Jumat, 01 April 2011

Tuanku Syekh Mudik Tampang - Rao: Ketokohan, Institusi dan Naskah-naskah Kuno Islam

Tulisan ini berdasarkan penelusuran Penulis (Apria Putra) dan tim, Rao - Maret 2009


Foto 1: Penulis (no. 2 dari kanan) dan tim berada di Surau Lamo Tuanku Mudik Tampang - Rao, dalam komplek Ponpes Dar al-Ulum


Foto 2: "Kekayaan intelektual Naskah kuno Islam Rao", tim menyisir tiap-tiap naskah peninggalan Tuanku Syekh Mudik Tampang.


Melirik kepada Islam di Minangkabau di masa lalu, kita akan merasa kesulitan mengetahui sejarahnya secara runtun dan sistematis. Hal ini disebabkan karena sumber-sumber yang menyajikan hal tersebut tak seberapa, bisa dihitung dengan jari, kita hanya bisa mengandalkan sumber oral histories, beberapa cacatan lokal yang banyak memakai simbolis dan beberapa karya sarjana Belanda yang mengerti dengan Islam itu sendiri. Maka tak lain cara yang dapat kita tempuh supaya sejarah jangan hilang dengan meninggalnya orang-orang tua menangku sejarah itu sendiri, yaitu dengan menusuri sendiri tempat-tempat kejayaan Islam yang pernah tercatat itu. Selain itu, kita juga dapat mempergunakan kajian arkeologi terhadap benda-benda peninggalan sang Ulama, berupa benda-benda fisik seperti surau, mimbar dan pernak-pernik lainnya. Selain itu kita dapat mengadakan kajian filologis terhadap naskah-naskah tertulis yang pernah diwariskan oleh sang ulama.
Kajian arkeologis dapat dilakukan oleh sejarawan, sedang untuk kajian filologis dapat dilakukan oleh intelektual Islam yang bergelut dengan sastra dan bidang-bidang keilmuan yang luas termasuk sejarah. Maka faktor filologis memang begitu sentral ketika mengkaji pemikiran, ajaran dan dapat juga memberi sumbangan yang tak sedikit terhadap sejarah sang Syekh.
Dengan berlatar demikian, maka penelusuran terhadap naskah-naskah kuno sangatlah diperlukan. Dari realitas yang ada tersebut, didorong oleh niat melestarikan serta mempelajari karya-karya ulama masa lalu, maka dilakukanlah Inventarisasi naskah Kuno oleh Tim Filologi Sastra Arab, menyelusuri jejak-jejak peninggalan ulama tersebut di daerah yang luput dari pengamatan Filolog. Selain itu Tim juga mencoba merekontruksi sejarah yang terabaikan. Untuk kali ini dilakukan di Surau Tuanku Mudik Tampang Rao, Surau yang dilihat dari tarikh-nya telah ada sejak abad ke-18.

Tuanku Mudik Tampang Rao dalam Historika Paderi

Tak ada sumber otentik yang berbicara langsung mengenai Tuanku Mudik Tampang, siapa beliau. Dari gelar nama beliau, dapat dimengerti bahwa nama itu hanya berupa gelar kehormatan, yaitu terdiri dari kata “Tuanku” dan “Mudik Tampang”. Tuanku ialah gelaran yang biasa dipakai untuk orang-orang besar, di Minangkabau dikenal sebagai gelar Ulama. Sedangkan “Mudik Tampang” ialah nama daerah, yaitu sebuah distrik kecil di Tanah Rao. Jadi gabungan dua istilah ini memberikan pengertian bahwa sang Syekh berasal dari Mudik Tampang, Rao.
Menurut salah satu sumber oral yang ditemui, Bapak Nasaruddin Hasibuan, sang Syekh Tuanku Mudik Tampang lahir dimasa tuan Syekh Abdurrauf Singkel (guru dari Syekh Burhanuddin Ulakan yang terkenal) masih hidup. Beliau digelari dengan panggilan Syekh nan Bacukua Sabalah, yaitu sebuah gelar yang mengungkap kekeramatan sang Syekh, menghilang dari kampungnya dan langsung tiba di Mekkah untuk memadamkan kebakaran dalam keadaan bercukur sebelah. Beliau seangkatan dengan ulama-ulama besar paruh abad ke-18 dan ke-19, diantaranya Tuan Syekh Muhammad Shaleh “Beliau Munggu” Padang Kandih Lima Puluh Kota, yang masyhur namanya di Tiga Luhak dalam ilmu Tarekat dan Hakikat (ayah yang Mulia Syekh Abdul Wahid “Beliau Tabek Gadang”); Maulana Syekh Ibrahim Kumpulan, masyhur sebagai guru besar Tarekat Naqsyabandiyah di abad ke-19. Beliaupun punya hubungan dengan Tuanku Rao, pimpinan Paderi yang dikenal dalam historiografi Batak dengan nama si Pokki Nangolngolan Sinambela.
Walaupun riwayat hidup beliau masih kabur, namun ada satu sumber yang memberikan sedikit informasi mengenai sang Syekh Mudik Tampang, sumber itu ialah Hikayat Jalaluddin, merupakan salah satu sumber lokal yang langka mengenai Paderi. Dinama Syekh Jalaluddin Ahmad Faqih Saghir menyebutkan :
…akan halnya cerita ini perimenyatakan asal kembang ilmu syari’at dan hakikat dan asal teguh larangan dan pegangan dan asal berdiri Agama Allah dan agama Rasulullah.……adalah seorang Auliya’ Allah yang kutab lagi kisyaf lagi mempunyai keramat yaitu orang tanah Aceh Tuanku Syekh Abdurra’uf, orang masyhurkan ia mengambil ilmu dari pada tuan Syekh Abdul Qadir Jailani. Itupun ia mengambil tempat di negeri Madinah tempat berpindah nabi kita Muhammad Rasulullah ‘alaihi wa sallam yaitu bimbing menghafazkan ilmu syari’at dan ilmu Hakikat ialah menjadi pintu ilmu sebelah pulau Aceh ini. Maka digarakkan Allah berlayar ia dikepala tempurung menjelang negeri Aceh adanya. Maka kemudian dari itu turunlah ilmu Tarekat ke negeri Ulakan kepada auliya’ Allah yang mempunyai keramat lagi mempunyai derajat yang a’la, ialah pergantungan ilmu tahqiq, ikutan dunia akhirat oleh segala makhluk di sebelah tanah ini. Maka berpindahlah Tarekat ke Paninjauan. Lalu kepada tuanku Mansiang nan Tuo. Segala surat-surat ia memakaikan tertib majlis lagi wara’ seperti Tuanku nan di Ulakan jua halnya. Maka dimasyhurkan orang pula Tuanku nan Tuo di negeri Kamang. Ia telah menghafazkan ilmu alat. Dan Tuanku di Lambah dan serta Tuanku di Puar, yang mempunyai keramat lagi beroleh limpah dari pada Tuanku di Paninjauan, orang Empat Angkat jua adanya. Maka Tuanku di Tampang di Tanah Rao datang dari negeri Madinah membawa ilmu mantiq dan ma’ani… (hal. 5-6)
Dari keterangan Faqih Shaghir ini diketahui bahwa Tuanku Mudik Tampang masyhur namanya sebagai pemuka-pemuka ulama, khususnya di abad ke-18. beliau pernah belajar di Hejaz (Mekah dan Madinah), sehingga terkenal beliau sebagai ulama yang ahli dalam ilmu bahasa Arab, mantiq dan ma’ani. Selain itu beliau juga dikenal sebagai salah seorang Ulama Tarekat Naqsyabandiyah, hingga sekarang di surau bekas peninggalan beliau beratus-ratus orang, laki-laki dan perempuan, melaksanakan suluk dan wasilah.

Surau Tuanku Mudik Tampang : Denyut Islam di Tanah Rao

Sebagai salah satu pusat pendidikan Islam tertua di tanah Rao, yang dipimpin oleh ulama besar Tuanku Mudik Tampang, surau Mudik tampang telah memainkan peranan penting dalam penyebaran Islam, khususnya di Rao, umumnya di utara Minangkabau tersebut. Ketokohan dan kesantunan dakwah yang dimiliki Tuanku Mudik Tampang, telah menjadi daya tarik tersendiri bagi para santri untuk datang menuntut ilmu ke Rao, menta’zhimi yang ‘Alim Beliau Mudik Tampang. Apatah lagi dalam upaya mengislamkan daerah-daerah perpaduan budaya Minang dan Batak itu.
Selain menggembleng masyarakat dengan ilmu yang mendalam tentang Islam, Syekh Tampang juga mengajar masyarakat khusus untuk mengenal Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya lewat pengamalan Tarekat Naqsyabandiyah, dengan melakukan Suluk disetiap tahunnya. Sampai sekarang, sudah beberapa lewat generasi, ratusan orang masih bersuluk Tarekat Naqsyabandiyah setiap tahunnya. Sekarang, komplek surau Tuanku Mudik Tampang telah disulap menjadi Pesantren, dengan nama Pesantren al-Qur’an Darul ‘Ulum Rao, sebagai pelanjut cita-cita sang Syekh, pemenuhi tanah Rao di masa lalu.

Naskah-naskah Tua Rao : Inventarisasi Manuskrip Surau Tuanku Mudik Tampang

Sebagai halnya ulama-ulama yang hidup di awal berkembangnya pendidikan Islam di Minangkabau, maka tak ayal lagi Tuanku Mudik Tampang memiliki khutub khannah manuskrip. Apatah lagi Tuanku Mudik Tampang yang terkenal sebagai ulama yang pernah menuntut di Mekah Medinah, sedang dimasa-masa abad itu segala macam keilmuan Islam tertulis dalam bentuk makhtuthat (tulisan tangan), begitu pula ketika mengimla’ perkataan-perkataan guru, juga dengan tangan belaka.
Indikasi yang ditemui di Surau Tuanku Mudik Tampang Rao bahwa dulunya skriptorium ini banyak menyimpan naskah-naskah Tua, ini terlihat dari tata ruang Surau yang dibuat begitu artistik. Di Mihrab surau terdapat sebuah ruang khusus Syekh. Di seluruh bagian dinding inilah ditemui rak-rak, yang cukup menampung ratusan kitab. Namun yang ditemui hanya puluhan manuskrip dari ratusan yang diperkirakan. Menurut salah satu sumber yang pernah ditemui, bahwa sewaktu sang Syekh dulu meninggal dunia, banyak diantara murid-muridnya yang mengambil kitab-kitab tersebut, apakah sebagai kenangan dengan sang guru atau memang ingin menggali ilmu yang terkandung di dalamnya, yang jelas naskah-naskah itu telah raib dari tempat penyimpanannya.
Sebahagian kecil naskah-naskah yang tertinggal untuk selanjutnya di simpan di atas loteng (minang: pagu). Setelah hampir ratusan tahun tersimpan tanpa ada yang mengusik itulah Tim Sastra mencoba menyelamatkan kembali naskah-naskah tua itu, menginggat usia yang sudah tua yang satu saat bisa membuat naskah tersebut rusak dan akhirnya hancur ditelan zaman. Kemudian naskah-naskah tua tersebut diturunkan satu persatu dari tempat penyimpanannya. Hal ini dilakonkan langsung oleh Tim Sastra Arab.
Setelah semua naskah dikeluarkan, maka terkumpullah sebanyak 32 manuskrip, kebanyakannya sudah tidak lengkap dimakan rayap. Kemudian naskah-naskah itu dibersihkan untuk di simpan selanjutnya.

1 komentar:

  1. Sangat Bagus sekali mengetahui tentang Syech kita di ranah Minang ini. Apakah ada informasi mengenai Syech Ibrahim Thaib dari Sei Puar Bukit Tinggi.beliau berlima bersaudara, yaitu :
    1. Haji Abdullah Thaib Dt Katumanggungan
    2. Haji Ahmad Khalidi Thaib
    3. Haji Jalil Thaib
    4. Haji Zakaria Thaib
    5. Haji Ibrahim Thaib.Kami akan senang sekali jika ada info2 mengenai beliau.Sebelumnya kami ucapkan terima kasih.

    BalasHapus