Jumat, 11 Maret 2011

Tarikat Samaniyyah di Minangkabau: Seputar Tokoh dan Literatur

Tulisan Ini diterbitkan dalam Jurnal Tsaqafi 2010

Oleh : Apria Putra

1. Pendahuluan

Masuknya Islam ke Minangkabau, umumnya ke nusantara, tak terpungkiri diwarnai oleh unsur-unsur Tasawwuf yang sangat kental. Hal ini dikarenakan ulama-ulama yang pernah hadir menyebarkan Islam di Pulau perca ini merupakan ulama-ulama Sufi belaka. Memang sejarah tidak mencatat bagaimana aktifitas ulama-ulama tersebut ketika bermukim di negeri ini ketika awal penyebaran Islam di abad ke VII masehi tersebut. Namun fakta yang nyata kita peroleh ketika tertulisnya nama-nama besar ulama mulai dari abad ke-XV dalam sejarah, yang mana ulama-ulama tersebut terbilang sebagai ulama-ulama Sufi terkemuka.

Menurut keterangan Syekh Yusuf an-Nabhani mengutip kepada Ibnu Batutah dalam Tuhfatun Nazhar-nya, diabad-abad tersebut telah ada ulama Tasawwuf yang besar di negeri Aden (Yaman), mempunyai keramat yang masyhur sampai dikatakan beliau – ulama tersebut mampu bercakap-cakap dengan orang yang telah wafat , dan diakhir nama ulama tersebut tertulis “al-Jawi”, indikasi yang nyata bahwa beliau merupakan orang Melayu. Masa tersebut pula nama-nama Waliyullah yang sembilan orang di negeri Jawa, Wali Songo, yang merupakan penyebar-penyebar Islam dengan Tasawwuf tingkat tinggi, sebagai halnya tertulis dalam Primbon-primbon tua itu. Tak pula asing nama-nama seperti Hamzah Fansuri, pengarang sya’ir mistik Melayu yang indah menawan; Syamsuddin Sumatrani, sufi penganut martabat lima yang menjadi penasehat raja Aceh kala itu; Syekh Nuruddin ar-Raniri, ulama Ranir (India) yang memapankan karirnya di Aceh sebagai penolak wujudiyah; Syekh Abdurra’uf Singkel Syiah Kuala, ulama besar yang masyhur terbilang; dan yang fenomenal Tuan yang mulia Abu Muhassin Syekh Yusuf Tajul Khalwati Tuanta Samalaka ri Goa (Mahkota Tharikat Khalwatiyah - Tuan guru yang agung dari Goa), berpuluh tahun menuntut ilmu di Mekkah belajar berbagai Tharikat sekaligus berjuang di tanah air hingga wafat di Tanjung Harapan – Afrika Selatan.
Sedang di Minangkabau sendiri, negeri yang masyhur dengan ulama-ulamanya, tersebut pula nama besar Syekh Burhanuddin Ulakan, sudah ratusan tahun lalu meninggal dunia, namun tak henti-hentinya orang berziarah ke makamnya (bershafar) sebagai bukti pengaruh beliau yang tiadakan pudar sama sekali. Tersebut pula Tuan Syekh Keramat – Taram Payakumbuh, masyhur bertuah, disebut sebagai teman seperjanan Syekh Abdurra’uf Singkel ketika mengaji di Madinah kepada Tuan Syekh Ahmad Qusyasi. Di aliran sungai Kampar, terdapat pula makam Syekh Burhanuddin Kuntu, yang terus diziarahi masyarakat banyak hingga sekarang. Kemudian terkemuka nama-nama besar di abad ke XVIII hingga abad XX, seperti Syekh Maoelana Soefi (1738-1818), Syekh Abdurrahman “Beliau Batu Hampar” Payakumbuh (w. 1899 – usia 120 th), Syekh Muhammad Thahir Barulak, Maulana Syekh Ibrahim Kumpulan (w. 1914 – usia 150 th), Syekh Abdul Ghani Batu Bersurat (w. 1961 – usia 150 th), Syekh Ja’far Kampar dan lain-lainnya.

Berbicara mengenai Tasawwuf, maka kita tidak akan terlepas dari membicarakan Tarikat, karena Tarikat merupakan suatu kearifan ber-Tasawwuf, ibaratkan dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Besarnya pengaruh Syekh-syekh Tasawwuf terkemuka tersebut, sehingga dikatakan oleh Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi ketika membahas Tharikat dalam Izhar-nya bahwa Tarikat itu telah menjadi pakaian di negeri Minangkabau. Begitu pula laporan seorang petinggi Belanda saat itu, K. F. Holle, yang mengkhawatirkan kebangkitan Tarikat yang begitu pesat yang berpotensi menggeser kedudukan Belanda. Salah satu Tarikat terkemuka yang masih terlihat kabur dalam catatan-catatan yang ada ialah Tarikat Samaniyah. Sebuah Tarikat yang cukup berjasa ketika perlawanan dengan Belanda, bahkan menurut salah satu sumber merupakan salah satu Tarikat yang mula-mula masuk ke Indonesia dan memperoleh pengikut besar di bumi nusantara ini. Maka di sini kita akan melihat sekilas mengenai tokoh dan Literatur Tarikat Samaniyah di Minangkabau, negeri gudangnya ulama-ulama Tasawwuf itu.


2. Akar Samaniyah : Dari Perjalanan murid-murid Jawi ke Haramain hingga aktifitas Surau-surau Sufi di Minangkabau


Hingga beberapa dekade awal abad ke XX, Mekah merupakan tempat yang ramai dikunjungi untuk menuntut ilmu, selain untuk berhaji. Zawiyah-zawiyah termayhur banyak berdiri disekitar Mesjidil Haram, para Syekh-syekh ternama banyak yang membuka pengajian di kawasan Mesjid sendiri. Sehingga Mekah sejak dahulunya menjadi pusat ibadah dan ilmu pengetahuan, malah mungkin lebih dikenal ketimbang al-Azhar. Al-Haramain merupakan tempat berkumpulnya kaum Muslimin dari berbagai penjuru dunia, beberapa banyak ulama-ulama yang datang ke Mekkah buat mengajar sekaligus memperoleh barokah di kota suci tersebut. Banyak dari kalangan muslim yang mengidolakan Mekah untuk tempat menuntut ilmu, walaupun hanya beberapa waktu saja, mengambil berkah istilahnya. Adapula yang hidup menahun di sana, memenuhi dada dengan ilmu, kemudian pulang dengan membawa berbagai ijazah tanda telah diakui keulamaannya. Hingga muncul pameo ditengah-tengah masyarakat, kalau belum mengaji ke Mekah, ilmunya belum sempurna, keulamaannya belum sah. Begitulah posisi Mekah bagi kalangan penuntut ilmu dan Muslim umumnya.
Dengan mengunjungi berbagai halaqah dan Zawiyah Sufi di Mekkah saat itu, yang banyaknya menjamur seantero tanah haram, para penuntut ilmu akan dihidangkan dengan berbagai ilmu pengetahuan agama, dari berbagai Mazhab, berbagai ulama dengan bidang keilmuannya masing-masing (takhussus) dan dari berbagai penjuru dunia. Sehingga dapat dikatakan mereka –para penuntut ilmu itu- telah bersinggungan dengan Jaringan Ulama Internasional, dengan pusatnya kala itu ialah Mekkah dan Madinah.
Posisi mereka setelah pulang ke kampung halamannya –Minangkabau- menjadi ulama terkemuka, dan ilmu yang mereka bawa pulang, tersimpan dalam sudur, bukan sekedar ilmu yang di dapat lingkungan bawah, kalangan lokal, lebih dari itu ilmu yang mereka peroleh ialah pengetahuan agama yang kosmopolitan sebagaimana jaringan global yang mereka bentuk ketika menuntut ilmu dari berbagai Syekh terkemuka di Haramain. Di samping itu, keilmuan mereka mencapai keotentikan yang bisa diuji, lewat sanad keilmuan dari para musnid, ulama-ulama besar di Mekkah dan Madinah. Dengannya mata rantai keilmuan itu bersambung (musalsil), tiada terputus (munqathi’), sampai kepada tokoh-tokoh ulama salaf yang shaleh, hingga sampai kepada Rasulullah.

Sudah menjadi tradisi tersendiri di Minangkabau, apabila ada seorang siak yang telah alim, apatah lagi yang telah pula menimba ilmu di Mekkah dan mendapat ijazah, maka masyarakat atau kaum sukunya akan bergotongroyong membuatkan surau buatnya untuk mengajar agama. Sampai beberapa dekade awal abad ke-20 tradisi itu masih berlaku. Hingga terkemukalah Minangkabau menjadi gudang ulama, setiap kampung dan pelosok-pelosok negeri mesti berdiri sebuah surau atau lebih, dengan berdirinya surau itu sendiri maka mesti ada ulama di daerah itu.

Di Mekkah sendiri, selain mempelajari hal ihwal syari’at sedalam-dalamnya, dengan berkhitmat kepada syekh-syekh terkemuka tersebut, adalah murid-murid Jawi juga memprioritaskan untuk mengikuti pondok-pondok sufi (zawiyah) yang ramai bertebaran di Haramain. Aktifitas mereka di pondok sufi itu belajar Tasawwuf, terutama sekali mengambil bai’at dan bersuluk dalam salah satu Tarikat mu’tabarah. Dan salah satu Tarikat yang digemari pada abad XVII dan XVIII itu ialah Tarikat Samaniyah, yaitu Tarikat yang dikembangkan oleh seorang Sufi masyhur, ulama selaku penjaga Makam Rasulullah di Madinah, yaitu Syekh Muhammad bin Abdul Karim Saman (1719-1770).
Mengenai pribadi Syekh Muhammad Saman sendiri, beliau merupakan seorang tokoh Sufi terkemuka di Abad XVIII, bahkan dikatakan bahwa Beliau merupakan Qutub Auliya’ (Pusaran Wali-wali) yang tersirat dalam berbagai kisah-kisah kekeramatan yang banyak tertulis dalam Hikayat Muhammad Saman. Syekh Saman mempelajari berbagai Tarikat kepada Syekh-syekh besar di zamannya. Selain sebagai Syekh Tarikat yang berpengaruh, beliau juga dikenal ‘alim dalam fiqih yang dipelajarinya dari lima ulama Fiqih terkemuka yaitu Muhammad ad-Daqaq, Sayyid ‘Ali al-Atthar, ‘Ali al-Kurdi, ‘Abdul Wahab al-Thantawi dan Sayyid Hilal al-Makki. Di bidang Tasawwuf dan Tauhid, guru Syekh Saman yang paling mengesankan adalah Mustafa bin Kamaluddin al-Bakri (w. 1749), seorang penulis produktif dan Syekh Tharikat Khalwatiyah dari Damaskus. Selain itu as-Samani juga pernah belajar Tharikat Khalwatiyah kepada dua orang syekh terkemuka di Mesir, yaitu Muhammad bin Salim al-Hifnawi dan Mahmud al-Kurdi. Syekh lain yang sangat berpengaruh terhadap ajaran dan praktek-praktek Syekh Saman ialah Syekh Abdul Karim an-Nablusi (w. 1731) , seorang Syekh Besar Naqsyabandiyah dan pembela jitu Ibnu al-‘Arabi dan al-Jili. Dari berbagai syekh terkemuka yang pernah menjadi gurunya, maka Syekh Muhammad Saman setidak telah mengambil 4 macam Tarikat, yaitu Khalwatiyah, Qadiriyah, Naqsyabandiyah dan Syadziliyah. Dari berbagai teknik-teknik Tarikat inilah Syekh Muhammad Saman merumuskan sebuah metode Zikir, yang kemudian hari dikenal dengan Tarikat Saman, atau Tarikat Samaniyah.

Selain ulama terkemuka, Syekh Saman juga menjabat posisi penting di Madinah selaku penjaga Makam Rasulullah. Hal ini paling tidak telah membuat Syekh Saman untuk lebih leluasa mengajarkan Tarikat Saman-nya, karena setiap waktu beliau akan dikunjungi oleh berbagai tamu dari berbagai penjuru dunia jika akan menziarahi Makam Rasulullah. Maka tidak mengherankan bila dalam waktu singkat, Syekh Saman telah memiliki murid-murid dari berbagai benua; dari Maghrib, Afrika Timur sampai ke India dan Nusantara. Di berbagai kota di Hijaz dan Yaman berdirilah Zawiyah Samaniyah. Tak terpungkiri dengan posisi dan dedikasi Syekh Muhammad Saman yang sedemikian rupanya telah menarik beberapa murid jawi untuk mengambil ilmu dan berba’iat kepadanya, seperti salah seorang yang sangat terkemuka dan menjadi ulama serta tenar namanya lewat karya monumentalnya Siyarus Salikin ialah Arif billah Syekh Abdus Shamad al-Falimbani (abad 18), melalui ulama yang satu ini kita memperoleh gambaran terbaik tentang ajaran Syekh Saman dalam bahasa Melayu.

Di dalam Sairus Salikin ila Tariq Saadat Sufiyah disebutkan silsilah Tarikat Samaniyah dari Syekh Abdus Shamad al-Falimbani sebagai Berikut:
1. Syekh Abdus Shamad al-Jawi al-Falimbani, mengambil dari:
2. Sayyidi Syekh Muhammad bin Abdul Karim Saman al-Qadiri al-Khalwati al-Madani, mengambil dari:
3. Sayyidi Bakri, mengambil dari:
4. Syekh Abdul Latief, mengambil dari:
5. Syekh Mustafa Afandi al-Adarnawi, mengambil dari:
6. Syekh ‘Ali Afandi Qurabas, mengambil dari:
7. Syekh Isma’il al-Jarawi, mengambil dari:
8. Sayyidi Muhyiddin al-Qisthani, mengambil dari:
9. Syekh Sya’ban Afandi al-Qisthamuni, mengambil dari:
10. Syekh Halabi Sultanul Qura’ (Jamal Khalwati), mengambil dari:
11. Bir Muhammad Azibkhani, mengambil dari:
12. Syekh Abu Zakaria as-Syiruwani al-Bakuni, mengambil dari:
13. Bir Ashdaruddin, mengambil dari:
14. Syekh Izzuddin, mengambil dari:
15. Syekh Muhammad Mir Khalwati, mengambil dari:
16. Akha Muhammad al-Balisi, mengambil dari:
17. Syekh Abi Ishaq Ibrahim az-Zahid al-Bukalani, mengambil dari:
18. Syekh Jamal al-Ahuri, mengambil dari:
19. Syekh Syihabuddin at-Tibrisi, mengambil dari:
20. Syekh Rukanuddin Muhammad Nahas, mengambil dari:
21. Quthbuddin Abhari, mengambil dari:
22. Syekh Abi Najib As-Syuhuwardi, mengambil dari:
23. Syekh Umar al-Bakri, mengambil dari:
24. Syekh Wajihuddin al-Qaqithi, mengambil dari:
25. Syekh Muhammad al-Bakri, mengambil dari:
26. Syekh Muhammad ad-Dinuri, mengambil dari:
27. Sayyidi Mumsad ad-Dinuri, mengambil dari:
28. Sayyidi Junaid al-Baghdadi, mengambil dari:
29. Sayyidi Sirri Siqthi, mengambil dari:
30. Sayyidi Ma’ruf al-Kharkhi, mengambil dari:
31. Sayyidi Daud ath-Tha’i, mengambil dari:
32. Sayyidi Habibul ‘Ajami, mengambil dari:
33. Sayyidi Hasan al-Bashri, mengambil dari:
34. Amirul Mu’minin Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib KW, mengambil dari:
35. Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Begitulah halnya murid-murid jawi. Niscaya sebahagian murid-murid ini sesampainya di nusantara membuka pula pengajian untuk mengamalkan dan mengajarkan ilmu yang telah sekian lama diperoleh di Haramain, tak terkecuali Tharikat Samaniyah, yang kala itu hanya dikenal dengan nama Zikir Samman saja. Tharikat Saman setelah itu sangat populer di tengah-tengah masyarakat. Sampai-sampai ketika masuknya penjajah ke nusantara, maka sebahagian para pejuang yang mencoba mengusir bangsa eropa itu ialah para ahli Tharikat Samman, sebagaihalnya yang diceritakan dalam Sya’ir Perang Menteng. Salah satu kutipan isinya yaitu:

Delapan Belas harinya sabtu
Bulan Sya’ban ketika waktu
Pukul empat jamnya itu
Haji berzikir di pememarakat tentu

Haji zikir di pengadapan
Berkampung bagai mengadap ayapan
Tidaklah ada malu dan sopan
Ratib berdiri berhadapan

La ilaha illallah dipalukan ke kiri
Kepada hati nama sanubari
Datanglah opsir meriksa berdiri
Haji berangkat opsirpun lari

Di Minangkabau sendiri, Tharikat Samaniyah sendiri telah menampakkan dirinya sejak awal abad ke-19. menurut catatan yang ada, salah seorang ulama yang mengembangkannya ialah Syekh Muhammad Sa’id Padang Bubus Pasaman , guru dari yang mulia Syekh Ibrahim Kumpulan. Lewat ulama-ulama dan surau-surau sufi setelah itu Tarikat Samaniyah berkembang pesat. Kehadiran Tarikat Saman semakin terlihat dengan tampilnya Syekh Abdurrahman al-Khalidi Kumango, seorang ulama masyhur yang disegani kala itu. Dengan surau Kumango beliau mengajarkan Tarikat Saman dan salah satu teknik silat tradisional Minangkabau kepada murid-muridnya yang banyak datang dari segenap penjuru Minangkabau. Menurut cacatan M. Sanusi Latief, pusat-pusat Tarikat Samaniyah di Minangkabau antara lain:

1) Kumango, Batu Sangkar
2) Belubus
3) Labuah Gunuang, Tuanku Mudo Josan
4) Ateh Aka, Payo Basuang
5) Tarantang
6) Batu Tanyoh
7) Mungka
8) Lubuk Bangku, Sarilamak
9) Aia Putiah, Harau
10) Barulak, Salimpauang
11) Sungai Patai, Sungayang
12) Koto Panjang Lampasi
13) Salido, Painan
14) Padang Bubus, Bonjol
15) Kampung Melayu, Bayang
16) Bungo Pasang, Salido Kaciak, Painan
Dari aktifitas-aktifitas surau Tarikat itulah nantinya terbentuk jaringan guru-murid, yang memperkuat penyebaran Tarikat-tarikat di Minangkabau, begitupula Tarikat Samaniyah.

3. Melirik Jaringan Tarikat Samaniyah di Minangkabau : Sekilas mengenai Ulama Saman dan koneksi keilmuannya

Setiap ilmu mesti pula ada mata rantai yang saling berhubungan. Jika berbica mengenai mata rantai keilmuan itu maka kita tidak akan terlepas dari hubungan istimewa antara guru dan murid, bahkan karena sakin istimewanya hubungan ini tidak pisah terputus sama sekali, walaupun murid atau guru itu telah wafat. Salah satu sebab hubungan guru murid ini takkan terputus ialah karena hubungan ini dibentuk oleh ikatan rohani yang sangat kuat. Begitulah halnya yang berlaku dalam transmisi keilmuan islam sejak dahulunya, di mana murid-murid akan benar-benar menjaga isnad ilmu yang diperolehnya dari guru-gurunya itu. Namun akhir-akhir ini, zaman modern dikatakan orang, perhatian penuntut ilmu tidak lagi mementingkan hal tersebut. Salah satu keilmuan yang masih mempertahankan isnad (mata rantai) itu hingga sekarang ialah ilmu Tarikat sebagai sebuah kearifan bertasawwuf. Di mana melalui isnad atau silsilah inilah nantinya kita akan menemui jaringan keilmuan islam yang kompleks dan saling berkait.

Dalam hal Tarikat, yaitu Tarikat Samaniyah di Minangkabau yang kita bicarakan saat ini, untuk mengetahui jaringan keilmuannya mestilah kita mengenal tokoh-tokoh terkemuka dalam mengembangkan ajaran Samman di tanah Andalas ini. Di antara tokoh-tokoh Tarikat Samaniyah yang masyhur di Minangkabau itu ialah:

1. Syekh Abdurrahman al-Khalidi Kumango (wafat 1927)

Beliau diimasyhurkan orang dengan “Beliau Kumango”. Beliau dikenal sebagai pembawa Tharikat Saman, walaupun sebelum masanya telah ada indikasi bahwa Samaniyah telah berkembang, namun dimasa “Beliau Kumango” inilah Tharikat Samaniyah mencapai kejayaannya, Samaniyah sering dipesertakan dengan pengajaran Tharikat Naqsyabandiyah. Ayah dari “Beliau Kumango” ini juga terkemuka alim, namanya Khatib ‘Alim Kumango.

Nama besar “Beliau Kumango” selain dalam bidang Tharikat Samaniyah, Beliau juga merupakan guru besar sekaligus pencipta Silat Tharikat “Silek Kumango”, silat terkemuka di Minangkabau. Perjalanan menuntut ilmu “Beliau Kumango” terlihat unik, pada mulanya beliau adalah parewa, dan akhirnya menjadi Syekh Besar dan Ulama yang dihormati.

Beliau mengambil Tharikat Samaniyah di Madinah, kepada Syekh Muhammad Ridhwan al-Madani. Murid-murid Beliau “Syekh Kumango” inilah yang memainkan peranan penting menyebarkan Tharikat Samaniyah di Dataran tinggi Minangkabau. Namun tak banyak ditemui cacatan perihal nama murid-murid Beliau ini.

Garis silsilah Tarikat Saman yang Beliau ajarkan ialah:
1) Syekh Abdurrahman al-Khalidi Kumango, mengambil dari:
2) Sayyidina Muhammad Amin bin Ahmad Ridhwan Madinah, mengambil dari:
3) Sayyidina Abu Hasan, mengambil dari:
4) Syekh Hasib, mengambil dari:
5) Syekh Muhammad Saman al-Madani al-Khalwati, mengambil dari:
6) Arif Billah Sayyidi Muftafa Bakri, mengambil dari:
7) Al-Imam Syekh Abdul Latif, mengambil dari:
8) Syekh Muftafa Afandi, mengambil dari:
9) Syekh Ismail al-Jarawi, mengambil dari:
10) Sayyidi Muhammad ad-Din al-Qisthamuni, mengambil dari:
11) Syekh Sya’ban Afandi al-Qisthamuni, mengambil dari:
12) Al-Masyhur Jamal Khalwati, mengambil dari:
13) Bir Muhammad an-Nakhari, mengambil dari:
14) Syekh Abu Zakariya al-Syiruni, mengambil dari:
15) Bir Sadhruddin, mengambil dari:
16) Amir Khalwati, mengambil dari:
17) Akha Muhammad al-Basi, mengambil dari:
18) Syekh Abil Haq Ibrahim al-Kilani, mengambil dari:
19) Syekh Jamaluddin al-Haruwi, mengambil dari:
20) Syihabuddin at-Tibriri, mengambil dari:
21) Rakanuddin Muhammad an-Najasi, mengambil dari:
22) Qathbuddin al-Abhuri, mengambil dari:
23) Syekh Najib as-Suhrudi, mengambil dari:
24) Umar al-Bakri, mengambil dari:
25) Syekh Wajhuddin al-Qith’i, mengambil dari:
26) Syekh Muhammad al-Bakri, mengambil dari:
27) Syekh ad-Dinuri, mengambil dari:
28) Sayyid Junaid al-Baghdadi, mengambil dari:
29) Sayyid Sirri Siqthi, mengambil dari:
30) Sayyidi Ma’ruf al-Kharki, mengambil dari:
31) Sayyid Daud ath-Tha’i, mengambil dari:
32) Amirul Mukminin Sayyidina Ali bin Abi Thalib, mengambil dari:
33) Rasulullah Muhammad Shallahu ‘alaihi wa sallam.

2. Syekh Muhammad 'Arief Sampu (Syekh Sampu), Solok Selatan. (w. 1960)

Dalam sebuah catatan muridnya Mahyunar Malin Bagindo, beliau, Syekh Sampu mengambil tarekat Samaniyah di Madinah. Setelah mengambil ilmu Tarekat Samaniyah, beliau kembali ke kampung halamannya dan membuka pengajian serta mengajarkan ilmu Tarekat. Tepatnya di Rantau Dua Belas Koto, Sangir, Solok Selatan. Beliau mempunyai pengaruh yang sangat luas dalam mengembangkan ilmu agama. setelah beliau berpulang ke Rahmatullah, murid-murid beliaulah yang memainkan peran besar dalam melanjutkan keilmuan Islam, termasuk tarekat. Murid-muridnya dikenal kuat memegang teguh Ahlus Sunnah wa Jama'ah, berjalan dengan menapaki ulama-ulama saleh di masa silam. Alhamdulillah, al-faqir (penulis) telah menziarahi makam beliau di Solok, dan telah pula menyaksikan bekas pengaruh ulama besar ini, meski telah berpuluh tahun beliau wafat.

3. Maulana Syekh Mudo Abdul Qadim Belubus (wafat 1957)

Beliau masyhur terbilang ulama atas jalur Tasawwuf yang besar, teman pula bagi tokoh ulama dari kaum Tua Syekh Sulaiman ar-Rasuli Candung. Pernah mengikuti pertemuan Syekh-syekh Tarikat Naqsyabandiyah di Bukittinggi tahun 1954. Beliau sangat terkemuka di Luak nan Bonsu Luak Limapuluh kota. Perjalanan menuntut Tasawwuf dijalaninya semasa masih belia, beliau pernah mengaji kepada Tuan Syekh Abdurrahman Batu Hampar (wafat 1899) yang terkenal itu. Dari Syekh Batu Hamparlah Beliau menerima kaji Naqsyabandiyah sampai memperoleh gelar “Syekh Mudo” sebagai prestasinya dibidang Tharikat. Kemudian secara berturut-turut belajar Tasawwuf atas jalur Naqsyabandiyah di-6 tempat terkenal, di antaranya di Kumpulan, yakninya kepada yang Mulia Syekh Ibrahim Kumpulan; Padang Bubus Bonjol; Padang Kandih; Simabur; Kumango dan lainnya. Di Kumangolah beliau menerima Tharikat Samaniyah. Muridnya sangat banyak dan umumnya menjadi ulama terkemuka.

4. Tuan Syekh Beringin (wafat pertengahan abad XX)

Beliau berasal dari Durian Gadang, Luak Limapuluh kota. Beliau salah satu di antara murid Syekh Mudo Abdul Qadim yang terkemuka, dari segi keilmuan dan kekeramatan. Paruh kedua hidupnya beliau menetap di Deli, Sumut. Beliaupun terkenal sebagai pejuang di zaman Jepang, ketika tentara Jepang mengepungnya di Surau Suluk Tebing Tinggi Deli, tiba-tiba saja hamparan halaman dan surau itu berubah menjadi danau, sehingga tentara Jepang itu pulang saja dengan tangan hampa.

5. Syekh Ibrahim Bonjol (masih hidup sampai era-80-an)
Beliau berasal Bonjol-Pasaman. Beliau merupakan khalifah Syekh Belubus yang cukup prestisius. Beliau memiliki komplek belajar Tharikat yang cukup makmur di Medan, diberinya nama “Baitul Ibadah”. Salah seorang khalifahnya juga terkemuka di Jakarta.

Foto : Syekh Ibrahim Bonjol di Binjai

6. Khalifah Rajab Batu Bajarang Solok

Eksistensinya mengajar Tharikat Saman merupakan indikasi dari sebuah buku bertuliskan tangan beliau: Kitab Segala Rahasia yang halus-halus. Beliau pernah berguru kepada Syekh Muhammad Nur Qadhi Langkat di Sumut (asal Muara Labuh, Solok). Kemudian berguru secara khusus kepada yang Mulia Tuan Syekh Abdul Wahab Rokan al-Khalidi Naqsyabandi Rokan, akhirnya menerima gelar Khalifah dan mengajar di Batu Bajarang, dengan surau yang cukup besar.

7. Syekh Haji Mahmud Abdullah “Beliau Tarantang” (w. 1986)

Beliau ulama terkemuka di Tarantang, Harau, Luak Limapuluh kota. Dalam hal Tarikat Beliau mengambil dari Syekh Yahya Magek (guru Syekh Sulaiman ar-Rasuli). Selain alim dalam kitab-kitab Kuning dan Tarikat, beliau juga masyhur pandeka. Murid-murid beliau juga banyak, yang setiap tahunnya mengadakan pertemuan besar dalam acara Penutupan Khalwat dengan mengundang pejabat-pejabat limapuluh kota.

8. Syekh Muhammad Kanis Tuanku Tuah (w. 1989)

Beliau masyhur di Luak nan Bungsu selaku ulama. Beliau mendirikan Madrasah Tarbiyah Islamiyah di Batu Tanyoh sebagai wadah mengajarkan ilmu-ilmu islam. Pada usia mudanya mengaji kepada Syekh Ibrahim Harun Tiakar, dan secara khusus belajar Tarikat kepada Syekh Mudo Abdul Qadim Belubus. Selain Samaniyah, beliau juga merupakan Syekh Naqsyabandiyah yang kuat memegang prinsip. salah satu karangannya ialah kitab Izzatul Qulub bima ja’a bihin Naqsyabandiyah. Murid-muridnya banyak, sampai saat ini dimasa kepemimpinan anaknya Buya Zed Dt. Bungkuak. Bahka sebahagian orang-orang yang bersuluk berasal dari Banten.

4. Tarikat Samaniyah dalam Literatur keagamaan di Minangkabau


Sampai saat ini hanya sedikit referensi Tharikat Saman yang kita temui, ataukah banyak diantara naskah-naskah itu yang tak sampai ke tangan kita. Mengenai Manaqib Saman, begitu pula Ratib Saman belum lagi diperoleh keberadaannya di Minangkabau, ada indikasi dulunya Ratib Saman berkembang luas mengingat penuturan oral orang tua-tua dulu ada orang yang berzikir sambil berdiri. Tapi untuk Palembang naskah Manaqib Saman sangat populer. Hingga saat ini beberapa Literatur yang khusus berbicara Samaniyah, yang dapat ditulis di sini yaitu:

1) Kaifiyah Khatamul Qur’an
sebuah kitab anonim kumpulan karangan-karangan ulama Melayu yang tidak diketahui lagi siapa penulisnya. Di dalamnya ditemui ritual ringkas Ratib Saman, selain itu juga ada penjelasan mengenai Tharikat Syathariyah. Kitab ini masih di cetak di Jakarta, oleh al-Haramain.

2) Sairus Salikin fi Tharikatis Saadat as-Sufiyyah
karangan Syekh Abdus Shamad al-Palimbani. Kitab yang sangat populer di Indonesia dalam bidang Tasawwuf, terutama dalam hal Tharikat Samaniyah. Kitab ini terdiri dari dua jilid tebal, dengan 4 juzu’ (bagian); beraksara Arab berbahasa Melayu. Sumber penulisan karya ini mencakup puluhan kitab-kitab populer di kalangan ahli Tasawwuf, terutama karya-karya Syekh Saman seumpama an-Nafahat Ilahiyah. Kitab ini terbit di berbagai wilayah, dari Kairo hingga Indonesia. Dipakai luas, dari Pattani (thailand), Malaysia dan Indonesia.

3) Risalah Tsabitul Qulub
Karangan Syekh Muda Abdul Qadim Belubus Payakumbuh. Risalah ini terdiri dari beberapa jilid kecil, namun sangat padat isi, hampir mencakup selurus masalah-masalah Tharikat, khususnya Saman. Kitab ini masih tersembunyi, belum terpublikasi secara umum, sebab banyak murid-murid Syekh Belubus yang menyimpannya secara rahasia. Sampai saat ini, baru ditemui 3 jilid buku ini. Isinya:
a. Risalah Tsabitul Qulub (jilid I). Secara praktis buku ini ditulis untuk menolak keraguan dalam mengamalkan zikir-zikir dan wirid-wirid dalam Tharikat, sehingga si murid tetap hati, kuat memegang Tharikat, tidak goyah diterpa perkataan-perkataan kaum muda yang membathalkan Tharikat. Kitab ini berisi dalil-dalil yang tersirat untuk mempertahankan amal Tharikat, serta memperkokoh hati murid, supaya tidak terpecah-pecah akibat faham yang bergitu rupanya. Penulisan sumber rujukan dalam kitab ini cukup variatif, menunjukkan kealiman Syekh Muda yang masyhur itu. Diantar sumber-sumber kitab yang menjadi rujukannya ialah Tanwirul Qulub (sangat populer saat ini), Shahifatus Shafa (besar kemungkinan karangan Syekh Sulaiman Zuhdi Jabal Qubis), Manzhirul A’ma, Khazinatul Asrar, ar-Rahmatul Habithah, Hadist Arba’in, Sairus Salikin, al-Minhul Nisbah, Husnul Husain, al-Qusyairi, Lathifatul Asrar, Hidayatus Salikin, Aiqazhul Manam, Hidayatul Hidayah, Mawahib Sarmadiyah, al-Asymuni dan lain-lainnya.
Selain menjadi penguat hati si murid, risalah ini juga memuat kaifiyah Tharikat Saman dan Tharikat Muhammad Yaman (pecahan Saman) beserta wirid-wirid dan zikir-zikirnya. Risalah ini kemudian ditutup dengan sebuah fasal yang cukup panjang berisi tentang “Pengajaran tatakala nyawa akan berpulang ke hadirat Allah”. (cetakan ke-6, pada percetakan as-Sa’adiyah Bukittinggi, t. th)
b. Risalah Tsabitul Qulub (jilid ke II). Kajian dalam kitab ini tak kalah menariknya. Kitab ini baru dijumpai penulis dalam bentuk manuskrip, salinan tangan oleh Marnis Dt. Bangso Dirajo. Di antara isi kitab ini ialah:
• Himpunan akidah lima puluh
• Sebab zikir la ilaha illallahu tidak pakai muhammadur rasulullah
• Masalah Nur Muhammad dan Nur Allah
• Kelebihan manusia dari pada segala alam
• Masalah Najis dan hadast
• Pembahasan Muqarinah Niat
• Tentang martabat Ahadiyah, wahdah dan wahidiyah
• Menyatakan syari’at dan tharikat di dalam sembahyang
• Rabithah dalam sembahyang
• Asal suluk 40 hari, dan lainnya banyak lagi.
c. Risalah Tsabitul Qulub (jilid ke III). Jilid ke-3 ini memuat pengajaran Tharikat yang cukup istimewa, yakni membicarakan perhubungan shalat dengan Tharikat. Di mana di dalamnya ada tertulis:
Maka dari itu nyatalah bagi kita bahwa ilmu Tharikat itu bersuanya di dalam sembahyang. Sepatutnya kita mahir ilmu tharikat itu dengan beberapa martabatnya.
………………
Maka apabila hilang hamba dan hilang kalimat dan tinggal nur, maka nur itulah yang dinamakan dengan zikir Hakikat. Maka apabila hilang hamba hilang kulimah hilanglah pula nur maka pulanglah hak kepada yang mepunyai, dan kembalilah hamba kepada Tuhannya.
(Tsabitul Qulub jilid ke-III)
Kemudian kitab ini disambung dengan pembahasan mengenai “nafsu yang tujuh”, dijabarkan dengan kalimat jelas dan ringkas. Kemudian kitab ini disudahi dengan wirid-wirid dalam tharikat Saman.
Asal naskah kopiannya masih ada tersimpan di surau Belubus, yakni cetakan Islamiyah – Medan. Dengan cover yang dipakaikan foto Syekh Muda dan muridnya Syekh Beringin.

4) Pertahanan Tharikat Naqsyabandiyah
Tulisan Syekh Haji Djalaluddin (1950). Buku ini terdiri dari 5 jilid, bertuliskan Arab Melayu. Walau judul besarnya “Naqsyabandiyah”, namun pada sampulnya penulis juga menuliskan untuk Tharikat Samaniyah. Namun buku ini hanya berisi tentang pertahanan Tharikat secara umum saja, tampaknya tidak membahas aspek teoritis Tharikat Saman secara Khusus.

5) Sya’ir Saman (manuskrip).
Naskah berupa manuskrip. Ditemukan dua salinan, satu di Simpang Tonang Pasaman, dan satu lagi di Koto Baru Sungai Pagu. Penulisnya belum diketahui pasti. Walau judul Besarnya Sya’ir Saman, namun isinya merupakan pengajian Tasawwuf yang bersifat filosofis.

6) Kitab Segala Rahasia-rahasia yang halus-halus
Manuskrip ini ditulis oleh Khalifah Rajab Batu Bajarang Solok Selatan. Selain berisi tentang Tarikat Naqsyabandiyah, Syadziliyah dan lainnya, juga berisi tentang amalan-amalan Tarikat Saman. Beliau berguru kepada Syekh Abdul Wahab Rokan al-Khalidi, setelah menimba ilmu beberapa saat kepada Tuan Syekh Muhammad Nur Qadhi Langkat.

5. Penutup

Sebagai salah satu Tarikat Sufiyah yang berkembang di Minangkabau, begitu juga wilayah-wilayah lain di nusantara, Tarikat Samaniyah telah memberikan pengaruh yang tidak sedikit dalam kehidupan keberagamaan masyarakatnya. Namun karena sedikitnya referensi yang berbicara langsung mengenai Tarikat mu’tabar yang satu ini, membuat kita merasa kesulitan untuk memperoleh gambaran mengenai perkembangan dan sumbangsihnya, walaupun ada selentingan cacatan-cacatan lama, kebanyakannya masih tersimpan rapi di tangan para pengikutnya. Ada juga di kalangan peneliti luar yang mengungkapkan bahwa bentuk Tarikat Saman di Minangkabau banyak digabungkan dengan Tarikat Naqsyabandiyah, seperti yang terjadi di Belubus, namun bagi orang arif dia tidak akan gegabah beranggapan demikian. Tarikat Saman dan Naqsyabandi bukanlah dua berbeda yang kemudian satu. Tapi keduanya ialah metode mengingat Allah dan mensucikan hati yang pada hakikatnya satu, Cuma soal kaifiyah yang berbeda. Begitulah prasangka orang yang melihat Cuma dari luar belaka.
Untuk saat ini, di beberapa wilayah ada kecendrungan untuk berbai’at Saman di usia yang muda. Padahal dulunya, hanya orang-orang tualah yang mahir bersaman. Kecendrungan ini telah membawa dampak makin betahnya para pemuda di surau, karena mereka merasa senang bertahlil. Namun arah positif ini hanya di sebahagian kecil tempat yang ditemui sekarang, wilayah lainnya malah tidak kenal lagi dengan Samman, apatah lagi dengan banyak wafatnya orang yang tua-tua yang memangku Tarikat Saman itu.
Begitulah keadaannya. Demikianlah sekilas mengenai Tokoh dan Literatur Tarikat Saman di Minangkabau yang telah penulis kumpulkan beberapa tahun lamanya. Dengan cacatan, walaupun kita merasa sulit menemui sumber-sumber yang berbicara langsung tentang Tarikat Saman di Minangkabau, namun kita mesti tahu bahwa Tarikat Samaniyah dengan segala hal ihwalnya telah lama memberikan sumbangsih yang sangat berharga, apakah di zaman perang dulunya sebagai tameng pengusir Kompeni, ataupun dalam pembentukan moral masyarakat banyak. Tokoh-tokoh ulama Saman akan tetap terkenang, akan tetap di ziarahi, dan Tarikat Saman akan selalu berjaya sebagai halnya dulu, di ranah Minang, ranahnya ulama-ulama.

Kepustakaan

Hamka, Tasawwuf, Perkembangan dan Pemurniannya (Jakarta: Pustaka Panjimas, 2004)
Masduki HS, Intelektualisme Pesantren: (Jakarta: Diva Pustaka, 2004)
Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Izhar Zaghlil Kazibin fi Tasyabbuhihim bis Shadiqin (Mesir: Mathba’ah at-Taqdum al-Ilmiyah, 1908)
Martin van Bruinessen, Tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia: Survei Historis, Geografis dan Sosiologis (Bandung: Mizan, 1992)
Martin van Bruinessen, Kitab Kuning, Pesantren dan Tarikat: Tradisi-tradisi Islam di Indonesia (Bandung: Mizan, 1995)
Min Makkah ila Mishra (manuskrip, koleksi Madrasah al-Manar Batu Hampar Payakumbuh)
Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Nusantara dengan Kepulauan Nusantara: akar Pembaruan Islam di Indonesia (Jakarta: Prenada Group, 2004)
Azyumardi Azra, Surau: Lembaga pendidikan Islam tradisional dalam transisi dan Modernisasi (Jakarta: Logos, 2003)
Ahmad Purwadaksi, Ratib Samman dan Hikayat Syekh Muhammad Samman: Suntingan Naskah dan Kajian Isi Teks (Jakarta: Djambatan, 2004)
‘Arif billah Syekh Abdus Shamad al-Falimbani, Siyarus Salikin fi Thariqat as-Saadat as-Sufiyyah (Jeddah: al-Haramain, t. th)
M. Sanusi Latief, Gerakan Kaum Tua di Minangkabau (Disertasi Doktor IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 1988)
Syekh Muda Abdul Qadim Belubus, Risalah Tsabitul Qulub (Bukittinggi: as-Sa’adiyah, 1393 H) juz I
Khalifah Rajab, Kitab Segala Rahasia-rahasia yang halus-halus (Manuskript) Surau Batu Bajarang Solok Selatan
(Anonym), Ini Kaifiyat Khatam al-Qur’an (Jakarta: Syarikah Maktabah al-Madinah, t. th)
Syekh Mudo Abdul Qadim, Tsabitul Qulub, juz II (manuscript salinan Buya Marnis Dt. Bangso Dirajo
Naskah Simpang Tonang Pasaman (manuscript), bandingkan dengan Sya’ir Saman salinan Muhammad Ridhwan Dt. Tan Bijo Sungai Pagu.
H. Jalaluddin, Pertahanan Tarikat Naqsyabandiyah (Bukittinggi: Tsamaratul Ikhwan, 1950)

44 komentar:

  1. Assalamualaikum wr wb.
    Kami adalah murid/pengamal tarikat Samaniyyah di Medan, murid langsung dari Syekh Haji Nukman bin Ma'aman (alm). Alahamdulillah dan terima kasih kami ucapkan, karena dengan membaca artikel ini sudah menambah wawasan kami tentang sejarah/perkembangan tarikat Samaniyyah di Indonesia.

    Wassalam

    Ladi Utoyo

    BalasHapus
  2. sangat bagus sekali saudara Putra...

    Memang benar, saat ini tharekat saman memang sudah tidak begitu menonjol bila di bandingkan dengan tharekat-tharekat lainnya. Tak tau pasti apakah memang para pengikutnya yang tertutup atau memang sudah semakin sedikitnya mereka.

    Yang saya tau masih ada satu dari murid syekh mudo abdul kodim (dari 9 murid beliau yang mendapat ijazah ke mursydan yang masih hidup) yang masih terus mengembangkan tharekat samaniah sampai saat ini yang berada di medan.

    Setahu saya dari syehk baringin(tebing tinggi) dan syekh ibrahim bonjol(pondok kelapa-medan),tidak ada murid mereka yang mendapat ijazah ke mursydan dari beliau berdua.

    Salam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. tarekat saman masih ada dipadang,disurau corobong,dipasa usang juga ada

      Hapus
    2. tuan liga ,, tuan syekh ibrahim bonjol ada memberikan ijazah ke mursyidan kepada muridnya
      yaitu Tuan syekh Ahmad Sayuti Imam Iskandar
      dan setahu saya murid tuan syekh mudo abdul qadim belubus yg berada di sumatera utara cuma 2 orang yaitu Maulana Abuya Syekh Ibrahim Bonjol dan Maulana Syekh Beringin yg ke2 nya telah wafat .
      jadi di wilayah sumut sudah tidak ada lagi murid dari Inyiak belubus

      Hapus
    3. alhamdulillah saya adalah pengamal tharekat samaniah yg berasal dari Silsilah syech Beringin tebing tinggi.Setelah beliau wafat diteruskan kepada anak beliau alm.Khalifah mudo nan kuning dan seterusnya kepada Buya Khalifah Abdul Ghoni bin Syeck beringin yang ditangan beliau saat ini tharekat Saman berkembang hingga hingga lebih kurang 17 cabang dan muridnya mencapai ribuan.dan setiap tahunnya kami menjelang ramadhan senantiasa berziarah ke Belubus dan Kumango seperti ramadhan yg lalu.Bahkan psertanya mencapai ratusan orang menggunakan dua Bus besar dan puluhan mobil pribadi.semoga ini menjadi penyemangat bagi kita dan tersambung silaturahmi yg erat.wass suharyadi

      Hapus
    4. untuk diketaui murid terakhir syekh balubus payakummbuh masih ada namanya syekh nurman tingal di daerah riau

      Hapus
  3. Assalamualaikum ya akhie,
    Salam perkenalan,ana Sayyid Shamsuddin AlAydrus dari Malaysia adalah pengamal tariqat Samaniyyah.Hanya ingin berkongsi maklumat bahawa Syekh ibrahim bonjol(pondok kelapa-medan)punya murid yang mendapat ijazah ke mursydan dari beliau. Beliau adalah mursyd ana yakni almarhum Syekh Ahmad Salim Gombak. Setelah beliau wafat lalu diganti oleh murid kedua tertua Syekh buya Ibrahim yakni Almarhum Syekh Jamaluddin Gombak.Setelah kewafatan kedua dua mursyd ini,ana kurang pasti tariqat ini di pimpin oleh murid siapa pula.

    BalasHapus
  4. Wassalamu 'alaikum Wr. Wb.
    salam hangat dari Luak nan Bungsu. setahu saya Syekh Ibrahim Bonjol, setelah memperoleh Ijazah dari yang Mulia Syekh Mudo Abdul Qadim yang dimasyhurkan dengan "Beliau Belubus", mengajar di Binjai. Informasi tentang beliau tidak begitu banyak diperoleh, karena jarak yang cukup jauh. Meski begitu beliau masih mengirim cetakan al-Manaq Taqwim dengan Belubus.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Assalamualaikum wbt. Pak Apria Putra,

      Saya dimaklumkan bahawa masih ada murid yang mendapat ijazah keMursyidan dari Maulana Abuya Syekh Imam Haji Ibrahim Bonjol, baik di Indonesia mahupun di Malaysia. Dan saya cukup yakin ada kelangsungan (penerus) tarekat ini sehingga kini di Nusantara.

      Hapus
  5. Assalamualaikum ya akhie Apria Putra,
    Alhamdulillah dengan adanya ruangan ini ada banyak faedahnya yang ingin dikongsi bersama dengan akhie disana.Didalam amalan kita umpamanya tahlil jahar,apakah menjadi kesalahan kalau tahlilnya diperlahankan suaranya.Dan kiranya akhie tidak keberatan boleh kah kirimkan ana kitab2 dari ajaran tariqat saman ini(ratib samaniyyah).Perlukan belanjanya "Bi iznillah" akan saya kirimkan.

    BalasHapus
  6. Wassalamu 'alaikum akhi... syukron atas apresiasinya. untuk selanjutnya akhi, silahkan email ke alfaqir_poetra@yahoo.co.id

    BalasHapus
  7. assalam mualaikum wrwb..salam perkenalan dari saya rony ,alhamdulillah sekarang tarekat samaniyah wan naqsabandiyah semakin berkembang di kota padang..yang mana kami berbaiat kepada cucu syech abdul qadim belubus yaitu syech nur effendi yang berada di tanjung pati,semoga tarekat kita ini semakin bebrkembang adanya....wassalam mualaikum wr,wb

    BalasHapus
  8. Assallammualaikum wrwb..salam kenal, saya putra dari Surau Baitul Ibadah Baiturrahim Percut Sei.Tuan. Saya merupakan murid dari ayah guru H. Mahyuddin yang berdomisili di Malaysia. Sekedar memberikan informasi kepada sesama jemaah tarikat samaniyah, bahwa saat ini pewaris dari Syekh Haji Ibrahim Bonjol hanya tersisa 2, yaitu :
    1) H. Mahyuddin
    Beliau mengambil amalan dari H. Othman (yang mengambil dari Syekh Haji Ibrahim Bonjol). Beliau berdomisili di Malaysia, yaitu di surau Baitul Ibadah Baiturahim Pucung, Selangor, Malaysia. Beliau memiliki beberapa surau di negara bagian Malaysia. Saat ini beliau juga meneruskan pengajaran dari Syekh Haji Achmad Siyuti Imam Iskandar (telah wafat) di surau Baitul Ibadah Baiturrahim percut sei.tuan, deli serdang, Sumatera Utara.
    2) H. Dornes Tuankumudo
    Beliau mengambil ilmu dari Syekh Haji Achmad Siyuti Imam Iskandar (telah wafat, yang mengambil dari Syekh Haji Ibrahim Bonjol. Beliau berdomisili di Surau Baitul Ibadah Ciputat,Tangerang,Banten. Saat ini beliau memiliki surau dibeberapa daerah, yaitu : Padang,Pekanbaru,Palembang,Batam,Bandung,Jambi,Pasaman,Kerinci.

    Sekian informasi mengenai pewaris alih silsilah tarikat samaniyah.
    Untuk bertukat informasi, email saja ke taslimsyahputra@rocketmail.com

    Wassalam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Syukran Ikhwan Taslim atas tambahan pengetahuannya. Jazakallahu Khaira

      Hapus
    2. apakah tarekat saman dg samaniyah sama,kalau saman hakekat shalat ketubuh

      Hapus
    3. tarekat saman beda dg samaniyah.dalam tarekat saman tak ada istilah suluk.

      Hapus
    4. Assalamu alaikum ,,
      saya yaser yg juga berasal dari surau baitul ibadah baiturrahim percut sei tuan ,, murid dari syekh haji mahyudin bin haji syafi'ie bergelar angku mudo,,

      Hapus
  9. Salam kenal, saya Mohd. Isam Azli bin Adnan bin Jusan bin hj hussein. Juga pengikut kepada tarekat saman mengambil dari datuk merangkap guru iaitu Hj Basir bin Katib di Kuang Selangor pada tahun yang sudah lama sangat. Kini terjumpa halaman ini membangkitkan kembali perasaan ingin menyambung pengajian ilmu tarekat ini. Harap sesiapa yang sudi membantu saya untuk kearah tujuan saya ini.Harap sangat...sebelum ajal memjemput akan diri ini...email saya wsd746@gmail.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh penulis.

      Hapus
  10. saudara mohd isam.saya cadangkan saudara terus sahaja berjumpa dgn ayahnda guru syeikh haji mahyudin di baitul ibadah baitul rahim puchong.beberapa orang anak mrid syeih pak basir ada disana.allahhuaklam

    BalasHapus
  11. Assalamu'alaikum...
    saya sangat bersyukur ada Blog ini, saya berdomisili di payakumbuh, saya ingin bertanya tentang syekh Abdul Hamid yg dimakam kan di belakang pasar Tabek Patah, apakah aliran tariqat beliau, guru2 beliau dan silsilah keluarga beliau, lalu siapakah penerus beliau. mohon informasinya. terimakasih.
    jazakallahu khairon.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wassalam. walhamdalah. Boleh tahu, Syekh Abdul Hamid yang akhi maksud "Beliau Tanjuang Ipuah" bukan?

      Hapus
  12. Salamualaikum wr wb, Alhamdulillah bi syafa'ti SAWW, sy juga pengamal thariqah saman wan naqsyabandi khalidi, dari Jakarta berbai'at kpd khalifah muda hamba al faqir Syahbudin di bekasi yg mengambil dari buya Nu'man di medan, murid dr Maulana syech Ibrahim bonjol, baitul ibadah Medan dst nya. Dalam perjalanan yang pernah sy jalani bahwa penerus samaniyah dr Syech Mudo Abd Qadim Belubus adalah 1) Abuya Syech H Ibrahim Bonjol lalu saat ini ada pada 1.1) Syech muda H Ahmad Arifin, medan 1.2) H. Dornes Burhan, baitul ibadah Jurang mangu, ciputat. 2) Syech Beringin, Tebing Tinggi, Medan diteruskan saat ini oleh Abuya H Rony. 3) Alm. Nurullah Dt Anso, Tg pati, payakumbuh saat ini diteruskan oleh Buya Effendi. 4) Abuya H. Anas Malik di surau Belubus.
    Sedangkan untuk silsilah kelanjutan di Malaysia seperti info ikhwan Mohd isham dr selangor malaysia. Semoga bermanfaat. Wass ww. Utk silaturrahmi dapat contact email saya di karismato@gmail.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. tuan ,, saya juga pengamal tarekat saman alqodiri al khalwati wa naqsyabandi al-khalidi
      saya mau bertanya kepada saudara bahtera cahaya
      tahun berapa tuan H ahmad arifin berguru kepada syekh mudo abdul qadim belubus,

      Hapus
    2. Saya murid dari Syekh Muda Ahmad Arifin, sekedar ingin meluruskan sejarah. Syekh Ahmad Arifin berbaiat kepada Syekh Abdul Qadim Balubus tahun 1954, setelah wafatnya beliau, kemudian berguru kepada Syekh Abdul Malik (putra syekh Abdul Qadim). Jadi Syekh Muda Ahmad Arifin tidak pernah berguru kepada Syeikh Ibrahim Bonjol. Kedekatan antara guru saya dengan Syekh Bonjollah yg menyebabkan murid2nya mengira bahwa guru saya pernah berguru ke Syekh Bonjol, sehingga hubungan antara murid2 Syekh Bonjol dan guru saya yang di tahun 70 an sangat harmonis, setelah meninggalnya Syekh Bonjol di akhir tahun 80 an menjadi rusak, karena mereka mengira guru saya tdk mengakui Syekh Bonjol sebagi gurunya. Saya harap anda yg tidak tahu sejarah dan permasalahannya menahan diri agar perpecahan di antara kita sesama pengikut Sammaniyah tidak menjadi semakin tajam. Sebagai informasi untuk saat ini hanya guru sayalah Syekh Muda Ahmad Arifin, satu-satu pengajar Tarekat Sammaniyah yang bergelar Syekh yang masih hidup saat ini. Tolong beritahu saya, dimana dan siapa diantara pengajar Tarekat Sammaniyah yang masih bergelar Syekh. saya akan jumpai guru tersebut untuk menimba ilmu darinya. Bila ada yang tahu, silahkan dijawab melalui email saya: pudingazali@gmail.com
      Wasalam

      Saifuddin

      Hapus
    3. Dilihat dari tahun mulai belajarnya Syekh ahmad arifin kepada syekh balubus tahun 1954 dan dikatakan pula mendapatkan gelar pada tahun 1970. ini saya rasa tidak dapat diterima akal. dikarenakan datuk Balubus meninggal tahun 1957. terdapat slisih waktu sekitar 13 tahun. jadi siapa yang berhak mengangkat ahmad arifin menjadi syeikh.... : kpd. saifuddin

      Hapus
    4. Assalamualaimkum wr wb kami adalah murid - murid dari syekh haji ibrahim Bonjol hanya meluruskan dan bukan untuk memecah belah , menurut sepengetahuan kami syekh ahmad arifin belajar tarekat dari Almarhum Guru besar Syehk haji Ibrahim bonjol dan suluk tahun 1975 kami ada saksi hidup yaitu Suryadi, dan Iman Juhaidi SH dari surau Pondok Kelapa Jl, Ampera 1 no.30 , hal ini kami sampaikan bukan untuk membuat anda tidak yakin dengan ilmu anda tapi kami hanya meluruskan, yang salah adalah salah yang benar adalah benar sesuai Ilmu yang diajarkan kan oleh guru kita yang bathil akan hancur oleh kebenaran yang Hak. Wassalam

      Hapus
  13. Assalamu'alaikum wr wb abang poetra,saya murid dari murid tuan guru banta acheh yg beliau murid dari buya syekh ibrahim bonjol,kami semua berdomisili di acheh,adapun tuan guru banta acheh telah berpulang,disini kamipun berharap agar ukhwah dapat terus terjalin amien

    BalasHapus
    Balasan
    1. Assalam....sa lam khusus utk ab apria putra
      Saudaraqu..anak murid dari guru banta ada yg menjadi mursyid yaitu tgk junaidi dan tgk hendra kesuma di aceh setelah menjalani sulok di surau balubus yg memberikan ijazah alm Abuya H Anas Malik. Dimana selama lbh kurang 17 thn Abuya Anas Malik pimpin suluk cuma 3 org yg mendspat ijazah. Satu ditarik kembali murid di daerah padang. Cuma 2 org yg memiliki ijazah yg sah utk wil aceh sepengehtahuan kami.. Oh ya bang apria.. Tulisan ab mohon diijinkan ya utk di ambil sebagai koleksi dan bahan sejarah bagi kami di langsa

      Hapus
  14. assalamualaikum wr.wb, saya mohammad zain asal medan sekarang berdomisili di klang, mau nanya gimana caranya saya bisa mendapatkan kitab sabitul qulub dan kitab sholawat wasilah...? mohon bantuannya. E mail saya yen_zain@yahoo.com.my / telp 0133366440, terima kasih sebelumnya wassalam.

    BalasHapus
  15. ASSALAMAUALAIKUM... WAHAI SAHABAT BOLEH BANTU SAYA UNTUK DAPATKAN GAMBAR SYEIKH IBRAHIM IMAM BONJOL DI BINJAI DAN GAMBAR MAKAMNYA DAN ALAMAT LOKASI MAKAMNYA DI BINJAI.. KERANA SAYA INGIN KE SANA NANTI.. MOHON BANTUAN YE..
    TERIMA KASIH..

    BalasHapus
  16. Assalamualaikum wr. wb...saya pengamal tarikat samaniah belajar kepada tuan guru slamet nursalim yang beliau itu adalah murid dari buya nu'man bin ma'aman dan beliau murid dari syech ibrahim bonjol. Yang mana tuan guru slamet nursalim telah mendapatkan ijazah untuk mengajar tarikat samaniah ini dari surau suluk Abdul Qadim Belubus yang diberikan oleh cucunya yaitu buya Annas bin Malik. Kami mengadakan pengajian untuk perempuan pada malam selasa dan laki-laki setiap malam rabu. Bagi yang ingin bersama-sama beramal pada malam tersebut diseputar kota medan dapat menghubungi saya melalui email anasabdmalik@yahoo.com. demi terciptanya ukhuwah diantara sesama penganut tarikat samaniah. Wassalam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maaf ya, setahu saya pak Anas itu gak pernah dikasi gelar khalifah oleh ayahnya Syekh abdul Malik, trus beliau kok bisa memberikan ijzah kepada orang lain sebagai Tarekat. Saya takut kalau begini kejadiannya nanti kasusnya seperti Tarekat Naqsyabandiyah yang di Besilam,yang mewariskan kepemimpinan tarekatnya secara turun temurun seperti kerajaan. Setahu saya Tarekat Sammaniyah itu sangat ketat dan tidak sembarangan di dalam memberikan ijazah kepada para muridnya. Apalagi orang yg memberikan adalah orang yang tidak memiliki gelar Khalifah, jangan lagi Syeikh. Itu sebabnya Syeikh Ibrahim Bonjol di Medan sebelum wafatnya mewasiatkan melarang khalifahnya memimpin suluk, sebab suluk hanya bisa dipimpin oleh murid yang bergelar Syekh. itu sebabnya mengapa tidak ada kegiatan suluk lagi sepeninggal Syekh Bonjol. Saran saya, kalau mau belajar Tarekat Sammaniyah silahkan saja ke tempat guru saya di Jl. Karya Bakti, no. 18, Pangkalan Masyhur, Titi Kuning, Medan Johor.

      Hapus
    2. Maaf mohon dikaji lagi perkataan sdr saifuddin.. Boleh2 saja kita menyanjung guru kita.. Tapi jangan sampai kita menveto org lain yg tdk sependapat dgn kita dimana kita pakai ahklak tasauf kita. Sehingga sangat malulah kita sebagai orang tarikat yg notabennya memperbaiki masalah hati.. Sbnrnya banyak para aulia di Aceh yg tdk memakai kata shekh pd namanya cuma tgk chik yg tlh masyur kekeramatannya. Silahkan anda kebalubus ada cek siapa sebenarnya guru kami Alh Abuya H Anas Malik. Beliau telah memimpin suluk selama lbh kurang 18thn.dan langsung disurau yg dipimpin kakeknya shekh Mudo Abdul Qadim.dan disekitar beliau banyak mursyid2 yg lain. Apa mungkin omongan anda mengatakan tanpa berfikir terlebih dahulu.. Malulah anda sbg seorang dosen.. Mungkin anda menganggap cuma anda dan crta andalah yang benar.. Mohon maaf ini hanya meluruskan. Marilah kita memperkuat akhuwah jgn merasa diri kitalah yg plg benar.. Soal guru anda yg terbaik mnrt anda sampai bergelar shekh itu urasan anda jgn menafikan kebenaran org lain trim

      Hapus
  17. AsSalam...Untuk makluman kepada para penuntut..

    Syeikh Haji Ibrahim Bonjol menyampaikan kepada
    Maulana Mursyidin Al Syeikh Haji Haron (dimakamkan di Bogor)Ibni Syeikh Haji Usman (dimakamkan di Medan di Baitul Ibadah Syeikh Haji Ibrahim Bonjol)..
    Mursyidin Syeikh Haji Haron menyampaikan pula kepada..
    penyambungnya kini yang hanya membawa Tarekat Sammaniah di Kepala Batas, Seberang Perai Utara, Pulau Pinang, Malaysia.

    Ini gambar tempatnya:

    http://www.facebook.com/media/set/?set=a.291783780851487.83920.100000596017581&type=3

    BalasHapus
  18. As-Salam. Selamat berkenalan sesama kita. Saya murid kepada Haji Basir bin Katib dari kuang. Saya menerima ijazahnya saat beliau berpindah ke Paya Jaras Tengah pada tahun 1985.Temui saya di Blog Samaniyah Naqsabandiyah. Atau hubungi saya 013 9148154 (zain)

    BalasHapus
  19. Assallammualaikum wr wb..salam kenal sesama kita, saya Syafran murid dari DR. SYEKH MUDA AHMAD ARIFIN AL-HAJ. Alamat: Jl. Karya Bakti No. 18 Pangkalan Masyhur, Medan Johor.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kepada saudara, saya sarankan untuk mencari sejarah dan silsilah dari syekh ahmad arifin. apakah benar beliau murid syekh balubus.., karena silsilah sangatlah penting bagi pencari makrifat. salam

      Hapus
  20. Assallamualaikum... salam kenal, saya Idrus pengamal terekat sammaniah,, mengambil ilmu dari
    Tuanku Imam Kerinci Afrizal mengambil dari
    Tuanku Mudo H. Dornes Boerhan (Ayah Guru), yang di bicara kan di atas Khalifah Buya Ibrahim Bonjol yang terkemuka di Jakarta, surau beliau di Jakarta terletak di Ciputat, beliau mempunyai beberapa surau yang terkembang di selurauh Indonesia... Alhamdulilah saya di pertemukan dengan Khalifah beliau yg pertama, dan saya telah di pertemukan denga Ayah Guru.

    BalasHapus
  21. Assalam mualaikum... Apakah ada pengajaran tarekat samaniyah di Jakarta?

    BalasHapus
    Balasan
    1. ada di kampung sawah ciputat

      Hapus
  22. Abu Yoessoef Al-Payabafri8 Maret 2013 12.28

    Salam,

    Sy mengambil tarikat saman dr Alm . Syeikh Syackhnury Waly, Serbalawan Tebing Tinggi, khalifah Syeckh Ibrahim Bonjolwalaupun asal sy tidak jauh dr Belubus. Setau sy ada, ketika Syekh Ibrahim ke Malaya bersama Syeckh Dt. Kosek, beliau punya banyak murid di Malaya, diantaranya; Syech Osman, Selangor, dilanjutkan putra beliau Alm. Syech Haron (dimakamkan di Cinagara Bogor). Skrg khalifah beliau adalah Syech Ali. Beliau sering ke Ciputat(Kp. UtanCiputat) ada Baitul Ibadah di sana.

    @ Ustad Saifuddin; Sy mendengar Pak Anas, suluk dr paman beliau Dt. Anso Tanjung Pati, Pyk, Adik dr Syeck A. Malik, putra beliau Belubus yg paling kecil.

    @ Dinda Apria Putra, selamat atas usahanya, Mambanglkik Batang Tarandam. Sy kira Dinda perlu kontak sama Ustad Saifuddin, beliau ini kalau tidak salah seorang Tokoh Ulama Betawi yg mengambil Suluk dr Syech Abd. Malik.

    Di daerah Guguak Damgung2 mungkin masih ada Syech, walau tidak aktif lagi membuka surau. Ada murid Syeckh Abd. Malik dan Syech Angku Tanjung yg mendapatkan ijazah dr murid Syech Sumpu (Malalo?) Nama beliau Alm. Syech Mudo di Sipingai, seangkatan demgan Beliau Balubus,

    BalasHapus
  23. guru saya merupakan anak murid kepda pak basir...dan juga al buya..
    beliau sering berceritakan tentang albuya...dan bagaimana beliau dilantik sebagai khalifah di malaysia.
    saya juga telah melihat gambar al buya..
    tgi orngnya,berjubah.

    BalasHapus
  24. http://www.e-fatwa.gov.my/fatwa-negeri/fatwa-tentang-tarikat-samaniah-ibrahim-bonjol

    BalasHapus