski begitu, benteng telahpun terpasang, ulama-ulama Minangkabau lainnya terus membendung arus perubahan tersebut. Maka terkemukalah nama-nama seperti Maulana Syekh Sulaiman ar-Rasuli (w. 1970) yang mengarang berbagai risalah tentang Naqsyabandiyah, satunya yang terkemuka ialah Risalah Aqwalul Washithah fi Zikri wa Rabithah; kemudian Syekh Abbas Qadhi Ladang Laweh, Syekh Arifin Batu Hampar, kemudian Syekh Abdul Wahid “Beliau Tabek Gadang” Payakumbuh, dan banyak lagi lainnya. Dan Syekh Bayang sendiri, dengan untaian sya’ir-nya Darul Mau’izhah:
………
Nama nazham ini Darul Mau’izhah
Artinya pengajaran yang amat indah
Karena pemutusan hajat fitnah
Kepada ahli naqsyabandiyah

Karangan saya faqir yang ummi
Taqshir dan lalai sepanjang hari
Muhammad Dalil hamba haqiri
Nama ayahnya Muhammad Fatawi

Mula adanya di negeri Bayang
Sekarang ini di negeri Bayang
Di belakang mesjid tempatnya terang
Demikian lagi di pasar Gadang

Dosanya banyak tidak terhinggakan
Jikalau ada tuan kasihan
Tuan tolonglah minta ampunkan
Kepada Allah Tuhan ar-Rahman

Muhammad Shaleh bin Muhammad Saman
Di Alahan Panjang duduk kediaman
Nazham ini sungguhan betulkan
Patut sekali tuan amalkan

Ambillah nazham coba muthala’ah
Supaya nafsu jangan melengah
Nazham tarekat Naqsyabandiyah
Nyatalah suci sempurna jelah

Manalah tuan yang baik hati
Mana yang salah boleh baiki
Saya mengaku bukan ahli
Belumlah patut mengarang ini

Kalau mufakat kitab dan Sunnah
Muthabaqah pula dengan waqi’ah
Semua itu karunia Allah
Mengucap syukur alhamdulillah

Jikalau tuan menaruh dengki
Tuan membaca berhati benci
Tuan melengah kanan dan kiri
Mencari ikhtiar serta budi

Di mana orang ada menyalahkan
Nomor berapa ia sebutkan
Ambillah dawat lekas tuliskan
Ke dalam Koran boleh masukkan

Fasal tarekat Naqsyabandiyah
Asal mulanya dari Allah
Jibril membawa kepada Rasulullah
Dengan wahyunya azzal jalalah

Kemudian turun ke Abu Bakari
Sudah itu ke Salman al-Farisi
Sampai sekarang tali bertali
Dengan silsilahnya terang sekali

Jikalau tuan mau bertanya
Kalau tarekat ini Abu Bakar punya
Patut turun kepada anaknya
Mengapa kepada Salman tempat turunnya

Ini jawabnya yang amat indah
Anak Nabi Siti Fathimah
Patutlah ia jadi Khalifah
Menggantikan Nabi Rasul ar-Rahmah

Mengapa Abu Bakar khalifah Nabi
Diizinkan Allah Tuhan Ilahi
Dengan sepakat segala ashabi
Wallahu yakhtasshu bi Rahmatihi man Yasya’

Artinya Allah Ta’ala yang menentukan
Dengan rahmat-Nya buat yang dikehendakkan
Patut sekali kita benarkan
Demikianlah sebab hamba katakan
………

Dilanjutkan oleh wadah kaum Tua, Persatuan Tabiyah Islamiyah, 1930. begitulah adanya pergolakan agama, yang pernah diabadikan sejarawahan, entah negeri kita ataupun para intelek belanda. Hingga kini corak Tasawwuf itu, masih seperti dulu, tiadakan bertukar. Dan sayapun menemui satu scrit di akhir tahun lalu, tepatnya di Kutubkhannah Dr. Abdul Karim Amrullah, Sungai Batang Maninjau, perihal ijazah Tarikat ‘Alawiyah dan Hadadiyah yang diterima Inyiak rasul itu dari ayahnya Syekh Amrullah Tuanku Kisa’i al-Khalidi Naqsyabandi ad-Danawi.
Setelah masa pergolakan itu, kedua kelompok kemudian hidup berdamping, meski perang dingin pernah pula terjadi, namun tidak lagi meluas. Untuk kemudian, kehidupan “Tarikat” tetap berkembang di alam Minangkabau ini, bahkan menurut catatan-catatan peneliti meningkat dari tahun ke tahun. Dari dulu tetap menjadi kekhasan Islam di Minangkabau, dan pulau-pulau nusantara ini. semuanya terekam jelas, sebagai diurai oleh Wan Shaghir Abdullah, si-“Manuskript berjalan dunia Melayu” itu, juga dibeberkan oleh Prof. Aboe Bakar Aceh.
Untuk selanjutnya, para alim kita telahpun mengelompokkan Tarikat ke dalam 2 kategori besar, yaitu [satu] Tarikat Mu’tabarah (diakui), dan [dua] Tarikat ghair mu’tabarah. Saya tidak akan memperpanjang kalam dalam ini. dari Tarikat Mu’tabarah, disebutkan sebanyak 41 Tarikat yang diakui, memiliki sanad yang mu’an’an kepada Rasulullah dan pengamalannya tidak bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah. Yaitu:
1. Umariyah
2. Naqsyabandiyah
3. Qadiriyah
4. Syaziliyah
5. Rifa’iyah
6. Ahmadiyah
7. Dasuqiyah
8. Akbariyah
9. Maulawiyah
10. Kubrawiyah
11. Sahrawardiyah
12. Khalwatiyah
13. Jalwatiyah
14. Bakdasyiyah
15. Ghazaliyah
16. Rumiyah
17. Sa’diyah
18. Gistiyah
19. Sya’baniyah
20. Kalsyaniyah
21. Hamzawiyah
22. Bairumiyah 23. Usysyaqiyah
24. Bakriyah
25. Idrusiyah
26. Ustmaniyah
27. Alawiyah
28. Abbasyiyah
29. Zainiyyah
30. Isawiyah
31. Buhuriyah
32. Hadadiyah
33. Ghaibiyah
34. Khadhiriyah
35. Syathariyah
36. Bayumiyyah
37. Malamiyyah
38. Uwaisyiyah
39. Idriyyah
40. Akabiral Auliyah
41. Matbuliyyah
42. Sunbuliyah
43. Tijaniyah
44. Samaniyyah
Begitulah perihal Tarikat-tarikat Sufiyah dikalangan penghulu kita Ahlis Sunnah wal Jama’ah, begitulah amalan ulama-ulama di Pulau perca ini, nusantara umumnya. Untuk dunia melayu, khusus di Minangkabau setidaknya ada tiga kearifan Tasawwuf yang berkembang pesat, yaitu Syathariyah, Naqsyabandiyah dan Samaniyah. Lebih khusus lagi di ranah Luak nan Bungsu ini, yang paling berkembang pesat ialah Tarikat Naqsyabandiyah al-Khalidiyah. Adanya penambahan nisbah “al-Khalidiyah” mengiringi “Naqsyabandiyah” merupakan nama yang melekat setelah masa silsilah ke-30 dari Rasulullah, yaitu dimasa Maulana Syekh Khalid Kurdi. Periodesasinya ialah:
1. Dimasa Sayyidina Abu Bakar Shidiq ra. Hingga masa Syaikh Taifuriyah dinamai dengan Shidiqiyah
2. Dari masa Syekh Taifuriyah hingga masa Khawajah Syekh Abdul Khaliq Fajduani dinamai dengan Taifuriyyah
3. Periode Syekh Abdul Khaliq hingga Syekh Bahauddin al-Bukhari dinamai dengan Khawajakaniyah
4. Masa Syekh Bahauddin al-Bukhari hingga Syekh Ubaidullah Ahrar dinamai dengan Naqsyabandiyah
5. Masa Syekh Ubaidullah hingga Imam Robbani dinamai dengan Ahrariyyah
6. Darimasa Imam Robbani hingga Maulana Syekh Khalid dinamai dengan Mujaddidiyah
7. Dimasa Maulana Syekh Khalid hingga saat sekarang ini dinamai dengan al-Khalidiyah
Sejak masa Maulana Syekh Khalid inilah dinamai dengan al-Khalidiyah, lengkapnya dibaca “Tarikat Naqsyabandiyah al-Ahrariyah al-Mujaddidiyah al-Khalidiyah”, lebih lazim disebut dengan “Tarikat Naqsyabandiyah al-Khalidiyah”. Dan inilah yang berkembang pesat di Bumi nan Permai ini, Minangkabau.
Itulah sekilas yang saya sebutkan mengenai “Tarikat” ulama-ulama kita tersebut, lebih dalam secara tafshili niscaya tiada mampu saya menguraikan.
Adalah suatu kerinduan bila kesejukan tetap ada di Luak Limopuluah ini, ranah yang sering saya rindui di perantauan, yang masih belum terkuak keajaiban-keajaiban yang ada di negeri kita ini. harapannya orang-orang yang telah terlanjur buruk sangka kepada Tarikat dapat arif bertindak, menimbang dengan ilmu dan bertanya pada ahli-nya. Sebab kadang kala orang buta sering mengatakan matahari itu tak ada. Apatah lagi sekarang, ulama-ulama tempat bertanya telah banyak berpulang kerahmatullah, surau-surau sudah hampir lapuk dan roboh, orang-orang tak ber-himmah lagi belajar agama dengan semantap-mantapnya. Sedang orang ramai hanya seperti orang nan diasak jalannyo, kaji lah diubah pakiah singgah, cupaklah acok dipapek rang manggaleh. Pantas saja mutiara telah dianggap batu biasa, kerisik sudah dianggap sebagai sutera. Dan jika itu terjadi, maka Luak nan Bungsu, dalamnyo akan tajangkau, dangkanyo ka tasubarangi, dan Buayo Gadang itu takkan lagi maunikan kampuang kito.
Jikalaupun ditangan kita ada kitab-kitab yang disurukkan itu, seumpama risalah-risalah yang “DALAM” karya Syekh Mudo Abdul Qadim (w. 1957) yang masyhur terbilang namanya dengan “Baliau Balubuih” itu, atau dapat membeli kitab al-Bahjatus Saniyyah fi Adabit Tariqatil Aliyah an-Naqsyabandiyah, atau Majmu’atur Rasa’il fi Ushulin Naqsyabandiyyah al-Mujaddi al-Khalidiyah karya Syekh Sulaiman Zuhdi yang sangat langka itu, ataupun mampu memperoleh kitab-kitab Tarikat yang sengaja disembunyikan itu, niscaya kita takkan faham maksudnya, sehingga akan kita ungkap saja “kitab apa pula ini???”, jikalau tanpa seorang guru yang alim allamah, yang terbilang silsilahnya dalam Tarikat Naqsyabandiyah. Sebab kato mereka basingkek-singkek, rundingan bamisa baumpamo, dibaliak tasurek ado nan Tasirek… mencakup Balaghah, lengkap bayan ma’ani badi’ dalam setiap ungkapannya.
Begitupula perihal rabithah yang terpakai pada sisi Tarikat Naqsyabandiyah, tiadakan memperoleh faham kalau hanya membaca buku saja, apatah lagi membaca buku yang bukan dikarang oleh si-ahli-nya. Dia mesti berhadap-hadapan dengan ulama-ulama yang “dalam” fahamnya mengenai hal tersebut. Perlu diketahui, beliau-beliau itu masih ada, namun beliau-beliau tinggal di dusun-dusun terpencil, jauh dari hiruk pikuk kota nan memusingkan. Beliau-beliau hidup selaku petani, orang biasa tiadakan tau kalau mereka adalam alim-nya. Untuk perkara rabithah yang musykil ini, maka hendaklah bertanya kepada ulama-ulama mumpuni.
Minggu, 27 Februari 2011, merupakan satu angin kesejukan bagi saya pribadi. Tepatnya di negeri yang sejuk, Koto Tangah – Kec. Bukik Barisan diadakan wirid bulanan oleh “Wirid Silaturahmi Sumatera Barat”. Dihadiri oleh tamu istimewa, Tuanku Raja Besar dari Negeri Sembilan – Malaysia, diiringin Wakil Bupati, dan diikuti oleh ribuan jama’ah yang bukan hanya datang dari Limapuluh kota, namun juga dari Agam, dimana kebanyakan beliau yang hadir ialah para Syekh dan Khalifah dari Tarikah Ahli Sufi yang ada di Minangkabau, apakah Naqsyabandiyah atau Sammaniyyah. Tuanku Raja Besar naik ke panggung, beliau membacakan sekilah hubungan kerabat antara Negeri Sembilan dengan Luak Limopuluah, disebutkan nama seorang ulama yang menjadi moyangnya yaitu Syekh Abdurrahman, teman dari Syekh Burhanuddin Ulakan. Rupanya beliau keturunan Sufi-sufi besar Minangkabau, ungkapku. Kemudian disambung pembicara Wakil Bupati, ketika sampai membicarakan faham Tarikat yang gencar-gencarnya dibicarakan itu, saya lihat para Tuanku dan Syekh tersimpul manis, entah apa gerangan yang mereka senyumkan. Kemudian tampil Buya Mangkuto Malin dari Sungai Beringin, mengupas Naqsyabandiyah dengan “dalam” dan berbekas, hingga hampir air mataku menganak sungai, haru. Saya hanya penonton luar lapangan, menyaksikan alim-alim itu duduk tenang berselimut khirqah. Andai saya adalah satu antara mereka, niscaya saya akan jahit mulut-mulut yang mengingkari “Tarikat” ini dengan kalam yang tajam. Namun saya memang terburu nafsu, mereka, para Tuanku Syaikh itu bukanlah termasuk orang yang suka memuncak bila kemafsadatan terhadap kaji lama itu marak, mereka masih senyum dan sabar dengan suasana yang ada. Ku ingat dalam Ijazah tertulis: “Jikalaulah Mereka atas Nama Tarikat, niscaya akan Kami tuangi dengan air Mata Ma’rifat”.
Demikianlah halnya yang dapat saya ungkap dalam surat yang sederhana ini, kehadapan ulama-ulama supaya Arif dan Bijaksana. Janganlah nila setetes membuat rusak susu sebelanga, angkatkan segera nila itu, bersihkan putihnya susu yang ada, hingga dapat diminum mensihatkan jasad dan ruh.
Terakhir, teringat ungkapan guru kito Maulana Syekh Mudo Abdul Qadim “Beliau Belubus” yang masyhur itu, beliau berpitua pada akhir Risalah Tsabitul Qulub-nya:
“Pegang Syari’at Tubuh nan kasar,
pegang tharikat tubuh nan halus,
pegang Hakikat tubuh nan Bathin,
pegang Ma’rifat Tuhan nan punya pegang.
Dicari pengenalan di dalam zikir, dipakai di dalam sembahyang,
disudahi tatakalo nyawa berpulang kerahmatullah…”


selesai ditulis 23.25, malam senin petang Rabu, 28 Februari 2011
ditulis dengan wajah yang khalis, memakai tinta nan sempurna hitamnya, diatas kertas yang seputih-putihnya.
Ditangan Fakir yang karam dalam lautan dosa
Diam bermain di Surau Batu Berair, Mungo

Profil Skriptorium Manuskrip Mesjid Syekh Muhammad Sa’id Bonjol

Oleh: Apria Putra
Sebuah Catatan Perjalanan, Desember 2009


1. Syekh Muhammad Sa’id Bonjol : Pribadi dan Ketokohannya

Di salah satu Pusat perjuangan Paderi (1803-1838), Bonjol, pernah pula menjadi pusat kajian Islam Tradisional Minangkabau yang masyhur namanya sampai akhir abad ke-20. Nama besar perguruan Islam Tradisional itu tak lain karena dedikasi dan ketenaran seorang ulama besar yang kharismatik di daerah ini. Ulama itu ialah Syekh Muhammad Sa’id Bonjol, terkenal pulalah beliau ini dengan panggilan “Imam Bonjol ke-II”.
Masih tertulis dengan rapi nama Syekh Muhammad Sa’id Bonjol ini dalam buku-buku sejarah tua tentang Islam di Minangkabau, karena beliaulah penganjurnya yang gigih dan konsisten dengan akidah dan amalan yang dianut. Nama beliau paling banyak disebut apabila dihubungkan dengan jami’ah (organisasi) ulama-ulama Tua Minangkabau, PERTI, sebagai salah seorang sesepuh yang dihormati, teman seperjuangan Inyiak Syekh Sulaiman ar-Rasuli Candung. Organisasi Kaum Tua ini terkenallah sebagai wadah persatuan Ulama-ulama besar yang setia terhadap Mazhab Syafi’i dalam Fiqih, Ahlussunnah wal Jama’ah dalam berakidah dan memakai salah satu Tarekat Mu’tabarah sebagai bentuk pengamalan terhadap Tasawwuf sunni. Maka Syekh Sa’id merupakan salah satu tokoh yang tidak bisa dikesampingkan dalam perkumpulan ini.
Syekh Muhammad Sa’id dilahirkan pada tahun 1881. tidak tercatat lagi masa kecil beliau. Namun dapat diduga bahwa beliau di masa-masa umur puluhan tahun mengaji ala surau Minangkabau di daerah kelahirannya, Bonjol. Dasar-dasar keilmuan surau inilah yang memotivasinya untuk belajar ke tanah suci Mekkah dikemudian harinya, sebagai halnya ulama-ulama besar yang sebaya dengan beliau, sampai masyhurnya beliau sebagai Ulama besar.
Selain ilmu-ilmu Syariat yang dipelajari beliau secara bertalaqqi sejak dari Surau sampai ke Mekah al-Mukarramah, beliaupun istimewa dalam ilmu Tarekat dan Hakikat, sehingga terkenallah Syekh Sa’id sebagai salah seorang mursyid dan syekh dari Tarekat Naqsyabandiyah al-Khalidiyah. Dari karena keistimewaan beliau dalam bidang Tasawwuf ini, Syekh Sa’id menjadi tokoh besar dalam mengurus bidang Tarekat Sufiyah dalam organisasi PERTI, setelah Syekh Abdul Wahid Beliau Tabek Gadang, Syekh Arifin Batu Hampar dan Syekh Muda Abdul Qadim Belubus Payakumbuh wafat. Tercatat bahwa beliau menjadi salah satu Ulama yang mengikuti Konferensi Tarekat Naqsyabandiyah di Bukittinggi pada tahun 1954, dalam membahas karangan-karangan Haji Djalaluddin (sebagai tersebut dalam Tablighul Amanah).
Syekh Sa’id mengambil Tarekat Naqsyabandiyah dari yang Mulia Syekh Ibrahim Kumpulan (1764-1914), yang masyhur namanya dengan “Angguik Balinduang Kumpulan”. Keberhasilan beliau dalam Tarekat Naqsyabandiyah menyebabkan beliau diangkat sebagai khalifah Syekh Ibrahim Kumpulan. Dikarenakan begitu taatnya beliau kepada Allah sehingga beliau mendapat Karunia Allah di dalam mengerjakan khalwat. Diceritakan dalam mengerjakan Suluk di Bulan Ramadhan beliau beroleh Karomah. Seketika mengambil wadhu’ di Malam Hari, Sorban beliau dilarikan Pohon kelapa yang rebah, sebab sebelumnya beliau meletakkan kain sorban beliau di pohon kelapa rebah itu sebelum berwudhu’.
Kedalaman ilmu beliau dalam bidang Syari’at, ditambah dengan paham yang matang dalam Tarekat, membuat Syekh Sa’id terkenal sebagai Ulama yang disegani oleh kawan maupun lawan. Tidak berapa lama setelah menamatkan kaji, Syekh Sa’id tidak perlu menunggu lama untuk membangun sebuah tempat pendidikan Tradisional sebagai tempat untuk mengamalkan ilmu yang telah berpuluh tahun dituntutnya. Baru saja beliau kembali ke kampung halamannya, para pelajar telah berbondong-bondong menuju Bonjol untuk bertalaqqi dan berkhitmat kepada Syekh Sa’id Bonjol. Masih teringat dan terkenang oleh para murid beliau yang sekarang berada dalam usia tua, ratusan orang siak mengaji siang dan malam, melafazhkan kitab kuning, berbai’at dalam Tarekat Naqsyabandiyah, di tempat Syekh Said yang sekarang telah disulap menjadi Mesjid Syekh Sa’id Bonjol.
Begitu halnya yang berlaku selama puluhan tahun, mengaji dan bersuluk menjadi aktivitas rutin di Surau Syekh Sa’id. Kemasyhuran Beliau, menjadi bau harum semerbak yang mengundang para penuntut ilmu dari daerah-daerah yang jauh, bukan hanya di kawasan Bonjol. Tercatat murid-murid beliau berasal dari Payakumbuh, Agam, Lubuk Sikaping bahkan dari Sumatera Utara. Keramaian pelajar itu bertahan sampai masa berpulang kerahmatullah Syekh Sa’id di tahun 1979 dalam usia 98 tahun. beliau kemudian dimakamkan di Mihrab Mesjid beliau, seperti ulama-ulama besar lain, makam beliau dihiasi dengan Kelambu putih, sebagai hormat dan setia kepada Imam Bonjol ke-II, Syekh Haji Muhammad Sa’id.
Seperti yang terjadi dengan ulama-ulama besar lainnya, pepatah orang-orang tua berlaku pula pada pribadi Syekh Sa’id. Ibarat kelapa condong, batangnya di tanah kita, namun buahnya jauh ke tanah orang lain. Murid-murid Syekh Sa’id yang seharusnya menjadi pengganti beliau bukanlah orang-orang Bonjol maupun keturunannya, tapi banyak di luar Bonjol. Maka tinggallah Makam dan Mesjid Syekh Sa’id, bukan lagi diurus dan dilanjutkan oleh para murid. Masih kita syukuri tradisi dan ajaran yang beliau anut tetap dipegang erat-erat oleh masyarakat Bonjol umumnya.

2. Mesjid Syekh Muhammad Sa’id Bonjol : Kedudukan dan Pengaruhnya

Suasana yang masih asri, begitulah jika kita memasuki kawasan mesjid Syekh Muhammad Sa’id Bonjol. Gaya arsitek lama, tata ruang yang sangat klasik dan amalan-amalan masyarakat di Mesjid ini yang masih seperti dulu menambah kekhasan Mesjid yang di desain di awal abad 20 itu.
Mesjid Syekh Sa’id di pagari oleh tembok setinggi 2 meter di keempat penjurunya, sehingga dari pekarangan mesjid kita tak bisa melihat jalanan aspal di depan komplek mesjid ini. Memasuki pekarangan, kita akan memasuki pintu yang cukup besar pada pagar tembok. Dengan halaman yang telah bersemen, Mesjid akan tampak tegar walaupun dengan usia yang lebih setengah abad. Mesjid tersebut memiliki satu Kubah besar, dan dua kubah kecil di kanan kirinya. Memasuki ruangan Mesjid kita akan menemui akan tangga yang berciri khas di depan pintu masuk. Tangga tersebut menghubungkan lantai dasar dengan loteng (minang : pagu), di loteng itu sendiri terdapat ruangan khusus, dan di atas itu lagi ada ruangan lagi.
Ruangan tertata dengan gaya lama, selain tonggak-tonggak semen bercampur kayu, mimbarnya pun sangat antik, berjenjang dari depan sehingga kalau khatib naik mimbar akan melangkah dan berdiri di jenjang-jenjang bertikar beludru itu. Sebagai hijab antara laki-laki dan perempuan terdapat kain berwarna biru, tertutup rapat, sehingga memang laki-laki tak bisa memasuki tempat shalat wanita di Mesjid tersebut.
Di sekitar mesjidpun masih berdiri bangunan-bangunan tua, bekas kejayaan dimasa lalu. Tepat sebelah kanan mesjid terdapat kran-kran tempat berwudhu’ laki-laki. Besebelahan dengan tempat berwudhu’ itu terdapat sebuah bangunan kayu yang dibangun diatas kolam yang cukup luas. Persis di belakang Mihrab mesjid terdapat ruangan makam Syekh Muhammad Sa’id dengan kelambu putih. Dibelakang makam tersebut, terdapat lagi sebuah ruangan khusus, dengan satu bilik sebagai tempat peninggalan benda-benda syekh, seperti jubah, sorban dan kitab-kitab. Di sebelah kiri mesjid terdapat lagi 2 buah bangunan yang terbuat dari kayu. Menurut keterangan yang ada bahwa ruangan-ruangan itu merupakan tempat para santri dahulunya menuntut ilmu.
Bila masuk waktu shalat jum’at, maka suasananya pun akan sangat terasa lain, sebab memang tak biasa sebagaimana yang dialami oleh orang-orang modern saat ini. Di Mesjid inilah kita menyaksikan amalan tradisional yang masih kental, belum pudar di hanyutkan modernisasi dan Tajdid. Sebab Minangkabau sedari dulunya kuat menganut mazhab syafi’i, maka pengamalan jum’atnya sarat dengan amalan pekah Syafi’iyyah. Sebelum jum’at, beduk di pukul 2 kali berselang sekitar setengah jam. kemudian azan dilakukan dua kali .
Suatu yang unik dari pelaksanaan azan di Mesjid Syekh Sa’id ini, azan pertamanya bersahut-sahutan antara satu muazzin dengan muazzin yang satunya, yang satu berdiri di Mihrab mesjid, sedang satunya lagi berdiri ditangga menuju ruangan atas. Apabila muazzin pertama yang berada di Mihrab azan dengan kalimat Allahu Akbar, maka disahut oleh muazzin kedua dengan kalimat yang sama setelah bacaan muazzin pertama selesai. Begitu seterusnya, sampai pada kalimat la ilaha illallahu baru dibaca bersama-sama oleh kedua muazzin tersebut. Kesyahduan irama yang dihasilkan menambah khitmat pelaksanaan jum’at, ditambah dengan suasana yang hening ala orang-orang tradisional, yang mungkin jarang kita kemui sekarang.
Setelah azan dilantunkan, kemudian para jama’ah yang telah memenuhi mesjid berdiri untuk melaksanakan shalat sunat Qabliyah jum’at. Setelah itu baru khatib naik mimbar dengan setelan sorban, syal di pundak dan bersarung, tak lupa dengan tongkat ditangan kanan. Sesudah salam dilaksanakan azan yang kedua, namun tidak seperti azan pertama, azan ini dilakukan oleh muazzin seorang tanpa bersahut-sahutan.
Khatib berdiri setelah kumandang azan, dan mulai membaca khotbah dengan bahasa Arab. Ada suatu yang aneh, walaupun dengan khutbah bahasa Arab namun khitmatnya beribadah lebih terasa dibanding dengan khutbah yang diucapkan dengan bahasa Indonesia, dengan uraian yang panjang. Dalam sejarah kita baca, bahwa pelaksanaan khutbah di Minangkabau dulunya memang dilakukan bahasa Arab, dapat dinyatakan sejak masuknya Islam itu sendiri. Baru di awal abad ke-20 dimulai khutbah dalam bahasa Indonesia oleh ulama-ulama yang kebanyakannya berfaham muda. Diantara ulama yang memulai perubahan bahasa khutbah itu ialah Syekh Muhammad Thayyib Umar Sungayang Tanah Datar (wafat 1920) dan Syekh Muhammad Djamil Djambek Bukittinggi (wafat 1947). Selanjutnya melihat keadaan masyarakat yang dari masa kemasa mulai kurang memahami bahasa Arab, perubahan khutbah inipun dilakukan pula oleh kaum Tua, dengan konsekwensi rukun khutbah mesti berbahasa Arab. Walaupun perubahan itu telah hampir seabad lalu di mulai, namun masih ada diantara ulama-ulama yang mempertahankan tradisi khutbah dengan bahasa Arab sebagai sediakalanya, tentu dengan dalil dan hujjah yang kuat pula. Maka Mesjid Syekh Sa’id ini termasuk kelompok yang masih memakai paham lama, ketika belum ada yang namanya modernisasi.
Pelaksanaan khutbah sendiri di Mesjid Syekh Sa’id dalam waktu yang relatif pendek, kira-kira kurang dari 10 menit. Sewaktu khatib duduk di antara dua khutbah, bilal membaca dengan jahar beberapa ayat al-Qur’an dan Shalawat. Setelah itu, shalat dilakukan dengan imam tersendiri, bukan khatib. Pelaksaan shalatpun sangat kental dengan fiqih syafi’iyyah sebagai halnya dilakukan di- derah-daerah lainnya, menjaharkan bacaan basmallah dan membaca surat juga diawali basmallah. Selesai shalat berdo’a bersama sebagaimana yang lazimnya. Setelah itu, khusus bagi jama’ah tharekat Naqsyabandi tetap di dalam Mesjid ketika masyarakat lain pulang. Kemudian pintu ditutup, untuk melaksanakan Tawajjuh, sebuah amalan zikir dalam tharekat Naqsyabandiyah.
Suatu yang unik lainnya ditemui, diwaktu pelaksanaan jum’at juga diikuti oleh kaum hawa untuk mendengarkan khutbah. Memang tak lazim bagi orang-orang sekarang, namun indikasi yang menunjukkan bahwa amalan seperti ini pernah banyak dilakukan di Minangkabau khususnya. Dan lagi jika ditelisik dari fiqih, sunnat pula hukumnya perempuan mengikuti jum’at. Begitu seharusnya, namun tak banyak masyarakat masa kini yang mengetahui.
Begitulah eksistensi Mesjid Syekh Sa’id dalam menjaga tradisi dan amalan yang telah dibangun pondasinya oleh ulama Besar Syekh H. Muhammad Sa’id Bonjol. Dengan demikian, besar pula pengaruh eksisnya Mesjid bagi masyarakat sekitarnya dalam menumbuhkan sikap konsekwen dalam beamal ibadah, sebagaimana dibawa oleh ulama-ulama besar pendahulu kita, jauh dari pendangkalan keilmuan dan amalan yang dibawa oleh kaum modern.

SURAU BINTUNGAN TINGGI DAN NASKAH KUNO ISLAM

Oleh : Apria Putra
Berdasarkan penelusuran penulis ke Surau Bintungan Tinggi- Pariaman, Minggu/ 21 desember 2008


1. SURAU BINTUNGAN TINGGI : DULU DAN KINI

Melihat jejak histories Islam di Pariaman memang membuat kita takjub akan keberadaan lembaga surau di sana. Rasa kental beragama, taat beribadah dan kaya dengan khazanah tradisi Islam menjadi pemandangan indah, indah karena hidup dalam batasan moril, religiusitas serta budaya yang beraneka ragam.
Surau, itulah tempat awal dan akar perkembangan Islam di sini, yang nantinya membias seantero jagat alam Minangkabau dengan jaringan ulama yang luas. Eksistensi surau menjadikan tolak ukur kemajuan islam di suatu daerah kala itu. Sehingga tidak berlebihan bila kehidupan keislaman orang Minang tak terlepas dari surau, sebuah bangunan yang kebanyakan dibuat dengan susunan-susunan papan tetapi dari dalamnya lahir intan berlian, pemenuhi jagat cakrawala intelektual Islam masa sekarang.
Kehidupan di surau bukanlah sesederhana yang kita bayangkan, lebih komplek malahan dari rumus-rumus trigonometri. Mengapa begitu, karena kehidupan surau bukan hanya terjalin secara tampak, sama halnya kajian eksakta, tapi lebih dari itu jalinan kehidupan surau dibuhul dengan tali spitual, rohani, hal-hal yang abstrak istilah ilmiahnya.
Kehidupan surau sendiri dapat kita lihat dengan adanya guru yang mengajar dalam hal ini dipegang oleh seorang Syekh atau Tuanku. Guru inilah yang menjadi titik nadi kehidupan surau, karena dari beliaulah para murid-murid berdatangan menimba ilmu-ilmu keislaman yang luas dan komprehensif. Hal selanjutnya yang kita lihat yaitu adanya kajian-kajian Islam yang komplit, mulai dari dasar-dasar agama, lingua yang menjadi alat, sampai kepada kajian-kajian tingkat tinggi yang hanya disampaikan kepada orang-orang yang mempunyai pemahaman yang dalam.
Hal selanjutnya yang dapat kita lihat dari kehidupan surau yaitu adanya murid-murid, di Minangkabau dikenal dengan istilah orang siak. Murid-murid inilah yang berkumpul siang, pagi dan petang, membaca kaji, mensurah kitab sampai kepada menghafal pelajaran menjadi pemandangan harian yang mewarnai eksis-nya sebuah surau. Dalam kasus surau-surau yang berpengaruh, murid-murid ini pada hari-hari tertentu menyebar ditengah-tengah masyarakat, meminta sedikit sumbangan untuk bekal mengaji ketika kiriman dari kampung belum datang. Masyarakatpun merasa senang memberi pangan untuk para penuntut ilmu ini, sebab mereka merasa sangat lekat dengan ilmu. Memuliakan orang yang menuntut ilmu, sama dengan memuliakan ilmu, pahala yang bukan kepalang kita dapatkan, begitulah kesadaran masyarakat kala itu, sangat bertolak belakang dari realitas masa sekarang. Murid-murid yang meminta tunjangan bekal belajar ini dikenal dengan istilah mamakiah ( berasal dari kata fakiah ).
Fungsi surau bukan hanya untuk mengaji seperti diatas, malah lebih komplek seperti yang dibayangkan. Disamping menjadi pusat kajian Islam, surau juga berfungsi sebagai tempat bermusyawarah, tempat tinggal anak laki-laki, berajar adat, pusat latihan beladiri masa lalu, pokoknya pusat aktifitas sosial agama di desa-desa Minangkabau. Sehingga mengkaji surau, berarti kita mengkaji seluruh elemen yang ada ditengah-tengah masyarakat. Apakah itu adat, budaya, tradisi dan istimewa dalam agama.
Dalam gambaran adat Minangkabau pra-Islam telah terjalin hubungan yang erat antara lembaga keagamaan ( surau ) sebagai pusat ibadat dengan kerajaan sebagai pusat kekuasaan. Jalinan inilah nantinya dipertegas setelah Islam masuk ke Minangkabau dan dianut oleh masyarakat. Hal ini diisyaratkan oleh pepatah syara’ mangato, adat mamakai (agama yang memberi fatwa dan agama yang melaksanakan), sehingga agama dan adat menjadi identitas orang Minang. Akan sangat aib bila orang minang dikatakan sebagai orang yang tidak beradat, atau tidak beragama.
Penyebaran Islam ke Minangkabau berawal dari tumbuhya tradisi surau sebagai tonggak tua pengenalan Islam di daerah ini, namun masih banyak ilmuan yang menguaknya secara jelas. hal ini disebabkan oleh belum banyaknya intelektual Islam yang menggeluti asal usul masuknya Islam ke Minangkabau, kecuali beberapa orang saja. Dalam hal ini Syekh Burhanuddin Ulakan yang sebelumnya telah menjalin hubungan dengan Syekh Abdurra’uf Singkel di Aceh. Beliau adalah satu-satunya ulama yang telah mengembangkan Islam sebelum masa kolonial Belanda.
Di Minangkabau nama Syekh Burhanuddin tidak asing lagi bagi masyarakatnya, ia dikenal terutama dikalangan generasi tua sebagai tokoh pertama penyebar Islam di Negeri ini. Namanya harum dan ajarannya mewarnai pola pikir dan cara kehidupan masyarakat. Kenyataan ini sangat mungkin diyakini dan sulit dipungkiri, karena masing-masing suku dari berbagai daerah di Minangkabau mempunyai surau. Suatu aib kalau suatu suku dalam satu kampung tidak mempunyai surau. Di surau-surau ini para murid menimba ilmu dari guru-gurunya, sekaligus sebagai tempat transmisi ajaran Islam ke berbagai daerah. Salah satu surau berpengaruh yang merupakan lahir dari eksistensi surau Ulakan yaitu surau Bintungan Tinggi.
Keberadaan surau Bintunagn Tinggi tidak terlepas dari keberadaan seorang ulama kharismatik dan berpengaruh di Ulakan dan Bintungan Tinggi, dialah Syekh Abdurrahman Bintungan Tinggi. Beliau adalah hasil didikan ulakan yang cemerlang pada zamannya, yang paling berperang diantara khalifah-khalifah Ulakan lainnya dalam melanjutkan usaha dan ajaran Syekh Burhanuddin Ulakan.
Sebelum kita mengenal eksistensi surau Bintungan Tinggi dalam mengembangkan agama Islam kala itu. Kita mesti terlebih dahulu mengetahui serta mengnal tokoh sentral surau Bintungan Tinggi yaitu Syekh Abdurrahman.
Syekh Abdurrahman lahir pada tahun 1827 H / 1243 masehi, dari pasangan Syekh Ibnu Muttaqin dengan Pik mande yang bersuku sikumbang. Ayah beliau sendiripun seorang ulama disegani pada zamannya dan juga merupakan anak langsung dari Syekh Abdurrahman Ulakan, Khalifah Syekh Burhanuddin di Tanjung Medan Ulakan.
Perjalanan intelektual Syekh Bintungan Tinggi sendiri dimulai ketika belajar kepada ayahnya sendiri, Syekh Ibnu Muttaqin atau yang lebih dikenal dengan panggilan Syekh Tabat Yada. Tak kurang dari sepuluh tahun beliau diasuh oleh ayahnya sendiri mempelajari seluk beluk keislaman secara utuh. Yaitu mulai pada tahun 1248 H – 1258 H. bersama ayahnya Syekh Bintungan Tinggi mulai mengenal keilmuan Islam. Beliau telah mempelajari Fiqih, Tafsir Jalaein, Nahwu Sharaf, Ushul Fiqih, Hadist dan Musthalah-nya disamping mempelajari seluk beluk kajian al Qur’an.
Tepatnya, ketika Syekh Abdurrahman berumur 15 tahun, beliau diantar oleh ayahnya untuk mengaji ke Ulakan, tepatnya di surau Syekh Burhanuddin Ulakan. Seketika itu yang menimpin lembaga pendidikan Ulakan ialah Syekh Ja’far Thahir, sedangkan dalam urusan Tarekat masih dipegang oleh Syekh Sultan Qusa’I Habibullah, khalifah Syekh Burhanuddin yang ke-10.
Syekh Abdurrahman belajar di Ulakan selama 17 tahun, yaitu mulai tahun 1258 sampai 1275. didalam masa belajar di Ulakan inilah Syekh Abdurrahman pernah mendalami ilmu di Mekah al Mukarramah (1272-1274), yaitu selama 2 tahun.
Setelah keilmuannya telah terasa matang oleh pandangan batin gurunya, maka pada tahun 1275, beliau telah diberi ijazah oleh gurunya Syekh Sultan Qusa’I Habibullah, sebagai guru hakiki-nya disamping Syekh Ja’far Thahir sebagai gurunya di surau Ulakan. Pewisudahan Syekh Abdurrahman terjadi pada acara khatam maulid Nabi Muhammad SAW, setelah gurunya melihat Syekh Abdurrahman fana dalam maqamnya, tepatnya 12/13 Rabi’ul Awwal 1275 H, ketika itu beliau langsung diberi gelar Syekh Tuanku Mudo Abdurrahman.
Setelah beliau menamatkan pendidikannya di Ulakan, beliaupun menjalankan amanah gurunya Syekh Sultan Qusa’I untuk mengabdi di Ulakan, mengajar dan mendampingi Syekh Ja’far Thahir. Syekh Abdurrahman mengajar di Ulakan selama 7 tahun, sejak 1275 sampai 1282 H. setelah gurunya Syekh Sultan Qusa’I meninggal, beliaupun mengundurkan diri dari Ulakan dan mendirikan lembaga sendiri, di tanah milik istrinya Hj. Siti Malai, lembaga pendidikan itu dikenal dengan nama Surau Bintungan Tinggi.
Surau itu didirikan pertama kali pada tahun 1283 H/1864 H, sejak itulah surau Bintungan Tinggi menjadi lembaga pendidikan terkemuka di Pariaman, sama halnya dengan surau Syekh Burhanuddin Ulakan. Sehingga dalam sekejap saja, murid-murid berdatangan silih berganti untuk menimba ilmu pengetahuan di Bintungan Tinggi. Tercatat tak kurang dari seribu murid yang menghadiri pengajian mengelilingi guru besar, Syekh Abdurrahman Bintungan Tinggi. Murid-murid tersebut datang dari berbagai pelosok negeri, seperti Bengkulu, Sumatera Utara dan Riau. Mereka tinggal tak kurang dari 17 surau-surau kecil yang berada disekitar surau utama, surau Bintungan Tinggi.
Pada periode selanjutnya, surau Bintungan Tinggi mengalami pemugaran masih semasa Syekh Abdurrahman. Pemugaran itu terjadi pada tahun 1908 M. pemugaran itu sendiri atas dorongan dari keluarga besar Syekh Abdurrahman, dorongan itu berbentuk moril dan materil.
Hasil dari pembangunan ulang surau Bintungan Tinggi itu sendiri lebih besar dari surau sebelumnya, yaitu menjadi 11,5x11,5 m dengan bahan kayu yang didatangkan langsung dari Sungai Sarik dan 2x11 Enam Lingkung Padang Pariaman. Dan pembangunannya sendiri dijalankan oleh arsitek pribadi Syekh Bintungan Tinggi yaitu Tuanku Katib Koto Baru.
Setelah bebrapa tahun mengajar murid-murid yang sangat banyak, maka pada tahun 1923 beliau menutup usia dengan meninggalkan warisan yang sangat berharga bagi generasi berikutnya. Beliau kemudian di makamkan di sebuah gobah yang telah dibangun pada masa Syekh Abdurrahman masih hidup. Kubah tersebut terletak di depan surau Syekh Bintungan Tinggi sendiri.
Setelah Syekh Bintungan Tinggi wafat, maka kepeminpinan surau Bintungan Tinggi diteruskan oleh khalifah-khalifahnya yang telah berjumlah 5 generasi sampai saat ini, nama-namanya yaitu :
1. H. Abdullah Tuanku Mudo,
2. H. Zubaidi Tuanku Mudo,
3. M. Nasir Tuanku Bandaro,
4. Muhammad Ma’az Tuanku Lunak ( wafat 1972 )
5. Tuanku Mudo Asdil Ma’az (sekarang).
Sedangkan barang-barang berharga milik Syekh Bintungan Tinggi termasuk naskah-naskahnya disimpan oleh Bapak Asril Ma’az, BA.
Diantara peninggalan Syekh Bintungan Tinggi yang sangat berharga itu ialah Naskah-naskah keagamaan, yang menurut perhitungannya berjumlah sebanyak 36 buah. Naskah-naskah inilah yang banyak dilirik oleh para peneliti, untuk dibaca dan dipublikasikan, sebagai usaha melestarikan naskah-naskah tersebut.
Walaupun sakarang zaman telah berubah seiring berputarnya waktu, nilai-nilai masyarakat yang telah bergeser, peradaban yang kian terkikis, namun surau Bintungan Tinggi masih tegak seperti sediakala, walau disana sini dipugar, surau Bintungan Tinggi masih menjadi pusat keagamaan ditengah masyarakat Bintungan Tinggi. Walaupun sekarang tak ada lagi yang mengaji kitab seperti dulu, namun Tarekat masih dipegang erat, naskah-naskah sebagai warisan masih dipelihara dengan baik, sebagai alternatif terakhir kontraksi dari zaman yang memprihatinkan.
Begitulah adanya sekarang, memang membuat hati pilu. Namun kita masih menang, sebab kita punya naskah, yang bisa dibuka kapan saja kita buka, yang dapat kita kaji, walau tak seperti dulu.

2. NASKAH-NASKAH KUNO SURAU BINTUNGAN TINGGI

Sebagai warisan yang amat berharga, masyarakat telah mulai menyadari akan usaha pelestarian naskah. Memang ironis, bila seorang pewaris naskah-naskah kuno membiarkan warisan tersebut sebagai barang terbuang. Bahkan ada yang menumpuk-menumpuknya disudut rumah, membiarkan berkabut dan habis dimakan usia.
Naskah-naskah yang berisi teks-teks ilmu pengetahuan tersebut berisi dengan ilmu pengetahuan yang berbagai macam, sangat beruntung sekali orang-orang yang dapat memanfaatkannya, menjadikannya referensi untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Adapun yang dimaksud dengan teks adalah kandungan atau isi naskah. Teks sendiri terdiri dari isi dan bentuk. Teks mengandung ide-ide atau amanat yang ingin disampaikan oleh pengarang kepada pembaca. Sedangkan bentuknya berisi muatan cerita atau pelajaran yang hendak dibaca dan dipelajari menurut berbagai pendekatan melalui alur, perwatakan, gaya dan lain sebagainya.
Dengan demikian didalam naskah-naskah yang umurnya sudah ratusan tahun tersebut tersimpan perbendaharaan, sebagai budaya orang-orang dahulu. Ilmu-ilmu yang dibukukan itu sangat relevan dengan kehidupan kita sekarang bila dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
Begitu halnya dengan naskah-naskah kuno yang terdapat di Surau Bintungan Tinggi. Disamping sebagai warisan, ajaran-ajaran naskah tersebut masih dijaga dengan baik dalam realitas kehidupan masyarakat Bintungan Tinggi. Walau sekarang amat jarang kita temui orang-orang yang membukanya, kecuali sedikit tuanku-tuanku yang telah kurang populasinya saat sekarang ini.
Sebagaimana yang telah disebutkan terdahulu, bahwa ada terdapat sekitar 36 naskah yang telah teridentifikasi oleh penelitian-penelitian mutakhir. Naskah-naskah tersebut berisi antara lain :
1. Al Qur’an dengan seluk beluk tafsirnya
2. Fiqih
3. Ilmu Nahwu Sharaf
4. Sejarah
5. Mazhab Syafi’i
6. Sejarah Rasulullah dan kisah-kisah
7. Tasawwuf
Ilmu Tasawwuf adalah teks terpenting yang menjadi perbendaharaan Bintungan Tinggi. Naskah-naskah tersebut umunya ditulis dengan bahasa Arab, disamping bahasa Melayu.
Kecemasan memang menyelimuti hati orang-orang yang cinta ilmu, sebab dengan adanya ancaman dari orang-orang yang tak bertanggung jawab dengan memperjual belikan naskah. Walaupun naskah-naskah surau Bintungan Tinggi dipelihara dengan baik oleh Bapak Asril Ma’az sebagai pewarisnya, namun jika nantinya tak ada lagi pewarisnya. Maka naskah tersebut akan terancam keberadaannya, di surau Bintungan Tinggi.

3. DESKRIPSI NASKAH ILMU TASAWWUF

Adapun naskah yang berhasil penulis peroleh gambarannya pada observasi filologi di Surau Bintungan Tinggi adalah Naskah ilmu Tasawwuf. Naskah tersebut tergolong naskah yang ditulis rapi dan jelas bagi orang yang membacanya. Secara umum deskripsinya dapat dilihat sebagai sebagai berikut.
Naskah tersebut oleh peneliti sebelumnya telah disampul dan diberi judul Naskah Ilmu Tasawwuf dengan kode naskah 16. naskah tersebut berukuran 23,5 x 16,5 cm dengan blog teks 17 x 9 cm.
Naskah tersebut terdiri dari 270 halaman. Setiap halamannya terdiri dari 17 baris. Menggunakan bahasa Arab dan bahasa Arab melayu dengan tinta yang dibedakan merah dan hitam.
Disini dapat diidentifikasikan bahwa teks yang bertulisan merah merupakan rumusan umum, berbentuk matan kitab sedangkan yang bertulisan hitam ialah penjelasan berupa syarah (komentar).
Tulisan naskah tersebut ialah khat Naskhi yang tidak terlalu rapi namun dapat dibaca dengan baik. Teks-teks setiap halamannya dibubuhi dengan cacatan-cacatan kecil untuk memberi keterangan dari teks, nampak bahwa cacatan-cacatan ini ditulis oleh penyalin dikemudian hari.
Walaupun memakai kertas eropa, namun tidak ditemui tanda air (water mark) untuk mengirakan umur naskah tersebut. Didalam naskah tersebut juga tidak ditemui kolofon, keterangan tentang judul dan pengarang naskah sehingga naskah ini seperti naskah melayu kebanyakan yang anonim (tanpa disebutkan pengarangnya).
Jilid naskah seperti naskah biasa yaitu dijilid dengan benang ditengah kuras-kurasnya sendiri. Keadaan naskah yang terlihat sudah lama membuat sebahagian teks tersebut ada yang tidak bisa dibaca akibat dimakan rayap.
Sedangkan isi naskah ialah tentang ilmu Tasawwuf , sebuah ilmu yang menjadi prioritas utama orang-orang Bintungan tinggi yang sebahagian besar bertarekat Syathariyah. Dari keterangan yang ada terdapat kejelasan bahwa naskah tersebut menceritakan tentang Zat dan Wujud Allah. Sangat singkron dengan Tarekat Syathariyah sendiri yang mengaji wujud dan zat. Maka ada indikasi bahwa maka naskah tersebut merupakan salinan dari kitab al Hikam, sebuah kitab yang terkenal di Indonesia dalam kajian Tasawwuf tingkat tinggi. Persis pula bahwa kita tersebut ditulis dengan dua aksara, Arab dan Melayu.

Selasa, 15 Maret 2011

Angku Sjech Jamaluddin dan Surau Parak Pisang: Intan berlian yang terlupakan

Oleh: Apria Putra

Berbicara mengenai Negeri Sumani, kita akan menemui kekhasan sendiri, tepatnya bila kita melirik aktifitas keagamaan dan transmisi keilmuan Islam di daerah ini. Dalam catatan ringkas ini penulis mencoba merangkum keterangan orang-orang tua perihal ketokohan seorang ulama yang masyhur di daerah ini, dia merupakan intan berlian yang jarang dibicarakan saat ini, seorang tokoh yang mengajar orang-orang siak lewat institusi surau hingga paruh abad ke XX, yang “dalam” fahamnya dalam syari’at, mempunyai nama besar dalam soal-soal Tasawwuf dan “Kaji Tuo”, beliaulah Angku Syekh Jamaluddin, dimasyhurkan dengan Buya Jama Sumani.
Tersebutlah nagari Sumani, tepatnya di distrik Parak Pisak, kabupaten Solok, pernah ada satu lembaga pendidikan tradisional Islam yang terkemuka. Suraunya tampak besar. Dikelilingi oleh surau-surau kecil tempat bermukimnya orang-orang mengaji yang berasal dari berbagai wilayah di Sumatera Tengah, apakah dari Jambi, Alahan Panjang, Sungai Pagu, Malalo dan lainnya. Ketenaran Surau Parak Pisang itu tak lain disebabkan oleh kemasyhuran ulamanya, yaitu angku Syekh Jamaluddin tersebut. Dalam penuturan orang tua yang sempat bertemu muka dengan beliau, diceritakan bahwa beliau merupakan salah seorang murid kesayangan dan teralim dari Syekh Abbas Abdullah Padang Japang (wafat 1957). Perihal Syekh Abbas sendiri merupakan seorang alim ternama di dataran tinggi Minangkabau, tepatnya di Padang Japang – Payakumbuh (sekarang termasuk kabupaten Limapuluh kota). Lembaga pendidikan Syekh Abbas ini telah lama masyhurnya, sejak dari ayahnya Syekh Abdullah “Beliau Surau Gadang” yang membuat halaqah besar di abad XIX.
Kembali kepada Angku Jamaluddin, telah bertahun-tahun beliau mengaji di Padang Japang, berkhitmat dalam halaqah Syekh Abbas, karena kecerdasan dan kealiman beliau, beliaupun mampu menjadi guru tuo (yang lebih dikenal dengan istilah Guru Suduik) di surau gurunya. Sangat besar sayang Syekh Abbas kepada beliau, apatah lagi hal ini didukung oleh kecerdasan Angku Jama yang mampu mengusai kitab dengan jitu, tidak seperti teman-teman seangkatan beliau yang lainnya. Ketika semua kaji yang tersurat telah dikuasai, Syekh Abbas kemudian menyuruh Angku Jama pulang ke kampungnya dan mengajar, sebab ilmu yang ada pada beliau telah mumpuni, dan pelajaran dari Syekh Abbas-pun telah dikuasainya dengan baik. Dengan ijazah sharih yang diungkapkan gurunya itu, Angku Jama kemudian pulang ke kampung halamannya Sumani. Kemudian mulailah beliau mengajar dengan cara lama. Bukan main-main pelajaran yang beliau sampaikan, kitab-kitab gundul yang tebal-tebal, berikut dengan syarah dan hasyiyah tingkat berat, bahkan Tuhfah dan Nihayah, sebuah kecerdasan dan kedalaman ilmu yang jarang kita temui saat ini. sebuah prestasi yang hakiki, tidak prestesius seperti profesor-profesor saat ini. sehingga dalam waktu yang lumayan singkat, surau Parak Pisang yang lumayan besar itu menjadi icon intelektual terkemuka di daerah Solok kala itu. Sehingga berbondong-bondonglah orang-orang siak dari berbagai daerah di Minangkabau datang bermukim, menyauk ilmu dari lautnya ilmu Angku Syekh Jama ini.
Memang berbagai ketegangan sosial masa penjajahan ini banyak menghambat kemajuan Islam, begitu pulalah yang dialami oleh Surau Parak Pisang. Setelah sekian lama mengisi lembaran Islam dengan torehan tinta emas, pendidikan di Surau ini terhenti ketika Jepang masuk ke Minangkabau di era 40-an itu. Banyak orang-orang siak dan lari akibat tekanan Dai Nippon, membuat transmisi keilmuan di surau ini nyaris tanpa bekas.
Namun keadaan itu kemudian dapat teratasi setelah masa kemerdekaan diraih. Angku Syekh Jama kemudian dikenal sebagai seorang ulama yang karam dalam hakikat. Riwayat yang didengar, terbujuknya hati beliau kepada alam Hakikat setelah mewarisi sebuah kitab lama dari ayahnya yang dikenal sebagai ahli Tarikat diabad silam. Selama masa sendirian beliau ketika ditinggal orang-orang siak, beliau berkesempatan mengkaji kitab lama itu sedalam-dalamnya, bahkan beliau memperbanding-bandingkan kitab itu dengan kitab-kitab besar lainnya, seumpama Tuhfah tersebut. Bahkan menurut penuturan istri beliau, ketika masa tersebut penuhlah lantai surau beliau itu dengan kitab-kitab dalam keadaan terbuka. Sesekali sambil memperhatikan kitab lama ayahnya, beliau melirik satu persatu kitab-kitab yang telah dikembangkan sepenuh surau itu. Ketika siang hari (beliau membuka kitab malam hari), beliau melakukan hal-hal yang tak lazim untuk untuk ukuran ulama, beliau bermain layang-layang dan sesekali menunggangi kuda, sampai-sampai ada mulut yang berujar bahwa Angku Jama ini telah gila. Peristiwa seperti ini sering kita jumpai dalambigrafi-biografi tokoh Sufi, lazim dikenal dengan istilah Jazabat. Sampai pada suatu hari, semua kitab yang terbuka dihalaman surau itu beliau tutup dan beliau simpan dalam lemari. Maka usailah masa bersunyi-sunyi.
Setelah itu beliau kembali mengajar, tepatnya mengajar hakikat dengan pelajaran “Kaji Tuo”. Sehingga ramailah kembali surau beliau itu, para orang siak (yang saat itu ialah terdiri dari orang-orang tua dan ulama-ulama pula) mulai berdatangan menyauk kaji Tuo, mengaji jalan ka Tuhan, hidup nan dipakai, mati nan ditompang, kehadapan angku Jama ini.
Setelah Angku Syekh Jama wafat, tak banyak lagi kisah kejayaan yang dapat kita sebut. Hal ini mungkin karena tak ada lagi sosok sealim beliau dalam syari’at, apalagi Hakikat dan Tarikat. Hal ini juga ditambah dengan munculnya golongan muda di daerah ini, yang tak menyukai kaji-kaji lama yang “tak tertandingi itu”.
Pada tahun 2003, ketika kelompok kajian Puitika Unand menyelusuri Surau Parak Pisang, maka didapatilah sisa-sisa kejayaan pengajian Tasawuf di Surau ini. ada berupa kitab-kitab lama, adapula catatan yang tersebunyi yang disimpan dalam bambu. Itu semua perihal “Kaji Tuo” itu, pegangan ulama-ulama silam.

Riwayat ini penulis peroleh dari guru penulis yang lautan ilmu. Adalah guru penulis pernah bertemu muka dengan beliau di tahun 1952 dimasa kanak-kanaknya, saat itu beliau mengikuti ayah dan mamaknya menuntut kaji kepada engku Jama ini.